Sayang, kekhasan motif batik di luar Solo dan Pekalongan jarang atau mungkin tidak pernah terangkat ke permukaan. Beberapa di antaranya kini nyaris tinggal legenda, salah satunya batik semarangan. Pada abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-19, batik semarangan pernah mencapai zaman kejayaan karena dipakai semua kalangan, bangsawan maupun rakyat jelata.

Namun, konon kejayaan itu berakhir menyusul meletusnya Gunung Ungaran akhir abad ke-19. Setelah itu batik semarangan tak banyak lagi dipakai sebagai busana khas. “Lama-kelamaan orang Semarang pun menjadi lupa motif batik Semarang (semarangan),” kata Zhilla Maya, perajin batik semarangan.

Menurut Zhilla, motif batik semarangan mulai disibak lagi tahun 1980-an. Salah satu motifnya adalah sarung kepala pasung. Motif ini didominasi warna cokelat dan hitam dengan ornamen lebih mengarah bentuk tumbuhan. Dominasi warna cokelat dan gelap menampilkan kesan agung. Uniknya, motif batik semarangan justru diketahui dari hasil repro Los Angeles Country of Art, yang menampakkan motif sarung kepala pasung yang pernah dibuat tahun 1910.

Akibat keterpurukan cukup lama itu, batik semarangan hingga kini masih jarang diketahui masyarakat, bahkan warga Semarang sendiri. Ditambah tidak banyak pengusaha atau perajin batik yang mengembangkan jenis batik ini.

Zhilla adalah satu dari segelintir pencinta batik asal Semarang yang peduli dengan kelangsungan batik Semarang. Bersama sejumlah kawannya, Zhilla mengembangkan pembuatan batik semarangan.

Batik semarangan buatan Zhilla mengacu pada unsur alam, sebagaimana cara pembatik tempo dulu mengerjakan batik jenis ini. Unsur alam ini terutama ditekankan pada bahan pewarnanya yang hampir semuanya berasal dari alam. Misalnya untuk warna kuning dan hijau, Zhilla menggunakan buah jelawe.

Sumber : (HAN) Harian Kompas