Archive for the ‘Pasar Batik’ Category

Pasar Tiban Batik Imogiri; Pengganti Sementara Museum yang Roboh

Tuesday, July 4th, 2006

Jogja Heritage Society (JHS) dengan Paguyuban Pecinta Batik Indonesia ‘Sekar Jagad’, Yayasan Losari, Mayasari Indonesia, dan LPM Institut Pertanian (Intan) Yogya masih menggelar Pasar Tiban Batik. Di halaman rumah Sarjono di Dusun Pajimatan Desa Girirejo yang semula untuk warung lesehan, saat ini digunakan untuk lokasi pasar tiban tersebut.

“Kami senang warung lesehan ini digunakan untuk pasar tiban batik, agar Imogiri segera bangkit setelah musibah gempa. Sebab kalau terlalu lama tidak ada kegiatan membatik, ciri khas Imogiri sebagai pusat batik ‘Bantulan’ akan semakin tenggelam dan lenyap,” ujar Sarjono yang mendapat mandat dari penyelenggara pasar tiban batik, Ir Dra Larasati Suliantoro Sulaiman.

Menurut Larasati Suliantoro, kegiatan ini merupakan salah satu program ‘Bangkitkan Kembali Pusaka Rakyat Jogja’, pelestarian pusaka secara terpadu tangiable dan intangiable serta pemulihan ekonomi lokal berdasarkan aset yang ada. Setiap hari puluhan pembatik Imogiri mengerjakan kerajinan batik di Pasar Tiban ini. Mereka mendapat upah Rp 5 ribu dari rencana Rp 10 ribu setiap hari. (more…)

Ada ‘Kesebelasan Dunia’ dalam Batik Yogya

Thursday, June 29th, 2006

DUNIA batik, adalah dunia dinamis kehidupan manusia. Motif-motif batik yang selalu mengandung simbol dan makna, ternyata tidak mandeg. Pesona batik tidak akan hilang dan tetap disuka orang-orang muda, selama motifnya mengikuti selera konsumen.

Sekalipun kadang menimbulkan pro-kontra, toh batik dengan motif ‘kontemporer’ pun tetap bermunculan. Jika di Pekalongan muncul batik sutra motif Piala Dunia, di Yogya pun muncul juga.

”Hanya kami tidak menorehkan batik motif Piala Dunia di kain sutra. Yang kami buat adalah sprei, bed-cover, korden,” sebut Vera Ghozali, pemilik Batik Tulis Kontemporer ‘Tawon Gung’, saat ditemui Rabu (28/6) pagi di Kawasan Pogung. (more…)

Batik Pulihkan Korban Gempa; Omzet Mencapai Rp 10 Juta

Wednesday, June 28th, 2006

Jemari itu dengan gemulai menorehkan canting ke kain putih yang terhampar di kayu penyangga. Canting kembali dicelupkan ke dalam cairan malam yang terus mengepul dalam wajan di atas kompor kecil. Dengan tiupan ringan, jemari kembali memainkan alat membatik itu dan mengisi pola yang terpampang dalam kain dengan cairan malam kental. Beberapa saat kemudian, mulai nampak pola batik yang indah. Disela-sela kegiatan, terdengar cengkrama akrab antarpembatik yang makin menghangat.

Uniknya, proses pembuatan kain batik dilakukan oleh ibu-ibu korban gempa yang berada di Girirejo, Pajimatan Imogiri Bantul (200 meter barat makam raja-raja Mataram), salah satu daerah terparah akibat gempa. Membatik ini merupakan salah satu kegiatan dalam program ‘Revitalisasi Batik di Imogiri’ yang diselenggarakan oleh Jogja Heritage bersama Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad, Yayasan Losari, Mayasari Indonesia, LPM Institut Pertanian Yogyakarta dan beberapa donatur sejak Rabu (7/6) lalu. Program yang dijangkakan dalam waktu setahun ini mengajak para pembatik ke depan agar bisa mandiri. (more…)

Pascagempa, Omzet Batik Pekalongan Anjlok

Sunday, June 4th, 2006

Batik Pekalongan Pendapatan perajin batik Pekalongan menukik drastis pascagempa yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah. Mereka tak bisa memasarkan batik ke Yogyakarta yang kini masih berduka dan belum pulih.

Gempa yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah sepekan silam ternyata berdampak buruk bagi kerajinan batik di Kota Pekalongan, Jateng. Para perajin batik di Pekalongan yang ditemui SCTV, belum lama ini, mengaku pendapatannya menurun drastis pascagempa di Yogya. Pasalnya, mereka kini tak bisa mengirimkan produknya ke Kota Gudeg yang selama menjadi pasar terbesar batik Pekalongan.

Umar Said misalnya, perajin batik di Kelurahan Kergon, Pekalongan Barat ini mengaku mengurangi produksi hingga 70 persen dalam sepekan terakhir. Yogya yang masih berduka dan belum pulih dari luka memaksa Umar untuk membatasi produksi. Jika sebelumnya mencapai 300 potong, kini Umar memproduksi tak lebih dari 90 helai batik.

Para perajin batik Pekalongan berharap pemerintah segera memulihkan kondisi Yogyakarta dan sekitarnya. Jika perekonomian Yogya telah bangkit lagi, mereka dapat kembali memasarkan batik Kota Gudeg.

Sumber : (TOZ/Budi Harto) Liputan 6, Pekalongan

Perajin Batik Pekalongan Tunda Pengiriman Barang ke Yogyakarta

Friday, June 2nd, 2006

Kalangan perajin batik Pekalongan terpaksa harus mengurangi pengiriman batik ke Yogyakarta dan Kota Klaten menyusul terjadinya bencana gempa bumi tektonik yang melanda daerah itu belum lama ini.

Beberapa perajin/pengusaha batik Pekalongan, Jumat, menyatakan, sejak terjadinya gempa bumi pengiriman batik dari daerah ini ke Kota Klaten dan Yogyakarta mengalami penurunan hingga 60 persen.

Oemar Said Hadi salah seorang pengusaha batik Pekalongan mengatakan, akibat bencana gempa di Yogakarta, pihaknya terpaksa menunda pengiriman 300 potong pakaian batik senilai Rp100 juta. “Untuk sementara, kami harus mengurangi pengiriman batik ke dua daerah itu karena animo masyarakat untuk membeli kain sutra cenderung turun tajam,” katanya. (more…)

Margaria Luncurkan Classy Kebaya Batik

Friday, May 26th, 2006

Persaingan Bisnis Makin Kompetitif

Sebagai akibat ketidakseimbangan antara kenaikan biaya ritel dan menurunnya daya beli masyarakat, ritel batik dan bisnis batik menunjukkan aktivitas yang stagnan. “Tren negatif ini dibaca oleh para pelaku usaha sektor ritel, termasuk pelaku bisnis batik,” kata Manajer Margaria Batik, Indah Widiarti kepada KR, Kamis (25/5).

Menurutnya, iklim bisnis batik sekarang ini semakin kompetitif, sehingga pelaku usa-ha pun harus melakukan berbagai terobosan untuk membidik pasar. Saat ini batik bukanlah barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh kalangan tertentu, namun sudah memasyarakat di semua lapis-an. Batik mudah dijumpai di mana-mana, mulai dari pasar tradisional, kawasan pertokoan hingga mall.

Mengantisipasi hal itu, Margaria Batik yang terdiri atas Butik Batik dan Wisma batik Margaria belum lama ini meluncurkan koleksi batik terbarunya yang bertajuk Classy Kebaya Batik. Koleksi ini sesuai dengan konsep butik yang sangat menjaga eksklusivitas produk. Classy Batik ini sengaja dibuat terbatas untuk setiap desainnya (limited edition) dengan bidikan pasar menengah ke atas. Koleksi ini tersedia dalam 5 model yang masing-masing merupakan modifikasi kreatif terbaru dari Butik Batik Margaria.

“Peluncuran koleksi terbaru ini merupakan upaya kami untuk tetap konsisten di dalam jalur bisnis batik yang saat ini iklimnya semakin kompetitif. Promo ini sekaligus sebagai konsekuensi penciptaan brand image Margaria Batik sebagai gerai batik terdepan di Yogya,” jelas Indah.

Ditambahkan, eksistensi dan optimisme Margaria Batik yang beralamatkan di Jl A Yani 65-69 Yogya selama ini tetap terjaga, sebab senantiasa bisa memenuhi tuntutan pasar melalui inovasi batiknya. Dengan demikian produk Margaria selama ini telah mendapat tempat di kalangan konsumen batik. Selain batik, produk lain yang juga memiliki pasar cukup tinggi adalah bahan kemeja sutra, sarung selendang sutra, bahan sarimbit dan bahan meteran untuk seragam.

Sumber : (M-5)-g Kedaulatan Rakyat, Yogya

Yogyakarta, Daerah Batik yang Dijajah Produk Luar

Tuesday, May 16th, 2006

Para pedagang di kawasan Malioboro dan Pasar Beringharjo menjadi salah satu saksi bahwa batik Yogya belum bisa menjadi “raja” di wilayah sendiri. Mereka mengaku enggan menjual batik Yogya karena motifnya yang terlalu berorientasi pada pakem-pakem tradisional dengan corak atau desain yang kurang memenuhi selera pasar. Bahkan, cenderung terasa monoton, hingga berkesan tak memberi ruang bagi dinamika motif. Oleh Boni Dwi

Pada kenyataannya, berbicara tentang produk batik maka juga harus berbicara tentang prospek pasarnya. Apabila ingin tetap bertahan, tampaknya para produsen batik Yogyakarta perlu berupaya keras agar bisa keluar dari citra tadi.

Namun demikian, menurut Budi Suhendar (34), salah seorang pedagang batik di Pasar Beringharjo, Senin (15/5), hal itu bukan berarti ada keharusan menghilangkan citra tradisional batik Yogya. Sebagian konsumen masih tetap ada yang fanatik dengan nuansa tradisional. “Hanya saja, desainnya jangan monoton. Selama ini, produk batik Yogya selalu terbatas pada jarit, selendang, dan batik prada.

Beda dengan batik Pekalongan dan Solo, yang bisa membuat desain kaus santai, hem santai, celana pendek santai. Coba buat desain seperti itu, dengan motif atau corak tradisional, saya jamin pasti laku,” kata Budi yang sudah 20 tahun menjadi penjual batik itu. Kalangan muda Dari kalangan produsen dan toko batik di Yogya sendiri, kesadaran untuk mengembangkan desain batik terutama dilatarbelakangi perubahan gaya hidup manusia modern dibandingkan masa sebelumnya, khususnya di kalangan kaum muda.

Dengan kata lain, tujuan yang ingin diraih adalah jangan sampai batik kehilangan pamor, generasi penerus, dan dilupakan. “Batik tidak sekadar kain sarung, jarit, atau selendang, tetapi juga baju kerja dan baju santai bagi seluruh kalangan. Jangan sampai batik hilang pamor di negeri produsen batik sendiri,” ujar Sodikin, Direktur Batik Pertiwi. Indah Widiarti, Manager Batik Margaria Grup, mengatakan pengembangan desain itu digarap secara serius di tengah optimisme bahwa batik tetap akan digemari oleh sejumlah kalangan di masyarakat dari waktu ke waktu. Sebab, menurut dia, batik sebagai sesuatu yang unik tetapi asli, malah akan dicari orang.

Namun, keduanya menyadari tidak mudah melepaskan anggapan bahwa batik itu berkaitan dengan sesuatu yang formal, resmi, dan berkaitan denga pakem-pakem tertentu, demi memperoleh orisinalitas sebuah produk batik. Apalagi, kondisi semacam itu sudah berlangsung dalam kurun waktu yang relatif lama, berpuluh-puluh tahun. Untuk itu, mereka harus melakukan kompromi antara pakem dengan selera pasar.

Kompromi “Kompromi itu mencakup warna, motif, model, serta material yang digunakan. Semuanya digabung menjadi satu konsep khusus mode batik untuk kaum muda,” kata Indah. Sesuai segmen yang dibidik Margaria, yakni kelas menengah-atas, kata Indah, maka warna yang dipilih biasanya adalah warna-warna lembut dengan motif tabur, seperti bunga-bunga kecil, yang lebih menonjol. Material yang dipilih pun lebih banyak berbahan katun maupun paris.

Sodikin dari Pertiwi Grup juga mengaku fokus pada penciptaan desain- desain yang lebih menarik bagi kaum muda, misalnya desain produk batik yang asimetris. Desain batik asimetris itu merupakan desain relatif baru yang lain dari pakem selama ini, di mana batik selalu simetris. Sejak sekitar lima tahun terakhir, pergerakan pasar batik di Yogyakarta justru didominasi oleh batik asal Pekalongan dan Solo. Muncul sebuah anekdot yang cukup ironis dari salah satu pedagang di Pasar Beringharjo, bahwa batik Yogya belum bisa menjadi raja di wilayah sendiri. “Kesannya, Yogya itu sedang terjajah oleh batik luar Yogya. Ini kan lucu.

Padahal, Yogya juga terkenal dengan produk batiknya,” ujar Harni, produsen dan pedagang batik di wilayah Ngasem. Seretnya perkembangan batik Yogya, salah satunya disebabkan kurang inovatifnya para produsen dalam menampilkan desain dan motif. Mungkin, perlu ada semacam “pemberontakan” terhadap pakem yang selama ini telanjur dianggap mapan. Entah apa pun bentuknya, yang jelas itu berawal dari keinginan bahwa batik Yogyakarta tidak boleh tenggelam ditelan zaman…

Sumber : (Pramudyanto dan Benny Dwi Koestanto) Harian Kompas

GKBI Luncurkan Tiga Situs Baru bagi UKM

Monday, May 15th, 2006

Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) meluncurkan tiga situs baru bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) agar produk ekspor mereka bisa lebih kompetitif dengan biaya lebih murah.

“Dengan ketiga situs baru dari GKBI, biaya usaha dan operasional UKM akan jauh lebih hemat dan bisa turun antara 30% hingga 50%,” kata Presdir GKBI Noorbasha Djunaid kepada pers saat meluncurkan tiga situs baru di Jakarta, Senin (15/5).

Ketiga situs GKBI itu, Web-Hosting Gratis @ 75MB bagi UKM yang ingin memiliki situs sendiri untuk business presence. Kedua portal E-Commerce agar dapat langsung melakukan transaksi secara on line dan realtime. Ketiga tersedia Forum interaktif bagi UKM untuk dapat berinteraktif dan berkolaborasi dalam berbagai topik yang dapat memajukan UKM. (more…)

Corak Batik Selera Kaum Muda

Sunday, May 14th, 2006

Terjun dalam usaha batik tulis dengan konsumen yang relatif terbatas mengharuskan “pemain” baru lebih jeli. Selain memiliki kekhasan dalam produk, sehingga dilirik konsumen, mereka juga mesti pandai-pandai membidik pangsa pasar yang terbatas itu.

Persyaratan seperti itulah yang dijadikan pedoman Putu Sulistiani Prabowo (48) ketika merintis usaha batik tulis di Surabaya. Sejak awal, corak dan warna batik buatannya tak sesuai “pakem” batik. Dia mengarahkan produknya sesuai selera kaum muda.

Meski diakuinya, jiwa orang muda yang cenderung menginginkan sesuatu yang baru menuntut kreativitas terus-menerus. Orang muda akan dengan cepat meninggalkan corak dan warna batik yang dirasakan stagnan.

“Supaya kaum muda tertarik memakai batik, saya harus menampilkan motif dan warna yang baru. Selain supaya berbeda dengan corak dan warna batik pada umumnya, juga agar tidak terkesan monoton dan kuno,” kata Sulis, nama panggilan perempuan yang membuka Galeri Batik Dewi Saraswati di Jalan Jemursari Utara, Surabaya, itu.

Dia ingin anak muda mau dan bangga memakai batik. Apalagi, menurut Sulis, beberapa kali dia memperhatikan anak muda di negeri tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, ternyata suka memakai batik. Padahal, dari sisi kualitas, termasuk corak dan warna, batik Indonesia justru lebih kaya. Sayang kalau kalangan muda tak tertarik memakainya.

“Alasan mereka sebenarnya sepele, pakai batik dianggap kurang mengikuti mode, tidak gaul. Padahal, batik cocok untuk semua kalangan dan usia,” kata Sulis yang konsumennya didominasi perempuan muda.

Keprihatinan yang dirasakannya itu mendorong Sulis menggeluti usaha batik tulis. Dia berusaha menciptakan motif dan warna batik yang bisa menarik kaum muda, seperti corak bunga kembang sepatu.

Dia juga memberi keleluasaan kepada konsumen untuk memilih corak sendiri, antara lain dengan menyediakan buku-buku tentang corak dan warna.

“Saya tidak takut membuat motif batik apa saja, demi agar batik tidak ditinggalkan konsumen,” cetusnya.

Jenuh menjadi karyawan

Terjun dalam usaha batik tulis dilakukan Sulis setelah ia bekerja selama 16 tahun pada perusahaan kosmetik. Dia berhenti menjadi karyawan karena merasa jenuh. Sulis lalu mengundurkan diri, dan melihat batik tulis sebagai peluang usaha.

Ibu dua anak ini lalu menimba ilmu membatik dari beberapa pembatik di Surabaya dan Yogyakarta. Kegemaran melukis sejak kecil membuatnya tak menemui kesulitan berarti dalam membatik. Dia juga mengikuti pelatihan pewarnaan kain batik dengan pewarna zat kimia maupun bahan organik.

Bahan alami yang dipakai untuk mewarnai batik tulis karyanya antara lain secang (warna merah dan oranye), jalawe menghasilkan warna kuning, indigo untuk warna biru, daun jati untuk warna merah kecoklatan, serta kulit kayu tegeran dan kayu mahoni untuk warna sogan—warna khas batik klasik yang umumnya cenderung gelap.

Dia juga bereksperimen untuk mencari warna alami baru. Berbagai jenis kulit pohon, daun, akar, biji, dan buah terus diburunya untuk mendapatkan warna kain batik yang tak monoton. Pasalnya, warna merupakan faktor utama pada kain batik. Perhatian orang kepada batik makin besar bila pewarnaan kain sempurna. Warna juga dapat memberi kesan anggun pada pemakai batik tulis.

“Saya membuat batik eksklusif yang coraknya bisa klasik tetapi diberi sentuhan modern, terutama pada warnanya. Ini agar kalangan muda tertarik pakai kain batik,” ujar Sulis yang selalu memadukan warna lembut dengan warna yang tengah tren sebagai upaya agar konsumen mudah mendapatkan padanan untuk kebaya maupun blusnya. Misalnya, memadukan kain batik dengan kebaya encim berlengan tiga perempat, blus bordir, bahkan blazer.

“Jadi, saya enggak hanya membuat kain batik, sarung, dan selendang, tetapi juga paduan untuk atasannya,” kata Sulis, alumnus Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya, yang tengah menggarap corak batik khas suroboyo berupa corak daun semanggi. Sebelumnya, dia membuat corak sapujagat. Motif tersebut menuntut kerja ekstra karena dalam satu kain terdapat delapan motif, dan proses pewarnaannya pun lebih rumit.

Untuk bahan baku batiknya, Sulis memilih antara lain sutra alat tenun bukan mesin, sutra bermotif, katun, serat kayu, dan serat pelepah pisang.

Untuk menghasilkan kain batik dengan corak yang selalu berubah-ubah, pembatik harus bekerja ekstra. Apalagi motif baru karya Sulis cenderung menuntut penggarapan yang bisa menyelaraskan berbagai motif seperti beras kutah, teripang, serta cecek.

“Ketiga corak ini membutuhkan proses pewarnaan yang berulang kali karena memiliki beberapa warna dalam satu kain,” ujar Sulis yang senang berburu barang-barang antik di Pekalongan, Semarang, dan Solo ini.

Untuk memudahkan konsumen, Sulis juga menyediakan produk paket. Dalam paket kain batik tulisnya sudah dipadankan sekaligus kain, selendang, sampai sandal dan dompet. Meski harga produk paket relatif mahal, namun termasuk digemari konsumen. Harga paket produk Sulis sekitar Rp 1,3 juta. Sedangkan harga kain batik sekitar Rp 450.000, untuk setelan sarung dan selendang dari Rp 650.000 sampai Rp 2 juta.

“Harga batik tulis memang mahal, karena pengerjaannya pun lama. Untuk satu lembar kain batik minimal tiga minggu. Semakin rumit motif dan jumlah warna yang dipakai, akan makin lama pembuatannya,” ujar Sulis yang dibantu 10 pekerja. Sementara untuk pembuatan sandal, dia punya mitra di Sidoarjo dan Surabaya.

Sumber : (Agnes Swetta Pandia) Harian Kompas