Archive for the ‘Batik Indonesia’ Category

Batik Tulis Tasik Kehilangan Generasi Penerus

Monday, May 22nd, 2006

Sayaka Sasaki, perempuan asal Jepang ini, tidak mampu lagi membendung keinginannya, untuk meperlajari batik tulis tradisional khas Tasikmalaya. Begitu ada kesempatan, ia terbang dari Jepang ke Indonesia lalu ke Tasikmalaya. Selama dua minggu, ia belajar bikin batik tulis kepada perajin batik tulis H. Dudung, daerah Cipedes, Kota Tasikmalaya.

Sayaka adalah satu dari sekian banyak orang asing yang tertarik dengan seni batik tradisional Tasikmalaya. “Selain Sayaka, ada juga dari Belanda, Swiss, dan Selandia Baru yang mempelajari batik tulis khas Tasikmalaya ini,” kata Dudung, ketika ditemui di kediamannya.

Namun ironisnya, ketika orang luar ramai-ramai belajar membuat batik tulis, justru di daerah Tasikmalaya sendiri, yang tertarik ke batik tulis hampir tak ada. Terutama, dari kalangan mudanya. Situasi ini, yang membuat para perajin batik, seperti Dudung, merasa gelisah. Ia khawatir, batik khas daerah ini, punah karena tak ada tenaga pembatik. “Tenaga pembatik yang ada, atau mereka yang biasa membuat batik tulis, saat ini sebagian besar atau 90 persen usianya sudah di atas 50 tahun. Kalau mereka pergi, jelas tak ada lagi generasi yang membuat batik,” katanya.

Dudung juga baru kehilangan pembatiknya, Ny. Icih dan Enok. Mereka ini adalah pembatik yang telah lanjut usia. Tapi, penerusnya tidak ada lagi yang muncul.

Diakui juga oleh perajin batik Ecin Kuraisin, asal Sukaraja, Tasikmalaya. Mereka yang menekuni jadi pembatik, di daerahnya satu persatu pergi atau berhenti, karena sudah usia lanjut. Ia sendiri khawatir batik tulis khas Tasikmalaya, tinggal kenangan.

Di daerah Kota Tasikmalaya, sendiri sentra batik tulis yang sekarang tersisa, yaitu Kota Tasikmalaya berada di daerah Cipedes, Kec. Cipedes, lalu Ciroyom, Kelurahan Nagarasari, Kec. Cipedes. Sedangkan lainnya, di Sukaraja, masuk ke Kabupaten Tasikmalaya.

Sekarang ini, keluhan kekurangan tenaga pembatik, tidak saja terjadi di Cipedes dan Sukaraja, tapi sama juga dilontarkan oleh para pengrajin batik di daerah Ciroyom. Sudah lebih sepuluh tahun terakhir ini, jumlah pembatik tulis tradisional menyusut tajam di Ciroyom. Ada yang memang meninggal dunia, atau berhenti karena sudah tua. Sementara, dari mereka yang muda yang ditunggu-tunggu untuk menjadi tonggak penerus, tak juga datang.

“Memang seperti di tempat saya ada yang muncul dari yang muda. Tapi, jumlahnya hanya satu atau dua orang. Jumlahnya, tidak seimbang dengan yang meninggal atau berhenti,” kata H. Cacu Darsu, pengrajin batik tradisional Ciroyom.

Diakui oleh Dudung yang menjadi penerus Batik Esah, keengganan generasi muda menekuni batik, karena rumit serta harus punya rasa seni tinggi. Selain itu, mungkin karena generasi sekarang lebih suka masuk ke kantoran dengan gaji besar.

Sebenarnya ada juga pelajar yang mempelajari batik, namun jumlahnya kecil. Selain itu, begitu ke luar dari sekolah, mereka tetap saja mencari kerjaan di tempat lain.

Rendahnya generasi muda Tasik yang mau menekuni batik tulis tradisional, membuat kegundahan para pe ngrajin batik di Kota Santri Tasikmalaya. Apalagi sejalan dengan itu, jumlah mereka yang menekuni usaha batik tradisional, semakin hari terus berkurang.

Data di Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kota Tasikmalaya, di masa kejayaan batik, antara tahun 60-an hingga awal 80-an, tak kurang ada 450 pengrajin batik. Dari perajin sebanyak itu, mampu menyerap ribuan tenaga kerja.

Pemasarannya, tidak hanya di daerah Tasikmalaya, tapi juga sampai ke Sumatra, Kalimantan, Sulawesi hingga lainnya. Jumlah batik yang dipasarkan, cukup banyak.

Seperti Batik Esah, setiap minggunya puluhan kodi (satu kodi 20 lembar) batik yang dijual. Batiknya, kebanyakan samping dan sarung. Sedangkan di Ciroyom ada ribuan perajin batik, dengan kapasitas produksi cukup besar. Perajin batik Hj. Enok Sukaesih asal Ciroyom, waktu masa kejayaannya, bisa jual batik dalam jumlah sangat besar puluhan kodi dalam seminggunya.

Namun perjalanan waktu, usaha batik tradisional satu per satu gukung tikar. Hingga sekarang ini, yang tersisa pengusaha batik tradisional di Kota Tasikmalaya, diperkirakan 34 orang. Semua itu, tentu saja berdampak pada makin berkurangnya produksi batik tradisional atau yang lebih dikenal dengan batik tulis.

Apalagi kini sudah banyak usaha batik yang produksinya, ke printing atau cap. Bagi pengusaha pada produksi batik printing dan cap tak lepas dari masalah tenaga kerja, pasar dan daya beli masyarakat. Untuk bikin 1.000 potong batik printing hanya butuh waktu satu hari dengan tenaga kerja 20 orang. Sedangkan dengan batik tulis, untuk satu potong saja, rata-rata membutuhkan waktu lebih daari seminggu.

Diakui oleh Enok Sukaesih maupun Dudung, proses membuat batik tulis memakan waktu yang agak lama. Biasanya, prosesnya diawali mulai dari menggambar, lalu gambar itu dimasukkan ke kain jenis primisira. Istilah pembataik setelah membuat gambar, lalu bikin pola, selanjutnya memberi malam pada gambar memakai canting, diwarnai menggunakan kuas, ditembok atau warna yang sudah dioles, ditutup lilin untuk mencegah terkena warna lain, lalu dicelup (memberi warna dasar), hingga pelepasan malam memakai air mendidih (rorod).

“Sedikit rumit, dengan memakan waktu paling cepat seminggu. Tapi, ada juga yang sampai tiga bulan. Semakin tinggi tingkat kerumitannya, maka semakin mahal harga batiknya,” ujar Enok.

Harga batik tulis ini, dijual ke pasar rata-rata mulai dari Rp 200 ribu, hingga Rp 1,5 jt.

Sebagian besar, di daerah ini pembatik yang menjual sendiri atau hanya menunggu pembeli datang. Paling banter pasaran akan bagus saat musim pernikahan. Pada saat itu mereka biasanya mengerjakan pesanan batik, baik untuk digunakan pengantin maupun keluarga pengantin, para penjemput tamu sampai panitia.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya, Tantang Rustandi didampingi Kepala Bidang Perdagangan Gungun, mengemukakan, ada beberapa hal yang menyebabkan usaha batik mengalami kemorosotan. Pertama, karena perkembangan mode dan industri tekstil yang pesat, yang akhirnya banyak menyisihkan kain batik. Seperti, bisa dilihat sudah jarang orang menggunakan samping batik dalam kegiatan sehari-hari.

Faktor lain, karena semakin berkurangnya pembatik itu sendiri. Lalu, kenaikan harga produksi atau bahan baku batik, sedangkan pemasaran yang semakin sulit.

Lalu, masalah lain yaitu kurangnya inovasi dari perajin sendiri. Sehingga, terjadi monoton yang akhirnya, pasar mengalami kejenuhan dan promosi yang kurang.

Kini, dinas tengah berusaha untuk membangkitkan kembali usaha batik. Di antaranya, lewat program proyek pendanaan kompetiti (PPK) yang diterima Kota Tasikmalaya, dari Jabar.

Dari PPK ini, dikembangkan pelatihan masala desain produk, serta pengembangan motif batik. Lalu, pelatihan pemasaran dan cara ekspor. Dengan pelatihan ini, diharapkan inovasi dari perajin muncul, serta bisa mengikuti perkembangan atau selera pasar.

Untuk promosi, kini Pemkot Tasikmalaya, membuka rumah Tasik, yang digunakan untuk pemasaran bersama produk kerajinan Kota Tasikmalaya. Di dalamnya, yaitu sebagai berisi batik khas Tasikmalaya. Sehingga, dengan adanya Imah Tasik, yang akan mencari batik khas Tasikmalaya, tidak sulit mencari. “Lokasinya di Kawalu, Tasikmalaya. Nanti dilengkapi dengan jaringan internet untuk promosinya,” tambah Gungun.

Pengusaha batik tradisional Tasikmalaya, tidak ingin pamor batiknya merosot. Dalam hal ini, mereka seperti kata Dudung atau Cacu, pemerintah bisa membantu memasarkan secara langsung. Caranya, sebaiknya pemkot buat seragam pegawainya dari batik khas daerah ini. Cara itu, bukan hanya untuk menyerap pemasaran batik, tapi ikut mempromosikan.

Begitu juga seragam sekolah yang pakai batik, selama ini sering gunakan batik cirebonan atau pekalongan. Kini, minta untuk gunakan batik asli. Mereka siap untuk membuatnya.

Tentu semua tidak ingin batik tasikan yang bercirikan warna dasar merah, kuning, ungu, biru, hijau dan soga, hilang. Untuk itu,butuh komitmen bersama agar seni daerah ini, bisa hidup serta tumbuh hingga menjadi fondasi ekonomi masyarakatnya, sebagaimana dalam tiga dekade ke belakang.

Sumber : (undang sudrajat/”PR”)*** Pikiran Rakyat

Batik Semarangan yang Terlupa

Thursday, May 18th, 2006

Ragam motif batik di Jawa Tengah selama ini lebih didominasi Solo dan Pekalongan, dua kutub yang masing-masing mewakili kultur pedalaman dan pesisir. Namun, sebenarnya kekayaan Jateng akan ragam motif batik tidak terbatas di dua wilayah itu. Hampir semua wilayah di provinsi ini memiliki motif khas.

Sayang, kekhasan motif batik di luar Solo dan Pekalongan jarang atau mungkin tidak pernah terangkat ke permukaan. Beberapa di antaranya kini nyaris tinggal legenda, salah satunya batik semarangan. Pada abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-19, batik semarangan pernah mencapai zaman kejayaan karena dipakai semua kalangan, bangsawan maupun rakyat jelata.

Namun, konon kejayaan itu berakhir menyusul meletusnya Gunung Ungaran akhir abad ke-19. Setelah itu batik semarangan tak banyak lagi dipakai sebagai busana khas. “Lama-kelamaan orang Semarang pun menjadi lupa motif batik Semarang (semarangan),” kata Zhilla Maya, perajin batik semarangan.

Menurut Zhilla, motif batik semarangan mulai disibak lagi tahun 1980-an. Salah satu motifnya adalah sarung kepala pasung. Motif ini didominasi warna cokelat dan hitam dengan ornamen lebih mengarah bentuk tumbuhan. Dominasi warna cokelat dan gelap menampilkan kesan agung. Uniknya, motif batik semarangan justru diketahui dari hasil repro Los Angeles Country of Art, yang menampakkan motif sarung kepala pasung yang pernah dibuat tahun 1910.

Akibat keterpurukan cukup lama itu, batik semarangan hingga kini masih jarang diketahui masyarakat, bahkan warga Semarang sendiri. Ditambah tidak banyak pengusaha atau perajin batik yang mengembangkan jenis batik ini.

Zhilla adalah satu dari segelintir pencinta batik asal Semarang yang peduli dengan kelangsungan batik Semarang. Bersama sejumlah kawannya, Zhilla mengembangkan pembuatan batik semarangan.

Batik semarangan buatan Zhilla mengacu pada unsur alam, sebagaimana cara pembatik tempo dulu mengerjakan batik jenis ini. Unsur alam ini terutama ditekankan pada bahan pewarnanya yang hampir semuanya berasal dari alam. Misalnya untuk warna kuning dan hijau, Zhilla menggunakan buah jelawe.

Sumber : (HAN) Harian Kompas

Mengenalkan Pesona Batik Tegal: “Isen-isen” Diilhami Keindahan Flora dan Fauna

Monday, May 1st, 2006

Kekayaan budaya batik di Jawa Tengah kembali dipertunjukkan Hotel Graha Santika Semarang dengan memperkenalkan model batik khas Tegal. Batik tulis Tegal atau tegalan itu dapat dikenali dari corak gambar atau motif rengrengan besar atau melebar. Motif ini tak dimiliki daerah lain sehingga tampak eksklusif.

Isen-isen agak kasar diilhami oleh flora dan fauna lingkungan. Ini dipadukan dengan warna spesifik yang lembut atau kontras,” ujar Tatik Adi Winarsa, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Tegal , sewaktu mengisi acara bertemakan Dialog Interaktif Semangat Langkah Kartini, Sabtu (29/4) di Hotel Graha Santika. Acara ini dilanjutkan peragaan busana rancangan desainer Semarang, Susetyawati.

Tatik, yang juga istri Wali Kota Tegal ini, mengungkapkan, warna lembut dan kontras adalah motif batik gaya pesisiran. Ini memunculkan kesan tegas dan lugas.

Dalam peragaan itu ditunjukkan, gaya pesisiran tegalan berbeda dibanding daerah lainnya. Batik tegalan didominasi warna coklat dan biru. Dibawa Amangkurat

Tatik juga menerangkan, budaya berpakaian batik di Tegal dibawa Raja Amangkurat I (Sunan Amangkurat Mas) dari Keraton Kasunanan Surakarta. Amangkurat yang saat itu menyusuri pantai utara membawa pengikutnya yang di antaranya perajin batik.

Perajin ini akhirnya menurunkan ilmunya pada anak cucunya dan meluas ke masyarakat. Aktivitas usaha batik tulis tegalan di Kota Tegal mengelompok dalam sentra industri kecil-menengah di Kelurahan Kalinyamat Wetan, Bandung, Tunon, dan Ketruren, wilayah Kecamatan Tegal Selatan.

Oleh Susetyawati, akrab disapa Suse, kain batik ini dipadukan dengan baju kebaya modern, mulai dari warna coklat hingga ungu, hijau lumut, biru muda, dan putih. Kebaya itu dihias dengan bordir atau manik-manik.

Sebenarnya, pada beberapa kebaya, Suse mengambil model sederhana. Hanya sentuhan bordir dan payet menjadikannya berkesan glamor. Untuk semakin mempercantik rancangannya, Suse mengambil beberapa motif batik tegalan seperti kuku macan, tapak kebo, gribigan, hingga beras mawur sebagai padanan kebayanya. Perbedaan motif ini terletak pada rengrengan atau isen-isen yang paling dominan. Umumnya diilhami keberadaan flora dan fauna.

Bukan hanya batik tulis, Suse juga menampilkan batik celup berwarna cerah dan ceria menjadi kebaya. Sebagai padanan, dia mengambil rok atau celana panjang biasa yang berwarna seirama untuk memberi kesan kasual.

Busana batik itu semakin mempercantik pemodel arahan Totok Shahak. Orang pun kenal pesona batik tegalan.

Sumber : (Ichwan Susanto) Harian Kompas

Jadikan Batik Bagian dari Pariwisata

Monday, April 17th, 2006

MEMBATIK bagi generasi muda atau remaja memiliki nilai tersendiri. Terbukti, gema pesona batik makin meluas sampai mancanegara. Tak cuma kalangan dewasa dan tua saja yang menyukai batik, khususnya batik Yogya. Kalangan remaja pun mulai mengenal karya batik. Hal ini dialami sendiri oleh Chaliet Bambang, desainer batik, yang belum lama ini kembali mengikuti pameran dan demo membatik di beberapa negara di Eropa, seperti di Jerman, Hongaria, dan Swedia.

Dalam event pameran bernuansa pariwisata di tiga negara tersebut, Chaliet yang didampingi suaminya, Bambang, bersama delegasi Java Pavillion, yang didukung Pemkab Sleman, sukses menggelar pameran dan demo membatik. Bahkan, stand Java Pavillion mendapat perhatian khusus, di antaranya karena banyak pengunjung tertarik pada demo membatik yang diperagakan Chaliet dan suaminya. “Tak cuma berhenti dan melihat. Banyak pengunjung yang menanyakan cara dan proses membatik, serta macam-macam dan jenis batik. Bahkan, beberapa pengunjung pun tampak asyik dan menikmati ketika kami beri kesempatan untuk praktik membatik,” kata Chaliet, kepada KR.

Beberapa remaja, juga tertarik praktik membatik dan cukup lama mencoba membatik, dengan bimbingan Chaliet. Dengan mengenal batik, lanjut Chaliet, makin banyak orang asing, khususnya publik dari berbagai negara yang datang pada event Internationale Tourismus Borse/ITB Berlin yang digelar rutin setiap Maret, maupun pameran di Hongaria dan pasar wisata Skandinavia di Gotteborg, Swedia, akan makin mengenal Indonesia dan juga Yogya sebagai destinasi wisata.

Sehingga, menurut Chaliet, batik tetap menjadi salah satu ikon Yogya khususnya dan Indonesia pada umumnya untuk dikedepankan. “Jadikan batik sebagai bagian dari pariwisata,” tegasnya.

Dari pengalaman selama empat kali mengikuti event ITB Berlin dan pasar wisata di Swedia, Chaliet merasakan makin banyak pelaku pariwisata yang memandang batik sebagai salah satu komoditi dan unggulan pendukung pariwisata. Untuk itulah, lanjut Chaliet, pihaknya punya komitmen untuk tetap menampilkan batik, dengan berbagai inovasinya ke berbagai negara. “Bahkan, inovasi terbaru berupa batik tiga dimensi juga muncul dari masukan setelah mengikuti pasar wisata internasional tersebut dan kami tampilkan dalam ITB Berlin tahun 2006 ini,” tambahnya.

Sumber : (Rsv)-g. Kedaulatan Rakyat

Mega Ajak Putrinya Belajar Membatik

Friday, April 7th, 2006

AWEYAN Solo kembali menunjukkan aktivitasnya sebagai sentra batik. Setidaknya selama sehari kemarin di sepanjang jalan Sidoluhur dipadati pengunjung yang ingin mengenal kampung batik Laweyan. Salah satunya yakni mantan Presiden Megawati Soekarnoputri yang didampingi putrinya Puan Maharani.

Mbak Mega selama sehari benar-benar menikmati kehidupan di kampung batik Laweyan dalam paket wisata `Mengenal Kampung Batik Laweyan’ yang digelar Yayasan Warna Warni. Dengan menumpang becak, ia keluar masuk ke sejumlah rumah pengusaha batik. Selain melihat berbagai jenis produk batik yang dihasilkan juga melihat langsung proses pembuatannya baik batik cap maupun tulis.

Terhadap kerja seni yang dilakukan para buruh batik tulis yang umumnya wanita, Mbak Mega sangat apresiatif. Setelah beberapa saat mencermati kerja mereka, ia langsung memperkenalkan pada Puan. “Mana Mbak Puan. Nih, kamu harus tahu dan bisa membatik. Ayo, kamu duduk mencoba,” kata Mbak Mega membimbing putrinya.

Puan mulai mencoretkan canthing pada selembar kain yang sebelumnya telah ditangani seorang buruh wanita. Ternyata berikutnya, Mbak Mega juga tertarik untuk memainkan canthing. Agak sedikit susah, ia harus lebih dulu jongkok untuk duduk di atas dingklik. Setelah minta kacamata dari ajudan, Mbak Mega mulai memegang canthing.

Tentu saja para buruh batik, peserta paket wisata budaya maupun wartawan tertarik terhadap apa yang akan dilakukan Mbak Mega. Putri mantan presiden Soekarno itu pun sadar bahwa diantara mereka ada yang meragukan kemampuannya. Karena itulah ia berkata dengan bahasa Jawa: “Ja dikira aku ra isa mbatik. Aku biyen wis tau mbatik lho,” katanya sembari mencoretkan canthingnya.

Mbak Mega memang luwes memainkan canthing yang berisi malam panas. Sementara seorang buruh batik yang ada didekatnya kadang ikut mengarahkan coretan canthingnya. Sementara Puan Maharani, Ketua Fraksi PDIP DPR RI Tjahyo Kumolo, Walikota Solo Ir Joko Widodo maupun Ketua DPC PDIP Solo Fx Hadi Rudyatmo yang mendampingi terlihat kagum.

Menurut ceritera Laweyan dikenal sebelum Solo berdiri. Ketika Kraton Surakarta berdiri 1745, wilayah Laweyan tetap sebagai wilayah perdikan. Nama Laweyan berasal dari kata `lawe’ (kapas) yang dipintal kemudian diantin menjadi mori, bahan dasar batik. Di kampung itu sekarang setidaknya masih terdapat 20 pengusaha batik.

Melihat potensi tersebut Laweyan merupakan salah satu wilayah yang akan dijadikan cagar budaya. Menteri Budaya dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan di tanah air terdapat sejumlah tempat yang telah dirancang untuk dijadikan cagar budaya salah satunya Laweyan Solo.

Hal itu diungkapkan Menteri Jero Wacik saat peluncuran buku ‘Mbok Mase, Pengusaha Batik di Laweyan Solo Awal Abad 20’, di Roemahkoe Restaurant, Rabu malam. Buku ini merupakan desertasi sejarawan Drs Sudarmono SU, dosen Fakultas Sastra UNS yang ditemukan Nina Akbar Tandjung di Perpustakaan Leiden Belanda.

Mbok Mase adalah sebutan umum yang diberikan masyarakat bagi para saudagar batik di Laweyan yang pernah mengalami kejayaan di masa lalu. Ketika Drs Sudarmono SU mengikuti studi lanjut di program pascasarjana UGM, Mbok Mase Laweyan dijadikan obyek penelitian untuk penyusunan desertasinya.

Paket wisata budaya yang diawali oleh Mbak Mega dan 250 tamu undangan benar-benar menjadi starting poin untuk menghidupkan kembali Laweyan. Menteri Koperasi dan UKM, Surya Darma mendukung gerakan yang dilakukan Yayasan Warna Warni di atas agar masyarakat semakin mencintai karya seni batik.

Semangat masyarakat untuk menghidupkan tradisi batik tidak saja di Solo, tapi juga dilakukan kota-kota di luar Jawa seperti Maluku, Papua maupun Gorontalo. Bisa jadi ini merupakan tahun kebangkitan batik.

Sumber : (Qomarul Hadi)-z Kedaulatan Rakyat

Eksistensi Batik Pajimatan Terancam; Generasi Muda Tak Berminat Membatik

Wednesday, March 22nd, 2006

Meski hasil produksi batik tulis dari Pajimatan, Imogiri Bantul terkenal hingga ke mancanegara, namun para perajin yang masih bertahan mengkhawatirkan juga eksistensinya bakal terancam. Pasalnya, saat ini para generasi muda yang diharapkan meneruskan ketrampilan membatik warisan leluhur itu banyak yang tidak berminat sebagai pembatik.

Menurut Ny Sarjuni, penerus dari empu batik Imogiri R Ngt Jogopertiwi, meski ada generasi muda yang ikut ambyur melestarikan batik namun sangat kecil. Bahkan ia juga mengaku belum tahu siapa yang akan meneruskan usaha produksi batik yang telah dilakukan secara turun-temurun ini. “Kalau sekadar bisa membatik hampir semua anak-anak saya bisa, tapi untuk meneruskan usaha ini tak hanya cukup bisa membatik saja. Harus punya niat dan hasrat kuat untuk nguri-uri budaya Jawa yang adiluhung ini,” katanya.

Ny Sarjuni menganggap usaha ini sebenarnya cukup prospektif. Sebab hingga saat ini pemasarannya cukup lancar dan banyak digemari oleh penduduk Jepang. Namun kendalanya, pasca kenaikan harga BBM biaya produksi ikut naik sementara ia tak bisa menaikkan harga jualnya, karena pemasaran dalam negeri belum kentara.

Diakui harga beberapa bahan baku batik tulis tradisional saat ini mengalami kenaikan yang cukup lumayan. “Kain mori dan lilin (malam) saat ini naik cukup tinggi. Jika sebelumnya harga kain hanya Rp 23 ribu per lembar, saat ini telah mencapai Rp 27 ribu/lembar sedangkan harga malam yang semula hanya Rp 6.500/Kg berubah menjadi Rp 8.250/Kg,” kata Waskito. Padahal harga jual produk batik tulis tetap bertahan pada kisaran Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu/lembar.

Harga jual tergantung beberapa faktor, di antaranya motif, pewarnaan dan mutunya. Sebab untuk menyelesaikan selembar kain batik tulis tradisional dengan motif tertentu membutuhkan waktu cukup lama atau bisa mencapai 2 bulan.

Sumber : (Can)-b >Pikiran Rakyat, Imogiri

Modifikasi Motif dalam Batik Balikpapan

Friday, March 10th, 2006

Sepintas lalu, bila motif batik Kalimantan Timur ini dilihat seperti ragam hias yang terdapat pada tameng atau ornamen pada topi khas Dayak ‘seraung’. Motifnya cenderung sangat sederhana karena garis dan titik yang menjadi ciri khas batik pada umumnya jarang ditemukan pada batik ini.

Menurut Budi Haryati dari ‘Batik Shaho’, sebagian besar motif batik Kaltim (Kalimantan Timur) mengadopsi motif motif dari suku Dayak, seperti Dayak Kenyah dan Dayak Shaho. Ciri khas batik dari Kalimantan Timur ini, antara lain mempunyai warna warna cerah atau ’jreng’, misalnya merah, hitam, hijau, kuning, dan biru.
Bentuk motifnya juga sangat banyak, di antaranya adalah patung dan tameng. Jenis kainnya untuk batik tulis ini adalah katun dan sutera, sedangkan untuk jenis kain tissue itu merupakan kain bermotif batik. “Kalau di Balikpapan, orang lebih senang memakai kain berwarna ’jreng’ yang bermotif batik,” jelas Haryati pada Handicraft Indonesia.

Keinginan Haryati mengembangkan batik ini adalah agar orang orang Kalimantan senang dengan batik daerahnya. “Tak perlu datang ke Jawa untuk membelinya, di sini pun ada. Sementara ini, bahan dibeli dari Solo dan sudah menjadi langganan,” ungkapnya menambahkan.

Desain Motif
Batik Kalimantan ini merupakan pengembangan dari batik batik yang sudah ada sebelumnya di Jawa. “Hanya saja, orang orang yang mengembangkannya, termasuk saya mencoba mengadopsi motif motif ukiran kayu menjadi motif batik. Kita juga mempelajari proses pembuatannya di Balai Batik,” ujar Haryati.
Motif batik dari Kaltim ini memiliki beberapa bentuk desain baru. “Awalnya ketika melatih tenaga untuk batik tulis, kebetulan saya dibantu suami, Supratono, yang kemudian membuat desain baru, yaitu motif tetes minyak dan kantong semar,” tutur Haryati yang memiliki showroom dan workshop di dekat rumah
Menurut Haryati, proses pembuatan batik tulis seperti halnya pengolahan batik yang sudah ada, yaitu dipola, dicanting, diwarna sampai pada proses pencelupan dan sebagainya. “Kadang ada juga orang asing yang datang ke workshop saya untuk belajar membatik, walaupun itu hanya sekedar mencanting saja,” ujarnya bangga.

Pemasaran
Harga batik batik tersebut bervariasi karena tergantung dari jenis kain dan proses pembuatannya. Karena itu, ada yang dijual per meter, ada pula yang per potong, dan ada pula yang dipasarkan siap pakai. “Awalnya saya membuat batik untuk kebutuhan seragam sekolah dengan kain katun. Untuk yang jenis kainnya katun dan proses membatiknya menggunakan teknik printing bukan sablon, harga per meternya bisa Rp 15.000,” jelas Haryati.

Untuk batik sutera harganya lebih mahal, tapi itu relatif tidak semuanya sama. Ada yang menjual batik sarimbit (sepasang untuk suami istri) dengan harga Rp 1,4 juta dan ada yang Rp 1,8 juta. Sedangkan harga yang sedang, seperti katun printing ada yang Rp 25.000 dan untuk batik tulisnya mungkin lebih mahal. Sementara itu, untuk bentuk batik siap pakai juga bermacam macam, misalnya yang katun printing Rp 65.000 per buah, untuk batik tulis bisa Rp 150 ribu dan sutera mencapai Rp 400 ribu. Pemasaran sementara ini ke sekolah sekolah dan instansi instansi. Ada yang jenis kainnya primisima, stelan selendang, dan sarung.

Menurut Haryati, produksi batik dilakukan kontinyu walaupun jumlahnya tidak tentu per bulannya. Ini karena batik tidak setiap hari laku terjual, seperti di Jogja atau Solo. “Walaupun begitu, kami tetap memproduksi untuk seragam anak sekolah dan kebanyakan konsumen saya adalah orang asing yang tinggal di Balikpapan. Kadang mereka memesan taplak meja batik bermotif Kalimantan untuk meja yang memuat 8 orang. Ukuran yang demikian besar kalau di pasaran jarang ditemukan, jadi mereka harus memesan,” demikian paparnya.
Haryati juga menjelaskan bahwa yang menjadi kendala utama adalah masalah SDM (tenaga kerja). Penduduk di sana kebanyakan lebih menyukai pembuatan barang yang instan. “Jadi untuk membuat barang yang terlalu rumit, mereka kadang tak telaten. Biasanya mereka cukup bekerja yang sekali jadi dan langsung mendapat uang,” ujarnya.

Maka dari itu, industri kerajinan di sana jarang berkembang. Bahkan tenaga kerja bekerja tergantung pesanan. “Kalau pekerjaan banyak ya banyak juga tenaganya, itu untuk yang printing, sedangkan yang mengerjakan batik tulis baru saja melatih 15 tenaga baru,” tandas Haryati di akhir perbincangan.

Sumber : (nov) Majalah handiCRAFT

Hand Printing Batik with Ship Motif

Friday, March 10th, 2006

Lampung Selatan District is not only famous as the entrance gate of Sumatra Island. Kalianda, as the capital city of Lampung Selatan District, is one of the cities famous with its Krakatau Islands archipelago. The specific mountain in the middle of the sea is actually one of the Kalianda icons. Located in about 45 kilometers from Bakauheni harbor, the district capital city possesses handicraft potentials that are as attractive to those in Java Island.

One of them is textile handicraft of batik. Batik in Lampung Selatan is newer than batik in Java Island, which has been widely used batik for hundreds of years. However, batik made by the people of the city having slogan of Bertapis Helau is not less attractive, especially in their motifs.

The country mother, Ani Susilo Bambang Yudoyono, in the event of Gelar Batik Nusantara, complimented the Lampung Province for its special and unique ship motif batik. The unique feature has been existed since 1990-s, thanked to the Board of National Handicraft of Lampung Selatan District, which gave its members a cross study to Java Island. (more…)

Meningkatkan Citra ke Pasar Global

Sunday, March 5th, 2006

Citra batik Indonesia yang sudah sangat terkenal di dunia dikhawatirkan bisa tenggelam jika kebijakan ke depan terhadap batik tidak tepat.

Saat ini negara-negara yang menghasilkan batik semakin banyak. Malaysia, Thailand, Amerika Serikat, Afrika, bahkan Eropa juga memiliki batik. Negara-negara itu tidak hanya memiliki batik dengan ciri khas tertentu, tetapi juga menguasai teknik pemasaran global.

Menurut Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Departemen Perindustrian (Depperin) Sakri Widhianto, selama ini batik Indonesia sangat kuat di pasar dalam negeri. Pemerintah juga pernah mencanangkan pegawai negeri sipil memakai batik sehari dalam seminggu.

Namun, untuk pasar dunia, nilai ekspor batik hanya mencapai 350 juta dollar Amerika Serikat atau 4,5 persen dari nilai ekspor tekstil Indonesia secara keseluruhan. Sakri percaya angka ini bisa digenjot lebih tinggi lagi jika kebijakan terhadap batik, terutama bagaimana menghadapi para negara pesaing, tepat.

Untuk mendapatkan masukan-masukan bagaimana meningkatkan penetrasi batik Indonesia ke pasar global, Direktorat Jenderal IKM mengadakan Dialog Nasional Batik yang dihadiri sekitar 20 pengusaha dan pemerhati batik Indonesia.

Dalam dialog terbatas, yang dihadiri antara lain Joop Ave, Iwan Tirta, Afif Sjakur, Asmara Damais, Komar, wakil Yayasan Batik Indonesia, dan wakil Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia, mengemuka beberapa gagasan yang dinilai Sakri bisa dilaksanakan.

Gagasan itu antara lain melakukan riset yang mencakup sejarah budaya batik, membentuk lembaga promosi batik untuk pasar global yang didukung tenaga profesional, pameran berkala dan terus-menerus, mematenkan desain motif batik Indonesia, dan membuat merek Batik Indonesia untuk batik yang dipasarkan global.

Menurut Yoga Pramana dari IKM Depperin, tahun 2005 Depperin telah mematenkan sekitar 600 desain. Sementara pada tahun 2003-2004 telah dipatenkan 2.763 motif desain.

Usulan mematenkan desain motif dan membuat merek batik Indonesia ini agaknya harus dipikirkan lebih jauh pelaksanaannya. Walaupun sebuah motif telah dipatenkan, penegakan hukumnya masih sangat sulit dilakukan. Hukum tidak bisa menjangkau tiruan desain yang hanya mengubah sedikit ukuran atau gambar dari desain aslinya.

Sumber : (DAY/ARN) Kompas Cetak