Archive for the ‘YBI’ Category

Peragaan Busana Batik untuk Korban Gempa

Friday, July 28th, 2006

Dana yang terkumpul akan disumbangkan kepada para perajin batik yang terkena musibah gempa di Yogyakarta dan Jateng. Pergelaran ini juga untuk mencari dukungan bagi pembangunan museum batik Indonesia.

Yayasan Batik Indonesia menggelar peragaan busana batik untuk mengumpulkan dana amal bagi para perajin batik yang terkena gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, baru-baru ini. Acara yang berlangsung di salah satu hotel di Jakarta ini didominasi batik-batik rancangan Ramli.

Batik yang dimunculkan terdiri dari berbagai macam corak dan modifikasi. Batik dengan motif tradisional menjadi lebih menawan dengan tambahan payet yang mengkilap. Ada juga batik-batik pesisir dengan permainan warna yang lebih berani. Ditampilkan pula motif batik Cina-Belanda, yakni motif batik yang banyak dipengaruhi budaya kedua negara itu saat masa penjajahan dulu.

Selain peragaan busana batik, turut digelar pameran batik kuno dari berbagai daerah seperti Lasem dan Madura. Batik-batik tersebut dibuat pada tahun 1900-an atau lebih dari seabad silam. Selain untuk membantu para perajin batik yang terkena gempa, acara ini ditujukan untuk mencari dukungan bagi pembangunan museum batik Indonesia. Diharapkan dengan adanya museum, batik Indonesia dapat lestari.

Sumber : (BOG/Erik Nopriadin dan Julianus Kriswantoro) >Liputan 6

Ketika Pejabat Jadi Peragawan

Sunday, October 9th, 2005

Pejabat Jadi PeragawanSejumlah pejabat dan duta besar negara-negara sahabat ambil bagian dalam peragaan busana batik rancangan para desainer muda Indonesia. Mereka berlenggak-lenggok di atas catwalk layaknya para model. Kejadian langka itu berlangsung saat penutupan Gelar Batik Nusantara 2005 di Jakarta, Ahad (9/10) siang. Pameran sendiri ditutup Wakil Presiden Jusuf Kalla [baca: Puluhan Batik Nusantara Dipamerkan].

Peragaan busana berlangsung meriah dan istimewa. Mereka yang ambil bagian di antaranya mantan Menteri Pariwisata Joop Ave, Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Firman Gani dan Menteri Koperasi Ali Suryadarma.

Usai beraksi, sebagian besar dari mereka mengaku kesulitan memperagakan pakaian batik yang dikenakan. &quotAda rasa malu juga,” ungkap Kapolda Metro Jaya. Dia mengaku, lebih percaya diri menjadi polisi ketimbang peragawan.

Di sela-sela acara penutupan, Yayasan Batik Indonesia juga menyajikan proses pewarnaan batik yang dikerjakan sejumlah pembatik dari Solo, Jawa Tengah. Yayasan itu ingin menunjukkan kalau keberadaan batik sekarang telah menjadi salah satu kebanggaan budaya Indonesia.

Sumber : (ICH/Anastasia Putri dan Teopilus Sandy) Liputan6.com, Jakarta

Puluhan Batik Nusantara Dipamerkan

Sunday, October 9th, 2005

Ragam Batik NusantaraBerbagai batik ditampilkan dalam pameran bertajuk &quotGelar Batik Nusantara” yang berlangsung di Jakarta, Ahad (9/10). Tak hanya batik modern, batik kuno buatan 1926 pun digelar. Salah satunya kain-kain batik Lasem Pekalongan dengan motif yang dipengaruhi ornamen stilir khas Eropa berupa bunga dan burung berwarna tanah dan keemasan.

Sementara koleksi kuno lainnya adalah pesona aristokrat dalam motif dodotan dari Kerajaan Surakarta pada zaman Sultan Paku Buwono X. Koleksi yang sudah berumur puluhan tahun ini bernilai hingga Rp 50 juta.

Koleksi batik yang tampil dalam ajang ini berasal dari berbagai daerah. Kain batik dari Riau misalnya, terkesan mewah karena berbahan sutra dan didominasi warna-warna cerah. Sementara batik Gorontalo justru mengedepankan kelembutan warna-warna tanah dipadu keindahan sutra tenun.

Batik Aceh juga tak kalah indahnya, meski lebih memilih warna-warna gelap seperti hitam dan cokelat tanah. Batik ini banyak digemari karena bernuansa etnis berupa ornamen asli Serambi Mekah dan bunga pucuk rubung.

Sumber : (TOZ/Widiyaningsih dan Budi Sukma) Liputan6.com, Jakarta

Ibu Negara Membuka Gelar Batik Nusantara

Friday, October 7th, 2005

Gelar Batik NusantaraIbu Negara Ani Yudhoyono membuka pameran Gelar Batik Nusantara yang berlangsung di Jakarta Convention Centre, Senayan, Kamis (6/10). Dalam sambutannya, Ani berharap acara ini dapat mendorong kreativitas para pengrajin batik dan lebih memasyarakatkan penggunaan batik untuk berbagai keperluan.

Ani juga memberi penghargaan Tria Pusaka pada Iwan Tirta sebagai pengusaha batik yang berjasa memasyarakatkan batik di dalam dan luar negeri. Diberikan pula santunan kepada lima pembatik dari Madura, Cirebon, dan Jawa Tengah yang mendedikasikan 50 tahun hidupnya untuk membatik.

Pameran kali ini diikuti 325 pengusaha batik skala kecil dan menengah. Mereka memamerkan dan menjual batik dengan berbagai motif, jenis, dan khas daerah masing-masing. Selain batik modern, dipamerkan pula batik-batik kuno dengan harga mencapai Rp 50 juta. Sementara batik modern dijual dengan kisaran harga Rp 200 ribu hingga Rp 1 juta per lembar.

Sumber : (ORS/Widiyaningsih dan Budi Sukmadianto) Liputan6.com, Jakarta

Gedung Sate Dibalut Kain Batik Terpanjang Sedunia

Sunday, August 7th, 2005

Batik terpanjangAda pemandangan menarik di Gedung Sate di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (6/8) pagi. Bentangan kain batik sepanjang 446,6 meter membalut pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat tersebut. Tak hanya panjang, kain batik ini mempunyai 407 motif dan 112 warna.

Kain batik tanpa sambungan yang melingkari gedung peninggalan pemerintah Kolonial Hindia Belanda ini digarap oleh 45 perajin asal Cirebon, Jawa Barat. Uniknya, corak kain batik ini memiliki motif yang diilhami oleh nuansa budaya 32 provinsi yang ada di Indonesia. Mulai dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Papua.

Menurut Komarudin Kudiya, koordinator perajin batik asal Cirebon, pembuatan kain batik ini memakan waktu satu setengah tahun. Pemimpin Perusahaan Batik Komar ini mengungkapkan, kain batik ini dibikin dengan menggunakan mesin tenun serta memakan biaya produksi sebesar Rp 265 juta.

Tak sia-sia memang. Upaya keras mereka akhirnya memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia–sekarang Museum Rekor Dunia Indonesia–sebagai batik terpanjang di Tanah Air. Prestasi ini mengalahkan rekor batik sepanjang 130 meter yang dibukukan di Cirebon, 5 Oktober 2003.

Pada Oktober mendatang, batik sepanjang 446,6 meter ini akan diboyong ke Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat. Di sanalah, jerih payah para perajin batik Cirebon itu bakal mendapatkan sertifikasi Guinness Book World of Records sebagai batik terpanjang di dunia. Suatu rekor yang membanggakan memang.

Sumber : (ANS/Patria Hidayat dan Taufik Hidayat) Liputan6.com, Bandung

Kain Batik Terpanjang di Bandung Tercatat dalam MURI

Saturday, August 6th, 2005

Kain batik terpanjang di dunia yang dipasang mengelilingi Kompleks Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Bandung, Sabtu tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) dan “Guinness World Record”.

Kain tersebut memiliki panjang 441,38 meter, lebar 115 centimeter, serta memiliki 407 motif batik yang berasal dari seluruh Indonesia.

Dalam acara pemasangan kain batik terpanjang tersebut cukup banyak mengundang warga Kota Bandung, karena mereka merasa penasaran dengan proyek spektakuler karena mengelilingi seluruh bangunan kompleks pusat perkantoran Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Pimpinan Proyek acara tersebut, Komarudin Kudiya, menyebutkan bahwa pembuatan batik terpanjang tersebut, tidak terlepas dari adanya keinginan untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia merupakan pecipta batik.

Bahkan, batik Indonesia telah lama dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan berikutnya, serta kain batik digunakan baik untuk religi maupun adati.

Sebelumnya, ia menyebutkan, dari ke-407 motif tersebut berasal, antara lain, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sebanyak 12 motif, Medan 10 motif, Sumatera Barat sembilan motif, dan Sumatera Selatan 11 motif serta yang terbanyak Jawa Barat dengan 125 motif.

Sedangkan, tema batik dari Kalimantan sendiri berupa Rumah Adat, sedangkan di Lampung berjudul “Bungo Putih Cindai”.

“Nantinya batik terpanjang tersebut akan dibawa ke Jakarta untuk dihadirkan dalam Pameran Gelar Batik Nasional dari tanggal 6 Oktober-9 Oktober 2005, serta akan disimpan pula dalam museum batik,” katanya.

Ia menambahkan, biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan batik terpanjang tersebut, mencapai Rp500 miliar.

Sementara itu, perwakilan “Guinness World Record” yang diwakili Direktur “British Council”, Prof Mike Hardy, mengatakan bahwa kendati pihak “Guinnes World Record” tidak melihat langsung pemasangan kain batik terpanjang tersebut, namun sejak bulan Maret 2005 lalu telah mengakuinya dengan memberikan nomor 134666.

“Saya mendukung industri batik yang dibangun di Jabar dan dengan adanya Batik ini semoga bisa menambah perekonomian bagi industri kecil nanti,” katanya.

Ia berjanji, pihaknya akan lebih memperkenalkan kain batik tersebut karena memiliki nilai seni yang cukup tinggi.

“Mudah-mudahan dengan batik terpanjang ini merupakan langkah awal untuk meningkatkan batik Jabar,” demikian Mike Hardy. (*)

Sumber : >LKBN Antara

Minat Terhadap Batik Tulis Menurun

Saturday, September 18th, 2004

Pengrajin BatikPerkembangan seni membatik dari tahun ke tahun terus meningkat. Hal ini bisa dilihat dari makin beragamnya motif-motif baru batik yang bermunculan. Kendati demikian, Ketua Yayasan Batik Indonesia Pusat Yustin Ginanjar Kartasasmita, melihat ada indikasi penurunan minat generasi muda untuk menekuni seni membatik khususnya batik tulis. Demikian diungkapkan Yustin saat mengunjungi perajin batik tulis di Cirebon, Jawa Barat, baru-baru ini.

Yustin menambahkan, penurunan konsumen batik bisa dipahami. Pasalnya generasi muda saat ini lebih tertarik pada busana dari bahan katun atau jin. Hal ini secara tidak langsung mengurangi jumlah konsumen batik itu sendiri. Padahal untuk membuat selembar batik tulis diperlukan waktu yang relatif lama dan biaya yang cukup mahal.

Perlu diketahui, penghasil batik tulis Indonesia, salah satunya adalah Desa Trusmi, Kecamatan Weru, Cirebon. Profesi perajin batik tulis merupakan mata pencaharian sebagian besar masyarakat di Trusmi. Motif batik tulis perajin sangat bervariatif di antaranya motif pesisiran dan keratonan. Namun, keterbatasan modal menjadi kendala besar untuk mengembangkan usaha yang berbasis pada budaya itu [baca: Pengusaha Batik Cirebon Terbentur Modal].

Yustin juga menuturkan perkembangan batik di Indonesia juga menghadapi persoalan penjiplakan motif asli oleh negara lain. Namun untuk menghadapi persoalan ini bukanlah hal yang mudah. Soalnya, untuk mematenkan sebuah motif batik cukup sulit, karena karya cipta yang dihasilkan oleh seseorang tidak akan memiliki kesamaan meskipun dilatarbelakangi dengan motif yang sama.

Sumber : (JUM/Ridwan Pamungkas) Liputan6.com, Cirebon

Batik Indonesia Sulit Dipatenkan, Banyak Dijiplak

Wednesday, September 15th, 2004

Kekayaan intelektual bangsa Indonesia berupa motif-motif batik tradisional, yang ribuan macamnya, belakangan ini banyak dijiplak atau ditiru oleh para perajin dari negara-negara lain demi kepetingan ekonomi.

Pihak Yayasan Batik Indonesia (YBI) Pusat menengarai adanya kondisi itu. Namun, Ketua YBI Pusat, Yustin Ginandjar Kartasasmita, yang ditemui para wartawan di Sentra Batik Trusmi, Cirebon, Rabu (15/9), mengatakan bahwa pihaknya mengalami kesulitan dalam mengupayakan proteksi dengan mematenkan motif-motif batik milik berbagai daerah di Indonesia itu.

Kata Yustin lagi, kesulitan itu timbul karena batik yang satu tidak sama dengan batik yang lain, meskipun berlatar motif yang sama. Maklum, setiap perajin memiliki goresan atau sapuan yang berbeda dalam membuat batik.

“Batik dan motif batik di dalamnya sulit dipatenkan, meskipun terjadi banyak penjiplakan terhadap motif itu,” ujar Yustin usai meninjau gelaran batik terpanjang di dunia milik perajin batik H Komaruddin Kudiya di Trusmi.

Diakuinya, selama ini motif batik khas Indonesia diambil lalu dimodifikasi oleh para perajin batik dari luar negeri seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, India, dan Afrika. “Hanya saja, kalau dilihat secara seksama dari segi pengerjaannya, batik-batik itu belum tentu memiliki kesamaan,” tambahnya.

Menurut Yustin, dari segi motif, sepintas bisa saja terlihat batik-batik itu memiliki kesamaan. Namun, dari sisi pengerjaan, tidak mudah diperoleh kesamaan, karena batik-batik tersebut tidak dikerjakan secara massal atau pabrikan. “Dalam proses pembuatannya dibutuhkan keahlian tersendiri, sehingga untuk satu motif saja belum tentu akan jadi sama,” sambungnya.

Menurut pemantauan Yustin, di Indonesia baru Kabupaten Indramayu yang mematenkan motif-motif batik khasnya.

Ia juga mengungkapkan adanya indikasi penurunan dalam produksi batik. Hal itu disebabkan oleh kurangnya peminat, terutama dari kalangan remaja yang lebih memilih busana dari katun dan denim.

Walaupun demikian, katanya, YBI terus berupaya untuk menarik minat masyarakat Indonesia dengan memproduksi batik dengan motif-motif yang disukai oleh kalangan remaja.

Sementara itu, perajin batik H Komaruddin Kudiya mengakui, banyak penjiplakan motif batik oleh para perajin dari negara-negara tetangga. Sehubungan dengan itu, menurut Komaruddin, mematenkan motif-motif batik merupakan hal yang harus segera dilakukan.

Ia berpendapat pula, usaha untuk mematenkan motif-motif batik merupakan keseriusan pemerintah daerah dalam rangka memberi proteksi bagi karya cipta masyarakat, khususnya para perajin batik lokal.

Selain itu, pematenan merupakan bentuk proteksi untuk kekayaan dan ciri khas daerah. “Contohnya, motif mega mendung merupakan motif khas Kabupaten Cirebon. Bila tidak dipatenkan, tidak tertutup kemungkinan motif tersebut akan dijiplak oleh perajin dari luar Cirebon,” ujarnya.

Komaruddin juga menerangkan, langkah untuk menggelar batik sepanjang 400 meter dengan berbagai motif dari Nusantara ditujukan untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa Indonesia kaya akan tradisi, khususnya tradisi membatik.

Sumber : (Ant/Ati) KCM, Cirebon