Judul buku: Batik: Design, Style & History
Penulis: Fiona G Kerlogue
Penerbit: Thames & Hudson, London, 2004
Tebal: 192 halaman
TAMPAKNYA kain-kain batik bersejarah dari Indonesia yang selama ini dikumpulkan-atau mungkin lebih tepatnya ’diselamatkan’-oleh Rudolf Smend, pencinta dan kolektor batik berkebangsaan Jerman selama kurun waktu seperempat abad, tengah menjadi fokus dunia perbatikan dunia. Ini dibuktikan dengan munculnya sekaligus dua buku baru, yang meskipun menaruh perhatian pada titik-titik bahasan berlainan, sama-sama mengikutsertakan ulasan mengenai batik-batik koleksinya itu.
BILA dalam buku Batik: From the Courts of Java and Sumatra, Rudolf G Smend Collection (Periplus 2004) penerbitnya lebih memfokuskan bahasan pada seni batik dari keraton di Jawa dan Sumatera pada masa keemasannya seraya menempatkan arti dan peran batik dalam tatanan sosial, budaya, dan politik kurun waktu tahun 1880-1930, dalam buku ini aspek historis dan elemen simbolisme batik masa silam sampai masa kini (kontemporer), disuguhkan dalam konteks lebih luas, meliputi pelbagai aspek dari dinamika perjalanan sejarah batik.
Fiona Kerlogue, penulisnya, adalah doktor spesialisasi batik lulusan University of Hull Inggris yang selama ini telah dikenal luas sudah menelurkan tulisan beragam mengenai serba-serbi batik, utamanya batik Madura dan Jambi. Di antara tulisannya yang dikenal adalah Scattered Flowers:Batik From Jambi Sumatra (1996) dan Drawn in Wax: 200 Years of Batik Art from Indonesia in the Tropen Museum Collection (2001).
Diwariskan generasi pendahulu kita sebagai ekspresi tradisi keahlian dan kehalusan kekayaan budaya penuh simbol keluhuran, tekstil tua bersejarah di mana batik termasuk di dalamnya, sesungguhnya telah memainkan peran penting dalam perjalanan sejarah kita. Dalam buku Sari to Sarong: Five Hundred Years of Indian and Indonesian textile Exchange (2003), Robyn Maxwell telah meyakinkan kita bahwa dengan menelaah perdagangan dan penggunaan kain tradisional kita dapat menyingkap makna penggunaan tekstil asli Indonesia dalam merekonstruksikan hubungan sosial budaya yang terjalin antarkomunitas masyarakat di Tanah Air maupun hubungan mereka dengan dunia luar.
Berdasarkan pada referensi yang begitu luas dan bervariasi, mengacu tidak saja pada hasil pemikiran ahli batik internasional namun juga suara-suara pemerhati batik asli Indonesia, representasi sejarah perjalanan batik yang dibahas dalam buku ini terasa cukup seimbang. Dengan cerdik ulasannya mengenai batik Indonesia itu diejawantahkan dalam tujuh subjudul tematis, yakni “asal-usul batik”, ‘aspek tradisi kedaerahan batik’, ‘motif dan arti batik’, ‘pengaruh modern terhadap batik’, ‘batik sebagai kostum’ dan ‘batik sebagai seni’. Dilengkapi serangkaian foto batik yang dikerjakan Fulvio Zanettini, buku mengenai keindahan, keluhuran, dan arti penting batik bagi jati diri kita ini pun hadir begitu meyakinkan.
KERLOGUE secara umum menunjukkan, perkembangan batik sebagai kostum dan karya seni di Indonesia memang demikian dinamis. Dilengkapi ilustrasi berjumlah tak kurang dari 204 buah, buku ini diawali dengan diskusi mengenai rekaman pertama asal-usul batik, hubungannya dengan dunia luar, dan jenis-jenis material yang selama ini digunakan. Dipengaruhi pelbagai unsur asli dan luar, pada masa jayanya batik berperan sebagai alat dan simbolisme yang memperkuat supremasi aristokrasi keraton Jawa dan Sumatera, seperti ditunjukkan pada desain, motif, warna, gaya penggunaan maupun jenis-jenis batik yang selama ini dihasilkan (hal 135-165).
Dalam perkembangannya, lewat kantong-kantong produsen batik di Jawa maupun Sumatra batik semakin kokoh perannya sebagai saksi budaya penting ketika aktivitas kolonialisme dan dominasi modernisasi Barat mulai kuat hadir dalam panggung sejarah Indonesia. Revolusi seni yang terjadi terutama sejak tahun 1960-an di Indonesia telah memberi dorongan bagi seni lukis batik untuk kian berkembang (hal 168).
Akibat proses globalisasi dunia, seniman batik Indonesia tidak lagi terpaku pada inspirasi lokal semata, namun juga dipengaruhi secara kuat oleh seni Barat yang bagi penulisnya memperlihatkan konteks kelenturan batik dari masa ke masa.
Kini, adalah pemandangan umum di Indonesia mulai dari Aceh hingga Papua akan luas dan meratanya penggunaan batik di Nusantara. Di mana saja dan di kesempatan apa pun, baik formal maupun informal, batik menjelma menjadi ikon ungkapan kebanggaan nasional yang penting, satu dari elemen kuat ekspresi nasionalisme Indonesia yang merata, dikenakan pria-wanita, tua-muda, mulai dari orang biasa hingga presiden.
Batik dikenakan tidak saja ketika wanita bekerja di sawah, namun juga hadir di rumah-rumah, dalam resepsi dan upacara adat, muncul di tingkat bawah maupun elite, bahkan di tingkat kenegaraan. Lebih dari itu, kita juga menyaksikan batik semakin menjadi ekspresi seni yang tidak lagi anonimus, berfungsi tidak saja sebagai kostum semata-mata, namun juga sebagai dekorasi, barang seni, bahkan suvenir wisata wajib yang populer.
Bagi sejarawan sosial dan budaya, khususnya yang tertarik menggunakan tekstil (batik) sebagai kategori bagi pemahaman baru sejarah Indonesia, mungkin salah satu pujian terhadap buku ini haruslah diberikan terhadap usaha penerbit menyertakan foto-foto tua bernilai sejarah tinggi yang dipinjam dari koleksi milik Leo Haks. Mengingat koleksi foto langka berwarna kekuningan tersebut konon belum pernah dipublikasikan sebelumnya, kehadirannya sebagai ilustrasi penggunaan batik sesuai dengan zaman dan konteksnya itu benar-benar telah menawarkan visualisasi solid atas detail dan nuansa masyarakat kita, terutama era kolonialisme prakemerdekaan.
Foto-foto tersebut tidak saja memperlihatkan penggunaan batik yang luas di pelbagai strata sosial, namun juga menyuarakan simfoni kompleksitas kehidupan dimensional yang pernah terjadi di balik keraton, desa, pengadilan, pasar dan kehidupan sehari-hari lainnya; menyangkut orang Indonesia, Eurasia, komunitas Tionghoa, Arab, dan seterusnya. Gambaran visual seperti itu mungkin tidak akan dapat diperoleh bila sejarawan hanya mengandalkan sumber kesejarahan tertulis/arsip-arsip semata.
Pendeknya, buku ini tak ubahnya jendela yang mengantarkan pandangan kita ke masa lalu dan kontemporer yang lebih ilustratif. Dan perpaduan antara komposisi ulasan, imaji, dan desain simbolisme batik yang ditampilkan di buku ini agaknya memberi gambaran lebih komprehensif mengenai tidak saja perjalanan batik itu sendiri, namun juga hubungan paralelnya dengan konteks perjalanan sejarah budaya Indonesia.
TAK dapat dipungkiri kita memang patut berbangga hati telah menyumbangkan konsep “batik” sebagai terminologi dalam khazanah tekstil dunia yang kini penggunaannya begitu menyebar, membentang mulai dari Afrika hingga China.
Namun, agaknya juga ironis bahwa sebagai pewaris seni budaya batik buku sejenis yang setara nilainya yang dihasilkan orang Indonesia sendiri, lebih-lebih disuguhkan dengan dorongan penuh kecintaan dan apresiasi tinggi seperti dalam buku ini, begitu sedikit. Sesungguhnya di luar koleksi batik yang tersimpan di museum-museum ataupun perorangan asing, seperti koleksi Smend yang sedang dibahas ini, sejumlah kain batik bernilai sejarah yang pernah dimiliki keluarga-keluarga terpandang atau pemilik dinasti batik masa silam masih banyak yang belum sempat berpindah tangan, bahkan masih dirawat dengan baik oleh ahli warisnya, baik perseorangan maupun keluarga-keluarga.
Bila kain-kain tersebut mulai bisa diinventarisasi dan dipublikasikan, apalagi bila disiapkan oleh dan dari perspektif orang Indonesia sendiri, tentu akan lebih memperkaya seri penerbitan tekstil bersejarah Indonesia yang berguna dalam upaya mengungkapkan secara lebih mendasar aspek historis, kekokohan, keluhuran, dan arti signifikan batik sebagai bukti eksistensi jati diri bangsa.
Bagaimanapun buku ini jelas telah menginsyafkan kita bahwa berkat kecintaan dan obsesi yang berlebihan seorang kolektor ataupun pemerhati batik asing, usaha memperkenalkan batik dan menghargainya sebagai bentuk ekspresi local genious bangsa kita di dunia internasional kiranya terpenuhi. Tak pelak lagi, buku ini akan menjadi karya otoritarif terbaru mengenai dunia batik kita dan makna berharga yang ada di baliknya.
Akhirnya, mengingat buku ini juga dilengkapi dengan glosari maupun daftar indeks yang lengkap dari tempat-tempat di mana koleksi batik berharga disimpan dan dilestarikan di seluruh dunia (hal 184), tidaklah berlebihan bila menganggap buku ini tidak saja patut diperhitungkan, namun juga mesti dipertimbangkan untuk dikoleksi oleh baik pencinta awam batik maupun pemerhati serius atas aspek batik Indonesia.
Iskandar P Nugraha Mengajar di Department of Indonesian Studies, University of New South Wales, Sydney, Australia
Sumber : Kompas Cetak