Hj Siti Ruminah Sudiono – Dari Kepedulian terhadap Nasib Pembatik

Hasil karya batik selama ini begitu lekat dan tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Kekayaan corak dan ragam batik pun dimiliki di setiap daerah. Bahkan, sejumlah daerah di Indonesia telah berhasil memperkenalkan hasil produksi batiknya secara luas hingga ke mancanegara.

Batik Karya Anak Bangsa

Namun, ternyata nasib batik khas Indramayu tak demikian adanya. Usaha batik yang ditekuni masyarakat Indramayu yang telah berlangsung turun temurun sejak zaman Belanda, bagai lumut di atas batu, hidup segan mati tak mau. Beragam hasil karya batik yang dihasilkan tidak dapat dipasarkan karena tidak memiliki konsumen, apalagi pelanggan. Nasib para pembatik pun menjadi kian terpuruk.

Jadi Pengepul Batik

Melihat keterpurukan nasib pembatik dan batik Indramayu secara keseluruhan, jiwa Siti Ruminah pun terpanggil. Di tahun 1972, istri dari H Sudiono itu mulai berusaha untuk memperbaiki kondisi tersebut dengan menjadi pengepul (pengumpul, red) batik. Padahal, saat itu dia telah menjadi produsen es mambo yang sukses.

Hj Siti Ruminah Sudiono

‘’Namun saya alihkan usaha es mambo ke usaha batik, karena kepedulian saya terhadap nasib pembatik dan batik khas Indramayu. Apalagi motif batik khas Indramayu sangat bagus dan beragam,’’ kata ibu dari lima orang anak itu.

Motif Batik Khas Indramayu

Menurut Siti Ruminah, motif batik khas Indramayu sampai saat ini masih asli sejak zaman Belanda. Motif itu diantaranya kapal kandas, ikan etong, merak ngibing, kuyong, pesawat penganten, dan masih banyak lainnya. Semua motif itupun memiliki nilai seni yang tinggi dan masing-masing mempunyai nilai sejarah tersendiri.

Kiprah sebagai pengepul batik dimulainya dengan mengumpulkan beberapa lembar kain batik dari warga di sekitar rumahnya yang beralamat di Jalan Siliwangi No 315 Kelurahan Paoman, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kemudian, lembaran-lembaran kain batik itu dijualnya kembali ke sejumlah rekannya.

Jual Batik ke Rekan-rekan

Kebetulan, nenek empat cucu itu memang aktif di berbagai organisasi seperti Dharma Wanita Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, tempat suaminya bertugas. Selain itu, dia juga rajin berolah raga tenis sehingga memiliki banyak teman. Nah, para kenalannya itulah yang kemudian menjadi sasaran pemasaran batik-batiknya.

Lama kelamaan, kain batik yang dijualnya itu semakin dikenal luas. Para pembeli pun mulai berdatangan ke rumahnya. Memang tak banyak batik yang dibeli orang saat itu, hanya berkisar satu sampai dua lembar. Namun, dengan diiringi kualitas batik yang bagus, minat pembeli semakin tinggi dan usahanya semakin berkembang. Kain batik khas Indramayu pun mulai dikenal masyarakat luas dengan sebutan Batik Paoman, sesuai dengan nama tempat awal mula batik Indramayu berkembang.

Mulai Produksi Batik Sendiri

Wanita yang menjabat sebagai Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Wanita Indonesia (IWAPI) Indramayu sejak tahun 2000 tersebut lantas mulai berpikir untuk lebih serius mendalami usaha batik. Karena itu, dia tidak lagi berperan hanya sebatas sebagai pengepul. Dengan merekrut tenaga kerja sebanyak dua orang, dia pun mulai memproduksi batik di rumahnya sendiri. Batik yang diproduksinya pun beragam mulai dari batik tulis, batik cap, hingga batik printing.

Untuk lebih memperkenalkan kain batik hasil produksinya maupun kain batik yang dikumpulkannya dari warga, di tahun 1980-an Siti Ruminah mulai memasang iklan. Tak tanggung-tanggung, iklan itu dipasangnya melalui internet, yang saat itu baru saja ada. Dampaknya, kain batik Paoman dikenal di berbagai negara.

Jual Batik ke Mancanegara

Tercatat, ada sejumlah pembeli dari Jepang, Belanda, dan Australia yang langsung memesan batiknya itu. Bahkan, para pembeli dari negara-negara tersebut kini menjadi pelanggan tetapnya. Selain itu, banyak pula pembeli dari berbagai kota di Indonesia yang memburu kain batiknya. Usahanya pun semakin berkembang dan tenaga kerja yang direkrutnya kini telah mencapai 63 orang.

‘’Namun, saat itu saya khawatir corak batik Paoman akan diklaim pihak lain, seperti halnya batik Pekalongan yang dipatenkan oleh Malaysia. Karena itu, saya mulai memperjuangkan hak paten untuk corak batik Paoman melalui Pemkab Indramayu,’’ tutur anak kedua dari 13 bersaudara pasangan Wasa Harja Prawira dan Sutinah itu.

Corak Batik Indramayu di Patenkan

Niat Siti Ruminah untuk mematenkan batik Paoman mendapat tanggapan dari Pemkab Indramayu. Dan kini, dari sekian banyak corak batik Paoman, 94 persen di antaranya telah dipatenkan.

Berdasarkan klasifikasi yang dilakukan Balai Batik Indonesia, corak batik Paoman memang memiliki banyak corak dan motif. Berdasarkan masukan dari para konsumennya, Siti Ruminah lantas mulai memvariasikan corak batik Paoman. Menurut dia, batik Paoman sebenarnya hanya memiliki satu warna dasar, yakni putih. Namun, warna batik Paoman itu dikembangkannya hingga beragam.

Produksi Barang Jadi dari Batik

Selain warna, kain batik yang diproduksinya juga mulai dikembangkan menjadi produk siap pakai. Awalnya, batik Paoman hanya berupa lembaran kain. Namun kini, batik Paoman telah menjelma dalam bentuk pakaian, seprei, bed cover, gorden, tas, sandal, dan lain-lain.

‘’Selain memperkenalkan produk melalui internet, saya juga rajin mengikuti berbagai pameran sehingga saat ini saya telah memiliki pelanggan tetap dari Bandung, Jakarta, Bogor, Bali, dan beberapa negara asing,’’ kata Siti Ruminah.

Buka Cabang ke Daerah Lain

Dengan banyaknya pelanggan maupun pembeli dari berbagai kota, Siti Ruminah lantas membuka cabang usaha di Jakarta dan Bali. Omset penjualannya pun mencapai rata-rata 30 lembar per hari untuk kain batik tulis, ratusan lembar kain batik cap, dan ribuan lembar kain batik printing.

Selain berdasarkan pesanan, sistem pemasaran juga dilakukan dengan menyediakan batik di toko-tokonya. Dan, dengan sistem pemasaran cash and carry, usaha yang dikembangkannya itu tak pernah terkendala masalah dana.

Membina Mitra Kerja

Kesuksesan usaha itu tak membuat Siti Ruminah melupakan para pembatik lainnya. Dengan usahanya yang semakin berkembang, dia pun terus merekrut tenaga kerja yang dilatihnya agar bisa membatik. Selain itu, dia juga menjalin kerja sama dengan ratusan orang baik secara individu maupun kelompok sebagai mitra kerjanya. Para mitra kerja itu diberinya modal, bahan, dan contoh corak batik untuk dibuat. Selanjutnya, batik-batik itu dipasarkannya.

‘’Untuk menanamkan kecintaan batik pada generasi muda, saya juga membuka les membatik bagi sisiwa-siswa SMA. Saat ini, siswa yang ikut les membatik telah mencapai 120 anak,’’ ujar Siti Ruminah.

Meraih Penghargaan dari Pemerintah

Semua upaya Siti Ruminah untuk mengembangkan batik Paoman lantas mendapat penghargaan dari pemerintah. Pada tahun 1986, dia mendapat Adhikarya dari Bakorwil Cirebon. Pada tahun 1994, penghargaan Adhikarya itu diperolehnya kembali dari gubernur Jawa Barat.

Selain itu, IWAPI juga memberinya penghargaan sebagai Wanita Pengusaha Indoensia Berprestasi tingkat nasional pada tahun 2002. Pada tahun yang sama, dia juga mendapat penghargaan sebagai UKM Berprestasi dari presiden RI dan gubernur Jawa Barat. lis

Nama lengkap: Hj Siti Ruminah Sudiono
TTL: Indramayu, 25 Juni 1951
Nama suami: H Sudiono
Anak: lima orang
Cucu: empat orang
Nama usaha: Batik Paoman Art
Alamat rumah dan usaha: Jalan Siliwangi No 315 Indramayu
Telepon usaha: (0234) 271151
Email usaha: [email protected]
http://welcome.to/batikpaoman