Archive for the ‘Batik Mancanegara’ Category

Pameran Kerajinan Indonesia di Jepang

Saturday, June 18th, 2005

Pameran KerajinanPendekatan sejarah dan budaya dapat membantu memasarkan produk kerajinan yang dihasilkan oleh pengusaha usaha kecil dan menengah Indonesia ke luar negeri. Hal ini ditampilkan dalam pameran kerajinan Indonesia Handicraft Gallery 2005 di Harajuku, Tokyo, Jepang, baru-baru ini. Pameran diikuti 40 pengusaha kecil dan menampilkan produk-produk dengan nuansa budaya Indonesia dari berbagai daerah.

Dalam pameran yang berlangsung selama tiga hari hingga hari Ahad mendatang, panitia menonjolkan kekayaan sejarah dan budaya Indonesia. Termasuk dengan menampilkan berbagai benda dari zaman prasejarah hingga era Majapahit. Sementara peninggalan dari zaman Kerajaan Islam di Indonesia seperti surat berhuruf Arab gundul dari Kerajaan Samudra Pasai dipamerkan dalam gerai tersendiri.

Selain itu, para pengunjung juga dapat menikmati karya Iwan Tirta, perancang busana yang lebih aktif menampilkan seni batik tulis pada setiap hasil rancangan. Batik tulis termasuk produk yang cukup menarik perhatian pengunjung. Menurut Iwan masing-masing batik tulis dikerjakan dalam waktu sekitar tiga bulan.

Menurut Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia Mohamad Suleman Hidayat, panitia sengaja menggunakan pendekatan budaya. Sebab, budaya Indonesia sudah lama dikenal masyarakat Jepang. Hidayat optimistis pameran ini dapat menarik minat investor untuk ikut mengembangkan usaha kecil dan menengah Indonesia yang bergerak di sektor kerajinan. Di masa datang, Kadin juga akan terus menyertakan UKM untuk memasarkan produk kerajinannya di pasar internasional. Pameran ini diselenggarakan oleh Kadin bekerja sama dengan Departemen Perdagangan, Kedutaan Besar RI di Jepang, Organisasi Perdagangan Luar Negeri Jepang, serta Asosiasi Pengusaha Jepang (Keidanren).

Sumber : (ZIZ/Donny Kurniawan dan Rudy Utomo) Liputan6.com, Harajuku

Tokyo Sambut Hangat Pameran Batik dan Perhiasan Indonesia

Friday, September 17th, 2004

Pameran dan penjualan batik karya perajin-perajin batik Bambang Priyanto dan Komaruddin Kudiya, perancang-perancang busana Stephanus Hamy dan Nita Azhar serta perhiasan perak karya Runi Palar yang dilangsungkan di Tokyo, Jepang, dipadati pengunjung.

Pameran dan penjualan pada 11 September lalu itu telah direncanakan cukup lama oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo dengan maksud mempromosikan produk ekspor nonmigas, terutama produk kerajinan tradisional asli Indonesia.

Menurut Mutoharul Djanan, Konselor pada KBRI Tokyo dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (16/9), meskipun ada aksi peledakan bom di (depan Kedutaan Besar Australia) Jakarta, kegiatan tersebut tetap dilangsungkan untuk tidak merugikan para seniman dan perancang busana yang telah beberapa hari menyiapkan karya mereka. Kegiatan itu juga diharapkan bisa memberi nuansa sejuk bagi citra Indonesia di Jepang.

Dalam pameran dan penjualan yang diadakan di kediaman Duta Besar RI itu ditampilkan batik tradisional dari Madura karya Bambang Priyanto dan batik tradisional dari Jawa Barat karya Komaruddin Kudiya. Selain itu, Stephanus Hammy dan Nita Azhar turut meramaikan pameran tersebut dengan busana-busana cantik karya mereka.

Sementara itu, seorang pembatik Kraton Yogyakarta, Suradjiyem, mempertunjukkan keahliannya dalam membatik di hadapan para pengunjung.

Antusiasme para pengunjung, kata Djanan, terlihat dari larisnya barang-barang pameran dibeli oleh mereka, walaupun dijual dengan harga mahal untuk ukuran kantong orang Indonesia.

Kemeja-kemeja batik karya Komaruddin tidak satu pun tersisa. Bahkan, ada pengunjung yang menyempatkan diri untuk mengambil uang tunai lalu kembali ke tempat pameran setelah terpesona melihat keindahan batik sutra seharga 72.000 yen (sekitar enam juta rupiah).

Dalam pameran yang menarik warga Jepang dan warga asing yang berada di Tokyo itu, di bagian kerajinan mutiara dan perak, perajin perak terkemuka Runi Palar menggelar karyanya.

Mutiara Indonesia, lanjut Djanan, mampu memenuhi selera konsumen Jepang. Mereka menilai, mutiara yang sebagian besar diambil dari kepulauan Nusa Tenggara tersebut memiliki kemilau yang sangat indah.

Perhiasan yang dipamerkan dan juga dijual itu antara lain berupa kalung mutiara yang harganya sangat tinggi, mencapai hampir lima juta yen (Rp 400 juta), terang Djanan.

Di samping dapat menikmati kerajinan tradisional asli Indonesia, para pengunjung juga disuguhi beraneka makanan ringan asli Indonesia secara cuma-cuma.

Sumber : (Ant/Ati) KCM, Jakarta

Batik dan Eksotisme Oriental

Sunday, December 7th, 2003

EKSOTISME oriental banyak memberi inspirasi desainer Indonesia. Gaya busana oriental yang seksi, feminin, dan kasual dengan bahan dasar batik menjadi inspirasi terciptanya busana-busana oriental bermodel kebaya. Contohnya adalah kreasi Mariana Sutandi yang diperagakan dalam pagelaran busana koleksi terbaru dari Rumah Butik Parang Kencana, beberapa waktu lalu.

Seluruh kreasi Mariana ditampilkan dalam aneka tema yang dibagi dalam beberapa sesi. Antara lain casual oriental, ethnic oriental, cotton textured, blue and white, tie dye (jumputan), hingga mix oriental, kebaya modifikasi dengan detail payet dan bordir.

Tanpa meninggalkan jejaknya pada budaya asli Indonesia, Mariana mengawinkan busana tradisional Indonesia–kain batik–dengan gaya oriental. Imajinasinya menciptakan kebaya yang elegan, berkesan modern dan kosmopolit tanpa meninggalkan kesan alami dan eksotik yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Mariana memilih tema oriental pada busana rancangannya dengan alasan gaya tersebut paling mudah melekat di hati banyak orang. Kali ini kesan oriental yang dipilih lebih condong pada ‘Negeri Tirai Bambu’, China. Meski demikian, ada juga sentuhan khas Jepang.

Busana rancangannya kebanyakan berwarna lembut. Misalnya warna moka, perpaduan ungu dan cokelat, hijau, hitam, biru, dan sebagainya. Warna pilihannya memang agak bertentangan dengan busana oriental China yang didominasi warna mencolok semisal merah, merah jambu, kuning, dan oranye.

Warna lembut dipilih karena, menurut Mariana, sebagian besar orang Indonesia tidak menyukai warna-warna mencolok. Meski demikian, sebagian hasil rancangannya juga memadukan warna lembut dan mencolok. Pilihan warna terang antara lain jatuh pada kuning dan oranye.

Pada sesi pertama, Maria mengusung tema Casual oriental. Dirangkum demikian karena busana-busana sesi ini khusus dirancang untuk kawula muda. Baju-baju sesi ini didominasi warna ungu dan hijau dengan model kerah ala China. Motif kain batiknya antara lain menggambarkan burung, menggunakan bahan organdi dan sutra. Secara keseluruhan, meski rancangan sesi ini kental dengan nuansa China, tidak kehilangan keindonesiaannya.

Untuk motif rancangan yang bertema Ethnic oriental, warna-warna yang ditonjolkan hampir senada, tapi banyak menampilkan lambaian kain yang pada akhirnya memberi kesan romantis. Sesi busana bertema Tye dye didominasi warna hijau merah, oranye, dan hitam. Kerahnya masih banyak mengambil kekhasan dari China, dengan penggunaan bahan organdi, thai silk, dan sutra. Bahan-bahan itu memberi sentuhan elegan.

Motif rancangan bertema Mix oriental didominasi warna hitam dan hijau dengan belahan dada yang rendah dan bagian bawah baju yang lebar, panjang melambai-lambai. Busana ini divariasikan dengan aksen kupu-kupu di bagian dada, dan motif burung yang juga dipadu dengan detail payet dan bordir. Kesannya menawan dan sensual.

Sumber : (CR-33/M-3) Media Indonesia

Seniman Muda Polandia Pamerkan Karya Batik

Tuesday, February 4th, 2003

Seni membatik Indonesia tak disangkal lagi telah menarik perhatian dunia. Begitu banyak seniman dari berbagai penjuru dunia yang ingin mempelajari cara membatik yang baik. Beberapa di antara mereka datang dari Polandia. Hasil seni membatik karya seniman Polandia dari berbagai usia ini kini dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta, hingga 5 Februari.
Dengan judul ”The Batik Painting Exhibition”, pameran ini menampilkan corak-corak menarik dengan kekhasan masing-masing. Estetika seniman Polandia ini begitu baik hingga mampu menampilkan pola-pola yang istimewa.
Para seniman yang terbilang berusia muda—mulai 9 hingga 25 tahun—ini telah memiliki teknik membatik yang baik dan kreativitas yang tinggi. Ini terlihat dari pewarnaan dan teknik penutupan lilin yang bertingkat-tingkat, serta motif yang bervariasi. Beberapa di antara mereka bahkan telah melakukan eksplorasi dengan menggabungkan seni batik dan unsur-unsur modern.
Gaya batik yang prosesnya dimulai dari pernuangan ekspresi secara personal dengan teknik batik lewat pencelupan, pewarnaan dan pelorotan berulang kali memang telah tumbuh subur sejak lama di Yogyakarta.
Dalam pameran ini, para seniman muda mengambil ide berdasarkan keadaan di negerinya, seperti yang dilakukan Agnieszka Zagowalko, berusia 17 tahun, lewat karyanya ”Slupsk, a Fragment of a Building in Kollataja Street.” Namun, yang mengejutkan, banyak yang menggali inspirasi dari berbagai lokasi di Indonesia, padahal tak semua dari mereka pernah datang ke Indonesia. Mereka menampilkan suasana, sosok, dan bangunan. Maka, jangan heran bila bangunan berupa Candi Borobudur, sosok penari Bali, dan suasana jalan di Kuningan, Jakarta muncul sebagai objek
Natalia Sintadewi, staf Kedutaan Besar Polandia mengatakan bahwa para pelukis ini melihat contohnya dari berbagai buku yang ada dan bercerita tentang Indonesia. Artinya walau tak pernah, kita akan bisa terkecoh dan mengira ini adalah karya para seniman batik Indonesia. Yang patut dicatat dari pameran ini adalah kenyataan bahwa seni batik telah berkembang, tidak hanya di kawasan Asia melainkan telah melangkah hingga ke benua lain.
Sebuah kenyataan yang boleh dibilang menggembirakan tetapi tetap menyiratkan peringatan. Seandainya, bangsa sendiri tak bisa melestarikan batik, jangan-jangan tradisi kebanggaan Indonesia ini kelak malah menjadi milik bangsa lain. Mudah-mudahan itu tidak akan terjadi.

Sumber : (srs) Sinar Harapan

Pameran Lukisan Batik Polandia di BBJ

Friday, January 31st, 2003

Tradisi seni batik tidak saja berkembang di Indonesia atau negara-negara Asia, tetapi juga di Polandia. Mungkin kenyataan ini agak mengejutkan karena tradisi seni batik, yang sudah turun-temurun berkembang di Indonesia, ternyata juga dikerjakan oleh pelajar dan mahasiswa dari Pusat Kebudayaan Slupsk, Polandia, dengan pola dan metode yang mirip seperti dikerjakan di Indonesia. Karya mereka akan dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Jalan Palmerah Selatan 17, 31 Januari-5 Februari 2003. Pameran yang menampilkan 34 lukisan batik Polandia ini akan dibuka malam ini oleh Duta Besar Republik Polandia di Jakarta, Krzysztof Szumski.

Lukisan batik karya seniman Polandia yang berusia sekitar 9 tahun sampai 24 tahun, sekilas mirip dengan lukisan batik Tamansari di Yogyakarta. Ini dapat dipahami karena teknik membatik di dunia menggunakan metode dan teknik sama, baik penggunaan aneka warna kimiawi maupun teknik penutupan dengan lilin yang bertingkat-tingkat. Hanya, yang membedakannya adalah pemilihan identitas karya dalam hal tema lukisan.

Bila dicermati, beberapa karya menunjukkan tema-tema yang akrab karena mengambil tema Keraton Yogyakarta, becak sebagai kendaraan khas di Indonesia, masjid, Candi Borobudur, penari Bali, bunga bangkai, sampai patung dinosaurus di Kebun Binatang Gembira Loka di Yogyakarta. Namun, juga ada tema yang bersetting Eropa, seperti kereta salju ditarik kuda di lautan salju, gedung tua khas Eropa, dan semacamnya.

Bagaimana mereka mendapat ide dengan tema-tema yang khas Indonesia tersebut? Apakah mereka pada suatu kali pernah berkunjung ke Indonesia? Menurut Natalia Sintadewi, staf Kedutaan Besar Polandia di Jakarta, mereka melukis tema-tema berlatar Indonesia itu terinspirasi oleh gambar-gambar di buku-buku tentang Indonesia, atau dari kartu-kartu pos yang kemudian mereka lukiskan di atas kain dengan teknik batik. Artinya, tidak semua pelukis pernah datang ke Indonesia, mereka berkreasi berdasarkan imajinasi dan fantasi lewat gambar-gambar reproduksi. Bila tidak melihat nama-nama pelukisnya, kita barangkali akan terkecoh bahwa lukisan batik tersebut dikerjakan oleh seniman dari Polandia.

Sumber : (*/can) Kompas Cetak, Jakarta

Pertalian Tekstil India dan Indonesia

Sunday, October 27th, 2002

Akulturasi batik India dan IndonesiaSeni tekstil India dan Indonesia mempunyai pertalian yang sangat erat. Bahkan sejak pertengahan Abad 18 tekstil produksi India sudah masuk ke Tanah Air dan kemudian saling berakulturasi dengan seni tekstil di Indonesia. Pertalian budaya kedua negara ini tampak jelas dalam beberapa teknik dan motif yang sangat dikenal sekarang seperti Paisley atau Songket. Untuk melihat pertalian tersebut berikut laporan reporter SCTV yang menelusuri sejarah tekstil, baru-baru ini.

Patola, kain berwarna dasar merah merupakan tenun ikat ganda bermotif cantik dengan bahan sutra. Di Indonesia Patola dikenal dengan sebutan Cinde. Bahkan di kalangan keraton Yogyakarta dan Solo kain Cinde motif cakar buatan India sudah digunakan sebagai kain pengantin keluarga kerajaan dan kain para penari Bedoyo Ketawang atau Serimpi.

Pengrajin tekstil di Idia awal Abad 19 juga mempertimbangkan pasar sasaran mereka di Indonesia. Beberapa motif khas Indonesia seperti ujung kain yang disebut tumpal, jumputan kain pelangi dari Palembang akhirnya diadaptasi dalam seni tekstil India. Motif ini bertahan hingga sekarang. Sebaliknya, batik Jambi, batik Lasem atau batik Yogya juga menggunakan motif khas India.

Seni tekstil India yang disebut Brocade adalah Sulaman dengan benang emas dari daerah Tamil Nadu, sangat mempengaruhi seni tekstil Palembang yang biasa disebut songket. Hal ini tampak dalam persamaan teknik dan motif yang muncul dengan warna emas yang mewah. Selain itu, garisan emas pada kain batik yang biasa disebut Prada juga sebenarnya berasal dari India.

Sumber : (YYT/Esther Mulyanie dan Agus Ginanjar) Liputan6.com, Jakarta

Ceplok yang Kian Membumi

Sunday, September 8th, 2002

ENTAH kenapa dinamai ceplok. Yang pasti arti ceplok adalah tutup (gelas) yang berornamen bunga mawar. Namun, corak dasar batik ceplok adalah geometris (bundar) dan empat persegi. Ornamen di dalamnya bisa diletakkan motif parang, kawung, atau bahkan cerita wayang komplet dengan ceritanya. Atau dalam garis besar, AN Suyanto menyebut ragam hias ceplok secara tidak sengaja menggambarkan bunga, hewan, atau benda-benda dari alam semesta.

Itu semua merupakan gambaran awal atau semacam konvensi tak tertulis ragam hias motif ceplok. Namun, dalam perkembangannya, motif ceplok jauh melangkah berkembang luas corak hiasnya. Kebebasan para kreator desain batik telah membawa motif ceplok keluar dari batas patokan yang ada. Hal itulah yang membuat ragam hias ceplok di Yogyakarta, misalnya, mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan daerah lain.

Bahkan, Ir Sri Soedewi Samsi, pengamat batik di Yogyakarta, menyatakan generasi sekarang sudah sulit melacak apa yang namanya ceplok karena demikian jauhnya perkembangan kreativitas motif ceplok, khususnya di Yogyakarta. Apalagi motif ceplok sekarang tidak lagi hanya menggunakan latar belakang warna dasar hitam dan putih.

”Motif ceplok ini sepertinya mengikuti gaya hidup yang berubah-ubah dari zaman ke zaman. Bahkan kreativitas motif ceplok sudah banyak dipadukan dengan motif lainnya untuk memenuhi selera pemakai,” kata Sri Soedewi.

Perjalanan kreatif motif ceplok, jelas bisa terlihat dalam lomba desain batik ceplok motif Yogyakarta yang diselenggarakan dalam ”Festival dan Lomba Internasional Batik Motif Yogyakarta” di Yogyakarta yang ditutup Sabtu (7/9). Ada 42 peserta lomba kreatif motif ceplok ini, sebagian besar datang dari Yogyakarta, yang lain berasal dari Solo, Cirebon (Jabar), Sidoharjo (Jatim), ada pula peserta dari Provinsi Jambi.

Meskipun peserta lomba motif batik ceplok tahun ini menurun dibanding lomba pertama tahun lalu yang diikuti 90 peserta lebih, menurut Ardiyanto Pranata sebagai ketua panitia, kualitas dan kreativitas makin jelas terbaca dalam lomba kali ini.

***

KREATIVITAS peserta lomba motif ceplok yang menonjol adalah keberanian untuk keluar dari warna dasar hitam-putih, dan juga penciptaan keragaman hias yang makin bervariasi. Seperti dalam lomba itu muncul karya yang diberi nama Ceplok Gusti Putri, yang mengetengahkan kelopak-kelopak bunga menyerupai mawar dan bunga matahari dalam ukuran cukup besar. Di antara deretan dua macam bunga-bunga itu dirangkai bunga-bunga kecil berwarna cokelat dan ungu keputihan. Warna dasar ungu keputihan menjadikan motif ini tampak cerah.

Ada peserta yang menamakan karyanya Ceplok Sekar Budi Kusumo Sari, bukan saja berkesan cerah, tetapi juga menghindari permainan blok sebagaimana layaknya kain batik. Warna dasar ungu keputihan masih tampak dominan karena ornamen hias bunga-bunga yang bebas dari konvensi ceplok itu hanya diletakkan di beberapa tempat saja, di mana masing-masing bunga dihubungkan garis-garis yang menyerupai tangkai.

Ceplok caronsih, masih lekat dalam konvensi ceplok, seluruh kain diblok dengan jajaran empat persegi, yang di dalamnya diletakkan gambar loro blonyo, sepasang ikan, dan simbol kerajaan. Karya ini mirip dengan karya peserta lain, yaitu motif ceplok goro-goro dan ceplok rama sinta. Ceplok puspa ragam dan ceplok suarna dwipa, terlihat jelas sebagai karya batik modern khususnya dalam hal tata warna.

”Revitalisasi yang terus-menerus dari karya batik, bukan saja memperkaya khazanah dunia batik, tetapi juga cara untuk pelestarian kain batik,” kata GKR Hemas. Revitalisasi ini pula yang akan melahirkan sentuhan-sentuhan modernisasi, akulturasi dalam motif batik. Revitalisasi ini yang akhirnya mengantar batik ke dalam tata nilai ekonomi dan akan menjadi wacana yang mendunia.

Sumber : (TOP) Kompas Cetak, Yogyakarta

Motif Batik Indonesia Turut Mengangkat Kain Australia

Thursday, September 5th, 2002

Pesona motif batik Indonesia ternyata mampu menjadi sumber inspirasi para seniman tekstil kontemporer Australia. Perpaduan bahan-bahan khas suku Aborigin dan motif batik Jawa mampu mengangkat kain Australia menjadi hasil seni berkualitas tinggi. Kekuatan pengaruh motif batik Jawa dalam kain Australia itu terlihat dalam pameran karya-karya seniman tekstil kontemporer Negeri Kanguru di Bentara Budaya Yogyakarta, pekan pertama September ini.

Tak kurang dari 30 karya seniman besar Australia, seperti Patricia Black, Jennifer Dudley, Karen Edin, Ruth Hadlow, ambil bagian dalam pameran untuk mempererat hubungan persahabatan dua negara bertetangga ini. Menurut informasi yang diperoleh SCTV, sebelum berkarya, para seniman itu menyempatkan diri melawat ke Indonesia dan mempelajari sejumlah motif batik tradisional.

Menurut mereka, pengaruh batik Jawa mampu memperkaya keindahan tekstil tradisional Australia, terutama kain khas suku Aborigin. Perpaduan motif batik Jawa dan bahan kain tradisional Aborigin, seperti kulit kayu, binatang, atau benang sutra dinilai mampu mengangkat citra kain Australia menjadi benda seni yang layak dipamerkan.

Sumber : (DEN/Wiwik Susilo dan Mardianto) Liputan6.com, Yogyakarta

Interaksi Warga Dunia dalam Kolase Jejak Kain

Wednesday, August 21st, 2002

Pameran Kain Australia KontemporerDalam tahun 1999 terjadi semacam tragedi budaya yang sangat mengganggu hubungan antarbangsa. Kejadian berawal di Brisbane, tempat di mana masyarakat seni Australia mempersiapkan perayaan besar berupa pertukaran budaya lintas dalam bentuk Trinale Ketiga Asia Pasifik yang disponsori Galeri Seni Queenslands tepat ketika krisis Timor Timur mencapai klimaks yang tragis.

Ratusan Petisi dikirim melalui e-mail kepada Galeri Queenslands, menyerukan pemboikotan terhadap Trinale Ketiga Asia Pasifik dengan alasan partisipasi seniman Indonesia. Ledakan sentimen anti Indonesia yang meledak dalam sebagian komunitas seni Australia waktu itu dipanas-panasi oleh media massa yang menumpangi dengan memberi laporan yang tak seimbang.

Gambaran itu menunjukkan betapa kejamnya politik, ketika menginjak-injak wilayah kebudayaan. Jaringan kebudayaan entah itu dilakukan individu ataupun komunitas, menjadi berantakan dan itu artinya memberangus pula relasi pergaulan antarwarga bangsa.

Pameran Kain Australia Kontemporer, di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), 19-26 Agustus seperti ingin mengembalikan naluri relasi antar manusia yang tak dibentengi oleh sekat geopolitik yang terkadang justru menganggu. “Dengan kain entah itu motif batik atau model kain yang lain, kami tidak sekedar ingin menampilkan karya kontemporer negeri kami, di samping itu kami ingin mengembangkan sikap sosial budaya,” tegas Peter O’Neill Direktur Wollongong City Gallery kurator pameran yang dibuka GKR Pembayun dari Keraton Yogyakarta.

Pameran kain yang bertajuk Tracking Cloth/Menelusuri Kain, menurut Peter, kain sengaja dipilih, karena media tekstil merupakan satu suara yang terpenting dalam hampir semua tradisi kultural. Pola dan motif tekstil atau kain, telah berkelana ke seluruh dunia selama berabad-abad, mempengaruhi estetika budaya yang jauh melampaui asal-usul mereka. Medium kain, secara intim berhubungan dengan seremoni, ritual, dan pengalaman sehari-hari.

***

Ada 24 orang pendukung pameran ini, semuanya dari berbagai wilayah di Australia. Kain yang dipamerkan, sebagaimana diungkapkan Peter, erat kaitannya dengan pengaruh batik Indonesia. Seperti batik karya Karen Edin yang lebih bernuansa abstrak, merupakan paduan citra rasa halus Jawa dengan citra pedalaman Australia. Pengalaman empat bulan belajar batik di Yogyakarta sekitar 25 tahun lalu, masih sangat mempengaruhi karya Karen.

Kain kontemporer yang diciptakan Ruth Hadlow, sangat dipengaruhi budaya Timor Barat. Kain ciptaan Ruth Hadlow ini memang unik, gambar yang dimunculkan adalah mengenai budaya atau aturan tentang kehamilan dan melahirkan. Karena itu, Ruth menorehkan simbol laki-perempuan, tanda silang, garis-garis, dan lainnya.

Batik karya Nyukana Baker, Alison Carroll, Yilpi Marks, sangat dipengaruhi batik tradisional Indonesia, namun teknik penggarapan canting, lebih lembut dan lebih detail. Keindahan batik kontemporer terasa lebih artistik dibanding batik Indonesia.

Seorang Raja tinggal di istana, sedang seorang empu tinggal di angin, begitu tulis dramawan WS Rendra. Ini mengingatkan kita bahwa seniman sebagai empu harus selalu berusaha tinggal di angin yang tak mengenal batas. Itu yang hendak disampaikan seniman Australia tersebut lewat pameran kain kali ini.

Sumber : (TOP) Kompas Cetak