BKMT Akan Pamerkan Alquran Terpanjang di Dunia

June 15th, 2006

Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) akan memamerkan Alquran terpanjang di dunia berukuran panjang 2250 meter dan lebar 115 meter dan dituliskan di atas kain batik dengan tinta warna kuning emas.

Usai diterima Wapres Jusuf Kalla di Kantor Wapres Jakarta, Selasa, Ketua Umum BKMT Tuty Alawiyah mengatakan, Alquran terpanjang tersebut akan dipamerkan bertepatan dengan pembukaan muktamar ke-6 dan tasyakuran 25 tahun BKMT di Masjid Istiqlal pada 22 Juli 2006.

Alquran terpanjang didunia tersebut merupakan tulisan tangan dari aktivis BKMT di kabupaten Kerinci, Jambi, Ustad Iskandar Zakaria, yang dibuatnya selama 10 tahun.

“Insya Allah acara ini akan dibuka Presiden Yudhoyono,” katanya. Read the rest of this entry »

Mavindo Gelar Pameran ‘Gaya Jogja’

June 15th, 2006

Mavindo 2000 menyelenggarakan pameran bertema ‘Gaya Jogja’ 2006 di Atrium Malioboro Mall, 14-23 Juni 2006. Pameran multiproduk ini, selain diikuti oleh sejumlah produsen batik dan handicraft ternama di Yogyakarta juga menampilkan produk interior rumah, pendidikan dan otomotif, seperti Al-Fatah, Gading Craft, Alle Batik, Idola Silver, Pensil Terbang, Batik Gaul, Nusa Indah Batik, Jiro, Widya Dara, Batik Bona, Kirana Jati, Bali Wangi, Rumah Warna, Karya Sehati Utama dan Kawasaki Motor.

Public Relation Mavindo 2000, Lourima Retalia S mengatakan pameran ini diselenggarakan dalam rangka membangkitkan kembali perekonomian Yogyakarta yang terpuruk setelah diguncang gempa beberapa pekan silam. Selain itu juga diharapkan dapat membantu memulihkan luka akibat gempa dan menjadi semangat untuk bangkit dan memulai membangun dan menata kembali perekonomian kota Yogyakarta.

”Pameran ini merupakan pameran pertama pasca gempa yang diselenggarakan di Malioboro Mall. Kami berharap, pameran ini dapat dijadikan salah satu contoh semangat yang dimiliki oleh para pengusaha dari dalam kota Yogya, yang mau bangkit memperbaiki perekonomian Yogyakarta,” tandas Retalia.

Sumber : (***)-o Kedaulatan Rakyat

Pascagempa, Omzet Batik Pekalongan Anjlok

June 4th, 2006

Batik Pekalongan Pendapatan perajin batik Pekalongan menukik drastis pascagempa yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah. Mereka tak bisa memasarkan batik ke Yogyakarta yang kini masih berduka dan belum pulih.

Gempa yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah sepekan silam ternyata berdampak buruk bagi kerajinan batik di Kota Pekalongan, Jateng. Para perajin batik di Pekalongan yang ditemui SCTV, belum lama ini, mengaku pendapatannya menurun drastis pascagempa di Yogya. Pasalnya, mereka kini tak bisa mengirimkan produknya ke Kota Gudeg yang selama menjadi pasar terbesar batik Pekalongan.

Umar Said misalnya, perajin batik di Kelurahan Kergon, Pekalongan Barat ini mengaku mengurangi produksi hingga 70 persen dalam sepekan terakhir. Yogya yang masih berduka dan belum pulih dari luka memaksa Umar untuk membatasi produksi. Jika sebelumnya mencapai 300 potong, kini Umar memproduksi tak lebih dari 90 helai batik.

Para perajin batik Pekalongan berharap pemerintah segera memulihkan kondisi Yogyakarta dan sekitarnya. Jika perekonomian Yogya telah bangkit lagi, mereka dapat kembali memasarkan batik Kota Gudeg.

Sumber : (TOZ/Budi Harto) Liputan 6, Pekalongan

Kita Kecolongan Soal Paten Batik

June 4th, 2006

PERJALANAN panjang perancang busana, seniman batik dan penulis kebudayaan Jawa, Iwan Tirta (71) — telah menghantar pria bernama asli Nusjirwan Tirtaamidjaja SH tersebut dinobatkan menjadi salah satu Indonesian Fashioning Icon The Past & Present — yang diprakarsai oleh Asosiasi Pengusaha dan Perancang Mode Indonesia (APPMI) dalam Jakarta Fashion and Festival Food (JF-3) pekan lalu. Selain Iwan Tirta, ‘Fashion Icon’ juga diberikan kepada Peter Sie sebagai tokoh perintis mode Indonesia yang tetap setia berkarir di jalurnya hingga sekarang dan Okky Asokawati sebagai model profesional Indonesia yang berhasil mengubah citra peragawati tidak hanya sekadar hobby, tetapi menjadi profesi penting. Sedang Iwan Tirta menyandang fashion icon sebagai tokoh perintis mode batik Indonesia yang setia pada perkembangan batik serta melestarikan batik sebagai warisan budaya bangsa.

Saya sangat bahagia mendapat perhatian seperti ini, karena membuktikan generasi penerus juga memiliki kepedulian terhadap batik,” kata Iwan Tirta kepada Kedaulatan Rakyat sebelum acara dimulai di La Piazza, Life Style Center, Mal Kelapa Gading Jakarta, Jumat (26/5) malam.

Berikut perbincangan dengan Iwan Tirta yang selalu memperbincangkan batik dengan sepenuh puitika, energi dan cinta yang membara.

Apa isu terbaru tentang batik?

Batik Indonesia tengah duka cita! Di satu sisi kita berjuang mati-matian dengan promosi ke luar negeri agar batik Indonesia dikenal, dibeli, eksis — eh, kita kecolongan, karena yang mampu membuat hak paten atas batik ternyata justru Malaysia.

Belum lama ini saya membuat forum di Australia, untuk menyanggah hak paten batik Malaysia. Saya bicara batik adalah Indonesia. Namun saya tidak yakin apakah teriakan ini akan berhasil. Perlu bantuan semua pihak, terutama diplomasi, untuk memulihkan kepercayaan masyarakat internasional bahwa batik identik dengan Indonesia.

Bisa menerangkan perbedaan batik Indonesia dengan Malaysia?

Ya, berbeda jauh. Terutama dari sisi spiritual. Batik kita penuh falsafah kehidupan. Tidak sekadar tekstil atau kain motif batik. Untuk membatik pun, ada cara-cara spiritual yang harus ditempuh, misal, membaca mantera atau berpuasa lebih dulu. Ini tidak terjadi dalam proses batik Malaysia.

Apakah makna adiluhung bisa dipahami oleh bangsa lain, sehingga batik mendapatkan apresiasi dan nilai lebih dari sekadar kain bermotif?

Percayalah bahwa adiluhung merupakan sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh puitika atau rasa seni seseorang. Contohnya begini, saya tidak mengucap sedikit pun tentang ‘konsep adiluhung’ kepada masyarakat Eropa. Namun ketika saya menggelar peragaan busana batik tulis dengan motif yang sarat falsafah hidup di salah satu hotel terkenal di Belanda — datang seorang kritikus seni terkemuka yang mengucapkan selamat sekaligus menyarankan, “Seharusnya Anda tidak menggelar busana batik yang luar biasa tadi hanya di hotel ini. Namun di Istana Marseilles, Prancis”.

Maksud kritikus seni itu?

Pada awalnya saya juga tidak paham, setelah terjadi diskusi kecil, saya pun mengerti. Dia menyayangkan karya seni budaya yang begitu indah, harusnya diapresiasi di suatu tempat yang juga beratmosfer seni-budaya tinggi. Dan, Istana Marseilles adalah tempat yang layak daripada hotel.

Sebenarnya, bagaimana ‘posisi’ batik di jajaran kain adat Indonesia?

Ya, menjadi salah satu dari warisan kain adat Indonesia yang kini tengah mencapai jalan buntu — dalam arti, bahwa pembuatannya menurut cara-cara lama sudah semakin surut dan pemakaiannya pun makin berkurang. Tekstil tradisional atau kain adat Indonesia adalah semua tekstil atau kain yang dibuat menurut cara-cara tradisional atau dengan tangan. Memakai alat tenun tradisional dan diberi warna dan ragam hias tradisional.

Inilah yang memprihatinkan. Melihat masa depan yang suram ini, maka perlu pemikiran untuk mencari arahan baru bagi kain atau tekstil tradisional Indonesia agar tidak tenggelam dalam banjir kehidupan modern yang makin miskin akan apresiasi tradisi kain adat.

Mungkin Anda memiliki solusi keluar dari jalan buntu?

Solusi bisa diambil dengan pertanyaan: apakah kita harus selalu terpana pada dunia busana, apabila hendak menyelamatkan kekayaan tekstil tradisional Indonesia? Khusus batik tradisional yang bersifat seni dan eksklusif, misalnya, dapat dipergunakan sebagai alat penunjang desain interior.

Secara pribadi, saya memiliki pengalaman tentang hal ini. Saya melihat pemakaian seni batik tulis halus untuk kegunaan interior dipelopori oleh pendatang-pendatang asing di bumi Indonesia pada tahun 1960-an. Mereka memajang kain adat di dinding (wallhangings).

Anda tersinggung dengan eksperimen itu?

Kenapa harus tersinggung? Saya justru tertarik karena mendapat ide bagus yang sangat menarik. Wallhangings sengaja bisa dinikmati siapa saja yang datang ke rumahnya. Ada alur cerita, dongeng, histori dan emosi yang terlibat.

Dari perubahan cara konsumsi kain tradisional — dari busana — menjadi ragam hias, kita ‘kan tinggal mengubah format dan ukurannya saja. Hasilnya sangat memuaskan dan bahkan diterima dengan tangan terbuka oleh dunia internasional.

Orang tak lagi memikirkan batik atau kain adat harus menjadi adibusana?

Ya, orang mulai berpikir rasional, bahwa adibusana atau haute couture yang terbuat dari tekstil tradisional yang bagaimanapun bagusnya (dan mahal!) — akan berakhir di lemari seorang yang kaya raya, sampai dia mungkin bosan atau lupa akan baju tersebut. Sedangkan wallhangings yang indah akan tergantung untuk waktu yang lama, di sebuah ruangan tinggal tanpa dibuang semata-mata karena tidak lagi fashionable. Juga, sebuah wallhangings akan dinilai sebagai barang seni yang mempunyai harga added value.

Karya batik Iwan Tirta memang melegenda. Corak-corak baru karyanya, sempat membuat ‘wajah batik’ berubah. Bila kita masuk pasar pusat batik seperti Pasar Klewer (Solo), Beringharjo (Yogya), sentra batik Pekalongan, Cirebon pada tahun 1985-an, kita akan diserbu pertanyaan, “Anda mencari batik Iwan Tirta? Kami punya stok motif-motif terbaru…”. Padahal, boleh jadi Iwan Tirta tak pernah membuat corak itu. Akan tetapi ‘nama’ Iwan Tirta seolah menjadi jaminan hadirnya batik modern yang kaya warna ‘full colour’ dan penuh nuansa ‘colour full’.

Iwan Tirta merespons hal itu sebagai ‘berkah Tuhan’. “Kenapa saya harus marah dan mengatakan mereka plagiat? Saya punya pangsa pasar sendiri yang tahu persis eksklusivitas. Mereka hanya membeli batik yang ada tanda tangan saya,” katanya. Memang benar, Iwan Tirta adalah perintis mode batik Indonesia yang setia pada perkembangan batik, melestarikan sebagai warisan budaya — seperti anugerah yang diterimanya: ‘Indonesia Fashion Icon’.

Sudah berapa lama serius menekuni, mengembangkan dan melestarikan batik?

Saya mulai peduli dan koleksi batik sebagai hobi sejak 45 tahun lalu. Baru pada 1972, saya membuat perusahaan batik agar creativity tersalur maksimal dan ada manajemen yang mengatur sektor bisnis.

Sedikit kilas balik, apakah Anda dari keluarga pembatik?

Bukan, tetapi seluruh keluarga saya pecinta dan penggemar seni tradisional. Pada awalnya, saya cuek-bebek. Bahkan nyaris tidak peduli dengan seni, apalagi yang tradisional. Ya, mungkin karena waktu itu saya masih remaja sehingga banyak impian yang jauh tinggi.

Minat mempelajari tradisi, seni dan budaya baru muncul ketika saya sekolah di Inggris. Nah……., di sana sering ditanya bangsa lain tentang budaya Indonesia. Celakanya, pengetahuan saya tentang seni-budaya negeri kita ini sangat dangkal. Saya merasa sangat malu, karena ternyata banyak orang Barat terutama Eropa justru mengerti budaya kita.

Anda justru kebarat-baratan?

Ha,ha,ha..begitulah anak muda tahun 1950-an!

Nampaknya, masa muda Anda full-fasilitas. Negara kita baru merdeka, Anda sudah sekolah di luar negeri…

Ayah saya memang orang berpangkat, setidaknya menjadi anggota Mahkamah Agung Republik Indonesia tahun 1953-1958. Ayah-ibu saya sangat disiplin pada anak-anaknya, terutama untuk belajar menuntut ilmu. Saya juga orang yang suka belajar, buku, ilmu pengetahuan. Sejak kecil saya bercita-cita jadi diplomat.

Lalu, saya rintis dengan belajar di fakultas hukum Universitas Indonesia, lulus tahun 1958. Studi lanjut di School of Economics and School of Oriental and African Studies. Kembali ke tanah air, saya diangkat menjadi associate professor dalam ilmu hukum internasional di UI. Lalu saya dikirim belajar hukum di Universitas Yale, Amerika Serikat, lulus tahun 1965. Nah, saya ini kakak kelasnya mantan Presiden AS, Bill Clinton dan isterinya, Hillary Rodham yang juga lulusan dari Yale.

Masalahnya, sepulang dari Amerika, seni batik lebih merebut atensi saya. Hidup adalah sebuah pilihan. Saya memilih batik untuk hidup saya. Saya adalah orang yang tak mau bekerja setengah-setengah. Harus total. Hidup saya, total untuk batik.

Lupa jadi diplomat?

Yang nampak mata memang begitu. Namun, saya tetap menjadi duta bangsa dan duta kebudayaan dari Indonesia melalui seni batik. Sebab batik bisa menjadi apa saja. Alat diplomasi untuk dagang, bisa jadi misi politik bahkan misi perdamaian.

Anda dikenal sebagi perintis mode batik Indonesia. Sebenarnya, apa yang sudah Anda lakukan? Bukankah batik sudah ada sejak berabad-abad silam?

Yang mengatakan perintis mode batik ‘kan pihak lain. Saya hanya melakukan apa yang secara instink dan naluri, harus saya lakukan. Misal, mengapa batik hanya digunakan untuk busana tradisional? Padahal, dengan sentuhan garis rancang dan kreatif lain, batik bisa untuk apa saja. Bila ini berjalan, pasti industri batik terus berjalan, jatidiri dan jatibangsa kita akan eksis melalui batik yang juga seni budaya.

Oleh karena itu, saya tergerak membuat corak batik sendiri. Inspirasi masih pada batik tradisional. Tapi, saya mencoba tampil lain.

Menjadi modern?

Ya, begitulah… kita mesti hati-hati dengan batasan modern. Namun bagaimana meng-up grade perasaan seseorang dan mengapresiasi orang yang mengenakan batik — agar merasa comfortable dan masakini. Bagaimana batik menjadi membanggakan dan tidak menjadi kuna, inilah yang harus dilakukan.

Dan, Anda berhasil?

Begini, saya selalu mencari respons mereka yang menggunakan batik karya saya. Mereka bilang, “Aku senang batik karyamu karena memiliki corak sendiri”. Artinya, konsumen batik membutuhkan eksklusivitas.

Di usia yang tak lagi bisa dibilang muda, Iwan Tirta (lahir 1935) nampak tak surut semangat dan energi untuk terus mengembangkan dan melestarikan batik berikut kain tradisional Indonesia yang lebih suka disebutnya sebagai ‘kain Nusantara’. Dia juga melakukan penggalian terhadap jenis dan ragam perhiasan tradisional dari seluruh Nusantara. Cinta dan baktinya pada seni tradisional selain batik, yakni seni tari Bedaya Ketawang mendapat anugerah gelar nama bangsawan dari Mangkunegoro VIII, yakni: Kanjeng Raden Haryo Hamijoyo.

Apa yang menyebabkan batik bisa bertahan melampaui waktu?

Ya, karena yang terlibat dalam penciptaan batik selalu bersedia dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman — tanpa kehilangan prinsip-prinsip dasar tentang batik itu sendiri.

Jadi, batik bisa mengadaptasi teknologi?

Menurut saya, justru: harus bisa. Teknologi-lah yang akan membuat kita selamat dan tidak punah. Maksud saya begini, dari sisi teknologi orang boleh mengatakan tidak ada terobosan setelah penciptaan teknik cap. Tetapi para pembela batik akan mengatakan batik sesungguhnya selalu melibatkan teknik. Setidaknya, teknik untuk menahan warna dengan lilin malam. Artinya, batik yang sesungguhnya dibuat melalui proses menahan warna memakai malam dengan alat canting dan cap. Kecuali bila ada alat lain yang mampu membubuhkan malam untuk membentuk motif.

Bagaimana dengan sentuhan hand made?

Sentuhan hand made tetap memberi nilai khusus pada batik. Sebab sentuhan artisan batik dalam sehelai kain, akan memberi sebuah rasa kedekatan antarmanusia.

Cara mengamati adaptasi dan perubahan batik terhadap perubahan zaman?

Kita bisa melihat motif dan warna. Batik adalah juga catatan panjang perjalanan negeri ini. Kita lihat ada motif jlamprang yang mengadaptasi kain cinde asal India, burung hong dari Cina, basurek yang bermotif kaligrafi, motif buketan dari Eropa-Belanda. Ada lagi hokokai berupa seruni dan kupu-kupu ketika Jepang menginvasi Indonesia.

Motif lainnya?

Nah….., kita masih ingat ‘kan ada batik Golkar (ha, ha, ha…). Eh, kemudian tambah lagi. Ada Batik Gus Dur dan Batik SBY, (ha .., ha, ha..)

Iwan Tirta tergelak-gelak menutup perbincangan ini. Panitia penyerahan anugerah ‘Indonesia Fashion Icon’ mengajak masuk ruang perhelatan. Sebuah trofi berlapis emas 24 karat menantinya. Kerja keras Iwan, memang layak mendapat penghargaan emas dan predikat icon fashion Indonesia).

Nama : Nusjirwan Tirtaamidjaja (Iwan Tirta)

alias Kanjeng Raden Haryo Hamijoyo, gelar dari Mangkunegoro VIII.

Tempat tgl lahir : Blora, 18 April 1935

Orangtua : Mr Mohammad Husein Tirtaamidjaja dan ibu asal Batusangkar

Sumatera.

Sekolah : Fakultas Hukum UI, lulus 1958;

School of Economic and School of Oriental and African Studies,

London, lulus 1961.

Yale Universiy, Amerika Serikat, lulus 1965.

Beberapa karya buku : -Batik, Pola dan Corak;

-Batik, the Magic Cloth;

-The Batik.

-Batik Fabled Cloth of Java.

-A Bedaya Ketawang Dance Performance at The Court of Surakarta.

Sumber : (Esti Susilarti)-k Kedaulatan Rakyat

Perajin Batik Pekalongan Tunda Pengiriman Barang ke Yogyakarta

June 2nd, 2006

Kalangan perajin batik Pekalongan terpaksa harus mengurangi pengiriman batik ke Yogyakarta dan Kota Klaten menyusul terjadinya bencana gempa bumi tektonik yang melanda daerah itu belum lama ini.

Beberapa perajin/pengusaha batik Pekalongan, Jumat, menyatakan, sejak terjadinya gempa bumi pengiriman batik dari daerah ini ke Kota Klaten dan Yogyakarta mengalami penurunan hingga 60 persen.

Oemar Said Hadi salah seorang pengusaha batik Pekalongan mengatakan, akibat bencana gempa di Yogakarta, pihaknya terpaksa menunda pengiriman 300 potong pakaian batik senilai Rp100 juta. “Untuk sementara, kami harus mengurangi pengiriman batik ke dua daerah itu karena animo masyarakat untuk membeli kain sutra cenderung turun tajam,” katanya. Read the rest of this entry »

Sentra Industri Rakyat Rusak

May 31st, 2006

1.800 Petani Bawang di Kabupaten Bantul Terancam Gagal Tanam

Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Daerah Istimewa Yogyakarta mengidentifikasi sejumlah sentra industri rakyat DIY rusak parah. Kerusakan paling parah dialami oleh pusat kerajinan gerabah di Kasongan, Pundong, Manding, Kotagede. Seluruhnya dinyatakan rugi total.

Sementara itu sentra industri batik kayu di Krebet sama sekali tidak terkena kerusakan akibat gempa sehingga tetap bisa beroperasi seperti biasa.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi DIY Syahbenol Hasibuan mengusulkan agar pemulihan usaha kecil di Bantul dilakukan melalui pinjaman jangka panjang tanpa bunga untuk modal usaha mereka. Tanpa bantuan pemerintah, mereka hampir tidak bisa kembali membangun usaha kecil kerajinan yang sudah hancur itu.

Menurut Syahbenol, jika tidak segera tertolong, jumlah warga miskin dan menganggur akan semakin besar, karena sektor industri kerajinan itu umumnya menyerap tenaga kerja. Meski demikian, belum ada angka pasti mengenai jumlah dana yang dibutuhkan untuk pemulihan usaha kecil di Bantul tersebut. Untuk Kasongan, diperkirakan maksimal Rp 100 juta untuk rehab satu rumah dan Rp 100 juta untuk modal usaha pembuatan gerabah.

Selain Kasongan, delapan usaha pembuatan makanan geplak di Palbapang juga terhenti akibat bencana gempa. Puluhan industri rumah tangga kerajinan kulit di Manding juga terkena dampak bencana, meski tidak rusak total. “Mesin-mesinnya masih ada, tetapi industri di sini belum bisa beroperasi karena sebagian terkena runtuhan bangunan, dan para pekerja trauma karena sering terjadi gempa-gempa kecil,” kata Emi, pengelola industri kulit.

Akibat buruk lainnya dari gempa tersebut adalah sekitar 1.800 petani bawang merah di lima kecamatan di Kabupaten Bantul, DIY, terancam gagal tanam karena tidak mempunyai modal tanam, setelah harta benda mereka terenggut bencana itu. Secara bersamaan, ribuan perajin di sejumlah industri rakyat di Bantul yang hancur, sulit bangkit lagi tanpa bantuan pemerintah.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Edy Suharyanto menyatakan, sentra pertanian bawang merah ada di Kecamatan Pundong, Imogiri, Kretek, Sanden, dan Srandakan, dengan luas lahan mencapai 850 hektar. Pundong dan Imogiri termasuk paling parah terkena dampak bencana gempa. “Awal masa tanam bawang merah dimulai pertengahan Juni mendatang,” kata Edy.

Sumber : (BEN/RIS) Harian Kompas, Bantul

Pesona Metamorfosis Batik

May 28th, 2006

Di tangan para desainer, batik-batik itu tampil menawan.

Nama Komarudin Kudiya boleh jadi mulai terdengar ketika dia memecahkan rekor dengan membuat kain batik terpanjang. Komar, panggilan pria ini, adalah orang yang setia dengan cara mengolah batik sehingga tampil beda. Komar menyajikan batiknya dengan motif-motif unik seperti bentuk geometris yang berasal dari desain-desain islami dan motif bernuansa arab. ”Motif-motif ini juga bisa disesuaikan dengan teknik batik yang dikerjakan,” kata pemilik Rumah Batik Komar ini.

Ketika akhirnya Komar bertemu dengan para perancang busana Muslim, batik-batiknya pun hadir menawan dengan beraneka cutting, aplikasi, dan paduan kain.

Ketika berlangsung pergelaran busana di Butik Mumtaaz, Jakarta, belum lama ini, batik-batik Komar tampil indah lewat karya para desainer seperti Boyonz Ilyas, Kusuma Putri, dan Toera Imara.

Tentu saja, masing-masing desainer mencuatkan ciri khas tersendiri. Seperti Kusuma Putri yang menyedot perhatian dengan kebaya tunik berwarna terang yang berpadu dengan kain thai silk dan bordir di atasnya. Sedangkan Toera Imara mencuat dengan busana berwarna ungu dan kuning kunyit yang lengkap dengan aplikasi. Inilah metamorfosis selembar batik.

Sumber : (neh) Republika Online

Margaria Luncurkan Classy Kebaya Batik

May 26th, 2006

Persaingan Bisnis Makin Kompetitif

Sebagai akibat ketidakseimbangan antara kenaikan biaya ritel dan menurunnya daya beli masyarakat, ritel batik dan bisnis batik menunjukkan aktivitas yang stagnan. “Tren negatif ini dibaca oleh para pelaku usaha sektor ritel, termasuk pelaku bisnis batik,” kata Manajer Margaria Batik, Indah Widiarti kepada KR, Kamis (25/5).

Menurutnya, iklim bisnis batik sekarang ini semakin kompetitif, sehingga pelaku usa-ha pun harus melakukan berbagai terobosan untuk membidik pasar. Saat ini batik bukanlah barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh kalangan tertentu, namun sudah memasyarakat di semua lapis-an. Batik mudah dijumpai di mana-mana, mulai dari pasar tradisional, kawasan pertokoan hingga mall.

Mengantisipasi hal itu, Margaria Batik yang terdiri atas Butik Batik dan Wisma batik Margaria belum lama ini meluncurkan koleksi batik terbarunya yang bertajuk Classy Kebaya Batik. Koleksi ini sesuai dengan konsep butik yang sangat menjaga eksklusivitas produk. Classy Batik ini sengaja dibuat terbatas untuk setiap desainnya (limited edition) dengan bidikan pasar menengah ke atas. Koleksi ini tersedia dalam 5 model yang masing-masing merupakan modifikasi kreatif terbaru dari Butik Batik Margaria.

“Peluncuran koleksi terbaru ini merupakan upaya kami untuk tetap konsisten di dalam jalur bisnis batik yang saat ini iklimnya semakin kompetitif. Promo ini sekaligus sebagai konsekuensi penciptaan brand image Margaria Batik sebagai gerai batik terdepan di Yogya,” jelas Indah.

Ditambahkan, eksistensi dan optimisme Margaria Batik yang beralamatkan di Jl A Yani 65-69 Yogya selama ini tetap terjaga, sebab senantiasa bisa memenuhi tuntutan pasar melalui inovasi batiknya. Dengan demikian produk Margaria selama ini telah mendapat tempat di kalangan konsumen batik. Selain batik, produk lain yang juga memiliki pasar cukup tinggi adalah bahan kemeja sutra, sarung selendang sutra, bahan sarimbit dan bahan meteran untuk seragam.

Sumber : (M-5)-g Kedaulatan Rakyat, Yogya

Batik Tulis Tasik Kehilangan Generasi Penerus

May 22nd, 2006

Sayaka Sasaki, perempuan asal Jepang ini, tidak mampu lagi membendung keinginannya, untuk meperlajari batik tulis tradisional khas Tasikmalaya. Begitu ada kesempatan, ia terbang dari Jepang ke Indonesia lalu ke Tasikmalaya. Selama dua minggu, ia belajar bikin batik tulis kepada perajin batik tulis H. Dudung, daerah Cipedes, Kota Tasikmalaya.

Sayaka adalah satu dari sekian banyak orang asing yang tertarik dengan seni batik tradisional Tasikmalaya. “Selain Sayaka, ada juga dari Belanda, Swiss, dan Selandia Baru yang mempelajari batik tulis khas Tasikmalaya ini,” kata Dudung, ketika ditemui di kediamannya.

Namun ironisnya, ketika orang luar ramai-ramai belajar membuat batik tulis, justru di daerah Tasikmalaya sendiri, yang tertarik ke batik tulis hampir tak ada. Terutama, dari kalangan mudanya. Situasi ini, yang membuat para perajin batik, seperti Dudung, merasa gelisah. Ia khawatir, batik khas daerah ini, punah karena tak ada tenaga pembatik. “Tenaga pembatik yang ada, atau mereka yang biasa membuat batik tulis, saat ini sebagian besar atau 90 persen usianya sudah di atas 50 tahun. Kalau mereka pergi, jelas tak ada lagi generasi yang membuat batik,” katanya.

Dudung juga baru kehilangan pembatiknya, Ny. Icih dan Enok. Mereka ini adalah pembatik yang telah lanjut usia. Tapi, penerusnya tidak ada lagi yang muncul.

Diakui juga oleh perajin batik Ecin Kuraisin, asal Sukaraja, Tasikmalaya. Mereka yang menekuni jadi pembatik, di daerahnya satu persatu pergi atau berhenti, karena sudah usia lanjut. Ia sendiri khawatir batik tulis khas Tasikmalaya, tinggal kenangan.

Di daerah Kota Tasikmalaya, sendiri sentra batik tulis yang sekarang tersisa, yaitu Kota Tasikmalaya berada di daerah Cipedes, Kec. Cipedes, lalu Ciroyom, Kelurahan Nagarasari, Kec. Cipedes. Sedangkan lainnya, di Sukaraja, masuk ke Kabupaten Tasikmalaya.

Sekarang ini, keluhan kekurangan tenaga pembatik, tidak saja terjadi di Cipedes dan Sukaraja, tapi sama juga dilontarkan oleh para pengrajin batik di daerah Ciroyom. Sudah lebih sepuluh tahun terakhir ini, jumlah pembatik tulis tradisional menyusut tajam di Ciroyom. Ada yang memang meninggal dunia, atau berhenti karena sudah tua. Sementara, dari mereka yang muda yang ditunggu-tunggu untuk menjadi tonggak penerus, tak juga datang.

“Memang seperti di tempat saya ada yang muncul dari yang muda. Tapi, jumlahnya hanya satu atau dua orang. Jumlahnya, tidak seimbang dengan yang meninggal atau berhenti,” kata H. Cacu Darsu, pengrajin batik tradisional Ciroyom.

Diakui oleh Dudung yang menjadi penerus Batik Esah, keengganan generasi muda menekuni batik, karena rumit serta harus punya rasa seni tinggi. Selain itu, mungkin karena generasi sekarang lebih suka masuk ke kantoran dengan gaji besar.

Sebenarnya ada juga pelajar yang mempelajari batik, namun jumlahnya kecil. Selain itu, begitu ke luar dari sekolah, mereka tetap saja mencari kerjaan di tempat lain.

Rendahnya generasi muda Tasik yang mau menekuni batik tulis tradisional, membuat kegundahan para pe ngrajin batik di Kota Santri Tasikmalaya. Apalagi sejalan dengan itu, jumlah mereka yang menekuni usaha batik tradisional, semakin hari terus berkurang.

Data di Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kota Tasikmalaya, di masa kejayaan batik, antara tahun 60-an hingga awal 80-an, tak kurang ada 450 pengrajin batik. Dari perajin sebanyak itu, mampu menyerap ribuan tenaga kerja.

Pemasarannya, tidak hanya di daerah Tasikmalaya, tapi juga sampai ke Sumatra, Kalimantan, Sulawesi hingga lainnya. Jumlah batik yang dipasarkan, cukup banyak.

Seperti Batik Esah, setiap minggunya puluhan kodi (satu kodi 20 lembar) batik yang dijual. Batiknya, kebanyakan samping dan sarung. Sedangkan di Ciroyom ada ribuan perajin batik, dengan kapasitas produksi cukup besar. Perajin batik Hj. Enok Sukaesih asal Ciroyom, waktu masa kejayaannya, bisa jual batik dalam jumlah sangat besar puluhan kodi dalam seminggunya.

Namun perjalanan waktu, usaha batik tradisional satu per satu gukung tikar. Hingga sekarang ini, yang tersisa pengusaha batik tradisional di Kota Tasikmalaya, diperkirakan 34 orang. Semua itu, tentu saja berdampak pada makin berkurangnya produksi batik tradisional atau yang lebih dikenal dengan batik tulis.

Apalagi kini sudah banyak usaha batik yang produksinya, ke printing atau cap. Bagi pengusaha pada produksi batik printing dan cap tak lepas dari masalah tenaga kerja, pasar dan daya beli masyarakat. Untuk bikin 1.000 potong batik printing hanya butuh waktu satu hari dengan tenaga kerja 20 orang. Sedangkan dengan batik tulis, untuk satu potong saja, rata-rata membutuhkan waktu lebih daari seminggu.

Diakui oleh Enok Sukaesih maupun Dudung, proses membuat batik tulis memakan waktu yang agak lama. Biasanya, prosesnya diawali mulai dari menggambar, lalu gambar itu dimasukkan ke kain jenis primisira. Istilah pembataik setelah membuat gambar, lalu bikin pola, selanjutnya memberi malam pada gambar memakai canting, diwarnai menggunakan kuas, ditembok atau warna yang sudah dioles, ditutup lilin untuk mencegah terkena warna lain, lalu dicelup (memberi warna dasar), hingga pelepasan malam memakai air mendidih (rorod).

“Sedikit rumit, dengan memakan waktu paling cepat seminggu. Tapi, ada juga yang sampai tiga bulan. Semakin tinggi tingkat kerumitannya, maka semakin mahal harga batiknya,” ujar Enok.

Harga batik tulis ini, dijual ke pasar rata-rata mulai dari Rp 200 ribu, hingga Rp 1,5 jt.

Sebagian besar, di daerah ini pembatik yang menjual sendiri atau hanya menunggu pembeli datang. Paling banter pasaran akan bagus saat musim pernikahan. Pada saat itu mereka biasanya mengerjakan pesanan batik, baik untuk digunakan pengantin maupun keluarga pengantin, para penjemput tamu sampai panitia.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya, Tantang Rustandi didampingi Kepala Bidang Perdagangan Gungun, mengemukakan, ada beberapa hal yang menyebabkan usaha batik mengalami kemorosotan. Pertama, karena perkembangan mode dan industri tekstil yang pesat, yang akhirnya banyak menyisihkan kain batik. Seperti, bisa dilihat sudah jarang orang menggunakan samping batik dalam kegiatan sehari-hari.

Faktor lain, karena semakin berkurangnya pembatik itu sendiri. Lalu, kenaikan harga produksi atau bahan baku batik, sedangkan pemasaran yang semakin sulit.

Lalu, masalah lain yaitu kurangnya inovasi dari perajin sendiri. Sehingga, terjadi monoton yang akhirnya, pasar mengalami kejenuhan dan promosi yang kurang.

Kini, dinas tengah berusaha untuk membangkitkan kembali usaha batik. Di antaranya, lewat program proyek pendanaan kompetiti (PPK) yang diterima Kota Tasikmalaya, dari Jabar.

Dari PPK ini, dikembangkan pelatihan masala desain produk, serta pengembangan motif batik. Lalu, pelatihan pemasaran dan cara ekspor. Dengan pelatihan ini, diharapkan inovasi dari perajin muncul, serta bisa mengikuti perkembangan atau selera pasar.

Untuk promosi, kini Pemkot Tasikmalaya, membuka rumah Tasik, yang digunakan untuk pemasaran bersama produk kerajinan Kota Tasikmalaya. Di dalamnya, yaitu sebagai berisi batik khas Tasikmalaya. Sehingga, dengan adanya Imah Tasik, yang akan mencari batik khas Tasikmalaya, tidak sulit mencari. “Lokasinya di Kawalu, Tasikmalaya. Nanti dilengkapi dengan jaringan internet untuk promosinya,” tambah Gungun.

Pengusaha batik tradisional Tasikmalaya, tidak ingin pamor batiknya merosot. Dalam hal ini, mereka seperti kata Dudung atau Cacu, pemerintah bisa membantu memasarkan secara langsung. Caranya, sebaiknya pemkot buat seragam pegawainya dari batik khas daerah ini. Cara itu, bukan hanya untuk menyerap pemasaran batik, tapi ikut mempromosikan.

Begitu juga seragam sekolah yang pakai batik, selama ini sering gunakan batik cirebonan atau pekalongan. Kini, minta untuk gunakan batik asli. Mereka siap untuk membuatnya.

Tentu semua tidak ingin batik tasikan yang bercirikan warna dasar merah, kuning, ungu, biru, hijau dan soga, hilang. Untuk itu,butuh komitmen bersama agar seni daerah ini, bisa hidup serta tumbuh hingga menjadi fondasi ekonomi masyarakatnya, sebagaimana dalam tiga dekade ke belakang.

Sumber : (undang sudrajat/”PR”)*** Pikiran Rakyat