Archive for the ‘Persona’ Category

Semangat Tak Pantang Menyerah Fatiyah

Sunday, July 16th, 2006

Batik karya kelembutan tangan Fatiyah sampai diminati pasar mancanegara. Berbagai penghargaan telah diterima termasuk penghargaan Upakarti tahun 1993 atas keberhasilannya mendalami industri kerajinan batik.

angan mudah menyerah. Itulah moto hidup yang dipegang erat Fatiyah Abdul Kadir. Wanita kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah ini sukses mengarungi hidup yang penuh tantangan. Keuletan Fatiyah mendalami usaha batik berbuah manis. Hasil karya kelembutan tangan Fatiyah sampai diminati pasar mancanegara.

Semua kesuksesan yang diraih ibu empat anak dengan delapan cucu ini tidak datang begitu saja. Berbagai halangan dan sempat berbuah kegagalan telah dirasakan. Namun berkat keuletan dan kerja keras, kegagalan menjadi keberhasilan. Buah manis tak hanya dirasakan istri Ahmad Umar ini. Warga setempat juga ikut mengenyamnya karena dipekerjakan olehnya. (more…)

Jejak Barack Obama - Daster Batik Tante Anne

Friday, July 14th, 2006

Ann Dunham, ibunda Barack Obama alias Barry, tinggal di Jakarta berpuluh-puluh tahun. Di kawasan Menteng Dalam, Jakarta Selatan, Ann sering dipanggil Tante Anne. Meski orang bule, namun Anne suka batik. Dia sangat senang daster batik.

“Saya sering diminta menjahit daster Tante Anne. Kebanyakan batik, dia suka kain batik,” kata Eti Hayati (51), tetangga Anne pada tahun 1968-1971 di Menteng Dalam, Jakarta Selatan. Setelah Anne tidak tinggal lagi di Menteng Dalam, Anne tetap masih ingat dengan Eti.

“Karena Tante Anne tahu kalau saya bisa menjahit, dia akhirnya sering meminta dijahitkan daster,” ujar Eti yang hingga saait ini masih berprofesi sebagai penjahit. Anne menjadi langganan tetap Eti hingga tahun 1995, sebelum Anne meninggalkan Indonesia dan pulang ke Hawaii karena sakit. (more…)

Hj Siti Ruminah Sudiono - Dari Kepedulian terhadap Nasib Pembatik

Sunday, July 9th, 2006

Hasil karya batik selama ini begitu lekat dan tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Kekayaan corak dan ragam batik pun dimiliki di setiap daerah. Bahkan, sejumlah daerah di Indonesia telah berhasil memperkenalkan hasil produksi batiknya secara luas hingga ke mancanegara.

Namun, ternyata nasib batik khas Indramayu tak demikian adanya. Usaha batik yang ditekuni masyarakat Indramayu yang telah berlangsung turun temurun sejak zaman Belanda, bagai lumut di atas batu, hidup segan mati tak mau. Beragam hasil karya batik yang dihasilkan tidak dapat dipasarkan karena tidak memiliki konsumen, apalagi pelanggan. Nasib para pembatik pun menjadi kian terpuruk.

Melihat keterpurukan nasib pembatik dan batik Indramayu secara keseluruhan, jiwa Siti Ruminah pun terpanggil. Di tahun 1972, istri dari H Sudiono itu mulai berusaha untuk memperbaiki kondisi tersebut dengan menjadi pengepul (pengumpul, red) batik. Padahal, saat itu dia telah menjadi produsen es mambo yang sukses.

”Namun saya alihkan usaha es mambo ke usaha batik, karena kepedulian saya terhadap nasib pembatik dan batik khas Indramayu. Apalagi motif batik khas Indramayu sangat bagus dan beragam,” kata ibu dari lima orang anak itu.

Menurut Siti Ruminah, motif batik khas Indramayu sampai saat ini masih asli sejak zaman Belanda. Motif itu diantaranya kapal kandas, ikan etong, merak ngibing, kuyong, pesawat penganten, dan masih banyak lainnya. Semua motif itupun memiliki nilai seni yang tinggi dan masing-masing mempunyai nilai sejarah tersendiri.

Kiprah sebagai pengepul batik dimulainya dengan mengumpulkan beberapa lembar kain batik dari warga di sekitar rumahnya yang beralamat di Jalan Siliwangi No 315 Kelurahan Paoman, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kemudian, lembaran-lembaran kain batik itu dijualnya kembali ke sejumlah rekannya.

Kebetulan, nenek empat cucu itu memang aktif di berbagai organisasi seperti Dharma Wanita Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, tempat suaminya bertugas. Selain itu, dia juga rajin berolah raga tenis sehingga memiliki banyak teman. Nah, para kenalannya itulah yang kemudian menjadi sasaran pemasaran batik-batiknya.

Lama kelamaan, kain batik yang dijualnya itu semakin dikenal luas. Para pembeli pun mulai berdatangan ke rumahnya. Memang tak banyak batik yang dibeli orang saat itu, hanya berkisar satu sampai dua lembar. Namun, dengan diiringi kualitas batik yang bagus, minat pembeli semakin tinggi dan usahanya semakin berkembang. Kain batik khas Indramayu pun mulai dikenal masyarakat luas dengan sebutan Batik Paoman, sesuai dengan nama tempat awal mula batik Indramayu berkembang.

Wanita yang menjabat sebagai Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Wanita Indonesia (IWAPI) Indramayu sejak tahun 2000 tersebut lantas mulai berpikir untuk lebih serius mendalami usaha batik. Karena itu, dia tidak lagi berperan hanya sebatas sebagai pengepul. Dengan merekrut tenaga kerja sebanyak dua orang, dia pun mulai memproduksi batik di rumahnya sendiri. Batik yang diproduksinya pun beragam mulai dari batik tulis, batik cap, hingga batik printing.

Untuk lebih memperkenalkan kain batik hasil produksinya maupun kain batik yang dikumpulkannya dari warga, di tahun 1980-an Siti Ruminah mulai memasang iklan. Tak tanggung-tanggung, iklan itu dipasangnya melalui internet, yang saat itu baru saja ada. Dampaknya, kain batik Paoman dikenal di berbagai negara.

Tercatat, ada sejumlah pembeli dari Jepang, Belanda, dan Australia yang langsung memesan batiknya itu. Bahkan, para pembeli dari negara-negara tersebut kini menjadi pelanggan tetapnya. Selain itu, banyak pula pembeli dari berbagai kota di Indonesia yang memburu kain batiknya. Usahanya pun semakin berkembang dan tenaga kerja yang direkrutnya kini telah mencapai 63 orang.

”Namun, saat itu saya khawatir corak batik Paoman akan diklaim pihak lain, seperti halnya batik Pekalongan yang dipatenkan oleh Malaysia. Karena itu, saya mulai memperjuangkan hak paten untuk corak batik Paoman melalui Pemkab Indramayu,” tutur anak kedua dari 13 bersaudara pasangan Wasa Harja Prawira dan Sutinah itu.

Niat Siti Ruminah untuk mematenkan batik Paoman mendapat tanggapan dari Pemkab Indramayu. Dan kini, dari sekian banyak corak batik Paoman, 94 persen di antaranya telah dipatenkan.

Berdasarkan klasifikasi yang dilakukan Balai Batik Indonesia, corak batik Paoman memang memiliki banyak corak dan motif. Berdasarkan masukan dari para konsumennya, Siti Ruminah lantas mulai memvariasikan corak batik Paoman. Menurut dia, batik Paoman sebenarnya hanya memiliki satu warna dasar, yakni putih. Namun, warna batik Paoman itu dikembangkannya hingga beragam.

Selain warna, kain batik yang diproduksinya juga mulai dikembangkan menjadi produk siap pakai. Awalnya, batik Paoman hanya berupa lembaran kain. Namun kini, batik Paoman telah menjelma dalam bentuk pakaian, seprei, bed cover, gorden, tas, sandal, dan lain-lain.

”Selain memperkenalkan produk melalui internet, saya juga rajin mengikuti berbagai pameran sehingga saat ini saya telah memiliki pelanggan tetap dari Bandung, Jakarta, Bogor, Bali, dan beberapa negara asing,” kata Siti Ruminah.

Dengan banyaknya pelanggan maupun pembeli dari berbagai kota, Siti Ruminah lantas membuka cabang usaha di Jakarta dan Bali. Omset penjualannya pun mencapai rata-rata 30 lembar per hari untuk kain batik tulis, ratusan lembar kain batik cap, dan ribuan lembar kain batik printing.

Selain berdasarkan pesanan, sistem pemasaran juga dilakukan dengan menyediakan batik di toko-tokonya. Dan, dengan sistem pemasaran cash and carry, usaha yang dikembangkannya itu tak pernah terkendala masalah dana.

Kesuksesan usaha itu tak membuat Siti Ruminah melupakan para pembatik lainnya. Dengan usahanya yang semakin berkembang, dia pun terus merekrut tenaga kerja yang dilatihnya agar bisa membatik. Selain itu, dia juga menjalin kerja sama dengan ratusan orang baik secara individu maupun kelompok sebagai mitra kerjanya. Para mitra kerja itu diberinya modal, bahan, dan contoh corak batik untuk dibuat. Selanjutnya, batik-batik itu dipasarkannya.

”Untuk menanamkan kecintaan batik pada generasi muda, saya juga membuka les membatik bagi sisiwa-siswa SMA. Saat ini, siswa yang ikut les membatik telah mencapai 120 anak,” ujar Siti Ruminah.

Semua upaya Siti Ruminah untuk mengembangkan batik Paoman lantas mendapat penghargaan dari pemerintah. Pada tahun 1986, dia mendapat Adhikarya dari Bakorwil Cirebon. Pada tahun 1994, penghargaan Adhikarya itu diperolehnya kembali dari gubernur Jawa Barat.

Selain itu, IWAPI juga memberinya penghargaan sebagai Wanita Pengusaha Indoensia Berprestasi tingkat nasional pada tahun 2002. Pada tahun yang sama, dia juga mendapat penghargaan sebagai UKM Berprestasi dari presiden RI dan gubernur Jawa Barat. lis

Nama lengkap: Hj Siti Ruminah Sudiono
TTL: Indramayu, 25 Juni 1951
Nama suami: H Sudiono
Anak: lima orang
Cucu: empat orang
Nama usaha: Batik Paoman Art
Alamat rumah dan usaha: Jalan Siliwangi No 315 Indramayu
Telepon usaha: (0234) 271151
Email usaha: batikpaoman@yahoo.com
http://welcome.to/batikpaoman

Sumber : >Republika Online

Pesona Metamorfosis Batik

Sunday, May 28th, 2006

Di tangan para desainer, batik-batik itu tampil menawan.

Nama Komarudin Kudiya boleh jadi mulai terdengar ketika dia memecahkan rekor dengan membuat kain batik terpanjang. Komar, panggilan pria ini, adalah orang yang setia dengan cara mengolah batik sehingga tampil beda. Komar menyajikan batiknya dengan motif-motif unik seperti bentuk geometris yang berasal dari desain-desain islami dan motif bernuansa arab. ”Motif-motif ini juga bisa disesuaikan dengan teknik batik yang dikerjakan,” kata pemilik Rumah Batik Komar ini.

Ketika akhirnya Komar bertemu dengan para perancang busana Muslim, batik-batiknya pun hadir menawan dengan beraneka cutting, aplikasi, dan paduan kain.

Ketika berlangsung pergelaran busana di Butik Mumtaaz, Jakarta, belum lama ini, batik-batik Komar tampil indah lewat karya para desainer seperti Boyonz Ilyas, Kusuma Putri, dan Toera Imara.

Tentu saja, masing-masing desainer mencuatkan ciri khas tersendiri. Seperti Kusuma Putri yang menyedot perhatian dengan kebaya tunik berwarna terang yang berpadu dengan kain thai silk dan bordir di atasnya. Sedangkan Toera Imara mencuat dengan busana berwarna ungu dan kuning kunyit yang lengkap dengan aplikasi. Inilah metamorfosis selembar batik.

Sumber : (neh) Republika Online

Untuk Membiayai Sekolah Anak: Membatik Hingga Larut Malam

Sunday, May 21st, 2006

Jika anda melintas di Jl Patangpuluhan Wirobrajan Yogyakarta, ada pemandangan yang cukup menarik di sisi selatan jalan. Seorang ibu tengah tekun membatik, sambil menunggui dagangan bensin ecerannya. Asap dari anglo tempat pemanasan malam, terkadang menyembul di sela kios bensinnya. Sumiyatun, ibu 4 anak itu, membatik untuk menambah penghasilan keluarga, terutama untuk biaya pendidikan anak-anaknya yang dirasa makin mahal.

“Ini kerja borongan mbak, ya kalau dihitung sehari dapat Rp 5 ribu,” kata Ny Atun menjawab pertanyaan KR. Saat dilihat begitu banyak gulungan kain di bawah kakinya, Ny Atun menjelaskan, kalau lembaran ini ya dihargai sekitar Rp 1.000.

Biaya pendidikan anak yang dirasa tinggi, membuat Ny Atun harus bekerja ekstra keras. Bahkan, bila perlu hingga larut malam terus membatik. Anak-anaknya, tidak ada yang telaten membantu ibunya membatik. “Kadang-kadang tak terasa saya membatik sampai di atas jam sebelas malam,” tambahnya.

Saat dijumpai KR, menjelang magrib, Ny Atun masih membatik dengan bantuan lampu penerangan yang dipasang di pinggir kios bensinnya.

Sang suami bekerja menarik becak, menurut Sumiyati penghasilannya menurun karena sudah kalah bersaing dengan bus kota.

Begitu juga, bila penjualan bensinnya sepi, terkadang hanya bisa terjual sekitar 20 liter. “Lha sekarang ini kan saingan juga banyak, penjual bensin eceran rasanya hampir ada di setiap tepi jalan,” tambahnya.

Beban keluarganya makin berat, karena anak ragilnya yang kembar dampit ada yang tidak bisa tumbuh kembang dengan normal, sehingga perlu perhatian khusus pula.

Semangat Ny Atun patut diacungi jempol, apalagi kerja kerasnya juga untuk membiayai anaknya yang kini menempuh pendidikan D3 di universitas ternama. Apalagi, biaya kuliah saat ini relatif tidak sedikit.

“Kami ingin juga mengembangkan usaha, namun terbatas pada modal. Kalau saja ada yang bersedia menolong, karena untuk utang ke bank kan harus ada jaminan.

Terpaksa kami utang pada perseorangan,” katanya. Ny Atun menjelaskan, dirinya tidak mendapat dana kompensasi BBM namun terkadang mendapat jatah Raskin.

Sumber : (Fia)-k Kedaulatan Rakyat

Batik Semarangan yang Terlupa

Thursday, May 18th, 2006

Ragam motif batik di Jawa Tengah selama ini lebih didominasi Solo dan Pekalongan, dua kutub yang masing-masing mewakili kultur pedalaman dan pesisir. Namun, sebenarnya kekayaan Jateng akan ragam motif batik tidak terbatas di dua wilayah itu. Hampir semua wilayah di provinsi ini memiliki motif khas.

Sayang, kekhasan motif batik di luar Solo dan Pekalongan jarang atau mungkin tidak pernah terangkat ke permukaan. Beberapa di antaranya kini nyaris tinggal legenda, salah satunya batik semarangan. Pada abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-19, batik semarangan pernah mencapai zaman kejayaan karena dipakai semua kalangan, bangsawan maupun rakyat jelata.

Namun, konon kejayaan itu berakhir menyusul meletusnya Gunung Ungaran akhir abad ke-19. Setelah itu batik semarangan tak banyak lagi dipakai sebagai busana khas. “Lama-kelamaan orang Semarang pun menjadi lupa motif batik Semarang (semarangan),” kata Zhilla Maya, perajin batik semarangan.

Menurut Zhilla, motif batik semarangan mulai disibak lagi tahun 1980-an. Salah satu motifnya adalah sarung kepala pasung. Motif ini didominasi warna cokelat dan hitam dengan ornamen lebih mengarah bentuk tumbuhan. Dominasi warna cokelat dan gelap menampilkan kesan agung. Uniknya, motif batik semarangan justru diketahui dari hasil repro Los Angeles Country of Art, yang menampakkan motif sarung kepala pasung yang pernah dibuat tahun 1910.

Akibat keterpurukan cukup lama itu, batik semarangan hingga kini masih jarang diketahui masyarakat, bahkan warga Semarang sendiri. Ditambah tidak banyak pengusaha atau perajin batik yang mengembangkan jenis batik ini.

Zhilla adalah satu dari segelintir pencinta batik asal Semarang yang peduli dengan kelangsungan batik Semarang. Bersama sejumlah kawannya, Zhilla mengembangkan pembuatan batik semarangan.

Batik semarangan buatan Zhilla mengacu pada unsur alam, sebagaimana cara pembatik tempo dulu mengerjakan batik jenis ini. Unsur alam ini terutama ditekankan pada bahan pewarnanya yang hampir semuanya berasal dari alam. Misalnya untuk warna kuning dan hijau, Zhilla menggunakan buah jelawe.

Sumber : (HAN) Harian Kompas

Judi Achjadi dan Kain-kain Adati

Friday, April 7th, 2006

Helai-helai kain hinggi itu tak cuma dibentang, dipandang, dan diraba untuk dikaji ragam hias dan teknik pembuatannya. Untuk mengetahui jenis pewarna dan jumlah serat benangnya, kain-kain tenun Sumba itu pun diteropong dengan kaca pembesar. Sebagian bahkan dicium untuk mengidentifikasi jenis benang yang dipakai.

Begitulah antara lain yang dilakukan Judi Knight- Achjadi di hari-hari menjelang pameran kain tenun Sumba di Bentara Budaya Jakarta, yang rencananya akan diresmikan Jumat (7/4) malam ini. Dalam kegiatan pemeran berjudul ”Heavenly Cloths of Sumba” itu, Judi (71) berperan sebagai kurator yang bertugas menyeleksi dan menulis keterangan bagi setiap helai kain yang akan dipertontonkan.

Menjadi kurator pameran kain tradisional Indonesia bukan pertama dilakukan Judi. Ia sudah pernah melakukannya untuk sejumlah pameran lain, termasuk pameran koleksi kain Wastraprema dalam rangka peringatan 25 tahun perhimpunan pencinta kain adati Indonesia itu di Museum Tekstil Jakarta, tahun 2001.

Tahun lalu, bersama kurator lain, ia juga ikut menyiapkan pameran tentang pengaruh China dalam busana dan tekstil tradisional Indonesia yang diselenggarakan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di Museum Nasional.

Pada tahun 1999, perempuan berdarah Kanada ini bahkan dipercaya menjadi kurator Museum Tekstil Jakarta, yang memperoleh sebagian koleksi awalnya dari perkumpulan Wastraprema, yang antara lain dimotori oleh para kolektor kain terkemuka, seperti Jo Seda dan Herawati Diah.

Meski selalu menolak disebut ahli, keluasan dan kedalaman pengetahuan Judi soal kain adati Indonesia tak bisa diragukan. Ia bisa bicara panjang-lebar dan penuh semangat tentang kain dan busana adat dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari kain ulos Batak, baju kurung Minangkabau, songket Palembang, kain kebaya Jawa, sampai macam-macam kain tenun dari kawasan Indonesia timur, termasuk Sumba.

Buku

Di kalangan kolektor, peneliti, dan pencinta wastra (kain) tradisional Indonesia, nama Judi Achjadi tak asing lagi. Sudah puluhan tahun istri Achjadi, pensiunan diplomat Departemen Luar Negeri RI itu berkecimpung di dunia busana dan kain adati Nusantara.

Berkat ketekunannya meneliti dan membuat catatan, Judi sudah menghasilkan tak kurang dari 11 buku, baik yang sepenuhnya ditulis sendiri maupun yang digarap bersama para penulis lain. Hampir semua berbicara tentang kain dan busana tradisional Indonesia. Buku-bukunya, antara lain, Indonesia’s Arts & Crafts (1982), Batik: Spirit of Indonesia (1999), dan Butterflies and Phoenixes: Chinese Influence in Indonesia’s Textile Arts (2005).

Apa yang membuat Judi heran, tak banyak orang Indonesia yang berminat mempelajari dan menulis tentang kain adat dan busana tradisionalnya.

”Sejak saya menulis buku tentang busana tradisional perempuan Indonesia pada 1970-an, rasanya tak ada lagi orang lain yang melakukannya,” kata Judi menunjuk buku pertamanya, Traditional Indonesian Women’s Costumes, yang terbit pertama kali pada 1976. Menurut Judi, buku itu, yang sudah dua kali dicetak ulang, sampai kini masih digunakan sebagai buku pelajaran di beberapa sekolah di Kanada.

Judi, yang kelahiran Montreal tahun 1935, mengaku sejak kecil sudah senang pada berbagai kebudayaan tradisional. ”Saya mewarisi kesenangan ibu saya pada antropologi, arkeologi, dan sejarah,” kisahnya. Ia juga mengaku, saat remaja sempat bercita-cita menjadi seorang antropolog yang melakukan penelitian di negeri-negeri asing nan jauh.

Akan tetapi, Judi baru jatuh hati pada Indonesia, khususnya pada pakaian dan kain tradisionalnya, setelah ia mulai tinggal di Indonesia tahun 1958. Ketika itu ia mengikuti suami, Achjadi, seorang diplomat muda Indonesia di Kanada, yang menikahinya. Judi kemudian sempat mendampingi sang suami yang ditempatkan di berbagai negara, termasuk Vatikan.

Ingin berkebaya

Menurut Judi, ketika baru tinggal di Jakarta, sebagai perempuan muda ia ingin berpakaian seperti perempuan Indonesia umumnya. Ia pun mencoba memakai kain kebaya, yang waktu itu masih sangat umum dipakai. ”Tapi, mengenakan kebaya ternyata tak sesederhana yang saya bayangkan sebelumnya. Meski ada yang memuji, tapi ada pula yang menunjukkan kesalahan saya, dalam memilih dan cara memakai kain, misalnya,” kata Judi yang sudah jadi WNI sejak tahun 1959.

Judi, yang kini sudah jadi ibu tiga anak dan nenek lima cucu, mengatakan, pengalaman inilah yang membangkitkan minatnya mempelajari berbagai tradisi berbusana di Indonesia. Meski tak pernah belajar antropologi secara formal, sejak itu Judi mengaku rajin mengumpulkan informasi dan mencatat semua hal yang terkait dengan tradisi berbusana di berbagai daerah di Indonesia.

Ia juga secara khusus mendalami pengetahuan tentang berbagai kain tenun tradisional Nusantara. Ia kerap pergi ke berbagai daerah untuk menimba ilmu langsung dari para penenun di desa-desa.

Indonesia adalah negeri yang sangat kaya dengan tradisi kain tenun, katanya. Kain tenun dari setiap daerah memiliki keindahan tersendiri. Ia sangat menyayangkan banyak orang Indonesia yang tak lagi menghargai, apalagi memakainya.

Saat meneliti kain, Judi selalu menciumnya lebih dulu.

”Saya kebetulan alergi terhadap benang pintal tangan yang kasar. Dengan mencium sehelai kain saya bisa segera tahu jenis benang apa yang dipakai, benang pabrik atau benang yang dipintal dengan tangan,” katanya di sela-sela kesibukannya menyiapkan pameran di Bentara Budaya Jakarta.

Sumber : (Mulyadi Karim) Harian Kompas

Tati Purwadi: Mengawinkan Batik dengan Bordir

Sunday, April 2nd, 2006

Tati PurwadiPerkawinan silang sering membuahkan hasil yang unik dan cantik. Baik dalam perkawinan tumbuhan ataupun manusia. Label indo pada anak hasil perkawinan manusia Timur dan Barat salah satu contoh yang disukai. Perkawinan silang dalam urusan busana pun mampu menampilkan pesona yang indah. Itulah yang dilakukan Tati Purwadi (54) pada sandang asli Indonesia, batik. Ia memadukan kain batik dengan kerajinan bordir. Hasilnya, sebuah karya yang memanjakan mata.

DI showroom-nya yang diberi nama Butik Batik Pranandari, sebuah bentangan gorden di belakang meja kasir menjadi pandangan pertama yang menarik pengunjung. Kain gorden berbahan belacu itu akan menjadi kain biasa seandainya tak ada kupu-kupu atau bunga menempel di sana-sini. Kupu-kupu dan bunga tersebut adalah potongan dari kain batik. Setiap sisi kupu-kupu dan bunga dibordir sebagai perekat pada belacu sekaligus mempertegas bentuk. Pinggiran gorden dipermanis lagi dengan juntaian batik senada kupu-kupu atau bunga. (more…)

Makna Pelanggan Rewel bagi Anita: Melayani Para Pelanggan dengan Hati

Monday, March 20th, 2006

Pembeli adalah raja! Prinsip ini masih berlaku bagi A Anita Kusumawati dalam mengembangkan bisnis kerajinan tangan berupa kain dan kayu batik berbagai corak dan model serta fungsi. Ia pun rela mengganti produk baru ketika konsumen meminta bantuannya untuk memperbaiki barang yang pecah.
< di berbintang hotel sebuah tunggal pameran menggelar saat ditemui yang Anita kata barang dengan ganti saya Jepang, orang mayoritas konsumen menyenangkan demi Namun, kembali. utuh dibuat terjatuh karena berkeping-keping pecah sudah batik bercorak kayu mangkok mungkin, tidak baru,”>

Dari segi bisnis, cara tersebut pasti rugi besar, tetapi Anita justru mendapat hasil ganda. Pasalnya, konsumen yang dilayani secara baik secara sukarela justru mempromosikan produk kerajinan tangan kepada rekan dan keluarga di negaranya.

Menurut perempuan lajang ini, servis kepada pembeli kerajinan buatannya tidak hanya itu. Ia pun siap membantu pelanggan mengepak barang kerajinan ketika mereka hendak pindah rumah, baik di dalam maupun luar negeri.

”Saya kemas sendiri berbagai barang kerajinan milik pelanggan seaman mungkin. Dengan harapan, setibanya di negara tujuan, kondisinya tetap utuh karena kerajinan merupakan barang berharga bagi konsumen asing. Ini bentuk lain pelayanan purnajual bagi konsumen,” kata Anita yang mengekspor sendiri produknya ke Malaysia, Jepang, dan negara di Eropa.

Apalagi dengan memberikan pelayanan ekstra, para konsumen sukarela menjadi media promosi gratis. Intinya bisnis kerajinan tangan dituntut kesabaran karena konsumen rewel terutama pembeli asing dari Jepang.

Mereka tidak hanya memerhatikan corak, tetapi sampai ke detail proses membatik di kayu. ”Ada cacat sedikit saja, mereka pasti protes. Sikap kritis pembeli dari Jepang menempa saya untuk lebih teliti dan berusaha meningkatkan kualitas,” ujar Anita yang memiliki lima pegawai tetap.

Bekerja dengan hati

Menurut Anita, ia mulai tertarik merintis usaha kerajinan tangan berupa kain batik tulis dengan warna alam, dan membatik kayu pada tahun 1997. Kendati sibuk membuat skripsi, dia tetap menyempatkan diri berkreasi membuat lukisan untuk corak kain batik. Kain batik hasil karyanya pun selalu diminati meski coraknya melenceng dari pakem batik sesungguhnya.

Corak batik tulis yang dibuat Anita pun tidak berafiliasi ke daerah atau budaya tertentu. ”Apa yang ada di benak langsung dituangkan dalam bentuk corak kain batik,” tutur anak kedua dari empat bersaudara ini.

Dalam perjalanannya, dia pun sering diundang menggelar pameran tunggal di beberapa hotel berbintang di Surabaya. Padahal, promosi barang yang dibuat hanya dari mulut ke mulut saja.

Setiap kali menggelar pameran, Anita dipastikan mendapat kritik dan saran dari pengunjung. Apalagi hampir pada setiap pameran hadir pembeli baru, yang diajak pelanggan lama. Konsumen baru biasanya khusus datang dari Jepang dan datang ke pameran untuk memborong barang-barang kerajinannya.

Kendati demikian, pengalaman pahit pernah menimpa dirinya ketika menggelar pameran di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta tahun 2003. Hampir tiga hari hasil karya Anita yang dipajang paling belakang tidak dilirik pengunjung.

Namun, pada hari keempat, saat seorang pengunjung asal Jepang melintas di depan stannya, contoh barang sebanyak 20 kotak besar yang diangkut dari Sidoarjo laris manis. Pembeli tersebut langsung mengajak beberapa rekannya dari Jepang meninjau stan Anita yang fasih berbahasa Jepang itu.

Bahkan, berkat jasa konsumennya pula, Anita telah mengikuti pelatihan soal kualitas dan pemasaran barang di Osaka, Jepang, yang digelar oleh Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA). Faktor ini salah satu yang memotivasi perempuan kelahiran Lumajang, Jawa Timur, itu untuk terus berinovasi.

Dia pun lebih fokus menggarap kerajinan kayu batik yang diawali dengan pembuatan hiasan, seperti burung hantu, kendati membatik kain dengan corak sesuai dengan pesanan pembeli masih dilakukan. Corak batik cenderung bernuansa Jepang karena sesuai order konsumen di negeri sakura itu. Pembeli dari Jepang pun terus memberikan buku atau majalah berisi corak bahkan model serta barang terbuat dari kayu batik.

Tiga jenis kayu, yakni kayu wadang, puso, dan gembili, dipakai untuk bahan baku kerajinan tangan. Ketiga jenis kayu tersebut berpori-pori kecil dan tidak bergetah serta berwarna kuning. Getah harus dihindari karena produk kayu batik dipakai oleh konsumen di Jepang sebagai alat makan, seperti sendok, mangkok, piring, sumpit, dan alat minum.

Bahan baku kayu diperoleh dari pedagang di beberapa daerah di Jawa Timur. Tak jarang ketika order meningkat, dana ratusan juta rupiah harus siap untuk beli kayu. Bahan baku harus selalu siap karena order dari pembeli asing sering datang mendadak dan harus segera selesai.

Pengerjaan satu produk kayu batik hingga siap dipasarkan harus melalui 15 tahap. ”Proses kayu batik lebih berat dan rumit ketimbang kain batik tulis,” kata Anita yang telah membuat sekitar 500 jenis barang kerajinan tangan, baik kain maupun kayu batik, dengan ribuan desain.

Di tengah kesibukan mengembangkan usaha kerajinan tangan, tahun 1998 Anita mengikuti seleksi bersama 400 calon peserta kursus gratis bahasa Jepang. Meski tanpa tujuan jelas, Anita berhasil lulus ujian dan ikut kursus di Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya. Kefasihan berbahasa Jepang semakin membuka peluang bagi pemilik Kusuma Art & Collection, Sepanjang, Sidoarjo, itu untuk memasarkan karyanya.

Untuk mempertahankan kualitas barang, terutama produk kayu batik, Anita menggunakan pelapis atau coating yang diimpor dari Jepang. ”Keunggulan produk saya pada pelapis yang membuat barang tetap bagus dan mengilap meski dicuci,” ujar pelaku usaha kecil menengah yang belum tertarik memanfaatkan tambahan modal dari perbankan itu.

Intinya, Anita bekerja dengan hati nurani dan tidak mengedepankan bisnis semata. Ia pun rela mencari inspirasi ke berbagai kota di Indonesia, terutama Bali.

Sumber : (Agnes Swetta Pandia) Harian Kompas