Meski Harus Berkarya di Bawah Tenda; Ratna Tetap Coba Kembangkan Batik

KENYATAAN gempa telah memporak-porandakan segalanya memang pahit. Ratna Purwaningsih sebagai produsen pakaian batik mencoba bangkit, menghadapi kenyataan yang ada dengan memulai produksi pakaiannya kembali dengan peralatan yang seadanya. Sebelum gempa, Ratna memiliki 8 mesin jahit namun akibat gempa beberapa waktu lalu, 4 mesin jahitnya rusak dan tidak bisa terpakai lagi. Sementara itu rumah dan show roomnya ‘Rena Griya Batik Bordir dan Kebaya’ yang berada di Demangan Tegal, Jambidan, Banguntapan, Bantul ikut ambruk. Dengan semangat yang kuat untuk kembali menata perekonomiannya, akhirnya Ratna melanjutkan usaha jahitnya di bawah tenda yang didapatnya dari Disperindag.

Batik Bordir dan Kebaya

Produksi pakaian batiknya telah dimulai Ratna sejak 2 tahun yang lalu. Semasa kuliah tahun 1990, Ratna mulai usaha kecil-kecilan dengan membuat mukenah dan kerudung yang kemudian berkembang menjadi produksi pakaian muslim. Kemudian Ratna beralih memroduksi pakaian batik dengan memperkerjakan 16 orang tenaga kerja yang membantunya dalam proses produksi pakaian batik. Namun setelah gempa, hanya 4 orang yang masih bekerja di tempatnya karena karyawannya yang kebanyakan berasal dari Bantul juga terkena imbas dari gempa.

Ratna memperoleh batik yang dijadikan bahan dasar pembuatan pakaian batiknya dari Pekalongan. Ratna menyediakan kain putih untuk dicap batik di Pekalongan kemudian batik hasil cap tersebut dikirim kembali ke tempat produksinya untuk dijahit. Dalam sehari biasanya setiap penjahit mampu membuat 5 potong pakaian. Dalam sebulan dihasilkan sekitar 400 potong pakaian jadi.

Proses pembuatan pakaian batik meliputi, menjahit pakaian, memasang payet dan merapikan pakaian dengan disetrika. Setelah itu, pakaian di-packing dan siap untuk dipasarkan kepada konsumen. Selama ini Ratna menjual pakaiannya ke Jakarta dan Bogor. Untuk wilayah Yogyakarta biasanya Ratna memasok ke Setaman (Pertiwi Group), Al Fath Group, dan Mirota. Penghasilan bersih yang diperoleh dari usaha ini menurut Ratna minimal Rp 7 juta per bulan. ”Sejak gempa kami baru beroperasi seminggu, karena prasarana produksi juga ikut terkena imbas gempa kemungkinan pendapatan kami menurun. Biarpun demikian kami berusaha untuk bangkit kembali menggunakan sarana produksi yang ada,” tambah Ratna.