Archive for the ‘Kegiatan’ Category

Apresiasi Seni dalam Pekan Budaya Tinghoa Jogja

Monday, January 23rd, 2006

 ========
Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta
Tanggal : 27 - 31 Januari 2006
Tempat : Klenteng Fuk Ling Miao Gondomanan, Hotel Melia Purosani, Akindo dan di sepanjang Jalan Ketandan Wetan - Yogyakata
========

Perayaan Tahun Baru Cina 2557 yang jatuh pada 29 Januari 2006 di Jogja kali ini sedikit berbeda dibanding tahun-tahun lalu. Imlek akan disemarakkan dengan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta yang digelar oleh organisasi masyarakat Tionghoa Jogja bekerjasama dengan Pusat Kajian Makanan Tradisional UGM dan Pemerintah Kota Jogja. Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta akan digelar 27 - 31 Januari 2006 di Klenteng Fuk Ling Miao Gondomanan, Hotel Melia Purosani, Akindo dan di sepanjang Jalan Ketandan Wetan.

Sebanyak 25 kelompok seni akan memeriahkan acara Pekan Budaya Tionghoa ini dengan berbagai macam atraksi dan kesenian tradisional tionghoa. Acara ini merupakan wujud apresiasi terhadap atraksi seni tradisi masyarakat Cina yang saat ini sudah hampir luntur. Selain itu juga sebagai upaya pelaksaan kawasan pedestrian Malioboro dengan mengikutkan kawasan Ketandan dalam lokasi acara.

Agenda acara keseluruhan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta berupa pembukaan, pemeran foto sejarah, lukisan, peragaan busana, pameran dan lomba makanan khas Tionghoa Jogja. Namun tak hanya itu, pengunjung pun dapat menikmati pertunjukan-pertunjukan khas Tionghoa, lomba dan pameran lampion, pameran kebaya dan batik serta ramalan dan Feng Shui. Pembukaan Pekan Budaya Tionghoa akan bertempat di Klenteng Fuk Ling Miao Gondomanan tanggal 27 Januari pukul 16.00 WIB dengan atraksi Liong Samsi Hoo Hap Hwe Perkumpulan Budi Abadi.

Kampus Akindo Ketandan sebagai lokasi kedua perayaan Pekan Budaya Tionghoa Jogja akan diisi dengan pertunjukan wayang Potehi, wushu, cokekan dan ketoprak pembauran. Acara dilanjutkan dengan pesta lampion, stand ramalan, bazaar makanan dan pameran kebaya di kampung Pecinan Ketandan Wetan. Khusus pada tanggal 29 Januari akan diselenggarakan Festival Makanan Tionghoa bertempat di hotel Melia Purosani. Panitia saat ini masih membuka kesempatan bagi masyarakat dan kelompok seni lain yang ingin ikut ambil bagian dalam acara ini. Pengunjung dan peminat Pekan Budaya Tionghoa dapat memperoleh informasi lebih lanjut di Klenteng Fuk Ling Miao jalan Brigjen Katamso Gondomanan.

Sumber : (fit) TrulyJogja

16-24 Januari 2006 di Malioboro Mall; Gelar Pameran ‘Investasi & Home Interior’

Thursday, January 19th, 2006

PT Mavindo Pratama kembali menggelar event Investasi & Home Interior, di Atrium Malioboro Mall, 16-24 Januari 2006. Produk unggulan perumahan yang ditampilkan meliputi Jogja Town House, Griya Permata Ceria, Sejahtera Graha Utama, PT Java Marindra Jaya, Ray White, Adigrha Sejahtera, Tri Putra Mulya, Graha Abadi, Wirotomo Persada, SCKU, Giri Pratama, SHM Property, Aryaguna Putra, Salfila Putra Mandiri dan Narendra Mandiri. Sedang produk interior diikuti Crown Furniture, Sumber Baru Furniture, Miracle Tenun, VCO, Nani’s, CV Diravico, Axis Jewellery, Etnik Batik, Gading Craft, Batik Genthong dan Narendra Batik. Untuk menunjang pameran ini juga ditampilkan Bank Buana dan Bank Bukopin sebagai badan pembiayaan.

Public Relation PT Mavindo Pratama, Lourima Retalia S, mengharapkan pameran ini dapat mendatangkan pasar yang sangat potensial dan kondusif untuk pemasaran produk. Pameran ini digelar dengan melihat makin berkembangnya gaya hidup masyarakat Yogya dewasa ini, yang diikuti dengan makin maraknya kebutuhan masyarakat. “Pameran ini dimaksudkan untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat yang kian beraneka-ragam dan memiliki kelasnya tersendiri. Dengan event ini PT Mavindo Pratama mengawali keberuntungan di tahun 2006,” tambahnya.

Sumber : (*-10)-o. KR, Yogyakarta

Mavindo Gelar ‘Djogja Craft 2006’

Friday, December 30th, 2005

merupakan kota yang menyimpan banyak aneka ragam keunikan yang dikemas dalam karya-karya yang unik dan menarik. Produk handicraft yang memiliki produsen sangat maju di Yogyakarta telah dikembangkan pasarnya hingga ke taraf nasional maupun internasional. Produk-produk handicraft, baik dan sejenisnya, terbukti selalu mengalami perkembangan dan kemajuan yang disesuaikan dengan trend dan budaya, seiring dengan perkembangan mode dan selera masyarakat.

Dalam kondisi demikian, event pameran kerajinan yang digelar dari tahun ke tahun, selalu mendapat sambutan hangat dari konsumen. Hal inilah yang mendasari PT Mavindo Pratama kembali menggelar event Djogja Craft, di atrium utama Malioboro Mall Yogyakarta, sebagai event sentuhan di akhir tahun.

Menurut Lourina Retalia S, Public Relations PT Mavindo Pratama, event yang menampilkan produk-produk craft, fashion etnik dan furniture ini diikuti oleh produsen-produsen kenamaan yakni Batik Genthong, Batik Dia Dio, Rumah Cantik, Miracle Tenun, Gading Craft, Batik Nusa Indah, Bali Wangi, Ethnic Batik, Biass Handicraft, Batik Primera, Buana Mas, Narendra Batik, Garis Collection, Axis Jewellry, Nani’s Harry Art, Blangkon Batik & Craft, Crown Furniture, Batik Madura, Batik Luwes Putra, Karin Galeri, CV Diravico, Istana Bordir, Huza Batik. Danar Hadi, Batik Pertiwi, Berkat Textile, Paradise, Batik gaul, Alfa collection, Alle batik, Batik Tempo Doeloe, Mandraguna dan outlet Widhi.

Sumber : (Rsv)-g KR, Yogyakarta

Lomba Motif Batik Kebumen - ’Jagatan Walet’ Desa Jemur Juara I

Saturday, December 24th, 2005

Setelah Pemerintah Kabupaten Kebumen mengeluarkan kebijakan mewajibkan para pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah daerah setempat mengenakan seragam batik pada hari-hari tertentu dan berbagai sarasehan dalam upaya melestarikan keberadaan batik tulis Kebumen, memicu pihak Dekranasda untuk tidak ketinggalan dalam upaya mengangkat kembali kejayaan batik khas Kebumen tersebut.

Salah satu kegiatan yang dilakukan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kebumen yakni penyelenggaraan lomba cipta motif batik khas Kebumen. Lomba yang diselenggarakan di pendapa rumah dinas bupati setempat, baru-baru ini, diikuti sejumlah kelompok perajin. Dewan juri akhirnya menetapkan motif ‘Jagatan Walet’ karya kelompok perajin ‘Mawar’ Desa Jemur, Pejagoan, Kebumen, sebagai juara I.

Ketua Dekranasda Kebumen, Ny Nuraeni M Nasirrudin Al Mansyur, mengatakan program kegiatan Dekranasda Kebumen pada tahun 2005 adalah berusaha mengangkat kembali pamor batik Kebumen. Salah satu kegiatannya adalah lomba motif batik tulis yang bisa digunakan sebagai busana. Peserta lomba terdiri para perajin batik tulis yang tersebar di desa-desa sentra kerajinan batik tulis meliputi Tanuraksan, Kecamatan Kebumen, Jemur, Kecamatan Pejagoan dan Seliling, Kecamatan Alian.

Lomba diikuti 8 kelompok perajin, masing-masing kelompok mengirimkan 3 karya. Namun Panitia tak membuat pemisahan antara kategori motif tradisional dan modifikasi, sehingga banyak peserta yang ‘terjebak’ menuangkan kreativitasnya dalam bentuk batik kontemporer yang keluar dari pakem motif tradisional batik Kebumen. Karya-karya batik kontemporer tak ada yang meraih kemenangan.

Juri yang terdiri dari Anthoni Yusuf seniman batik asal Yogyakarta, H Iskhak pengusaha batik Kebumen dan Abdul Rahman karyawan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Diperindagkop) Kebumen, akhirnya memutuskan 3 motif yang mengangkat motif tradisional sebagai pemenang. Selain, ‘Jagatan Walet’ sebagai juara I, ‘Jagatan Sarung’ karya kelompok perajin ‘Mekarsari’ Desa Seliling, Alian, sebagai juara II dan ‘Jagatan’ karya kelompok perajin ‘Luk Ulo II’ sebagai juara III. Selain tropi, ketiga pemenang mendapatkan uang pembinaan, masing-masing Rp 1 juta, Rp 750 ribu dan Rp 500 ribu.

Sumber : (Dwi/Ths)-o KR, Kebumen

Pameran Batik Inovatif di Galeri Nasional

Sunday, December 18th, 2005

Daud dengan karya batiknya di Galeri Nasional. K.R.T. Daud Wiryo Hadinagoro memamerkan batik tematis yang mengangkat peristiwa sosial politik sebagai motif dan corak di Galeri Nasional. Goresan canting Daud tak terikat pola konvensional.

Perajin batik Yogyakarta K.R.T. Daud Wiryo Hadinagoro memamerkan seni batik dalam motif dan simbol kekinian di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, 9 hingga 18 Desember. Daud menampilkan batik dengan memadukan inovasi batik tradisional Indonesia dengan tema-tema sosial untuk menggambarkan kondisi sosial politik Tanah Air. Ia menyajikan seni batik dalam goresan canting yang tak terikat pola konvensional.

Lelaki asal Kota Gudeg ini menciptakan batik bernapas virus flu burung yang telah menelan belasan korban jiwa dalam beberapa bulan terakhir. Bencana Tsunami yang menimpa Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tahun lalu tak luput dari perhatian. Paduan warna kuning dan merah menandai duka mendalam yang dialami bangsa Indonesia.

Sementara rangkaian bom yang meluluhlantakkan Pulau Bali digambarkan secara detil dalam sehelai batik yang tetap dihiasi motif batik klasik seperti lereng dan geometris. Bukan hanya isu nasional yang menjadi tema dari karya batiknya. Isu dunia seperti Perang Irak juga diabadikan dengan detil wajah-wajah para anak korban perang. Ratusan helai batik ini dikerjakan dengan teknik batik tulis dalam waktu antara tiga pekan hingga 14 bulan.

Sumber : (MAK/Teguh Dwi Hartono) Liputan 6, Jakarta

Motif Batik Tulis Kebumen Sering Dijiplak

Friday, December 16th, 2005

Sarasehan bertema ‘Mengenalkan dan Upaya Pelestarian Batik Kebumen’ di Pendapa Rumah Dinas Bupati, Selasa (13/12), oleh Pelaksana Harian (Plh) Bupati Kebumen, KH M Nasirrudin Al Mansyur, dianggap sebagai sebuah nostalgia, ajang keluhan sekaligus menorehkan harapan tentang batik Kebumen. “Dulu batik Kebumen sangat jaya,” ujar Nasirrudin yang dalam sarasehan tersebut merupakan salah satu pembicara.

Selain KH Nasiruddin, dalam sarasehan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Kebumen dengan Paguyuban Insan Peduli Batik Tulis Kebumen dan Dharma Wanita setempat, tampil pula Wakil Ketua Komisi B DPRD Kebumen Agus Suprapto, 2 pembicara dari Yogyakarta, yaitu Ir Dra Larasati Suliantoro Sulaiman dari Paguyuban Pecinta Batik Sekar Jagat, dan Drs Ibnu Baruharli MSn, Pembantu Direktur (PD) III Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta.

Tentang kejayaan batik Kebumen beberapa puluh tahun lalu itu menurut KH Nasirrudin ditandai dengan masih terdapatnya dua sekolah yang cukup terkemuka di Kebumen yang dimiliki oleh Yayasan Batik Sakti Kebumen, yaitu SMK Batik Sakti 1 dan SMK Batik Sakti 2. Dengan kejayaan itu, dirinya tak heran mendengar ada keluarga yang mampu mengentaskan 10 anaknya menjadi sarjana hanya dari usaha batik saja. Tapi setelah pamor itu redup dengan kondisi perajinnya yang kembang kempis karena kalah bersaing dengan batik tiruan, kini hanya tinggal sekitar 200 perajin saja yang masih berkiprah. Mereka tersebar di sentra-sentra batik seperti Jemur, Kecamatan Pejagoan, Tanuraksan, Kecamatan Kebumen, Kambangsari, Seliling dan Surotrunan, Kecamatan Alian.

Di tengah kondisi memelas itu, Nasirrudin mengeluhkan penjiplakan karya perajin batik Kebumen oleh pengusaha batik tiruan dari daerah lain. Hal itu mengakibatkan perajin nglokro menjalankan aktivitas membatik.

“Pengusaha daerah lain kerap mendatangi perajin di Kebumen dan hanya membeli selembar kain batik, tak berapa lama kemudian, muncullah di pasaran kain batik printing yang motifnya persis dengan motif karya perajin itu,” ujar Nasirrudin.

Berkaitan dengan kewajiban pegawai negeri sipil di lingkungan Pemkab Kebumen mengenakan seragam batik khas Kebumen, dikatakan oleh Nasirrudin adalah sebagai salah satu solusi untuk mengangkat kembali batik tulis Kebumen. Ketentuan ini akan diberlakukan mulai tahun 2006. Dalam hal ini Pemkab Kebumen telah menyediakan anggaran Rp 1,9 miliar sebagai subsidi pembelian seragam batik untuk para pegawai. “Sekarang tinggal bagaimana para perajin batik dalam menyikapi kebijakan itu. Apakah mereka sanggup berproduksi secara maksimal dalam memenuhi kecukupan permintaan itu,” tambahnya.

Sementara itu, Ir Larasati Suliantoro dalam menyinggung lesunya dunia perbatikan tulis di Indonesia akhir-akhir ini, menilai hal itu disebabkan tidak adanya perlindungan terhadap produsen (perajin batik). “Kondisi yang memprihatinkan ini adalah yang terparah sepanjang sejarah perbatikan di Indonesia,” ungkapnya.

Berbicara tentang motif batik tulis Kebumen diakui Ir Larasati Suliantoro ia sangat mengagumi. Selain dirinya, menurut pengamatannya, batik Kebumen juga disukai banyak orang. “Dari pengalaman saya, bila dihadapkan pada banyak pilihan, orang akan lebih cenderung meminati batik Kebumen. Karena itu, kebanggaan dan inovasi harus ditumbuhkembangkan. Juga harus dipikirkan penggunaan kembali pewarna alami ketimbang sintetis,” sarannya.

Tentang upaya mengangkat kebanggaan terhadap produk batik lokal, Wakil Ketua Komisi B DPRD Kebumen, Agus Suprapto, berpendapat bahwa hal itu sejalan dengan konsep berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) Presiden RI pertama Ir Soekarno (Bung Karno).

Sumber : (Dwi/Ths)-g KR, Kebumen

Lomba Batik Anak-anak

Sunday, December 11th, 2005

ADA acara untuk melestarikan dan mempopulerkan batik. Lomba dilaksanakan Bront Salon & Modelling dengan Pemilihan Citra Batik Indonesia dan Elite Model Indonesia 2005. Menurut rencana, acara ini diselenggarakan, Minggu, 25 Desember 2005 mulai pukul 10.30. Tempatnya di Balai Shinta Gedung Mandala Bhakti Wanitatama Yogya.

Lomba dibagi menjadi empat kategori. Golongan A untuk anak-anak usia 2-9 tahun. Golongan B (10-15), Golongan C (16-25). Golongan D khusus untuk ibu-ibu. Pada saat lomba, peserta wajib mengenakan busana batik, kasual dan pesta. Penilaian meliputi penguasaan panggung, keserasian busana, tatarias rambut dan wajah, teknik langkah.

Menurut Mas Brotho Budiman selaku penyelenggara, pada saat pendaftaran para calon peserta diharuskan menyerahkan foto. Di antaranya berwarna ukuran kartu pos 1 lembar, mengisi formulir, membayar uang pendaftaran Rp 75 ribu. Bagi yang berminat bisa mendaftar di sekolah-sekolah modeling terdekat. Seperti LPK Papmi, Wiwid Modelling, Betema Group, Studio Intermodel. Juga bisa langsung ke Bront Salon & Modelling di Cepit, Sewon Bantul.

Selain lomba, juga menampilkan peragaan busana karya desainer top Jateng/DIY. Antara lain koleksi Joko SSP, Rori dan Johny Akhadiat.

Sumber : (Asp)-a KR

Sarasehan Dan Pameran Batik tulis - Perjuangan Mengangkat Kembali Batik Kebumen

Saturday, December 10th, 2005

Perjuangan Pemerintah Kabupaten Kebumen untuk mengangkat kembali batik tulis akan segera direalisasi. Sebuah sarasehan bertema ‘Mengenalkan dan Mengupayakan Pelestarian Batik Tulis Kebumen’ akan digelar, Selasa (13/12). Sarasehan tersebut diselenggarakan atas kerja sama Pemerintah Kabupaten Kebumen dengan Paguyuban Insan Peduli Batik Tulis Kebumen dan Dharma Wanita Kabupaten Kebumen.

Menurut Sekretaris Komite Pengarah Panitia, Ir Bambang Sunaryo MSi, fokus pembicaraan dalam sarasehan tersebut baru pada tataran awal. Yaitu, mengenalkan atau melakukan sosialisasi batik tulis Kebumen kepada masyarakat, khususnya masyarakat setempat.

“Rencananya, Pemkab Kebumen pada tahun 2006 akan mengeluarkan kebijakan bahwa seragam batik yang dikenakan oleh para pegawai di lingkungan Pemkab Kebumen pada setiap hari Kamis adalah batik tulis Kebumen. Untuk itu, pemkab akan menyediakan anggaran Rp 1,9 miliar sebagai subsidi bagi 19.000 pegawai untuk pembelian batik tulis Kebumen,” papar Bambang Sunaryo.

Bila kebijakan tersebut nantinya dikeluarkan, para pegawai Pemkab Kebumen diharapkan akan merasa terpanggil untuk mempedulikan batik produksi daerahnya sendiri. Sebab, siapa lagi yang mau menghargai produk lokal, bila bukan masyarakatnya sendiri.

Namun, kebijakan itu harus dipersiapkan terlebih dahulu dengan kegiatan sosialisasi, agar para pegawai bisa memahami visi dan misi kebijakan itu.

Namun kebijakan penerapan seragam batik tulis bagi pegawai Pemkab Kebumen tersebut menurut Bambang Sunaryo hanya merupakan sasaran antara. Sedangkan sasaran sebenarnya adalah masyarakat Kebumen pada umumnya, dengan harapan mereka mau mempedulikan batik tulis Kebumen. Itulah sebabnya, panitia mengundang berbagai kalangan di Kebumen untuk menghadiri sarasehan tersebut.

“Dampak positif dari sarasehan itu akan dirasakan oleh para perajin batik tulis, yaitu berupa peningkatan kesejahteraan mereka,” ujar Seksi Pameran, Bekti Tulus Saptani SSos.

Bekti menegaskan, panitia berpegang pada persepsi batik secara proporsional, bahwa batik yang dibahas dalam sarasehan adalah batik tulis, bukan cap atau printing. Sebab, persepsi panitia tentang batik adalah positive printing atau batik tulis, bukan negative printing.

“Kegiatan membatik oleh para perajin pada hakikatnya merupakan kegiatan pelestarian seni dan budaya bangsa untuk kepentingan seni dan produksi para perajin, bukan sekadar seni untuk seni, karena dengan memproduksi batik mereka sedang berupaya mempertahankan hidup,” jelasnya.

Dengan realitas di lapangan bahwa perajin batik di Kebumen, 99,99%-nya adalah perajin batik tulis, sedangkan sisanya batik cap, maka sangatlah wajar bila panitia mengajak seluruh komponen masyarakat untuk mempedulikan perajin batik tulis beserta karya mereka.

Pembicara yang diundang panitia terdiri unsur legislatif dan eksekutif, praktisi dan akademisi dari Yogyakarta. Mereka diharapkan bisa mengajak peserta sarasehan untuk membantu nguri-uri batik tulis Kebumen.

Sumber : (Dwi)-c KR, Kebumen

Gelar Seni Dan Budaya Yogyakarta Ke-VI - 260 Jenis Batik Dipamerkan di WTC

Thursday, December 8th, 2005

GELAR Seni dan Budaya Yogyakarta (GSBY) yang ke VI yang dibuka Senin (5/12) ditandai dibukanya pameran batik yang memamerkan 260 jenis batik motif asli Yogyakarta yang telah dipatenkan, dan pameran seni lukis oleh para seniman Yogyakarta. Acara dimeriahkan demonstrasi membatik oleh Putri Indonesia 2004 dan finalis Miss Universe, Artika Sari Dewi serta demo lukis oleh 30 seniman lukis Yogyakarta dengan model Yani Saptohoedojo. Acara berlangsung di Gedung World Trade Center (WTC) di kawasan Jendral Sudirman Jakarta. Acara pameran batik dan seni lukis ini akan akan berlangsung sampai 9 Desember 2005.

Dirjen Nilai Seni Budaya dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Dr Sri Hastanto mengatakan, pameran batik yang dipatenkan ini sangat berguna untuk menyosialisasikan batik motif khas Yogyakarta kepada masyarakat nasional dan internasional. Diharapkan dengan dipatenkannya motif ini muncul pengakuan terhadap kekhasan motif batik Yogyakarta yang membedakannya dengan batik dari tempat lain sehingga tidak lagi bisa diklaim sebagai karya dari daerah lain.

Pameran Batik ini terselenggara berkat kerja sama antara Kantor Perwakilan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di Jakarta dengan Paguyuban Batik Sekar Jagad Yogyakarta. Ketua Umum Paguyuban Sekar Jagad, Suliantoro Su-laiman, mengatakan bahwa batik Yogya merupakan jenis batik yang paling konservatif jika dibandingkan jenis batik lain khususnya dalam perubahan warna batik. Baru pada tahun 1970-an muncul batik Yogyakarta yang berwarna-warni setelah sebelumya hanya dikenal batik dengan warna khas sogan‚ yang didominasi oleh warna coklat, putih dan hitam. Acara batik ini akan dilengkapi dengan peragaan busana batik motif Yogyakarta di Sasono Langen Budoyo Yogyakarta, Taman Mini Indonesia Indah pada akhir pekan ini. Pameran ini diharapkan akan membuat masyarakat lebih memahami tentang batik asli Yogyakarta.

Gelar Batik dan Seni Lukis ini merupakan bagian dari Gelar Seni dan Budaya Yogyakarta yang ke VI tahun 2005 di Jakarta yang ditujukan untuk menarik minat masyarakat serta investor terhadap Yogyakarta.

Panitia GSBY menyelenggarakan delapan acara yang berbeda yakni gelar investasi dan temu wicara mengenai potensi Yogyakarta, pameran pendidikan, kerajinan, bazar makanan daerah dan seni lukis, pameran pariwisata dan gelar kesenian daerah. Acara dipusatkan di Taman Mini Indonesia Indonesia Indah, World Trade Center dan Mall Artha Gading. Ingin mengenal lebih dekat Yogyakarta. Pastikan Anda tidak melewatkan acara ini.

Sumber : (Cdr)-c KR