Archive for the ‘Serba Serbi’ Category

Sentra Industri Rakyat Rusak

Wednesday, May 31st, 2006

1.800 Petani Bawang di Kabupaten Bantul Terancam Gagal Tanam

Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Daerah Istimewa Yogyakarta mengidentifikasi sejumlah sentra industri rakyat DIY rusak parah. Kerusakan paling parah dialami oleh pusat kerajinan gerabah di Kasongan, Pundong, Manding, Kotagede. Seluruhnya dinyatakan rugi total.

Sementara itu sentra industri batik kayu di Krebet sama sekali tidak terkena kerusakan akibat gempa sehingga tetap bisa beroperasi seperti biasa.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi DIY Syahbenol Hasibuan mengusulkan agar pemulihan usaha kecil di Bantul dilakukan melalui pinjaman jangka panjang tanpa bunga untuk modal usaha mereka. Tanpa bantuan pemerintah, mereka hampir tidak bisa kembali membangun usaha kecil kerajinan yang sudah hancur itu.

Menurut Syahbenol, jika tidak segera tertolong, jumlah warga miskin dan menganggur akan semakin besar, karena sektor industri kerajinan itu umumnya menyerap tenaga kerja. Meski demikian, belum ada angka pasti mengenai jumlah dana yang dibutuhkan untuk pemulihan usaha kecil di Bantul tersebut. Untuk Kasongan, diperkirakan maksimal Rp 100 juta untuk rehab satu rumah dan Rp 100 juta untuk modal usaha pembuatan gerabah.

Selain Kasongan, delapan usaha pembuatan makanan geplak di Palbapang juga terhenti akibat bencana gempa. Puluhan industri rumah tangga kerajinan kulit di Manding juga terkena dampak bencana, meski tidak rusak total. “Mesin-mesinnya masih ada, tetapi industri di sini belum bisa beroperasi karena sebagian terkena runtuhan bangunan, dan para pekerja trauma karena sering terjadi gempa-gempa kecil,” kata Emi, pengelola industri kulit.

Akibat buruk lainnya dari gempa tersebut adalah sekitar 1.800 petani bawang merah di lima kecamatan di Kabupaten Bantul, DIY, terancam gagal tanam karena tidak mempunyai modal tanam, setelah harta benda mereka terenggut bencana itu. Secara bersamaan, ribuan perajin di sejumlah industri rakyat di Bantul yang hancur, sulit bangkit lagi tanpa bantuan pemerintah.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Edy Suharyanto menyatakan, sentra pertanian bawang merah ada di Kecamatan Pundong, Imogiri, Kretek, Sanden, dan Srandakan, dengan luas lahan mencapai 850 hektar. Pundong dan Imogiri termasuk paling parah terkena dampak bencana gempa. “Awal masa tanam bawang merah dimulai pertengahan Juni mendatang,” kata Edy.

Sumber : (BEN/RIS) Harian Kompas, Bantul

Batik Tulis Tasik Kehilangan Generasi Penerus

Monday, May 22nd, 2006

Sayaka Sasaki, perempuan asal Jepang ini, tidak mampu lagi membendung keinginannya, untuk meperlajari batik tulis tradisional khas Tasikmalaya. Begitu ada kesempatan, ia terbang dari Jepang ke Indonesia lalu ke Tasikmalaya. Selama dua minggu, ia belajar bikin batik tulis kepada perajin batik tulis H. Dudung, daerah Cipedes, Kota Tasikmalaya.

Sayaka adalah satu dari sekian banyak orang asing yang tertarik dengan seni batik tradisional Tasikmalaya. “Selain Sayaka, ada juga dari Belanda, Swiss, dan Selandia Baru yang mempelajari batik tulis khas Tasikmalaya ini,” kata Dudung, ketika ditemui di kediamannya.

Namun ironisnya, ketika orang luar ramai-ramai belajar membuat batik tulis, justru di daerah Tasikmalaya sendiri, yang tertarik ke batik tulis hampir tak ada. Terutama, dari kalangan mudanya. Situasi ini, yang membuat para perajin batik, seperti Dudung, merasa gelisah. Ia khawatir, batik khas daerah ini, punah karena tak ada tenaga pembatik. “Tenaga pembatik yang ada, atau mereka yang biasa membuat batik tulis, saat ini sebagian besar atau 90 persen usianya sudah di atas 50 tahun. Kalau mereka pergi, jelas tak ada lagi generasi yang membuat batik,” katanya.

Dudung juga baru kehilangan pembatiknya, Ny. Icih dan Enok. Mereka ini adalah pembatik yang telah lanjut usia. Tapi, penerusnya tidak ada lagi yang muncul.

Diakui juga oleh perajin batik Ecin Kuraisin, asal Sukaraja, Tasikmalaya. Mereka yang menekuni jadi pembatik, di daerahnya satu persatu pergi atau berhenti, karena sudah usia lanjut. Ia sendiri khawatir batik tulis khas Tasikmalaya, tinggal kenangan.

Di daerah Kota Tasikmalaya, sendiri sentra batik tulis yang sekarang tersisa, yaitu Kota Tasikmalaya berada di daerah Cipedes, Kec. Cipedes, lalu Ciroyom, Kelurahan Nagarasari, Kec. Cipedes. Sedangkan lainnya, di Sukaraja, masuk ke Kabupaten Tasikmalaya.

Sekarang ini, keluhan kekurangan tenaga pembatik, tidak saja terjadi di Cipedes dan Sukaraja, tapi sama juga dilontarkan oleh para pengrajin batik di daerah Ciroyom. Sudah lebih sepuluh tahun terakhir ini, jumlah pembatik tulis tradisional menyusut tajam di Ciroyom. Ada yang memang meninggal dunia, atau berhenti karena sudah tua. Sementara, dari mereka yang muda yang ditunggu-tunggu untuk menjadi tonggak penerus, tak juga datang.

“Memang seperti di tempat saya ada yang muncul dari yang muda. Tapi, jumlahnya hanya satu atau dua orang. Jumlahnya, tidak seimbang dengan yang meninggal atau berhenti,” kata H. Cacu Darsu, pengrajin batik tradisional Ciroyom.

Diakui oleh Dudung yang menjadi penerus Batik Esah, keengganan generasi muda menekuni batik, karena rumit serta harus punya rasa seni tinggi. Selain itu, mungkin karena generasi sekarang lebih suka masuk ke kantoran dengan gaji besar.

Sebenarnya ada juga pelajar yang mempelajari batik, namun jumlahnya kecil. Selain itu, begitu ke luar dari sekolah, mereka tetap saja mencari kerjaan di tempat lain.

Rendahnya generasi muda Tasik yang mau menekuni batik tulis tradisional, membuat kegundahan para pe ngrajin batik di Kota Santri Tasikmalaya. Apalagi sejalan dengan itu, jumlah mereka yang menekuni usaha batik tradisional, semakin hari terus berkurang.

Data di Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kota Tasikmalaya, di masa kejayaan batik, antara tahun 60-an hingga awal 80-an, tak kurang ada 450 pengrajin batik. Dari perajin sebanyak itu, mampu menyerap ribuan tenaga kerja.

Pemasarannya, tidak hanya di daerah Tasikmalaya, tapi juga sampai ke Sumatra, Kalimantan, Sulawesi hingga lainnya. Jumlah batik yang dipasarkan, cukup banyak.

Seperti Batik Esah, setiap minggunya puluhan kodi (satu kodi 20 lembar) batik yang dijual. Batiknya, kebanyakan samping dan sarung. Sedangkan di Ciroyom ada ribuan perajin batik, dengan kapasitas produksi cukup besar. Perajin batik Hj. Enok Sukaesih asal Ciroyom, waktu masa kejayaannya, bisa jual batik dalam jumlah sangat besar puluhan kodi dalam seminggunya.

Namun perjalanan waktu, usaha batik tradisional satu per satu gukung tikar. Hingga sekarang ini, yang tersisa pengusaha batik tradisional di Kota Tasikmalaya, diperkirakan 34 orang. Semua itu, tentu saja berdampak pada makin berkurangnya produksi batik tradisional atau yang lebih dikenal dengan batik tulis.

Apalagi kini sudah banyak usaha batik yang produksinya, ke printing atau cap. Bagi pengusaha pada produksi batik printing dan cap tak lepas dari masalah tenaga kerja, pasar dan daya beli masyarakat. Untuk bikin 1.000 potong batik printing hanya butuh waktu satu hari dengan tenaga kerja 20 orang. Sedangkan dengan batik tulis, untuk satu potong saja, rata-rata membutuhkan waktu lebih daari seminggu.

Diakui oleh Enok Sukaesih maupun Dudung, proses membuat batik tulis memakan waktu yang agak lama. Biasanya, prosesnya diawali mulai dari menggambar, lalu gambar itu dimasukkan ke kain jenis primisira. Istilah pembataik setelah membuat gambar, lalu bikin pola, selanjutnya memberi malam pada gambar memakai canting, diwarnai menggunakan kuas, ditembok atau warna yang sudah dioles, ditutup lilin untuk mencegah terkena warna lain, lalu dicelup (memberi warna dasar), hingga pelepasan malam memakai air mendidih (rorod).

“Sedikit rumit, dengan memakan waktu paling cepat seminggu. Tapi, ada juga yang sampai tiga bulan. Semakin tinggi tingkat kerumitannya, maka semakin mahal harga batiknya,” ujar Enok.

Harga batik tulis ini, dijual ke pasar rata-rata mulai dari Rp 200 ribu, hingga Rp 1,5 jt.

Sebagian besar, di daerah ini pembatik yang menjual sendiri atau hanya menunggu pembeli datang. Paling banter pasaran akan bagus saat musim pernikahan. Pada saat itu mereka biasanya mengerjakan pesanan batik, baik untuk digunakan pengantin maupun keluarga pengantin, para penjemput tamu sampai panitia.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya, Tantang Rustandi didampingi Kepala Bidang Perdagangan Gungun, mengemukakan, ada beberapa hal yang menyebabkan usaha batik mengalami kemorosotan. Pertama, karena perkembangan mode dan industri tekstil yang pesat, yang akhirnya banyak menyisihkan kain batik. Seperti, bisa dilihat sudah jarang orang menggunakan samping batik dalam kegiatan sehari-hari.

Faktor lain, karena semakin berkurangnya pembatik itu sendiri. Lalu, kenaikan harga produksi atau bahan baku batik, sedangkan pemasaran yang semakin sulit.

Lalu, masalah lain yaitu kurangnya inovasi dari perajin sendiri. Sehingga, terjadi monoton yang akhirnya, pasar mengalami kejenuhan dan promosi yang kurang.

Kini, dinas tengah berusaha untuk membangkitkan kembali usaha batik. Di antaranya, lewat program proyek pendanaan kompetiti (PPK) yang diterima Kota Tasikmalaya, dari Jabar.

Dari PPK ini, dikembangkan pelatihan masala desain produk, serta pengembangan motif batik. Lalu, pelatihan pemasaran dan cara ekspor. Dengan pelatihan ini, diharapkan inovasi dari perajin muncul, serta bisa mengikuti perkembangan atau selera pasar.

Untuk promosi, kini Pemkot Tasikmalaya, membuka rumah Tasik, yang digunakan untuk pemasaran bersama produk kerajinan Kota Tasikmalaya. Di dalamnya, yaitu sebagai berisi batik khas Tasikmalaya. Sehingga, dengan adanya Imah Tasik, yang akan mencari batik khas Tasikmalaya, tidak sulit mencari. “Lokasinya di Kawalu, Tasikmalaya. Nanti dilengkapi dengan jaringan internet untuk promosinya,” tambah Gungun.

Pengusaha batik tradisional Tasikmalaya, tidak ingin pamor batiknya merosot. Dalam hal ini, mereka seperti kata Dudung atau Cacu, pemerintah bisa membantu memasarkan secara langsung. Caranya, sebaiknya pemkot buat seragam pegawainya dari batik khas daerah ini. Cara itu, bukan hanya untuk menyerap pemasaran batik, tapi ikut mempromosikan.

Begitu juga seragam sekolah yang pakai batik, selama ini sering gunakan batik cirebonan atau pekalongan. Kini, minta untuk gunakan batik asli. Mereka siap untuk membuatnya.

Tentu semua tidak ingin batik tasikan yang bercirikan warna dasar merah, kuning, ungu, biru, hijau dan soga, hilang. Untuk itu,butuh komitmen bersama agar seni daerah ini, bisa hidup serta tumbuh hingga menjadi fondasi ekonomi masyarakatnya, sebagaimana dalam tiga dekade ke belakang.

Sumber : (undang sudrajat/”PR”)*** Pikiran Rakyat

Batik, Hippies dan Bakso

Tuesday, May 16th, 2006

Dear Zev,

Hari Senin biasanya merupakan hari yang tidak disukai oleh kebanyakkan orang, sampai-sampai lagunya pun” tell me why I don’t like monday..” Tapi kalau saya kebalikannya, saya sangat suka dengan hari Senin, karena setiap hari senin “toko kelontong” saya tutup ! Jadi bisa santai sejenak sambil seperti biasa ngopi di depan kolom Koki yang semakin “aduhai”…

Saat ini saya lagi dalam periode”kewalahan” ngumpulin artikel-artikel untuk mewujudkan buku kedua tentang kebudayaan tradisional suku pedalaman di Pulau Kalimantan ditambah lagi pekerjaan baru dari salah satu instansi kebudayaan di Swiss untuk mengkatalogisasi objek ritual dari salah satu pulau di Indonesia, jadi sekarang situasi saya seperti tenggelam ditumpukkan kertas-kertas dan buku-buku, rumah sayapun menjadi seperti kapal pecah keberatan kertas…

Mumpung lagi seru “ngebutin” artikel budaya Indonesia, -walaupun juga nggak nyambung sama artikel yang sedang saya “geluti” saat ini- saya ingin menambah informasi tentang artikel hari ini di Koki senin 8 Mai 2006, “Afrika, Batik dan juru bicara, -Edwin ST di Stockholm”.

Soal Batik selalu menjadi “masalah klasik” dalam kehidupan saya sebagai seorang Indonesia di Eropa, dari Paris, Zurich sampai Milan, kepopuleran Batik lebih ditemukan dalam Batik Afrika daripada Batik Jawa. Pada saat era tahun 1980 an dimana lukisan Batik dari Bali dan Jogja mem -booming-, kerancuan akan batik Indonesia dan batik Afrika di Eropa pun mengental.

Saat musim panas saya selalu mengenakan kebaya komplit dengan sarung jawa, dan selalu ada saja yang menanyakan kain yang saya kenakan. Jadi saat saya sedang menerangkan kain batik Jawa ke pengunjung, pasti ada saja yang bilang “oh batik, iya saya tahu, dari Afrika toh?” Masih mending dia nggak bilang kalau kata itu juga dari Afrika. Kebanyakkan yang tahu dan respek bahwa kain batik itu dari tanah Jawa adalah orang-orang Belanda dan Jerman yang sudah berumur diatas 40 tahun. Bahkan ada yang bisa mengenali kalau kain tersebut mempunyai motif “truntum”, “kawung”, “sawit”, dll.

Batik itu sendiri merupakan kesenian yang temasuk dalam kategori antik. Sudah dari sejak jaman baheula, 2000 tahun yang lalu, manusia menemukan teknik membatik. Berbagai catatan dan teori tentang asal usul batik dikemukakan, dari ditemukannya kain batik di daratan Afrika (Mesir) pada tahun 500 sampai dengan salah satu catatan yang menyatakan bahwa teknik batik berasal dari daratan Cina dimana pada periode Dinasti Qin, 221-207 BC, masyarakat cina sudah memiliki kain berlukis dengan teknik
batik yang bernama atau .

Nun jauh dari Mesir dan Cina, batik pun berkembang ke pelosok sudut hingga mencapai puncaknya di pulau Jawa, Indonesia. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta. Jadi kesenian batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Sebutan batik pun datang dari orang Jawa yakni , yang maknanya menggambar, yaitu menitik, jadi batik merupakan gambaran indah yang terbuat dari titik-titik dengan menitik menggunakan canting. Yang mana kini nama sudah mengglobalisasi ke seluruh bahasa.

Pakaian batik dahulu di pulau Jawa adalah kain resmi dari kalangan ningrat/bangsawan. Dimana para petani perempuan menenun kain, istri-istri para ningrat/bangsawan Jawa mengerjakan batik. Mereka mempunyai waktu luang, kesabaran, dan memiliki tangan lembut yang dibutuhkan dalam pengerjaan batik. Dari Solo dan Yogyakarta, dengan arus perdagangan dan pelayaran, batik merambah ke pesisir selatan sampai ke peisir utara hingga ke Pulau Sumatra dan Malaysia. Setelah batik meluas dan berkembang di Indonesia, maka batik pun mulai “melongok” ke benua Eropa. Seorang kapten Inggris, John Saris menulis tentang saat pertama kali kain batik Jawa “bertandang” ke benua Eropa pada tahun 1613 dengan “Woven Cargoes”-Eighth Voyage of the English East India Company, in 1611, The First Voyage of the English to Japan, Toyo Bunka, Tokyo, 1941.

Jadi batik sudah memasuki Eropa sebelum tahun 1960, sebelum masa lahir. Akhir tahun 1950 dan awal tahun 1960 merupakan era dimana kata sediri merupakan derivasi dari yang digunakan pada masa - sekumpulan orang/pemuda-pemudi yang anti materialistik-, yang akhirnya menyimpang menjadi sekumpulan orang-orang yang menganut paham kebebasan tanpa batas dan “terbang” dengan obat-obatan dan minuman keras. Kata sendiri dipopulerkan oleh kolumnis Herb Caen, San Francisco Chronicle dan pada tahun 1966 Gubernur Ronald Reagan menggambarkan bahwa seorang hippie adalah orang yang berpakaian seperti Tarzan, mempunyai rambut awut-awutan seperti Jane dan bau seperti cheetah! Nah “orang yang berpakaian seperti Tarzan” ini -kata Reagan loh!- menyumbangkan distribusi yang cukup besar dalam dunia pertekstilan dan mode. Style yang dipopulerkan pada era “flower power” adalah celana panjang dibawah perut dengan potongan melebar di kaki, kemeja “kampung”-maksudnya tambal-tambalan-, tunik berbordir, rok khas “ala petani perempuan ” buatan esainerJessie McClintock Gunne, sandal desainer Anne Kalso, jaket model Moghul dan Nehru, dan sarung batik dan jumputan - Dr. Gary Moss, Hippie Culture Memorabilia, Journal Feature Article May 2002-

Kok bisa sampai ada batik dan jumputan? Ya karena para ini jalannya tidak hanya di Eropa dan Amerika saja, mereka melancong sampai Asia, mungkin juga sampai Bali, tetapi menurut pendapat saya pribadi bukanlah Bali yang mengenalkan batik ke mereka saat itu. Pada era tahun 1960 an, daerah Goa, di India Selatan sangatlah terkenal sebagai tempat hang out para hippie” di Asia, dimana sarung Batik dengan motif Magic mushrooms, circle, dan sarung teknik jumputan menjamur menjadi “trade mark seragam” bagi para hippies. Tak heran jika teman dari Edwin mengatakan bahwa Batik sama dengan Hippies, karena yang diketahui bukanlah Batik dengan motif , ataupun , tetapi sarung yang berwarna-warni yang menggunakan lilin dalam teknik pewarnaan, seperti teknik batik. Mudah-mudahan Edwin tidak bosan menerangkan tentang Batik dan Indonesia ke teman-teman dan lingkungannya. Saya bangga dengan anda yang mau menjadi juru bicara tentang Indonesia.

Memajukan Indonesia tidak hanya pulang ke Indonesia bawa uang atau sumbangan secara materi tetapi dengan nama baik dan keharuman bangsa akan “mengundang” kembali kepercayaan investor asing untuk invest di Indonesia yang mana bisa menambah lapangan pekerjaan buat rakyat Indonesia. Oh iya untuk tambahan bukan cuma kata yang ngetop di seluruh bahasa, ngomong-ngomong soal makanan, ngetop loh! Kita bisa menemukan dengan tulisan bahasa Indonesia -walaupun rasanya tidak sama dengan nasi goreng tek-tek si abang di Indonesia- di Supermarket (nasi goreng kemasan)sampai menu di salah satu klinik di Luzern, begitu juga dengan dan . Satu lagi mengenai kata , saya pernah ditanya apa benar kata asli dari Indonesia, saya menjawab kalau asal muasal bakso saya tidak tahu karena banyak negara-negara yang mempunyai bakso (meatball) dalam masakannya, seperti Albani ’Qofte të fërguara’, Brazil, ’almondegas’, Denmark ’frikadeller’, German ’Frikadellen’ (sebelah utara) atau ’Buletten’ (sebelah timur) atau ’Fleischpflanzerl atau Fleischküchle’ (sebelah selatan), Yunani ’keftedes’, Bulgari ’kyufte’, Italy ’polpette’, Norwegia ’kjøttkaker’, Swedia ’köttbullar’, Netherlands ’gehaktbal’, Turki ’köfte’, Romania ’chiftele dan pârjoale’.

Tapi saya tahu kalau kata asli dari Indonesia karena pada jaman dulunya entah tahun berapa merupakan singkatan dari soto yang ada dagingnya, dimana si abang bakso yang saat memanggul dagangannya yang berat harus teriak berulang-ulang yang akhirnya menjadi dan sekarang dikenal dengan BAKSO. Tok, tok, tok,bunyi ketukan kayu si abang bakso yang berteriak” so, bakso”, aduh enaknya makan bakso malam-malam begini, sayang tidak ada abang bakso yang lewat disini, aduh ngilernya aku jadi sama bakso. Zev, kamu kalau makan bakso, ingat-ingat aku ya, yang lagi mengkhayal dan menghitung waktu untuk pulang ke Indonesia lalu makan bakso tok tok yang lewat depan rumah! Para pembaca & penulis Koki, kangen nggak sama bakso…?

Sumber : (Arita-Swis) KCM, Kolom Kita

GKBI Luncurkan Tiga Situs Baru bagi UKM

Monday, May 15th, 2006

Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) meluncurkan tiga situs baru bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) agar produk ekspor mereka bisa lebih kompetitif dengan biaya lebih murah.

“Dengan ketiga situs baru dari GKBI, biaya usaha dan operasional UKM akan jauh lebih hemat dan bisa turun antara 30% hingga 50%,” kata Presdir GKBI Noorbasha Djunaid kepada pers saat meluncurkan tiga situs baru di Jakarta, Senin (15/5).

Ketiga situs GKBI itu, Web-Hosting Gratis @ 75MB bagi UKM yang ingin memiliki situs sendiri untuk business presence. Kedua portal E-Commerce agar dapat langsung melakukan transaksi secara on line dan realtime. Ketiga tersedia Forum interaktif bagi UKM untuk dapat berinteraktif dan berkolaborasi dalam berbagai topik yang dapat memajukan UKM. (more…)

1000 Pengusaha UKM Mendapat Situs Internet Gratis

Monday, May 15th, 2006

PT Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) Investment memberikan situs internet kepada 1.000 pengusaha usaha kecil menengah (UKM) secara gratis. Dengan cara ini UKM bisa memasarkan produknya secara online kepada konsumennya baik di dalam maupun luar negeri.

Presiden Direktur GKBI Investment Noorbasha Djunaid mengatakan dengan memiliki situs sendiri, para pengusaha UKM bisa menampilkan produknya, dengan berbagai keungulan dan keunikan yang dimiliki, termasuk harga yang diinginkan.

Sementara calon pembeli bisa melihat produk-produk UKM tersebut, dan bisa langsung melakukan transaksi melalui situs tersebut. Sedangkan pembayaran dapat dilakukan melalui kartu kredit. “Cara ini sangat efektif dan efisien,” kata Noorbasha. (more…)

Corak Batik Selera Kaum Muda

Sunday, May 14th, 2006

Terjun dalam usaha batik tulis dengan konsumen yang relatif terbatas mengharuskan “pemain” baru lebih jeli. Selain memiliki kekhasan dalam produk, sehingga dilirik konsumen, mereka juga mesti pandai-pandai membidik pangsa pasar yang terbatas itu.

Persyaratan seperti itulah yang dijadikan pedoman Putu Sulistiani Prabowo (48) ketika merintis usaha batik tulis di Surabaya. Sejak awal, corak dan warna batik buatannya tak sesuai “pakem” batik. Dia mengarahkan produknya sesuai selera kaum muda.

Meski diakuinya, jiwa orang muda yang cenderung menginginkan sesuatu yang baru menuntut kreativitas terus-menerus. Orang muda akan dengan cepat meninggalkan corak dan warna batik yang dirasakan stagnan.

“Supaya kaum muda tertarik memakai batik, saya harus menampilkan motif dan warna yang baru. Selain supaya berbeda dengan corak dan warna batik pada umumnya, juga agar tidak terkesan monoton dan kuno,” kata Sulis, nama panggilan perempuan yang membuka Galeri Batik Dewi Saraswati di Jalan Jemursari Utara, Surabaya, itu.

Dia ingin anak muda mau dan bangga memakai batik. Apalagi, menurut Sulis, beberapa kali dia memperhatikan anak muda di negeri tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, ternyata suka memakai batik. Padahal, dari sisi kualitas, termasuk corak dan warna, batik Indonesia justru lebih kaya. Sayang kalau kalangan muda tak tertarik memakainya.

“Alasan mereka sebenarnya sepele, pakai batik dianggap kurang mengikuti mode, tidak gaul. Padahal, batik cocok untuk semua kalangan dan usia,” kata Sulis yang konsumennya didominasi perempuan muda.

Keprihatinan yang dirasakannya itu mendorong Sulis menggeluti usaha batik tulis. Dia berusaha menciptakan motif dan warna batik yang bisa menarik kaum muda, seperti corak bunga kembang sepatu.

Dia juga memberi keleluasaan kepada konsumen untuk memilih corak sendiri, antara lain dengan menyediakan buku-buku tentang corak dan warna.

“Saya tidak takut membuat motif batik apa saja, demi agar batik tidak ditinggalkan konsumen,” cetusnya.

Jenuh menjadi karyawan

Terjun dalam usaha batik tulis dilakukan Sulis setelah ia bekerja selama 16 tahun pada perusahaan kosmetik. Dia berhenti menjadi karyawan karena merasa jenuh. Sulis lalu mengundurkan diri, dan melihat batik tulis sebagai peluang usaha.

Ibu dua anak ini lalu menimba ilmu membatik dari beberapa pembatik di Surabaya dan Yogyakarta. Kegemaran melukis sejak kecil membuatnya tak menemui kesulitan berarti dalam membatik. Dia juga mengikuti pelatihan pewarnaan kain batik dengan pewarna zat kimia maupun bahan organik.

Bahan alami yang dipakai untuk mewarnai batik tulis karyanya antara lain secang (warna merah dan oranye), jalawe menghasilkan warna kuning, indigo untuk warna biru, daun jati untuk warna merah kecoklatan, serta kulit kayu tegeran dan kayu mahoni untuk warna sogan—warna khas batik klasik yang umumnya cenderung gelap.

Dia juga bereksperimen untuk mencari warna alami baru. Berbagai jenis kulit pohon, daun, akar, biji, dan buah terus diburunya untuk mendapatkan warna kain batik yang tak monoton. Pasalnya, warna merupakan faktor utama pada kain batik. Perhatian orang kepada batik makin besar bila pewarnaan kain sempurna. Warna juga dapat memberi kesan anggun pada pemakai batik tulis.

“Saya membuat batik eksklusif yang coraknya bisa klasik tetapi diberi sentuhan modern, terutama pada warnanya. Ini agar kalangan muda tertarik pakai kain batik,” ujar Sulis yang selalu memadukan warna lembut dengan warna yang tengah tren sebagai upaya agar konsumen mudah mendapatkan padanan untuk kebaya maupun blusnya. Misalnya, memadukan kain batik dengan kebaya encim berlengan tiga perempat, blus bordir, bahkan blazer.

“Jadi, saya enggak hanya membuat kain batik, sarung, dan selendang, tetapi juga paduan untuk atasannya,” kata Sulis, alumnus Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya, yang tengah menggarap corak batik khas suroboyo berupa corak daun semanggi. Sebelumnya, dia membuat corak sapujagat. Motif tersebut menuntut kerja ekstra karena dalam satu kain terdapat delapan motif, dan proses pewarnaannya pun lebih rumit.

Untuk bahan baku batiknya, Sulis memilih antara lain sutra alat tenun bukan mesin, sutra bermotif, katun, serat kayu, dan serat pelepah pisang.

Untuk menghasilkan kain batik dengan corak yang selalu berubah-ubah, pembatik harus bekerja ekstra. Apalagi motif baru karya Sulis cenderung menuntut penggarapan yang bisa menyelaraskan berbagai motif seperti beras kutah, teripang, serta cecek.

“Ketiga corak ini membutuhkan proses pewarnaan yang berulang kali karena memiliki beberapa warna dalam satu kain,” ujar Sulis yang senang berburu barang-barang antik di Pekalongan, Semarang, dan Solo ini.

Untuk memudahkan konsumen, Sulis juga menyediakan produk paket. Dalam paket kain batik tulisnya sudah dipadankan sekaligus kain, selendang, sampai sandal dan dompet. Meski harga produk paket relatif mahal, namun termasuk digemari konsumen. Harga paket produk Sulis sekitar Rp 1,3 juta. Sedangkan harga kain batik sekitar Rp 450.000, untuk setelan sarung dan selendang dari Rp 650.000 sampai Rp 2 juta.

“Harga batik tulis memang mahal, karena pengerjaannya pun lama. Untuk satu lembar kain batik minimal tiga minggu. Semakin rumit motif dan jumlah warna yang dipakai, akan makin lama pembuatannya,” ujar Sulis yang dibantu 10 pekerja. Sementara untuk pembuatan sandal, dia punya mitra di Sidoarjo dan Surabaya.

Sumber : (Agnes Swetta Pandia) Harian Kompas

Membatik Kesetiaan Perempuan di Jarum, Bayat

Thursday, May 11th, 2006

Kesetiaan seorang istri warga Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Kebupaten Klaten kepada suami dan budaya ditunjukkan dengan menekuni kerajinan batik tulis. Hampir seluruh warga terutama para perempuan menekuni kerajinan batik tulis di atas kain maupun kayu. Dari ratusan bahkan lebih dari seribu warga perajin batik sekitar 20 di antaranya pengusaha.

“Desa Jarum itu gersang, sehingga warga yang laki-laki banyak yang keluar desa untuk mencari penghidupan bagi keluarganya. Sementara warga perempuan di rumah menekuni batik sebagai tanda kesetiaannya kepada suami yang mencari penghasilan dengan ‘mbara’ ke luar desa dan warisan nenek moyang yang diwariskan turun temurun,” ujar Ketua Paguyuban Batik Jarum Budi Susanto.

Sejak kenaikan harga BBM kerajinan batik ini sempat lesu, tetapi menurut pengusaha Nardho Batik Ny Budi Susanto ketika dihubungi KR, Rabu (10/5) sudah mulai menggeliat, ada beberapa pesanan dari Bali, walau untuk pengunjung seperti wisatawan masih sepi. Namun begitu banyak lembaga atau sekolah yang melakukan studi lapangan untuk menambah wawasan tentang batik.

Kondisi seperti itu tidak berbeda dengan usaha Purwanti, walau sepi tetap saja ada pesanan secara kecil-kecilan misalnya dari Yogya dan kota-kota lain. Setiap hari di rumahnya mempekerjakan sekitar 20 pembatik, di luar itu ratusan pembatik yang mengambil bahannya untuk dikerjakan di rumah masing-masing dan setiap lembar kain mendapat upah rata-rata Rp 2.500.

Pembatik yang bekerja di usaha Purwanti ini Sumiyem dan Painem mengaku, setiap hari bisa menyelesaikan 3 kain batik termasuk yang pengerjaan batik yang cukup rumit dan lama seperti motif ‘obat nyamuk’. Membatik bagi dua ibu dengan tiga anak ini sebagai kerja sambilan, sementara suami mereka mengembara ke Yogya, Boyolali, Semarang. Ada yang membuka warung angkringan, menarik becak dan ngojek.

Biasanya di Yogya para suami pembatik Jarum ini mangkal di Stasiun Lempunyangan. Belum tentu seminggu sekali pulang, sehingga dengan setia sambil menunggu suami di rumah membatik. “Saya mulai membatik sejak masih kecil, belajar dari orang tua dan anak-anak juga suah mengikuti jejak orang tuanya,” ujar Sumiyem maupun Painem, didampingi Daryati karyawan Purwanti.

Sumber : (Asp)-d Kedaulatan Rakyat, Klaten

Desain Asimetris untuk Kalangan Muda

Monday, May 8th, 2006

Batik Jangan Sampai Tak Punya Pamor di Negeri Sendiri

Sejumlah produsen dan toko batik di Yogyakarta mengaku tengah menggarap pasar batik untuk kaum muda secara lebih serius. Selain pasar yang memang potensial, ada keinginan agar batik mempunyai generasi penerus dan tidak dilupakan. Jangan sampai batik tidak punya pamor di negeri sendiri.

Indah Widiarti, Manager Batik Margaria Grup, menyatakan, pasar bagi kaum muda digarap secara serius di tengah optimisme bahwa batik tetap akan digemari oleh sejumlah kalangan di masyarakat. Kebijakan sejumlah instansi pemerintah maupun swasta tentang penggunaan pakaian batik di hari-hari kerja tertentu menjadi motivator tersendiri.

“Sekarang yang terpenting adalah penentuan segmen yang akan dibidik. Itu akan mempermudah jenis, corak produk yang akan dipasarkan pada konsumen, sekaligus strategi pemasarannya seperti apa,” kata Indah, di sela-sela acara Fashion Luncheon bertema “Pesona Batik Nusantara” di Hotel Santika Yogyakarta, Sabtu (6/5). Acara itu digelar atas kerja sama pihak manajemen Hotel Santika bersama perusahaan batik Pertiwi Grup Yogyakarta.

Ungkapan senada disampaikan oleh Sodikin, Direktur Batik Pertiwi. Menurut dia, target untuk membidik pasar batik kaum muda tidak sekadar urusan bisnis semata, tetapi juga bertujuan untuk mempertahankan sekaligus mencari penerus pencinta batik di masa-masa selanjutnya.

“Jangan sampai batik hilang pamor di negeri produsen batik sendiri. Kita juga ingin menaikkan pamor batik itu sekaligus. Batik tidak sekadar sarung dan jarit, tetapi juga baju kerja atau acara-acara penting lain di kalangan kaum muda,” kata Sodikin.

Kompromi pasar

Indah dan Sodikin sama-sama mengakui, pihaknya melakukan survei pasar untuk membidik kalangan muda, terutama sekitar selera batik yang mereka inginkan. Berdasar survei itu, pengalaman memasarkan batik bertahun-tahun, serta pengamatan dunia mode secara umum, mereka menyatakan, batik untuk kaum muda merupakan batik modifikasi yang merupakan hasil kompromi antara batik konvensional dan dunia mode secara umum.

“Kompromi itu mencakup warna, motif, model, serta material yang digunakan. Semuanya digabung menjadi satu konsep khusus mode batik untuk kaum muda,” kata Indah.

Sesuai segmen yang dibidik Margaria yakni kelas menengah-atas, kata Indah, maka warna yang dipilih biasanya adalah warna-warna lembut, dengan motif tabur, seperti bunga-bunga kecil, yang lebih menonjol. Material yang dipilih pun lebih banyak berbahan katun maupun paris. Sementara menurut Sodikin, Pertiwi Grup juga fokus pada penciptaan desain-desain yang lebih menarik bagi kaum muda, misalnya desain produk batik yang asimetris. Desain batik asimetris itu merupakan desain relatif baru yang lain dari pakem selama ini di mana batik selalu simetris. Selain itu, Pertiwi juga mengubah desain gerai batiknya. Penampilan kesan terang dan cerah di gerai-gerainya yang tersebar di beberapa wilayah Yogyakarta diharapkan lebih menarik minat semua kalangan untuk berbelanja batik.

Sumber : (BEN) Harian Kompas, Yogyakarta

Bernostalgia di Kampung Batik Lewat Tarian

Monday, May 1st, 2006

Di sebuah gang di Jalan Wijaya Kusuma, Sabtu (29/4) malam, sejumlah orang berkumpul. Hanya ada sinar lampu minyak dan obor. Suara seruling terdengar perlahan. Dari ujung gang, seorang perempuan berjalan perlahan sambil menarik kain putih sekitar enam meter. Di samping kiri kanannya ada empat laki-laki berpakaian hitam membawa obor.

Perempuan itu kemudian menari di tengah gang. Hanya ada kesunyian, ketika koreografer dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Solo, Ni Nyoman Yuli Armaheni, menari sambil menyanyikan tembang Bali. Beberapa saat kemudian dua orang ibu menggambar di kain putih itu. Tak lama kemudian lewat sepeda ontel ditumpangi seorang bapak dan ibu, menyusul becak membawa seorang ibu dengan tumpukan kain batik, dan terakhir sepeda motor melintasi tempat pertunjukan tari itu.

Lewat tarian itu, Yuli mencoba mengangkat kembali kenangan aktivitas Kampung Batik Kauman.

Hal yang sama coba diangkat penari topeng dari Indramayu, Wangi Indriya, yang malam itu tampil dengan tariannya di tempat pembuatan batik tradisional. Mengenakan kain batik dan kaus oblong putih, Wangi menari dekat tungku perapian tempat mengolah kain batik dengan berbagai gerakan yang menunjukkan bagaimana perempuan di Kampung Kauman memproses batik.

Penampilan dua koreografer wanita dalam “Dancing Kampoeng Batik Kaoeman” di Kampung Batik Kauman itu sangat memukau warga maupun undangan yang menghadiri rangkaian acara Temu Koreografer Wanita V Tahun 2006 yang digelar Mataya art & heritage.

Pertunjukan tarian itu paling tidak membangkitkan kembali semangat para pembatik di Kampung Kauman ini untuk mempertahankan nilai-nilai kehidupan masyarakat di kampung ini.

Sumber : (SON) Harian Kompas