Batik Pulihkan Korban Gempa; Omzet Mencapai Rp 10 Juta

Jemari itu dengan gemulai menorehkan canting ke kain putih yang terhampar di kayu penyangga. Canting kembali dicelupkan ke dalam cairan malam yang terus mengepul dalam wajan di atas kompor kecil. Dengan tiupan ringan, jemari kembali memainkan alat membatik itu dan mengisi pola yang terpampang dalam kain dengan cairan malam kental. Beberapa saat kemudian, mulai nampak pola batik yang indah. Disela-sela kegiatan, terdengar cengkrama akrab antarpembatik yang makin menghangat.

Uniknya, proses pembuatan kain batik dilakukan oleh ibu-ibu korban gempa yang berada di Girirejo, Pajimatan Imogiri Bantul (200 meter barat makam raja-raja Mataram), salah satu daerah terparah akibat gempa. Membatik ini merupakan salah satu kegiatan dalam program ‘Revitalisasi Batik di Imogiri’ yang diselenggarakan oleh Jogja Heritage bersama Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad, Yayasan Losari, Mayasari Indonesia, LPM Institut Pertanian Yogyakarta dan beberapa donatur sejak Rabu (7/6) lalu. Program yang dijangkakan dalam waktu setahun ini mengajak para pembatik ke depan agar bisa mandiri.

Batik Pulihkan Korban Gempa

”Saya sangat senang bisa membatik kembali. Sejak gempa, saya tidak bisa melanjutkan mata pencaharian saya ini karena seluruh peralatan hancur tertimpa rumah yang roboh. Selain itu, saya jadi punya kesibukan. Dari pada di rumah stress melihat bangunan hancur, lebih baik membatik,” kata Jariah (38) warga Desa Karang Kulon, Imogiri, Bantul yang sudah mampu membatik sejak kecil.

Pernyataan Jariah diiyakan oleh Isti (17) warga Giriloyo, Pajimatan. Selain dapat menghilangkan trauma karena bisa berkumpul dengan sesama perajin, juga dapat memperoleh pendapatan.

 

Sementara Litbang Sekar Jagad Larasati Suliantoro mengatakan dengan terus melakukan kegiatan produktif, perajin batik di Imogiri yang jumlahnya mencapai 900 orang lebih diharapkan mampu membangun kehidupan kembali pasca gempa. Hal ini disebabkan, batik tulis Bantulan merupakan salah satu potensi besar yang di hasilkan di wilayah Kecamatan Imogiri.

”Saya optimis kegiatan membatik ini merupakan terapi bagi para perajin batik korban gempa. Aktivitas sangat dibutuhkan agar mereka tak terus terbawa kesedihan memikirkan rumah yang hancur atau keluarga yang dipanggil oleh-Nya saat gempa. Kaum ibu juga menjadi tak ada pekerjaan lagi karena rumah mereka hancur. Kalau hanya bengong di rumah mereka justru akan tambah stres,” kata Larasati.

Di Kecamatan Imogiri, terang Larasti, hampir keseluruhan masyarakat sedari kecil telah mampu mengerjakan batik karena merupakan warisan turun temurun. Sekitar 900 perajin batik tulis, baik tua atau muda tergabung dalam kelompok-kelompok perajin dari 4500 perajin yang ada di Kecamatan Imogiri.

Dijelaskan Larasati, setiap perajin batik yang datang, membatik mulai pukul 08.00-14.00 dan pulangnya diberi uang saku Rp 5.000. Mereka juga diberi oleh-oleh berupa logistik atau pakaian untuk keluarga di rumah. Selain itu, disediakan pula makan bagi para perajin batik korban gempa.

Selain membatik, revitalisasi batik juga diisi dengan workshop membatik bagi masyarakat umum juga digelar pasar tiban yang menjual kain batik yang dibuat korban gempa. Dari sekitar 20-an perajin yang saat ini tergabung, sehari rata-rata mampu menghasilkan 30 sampai 40 potong batik selendang. Produk tersebut diambil oleh paguyuban batik dari luar kota seperti Semarang dan Jakarta maupun di lokasi.

”Sejak dibuka, kami telah menjual batik di lokasi senilai Rp 10 juta. Saya yakin, esok akan lebih banyak lagi yang mampu terjual. Respons masyarakat bagus. Tak hanya domestik saja yang membeli, tapi banyak juga relawan luar negeri, katanya untuk oleh-oleh dan kenang-kenangan di tempat asal mereka. Di sini, harganya pun terjangakau. Tersedia kain, selendang dan sarung bantal dengan harga berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 350 ribu per lembar,” kata Larasati.

Selain itu, selisih keuntungan penjualan produk batik ini, akan dijadikan modal awal untuk membangun pusat-pusat kerajinan di berbagai wilayah lain seperti di Pandak, Bantul dan tempat lainnya.

Ditambahkan Larasati, dari sekitar 200 pengusaha batik yang tergabung dalam Sekar Jagad DIY, sejak terjadi gempa mengalami penurunan omzet sekitar 50 persen. Sebelum terjadi gempa setiap bulan omset batik bisa mencapai Rp 500 juta lebih namun saat ini diperkirakan hanya Rp 250 juta.

Sumbr : (Anna Karenina)-c >Kedaulatan Rakyat