“Ini kerja borongan mbak, ya kalau dihitung sehari dapat Rp 5 ribu,” kata Ny Atun menjawab pertanyaan KR. Saat dilihat begitu banyak gulungan kain di bawah kakinya, Ny Atun menjelaskan, kalau lembaran ini ya dihargai sekitar Rp 1.000.

Membatik Hingga Larut Malam

Biaya pendidikan anak yang dirasa tinggi, membuat Ny Atun harus bekerja ekstra keras. Bahkan, bila perlu hingga larut malam terus membatik. Anak-anaknya, tidak ada yang telaten membantu ibunya membatik. “Kadang-kadang tak terasa saya membatik sampai di atas jam sebelas malam,” tambahnya.

Saat dijumpai KR, menjelang magrib, Ny Atun masih membatik dengan bantuan lampu penerangan yang dipasang di pinggir kios bensinnya.

Sang suami bekerja menarik becak, menurut Sumiyati penghasilannya menurun karena sudah kalah bersaing dengan bus kota.

Begitu juga, bila penjualan bensinnya sepi, terkadang hanya bisa terjual sekitar 20 liter. “Lha sekarang ini kan saingan juga banyak, penjual bensin eceran rasanya hampir ada di setiap tepi jalan,” tambahnya.

Beban keluarganya makin berat, karena anak ragilnya yang kembar dampit ada yang tidak bisa tumbuh kembang dengan normal, sehingga perlu perhatian khusus pula.

Semangat Ny Atun patut diacungi jempol, apalagi kerja kerasnya juga untuk membiayai anaknya yang kini menempuh pendidikan D3 di universitas ternama. Apalagi, biaya kuliah saat ini relatif tidak sedikit.

“Kami ingin juga mengembangkan usaha, namun terbatas pada modal. Kalau saja ada yang bersedia menolong, karena untuk utang ke bank kan harus ada jaminan.

Terpaksa kami utang pada perseorangan,” katanya. Ny Atun menjelaskan, dirinya tidak mendapat dana kompensasi BBM namun terkadang mendapat jatah Raskin.

Sumber : (Fia)-k Kedaulatan Rakyat