Pengusaha Pelestari Batik: Bambang Sumardiyono, Jangan Pernah Menolak Konsumen
Tuesday, March 14th, 2006Dengan modal awal Rp 5 juta, Bambang Sumardiyono telah berhasil merintis usaha batik hingga dikenal di mancanegara. Ia punya prinsip teguh dalam berwirausaha sekaligus melestarikan batik, yaitu tak pernah menolak keinginan konsumen. Fleksibel dan mengutamakan negosiasi adalah salah satu cara menarik konsumen. Bagi pria kelahiran Sleman, 12 Agustus 1962 itu, selalu ada cara untuk menyenangkan klien dalam bisnis. Berapa pun uang yang dimiliki pemesan batik, Bambang berusaha untuk membuatkan produk yang diinginkan. Singkatnya, produk yang dia buat selalu menuruti harga yang diinginkan pembeli. Batik Nakula Sadewa yang kini dikelolanya sudah memiliki konsumen loyal tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Jepang, Kanada, Jerman, Perancis, dan Arab.
Tak ada pesanan yang ditolaknya, mulai dari batik untuk orang biasa hingga batik untuk pakaian resmi para kepala negara dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung, tahun lalu. Ayah dua anak itu mengawali bisnis batik pada tahun 1995, dengan tiga orang pembatik. Untuk desain dan pewarnaan ia kerjakan sendiri bersama istrinya. Melalui modal pinjaman Bank Rakyat Indonesia, Bambang berhasil mengembangkan keterampilan yang ia pelajari dari Ardiyanto, pengusaha batik ternama di Yogyakarta. Kemudian, bisnis yang dijalankan itu diperkuat dengan pinjaman modal dari PT Angkasa Pura I, melalui program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL). Bambang mendapatkan pinjaman selama dua periode, Rp 65 juta, kemudian Rp 150 juta.
Namun, ia tetap menekankan bahwa modal bukan segalanya, dan pemasaran lebih penting. Perkenalannya dengan konsumen dan pembuat kimono di Jepang, yang saat ini merupakan 70 persen pasar batik bercorak eksklusif milik Bambang, tidak lepas dari peran Keraton Yogyakarta. GKR Pembayun yang mempromosikan batik Yogyakarta ke luar negeri, memercayai Bambang sebagai salah satu produsen batik yang bisa memenuhi selera pasar asing. Sejak 2001, Bambang semakin rajin mengikuti pameran di Jepang karena memang kebutuhan batik di negeri Sakura itu cukup besar, meskipun motif dan warnanya sering ditentukan sendiri oleh pemesan. Hingga kini, setiap bahan dari Jepang yang akan dibuat batik dikirim melalui keraton, kemudian baru diterima Bambang.
Saya tidak mau mengambil keuntungan besar meskipun sebenarnya saya bisa melakukannya di Jepang. Lebih baik keuntungan saya kecil, tetapi pesanan konsumen di sana tetap lancar. Itu salah satu strategi bisnis saya untuk mendapat kepercayaan pasar di Jepang, kata pria yang pernah belajar di Universitas Taman Siswa Yogyakarta itu. Selain andal dalam teknik pewarnaan dan motif yang disukai konsumen luar negeri, Bambang tidak hanya berfokus pada batik kain untuk bahan pakaian.
Dirinya justru bisa bertahan karena kreativitasnya menuangkan batik pada bahan lain, seperti interior (taplak, hiasan dinding), handicraft, dan pernak-pernik (gantungan pakaian, telur hiasan, pensil, dan sandal), serta merintis wisata batik dan pelajaran batik untuk siswa sekolah. Ia pun mengaku, terkadang terinspirasi oleh motif dan warna yang dibuat anak-anak sekolah yang diajarinya membatik, sehingga idenya untuk mengembangkan motif dan warna batik tidak pernah mati karena ia banyak belajar dari orang lain, yang bukan pakar batik sekalipun. Dulu, strategi Bambang adalah mengikuti setiap keinginan pasar, mulai dari batik klasik (wahyu tumurun, sidomulyo, sidoluhur, sidomukti) hingga batik kontemporer. Namun, setelah karyanya cukup mapan dan dikenal, Bambang kini cenderung menentukan dan mendikte tren pasar melalui ide-ide kreatifnya dalam menciptakan motif dan warna baru.
Saya percaya bahwa jika ingin pasar mengikuti keinginan kita, lebih dulu kita harus mengikuti pasar untuk mendapatkan kepercayaan, kata Bambang yang kini juga memberikan pekerjaan sampingan bagi banyak orang, dengan membuat gerobak angkringan.
Sumber : (RIS) Harian Kompas