KIMONO, identik dengan negeri ‘sakura’ Jepang. Karena, kimono merupakan busana tradisional kebanggaan sekaligus sebagai brand Bangsa Jepang. Pakaian tradisional yang tampak anggun dan berwibawa ini, dikenakan baik oleh kaum pria maupun kaum wanita, serta anak-anak. Aneka warna kimono merupakan daya tarik tersendiri dan seakan tak ada habis-habisnya desain dan corak serta motif kain yang dipakai untuk kimono. Artinya, faktor bentuk, warna dan ragam hias kimono, merupakan unsur pembeda yang dinilai cukup penting.
Ada beberapa macam kimono, menurut ukurannya. Kimono panjang, yang kainnya sampai ke lantai, dengan lengan panjang, pada bagian depan tampak diikat dengan sebuah ikat pinggang yang cukup lebar. Dalam bahasa Jepang dikenal istilah Obi. Sementara di atas kimono, dikenakan semacam jas pendek sampai lutut yang dikenal dengan nama haori.
Pemakaian busana kimono ini pun macam-macam ketentuannya. Pada saat dipakai untuk acara berkunjung atau upacara-upacara lainnya, kimono untuk pria biasanya masih menggunakan semacam gaun lipit atau disebut Hakana, di atas kimono mereka.
Maka, tatkala digelar peragaan busana kimono di sela-sela gelar busana atau fashion show busana batik koleksi Nita Azhar, di panggung gedung Nishijin Textile Center, Kyoto, berkaitan kedatangan rombongan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono-X ke Kyoto, medio November 2005 lalu, publik pun melihat ada perpaduan yang serasi dan selaras antara desain-desain dan motif kimono dengan busana batik yang dibawakan dua peragawati Yogya.
Bahkan, tatkala beberapa kimono diperagakan dengan motif batik, tak bisa dihindari reaksi spontan aplause dari pengunjung. Pengunjung peragaan busana tersebut menyaksikan ada perpindahan nuansa yang tak jauh berbeda. Seakan memang ada pertalian yang hangat antara motif kain batik dengan kain kimono. “Kolaborasi batik dengan tekstil Jepang, khususnya untuk kimono, merupakan satu karya yang luar biasa,” kata beberapa warga Jepang yang menyaksikan peragaan busana tersebut.
Adalah GKR Pembayun, pimpinan Yarsilk, dan adiknya, GRAy Nurmagupita, yang membawa batik Yogya untuk bisa berkolaborasi dengan tekstil Jepang dan terobosan untuk motif kimono. Perajin dan pengusaha batik Yogya, Bambang Sumardiyono yang dipercaya menggarap motif-motif batik untuk kimono, baik melalui jaringan kerja sama Japan Blue dengan Inspirasi Indonesia, maupun kerja sama langsung dengan perusahaan kimono terkenal di Kyoto menyatakan bahwa batik terbukti bisa mendunia lewat kimono.
Hanya memang diakui, perlu ada perhitungan yang cermat dan kejelian dalam mengukur bahan kain kimono untuk diisi dengan motif batik. Sehingga, ketika dibentuk menjadi kimono dan dikenakan, maka motif batik itu pun bisa nyambung dengan halus dan pas. Dalam kunjungan kerjanya ke Kyoto tersebut, Sri Sultan tak segan-segan langsung memberi masukan mengenai motif-motif batik tertentu yang perlu diperhatikan ketika akan dipasang untuk kain kimono.
Jadilah, ketika diperagakan oleh gadis-gadis Jepang, tampilan berbagai motif dan model kimono menjadi satu kombinasi yang manis dengan kemunculan busana batik yang menampilkan warna-warna kalem. Warna-warna cerah yang dikedepankan oleh kimono-kimono tersebut juga tak terkesan norak, namun memang dimaksudkan untuk memberikan ‘hentakan’ tersendiri bagi busana tradisional Jepang tersebut. Toh, tampilan lemah-gemulai para peragawati dari Jepang dalam membawakan busana kimono seakan sudah punya pola dan patron tersendiri yang tak bisa disamakan dengan tampilan peragawati-peragawati barat.
Sehingga, apa pun warna dan corak kimono, tetap akan tampil anggun dan berwibawa, karena citra busana itu sendiri tak bisa diubah, sebagai busana yang mewakili jati diri orang Jepang yang memang berkarakter. Busana kimono pun, dalam berbagai macamnya, tetap punya karakter tersendiri.
Soal harga kimono pun bermacam-macam, mulai dari yang paling murah sampai yang miliaran rupiah. Bahkan, ada cerita di masyarakat Jepang, tatkala seorang suami selingkuh, sebagai wujud permohonan maaf dan diterimanya kembali ke pangkuan istri, maka sang suami disyaratkan membelikan kimono yang termahal harganya.
Kombinasi warna-warna yang dimunculkan kimono antara lain bawahan hitam dipadukan warna merah, bawahan hijau tua dengan kuning terang, bawahan hitam dengan biru muda, maupun bawahan merah dengan krem. Begitu pula antara bawahan hitam atau warna-warna gelap dengan aneka corak bunga-bungaan. Warna-warna klasik pun pada saat-saat tertentu tampak mendominasi dalam tampilan kimono.
Kalau misi Yogya dalam mewarnai kerja sama Sister Province DIY-Kyoto Perfecture berhasil, mak batik pun akan makin mendunia. Tak berlebihan kalau dikatakan bahwa batik menuju dunia melalui Kyoto.
Sumber : (Ronny Sugiantoro)-k KR