Museum Bale Agung Kulon Progo Dilengkapi Koleksi Cap Kain Batik

Berikut ini adalah artikel tentang pembukaan Museum Balai Agung Kulon Progo Yogyakarta yang di selenggarakan beberapa waktu yang lalu yang menjadi tonggak sejarah yang akan di kenang di masa depan. Berikut ini artikelnya :

Museum Bale Agung Kulon Progo

Bale Agung Kulon Progo merupakan salah satu tempat yang menjadi saksi bisu sejarah masa lalu. Bale Agung ini terletak di Jalan Perwakilan No. 1 Wates Kulon Progo Yogyakarta. Bale Agung adalah satu bagian atau wilayah dari Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Kulon Progo. Bale Agung memiliki corak bangunan yang masih merupakan land mark alias “tenger” di area Kompleks Perkantoran Kabupaten Kulon Progo.

Bale Agung Memiliki Bangunan Khas

Yang menarik dari Bale Agung Kulon Progo adalah memiliki bangunan dengan arsitektur khas indi di kawasan Kulon Progo. Cirinya terletak di perpaduan teknik bangunan lokal berpadu dengan kolonial dalam satu adaptasi di iklim tropis.

Tahun Berdirinya Bale Agung

Di Bale Agung ini tertempel sebuah prasati yang menujukkan kapan Bale Agung Kulon Progo ini didirikan. Di prasasti itu tertulis tahun 1918 yang merupakan tahun yang menempel di dinding depan bangunan dan terdiri dari dua lempeng batu.

Apa Itu Cap Batik

Alat untuk membuat kain batik yakni cap kain batik dengan berbagai macam corak batik asli Yogyakarta akan menjadi salah satu pelengkap koleksi benda cagar budaya di Kulonprogo yang disimpan di Museum Bale Agung Pemkab Kulonprogo. Museum tersebut menurut rencana pada pertengahan September mendatang akan dibuka untuk umum.

Kepala Subdin Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kulonprogo, Drs Santoso dan Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan, Singgih Hapsoro yang ditemui KR di ruangkerjanya, Rabu (9/8) mengungkapkan di Museum Bale Agung dilengkapi cap kain batik yang ada di Yogyakarta. Cap kain batik merupakan tehnologi industri batik pasca penggunaan alat canthing.

bale agung wates batikindonesia.info

Mengapa Tidak Dipakai Lagi?

Menurutnya peralatan tersebut diperoleh dari para perajin batik dari berbagai daerah yang sudah tidak dipergunakan lagi. Alat-alat ini tidak dipergunakan lagi dengan pertimbangan ekonomi sudah tidak menguntungkan, jadi corak kain batik yang diproduksi tidak laku di pasaran sehingga peralatan itu tak dipakai lagi.

Cap batik tersebut, katanya memiliki nilai sejarah perbatikan di Indonesia. Terdapat 13 corak cap batik yang dikoleksi di Museum Bale Agung. Diantaranya corak batik parang curiga, parang rusak, parang rusak dan berbagai corak lainnya. “Diharapkan museum ini nantinya dapat berfungsi sebagai sarana pelestarian benda bersejarah, pengembangan dan untuk kepentingan ilmu pengetahuan,” tutur Drs Santoso.

Kapan Dibuka Untuk Umum?

Pertengahan bulan September 2006 nanti, jelas Singgih Hapsoro Museum Bale Agung yang terletak di Komplek Pemkab Kulonprogo dibuka setiap hari pada jam kerja untuk masyarakat umum. Pengunjung yang ingin mengetahui berbagai benda peninggalan purbakala dapat melihat langsung tanpa dipungut biaya masuk.

Menurutnya menjelang museum dibuka untuk masyarakat umum, piahknya akan mengadakan sosialisasi UU Nomor 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya. Dalam rangka persiapan telah mengatur ruangan, menyediakan landasan untuk benda-benda cagar budaya yang disimpan di museum dan pemasangan lampu display.

Jenis-jenis Koleksi Museum Bale Agung

Benda cagar budaya lain yang bisa diketahui masyarakat umum berupa lingga, yoni, arca ganesa dan batu bata yang dibuat dimasa lalu. Benda cagar budaya yang dikoleksi keseluruhan jumlahnya mencapai sekitar 50-an. “Termasuk mata uang kuno nanti juga akan dikoleksi di sana,” katanya.

Setelah Museum Bale Agung dibuka untuk umum, diharapkan dalam jangka panjang disediakan bangunan gedung yang lebih luas dan representatif. Luas bangunan Bale Agung yang ada saat itu masih terlalu sempit sehingga semua benda cagar budaya belum dapat disimpan di gedung tersebut.

Sumber : (Ras)-n Kedaulatan Rakyat, Wates.