Archive for the ‘Persona’ Category

Pengusaha Pelestari Batik: Bambang Sumardiyono, Jangan Pernah Menolak Konsumen

Tuesday, March 14th, 2006

Dengan modal awal Rp 5 juta, Bambang Sumardiyono telah berhasil merintis usaha batik hingga dikenal di mancanegara. Ia punya prinsip teguh dalam berwirausaha sekaligus melestarikan batik, yaitu tak pernah menolak keinginan konsumen. Fleksibel dan mengutamakan negosiasi adalah salah satu cara menarik konsumen. Bagi pria kelahiran Sleman, 12 Agustus 1962 itu, selalu ada cara untuk menyenangkan klien dalam bisnis. Berapa pun uang yang dimiliki pemesan batik, Bambang berusaha untuk membuatkan produk yang diinginkan. Singkatnya, produk yang dia buat selalu menuruti harga yang diinginkan pembeli. Batik Nakula Sadewa yang kini dikelolanya sudah memiliki konsumen loyal tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Jepang, Kanada, Jerman, Perancis, dan Arab.

Tak ada pesanan yang ditolaknya, mulai dari batik untuk orang biasa hingga batik untuk pakaian resmi para kepala negara dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung, tahun lalu. Ayah dua anak itu mengawali bisnis batik pada tahun 1995, dengan tiga orang pembatik. Untuk desain dan pewarnaan ia kerjakan sendiri bersama istrinya. Melalui modal pinjaman Bank Rakyat Indonesia, Bambang berhasil mengembangkan keterampilan yang ia pelajari dari Ardiyanto, pengusaha batik ternama di Yogyakarta. Kemudian, bisnis yang dijalankan itu diperkuat dengan pinjaman modal dari PT Angkasa Pura I, melalui program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL). Bambang mendapatkan pinjaman selama dua periode, Rp 65 juta, kemudian Rp 150 juta.

Namun, ia tetap menekankan bahwa modal bukan segalanya, dan pemasaran lebih penting. Perkenalannya dengan konsumen dan pembuat kimono di Jepang, yang saat ini merupakan 70 persen pasar batik bercorak eksklusif milik Bambang, tidak lepas dari peran Keraton Yogyakarta. GKR Pembayun yang mempromosikan batik Yogyakarta ke luar negeri, memercayai Bambang sebagai salah satu produsen batik yang bisa memenuhi selera pasar asing. Sejak 2001, Bambang semakin rajin mengikuti pameran di Jepang karena memang kebutuhan batik di negeri Sakura itu cukup besar, meskipun motif dan warnanya sering ditentukan sendiri oleh pemesan. Hingga kini, setiap bahan dari Jepang yang akan dibuat batik dikirim melalui keraton, kemudian baru diterima Bambang.

Saya tidak mau mengambil keuntungan besar meskipun sebenarnya saya bisa melakukannya di Jepang. Lebih baik keuntungan saya kecil, tetapi pesanan konsumen di sana tetap lancar. Itu salah satu strategi bisnis saya untuk mendapat kepercayaan pasar di Jepang, kata pria yang pernah belajar di Universitas Taman Siswa Yogyakarta itu. Selain andal dalam teknik pewarnaan dan motif yang disukai konsumen luar negeri, Bambang tidak hanya berfokus pada batik kain untuk bahan pakaian.

Dirinya justru bisa bertahan karena kreativitasnya menuangkan batik pada bahan lain, seperti interior (taplak, hiasan dinding), handicraft, dan pernak-pernik (gantungan pakaian, telur hiasan, pensil, dan sandal), serta merintis wisata batik dan pelajaran batik untuk siswa sekolah. Ia pun mengaku, terkadang terinspirasi oleh motif dan warna yang dibuat anak-anak sekolah yang diajarinya membatik, sehingga idenya untuk mengembangkan motif dan warna batik tidak pernah mati karena ia banyak belajar dari orang lain, yang bukan pakar batik sekalipun. Dulu, strategi Bambang adalah mengikuti setiap keinginan pasar, mulai dari batik klasik (wahyu tumurun, sidomulyo, sidoluhur, sidomukti) hingga batik kontemporer. Namun, setelah karyanya cukup mapan dan dikenal, Bambang kini cenderung menentukan dan mendikte tren pasar melalui ide-ide kreatifnya dalam menciptakan motif dan warna baru.

Saya percaya bahwa jika ingin pasar mengikuti keinginan kita, lebih dulu kita harus mengikuti pasar untuk mendapatkan kepercayaan, kata Bambang yang kini juga memberikan pekerjaan sampingan bagi banyak orang, dengan membuat gerobak angkringan.

Sumber : (RIS) Harian Kompas

Pepanggihan: Ekspresi Kebebasan Pembatik Ningrat

Sunday, March 12th, 2006

Sepintas penampilannya terkesan nyentrik untuk ukuran seorang tokoh bergelar Kangjeng Raden Tumenggung (KRT). Namun, kehidupan laki-laki ini ternyata pekat dengan nilai-nilai tradisi. Ia tidak sekadar memahami, tapi juga mewujudkan dengan karya.

KRT. Daud Wiryo Hadinagoro, adalah seorang pembatik progresif asal Jogja yang bisa menjadi contoh bagaimana memahami sebuah seni batik sebagai warisan budaya adiluhung. Karya-karyanya selalu menjadi langganan para tokoh kelas satu. Sejak era Presiden Soeharto, batik buatannya menembus dinding istana negara dan berturut-turut dimiliki oleh empat orang presiden RI penggantinya.
Daud bukan cuma jago kandang. Di manca negara namanya pun tak kalah mengkilap dibanding para maestro seni lain yang karyanya banyak diapresiasi sebagai sebuah keajaiban. Dengan konsep batik multi dimensi yang diciptakan, ia bahkan mampu membebaskan batik dari kungkungan kesan kuno dan kaku yang sebelumnya hanya layak dikenakan dalam acara-acara formal.

Ketepatan tema yang diangkatnya tidak saja menjadi nilai tambah hingga mampu memikat banyak perancang dan tokoh dunia untuk mengoleksi. Gianni Versace, Kenzo, John Galiano, Jeniffer Lopez, George W Bush, Nelson Mandela, Mahatir Muhammad, Presiden Libya Muammar Kadafi tercatat mengoleksi batik buatannya. Selain itu, karya-karya batiknya saat ini juga bersemayam di museum banyak negara.
“Daud adalah aset dan pewaris tahta bangsa masa depan,” puji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sebuah tulisannya kepada pembatik kelahiran 13 Mei 1961 ini.

Mengawali karier sebagai pembantik serius pada tahun 1999, sebelumnya Daud mengaku selalu merasa terusik melihat nasib batik yang hanya teronggok dalam museum. Baginya melestarikan budaya bukanlah sekadar menyimpan dan merawat produk budaya bersangkutan dalam museum. “Melestarikan haruslah berarti menciptakan karya untuk mengembangkanya,” ujarnya tegas.

Mengenakan celana jins dan kaos oblong, dengan sebutir anting berlian di sebelah telinganya, pendiri Pusat Kajian Seni Budaya Asia dan Museum Asian Textile itu menerima Kabare dengan ramah di Ruang Kunjungan Dalem Pakaryan Batik KRT. Daud Wiryo Hadinagoro di Dusun Sidorejo, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Dia bertutur, baginya membantik bukan sekadar penyaluran hobi, apalagi sekadar untuk mengais rejeki. Dalam pandangannya, membantik adalah berekspresi untuk sebuah visi idealisme yang diyakini.
Karena itu, penerima penghargaan Duta Seni Perdamaian Dunia tahun 2005 dari Soka Gakkai University, Japang, itu mengaku sangat kesal jika batik hanya dianggap sebagai benda suvenir. “Batik adalah art craft and collection,” tambahnya.

Perbedaan penilaian menurutnya sangat menentukan nasib karya batik di masa depan. Berkat talentanya pula, didukung ketekunan dan selalu melakukan kontemplasi, penyandang gelar MA bidang budaya masyarakat dari FOST Manila itu akhirnya berhasil mengangkat batik menjadi benda seni sangat eksklusif yang berharga mahal. Sebagai sebuah karya seni, batik buatannya ini dijual dengan harga sampai Rp 46 juta per lembar.

Pencapaian luar biasa dari sebuah proses perjuangan panjang seorang pemuda yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan keluarga priyayi. Minatnya di bidang seni telah ditunjukkannya sejak kanak-kanak. Saat berusia 7 tahun, Daud belajar melukis kepada pelukis Tino Sidin. Kemudian pada usia 12 tahun, ia belajar menari di Keraton Jogja. Tapi saat itulah ia menyadari bakatnya sebagai perupa lebih besar dibanding bidang lainnya. Tak mau setengah-setengah, Daud pun lalu berguru tentang teknik komposisi warna kepada maestro Affandi. Berbekal bakat dan ilmu yang dimiliki, laki-laki yang doyan lari pagi itu pun
lalu menerjuni lebih serius dunia batik yang sudah lama dikenalnya.

Berbagai inovasi dilakukannya untuk membawa seni batik bisa menembus batas tradisional yang mengungkungnya. Hasilnya memang luar biasa.
Karya-karyanya ternyata disukai oleh banyak kalangan, termasuk kaum muda yang sebelumnya merasa enggan mengenakannya. Salah satu karyanya juga terpilih sebagai salah satu dari 10 The Best Textile Artist of The World VOGUE di Milan, Italia, tahun 2002.
Membicarakan tentang batik kontemporer, kini tak bisa lagi dipisahkan dengan nama KRT. Daud Wiryo Hadinagoro. Lebih dari 5.000 pembantik binaannya yang tersebar di Jogja dan Solo kini menjadi mitra bisnis Daud. Sedang di work shop-nya sendiri tidak kurang 80 orang karyawan membantu usahanya.

Tapi sukses itu tak lantas membuatnya berhenti berinovasi. Celana jins yang identik dengan kaum muda sedang diincarnya menjadi media batiknya. Selain itu, sejak beberapa tahun terakhir, Daud juga tengah mengerjakan Batik Visi Kebangsaan yang disebutnya sebagai proyek sampai mati. Dalam proyek itu, Daud akan membuat karya batik tematik dengan merespon coretan dari 6.000 para tokoh nasional. “Sekitar 400 lembar sudah saya kerjakan dan mungkin tak akan selesai hingga saya mati nanti,” selorohnya.

Sumber : (Sugiyono) Jogja.com

Chaliet Bambang: Hidup Total untuk Kembangkan Batik

Sunday, March 5th, 2006

BATIK, seakan sudah menyatu dalam diri dan kehidupan Chaliet Bambang. Desainer batik yang sudah mendunia ini menyatakan seluruh hidupnya sudah dipersembahkan untuk mengembangkan batik. “Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan nguri-uri batik. Karena, tetangga kita, khususnya Malaysia sudah makin gencar mengembangkan dan mempromosikan batik juga,” kata Chaliet, di kediaman dan sekaligus di butiknya, Jl AM Sangaji, Yogya.

Chaliet mengaku mulai membatik sejak tahun 1995. “Namun saya sudah ikrar menjadi desainer sejak tahun 1986,” katanya. Pilihan pada batik memang menjadi komitmen sejak awal, sebagai wujud cintanya pada budaya leluhur. “Ibu saya jual batik juga,” katanya.

Bagi Chaliet, mengembangkan batik sudah menjadi kebutuhan kesehariannya. Inovasi dan kreativitas tak pernah lepas dari setiap langkahnya dalam mencermati perkembangan batik di tanah air. Dengan demikian, keinginan dan selera pasar pun selalu dibaca dan dikaji lebih jauh, dan kemudian mulai dikreasikan dalam karya-karya batiknya.

Termasuk ketika mengikuti pameran di berbagai negara, Chaliet selalu mempromosikan batik-batik kreasinya. “Saya pun selalu melakukan demo membatik. Dengan cara demo ini, pengunjung atau orang asing akan mengagumi batik, karena bisa melihat langsung prosesnya. Terbukti, dengan cara ini, banyak orang asing dari berbagai penjuru dunia mengenal batik. Hal ini dialami Chaliet, ketika memamerkan batik-batiknya di berbagai negara Eropa, melalui pameran pasar wisata tingkat dunia yang sudah tiga kali diikuti, yakni Internationale Tourismus Borse/ITB Berlin. Untuk keempat kalinya, Chaliet juga akan berangkat bergabung dengan Java Paviliun ke ITB Berlin mulai 8 Maret 2006 nanti, disamping juga pameran di negara lainnya. Dalam event pameran di Tokyo, Jepang, beberapa waktu lalu yang dibiayai Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, banyak publik di Jepang kian mengenal batik Indonesia pada umumnya, dan batik-batik karyanya pada khususnya.

“Banyak masukan saya terima ketika pameran di luar negeri,” ujarnya.

Dalam event ITB Berlin 2005 lalu, bahkan Walikota Berlin sempat berkunjung ke standnya dan kagum pada batik karyanya. Sementara pengunjung dari beberapa negara juga memberikan masukan untuk pengembangan batiknya. “Termasuk karya terbaru saya, batik tiga dimensi yang akan saya bawa dan saya promosikan ke ITB Berlin 2006 nanti, merupakan hasil masukan dari mereka. Walau cukup sulit, namun harus saya wujudkan, dan ternyata selesai dan siap saya bawa ke Eropa nanti,” tambah Chaliet.

Dengan membaktikan hidupnya pada dunia batik, Chaliet merasakan satu kepuasan tersendiri. Ini pula yang memotivasinya untuk tak pernah berhenti mengkampanyekan pemakaian batik untuk masyarakat Indonesia. “Anak-anak muda harus mulai dibiasakan mencintai batik,” katanya pula.

Sumber : (Ronny SV)-d KR

10 Tahun Nita Azhar Bergelut dengan Busana

Wednesday, March 1st, 2006

Namanya sudah berkibar ke berbagai negara. Ia selalu menampilkan busana dengan desain-desain kontemporer. Salah satunya adalah Kyoto, Jepang yang dibuat tercengang atas prestasi desainer dari Yogya. Itulah Nita Azhar. Bahkan untuk acara akhir tahun 2006, Nita akan menampilkan karya terbarunya di Manaco. “ Saya sedang menyiapkan rancangan baru. Dan ini butuh waktu lama,” kata Nita Azhar, kelahiran 15 Desember 1964.

Sebagai desainer yang sudah 10 tahun menekuni desainer busana memang banyak lika-liku yang harus dihadapi. Tapi Nita selalu berhasil melangkah ke depan. Kenangan yang baru dialami ketika ia bersama rombongan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X melawat ke Kyoto pada Nopember 2006. Nita merasa bangga ketika rancangan busananya berupa batik yang digelar lewat fashion show di gedung Nishijin Textile Center mendapat sambuatn meriah. Nita mampu menyelaraskan motif batik yang dipergakan oleh para peragawati dari Yogya. Tidak sedikit penonton terpesona karena busana yang dibawakan peragawati sangat pas dengan selera orang Jepang. “Saya membawakan 30 rancangan busana yang terbuat dari sutera berupa baju resmi terdiri celana panjang dan kain batik,” kata Nita. (more…)

Rochmad Husen, Kegelisahan Pembatik Solo

Tuesday, February 28th, 2006

Dalam sebuah perbincangan beberapa waktu lalu di sebuah rumah kuno nan cantik (Roemahku) di Laweyan terungkap, pada tahun 1960-an hampir 90 persen warga Laweyan bekerja sebagai pembatik. Namun pada 1990-an, jumlah itu merosot drastis dan menyisakan 27 perusahaan, terdiri industri dan showroom. Desa Laweyan sejak tahun 1500-an sudah terkenal sebagai pusat perdagangan dengan komoditas utama lawe (benang). Produksi batik tulis dan batik cap sejak 15 tahun terakhir tergeser kehadiran batik printing yang mampu berproduksi massal dalam waktu cepat.

Fenomena ini sebenarnya tak hanya terjadi di Laweyan, tapi juga di sentra batik lain di Solo, seperti di Kauman dan Balong. Salah satu saksi dan pelaku “sejarah runtuhnya batik tulis” adalah Rochmad Husen (66). Rochmad bukan pengusaha besar, tetapi ia punya kisah perjuangan panjang untuk menjadi pengusaha batik. Ia mengawali usahanya dari nol. Saat usia sekolah dasar, keterlibatan Rochmad dengan dunia batik diawali dengan membantu ayahnya yang banyak mendapat pesanan membuat motif batik dari para juragan batik. Dari situ, bakatnya terasah untuk membuat motif-motif baru. Hingga kini, ia masih menyimpan ratusan lembar kertas bergambarkan motif batik yang pernah dibuatnya. Sayangnya, sebagian lembar motif itu mulai dimakan ngengat karena lebih sering tersimpan dalam lemari. Rochmad, tamatan SMP mulai terjun sebagai pengusaha tahun 1965 usai menikah dengan Suparmi (64) yang memberinya dua anak. “Saya berpikir, kenapa tidak saya coba membuat batik sendiri,” kata Rochmad yang usai SMP bekerja sebagai anak buah kapal. Karena keterbatasan modal, Rochmad hanya mampu membuat satu lembar batik selama bulan pertama.

Ia bekerja sama dengan sang istri. Ide motif Rochmad dituangkan ke atas kain oleh istri yang semasa remajanya giat belajar membatik meski dengan mencuri-curi agar tak ketahuan orangtuanya. Kain “coret-coretan” itu ia bawa dengan bersepeda ke pembatik di sebuah desa di Plupuh, Sragen. Hasilnya ia pasarkan sendiri ke sebuah toko batik terkenal “Bawah Sawo” di Coyudan, Solo. “Semula ditolak karena mengira saya mencuri. Masak jual batik kok hanya bawa kain selembar.

Tapi setelah saya yakinkan, lama-lama pemilik toko mau membeli kain batik saya,” kenang Rochmad, Jumat (24/2). Sejak itu, usahanya semakin maju. Dari semula hanya mempunyai satu pekerja, pada saat puncak kejayaan batik tahun 1975-1990-an pekerjanya membengkak hingga 40 orang. Kemampuan Rochmad menciptakan motif-motif baru membuatnya hingga kini tak takut bersaing. Baginya kreativitas nomor satu. “Sejak tahu kalau batik tulis bisa menyerap banyak tenaga kerja, saya lebih senang membuat batik tulis,” katanya. Kini banyak pembatik yang dulu dipekerjakan Rochmad, beralih profesi menjadi petani atau perajin kayu karena terpuruknya batik tulis. “Kalau saya sedang main ke sana, mereka tanya, kok Bapak nggak bawa kain untuk saya. Mereka masih ingin membatik, sayang tangan terampil mereka tak termanfaatkan,” katanya. Ia tidak semata-mata menyalahkan kehadiran batik printing, melainkan rendahnya etika pengusaha batik printing yang ia sesalkan. “Batik printing sering diberi cap batik tulis sehingga orang awam yang tidak tahu terkecoh dan membeli batik printing yang mereka pikir batik tulis,” keluhnya.

Rochmad dengan dibantu anak keduanya, Siti Nurohmah, (35) kini banting setir membuat batik dalam bentuk pakaian jadi, seperti daster dan busana muslim. Dengan merek Batik Sekar Melati, ia membuka showroom di Sondakan, Laweyan, sedang pengerjaannya di Kauman. Dengan cara itu, ia masih bertahan di dunia batik yang dicintainya. Batik tulis hampir tak pernah dibuatnya lagi karena jarang ada pesanan. “Saya masih semangat berjuang. Saya optimistis batik kembali jaya. Sayangnya umur saya di atas 60 tahun sudah dimatikan bank, tak bisa cari pinjaman. Padahal sekarang jarang ada orang mau beli kontan kain batik tulis, maunya konsinyasi. Kami kesulitan modal,” katanya. Ia berharap batik tulis meraih kembali kejayaannya sehingga perajin batik yang bangkrut atau alih profesi bisa kembali menggeluti batik yang jadi aset budaya bangsa. Pejabat dapat membantu mengangkat kembali batik dengan cara tak malu-malu menggunakan pakaian atau jas batik tulis. “Orang Afrika percaya diri menggunakan kain tradisionalnya, mengapa pejabat kita tak berani memakai jas batik tulis di forum internasional,” katanya. (sri rejeki)

ROCHMAD HUSEN
* Tempat Tanggal Lahir Solo, 3 Agustus 1939
* Pendidikan Terakhir SMP 5 Solo (kelas 2)
* Usaha Batik Sekar Melati

Sumber : Harian Kompas

Mantan Kernet Bus yang Pengusaha Batik

Monday, January 23rd, 2006

Kegetiran hidup tak menyurutkan perjuangan Naomi Susilowati Setiono (46) dalam menjalani kesehariannya. Dengan berapi-api, wanita sederhana ini menuturkan kisah hidupnya yang diawali sebagai tukang cuci baju, pemotong batang rokok, kernet bus antarkota, dan akhirnya menjadi pengusaha serta perajin batik lasem.

Semua ini karena kebaikan Tuhan, ujarnya mensyukuri perbaikan hidup yang dialaminya. Meski bukan pengusaha batik nomor wahid di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, perempuan peranakan Tionghoa ini sangat terkenal di dunia perbatikan, khususnya batik lasem.

Hingga tak heran, rekan-rekannya memintanya untuk menjadi ketua cluster batik lasem, yang hingga kini belum diberi nama. Dalam waktu dekat, cluster ini akan dinamai menjadi semacam asosiasi perajin/pengusaha batik lasem.

Jenis batik lasem (atau laseman) yang perkembangannya jauh tertinggal dibanding batik solo dan yogya ini terus digeluti, meski masih menggunakan peralatan tradisional. Naomi yang memimpin Batik Tulis Tradisional Laseman Maranatha di Jalan Karangturi I/I Lasem, Rembang, ini mengerahkan 30 perajin guna mendukung usahanya.

Selain mengemban status single parent, Naomi terkenal aktif sebagai pendeta di gereja setempat. Bahkan, akhir-akhir ini ia disibukkan dengan mengisi seminar maupun pemaparan ke berbagai instansi mengenai seluk-beluk batik lasem.

Ia juga tengah merintis pengaderan perajin batik ke sekolah-sekolah secara gratis. Kalau tidak kami sendiri yang mengader, siapa lagi? Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, ujarnya.

Naomi mengaku pernah melontarkan gagasannya kepada Bupati Rembang Hendarsono (saat itu) untuk menyisipkan cara membatik ke dalam pelajaran muatan lokal. Sayangnya, ide ini tak ditanggapi dan dianggap tidak bisa berhasil.

Akhirnya, ia langsung turun ke sekolah-sekolah untuk menyampaikan gagasannya itu. Kini, ia masih menunggu tanggapan dari sekolah-sekolah. Jika masalah tempat, saya bisa meminjam balai desa, tak perlu keluar uang, ujarnya.

Meski sangat sibuk, produktivitasnya tak berubah. Setiap bulan Naomi dan rekan-rekan pekerja di tempatnya menghasilkan rata-rata 150 potong batik tulis. Batik-batik bermotif akulturasi budaya Cina dan Jawa ini dikirim ke berbagai daerah, seperti Serang (Banten), Medan (Sumut), dan Surabaya (Jatim).

Naomi menjelaskan, usaha batik yang digeluti sejak tahun 1990 ini merupakan limpahan dari orangtua. Namun, ia tidak semata-mata menerima begitu saja.

Pada tahun 1980, lulusan Sekolah Menengah Apoteker Theresiana Semarang ini mendapatkan masalah sehingga dikucilkan dari keluarga yang saat itu terpandang di wilayahnya. Ditolak dari keluarga yang telah mengasuhnya 21 tahun itu mau tak mau harus diterimanya. Ia pun pindah ke Kabupaten Kudus.

Di tempat ini ia menyingsingkan lengan baju dan bekerja sebagai pencuci pakaian. Tergiur penghasilan yang lebih tinggi, ia pindah sebagai buruh pemotong batang rokok di Pabrik Djarum Kudus.

Karena kurang cekatan, ia hanya mendapatkan penghasilan yang sedikit, Rp 375 per hari. Padahal teman-teman dapat memotong rokok berkarung-karung, bisa mendapat uang Rp 2.000-an, ujar lulusan Sekolah Tinggi Theologia Lawang, Jatim, ini.

Ia hengkang dan berpindah sebagai kernet bus Semarang-Lasem. Singkat cerita, orangtuanya memintanya kembali ke Lasem. Itu pun dengan berbagai cemooh. Saya ditempatkan di bawah pembantu. Mau minta air dan makan ke pembantu. Saya juga tidak boleh memasuki rumah besar, ujarnya.

Perlakuan ini ia terima dengan lapang dada. Sedikit demi sedikit ia mempelajari cara pembuatan batik lasem. Mulai dari desain, memegang canting, melapisi kain dengan malam, hingga memberi pewarnaan diperhatikannya dengan saksama.

Hingga suatu hari, tahun 1990, orangtuanya memutuskan tinggal dengan adik-adiknya di Jakarta. Usaha batik tidak ada yang meneruskan. Dari titik inilah Naomi dipercaya untuk melanjutkan usaha batik warisan turun-temurun ini.

Kesempatan ini digunakan Naomi untuk mengubah sistem dan aturan main bagi pekerjanya. Ia memberi kesempatan kepada perajin untuk menunaikan ibadah shalat. Sesuai kewajiban yang ingin mereka jalankan, saya memberikannya. Ini salah satu sistem baru yang saya terapkan, ujarnya yang pernah bercita-cita sebagai arkeolog.

Suasana kerja juga bukan lagi atasan dan bawahan. Ia menganggap perajin adalah rekan usaha yang sama-sama membutuhkan dan menguntungkan. Jika siang hari turun tangan dalam memproses batik, malam hari digunakannya untuk membuat desain.

Hingga kini, ibu dari Priskila Renny (23) dan Gabriel Alvin Prianto (17) ini masih tetap eksis di dunia perbatikan. Perlahan namun pasti, batik lasem mulai menggeliat dan dilirik kembali oleh para pencinta batik, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Sumber : (Ichwan Susanto) Harian Kompas

Batik Tulis yang Melenceng dari Pakem

Sunday, January 22nd, 2006

- Paina Hartono -

Warna alami pada batik tulis kurang cerah dibanding dengan batik yang menggunakan pewarna khusus kain. Kendati demikian, konsumen batik tulis warna alam ini tak pernah surut, bahkan mereka datang dari Jepang dan Malaysia, berburu batik sampai ke Dusun Kenongo, Desa Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur.

Paina Hartono (44) yang menggeluti usaha batik tulis warna alam sejak tahun 1997 ini pun relatif tak pernah sepi pesanan. Pembeli dari Jepang, misalnya, dalam setahun minimal empat kali memesan batik yang motif dan warnanya berubah-ubah, sesuai dengan selera konsumen di negeri tersebut.

Kalau batik tulis biasanya menonjolkan corak tradisional, maka Paina melahirkan corak batik tanpa tema tertentu atau menunjukkan ciri khas daerah pembuatnya.

”Kalau corak batik hanya tergantung pakem, ya repot. Konsumen batik tulis kan diasumsikan kalangan berduit, permintaannya beragam, motif maupun warnanya,” kata ibu tiga putri ini.

Awalnya apa yang dilakukan Paina mendapat sorotan dari ”pemain” lama karena batik tulis produknya dianggap melenceng dari pakem batik. Hal itu tak membuat perempuan yang pernah menjadi pembatik di perusahaan batik tulis di Sidoarjo itu berhenti. Modal terbatas tetap membuat Paina bisa menghasilkan batik tulis warna alam berciri khas bunga sirih.

Dari dua lembar batik tulis pada tahun 1990-an itu, kini usahanya membukukan omzet puluhan juta rupiah per bulan. Pemesan dan pembeli biasanya langsung datang ke Tulangan karena Paina tak buka toko di tempat lain, kecuali menitipkan sebagian produknya di sebuah toko kerajinan di Surabaya.

”Promosi dari mulut ke mulut tentang batik tulis buatan saya mengundang konsumen baru. Meningkatnya pesanan memaksa saya menjual sepeda motor. Uang Rp 7,8 juta itu saya pakai untuk membeli bahan baku batik pesanan,” ujar pemilik usaha batik tulis halus warna alami ini.

Semakin banyak pesanan membuat Paina bisa melibatkan para perajin yang tinggal di desa sekitarnya. Di antaranya di Desa Patihan, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo, yang terletak sekitar 26 kilometer selatan Surabaya. Desa ini kemudian tumbuh sebagai ”desa batik” baru karena hampir seluruh ibu rumah tangga dan remaja di kampung ini bekerja sebagai pembatik.

Sekarang, jumlah pembatik di Desa Patihan dan Desa Kenongo sekitar 700 orang. Paina bercerita, ketika krisis moneter terjadi dan banyak orang menganggur karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), mereka diajak mengisi waktu dengan membatik.

”Saya ingin orang tahu bahwa kerja membatik itu lebih mengasyikkan daripada kerja di pabrik. Mereka bisa mengerjakannya di rumah, bayarannya pun lumayan. Untuk pembatikan satu lembar kain ukuran empat meter, bisa dapat Rp 50.000,” kata Paina yang kini melibatkan 150 orang perajin.

Namun, Paina tak mengelak adanya anggapan bahwa membatik kurang menguntungkan. ”Sewaktu saya masih membatik ikut orang, saya digaji Rp 40.000 per bulan, tanpa melihat berapa potong batik yang sudah saya selesaikan. Mungkin keadaan seperti ini yang membuat orang jadi enggan kerja membatik,” ujar Paina yang ruang pamer produknya berlokasi di Jalan Raya Kenongo Timur, Tulangan, Sidoarjo.

Eksklusif

Menggeluti usaha batik tulis warna alam, disadari Paina tak bisa berkembang dengan cepat. Pasalnya, tak semua kalangan berminat pada batik tulis warna alam.

”Orang Jawa Timur, misalnya, tidak tertarik batik tulis warna alam karena dinilai kurang ngejreng. Jadi, konsumen batik tulis warna alam justru orang dari luar provinsi, mereka memburu keeksklusifan batik tulis ini,” ujarnya.

Untuk mempertahankan kualitas warna alam pada batik tulis, Paina mengikuti langsung semua proses pembuatan batik, mulai dari melukis motif atau corak, mewarnai, termasuk membatik.

Pewarnaan dia lakukan dengan memanfaatkan berbagai tumbuhan, antara lain pohon mangga (semua bagian bisa dipakai untuk pewarna), mahoni, kembang sepatu dan akar mengkudu.

”Semua tumbuhan itu bisa dipakai untuk pewarnaan dengan cara merebus dan warna batik akan tetap awet,” ujarnya.

Paina pernah memesan gambar corak batik pada orang lain, namun dia ternyata kesulitan mencocokkan warna dengan motif tersebut. Oleh karena itulah, Paina lebih suka menggambar sendiri corak batiknya.

”Kalau saya yang membuat motif, warna pun otomatis muncul sehingga hasilnya memuaskan,” kata Paina yang juga kerap mendapat pesanan batik bermotif logo perusahaan, organisasi, dan partai politik.

Selain menggambar sendiri motif batik, Paina juga menerima pesanan batik tulis dengan motif yang dibawa si pemesan.

”Saya terima motif apa saja, mau motif bunga yang merunduk atau tegak, diberi nama, atau hiasan lain pun bisa,” katanya.

Motif yang fleksibel untuk batik, bagi Paina, justru membuatnya lebih kreatif. ”Saya tidak terikat pakem bahwa motif batik harus begini-begitu. Yang saya pegang, satu desain hanya dipakai maksimal untuk dua kain, memang sangat eksklusif,” katanya. Harga kain batik tulis produknya berkisar dari Rp 250.000 sampai Rp 2 juta per lembar.

Untuk membuat satu kain batik ukuran 250 x 85 sentimeter, dia memerlukan waktu satu minggu sampai sebulan, tergantung pada motif masing-masing kain. Bahkan pada pembuatan batik tulis sutra yang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM), dengan motif relatif rumit, dan warna yang sulit muncul, memerlukan waktu pembuatan sampai tiga bulan.

Sumber : (Agnes Swetta Pandia)
Kompas cetak, Jakarta

“Insinyur Briket” Tanpa Sekolah

Monday, January 16th, 2006

Tatkala sebagian besar orang masih meributkan standar kompor briket batu bara dan keamanannya, Dhimas Bayu Adji Pamungkas (49) telah memproduksi tujuh macam mesin berbahan bakar briket. Padahal, ia tidak pernah mendapat pendidikan teknik mesin secara formal.

Semua mesin itu direkayasa setelah ia melihat keadaan sekelilingnya. ”Saya harus membuat yang sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan sendiri.

Ini lebih bermanfaat dan langsung bisa digunakan oleh sebagian besar orang tanpa harus mempelajari teknik yang rumit,” ujarnya.

Usaha rekayasa mesin-mesin itu dimulai pada tahun 2002, saat ia membutuhkan mesin pencelup bagi batik-batik buatannya. Membeli mesin pernah dijajaki, namun transaksinya dibatalkan. Ia tidak sanggup membayar mesin yang berharga puluhan juta itu. ”Saya baru satu tahun produksi, mana punya uang sebesar itu,” kata Dhimas.

Kebutuhan mesin pencelup memaksanya mempelajari berbagai jenis mesin itu dari internet. Ia membuat sketsa yang sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan gambar-gambar dari internet itu.

Dengan modal uang Rp 5 juta, ia membeli pelat dan alat las. Bengkel kecil di Padang Sumbu, Denpasar, berdiri dengan modal itu. Mulailah ia membuat mesin pencelup. Butuh tiga bulan sebelum mesin pertama layak digunakan. ”Sekarang, saya bisa membuat mesin untuk mencelup kain sepanjang 200 meter. Saya juga membuat mesin cetak batik yang paling laris di antara produk lain,” ujarnya.

Pertengahan tahun 2004, ia mendengar tentang briket batu bara. Ia tergiur dengan tawaran ongkos bahan bakar yang lebih murah jika menggunakan briket. Masalahnya, belum ada mesin atau alat yang cocok memakai batu bara.

Sekali lagi, bengkelnya memproduksi mesin baru. Mesin pengering menjadi produk pertama berbahan bakar batu bara. Lalu, berturut-turut bengkelnya menghasilkan oven pengering kayu, oven pembakar batu bata, mesin pengering kopi, mesin pengering gabah, dan terakhir, incenerator mini.

Pertengahan tahun 2005, ia memutuskan membentuk divisi teknik terdiri dari tujuh teknisi. Divisi itu bertugas merancang mesin-mesin yang semakin banyak permintaannya. ”Produk kami dibuat berdasarkan pesanan. Saya tidak sanggup merancang sendiri kebutuhan masing-masing konsumen,” tuturnya.

Tiga tahun setelah bengkelnya berdiri, ia sudah mempekerjakan 20 orang. Setiap bulan, omzet bengkel itu tidak kurang dari Rp 50 juta. Ia masih punya bisnis lain yang beromzet Rp 350 juta rupiah per bulan dengan 50 pekerja.

Berbagai bisnis

Perjalanan hidup Dhimas sulit disebut mudah. Menghabiskan masa kecil hingga remaja di Semarang, ia tidak merasa menemukan kecocokan bertahan di sana. Tidak ada usaha menjanjikan yang bisa dijalani di situ.

Bahkan setelah menikah dengan Dara Mehdia pada tahun 1976, ia tetap bekerja serabutan. Mengajar taekwondo pernah dilakukannya. Bisnis percetakan pernah digeluti. Akhirnya, ia memutuskan pindah ke Jambi pada tahun 1992.

Saat itu, bisnis perkayuan tengah cerah. Dengan cepat kehidupannya menanjak setelah menggeluti bisnis itu di Jambi. Satu tempat penggergajian, sebidang kebun, dan satu rumah menunjukkan keberhasilan itu.

Namun, ia harus kembali terempas saat bisnis kayu lesu pada tahun 1998. Dua tahun ia bertahan di Jambi tanpa kepastian akan melakukan apa. Jenuh dengan keadaan itu dan sadar kelima anaknya membutuhkan biaya sekolah, ia memutuskan berangkat ke Denpasar dengan bekal pas-pasan.

”Saya bukan siapa-siapa saat tiba di Denpasar. Saya tidak tahu apa yang bisa dikerjakan, namun yakin pasti ada jalan di kota ini,” ujar penyuka sayur asem dan ikan asin ini.

Ia dan Dara mengontrak kamar berukuran 3 x 4 meter di Denpasar. Setiap malam, ia mengunjungi kafe-kafe tempat wisatawan asing berkumpul. Ia bukan ingin bersenang-senang atau menjadi pemandu. Kepada para wisatawan itu ditawarkannya kain batik yang disesuaikan dengan budaya negara asal mereka. Ia pun menyatakan sanggup memproduksi pesanan mereka.

”Saya benar-benar nekat saat itu. Mulai terjun ke bisnis garmen, tetapi tidak mengerti sedikit pun soal benang dan pewarnaan. Bahkan, tidak ada modal untuk membeli kain,” ujarnya.

Modal produksinya berasal dari uang muka wisatawan yang tertarik memesan kain. Pesanan itu disubkontrakkan kepada pembuat kain di sekitar Denpasar. Keuletan dan kesabaran membuat ia mampu memproduksi sendiri batik-batik pesanan itu di tahun 2001. ”Pertama kali saya mempekerjakan lima karyawan yang jauh lebih mengerti soal garmen dibanding saya,” katanya.

Batik produksinya mengalir ke Italia, Spanyol, Perancis, Jepang, Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru. Sebagian besar rancangan dibuat oleh pemesan dan ia tinggal mencetak.

Sejak bengkelnya semakin ramai pemesan, ia serahkan kendali bisnis garmen kepada istrinya. Ia sendiri berkonsentrasi menangani pemasaran produk bengkel.

Bengkel dan pusat produksi batiknya menempati lahan 25 hektar di Padang Sumbu Kaja, Denpasar. Satu rumah yang terbilang mewah telah menggantikan kamar 3 x 4 meter yang ditempati ketika pertama kali tiba di Denpasar.

Sumber : (Kris R Mada) Harian Kompas

Nita Azhar Boyong Batik ke Jepang

Thursday, December 15th, 2005

MEMBOYONG batik dan memperagakannya di negeri orang, menjadi kebanggaan tersendiri bagi Nita Azhar, desainer muda dari Yogya. Tak cuma mengedepankan produk-produk karyanya yang dibawakan peragawan-peragawati di atas catwalk, namun juga memajang produk batik dan kerajinan dalam stand pameran.

Sehingga, tak heran ketika ada tawaran untuk ikut bergabung dalam misi promosi Pemda Yogya ke luar negeri, semaksimal mungkin diikutinya. Ada rasa bangga bisa ikut memajang produk khas dan unggulan Yogya hasil kreasinya di negeri orang.

Hal ini pula yang dilakukan dan dirasakannya ketika mengikuti rombongan Pemda DIY ke Kyoto, medio November lalu. Dalam rombongan kunjungan kerja yang dipimpin Gubernur DIY, Sri Sultan HB-X tersebut, Nita Azhar, selain menggelar fashion show menampilkan beberapa koleksi batik, juga menggelar produk-produknya di salah satu stand bersama dengan stand Yarsilk.

“Saya beruntung bisa memajang dan menampilkan karya batik Yogya bersanding bersama karya busana ternama di Jepang, koleksi Mr Nakanishi dari Japan Blue Indigo yang sudah kondang tersebut,” kata Nita kepada KR, di sela-sela menjaga standnya.

Rasa bangga Nita, lantaran Mr Nakanishi merupakan sosok yang tak asing lagi, sebagai pemilik dari perusahaan kimono terbesar di Jepang. “Jadi, inilah kesempatan saya dan delegasi lain untuk menyandingkan batik dengan busana internasional. Artinya, mengangkat produk batik ke nuansa global,” tambahnya.

Mempromosikan batik Yogya, berarti pula mempromosikan dan sekaligus memasarkan Yogyakarta ke dunia internasional, melalui Jepang. Hal ini juga dirasakan oleh anggota delegasi lain yang menjumpai kenyataan masih banyak publik Jepang, khususnya di Kyoto yang belum mengenal Yogya, karena lebih akrab dengan Bali.

Tak kurang dari 45 karya batik dibawa Nita Azhar, dengan bahan sutera dan motif wayang beber. Warna yang ditampilkan dalam pameran tersebut kebanyakan bermotif coklat dan warna kalem, sebagaimana selera orang Jepang.

KPH Wironegoro yang ikut dalam rombongan Pemda DIY tersebut juga mengunjungi stand produk batik pernik-pernik kerajinan dari Nita Azhar. “Corak dan motifnya sangat khas,” komentar suami GKR Pembayun ini.

Delegasi Yogya maupun pengunjung lain menilai ada perpaduan yang serasi antara batik-batik yang digelar Nita Azhar dengan tekstil dari Jepang yang dikedepankan oleh Japan Blue. Nita tak kenal lelah ketika punya tugas dan misi mempromosikan Yogya. Terbukti, belum usai pelaksanaan pameran di Kyoto, Nita pun mendahului pulang ke Yogya, karena hari berikutnya harus terbang ke Kuala Lumpur, untuk mengikuti acara Kuala Lumpur Asia Fashion Week. “Ya lelah, namun senang. Demi Yogya. Batik Yogya harus terus dipromosikan ke mancanegara,” tambahnya.

Sumber : (Ronny SV)-o KR