Archive for the ‘Resensi & Promo’ Category

Dari Sogan Batik ke Sogan Village

Sunday, July 23rd, 2006

Awalnya Iffah M. Dewi merintis usaha Batik Sogan di Dusun Rejodani yang sebenarnya bukan Desa Batik. Usaha batik dari pewarnaan alam tersebut dimulai dari nol. Pertama kali mengajari tiga wanita penduduk Rejodani yang sama sekali belum bisa membatik. Proses ini terus berkembang dan kini sudah cukup banyak wanita dari Dusun Rejodani yang bisa membatik dan membantu usahanya. Kebetulan nenek Iffah M.Dewi mempunyai rumah di Rejodani yang cukup luas dan tidak ditempati, sehingga rumah tersebut dijadikan sebagai workshop sekaligus butik Sogan Batik.

Usaha Sogan Batik pun terus berkembang. Dalam mengembangkan usahanya Iffah bekerja sama dengan biro travel untuk membuat paket wisata yang salah satunya melakukan tur ke Sogan Batik. Selama tiga tahun, Iffah konsisten di dunia batik, ”Banyak teman-teman, pembeli dalam maupun luar negeri, rombongan pelajar, mulai mendatangi workshop Sogan Batik,” katanya. ”Teman-teman banyak yang memuji tempat ini sejuk dan enak suasananya.

Kebetulan di depan bangunan untuk workshop dan Batik Boutique masih ada bangunan tua berupa joglo yang tidak terawat. Akhirnya kami bikin sebagai restoran garden yang menyatu dengan tempat produksi maupun butik Sogan Batik. Hanya dipisahkan oleh halaman rumput yang cukup luas. Sehingga kini Sogan Batik berganti nama Sogan Village yang menawarkan rekreasi makan dan kultural bernuansa kampung,”kata Iffah yang juga pemilik Sogan Village ini. Di sini, juga bisa dijadikan sebagai wisata edukatif membatik bagi anak-anak.

Sumber : (nri ) >Republika Online

Setaman, Surganya Batik dan Kerajinan

Wednesday, June 28th, 2006

SetamanSaat Anda berkunjung ke kota Jogja, tentunya tak akan melewatkan Malioboro yang sudah menjadi ikon kota budaya ini. Malioboro memang menawarkan banyak hal, mulai dari mall yang menjadi lambang modernitas sampai dengan pedagang kaki lima yang menyajikan berbagai makanan khas dan kerajinan tradisional. Sehingga tidak mengherankan bila ada yang menyebutnya sebagai surganya belanja.

Jika Anda ingin lebih mengenal kebudayaan Jogja, datanglah ke Keraton yang terbuka untuk umum. Di tempat ini Anda bisa mendapatkan banyak pengetahuan mengenai awal berdirinya kota budaya ini hingga peninggalan-peninggalan dan tokoh-tokohnya. Lokasinya sangat mudah dijangkau, bila Anda telah berada di Mallioboro ambilah jalan lurus menuju Alun-alun Utara. Perjalanan dapat dinikmati dengan naik becak atau andong bahkan berjalan kaki saja.

Setelah menikmati suguhan di Keraton, sangat disayangkan bila langkah kaki Anda tidak diarahkan menuju pasar Ngasem yang berdempetan dengan Taman Sari. Tempat ini tidak jauh dari Keraton, bahkan Anda dapat mencapainya hanya dengan melangkahkan kaki ke aras barat sedikit dan berbelok ke selatan. (more…)

Spirit Kreatif pada Kebaya Batik Klasik

Sunday, June 25th, 2006

JOGJA Bangkit! Inilah yang tengah menjadi jargon pada hari-hari terakhir ini - sehubungan dengan recovery segala unsur kehidupan - setelah Yogyakarta diluluhlantakkan gempa tektonik 5,9 SR sebulan silam. Tak hanya bidang infrastruktur, tapi juga spirit. Terutama spirit untuk kembali produktif dan kreatif. Dan, dunia fashion seolah tak pernah kehilangan spirit dan energi untuk berinovasi.

“Cukup sudah kita menangis kena musibah bencana gempa. Marilah kita kembali mencari jatidiri untuk kembali eksis dalam kehidupan ini,” kata Indah Widiarti, Manajer Batik Margaria (BM), Yogyakarta. Indah bersama tim sudah mampu kembali berkreasi dengan spesifikasinya selama ini, yakni batik yang dipresentasikan ke dalam aneka kebaya klasik . Untuk kreasi terbarunya ini, dia memberi nama Classy Kebaya Batik.
(more…)

Beragam Baju Batik Koleksi “Bona”

Sunday, April 23rd, 2006

Batik Bona Trend batik semakin berkembang akhir-akhir ini. Jika dulu masyarakat mengenal batik hanya pada kain dan kemeja pria, saat ini banyak wanita dan anak-anak yang juga gemar mengenakannya. Beberapa daerah seperti Jogjakarta, Solo, dan Pekalongan terkenal sebagai penghasil batik. Jika batik Jogjakarta dan Solo dikenal memiliki pakem dan aturan tertentu dalam pemakaiannya, batik Pekalongan cenderung lebih bebas. Kebebasan ini salah satunya nampak dari hasil batikan yang memiliki ragam corak dan warna yang cukup banyak.

“Satu hal yang turut mempengaruhi kebebasan batik pekalongan adalah lokasinya yang berada di sekitar pesisir”, ungkap Vita, putra ke-dua Any Rakhmaningsih sang pemilik Bona Batik. Tidak mengherankan bila akhirnya muncul aneka motif batik dari berbagai hewan, tumbuhan, maupun unsur alam dengan warna-warna cerah. Batik-batik itu semakin terlihat indah dengan aneka model baju yang sedang trend di kalangan masyarakat. Untuk mendapatkan berbagai koleksi tersebut Anda dapat berkunjung ke Batik Bona yang beralamat di Jl. Gejayan Soropadan No. 35 Jogja. Disana Anda akan menemukan beraneka macam baju mulai dari baju untuk anak-anak, remaja, wanita dan pria, serta daster santai untuk ibu-ibu yang tentunya sangat cocok untuk dijadikan oleh-oleh bagi teman atau sanak keluarga. (more…)

”Patchwork” Batik pada Busana

Sunday, April 2nd, 2006

TNIK kontemporer sudah menjadi ciri khas Anne Avantie untuk rancangan-rancangannya. Seluruh siluet rancangannya selalu diadaptasi dari budaya Indonesia. Ia memang memiliki komitmen untuk menampilkan Indonesia dalam karya kontemporer.

Mengolah kebaya menjadi sebuah karya nan unik dengan sentuhan warna-warna yang “tidak lazim” menjadi karakteristik Anne. “Warna-warna terracota, grey, dan gold saya gabungkan dalam satu busana,” katanya kepada “PR”. Busana-busana yang kaya akan detail dan sarat teknik pembuatan tangan (handmade) karya Anne ini digelar bersama busana pria dari Brutus dalam “Pagelaran Anak Negeri-Malam Peduli Kasih 2006″, Kamis (30/3), di Hotel Horison Bandung. (more…)

Nandia Batik Luncurkan Produk Baru

Saturday, April 1st, 2006

Nandia Batik, gerai batik khusus kaum muda di Jl Urip Sumoharjo 31 (Jl Solo) Yogya selalu berinovasi untuk memenuhi tuntutan selera konsumen. Salah satunya untuk koleksi new arrival bulan Maret dan April ini, gerai Nandia Batik meluncurkan produk terbaru bertema Gaya Kebaya Muda dan Silky of Zinnia Batik.

Menurut Supervisor Nandia Batik, Suwarni didampingi Manager Area Margaria Batik, Indah Widiarti, kedua koleksi ini merupakan inovasi terbaru Nandia Batik yang diperuntukkan bagi kaum muda usia pelajar SMA dan mahasiswa yang ingin tampil modis dan trendi dengan busana batik. Produk baru ini dimaksud untuk menyiasati iklim batik yang makin kompetitif. Khusus tahun 2006 ini Nandia Batik mengusung tema ‘Batik Bagi yang Muda dan Dinamis’ dengan ceruk pasar remaja usia 15-25 tahun.

“Desain dan model koleksi batik yang kami ditampilkan mengacu ke bidikan segmentasinya, seperti modifikasi batik dengan bahan lain yaitu katun paris, satin dan sifon. Ada juga kebaya dalam tampilan warna cerah dengan aplikasi tambahan seperti pita organdi dan batu coral. Kami selalu mengikuti perkembangan trend mode saat ini agar produk-produk yang dihasilkan selalu fashionable,” kata Suwarni.

Ditambahkan, saat ini batik sudah sangat memasyarakat dari kaum bawah hingga menengah ke atas yang dipakai untuk acara formal maupun non formal. “Kini, busana batik tak hanya digunakan oleh kaum paruh baya, tetapi juga remaja. untuk itu Nandia Batik selalu berinovasi melalui rancangannya yang modern dan dinamis,” tegas Suwarni.

Sumber : (*-10)-o >Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta

Margaria Batik di Plaza Ambarukmo

Saturday, March 4th, 2006

Untuk mengembangkan inovasi yang cukup signifikan, tahun ini Margaria Batik memperluas usaha dengan membuka gerai batik baru di pusat perbelanjaan modern Plaza Ambarukmo Yogyakarta, lantai 1 B 22-23. Soft Openning dimulai Minggu (5/3) bersamaan dengan Plaza Ambarukmo.

“Untuk perkenalan, Batik Margaria akan memberikan diskon menarik kepada konsumen hingga 5 April 2006. Program diskon selama satu bulan tersebut, diberikan sebagai bentuk layanan kami menyambut launching Batik Margaria Plaza Ambarukmo,” kata Manager Margaria Batik Malioboro Indah Widiarti.

Menurut Indah, peluncuran Batik Margaria Plaza Ambarukmo ini bagian dari konsep bisnis re-image margaria batik 2006 yaitu langkah dan strategi pengembangan bisnisnya untuk mengantisipasi iklim pasar batik yang semakin kompetitif di tahun 2006. “Melihat iklim kompetitif tersebut, Batik Margaria mencoba untuk menggali dan membidik ceruk pasar baru tersendiri di wilayah bisnis yang baru pula,” katanya.

Dijelaskan Indah, sedikit berbeda dengan gerai Margaria Batik di Malioboro yang memiliki target pasar wisatawan domestik, dan manca negara, maka Batik Margaria Plaza Ambarukmo mencoba untuk membidik konsumen yang lebih mengedepankan kenyamanan dalam berbelanja. Dengan outlet seluas 44 m2, konsumen bisa mendapatkan koleksi terbaru produk batik yang ekslusif dan lebih berkarakter khas Batik Margaria Plaza Ambarukmo. Koleksinya antara lain, kebaya, kemeja berbahan sutera, sutera ATBM dan batik tulis dengan beragam pilihan warna dan motif. Sedangkan keunggulan koleksi batik ini berupa produk new arrival sebagai inovasi terbaru Batik Margaria.

Sumber : (*-3)-g KR, Yogya

Prihatin Orang Jawa Lupa Batik

Monday, December 19th, 2005

Umar Chusaeni yang membuka galeri Liman Jawi Arts, mengaku prihatin, orang Jawa sekarang ini lupa batik. Jarang anak muda yang mau mempelajari seni batik. “Banyak orang Jawa tidak bisa membedakan mana batik tulis dan mana batik cap,” ucap Umar Chusaeni kepada KR di sela menerima tamu rombongan Lansia Club RS Ludira Husada Tama Yogya beberapa waktu lalu.

Galeri Liman Jawi Arts milik Umar Chusaeni itu terletak di Tingal Kulon Wanurejo Borobudur. Ada unsur kesengajaan membuka galeri di situ. Perhitungannya, karena dekat dengan objek wisata Candi Borobudur. Bekerjasama dengan sebuah hotel dan rumah makan, maka tamu hotel tersebut diarahkan untuk datang ke Liman Jawi Art. “Wisatawan Jepang dan Eropa, menaruh perhatian pada batik,” kata Umar Chusaeni yang istrinya bernama Yashumi, wanita Jepang.

Menurut Umar Chusaeni, harga batik naik bukan karena pengaruh BBM, tetapi karena semakin langkanya perajin batik. Perajin tua meninggal, yang muda tidak mau menggantikan. Umar Chusaeni sendiri mengaku mendatangkan batik dari Pekalongan. Dia punya perajin sendiri, tapi berada di Pekalongan. Selain batik, Liman Jawi juga menyediakan kerajinan tangan lainnya seperti wayang kulit, wayang golek dan topeng. Liman Jawi yang dibuka sejak 1996 itu, menyediakan batik dari harga Rp 40 ribu sampai Rp 5 juta.

Sumber : (War)-k KR, Mungkid

Di Tangan Wignyo Rahadi, Tenun Sutra Bergaya

Sunday, November 20th, 2005

Peminat produk kain sutra alat tenun bukan mesin (ATBM) alias tenun tangan di Tanah Air lima tahun terakhir kian tinggi. Tak heran, bisnis kain sutra ini menjadi lahan yang menguntungkan. Situasi inilah yang dimanfaatkan Wignyo Rahadi untuk terjun total dalam seluk beluk bisnis ini. Tenun sutra siap pakai hasil Wignyo berbeda dengan produk tenun sutra yang ada. Selain kaya akan warna dan detail, desainnya juga memiliki keunikan sendiri. Maklum, karya-karyanya hasil eksplorasi ke wilayah-wilayah penting penghasil tenun di Tanah Air.

Menurut Wignyo, perkenalan dengan dunia tenun sutra berawal ketika menjabat sebagai manajer pemasaran perusahaan yang bergerak dalam pengadaan benang sutra awal 90-an. Awalnya, ia hanya mempelajari seluk beluk pembuatan benang sutra dan desain tenun yang baik. Setelah dirasa cukup, baru pada 2000 memantapkan hati untuk terjun total menjadi pengusaha tenun sutra ATBM. Ini ditandai dengan mendirikan pabrik di lahan seluas 2.500 meter persegi di Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat.

Wignyo mengakui, pengetahuannya tentang cara menghasilkan tenun yang bermutu membuat karya-karyanya berbeda dari produk yang ada di pasaran saat ini. Ekplorasinya ke berbagai wilayah penghasil tenun sutra terbaik di Tanah Air, seperti Sulawesi di Sengkang, Songket di Padang, tenun Yogyakarta, dan Pekalongan serta Majalaya dan Garut, dituangkan dalam karya-karyanya. Tak heran, motif tenun tradisional tersebut menjadi moderen. Misalnya, memasukkan motif songket dan batik ke tenun terawang. “Kekuatan saya, bisa buat bordir itu menggunakan benang sutra, ” kata Wignyo.

Kreativitas dan inovasi Wignyo tercermin dalam kemampuannya menghasilkan l.700 motif desain yang digagasnya sendiri. Kini, produk yang dipasarkan mulai dari kain panjang, selendang, baju tunik, kebaya, dan kemeja pria telah dikenal tak hanya di Tanah Air tapi juga di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Tarif yang dipatok untuk sehelai selendang berkisar dari Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta. Sedangkan untuk satu set kain panjang, selendang, dan kebaya yang diberi sulaman atau bordir pakai kerancang yang siap pakai ditawarkan mulai Rp 3 juta.

Wignyo memang berupaya keras untuk mengakomodasi kebutuhan konsumennya yang 90 persen adalah kaum wanita yang berasal dari kalangan artis, pengusaha, dan pejabat. Saat ini kapasitas produksi per bulan mencapai 100 helai. Angka tersebut bertambah di masa menjelang Lebaran dan musim pernikahan. Untuk strategi promosi, selain berpameran, Wignyo juga banyak bekerja sama dengan desainer-desainer ternama di Indonesia. Dari segala pencapaian yang diraih, Wignyo mengaku masih memendam satu obsesi. “Keinginan saya ke depan adalah tenun ini bisa digunakan untuk sehari-hari. Kalau sekarang tenun ini agak eksklusif,” ujar Wignyo.

Tenun Sutra Wignyo Rahadi
Town House Cilandak
JL. Komplek BNI Blok MM NO.1
Cilandak Barat
Jakarta 12430
TELP/FAX: (021) 758 17224

Sumber : Liputan6.com, Jakarta