Kita Kecolongan Soal Paten Batik

PERJALANAN panjang perancang busana, seniman batik dan penulis kebudayaan Jawa, Iwan Tirta (71) — telah menghantar pria bernama asli Nusjirwan Tirtaamidjaja SH tersebut dinobatkan menjadi salah satu Indonesian Fashioning Icon The Past & Present — yang diprakarsai oleh Asosiasi Pengusaha dan Perancang Mode Indonesia (APPMI) dalam Jakarta Fashion and Festival Food (JF-3) pekan lalu. Selain Iwan Tirta, ‘Fashion Icon’ juga diberikan kepada Peter Sie sebagai tokoh perintis mode Indonesia yang tetap setia berkarir di jalurnya hingga sekarang dan Okky Asokawati sebagai model profesional Indonesia yang berhasil mengubah citra peragawati tidak hanya sekadar hobby, tetapi menjadi profesi penting. Sedang Iwan Tirta menyandang fashion icon sebagai tokoh perintis mode batik Indonesia yang setia pada perkembangan batik serta melestarikan batik sebagai warisan budaya bangsa.

Saya sangat bahagia mendapat perhatian seperti ini, karena membuktikan generasi penerus juga memiliki kepedulian terhadap batik,” kata Iwan Tirta kepada Kedaulatan Rakyat sebelum acara dimulai di La Piazza, Life Style Center, Mal Kelapa Gading Jakarta, Jumat (26/5) malam.

paten batik indonesia

Berikut perbincangan dengan Iwan Tirta yang selalu memperbincangkan batik dengan sepenuh puitika, energi dan cinta yang membara.

Apa isu terbaru tentang batik?

Batik Indonesia tengah duka cita! Di satu sisi kita berjuang mati-matian dengan promosi ke luar negeri agar batik Indonesia dikenal, dibeli, eksis — eh, kita kecolongan, karena yang mampu membuat hak paten atas batik ternyata justru Malaysia.

Belum lama ini saya membuat forum di Australia, untuk menyanggah hak paten batik Malaysia. Saya bicara batik adalah Indonesia. Namun saya tidak yakin apakah teriakan ini akan berhasil. Perlu bantuan semua pihak, terutama diplomasi, untuk memulihkan kepercayaan masyarakat internasional bahwa batik identik dengan Indonesia.

Bisa menerangkan perbedaan batik Indonesia dengan Malaysia?

Ya, berbeda jauh. Terutama dari sisi spiritual. Batik kita penuh falsafah kehidupan. Tidak sekadar tekstil atau kain motif batik. Untuk membatik pun, ada cara-cara spiritual yang harus ditempuh, misal, membaca mantera atau berpuasa lebih dulu. Ini tidak terjadi dalam proses batik Malaysia.

Apakah makna adiluhung bisa dipahami oleh bangsa lain, sehingga batik mendapatkan apresiasi dan nilai lebih dari sekadar kain bermotif?

Percayalah bahwa adiluhung merupakan sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh puitika atau rasa seni seseorang. Contohnya begini, saya tidak mengucap sedikit pun tentang ‘konsep adiluhung’ kepada masyarakat Eropa. Namun ketika saya menggelar peragaan busana batik tulis dengan motif yang sarat falsafah hidup di salah satu hotel terkenal di Belanda — datang seorang kritikus seni terkemuka yang mengucapkan selamat sekaligus menyarankan, “Seharusnya Anda tidak menggelar busana batik yang luar biasa tadi hanya di hotel ini. Namun di Istana Marseilles, Prancis”.

Maksud kritikus seni itu?

Pada awalnya saya juga tidak paham, setelah terjadi diskusi kecil, saya pun mengerti. Dia menyayangkan karya seni budaya yang begitu indah, harusnya diapresiasi di suatu tempat yang juga beratmosfer seni-budaya tinggi. Dan, Istana Marseilles adalah tempat yang layak daripada hotel.

Sebenarnya, bagaimana ‘posisi’ batik di jajaran kain adat Indonesia?

Ya, menjadi salah satu dari warisan kain adat Indonesia yang kini tengah mencapai jalan buntu — dalam arti, bahwa pembuatannya menurut cara-cara lama sudah semakin surut dan pemakaiannya pun makin berkurang. Tekstil tradisional atau kain adat Indonesia adalah semua tekstil atau kain yang dibuat menurut cara-cara tradisional atau dengan tangan. Memakai alat tenun tradisional dan diberi warna dan ragam hias tradisional.

Inilah yang memprihatinkan. Melihat masa depan yang suram ini, maka perlu pemikiran untuk mencari arahan baru bagi kain atau tekstil tradisional Indonesia agar tidak tenggelam dalam banjir kehidupan modern yang makin miskin akan apresiasi tradisi kain adat.

Mungkin Anda memiliki solusi keluar dari jalan buntu?

Solusi bisa diambil dengan pertanyaan: apakah kita harus selalu terpana pada dunia busana, apabila hendak menyelamatkan kekayaan tekstil tradisional Indonesia? Khusus batik tradisional yang bersifat seni dan eksklusif, misalnya, dapat dipergunakan sebagai alat penunjang desain interior.

Secara pribadi, saya memiliki pengalaman tentang hal ini. Saya melihat pemakaian seni batik tulis halus untuk kegunaan interior dipelopori oleh pendatang-pendatang asing di bumi Indonesia pada tahun 1960-an. Mereka memajang kain adat di dinding (wallhangings).

Anda tersinggung dengan eksperimen itu?

Kenapa harus tersinggung? Saya justru tertarik karena mendapat ide bagus yang sangat menarik. Wallhangings sengaja bisa dinikmati siapa saja yang datang ke rumahnya. Ada alur cerita, dongeng, histori dan emosi yang terlibat.

Dari perubahan cara konsumsi kain tradisional — dari busana — menjadi ragam hias, kita ‘kan tinggal mengubah format dan ukurannya saja. Hasilnya sangat memuaskan dan bahkan diterima dengan tangan terbuka oleh dunia internasional.

Orang tak lagi memikirkan batik atau kain adat harus menjadi adibusana?

Ya, orang mulai berpikir rasional, bahwa adibusana atau haute couture yang terbuat dari tekstil tradisional yang bagaimanapun bagusnya (dan mahal!) — akan berakhir di lemari seorang yang kaya raya, sampai dia mungkin bosan atau lupa akan baju tersebut. Sedangkan wallhangings yang indah akan tergantung untuk waktu yang lama, di sebuah ruangan tinggal tanpa dibuang semata-mata karena tidak lagi fashionable. Juga, sebuah wallhangings akan dinilai sebagai barang seni yang mempunyai harga added value.

Karya batik Iwan Tirta memang melegenda. Corak-corak baru karyanya, sempat membuat ‘wajah batik’ berubah. Bila kita masuk pasar pusat batik seperti Pasar Klewer (Solo), Beringharjo (Yogya), sentra batik Pekalongan, Cirebon pada tahun 1985-an, kita akan diserbu pertanyaan, “Anda mencari batik Iwan Tirta? Kami punya stok motif-motif terbaru…”. Padahal, boleh jadi Iwan Tirta tak pernah membuat corak itu. Akan tetapi ‘nama’ Iwan Tirta seolah menjadi jaminan hadirnya batik modern yang kaya warna ‘full colour’ dan penuh nuansa ‘colour full’.

Iwan Tirta merespons hal itu sebagai ‘berkah Tuhan’. “Kenapa saya harus marah dan mengatakan mereka plagiat? Saya punya pangsa pasar sendiri yang tahu persis eksklusivitas. Mereka hanya membeli batik yang ada tanda tangan saya,” katanya. Memang benar, Iwan Tirta adalah perintis mode batik Indonesia yang setia pada perkembangan batik, melestarikan sebagai warisan budaya — seperti anugerah yang diterimanya: ‘Indonesia Fashion Icon’.

Sudah berapa lama serius menekuni, mengembangkan dan melestarikan batik?

Saya mulai peduli dan koleksi batik sebagai hobi sejak 45 tahun lalu. Baru pada 1972, saya membuat perusahaan batik agar creativity tersalur maksimal dan ada manajemen yang mengatur sektor bisnis.

Sedikit kilas balik, apakah Anda dari keluarga pembatik?

Bukan, tetapi seluruh keluarga saya pecinta dan penggemar seni tradisional. Pada awalnya, saya cuek-bebek. Bahkan nyaris tidak peduli dengan seni, apalagi yang tradisional. Ya, mungkin karena waktu itu saya masih remaja sehingga banyak impian yang jauh tinggi.

Minat mempelajari tradisi, seni dan budaya baru muncul ketika saya sekolah di Inggris. Nah……., di sana sering ditanya bangsa lain tentang budaya Indonesia. Celakanya, pengetahuan saya tentang seni-budaya negeri kita ini sangat dangkal. Saya merasa sangat malu, karena ternyata banyak orang Barat terutama Eropa justru mengerti budaya kita.

Anda justru kebarat-baratan?

Ha,ha,ha..begitulah anak muda tahun 1950-an!

Nampaknya, masa muda Anda full-fasilitas. Negara kita baru merdeka, Anda sudah sekolah di luar negeri…

Ayah saya memang orang berpangkat, setidaknya menjadi anggota Mahkamah Agung Republik Indonesia tahun 1953-1958. Ayah-ibu saya sangat disiplin pada anak-anaknya, terutama untuk belajar menuntut ilmu. Saya juga orang yang suka belajar, buku, ilmu pengetahuan. Sejak kecil saya bercita-cita jadi diplomat.

Lalu, saya rintis dengan belajar di fakultas hukum Universitas Indonesia, lulus tahun 1958. Studi lanjut di School of Economics and School of Oriental and African Studies. Kembali ke tanah air, saya diangkat menjadi associate professor dalam ilmu hukum internasional di UI. Lalu saya dikirim belajar hukum di Universitas Yale, Amerika Serikat, lulus tahun 1965. Nah, saya ini kakak kelasnya mantan Presiden AS, Bill Clinton dan isterinya, Hillary Rodham yang juga lulusan dari Yale.

Masalahnya, sepulang dari Amerika, seni batik lebih merebut atensi saya. Hidup adalah sebuah pilihan. Saya memilih batik untuk hidup saya. Saya adalah orang yang tak mau bekerja setengah-setengah. Harus total. Hidup saya, total untuk batik.

Lupa jadi diplomat?

Yang nampak mata memang begitu. Namun, saya tetap menjadi duta bangsa dan duta kebudayaan dari Indonesia melalui seni batik. Sebab batik bisa menjadi apa saja. Alat diplomasi untuk dagang, bisa jadi misi politik bahkan misi perdamaian.

Anda dikenal sebagi perintis mode batik Indonesia. Sebenarnya, apa yang sudah Anda lakukan? Bukankah batik sudah ada sejak berabad-abad silam?

Yang mengatakan perintis mode batik ‘kan pihak lain. Saya hanya melakukan apa yang secara instink dan naluri, harus saya lakukan. Misal, mengapa batik hanya digunakan untuk busana tradisional? Padahal, dengan sentuhan garis rancang dan kreatif lain, batik bisa untuk apa saja. Bila ini berjalan, pasti industri batik terus berjalan, jatidiri dan jatibangsa kita akan eksis melalui batik yang juga seni budaya.

Oleh karena itu, saya tergerak membuat corak batik sendiri. Inspirasi masih pada batik tradisional. Tapi, saya mencoba tampil lain.

Menjadi modern?

Ya, begitulah… kita mesti hati-hati dengan batasan modern. Namun bagaimana meng-up grade perasaan seseorang dan mengapresiasi orang yang mengenakan batik — agar merasa comfortable dan masakini. Bagaimana batik menjadi membanggakan dan tidak menjadi kuna, inilah yang harus dilakukan.

Dan, Anda berhasil?

Begini, saya selalu mencari respons mereka yang menggunakan batik karya saya. Mereka bilang, “Aku senang batik karyamu karena memiliki corak sendiri”. Artinya, konsumen batik membutuhkan eksklusivitas.

Di usia yang tak lagi bisa dibilang muda, Iwan Tirta (lahir 1935) nampak tak surut semangat dan energi untuk terus mengembangkan dan melestarikan batik berikut kain tradisional Indonesia yang lebih suka disebutnya sebagai ‘kain Nusantara’. Dia juga melakukan penggalian terhadap jenis dan ragam perhiasan tradisional dari seluruh Nusantara. Cinta dan baktinya pada seni tradisional selain batik, yakni seni tari Bedaya Ketawang mendapat anugerah gelar nama bangsawan dari Mangkunegoro VIII, yakni: Kanjeng Raden Haryo Hamijoyo.

Apa yang menyebabkan batik bisa bertahan melampaui waktu?

Ya, karena yang terlibat dalam penciptaan batik selalu bersedia dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman — tanpa kehilangan prinsip-prinsip dasar tentang batik itu sendiri.

Jadi, batik bisa mengadaptasi teknologi?

Menurut saya, justru: harus bisa. Teknologi-lah yang akan membuat kita selamat dan tidak punah. Maksud saya begini, dari sisi teknologi orang boleh mengatakan tidak ada terobosan setelah penciptaan teknik cap. Tetapi para pembela batik akan mengatakan batik sesungguhnya selalu melibatkan teknik. Setidaknya, teknik untuk menahan warna dengan lilin malam. Artinya, batik yang sesungguhnya dibuat melalui proses menahan warna memakai malam dengan alat canting dan cap. Kecuali bila ada alat lain yang mampu membubuhkan malam untuk membentuk motif.

Bagaimana dengan sentuhan hand made?

Sentuhan hand made tetap memberi nilai khusus pada batik. Sebab sentuhan artisan batik dalam sehelai kain, akan memberi sebuah rasa kedekatan antarmanusia.

Cara mengamati adaptasi dan perubahan batik terhadap perubahan zaman?

Kita bisa melihat motif dan warna. Batik adalah juga catatan panjang perjalanan negeri ini. Kita lihat ada motif jlamprang yang mengadaptasi kain cinde asal India, burung hong dari Cina, basurek yang bermotif kaligrafi, motif buketan dari Eropa-Belanda. Ada lagi hokokai berupa seruni dan kupu-kupu ketika Jepang menginvasi Indonesia.

Motif lainnya?

Nah….., kita masih ingat ‘kan ada batik Golkar (ha, ha, ha…). Eh, kemudian tambah lagi. Ada Batik Gus Dur dan Batik SBY, (ha .., ha, ha..)

Iwan Tirta tergelak-gelak menutup perbincangan ini. Panitia penyerahan anugerah ‘Indonesia Fashion Icon’ mengajak masuk ruang perhelatan. Sebuah trofi berlapis emas 24 karat menantinya. Kerja keras Iwan, memang layak mendapat penghargaan emas dan predikat icon fashion Indonesia).

Nama : Nusjirwan Tirtaamidjaja (Iwan Tirta)

alias Kanjeng Raden Haryo Hamijoyo, gelar dari Mangkunegoro VIII.

Tempat tgl lahir : Blora, 18 April 1935

Orangtua : Mr Mohammad Husein Tirtaamidjaja dan ibu asal Batusangkar

Sumatera.

Sekolah : Fakultas Hukum UI, lulus 1958;

School of Economic and School of Oriental and African Studies,

London, lulus 1961.

Yale Universiy, Amerika Serikat, lulus 1965.

Beberapa karya buku : -Batik, Pola dan Corak;

-Batik, the Magic Cloth;

-The Batik.

-Batik Fabled Cloth of Java.

-A Bedaya Ketawang Dance Performance at The Court of Surakarta.

Sumber : (Esti Susilarti)-k Kedaulatan Rakyat