Archive for the ‘Resensi & Promo’ Category

Koleksi Unik Batik Kayu Krebet

Saturday, October 29th, 2005

KATA ‘batik’ atau ‘membatik’ tentunya sudah tak asing buat kita, khususnya masyarakat Jawa. Jenis kerajinan yang terbuat dari bahan kain mori, sutra ataupun blacu dan tak bisa digantikan dengan bahan yang lain. Tapi, bila batik berbahan kayu ada tidak? Jangan salah, berbahan kayu, tentunya kayu yang lunak (Kayu sengon, pulih dan klepu), juga bisa dibatik. Daerah Krebet, Sendangsari, Pajangan Bantul merupakan sentra kerajinan batik kayu (sekitar 20 km ke arah Selatan dari Kota Yogya) yang juga menjadikan ciri khas daerah tersebut.

Sarjilah dari Showroom Batik Punokawan mengatakan, biasanya batik kayu berbahan kayu sengon. Bahan tersebut, karena lebih ringan, gampang didapat dan warnanya lebih ‘manis’ (putih kekuning-kuningan). Kayu sengon bisa didapat di sekitar daerah Krebet ataupun kalau job sedang banyak didatangkan dari Klaten. Tapi, bukan hanya kayu sengon yang bisa dibatik. Jenis kayu yang lain, kayu pulih dan klepu misalnya juga bisa dibatik. Hanya saja, macam jenis dan bentuknya tertentu.

‘’Kayu pulih dan klepu warnanya lebih kecoklatan, sehingga sulit diberi pewarna. Paling hanya 2-3 warna. Kayu pulih dan klepu lebih berat dari kayu sengon. Dan tentu saja harganya juga lebih mahal,’’ terangnya di showroom Batik Punokawan, sebelah timur patung ‘Semar’. Karena beratnya berbeda tersebut, maka kayu pulih biasa dijadikan untuk wayang klitikan, sedangkan kayu klepu untuk topeng.

Produk batik kayu asal Krebet Bantul punya banyak bentuk dan unik-unik. Seperti bentuk topeng, macam-macam patung binatang (jerapah, kucing, musang dan angsa), sandal, wayang orang kayu, wayang klitikan dan lain-lain. Ukurannya bervariasi, ada yang besar ada yang kecil. Harganya mulai 2 ribu - 300 ribu, tergantung pesanan dan bahannya. Contohnya, topeng, harganya berkisar 2 ribu - 30 ribu (tergantung besar kecilnya barang).

Untuk souvenir, misalnya pernikahan, harga persatuannya Rp 2.000-2.500. Souvenir berbentuk, gantungan kunci, kaca/pengilon dan pembatas buku. Itu harga sebelum ada kenaikan harga BBM.

Sumber : (Cahyo M)-m. KR

Batik ATBM di Apip’s Batik

Thursday, October 20th, 2005

Apips BatikPerjalanan saya kali ini menuju ke sebuah rumah yang teduh nan nyaman yang berada di daerah jalan Kaliurang, tepatnya Jln. Pandega Marta 37A, Pogung. Nama toko yang saya tuju adalah Apip’s Batik, cukup pendek dan mudah untuk diingat. Apip’s batik adalah salah satu toko kerajinan batik yang ada di Jogja. Tentu saja ada yang membedakannya dengan kerajinan batik yang lain, so come on, let’s check it out!

Pada awalnya, motif batik di Apip’s batik berlatar belakang pada budaya batik Pekalongan. Namun seiring dengan perkembangannya, Apip’s saat ini telah memiliki ciri khas tersendiri dengan menghadirkan berbagai motif daerah di pelosok negeri yang pewarnaannya sudah mengambil warna-warna modern, tanpa meninggalkan pewarnaan batik tradisional.

Keistimewaan yang dapat Anda temui di Apip’s batik adalah bahan batik yang terbuat dari sutera. Tapi tunggu dulu, bukan sembarang sutera, melainkan sutera tenun tradisional yang kini lebih dikenal dengan sutera ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Untuk bahan sutera ini, Apip’s sudah memiliki mitra kerja tetap sehingga tekstur kain bisa khas dan berbeda dengan sutera ATBM lain yang ada di pasaran. Selain bahan batik dari sutera ATBM, Apip’s juga menyediakan batik dari sutera super dan sutera mesin.

Istimewanya lagi, untuk pewarnaan batik-batiknya, Apip’s batik menggunakan tumbuh-tumbuhan yang bisa menghasilkan berbagai warna modern sebagai bahan utama. Walau banyak warna batik modern, warna sogan yang merupakan warna batik tradisional pun tidak dilupakan dan tetap dipakai dalam beberapa kerajinan batiknya. Sedangkan untuk motif batiknya sendiri, tersedia batik tulis dan batik cap. Khusus untuk batik cap, pengerjaannya juga tetap mendapatkan sentuhan batik tulis pada motif-motif tertentu yang tidak bisa dijangkau oleh cap demi mendapatkan motif batik yang sempurna. Anda pasti semakin penasaran dengan barangnya, kan?

Sebagai informasi, Apip’s batik memiliki bidikan atau sasaran pasar orang dewasa, seperti suami-istri, atau orang yang sudah mapan pekerjaannya. Karenanya penggarapan dan barang-barangnya pun disesuaikan dengan pasar tersebut. Barang-barang kerajinan batik yang bisa Anda temukan adalah berbagai produk pakaian dan asesorisnya. Ada kain pantai atau pareo, selendang besar dan selendang kecil, sarimbit (pakaian untuk pasangan suami istri), three in one, serta berbagai model pakaian dewasa laki-laki dan perempuan.

Soal pilihan, semua kembali kepada selera Anda sebagai pembeli. Yang pasti, Apip’s batik menyediakan berbagai pilihan yang bagus dan berkualitas tinggi. Soal harga, sebagai gambaran saja, bahan kemeja dari sutera ATBM berkisar antara Rp 900.000,- - Rp 1.250.000,-. Sedangkan dari bahan sutera super berlisar antara Rp 450.000,- - Rp 800.000,-. Kain selendang dari sutera super, harganya sekitar Rp 400.000,- - Rp 1.500.000,-, dan yang sutera ATBM sekitar Rp 1.750.000,- - Rp 7.500.000,-.

Berminat untuk tahu lebih banyak? Anda dapat langsung mendatangi tokonya atau menghubungi via telepon di +62-274-589914, 580665. Kalau Anda juga penasaran dengan kegiatan produksi Apip’s batik, Anda dapat mengunjungi griya seninya di Pugeran Maguwoharjo, Ring Road utara (+62-274-7484477). Tapi karena hanya rumah produksi, Anda pun tidak bisa membeli barang kerjinan di sana.

Sumber : (titi) Trulyjogja.com

Lirikan Menggoda Seprai Batik Sedjati

Saturday, September 17th, 2005

Batik SedjatiBelakangan ini usaha pembuatan seprai maupun perlengkapan tidur lain di Ibu Kota makin menjamur. Namun bahan yang masih jarang digunakan adalah batik katun. Sedjati, salah seorang yang terjun ke bisnis ini, lalu berinisiatif menggunakan batik buat seluruh produknya. Menurut ibu dua putra ini, menggunakan batik karena cinta batik. Apalagi banyak teman-temannya yang menggunakan sutra. “Jadi saya ambil kesempatan di situ,” ujar wanita ini.

Awalnya Sedjati hanya memproduksi bed cover. Dia terjun menggeluti bisnis ini pada 1999 dengan bermodal keahlian menjahit yang dimiliki sejak kecil. Perempuan ini menyatakan, usahanya berkembang karena permintaan pelanggan. “Jadi setelah mereka membeli bed cover dan lain-lain. Coba dong bikin misalnya taplak, gorden, seputar interiorlah, kemudian berkembang ke busana,” terang dia.

Wanita ini lalu melebarkan sayap membuat beragam item berbahan dasar batik. Kini selain taplak, gorden, sarung bantal dan guling, dia juga memproduksi sarung bantal sofa, hiasan dinding, mukena, sajadah, wadah tisu, kemeja, maupun beragam busana wanita atau pria. Yang menarik, meski pengerjaan produk cukup memakan waktu, tapi harga yang ditawarkan sangat terjangkau dan disukai semua kalangan. “Tidak hanya dari golongan yang punya tapi yang sedang-sedang pun udah suka,” ujar dia.

Sekarang wanita ini mengaku gembira karena upaya melestarikan batik melalui produknya cukup berhasil. Padahal semula pemasaran produk Sedjati hanya dari mulut ke mulut. Menurutnya, kesadaran masyarakat khususnya generasi muda untuk menggunakan batik kini bertambah tinggi. “Dan itu saya sediakan harga yang terjangkau untuk kalangan muda,” ucap Sedjati.

Saat ini tarif yang dipatok untuk seprai batik berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 700 ribu. Harga ini tergantung tingkat kesulitan desain dan mutu bahan batik. Untuk kemeja pria sekitar Rp 200 ribu. Ini sama dengan harga satu set mukena dan sajadah. Sedangkan untuk harga wadah tisu, tas, dan taplak cukup bervariasi dari Rp 7.000 hingga Rp 700 ribu.

Kini berkat keuletan dan tekad pantang menyerah, bisnis Sedjati yang dibantu empat karyawan tetap dan empat penjahit plasma ini terbukti mampu menghasilkan laba yang cukup besar. Dengan tetap menjaga kebijakan harga dan menomorsatukan mutu, produk wanita yang tetap cantik di usia kepala lima ini banyak dicari. Terutama usai pameran yang rajin diikuti. Dia memang tak mau mengecewakan pelanggan.

SEDJATI
Jalan Lebak Bulus II Dalam 9 Rt. 06/04
Cilandak Barat Jakarta 12430
Telp/fax : (021) 7664289
HP : 0811-181977

SUmber : (MAK/Tim Usaha Anda) Liputan6.com, Jakarta

Batik Pasar Beringharjo

Friday, August 19th, 2005

Pasar Beringhardjo YogyakartaKalau kota Solo terkenal dengan Pasar Klewer-nya, Jogja terkenal dengan Pasar Beringharjo. Pasar tradisional yang terletak di jalan Malioboro bagian selatan dan dekat dengan benteng Vredeburg ini merupakan salah satu ciri khas Jogja. Pasar ini sangat luas dan terdiri dari tiga lantai dengan masing-masing lantai dan tempat memiliki pos barang dagangan yang berbeda-beda. Kali ini Anda akan diajak untuk menjelajahinya dan mendapatkan berbagai barang yang Anda cari. Namun terlebih dulu siapkan diri untuk berdesakan dan menawar harga. Anda siap? Ayo…!!!!

Salah satu oleh-oleh yang banyak tersedia di Pasar Beringharjo adalah batik mengingat batik juga menjadi salah satu barang khas Jogja. Kalau dulu batik identik dengan hal-hal yang berbau tradisional sehingga lekat dengan adat Jawa dan orang tua, kini sudah menjadi salah satu tren untuk semua umur.

Koleksi batik di pasar ini cukup lengkap, baik untuk anak-anak, remaja, dan orangtua, semua tersedia dalam berbagai model, termasuk jika anda ingin membeli batik yang seragam untuk keluarga. Berbagai macam batik dapat ditemukan di sini, dari kain batik, jarit (kain batik untuk bawahan berbusana jawa), baju batik untuk resepsi atau acara resmi, daster batik, seprei batik, sampai dengan asesoris rumah dari batik.

Kios-kios yang ada di pasar Beringharjo ini menjual berbagai batik yang dibuat oleh para pengusaha kelas kecil dan menengah sehingga tidak banyak merek terkenal atau merek tertentu, meskipun ada beberapa. Jadi pasar ini tepat buat mereka yang tidak fanatik terhadap satu merek batik tertentu.

Jajaran kios batik ini terletak di bagian depan sayap kiri pasar dan bagian dalam setelah memasuki pintu utama sampai dengan 75 meter ke belakang. Banyak sekali kios-kios yang menjual berbagai hal berbau batik, jadi anda dapat berkunjung dari satu kios ke kios yang lain. Harganya pun sangat beragam, dari yang belasan ribu sampai puluhan ribu bisa ditemukan. Kunci untuk berbelanja di tempat ini adalah kepintaran untuk memilih barang dengan kualitas yang bagus dan kemampuan untuk menawar. Bukan tidak mungkin, barang yang didapatkan kualitasnya tidak terlalu bagus tetapi harganya cukup tinggi.

Terdapat dua pilihan Batik yang dijual di Pasar Beringharjo yaitu batik cetak dan batik tulis. Batik cetak adalah batik yang motifnya dicetak dengan mesin, sedangkan batik tulis motifnya dibuat asli perlahan-lahan dari tangan si pembuat dengan menggunakan bahan malam dan alat yang bernama canting. Untuk membedakannya, perhatikan bagian dalam dan luar kain batik yang akan dibeli. Jika bagian dalam dan luar tidak sama, yaitu bagian luar tercetak jauh lebih jelas, maka itu merupakan batik cetak, tetapi jika bagian dalam dan luar sama, itulah batik tulis. Karena rumitnya pembuatan, harga batik tulis relatif jauh lebih mahal.

Batik di Pasar Beringharjo dapat dibeli dalam jumlah yang besar karena selain wisatawan yang membeli oleh-oleh batik secukupnya, pasar ini merupakan pusat grosir penjual batik eceran di Jogja maupun luar Jogja. Sayangnya, pasar ini hanya buka sampai jam 5 sore.

Satu lagi yang perlu diingat, Pasar Beringharjo, seperti pasar-pasar lainnya adalah tempat umum yang rawan copet. Berhatilah-hatilah dengan barang berharga Anda, siapa tahu, ada copet yang sedang mengawasi. Siapkah Anda berbelanja batik?

Sumber : (titi) Trulyjogja

Manisnya Batik Lama Produksi Zensha

Thursday, February 24th, 2005

LAZIMNYA, orang mungkin akan enggan memakai batik yang sudah lama. Apalagi jika warnanya kusam dan kainnya juga telah lusuh. Batik yang kondisinya sudah demikian biasanya akan lebih banyak dikesampingkan. Paling tidak akan jarang terpakai.

Namun anehnya, di arena pameran Mangkunegaran Ekspo 2005 kali ini, ada produk pakaian yang bahannya justru dari kain batik lama. Menariknya lagi, selain berumur tua, motifnya pun sudah terlihat agak samar karena kusamnya warna dan lusuhnya kain.

Begitulah memang, trademark dari produk-produk pakaian yang dihasilkan Zensha Batik. Penghasil pakaian batik berskala industri rumah tangga yang juga memiliki galeri di Jalan Popda 29 Kelurahan Nusukan, RT 9 RW 7, Kecamatan Banjarsari, Solo tersebut, selama ini memang terkenal dengan jenis busana seperti itu.

“Tidak hanya baju, tetapi jenis pakaian lain dengan menggunakan bahan kain batik lama juga kami produksi. Seperti celana dan rompi. Hanya kebanyakan yang kami buat memang untuk yang jenis-jenis baju,” ujar Indriyanti, pemilik, kemarin.

Untuk Turis

Aneh mungkin bagi yang belum mengerti benar tentang pemasarannya. Namun keanehan itu rasanya akan segera terkikis dan mungkin menjadi maklum jika sudah tahu jawaban mengapa jenis kain seperti itu masih dimanfaatkan untuk membuat pakaian.

“Jangan dikira kain seperti ini akan tidak laku. Justru seperti yang kami alami selama ini, batik dengan bahan lama cukup digemari para turis asing. Khususnya turis yang agak mengerti dengan sejarah batik, seperti turis Jepang dan Belanda,” tandasnya.

Karena itu, jangan heran jika daerah pemasaran dari produk tersebut tidak hanya terbatas di Kota Solo dan sekitarnya. Namun telah merambah ke kota lain, bahkan ke luar pulau. Seperti Bali, Batam, Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

“Daerah pemasaran kami mayoritas lebih banyak ke tempat-tempat memiliki potensi wisata. Karena memang di tempat-tempat seperti itu kami lebih mudah memasarkannya,” tutur dia.

Lantas bagaimana dengan pengadaan bahan, mengingat kain lama itu berjumlah tak sebanyak produk baru? Menurut dia, selain dengan cara berkeliling mencari bahannya, selama ini banyak pedagang kain lama yang mendatangi sendiri.

“Dengan demikian, hingga saat ini kami masih belum kesulitan untuk bahannya. Apalagi produk yang kami hasilkan, lebih banyak untuk memenuhi pesanan.”

Sumber : (Wisnu Kisawa-17s) Suara Merdeka

Batik, Sejarahnya dan Jati Diri Kita

Sunday, February 20th, 2005

Judul buku: Batik: Design, Style & History
Penulis: Fiona G Kerlogue
Penerbit: Thames & Hudson, London, 2004
Tebal: 192 halaman

TAMPAKNYA kain-kain batik bersejarah dari Indonesia yang selama ini dikumpulkan-atau mungkin lebih tepatnya ’diselamatkan’-oleh Rudolf Smend, pencinta dan kolektor batik berkebangsaan Jerman selama kurun waktu seperempat abad, tengah menjadi fokus dunia perbatikan dunia. Ini dibuktikan dengan munculnya sekaligus dua buku baru, yang meskipun menaruh perhatian pada titik-titik bahasan berlainan, sama-sama mengikutsertakan ulasan mengenai batik-batik koleksinya itu.

BILA dalam buku Batik: From the Courts of Java and Sumatra, Rudolf G Smend Collection (Periplus 2004) penerbitnya lebih memfokuskan bahasan pada seni batik dari keraton di Jawa dan Sumatera pada masa keemasannya seraya menempatkan arti dan peran batik dalam tatanan sosial, budaya, dan politik kurun waktu tahun 1880-1930, dalam buku ini aspek historis dan elemen simbolisme batik masa silam sampai masa kini (kontemporer), disuguhkan dalam konteks lebih luas, meliputi pelbagai aspek dari dinamika perjalanan sejarah batik.

Fiona Kerlogue, penulisnya, adalah doktor spesialisasi batik lulusan University of Hull Inggris yang selama ini telah dikenal luas sudah menelurkan tulisan beragam mengenai serba-serbi batik, utamanya batik Madura dan Jambi. Di antara tulisannya yang dikenal adalah Scattered Flowers:Batik From Jambi Sumatra (1996) dan Drawn in Wax: 200 Years of Batik Art from Indonesia in the Tropen Museum Collection (2001).

Diwariskan generasi pendahulu kita sebagai ekspresi tradisi keahlian dan kehalusan kekayaan budaya penuh simbol keluhuran, tekstil tua bersejarah di mana batik termasuk di dalamnya, sesungguhnya telah memainkan peran penting dalam perjalanan sejarah kita. Dalam buku Sari to Sarong: Five Hundred Years of Indian and Indonesian textile Exchange (2003), Robyn Maxwell telah meyakinkan kita bahwa dengan menelaah perdagangan dan penggunaan kain tradisional kita dapat menyingkap makna penggunaan tekstil asli Indonesia dalam merekonstruksikan hubungan sosial budaya yang terjalin antarkomunitas masyarakat di Tanah Air maupun hubungan mereka dengan dunia luar.

Berdasarkan pada referensi yang begitu luas dan bervariasi, mengacu tidak saja pada hasil pemikiran ahli batik internasional namun juga suara-suara pemerhati batik asli Indonesia, representasi sejarah perjalanan batik yang dibahas dalam buku ini terasa cukup seimbang. Dengan cerdik ulasannya mengenai batik Indonesia itu diejawantahkan dalam tujuh subjudul tematis, yakni “asal-usul batik”, ‘aspek tradisi kedaerahan batik’, ‘motif dan arti batik’, ‘pengaruh modern terhadap batik’, ‘batik sebagai kostum’ dan ‘batik sebagai seni’. Dilengkapi serangkaian foto batik yang dikerjakan Fulvio Zanettini, buku mengenai keindahan, keluhuran, dan arti penting batik bagi jati diri kita ini pun hadir begitu meyakinkan.

KERLOGUE secara umum menunjukkan, perkembangan batik sebagai kostum dan karya seni di Indonesia memang demikian dinamis. Dilengkapi ilustrasi berjumlah tak kurang dari 204 buah, buku ini diawali dengan diskusi mengenai rekaman pertama asal-usul batik, hubungannya dengan dunia luar, dan jenis-jenis material yang selama ini digunakan. Dipengaruhi pelbagai unsur asli dan luar, pada masa jayanya batik berperan sebagai alat dan simbolisme yang memperkuat supremasi aristokrasi keraton Jawa dan Sumatera, seperti ditunjukkan pada desain, motif, warna, gaya penggunaan maupun jenis-jenis batik yang selama ini dihasilkan (hal 135-165).

Dalam perkembangannya, lewat kantong-kantong produsen batik di Jawa maupun Sumatra batik semakin kokoh perannya sebagai saksi budaya penting ketika aktivitas kolonialisme dan dominasi modernisasi Barat mulai kuat hadir dalam panggung sejarah Indonesia. Revolusi seni yang terjadi terutama sejak tahun 1960-an di Indonesia telah memberi dorongan bagi seni lukis batik untuk kian berkembang (hal 168).

Akibat proses globalisasi dunia, seniman batik Indonesia tidak lagi terpaku pada inspirasi lokal semata, namun juga dipengaruhi secara kuat oleh seni Barat yang bagi penulisnya memperlihatkan konteks kelenturan batik dari masa ke masa.

Kini, adalah pemandangan umum di Indonesia mulai dari Aceh hingga Papua akan luas dan meratanya penggunaan batik di Nusantara. Di mana saja dan di kesempatan apa pun, baik formal maupun informal, batik menjelma menjadi ikon ungkapan kebanggaan nasional yang penting, satu dari elemen kuat ekspresi nasionalisme Indonesia yang merata, dikenakan pria-wanita, tua-muda, mulai dari orang biasa hingga presiden.

Batik dikenakan tidak saja ketika wanita bekerja di sawah, namun juga hadir di rumah-rumah, dalam resepsi dan upacara adat, muncul di tingkat bawah maupun elite, bahkan di tingkat kenegaraan. Lebih dari itu, kita juga menyaksikan batik semakin menjadi ekspresi seni yang tidak lagi anonimus, berfungsi tidak saja sebagai kostum semata-mata, namun juga sebagai dekorasi, barang seni, bahkan suvenir wisata wajib yang populer.

Bagi sejarawan sosial dan budaya, khususnya yang tertarik menggunakan tekstil (batik) sebagai kategori bagi pemahaman baru sejarah Indonesia, mungkin salah satu pujian terhadap buku ini haruslah diberikan terhadap usaha penerbit menyertakan foto-foto tua bernilai sejarah tinggi yang dipinjam dari koleksi milik Leo Haks. Mengingat koleksi foto langka berwarna kekuningan tersebut konon belum pernah dipublikasikan sebelumnya, kehadirannya sebagai ilustrasi penggunaan batik sesuai dengan zaman dan konteksnya itu benar-benar telah menawarkan visualisasi solid atas detail dan nuansa masyarakat kita, terutama era kolonialisme prakemerdekaan.

Foto-foto tersebut tidak saja memperlihatkan penggunaan batik yang luas di pelbagai strata sosial, namun juga menyuarakan simfoni kompleksitas kehidupan dimensional yang pernah terjadi di balik keraton, desa, pengadilan, pasar dan kehidupan sehari-hari lainnya; menyangkut orang Indonesia, Eurasia, komunitas Tionghoa, Arab, dan seterusnya. Gambaran visual seperti itu mungkin tidak akan dapat diperoleh bila sejarawan hanya mengandalkan sumber kesejarahan tertulis/arsip-arsip semata.

Pendeknya, buku ini tak ubahnya jendela yang mengantarkan pandangan kita ke masa lalu dan kontemporer yang lebih ilustratif. Dan perpaduan antara komposisi ulasan, imaji, dan desain simbolisme batik yang ditampilkan di buku ini agaknya memberi gambaran lebih komprehensif mengenai tidak saja perjalanan batik itu sendiri, namun juga hubungan paralelnya dengan konteks perjalanan sejarah budaya Indonesia.

TAK dapat dipungkiri kita memang patut berbangga hati telah menyumbangkan konsep “batik” sebagai terminologi dalam khazanah tekstil dunia yang kini penggunaannya begitu menyebar, membentang mulai dari Afrika hingga China.

Namun, agaknya juga ironis bahwa sebagai pewaris seni budaya batik buku sejenis yang setara nilainya yang dihasilkan orang Indonesia sendiri, lebih-lebih disuguhkan dengan dorongan penuh kecintaan dan apresiasi tinggi seperti dalam buku ini, begitu sedikit. Sesungguhnya di luar koleksi batik yang tersimpan di museum-museum ataupun perorangan asing, seperti koleksi Smend yang sedang dibahas ini, sejumlah kain batik bernilai sejarah yang pernah dimiliki keluarga-keluarga terpandang atau pemilik dinasti batik masa silam masih banyak yang belum sempat berpindah tangan, bahkan masih dirawat dengan baik oleh ahli warisnya, baik perseorangan maupun keluarga-keluarga.

Bila kain-kain tersebut mulai bisa diinventarisasi dan dipublikasikan, apalagi bila disiapkan oleh dan dari perspektif orang Indonesia sendiri, tentu akan lebih memperkaya seri penerbitan tekstil bersejarah Indonesia yang berguna dalam upaya mengungkapkan secara lebih mendasar aspek historis, kekokohan, keluhuran, dan arti signifikan batik sebagai bukti eksistensi jati diri bangsa.

Bagaimanapun buku ini jelas telah menginsyafkan kita bahwa berkat kecintaan dan obsesi yang berlebihan seorang kolektor ataupun pemerhati batik asing, usaha memperkenalkan batik dan menghargainya sebagai bentuk ekspresi local genious bangsa kita di dunia internasional kiranya terpenuhi. Tak pelak lagi, buku ini akan menjadi karya otoritarif terbaru mengenai dunia batik kita dan makna berharga yang ada di baliknya.

Akhirnya, mengingat buku ini juga dilengkapi dengan glosari maupun daftar indeks yang lengkap dari tempat-tempat di mana koleksi batik berharga disimpan dan dilestarikan di seluruh dunia (hal 184), tidaklah berlebihan bila menganggap buku ini tidak saja patut diperhitungkan, namun juga mesti dipertimbangkan untuk dikoleksi oleh baik pencinta awam batik maupun pemerhati serius atas aspek batik Indonesia.

Iskandar P Nugraha Mengajar di Department of Indonesian Studies, University of New South Wales, Sydney, Australia

Sumber : Kompas Cetak

Batik Prada yang Digemari Hingga Mancanegara

Saturday, February 12th, 2005

Batik PradaBatik tak hanya digemari orang Indonesia. Sejak lama, salah satu kain tradisional Nusantara ini memiliki banyak penggemar di berbagai negara. Bahkan, kabarnya mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela juga menjadi salah satu pencinta batik. Banyaknya penggemar batik menginspirasikan Alwi dan Salwaa Shihab untuk mendirikan usaha kerajinan batik prada di Kelurahan Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan, Depok, Jawa Barat. Pasangan asal Palembang, Sumatra Selatan ini sengaja menekuni usaha kerajinan daerahnya karena belum terlalu banyak pesaingnya.

Alwi dan Salwaa memulai usaha batik prada sekitar sepuluh tahun silam. Pada 1995, suami istri ini mengembangkan usaha dengan merekrut tiga karyawan. Tak disangka, prospek usaha kerajinan batik prada berkembang cukup baik seiring dengan permintaan yang meningkat secara signifikan. Hal ini mendorong Alwi Shihab mulai mempekerjakan ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumah untuk membantu.

Setiap pagi, rumah pendiri Koperasi Teratai Emas itu dipenuhi para perajin. Mereka mengambil jatah batik untuk dibuat prada. Setiap orang mendapat jatah dua hingga tiga potong kain panjang. “Sekarang alhamdullilah perajin saya sudah 160 orang,” kata Alwi. Perajin Alwi dibayar Rp 60.000 dan Rp 100.000 per minggu. Sedangkan karyawan tetap ada 12 orang dan digaji Rp 600 ribu dan Rp 800 ribu per bulan.

Pembuatan batik prada cukup sederhana. Pertama, kain batik yang bermotif diberi lem sesuai dengan motif yang ingin ditonjolkan. Setelah selesai dilem, kain dijemur di bawah terik matahari. Kegiatan ini dilakukan para perajin rumah masing-masing. Tahap selanjutnya menyapukan glitter berwarna emas atau perak pada motif batik yang telah diberi lem sehingga menempel membentuk desain yang berkilauan. Marwati, salah satu perajin batik prada mengaku bahagia pekerjaan yang dilakoninya menghasilkan rupiah yang cukup lumayan. “Ada koperasi bisa juga kita kesusahan, kita bisa minjem,” Maryati menambahkan.

Selain rutin menyuplai ke pusat grosir Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Alwi menerima pesanan dari Thailand dan Vietnam. “Pemasaran sudah ke mancanegara tapi tidak langsung, melalui broker-broker di antaranya dari Pasar Tanah Abang,” ungkap lelaki berperawakan sedang ini. Agar produknya lebih dikenal di Vietnam, baru-baru ini, Alwi mengikuti pameran di Ho Chi Minh dan Hanoi dengan biaya pemerintah daerah setempat.

Sejauh ini, Alwi dan Salwaa memproduksi 20 kodi batik per minggu. Namun, pada saat permintaan meningkat, mereka berusaha keras untuk memenuhi pesanan. Tak jarang di saat itu mereka kerap menemui kendala. “Glitter perak di toko bahan kimia per kilogram sekarang sangat tinggi,” kata Salwaa. Bahkan, wanita berjilbab ini menambahkan, pernah glitter habis di pasaran.

Baik Alwi maupun Salwaa mengaku keuntungannya selama ini sangat tipis. Kendati demikian mereka bahagia karena bisa ikut berperan meningkatkan perekonomian warga setempat. Lurah Sawangan Baru Suhari mengaku cukup bangga sekali dengan usaha yang digeluti pasangan tersebut. “Dengan adanya usaha semacam ini mengurangi para pengangguran, terutama ibu-ibu rumah tangga, ketimbang dia ngerumpi, dia punya penghasilan dan punya kreativitas, ” kata Suhari.

Sebagai warga binaan Departemen Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Kota Depok, pasangan suami istri ini mengharumkan nama lingkungan tempat tinggalnya. Meski produknya telah menembus pasar ekspor, mereka tetap berusaha untuk bisa lebih inovatif.

BATIK PRADA
ALWI SHAHAB
Jalan Abdul Wahad Nomor 5
Rukun Tetangga 02 Rukun Warga 03
Sawangan, Depok, Jawa Barat
Telepon: (0251) 612213

Sumber: (DNP/Tim Usaha Anda) Liputan6.com, Depok

Kajian Desain Ragam Hias Batik Indramayu

Monday, April 26th, 2004

By: Nita Trismaya
Desain FSRD ITB
Created: 2004-04-26 , with 1 file(s).

Keywords: Ragam hias, batik
Subject: Desain Tekstil
Heading: Desain
Call Number: 746.6

ABSTRAK
Indramayu merupakan daerah pesisir dengan pengaruh berbagai budaya mulai dari Hindu, Islam dan Cina, berlatar budaya nelayan dan petani. Di masa dahulu merupakan kota pelabuhan yang menjualbelikan barang-barang dari berbagai tempat. Kedatangan bangsa Cina terkait dengan sejarah nusantara yang terletak dalam lalu lintas perdagangan India-Cina. Lewat kontak budaya dan politik dengan berbagai bangsa, masyarakat Indonesia memiliki seni tradisi yang kaya salah satunya adalah batik pesisir. Ragam bias batik Indramayu termasuk batik pesisir kategori batik rakyat dan berbeda dengan batik Cirebon yang berlatar budaya kraton dan banyak memiliki perlambangan. Cirebon sebagai daerah terdekat ikut menyumbang dalam pembentukan budaya pesisir Indramayu, lewat hubungan dagang dan politik. Budaya Cirebon itu sendiri terbentuk lewat akulturasi budaya lokal, Hindu, Islam dan Cina dengan latar seni istana serta memiliki komunitas masyarakat peranakan Cina. Pengaruh budaya Cina yang datang langsung ke Indramayu lewat perdagangan maupun lewat jalur Cirebon dapat dilihat dari penggunaan motif-motif simbolis Cina seperti funiks, kilin, banji, meander, dimana dalam prosesnya motif Cina tidak ditiru begitu saja tapi diolah ke dalam nilai-nilai lokal konvensi masyarakat Indramayu sehingga menghasilkan berbagai perubahan bentuk_ Kedatangan barang-barang keramik dan kain sutera Cina ke pelabuhan Cimanuk Indramayu diperkirakan bersamaan juga dengan kain batik indigo Cina dimana terdapat kesamaan ragam hias dan warna dengan batik Indramayu.

Dalam penelitian ini, digunakan tinjauan historis dan komparatif secara deskriptif analisis untuk mendapat identitas batik Indramayu dan sampai sejauh mana perkembangan seni hias

For more information, contact:
DL Name: Departemen Seni Murni ITB
PublisherID: JBPTITBART
Organization: Institut Teknologi Bandung
Contact: admin
Address: libadmin@art.itb.ac.id
City: Bandung
Region: Jawa Barat
Country: Indonesia

Sumber : Dept Seni Murni ITB

Semangat Keimanan pada Ragam Hias Batik Pesisir

Sunday, February 3rd, 2002

Judul: Batik Pesisir: Melacak Pengaruh Etis Dagang Santri pada Ragam Hias Batik,
Penulis: Hasanudin,
Penerbit: Kiblat Buku Utama,
Cetakan : I, Agustus 2001,
Tebal: 364 hal.,
Harga: Rp 39.000,-

BATIK pesisir adalah batik dengan ragam hias khas daerah pesisir utara Pulau Jawa. Batik ini dianggap sebagai salah satu produk seni rupa tradisional Islam yang memantulkan semangat keimanan secara esensial. Daerah-daerah yang terkenal dengan batik pesisirnya antara lain Indramayu, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Rembang, Juwana, Lasem, dan Tuban.

Usaha dan perdagangan batik pesisir banyak dikelola oleh masyarakat dari golongan haji atau wong kaji, yaitu orang yang telah melaksanakan ibadah haji. Sebagai orang alim (santri), terhormat, dan bermodal, wong kaji dijadikan sebagai tempat untuk bertanya mengenai segala hal termasuk usaha pembatikan.

Untuk menjalankan roda usaha, golongan santri menempatkan tauhid sebagai landasan bisnis pembatikan. Tauhid merupakan landasan iman yang berhubungan erat dengan keyakinan terhadap Allah SWT. Selain digunakan dalam pengelolaan usaha, tauhid juga menjadi pedoman etos dagang mereka. Nilai-nilai keislaman dalam etos dagang santri mencakup iradah, amanah, ikhtiar, ilmu, amal, dan tawakal. Kesemuanya ini saling terkait satu sama lain.

Semangat keimanan Islam juga tercermin dalam proses penciptaan bentuk ragam hias batik pesisir. Bentuk yang dihasilkan adalah bentuk ragam hias yang tidak menimbulkan syirik, seperti kaligrafi Arab, bentuk geometris, flora, fauna, pola diagonal, ceplok, pemandangan alam, alam benda, mitologi, tambal, sekarjagat, dan pola pinggir.

Buku ini semula merupakan sebuah tesis yang ditulis oleh seorang pakar tekstil yang lahir di “kota batik” Pekalongan, Jawa Tengah, dari keluarga pembatik. Sebagai bentuk kepeduliannya terhadap batik, penulis mendirikan pendidikan perbatikan untuk kalangan terbatas di tengah-tengah kesibukannya mengajar di sebuah perguruan tinggi.

Sumber : (Titis SD, Litbang Kompas ) Kompas Cetak, Jakarta