Archive for the ‘Artikel Batik’ Category

Yogyakarta, Daerah Batik yang Dijajah Produk Luar

Tuesday, May 16th, 2006

Para pedagang di kawasan Malioboro dan Pasar Beringharjo menjadi salah satu saksi bahwa batik Yogya belum bisa menjadi “raja” di wilayah sendiri. Mereka mengaku enggan menjual batik Yogya karena motifnya yang terlalu berorientasi pada pakem-pakem tradisional dengan corak atau desain yang kurang memenuhi selera pasar. Bahkan, cenderung terasa monoton, hingga berkesan tak memberi ruang bagi dinamika motif. Oleh Boni Dwi

Pada kenyataannya, berbicara tentang produk batik maka juga harus berbicara tentang prospek pasarnya. Apabila ingin tetap bertahan, tampaknya para produsen batik Yogyakarta perlu berupaya keras agar bisa keluar dari citra tadi.

Namun demikian, menurut Budi Suhendar (34), salah seorang pedagang batik di Pasar Beringharjo, Senin (15/5), hal itu bukan berarti ada keharusan menghilangkan citra tradisional batik Yogya. Sebagian konsumen masih tetap ada yang fanatik dengan nuansa tradisional. “Hanya saja, desainnya jangan monoton. Selama ini, produk batik Yogya selalu terbatas pada jarit, selendang, dan batik prada.

Beda dengan batik Pekalongan dan Solo, yang bisa membuat desain kaus santai, hem santai, celana pendek santai. Coba buat desain seperti itu, dengan motif atau corak tradisional, saya jamin pasti laku,” kata Budi yang sudah 20 tahun menjadi penjual batik itu. Kalangan muda Dari kalangan produsen dan toko batik di Yogya sendiri, kesadaran untuk mengembangkan desain batik terutama dilatarbelakangi perubahan gaya hidup manusia modern dibandingkan masa sebelumnya, khususnya di kalangan kaum muda.

Dengan kata lain, tujuan yang ingin diraih adalah jangan sampai batik kehilangan pamor, generasi penerus, dan dilupakan. “Batik tidak sekadar kain sarung, jarit, atau selendang, tetapi juga baju kerja dan baju santai bagi seluruh kalangan. Jangan sampai batik hilang pamor di negeri produsen batik sendiri,” ujar Sodikin, Direktur Batik Pertiwi. Indah Widiarti, Manager Batik Margaria Grup, mengatakan pengembangan desain itu digarap secara serius di tengah optimisme bahwa batik tetap akan digemari oleh sejumlah kalangan di masyarakat dari waktu ke waktu. Sebab, menurut dia, batik sebagai sesuatu yang unik tetapi asli, malah akan dicari orang.

Namun, keduanya menyadari tidak mudah melepaskan anggapan bahwa batik itu berkaitan dengan sesuatu yang formal, resmi, dan berkaitan denga pakem-pakem tertentu, demi memperoleh orisinalitas sebuah produk batik. Apalagi, kondisi semacam itu sudah berlangsung dalam kurun waktu yang relatif lama, berpuluh-puluh tahun. Untuk itu, mereka harus melakukan kompromi antara pakem dengan selera pasar.

Kompromi “Kompromi itu mencakup warna, motif, model, serta material yang digunakan. Semuanya digabung menjadi satu konsep khusus mode batik untuk kaum muda,” kata Indah. Sesuai segmen yang dibidik Margaria, yakni kelas menengah-atas, kata Indah, maka warna yang dipilih biasanya adalah warna-warna lembut dengan motif tabur, seperti bunga-bunga kecil, yang lebih menonjol. Material yang dipilih pun lebih banyak berbahan katun maupun paris.

Sodikin dari Pertiwi Grup juga mengaku fokus pada penciptaan desain- desain yang lebih menarik bagi kaum muda, misalnya desain produk batik yang asimetris. Desain batik asimetris itu merupakan desain relatif baru yang lain dari pakem selama ini, di mana batik selalu simetris. Sejak sekitar lima tahun terakhir, pergerakan pasar batik di Yogyakarta justru didominasi oleh batik asal Pekalongan dan Solo. Muncul sebuah anekdot yang cukup ironis dari salah satu pedagang di Pasar Beringharjo, bahwa batik Yogya belum bisa menjadi raja di wilayah sendiri. “Kesannya, Yogya itu sedang terjajah oleh batik luar Yogya. Ini kan lucu.

Padahal, Yogya juga terkenal dengan produk batiknya,” ujar Harni, produsen dan pedagang batik di wilayah Ngasem. Seretnya perkembangan batik Yogya, salah satunya disebabkan kurang inovatifnya para produsen dalam menampilkan desain dan motif. Mungkin, perlu ada semacam “pemberontakan” terhadap pakem yang selama ini telanjur dianggap mapan. Entah apa pun bentuknya, yang jelas itu berawal dari keinginan bahwa batik Yogyakarta tidak boleh tenggelam ditelan zaman…

Sumber : (Pramudyanto dan Benny Dwi Koestanto) Harian Kompas

Agar Warna Tak Cepat Pudar

Sunday, January 22nd, 2006

— Ini mengingat warna alam pada batik tulis tersebut sama sekali tidak menggunakan zat-zat kimia dalam pewarnaan.

— Kain batik tulis yang pewarnaannya menggunakan hasil rebusan dari berbagai tumbuhan, terutama dari bagian kulit pohon, akar dan daun itu memang memerlukan penanganan khusus. Di sini untuk warna hijau pada motif batik, misalnya, digunakan warna hasil rebusan daun mangga, adapun akar mengkudu menghasilkan warna merah muda.

— Untuk merawat kain batik tulis dengan pewarna alami, caranya antara lain:

* Mencuci kain batik dengan menggunakan sampo rambut. Sebelumnya, larutkan dulu sampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru kain batik dicelupkan.

* Anda juga bisa menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang dijual di pasaran.

* Kain batik tulis jangan dicuci dengan menggunakan mesin cuci. Cara mencuci kain batik seperti ini akan membuat warna alami kain batik tak bertahan lama.

* Sebaiknya Anda juga tidak menjemur kain batik tulis berpewarna alami di bawah sinar matahari langsung.

* Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan koran, baru semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain.

* Masih dengan koran menutupi kain, Anda bisa menyetrika kain batik berpewarna alami tersebut. Jangan menyetrika langsung pada kainnya karena ini bisa memengaruhi warna motifnya.

* Anda sebaiknya juga tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik sutera berpewarna alami.

Sumber : (ETA) Kompas cetak, Jakarta

Masih Adakah Peluang Batik Dikagumi?

Tuesday, December 13th, 2005

BENARKAH batik sudah mati? Alhamdulillah, batik belum mati. Batik masih hidup dan dihidupkan oleh masyarakat dunia. Seluruh dunia mengenal batik sebagai salah satu karya cipta suatu bangsa, dan mengenakannya pada berbagai kesempatan. Batik juga dipakai tidak saja oleh presiden. Tetapi, bahwa batik sudah memasyarakat, seorang petani pun mengenakan batik ketika menjual padinya ke kota. Batik dipakai semua orang dari segala lapisan.

Konferensi Internasional Dunia Batik yang digelar di Yogyakarta dan menyusul di kota-kota lain, setidaknya menegaskan secara formal bahwa batik memang masih hidup. Dan, batik masih dibicarakan karena memiliki daya tariknya yang kuat. Sudah cukup lama orang memakai batik, sudah cukup lama pula batik dibuat orang, sampai hari ini pun kita masih bisa menemukan orang-orang yang membuat batik.

Kita patut pula bangga apabila batik juga dipelajari di berbagai negara, tak cuma di Indonesia. Pernahkah kita membayangkan bahwa di Argentina ada studi mengenai batik? Pernah pulakah kita bayangkan, orang Afrika memakai batik dalam jamuan resmi? Jika kenyataan ini terjadi, barangkali karena batik memiliki nilai. Batik mempunyai sukma yang mampu menghidupkan, tak sekadar barang mati atau barang pajangan.

Batik, di mana-mana batik, tentu menyenangkan. Jika orang datang ke Yogyakarta untuk kepentingan batik, apa artinya? Bila orang datang ke Solo, Banyumas, Pekalongan — daerah-daerah di wilayah Jawa Tengah yang juga dikenal karena batiknya — karena tertarik pada batiknya, apa artinya? Itu artinya, kita sudah bicara batik dalam konteks pariwisata. Batik, bisa mendatangkan devisa. Dengan promosi dan publikasi yang menjangkau dunia, orang akan memburu batik sampai ke pelosok. Bahkan Fred van Oss dari Belanda membayangkan suatu perjalanan batik di Indonesia, tentu menarik bagi pariwisata minat khusus. Mereka bisa diajak tur ke kota-kota di Indonesia yang menghasilkan batik. Dari Tuban, misalnya ke Pekalongan, Banyumas, Lasem, Solo, Yogyakarta, dan tempat-tempat lain yang punya kaitan erat dengan batik. Adalah perjalanan yang menarik dan tekun.

***

INDONESIA, memang penuh sensasi. Banyak perajin batik tradisional yang bertahun-tahun hidup, betapa pun harga batik yang dijual kepada tengkulak tak mahal. Ibu-ibu tua itu dengan tekun menggoreskan cantingnya ke selembar kain. Ibu-ibu tua itulah yang menyulap kain putih menjadi bermotif-motif, walaupun mereka tak memperoleh banyak uang dari hasil kerjanya yang berhari-hari itu, toh mereka puas bisa menyalurkan ekspresinya.

Mereka, para pembatik itu bahkan harus menghadapi tantangan dari berbagai penjuru, hanya sekadar untuk mempertahankan hidup. Sebab, teknologi modern tak pernah dibayangkannya ketika canting-canting itu tetap saja dipegang di tangan kanannya. Tapi, itulah sesungguhnya kehidupan yang sesungguhnya. Dari situlah kita mengenal parang rusak, truntum, ceplok, kawung. Dan, mudah-mudahan generasi muda kita pun masih mengenal berbagai corak dan sebutan batik berikut kapan batik jenis tertentu itu dikenakan.

Tetapi, tahukah para pembatik itu betapa teknologi telah mampu meniru goresan-goresan tangan melalui canting? Sehingga, selain ada batik yang dibuat tekun yang dikenal sebagai batik tulis, ada pula batik cap yang hampir-hampir tak bisa dibedakan. Ya, batik memang sangat menjanjikan. Sampai kapan pun banyak orang bicara batik dari sisi suka dan tidak suka.

Batik pun pada akhirnya tidak hanya sekadar kain yang dibalutkan pada tubuh kita. Lukisan batik pun menjadi bagian dari perjalanan batik yang tak bisa dibendung. Ia menggantung di tembok-tembok. Dipajang di berbagai gedung dan tempat bergengsi. Batik, batik, dan batik seakan menjadi nafas kehidupan. Tak bosan-bosannya pula kita memandang batik, membicarakan batik, mengenakan batik, karena batik ternyata hidup dan berkembang. Bahkan kita pun sampai hati memanipulasi batik.

***

KALAU ada yang bisa dibanggakan pada batik, karena di berbagai daerah ada corak-corak khas. Bila kita datang ke Cirebon untuk melihat batik corak khas Cirebon, umpamanya. Cirebon pun memelihara batik sebagai salah satu kerajinan rakyat. Dalam ragam hias dan warnanya melambangkan arti-arti khusus yang mencerminkan kebijakan hidup. Misalnya batik mega mendung, wadasan, taman arum, paksi naga liman. Desa Trusmi yang terletak sekitar 7 kilometer arah barat dari kota Cirebon, merupakan sentra kerajinan batik yang cukup spesifik.

Atau, kita singgah ke Pekalongan, ke Desa Lawiyan Solo, Desa Wijen Bantul, dalam perjalanan batik yang bisa kita lakukan — disebut Fred van Oss sebagai batik road. Niscaya bisa menumbuhkan wawasan bagi wisatawan. Dan Pulau Jawa memiliki potensi itu, karena banyak daerah di Jawa yang sampai hari ini masih menghasilkan batik. Perjalanan batik ini bisa dirancang, untuk atraksi yang menarik perhatian, tak sekadar mengagumi.

Dari satu desa ke desa lain, batik yang diciptakan itu mencerminkan corak yang khas dan berbeda. Satu desa dengan desa yang lain bisa saling melengkapi. Apabila kita bisa mewujudkan kembali gagasan ini dengan lebih konseptual, mengangkat batik lebih ke permukaan dunia, batik bisa benar-benar menjadi penghasil devisa luar biasa. Batik di Indonesia, barangkali memiliki nilai lebih karena ada filosofinya, simbolnya, dan kaitannya dengan status.

Sumber : (Drs. Arwan Tuti Artha ) KR

Batik Indonesia di Kancah Batik Dunia

Sunday, December 11th, 2005

Di tengah-tengah beragamnya batik dunia, batik Indonesia memang belum kehilangan ciri khasnya. Batik Jawa Tengah yang dinilai memiliki motif paling kaya pun masih mempunyai roh. Namun, saat negara tetangga gencar mempromosikan batiknya ke berbagai benua, batik Indonesia seakan jalan di tempat.

Artisan batik Iwan Tirtaamidjaja mengakui, kualitas batik Indonesia saat ini makin berkurang. Ibarat wine, esensinya makin berkurang dan terus berkurang hingga akhirnya menjadi air.

Batik yang dipakai untuk busana sehari-hari saat ini sebagian besar memang print bermotif batik. Iwan Tirta sebenarnya termasuk orang yang ”mengharamkan” batik print karena akan mengurangi filosofi batik itu sendiri, seperti pembuatan motif dengan teknik perintang warna memakai malam atau pemakaian canting.

”Batik saat ini banyak, namun makin murah dan makin murah saja. Sebenarnya batik printing juga baik asalkan dibikin yang halus, jangan asal-asalan,” papar Iwan.

Josephine Komara atau Obin mempunyai pandangan berbeda. Meskipun diakui motif batik print makin populer dan dapat membahayakan eksistensi batik tradisional, Obin mencermati bahwa batik tulis, batik cap, maupun batik print telah mempunyai pasar sendiri.

”Batik Indonesia itu unik dan sangat spesial. Jadi, saya rasa tidak perlu mengontradiksikan batik tulis, cap, atau print,” kata Obin.

Memang ada perkembangan menggembirakan dalam hal konsumsi batik saat ini. Jika dulu batik hanya dikenakan untuk acara tertentu, saat ini wilayahnya makin meluas. Batik juga kerap dimodifikasi dengan motif lain untuk busana sehari-hari.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, di Jakarta sendiri banyak orang menggunakan batik bukan hanya untuk busana, namun juga dekorasi rumah. Batik juga digunakan untuk upacara pemakaman, ulang tahun, bahkan seragam kantor.

”Semenjak Gubernur Ali Sadikin, batik khususnya batik Betawi menjadi seragam wajib untuk pegawai. Anak-anak sekolah diharuskan memakai batik sehari dalam seminggu,” ujar Fauzi.

Memosisikan batik
Batik saat ini sebenarnya makin mendunia. Setidaknya itu tergambar dalam simposium tekstil tradisional ASEAN yang diselenggarakan Himpunan Wastraprema, Senin-Selasa (5-6 Desember).

Pembicara dari Malaysia, Sulaiman Abdul Ghani, yang adalah Ketua Batik International Research and Design Access University of Technologi MARA Malaysia memaparkan, tahun 2003 adalah era kembalinya batik Malaysia. Tahun ini, Malaysia bahkan mempromosikan batiknya ke sejumlah negara termasuk Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat.

Padahal, seperti diakui Sulaiman, batik Malaysia yang awalnya berasal dari daerah Trenggano dan Kelantan sebenarnya sangat dipengaruhi batik Indonesia, khususnya dari Cirebon dan Pekalongan. Batik bahkan baru dikenal di Malaysia pada tahun 1920-an dan baru dijadikan industri tahun 1950-an. ”Tahun 1960-an ke atas baru ada identitas Malaysia,” ujar Sulaiman.

Lebih ironis lagi, Malaysia sebenarnya baru mengenal canting sejak tahun 1970-an dan tahun 1985 langsung terpuruk karena tidak ada inovasi dalam desain dan pewarnaan. ”Saat ini, Malaysia sudah bangkit. Kami memadukan motif tradisional dan kontemporer,” jelas Sulaiman.

Batik sekarang populer kembali di mana-mana. Ada batik Thailand, Malaysia, Vietnam, China, India, bahkan Afrika Selatan. Namun, apa sebenarnya batik, orang terkadang masih memperdebatkannya. Apakah pola ragam hias dan penggunaan canting itu penting, juga menjadi perdebatan.

Menurut Iwan, para pembuat batik sebaiknya harus kembali ke dasar. Ragam hias kuno semisal titik, ukel, dan garis itu juga harus dipertahankan. Orang yang mengerti batik sudah seharusnya bisa menceritakan bahwa di balik batik itu ada dongeng dan filosofi.

Ironisnya, orang yang paham batik jarang mempunyai kesempatan menularkan pengetahuan tentang batik. Jika ada pameran batik di luar negeri, yang datang sebagian besar adalah pedagang batik yang berbicara lebih pada harga dan nilai komersialnya.

Batik bagi Iwan adalah ikon Indonesia, seperti halnya jamu atau kerajinan kayu. Oleh karena itu, batik harus selalu dijunjung tinggi, dihormati, dan diletakkan pada aras internasional sebagai ciri kebudayaan Indonesia. Batik tidak hanya sebagai art to wear, namun juga untuk dekorasi gamelan dan wayang.

”Kelemahan orang tak akan terlihat ketika dia memakai batik, terutama batik tradisional. Yang terlihat justru kekuatan. Itulah mengapa saya bisa hidup dan mengalami masa enam presiden di Indonesia. Di mana pun, kita akan menjadi lebih kaya dengan batik,” jelas Iwan.

Bagi Iwan, tidak perlu lagi mempertentangkan asal muasal batik. Khusus untuk ASEAN, bahkan Asia, sebaiknya digalang kerja sama untuk terus mempromosikan batik. Misalnya dengan membuat motif batik Jawa Tengah di atas kain sari dari Banglades atau motif cinde di atas kain tenun dari India, dan seterusnya.

Sumber : (Susi Ivvaty) Kompas Cetak

Batik Pekalongan, yang Pudar dan yang Bersinar

Monday, December 5th, 2005

Aryo Wisanggeni G dan Brigitta Isworo L

”Penjelajahan” di Kota Pekalongan, siang tanggal 3 November lalu, merupakan pengalaman tersendiri. Rekan satu tim yang merayakan Lebaran hanya bisa bersilaturahmi dan saling memaafkan dengan rekan satu tim lainnya di Tim Lintas Timur-Barat Kompas.

Kami ketika itu berempat, berlima dengan pengemudi kami, Pak Hartono, yang setia mendampingi sejak dari Jawa Timur. Lebaran tanpa ketupat karena perjalanan kami serba singkat dan cepat. Kota Pekalongan siang itu begitu sunyi. Setelah menelusuri ke beberapa tempat dan tidak bertemu narasumber karena mereka sedang berlebaran, tim memutuskan untuk ke Desa Jrebeng Kembang, Kecamatan Karang Dadap, Kabupaten Kajen.

Masuk menyusuri jalan desa sekitar empat kilometer, kami mendatangi sebuah rumah yang ramai oleh suasana silaturahmi. Anak-anak kecil berlarian, orang dewasa duduk berbincang dengan berbagai penganan tersaji di meja. ”Minal aidin walfaizin…,” rekan kami membuka salam. Kami sungguh beruntung karena pasangan Pak Ramelan-Ibu Temu Patonah dengan tangan terbuka menyambut kami. Perbincangan pun mengalir lancar. Dan, Ibu Patonah seakan menumpahkan deritanya kepada kami tanpa nada mengeluh.

Rumah itu amat sederhana dengan perabot kursi dan meja seadanya yang tampak sudah bertahun-tahun tidak diganti. ”Wah sekarang kami menganggur. Malah banyak yang sudah pindah usaha ke konveksi. Kalau dulu, kami ibaratnya sampai ke cucu, semua membatik,” tutur Patonah membuka kisah.

Delapan tahun lalu, desa tersebut bisa dikatakan sebagai sentra pembatik. Dari rumahnya sendiri, Patonah bisa memproduksi 10 kain batik. Di dukuhnya, ada sekitar 25 keluarga, 20 di antaranya adalah keluarga pembatik. ”Pembatik ibaratnya bisa ditemukan di setiap rumah,” tutur Patonah mengenang. Siang itu dia membalut diri dengan kebaya sederhana bernuansa biru yang sudah kusam warnanya.

Selain memproduksi sendiri, Patonah juga mengumpulkan hasil batikan tetangganya.

”Tahun 1980 sampai 1985 batik sampai bertumpuk-tumpuk di sini. Sebulan bisa menjual antara lima kodi (100 lembar kain—Red) sampai 10 kodi,” tutur Patonah. Rincian ongkos produksi, yaitu kain mori Rp 11.500 per ukuran kain, bahan mbabar (proses celup warna sampai selesai—Red) Rp 5.000, dan upah membatik Rp 10.000. Lalu, kain batik jadi dijual Rp 29.000-Rp 29.500 per potong. Dia mengambil untung rata-rata Rp 3.000 per potong. ”Hanya cukup untuk makan,” katanya.

”Akhir 1990-an, semua bangkrut. Dulu ibaratnya semua rumah membatik. Akibat krismon, bisa dikatakan tinggal sekitar empat rumah yang masih membatik,” kata Patonah. Sebagian keluarga banting setir ke usaha konveksi bahan jins, sebagian mencoba eksis dengan tetap menjadi pembatik bagi pengusaha batik bermodal besar.

”Harga mori menjadi Rp 15.000 per potong, ongkos membatikkan Rp 15.000, dan bahan mbabar Rp 6.000. Jadi biaya produksi naik menjadi Rp 36.000. Sementara, kami hanya bisa menjual seharga Rp 30.000 paling tinggi. Ya… selalu tekor. Sementara harga kain batik sablon hanya Rp 15.000 dengan hasil mirip dengan batik tulis. Jadi, batik tulis kasar mati semua. Saya saja pakai batik sablon,” ujarnya getir sambil menunjuk kain batik yang sudah pudar warnanya yang dikenakannya. Kini batik tulis yang dijual hanya yang batikannya halus sehingga harganya pun mencapai ratusan ribu rupiah.

Karena tidak punya modal cukup, Patonah hanya bisa menjadi penjual nasi dengan modal beras lima sampai enam kilogram per hari. ”Tidak bisa lagi usaha batik karena tidak tahu cara mewarna batik sablon. Kami tidak tahu caranya,” ujar Patonah mengakui kekurangannya. Sementara itu, Jaenuri tetangganya yang semula juga memproduksi batik tulis dengan lima pembatik, kini mengerjakan konveksi bahan jins.

Menurut penuturan Kepala Desa Jrebeng Kembang, Suroto, dari sekitar 200 pembatik yang dulu ada di desanya, kini hampir semuanya telah meninggalkan pekerjaan membatik. Kini di wilayahnya telah tumbuh sekitar 50 usaha konveksi.

Tidak semua pembatik menjadi penganggur. Para pembatik yang karyanya halus, seperti Nokimah, kini menjadi pembatik buruh di pengusaha batik tulis. Mereka umumnya dibayar borongan sekitar Rp 150.000 untuk motif batik yang sederhana dan mudah dikerjakan, dan dibayar sampai sekitar Rp 300.000 untuk motif batik yang sulit.

”Yang mudah, sekitar dua minggu selesai. Yang motifnya sulit bisa sampai sebulan,” tutur Nokimah yang tinggal selisih tiga rumah dari Patonah. Dia kini membatik untuk pengusaha di Pekajangan yang memiliki sekitar 50 pembatik. Menurut dia, pendapatannya sekarang lebih besar daripada dia membuat sendiri batik tulis kasar. Mereka yang tidak bisa membatik halus kini menjadi buruh di pabrik batik sablon.

Pedagang batik

Keterpurukan kampung batik bukan hanya terjadi di desa, seperti di Kecamatan Karang Dadap. Beberapa kampung batik di kawasan kota Pekalongan, Kampung Pesindon misalnya, dulu dikenal sebagai kampung pembatik. Akan tetapi, saat ini Kampung Pesindon atau Kauman telah menjelma menjadi kampung pedagang batik.

MB Nur Hidayat, pemilik galeri Batik Seni Asti, menuturkan, batik sudah berkembang menjadi dagangan yang harus memerhatikan selera pasar. ”Pedaganglah yang mampu mengenali barang apa yang sedang laris di pasaran, di Yogyakarta dan Solo. Jadi, pembatik kini bekerja untuk pedagang,” ungkap Hidayat yang menjajakan batiknya hingga Yogyakarta dan Solo.

”Dari situ saya mengetahui perkembangan pasar. Begitu ada tren baru, saya mengantisipasinya, meminta pembatik membuat batik yang sesuai permintaan pasar,” katanya. Di tangan para pedagang itulah konsep dan desain baru batik Pekalongan berkembang.

Dengan modifikasi motif, batik tulis mendapatkan tempat di pasar, yaitu sebagai karya seni sehingga yang mendapat tempat adalah batik tulis halus. ”Batik sablon kasar juga mengembangkan motif dengan cepat. Itu barangkali sebabnya batik tulis kasar sulit mencari tempat di pasar karena kalah efisien dibandingkan batik sablon,” kata Hidayat yang menjual berbagai jenis kualitas batik. ”Toko saya seperti toko swalayan. Batik seharga Rp 20.000 ada, batik Rp 2 juta juga ada,” ujarnya menerangkan.

”Terus terang, saya lebih senang menjual batik seni. Batik seni tidak sensitif terhadap perubahan harga bahan baku dan biaya produksi. Nilai jualnya jauh di atas ongkos produksi,” ujarnya. Dia yakin, sebagai karya seni, batik tulis tidak akan ditinggalkan orang. ”Konsumen batik seni adalah orang yang menghargai batik sehingga mereka mau mengeluarkan lebih banyak uang. Sebagian dari mereka malah memburu batik-batik halus ini,” ujarnya menambahkan.

Untuk batik tulis, Hidayat memilih menjual batik sutra yang harganya Rp 1 juta-Rp 2 juta. ”Saya juga berjualan batik mori halus, tetapi jumlahnya sedikit. Saat ini pembuat batik halus mori sedikit. Hanya yang garapannya sangat halus bertahan di cerukan pasar batik seni. Batik kelas itu membutuhkan waktu pembuatan lama, bisa pesan setengah tahun baru jadi,” kata Hidayat.

Apa yang dikatakan Hidayat tidak salah. Di penggal jalan raya Kedungwuni terdapat papan Art Batik. Dari sanalah roda perusahaan batik tulis mori halus Oey Soe Tjoen digerakkan oleh Widianti Widjaja, generasi ketiga Batik Oey Soe Tjoen yang mulai berdiri sejak tahun 1920.

Produksi Oey Soe Tjoen bisa dikatakan adikarya batik yang pembuatannya memakan waktu setengah tahun hingga dua tahun. ”Satu motif ini dikerjakan oleh lebih dari satu pembatik. Ada yang khusus membuat cecek (titik-titik halus—Red), ada yang khusus membuat gambar dasarnya, dan lainnya lagi. Setidaknya satu kain melibatkan antara sepuluh hingga 15 pembatik dengan spesialisasinya. Masing-masing kami pilih yang terbaik,” ujar Widianti.

Maka, tidak mengherankan jika batik berlabel Oey Soe Tjoen ini menjadi karya eksklusif yang hanya dibeli oleh kalangan tertentu—para pejabat dan konglomerat—termasuk orang asing, kebanyakan dari Jepang. Motif batiknya pun khas, karena motif tersebut merupakan warisan dari sang kakek dan nenek. ”Ada sekitar 100 motif batik ciptaan kakek dan nenek yang masih kami pertahankan,” ujarnya.

Sementara kemandekan Patonah dan Ruki’ah membuat mereka hanya menjadi penonton dan pemeran pembantu dalam gemerlap bisnis batik Pekalongan, Hidayat dan Widianti pun terus berkibar. Hidayat dengan kepiawaiannya berakrobat di tengah tren pasar, sementara Widianti berkutat dengan keeksklusifannya dan ketahanannya mengembangkan batik halus.

Itulah gambaran peta kondisi batik Pekalongan yang namanya telah begitu dikenal luas di seluruh Nusantara. Pembatik seperti Patonah dan warga Desa Jrebeng Kembang lainnya kini tersingkir….

Sumber : (WHY/NUT) Kompas Cetak

Batik Tak Harus dengan Kebaya

Saturday, December 3rd, 2005

Selama ini, batik masih menjadi andalan untuk busana di acara-acara formal. Tak bisa dimungkiri, batik kerap identik dengan kesan tua mengingat pemakai batik adalah mereka yang sudah berumur. Namun, dengan kreativitas tinggi dan kecermatan memilih motif dan warna, batik bisa menjadi pilihan untuk setiap kalangan.

Menurut Tan Han Goen, desainer asal Surabaya, saat ini banyak diproduksi batik dengan motif dan warna yang jauh dari kesan tua. “Tinggal cara memilih dan mendesain kain tersebut,” kata desainer yang beberapa kali mendapatkan sertifikat dari Museum Rekor Indonesia (Muri) atas karya-karyanya tersebut.

Bahkan, menurut dia, kain batik tak harus selalu dipadupadankan dengan kebaya.”Hanya menggunakan kain serta selendangnya saja sudah bisa dijadikan busana,” jelasnya. Caranya pun cukup mudah. Cukup dengan bantuan jarum pentul dan jahitan yang sifatnya tidak permanen, kain-kain batik itu bisa disulap menjadi busana yang modis.

Itu seperti ditampilkan dalam beberapa rancangannya kali ini. Dia menyulap kain koleksi aura batik menjadi busana yang simpel namun modis. Ada yang dibuat mirip kimono, kemben, dan atasan halter neck. Sementara itu, bawahannya cukup diikat dengan teknik ikatan osing.

Desainnya Jangan Terlalu Rumit

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika membuat desain untuk batik. Sebab, batik sudah penuh dengan motif. “Jadi, ada baiknya jika desain yang dibuat tak terlalu rumit,” ujar Tan Han Goen. Desain yang rumit akan membuat pemakainya terlihat lebih ’berat’.

Untuk pria, kemeja sederhana yang chic masih menjadi pilihan. Desain kemeja untuk pria, tidak perlu terlalu njlimet. “Yang penting adalah pemilihan motif,” jelasnya. Penekanan motif di bagian dada bisa membuat kesan bidang. Selain itu, tak ada salahnya jika memilih warna-warna lembut.

Untuk jenis bahan batik, ada beberapa pilihan. Bisa menggunakan batik dari sutra, katun, atau serat nanas. Jenis bahan itu bergantung pada desain dan selera penggunanya. Batik dari bahan katun bisa digunakan untuk busana sehari-hari. Namun, untuk busana pesta atau acara yang lebih formal, bisa dipilih bahan dari sutra.

“Bahan sutra relatif ringan. Jadi, wanita yang berbadan besar sebaiknya tak memilih desain yang melekat tubuh,” tegasnya. Hal tersebut justru membuat kesan elegan batiknya pudar. Batik dari bahan serat nanas sebaiknya digunakan untuk desain-desain yang membutuhkan ketegasan garis.
Sumber : (tia) Jawa Pos

Kebangkitan Kampung Batik Laweyan

Monday, November 28th, 2005

*Wahyu Haryo PS

Perjalanan sejarah memperlihatkan, eksistensi Kampung Batik Laweyan berkali-kali digerus oleh kekuatan luar yang tidak menghendaki kekuatan ekonomi yang digalang kaum perempuan Mbok Mase ini terus bertengger.

Cerita rakyat dan stereotyping dalam bentuk hukuman lawe dan perempuan Bahu (baca: bau) Laweyan yang mendatangkan bencana bagi suaminya, pernah diembuskan pihak keraton untuk melawan dominasi Mbok Mase. Akibatnya, penghuni Kampung Batik Laweyan serasa dikucilkan dari lingkungan sekitarnya.

Belum lagi posisi tawar ekonomi Kampung Batik Laweyan juga pernah dimanfaatkan untuk kepentingan dukungan politik semasa kabinet parlementer. Kekuatan kongsi dagang di sana juga pernah diadu domba dengan kekuatan kongsi dagang China, yang dirancang oleh Belanda.

Terakhir, kejayaan Kampung Batik Laweyan benar-benar tidak bisa dipertahankan saat kapitalisasi industri batik semasa pemerintahan Orde Baru. Pemodal asing dan kroni Orde Baru masuk ke wilayah di sekitar Laweyan di Sukoharjo dengan teknologi printing yang jauh lebih efisien, cepat, berproduksi secara massal, dan murah.

Teknologi ini jelas bukan tandingan batik tulis dan cap yang ada di Laweyan. Seketika, batik printing dari pemilik modal besar mampu menguasai pasar batik di mana-mana. Batik Laweyan kalah bersaing sehingga kejayaan batik Laweyan tinggal nama.

Suatu kali saya kirim batik ke Surabaya, kok ditolak terus. Lalu saya ajak suami saya ke Pasar Turi di Surabaya. Di sana saya sampai tidak bisa ngomong. Di mana-mana batik berjubel sampai gudangnya luber. Pedagang di sana mengatakan mendapat pasokan dari Jakarta, tak harus membayar dulu seperti kalau membeli dari kami. Mereka digelontor batik ratusan kodi tanpa harus bayar. Gudang mereka sampai tidak muat. Melihat itu kaki saya lemas. Saya menangis. Ke mana lagi kami harus menjual produk kami, ujar Mulyani (69) dengan suara tersendat dan matanya pun basah.

Maka, pada akhir tahun 1994 pabriknya tutup, dengan korban sekitar 100 karyawan yang harus menganggur mendadak. Mulyani bisa jadi salah satu potret Mbok Mase, di mana dia menjanda dari usia 39 tahun dan harus membesarkan tiga putranya sendirian. Kini ketiga putranya sudah selesai pendidikan tinggi dan mapan secara ekonomi.

Menurut dia, produsen batik di Jakarta dengan batik printing-nya mampu memproduksi ratusan kodi sehari, sementara batik cap Laweyan hanya 20 kodi-30 kodi sehari. Bahkan batik tulis memiliki waktu proses sebulan hingga empat bulan.

Kenyataan ini membuat orientasi orang Laweyan terhadap anak-anaknya berubah. Mulyani, yang merupakan generasi ketiga salah satu kerajaan batik di Laweyan milik Haryono, menuturkan, semasa kejayaan batik Laweyan, anak-anak mereka dididik untuk mengelola kerajaan batik milik keluarga.

Kami dididik di dalam kungkungan tembok-tembok tinggi Laweyan, tuturnya. Nyaris semua rumah di Kampung Laweyan memang berdinding tinggi dengan gaya bangunan art deco. Bagi mereka, sekolah tidak perlu harus sampai ke jenjang yang tinggi, cukup bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Mbok Mase Laweyan zaman dulu sudah mendidik putrinya untuk berdagang dan membuat batik sejak kelas IV SD. Ketika putri mereka sudah lulus SMP, langsung dinikahkan dan diberi usaha sendiri. Saat usaha batik kalah bersaing dengan produksi printing, maka orang Laweyan beralih usaha ke bidang yang lain dan pendidikan setinggi mungkin bagi anak mereka menjadi penting, katanya.

Pada masa itu hingga tahun 2000, generasi muda Laweyan jarang yang tetap melanjutkan usaha batik milik keluarganya. Generasi muda ini memilih menempuh studi hingga jenjang yang tinggi dan bekerja di perusahaan-perusahaan swasta.

Sarjana memang bukan jaminan untuk hidup, tetapi hanya sarana untuk hidup. Selepas lulus sarjana, anak muda Laweyan disuruh kerja di luar kota. Jadi, sukses anak generasi muda Laweyan saat ini bukan karena menjalankan usaha batik, tetapi karena bekerja atau usaha lainnya, kata Mulyani.

Memori kejayaan Kampung Batik Laweyan di masa lampau membuat generasi muda di Laweyan ingin membangkitkan kembali kenangan akan kejayaan itu. Salah satu generasi penerus pembatik, Dr Nanik Perditi, mengawali upaya menghidupkan kembali Kampung Batik Laweyan.

Gayung bersambut, ide ini didukung Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Secara terpisah, Kepala Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kota Solo Febria Roekmi Evy menyatakan, produk unggulan batik di Laweyan nantinya akan menjadi salah satu ikon yang mendukung upaya menjadikan Solo sebagai kota wisata belanja.

Sejak dicanangkan, kehidupan industri batik di sana mulai menggeliat lagi. Sebelumnya, tempat itu seperti tidur dalam hal produksi batik. Jadi, sebenarnya kami hanya menghidupkan apa yang telah ada. Sebagai fokus awal, kami akan mengarahkan wisata belanja ini pada produsen batik, ujar Evy.

Menurut dia, Solo yang dulunya sebagai produsen terbesar produk batik dapat meraih kejayaannya kembali seiring dengan didorongnya kota itu sebagai kota wisata belanja. Ia mencontohkan Kota Pekalongan yang awalnya kurang berkembang, namun lambat laun kota itu akhirnya bisa berubah menjadi produsen batik terbesar.

Kalau saat ini wisatawan yang membeli batik di gerai batik yang dibuka penduduk Laweyan masih sedikit, maka mereka harus bisa bertahan untuk beberapa tahun ke depan. Jika ternyata mereka merasa merugi dan justru menutup gerai batik tersebut, maka upaya mengembalikan kejayaan Kampung Batik Laweyan sebagai sentra batik di Solo menjadi semakin jauh dari harapan, katanya.

Melintasi Kampung Batik Laweyan saat ini, bisa disaksikan beberapa usaha batik yang mulai tumbuh dan berkembang di sana. Hampir di setiap gang kecil sudah bisa dijumpai lagi gerai batik. Patung perempuan pembatik yang tersisa di beberapa sudut gang memberi semacam landmark nuansa kampung batik. Hal ini ditambah adanya gerbang Kampung Batik Laweyan yang pembangunannya difasilitasi Pemkot Solo.

Sejarawan Universitas Negeri Sebelas Maret, Soedarmono, menilai, pengembangan Kampung Batik Laweyan saat ini belum menyentuh sisi substansial dari sejarah industri batik yang pernah berkembang di sana.

Pengembangan Kampung Batik Laweyan baru sebatas mencoba menggairahkan perdagangan batik di sana untuk menunjang dan memajukan pariwisata di Solo, belum dikembangkan sebagai sebuah warisan yang utuh.

Sumber : (isw/row/nut) Kompas Cetak

Mbok Mase Menentukan Segalanya

Monday, November 28th, 2005

*Aryo Wisanggeni Genthong

Pemberontakan laskar China yang berhasil membunuh komandan garnizun Belanda di Kartasura, Van Velzen, pada 10 Juni 1741 berkembang menjadi awal kehancuran Kraton Kartasura Hadiningrat.

Laskar China yang marah melihat inkonsistensi Paku Buwana II melawan Belanda menjarah Kraton Kartasura, sehingga Paku Buwana II harus melarikan diri ke sebuah goa di tepi Sungai Laweyan, Solo.

Paku Buwana II meminta bantuan pinjaman puluhan kuda dari para saudagar batik Laweyan dalam pengasingannya. Tetapi, permintaan itu ditolak mentah-mentah para saudagar batik Laweyan. Bagaimana mungkin para saudagar pribumi Jawa membangkang terhadap pewaris takhta Mataram itu?

Peneliti sejarah dari Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta Soedarmono di suatu malam awal November lalu di Solo (baca: Surakarta) bertutur kepada Tim Lintas Timur-Barat Kompas hingga lewat tengah malam.

Penjelasannya sederhana, karena yang berkuasa di Laweyan adalah kaum perempuan. Kaum perempuan Laweyan benci dengan gaya hidup priayi istana yang berfoya-foya, gila hormat, dan berpoligami. Bagi mereka, tidak ada gunanya menolong seorang raja. Sejak lama mereka telah resisten, katanya

Menurut Soedarmono, di Laweyan, perempuan berkuasa dan kekuasaan itu dijadikan alat untuk melawan berbagai bentuk penindasan terhadap perempuan, termasuk poligami yang acap kali dilakukan kaum priayi istana.

Komunitas pedagang Laweyan berangkat dari ibu rumah tangga Laweyan yang membatik di sela-sela menjalankan pekerjaan domestik mereka. Pekerjaan membatik itu amat halus dan rumit sehingga lelaki tidak memiliki tempat dalam dalam pekerjaan ini. Sambilan membatik ini lalu berkembang menjadi usaha perdagangan, dan menjadi sumber utama penghasilan keluarga, kata Soedarmono.

Peran sang ibu
Dalam tesisnya, Munculnya Kelompok Pengusaha Batik di Laweyan pada Awal Abad XX, dituliskan ibu rumah tangga memegang kekuasaan utama atas jalannya perdagangan batik Laweyan. Sang ibu mengurus keuangan, menentukan jumlah produksi, dan mendistribusikan batik itu ke tangan konsumen.

Sang suami sebagai kepala rumah tangga hanya memegang peranan 25 persen dari proses produksi batik itu. Status kekuasaan perempuan itu mewujud dalam sebutan Mbok Mase, sementara lelaki selaku kepala rumah tangga di posisi kedua dengan sebutan Mas Nganten.

Perempuan menentukan segalanya. Seorang Mbok Mase menentukan perjodohan anaknya. Lamaran Mas Nganten hanya formalitas karena telah ditentukan oleh Mbok Mase. Menantu laki-laki akan tinggal seterusnya di rumah Mbok Mase. Jika tiba waktunya, istrinya akan menjadi Mbok Mase generasi berikutnya, dan ia menjadi Mas Nganten. Mertuanya tetap tinggal serumah, menjadi Mbok Mase Sepuh dan Mas Nganten Sepuh, tambahnya.

Seorang Mas Nganten boleh melakukan apa saja yang diinginkannya, selama tidak berpoligami, tidak berfoya-foya, dan tidak menyakiti hati Mbok Mase. Jika seorang Mas Nganten mencederai kepercayaan Mbok Mase, sang Mas Nganten diceraikan dan kehilangan tempat dalam struktur sosial Laweyan. Perempuan Laweyan berupaya mempertahankan kekuasaan itu secara turun-temurun, tutur Soedarmono.

Menjadi bakul
Menurutnya, para Mbok Mase sadar bahwa kekayaan harta yang bersumber dari produksi batik merupakan benteng bagi perempuan Laweyan untuk terhindar dari penindasan laki-laki.

Dalam menikahkan Mas Rara, Mbok Mase berpegang pada asas banda ora keliya , harta tidak jatuh ke tangan orang lain. Mas Rara harus menikah dengan anak Mbok Mase lain, atau setidaknya menikah dengan anak pedagang besar, katanya. Mbok Mase mempersiapkan Mas Rara untuk menjadi Mbok Mase berikutnya, dan dipersiapkan sejak usia enam tahun.

Salah seorang mantan pengusaha batik Laweyan dari keturunan keluarga Reksodimedjo, Mulyani (69), menuturkan sejak kelas IV Sekolah Rakyat dirinya telah diajak ibunya mengurus dagangan batik di Pasar Klewer dan Pasar Nonongan, Solo.

Saat pulang sekolah saya berpapasan dengan ibu di jalan, bisa langsung disuruh naik ke becak. Tas sekolah saya langsung dititipkan ke tetangga. Istilahnya, bangun tidur menjadi bakul, dari mulai bangun tidur langsung menjadi pedagang. Tidak ada istirahatnya, selalu kerja keras, kata Mulyani.

Di masanya, anak gadis biasanya tinggal dalam rumah bertembok tinggi. Seolah, kami hanya dididik untuk kerja, katanya. Mas Rara, seperti Mulyani, ditempa menjadi pribadi mandiri. Sejak kecil, ayah mengajarkan, kami anak perempuan harus malu jika hanya menadahkan tangan ke suami, ujarnya.

Berbeda dengan keluarga Laweyan lainnya, Mulyani dikirim ayahnya ke sekolah. Salah satu adiknya kini menjadi doktor di bidang arkeologi dan mengajar di jurusan Arsitektur di Universitas Tarumanegara, yaitu Dr Nanik Perditi. Dia juga menjabat sebagai Direktur Centre for Architecture and Conservation.

Gara-gara bersekolah tinggi, Mulyani menjadi rasanan (bahan perbincangan) tetangganya. Setelah lulus SMA tahun 1957, saya berniat sekolah di Universitas Gadjah Mada, tetapi gagal karena ayah sakit keras, lanjutnya. Karena saya belum juga menikah, ibu sampai malu. Tahun 1959 saya menikah, tambahnya. Ia menjadi Mbok Mase terakhir. Pabrik batik keluarganya tutup akhir tahun 1994 karena dia lelah dan tidak bisa mengikuti tren mode batik bukan sebagai kain. Batik Laweyan ketika itu berkembang menjadi produk seprai, baju, daster, dan sebagainya. Keturunan keluarga Laweyan yang masih bertahan yang bisa kita lihat sekarang di antaranya adalah Danar Hadi.

Mbok Mase juga memotori industrialisasi batik, pergeseran batik tulis ke batik cap pada awal abad XX, dan selanjutnya ke batik printing pada tahun 1970-an. Produksi batik bergeser dari pekerjaan rumahan menjadi kegiatan pertukangan.

Dengan modernisasi itu, batik Laweyan mencapai puncak kejayaan. Laporan De Kat Angelino tahun 1930 menunjukkan, sebuah perusahaan batik besar di Laweyan bisa memproduksi 60.400 potong batik per tahun.

Dalam satu tahun, penghasilan bersih juragan batik Laweyan bisa mencapai 60.400 gulden. Itu jauh di atas penghasilan seorang priayi keraton, kata Soedarmono.

Kemakmuran para Mbok Mase tergambar dari peninggalan bangunan tua di Laweyan, di mana rumah para Mbok Mase Laweyan tidak ubahnya dengan istana, dengan tembok tingginya. Model bangunan Laweyan bernapas art deco, model bangunan paling modern ketika itu.

Pada tahun 1987, Soedarmono masih menemukan rumah milik Tjokrokarno, sebuah rumah dengan luas tanah 3.000 meter persegi. Rumah itu memiliki bekas kandang kuda yang cukup untuk lima ekor kuda, berikut garasi mobil untuk beberapa mobil Fiat, ujar Soedarmono.

Hingga kini sisa-sisa kejayaan pedagang Laweyan dan batik Laweyan masih terlihat di Jalan Dr Rajiman yang di kanan kirinya berjajar loji-loji (bangunan rumah tembok) berarsitektur art deco milik para saudagar batik Laweyan. Salah satunya adalah penginapan Roemahkoe.

Kebijakan pemerintah membuka kompetisi antara batik cap dengan batik printing telah mematikan komunitas Laweyan.

Alat cap para saudagar batik yang dulu begitu berharga hingga menjadi obyek curian di antara sesama juragan batik kini seolah tak bernilai lagi. Banyak cap dijual di pasar loak sebagai barang antik, sebagian teronggok di gudang di Laweyan. Kini Laweyan ibarat gadis yang kehilangan semangat dan napas hidupnya. Adalah Wali Kota Solo Slamet Suryanto pada 25 September 2004 yang ingin membangkitkan lagi napas Mbok Mase di Kampung Laweyan dengan menjadikannya Kampung Batik. Akankah napas Mbok Mase itu bangkit lagi?

Sumber : (isw/why/nut) Kompas Cetak

Pesona Batik Tulis: Ketika Nilai Etnis, Tradisi, dan Modern Berpadu

Thursday, November 24th, 2005

Apa yang terlintas di benak anda jika menyebut batik tulis? Boleh jadi, imajinasi anda akan langsung mengembara kepada lembaran kain tradisional Jawa dan Bali yang lumrah dikenakan ibu-ibu berusia lanjut sebagai ‘’seragam” kebesaran harian. Khususnya, kain penutup tubuh dari bagian pinggang hingga ke mata kaki. Bagi perempuan etnis Jawa dan Bali, batik tulis menciptakan nuansa rasa tersendiri. Di samping sudah melegenda, motif-motif kain tempo doeloe yang eksistensinya belum tergoyahkan sampai saat ini menyimpan banyak makna historis.

Namun, di era kekinian ini, fungsi batik tidak lagi hanya sebatas piranti pembungkus tubuh perempuan bagian bawah yang lumrah disebut kamben. Dalam dunia fashion, batik mulai dipergunakan sebagai bahan baku rancangan sejumlah desainer papan atas untuk mencitrakan kesan klasik, anggun sekaligus berwibawa. Ragam motifnya pun tidak lagi berkutat pada hal-hal yang berbau etnis-tradisional nan saklek. Tetapi, sudah pasti mendapatkan sentuhan-sentuhan modern sehingga pesona batik sanggup membius penikmat fashion mancanegara.

Batik kini tidak lagi hanya berkutat di tanah leluhurnya sendiri. Namun, hasil perpaduan harmonis antara nilai-nilai etnis-tradisional dengan modern itu pun menjelma jadi karya seni tingkat tinggi yang mampu memuaskan selera masyarakat internasional.

Barangkali, kesuksesan batik — terutama batik tulis –menerobos ketatnya persaingan industri fashion tingkat dunia itu yang mengilhami Desak Putu Nithi (50) menyandarkan sumber penghidupan keluarganya dari batik. Di bawah ”bendera” Nithi’s Collection yang ber-home base di Banjar Tebesaya, Desa Peliatan, Ubud, istri Dewa Nyoman Rai ini intensif menggeluti bisnis batik tulis.

Semula, ibu dua orang putra dan seorang putri ini hanya memproduksi batik tulis untuk bahan baku pakaian (garmen). Namun perkembangan selanjutnya, ibu yang masih terlihat enerjik di usianya yang memasuki separo baya ini memberanikan diri melebarkan sayap bisnisnya ke industri aksesori dan pelengkap interior rumah seperti bedcover, sarung bantal, gorden, taplak meja, pembungkus sandaran dan dudukan kursi/sofa hingga wall hanging (hiasan dinding-red).

Bahkan, saat ini pihaknya mendapat order dari mitra bisnisnya di luar negeri untuk menggarap piranti penutup sekaligus penghias pilar dan langit-langit rumah serta penutup lampu hias dalam jumlah besar. Tentu saja, semua piranti itu menggunakan batik tulis sebagai bahan baku utama.

”Pesona kain batik tulis ini bukan hanya pantas dijadikan bahan baku fashion semata. Kalau kita mau berkreasi dan berinovasi, fungsi batik tulis bisa dikembangkan terus. Ragam motifnya yang bervariasi dan indah-indah juga bisa dijadikan benda pajangan ataupun beragam jenis penghias interior rumah,” kata Desak Putu Nithi ketika mengantarkan Bali Post mengelilingi art shop-nya di kawasan Desa Peliatan, Ubud, belum lama ini.

Perlengkapan Kamar Tidur
Dari beragam produk batik tulis yang diproduksinya, Desak Nithi yang menggeluti bisnis batik tulis sejak dekade 1970-an ini mengaku memberikan porsi perhatian lebih kepada perlengkapan kamar tidur seperti bedcover (sprei), sarung bantal, gorden dan wall hanging. Guna melengkapi kenyamanan tidur konsumennya, pihaknya juga memproduksi piyama batik dengan motif senada dengan perlengkapan kamar tidur lainnya.

Ke depan, Nithi juga terobsesi merancang amature (rumah lampu-red) lampu tidur dengan material dominan batik tulis. ”Saya memang sangat concern menciptakan perlengkapan kamar tidur berbahan baku batik tulis ini. Terus terang, perlengkapan kamar tidur ini memang jadi andalan home industry kami,” ujarnya.

Dia memberikan garansi bahwa seluruh produk batik tulis yang diciptakannya sangat nyaman dipakai. Masalahnya, seluruh bahan bakunya menggunakan kain katun, linen dan sutra pilihan. Produk bedcover, misalnya, dijamin tidak kusut sehabis ditiduri karena sistem penjahitannya dibuat secermat dan seteliti mungkin.

”Penggunaan bahan yang serba pilihan ini juga menjadikan perlengkapan kamar tidur yang kami produksi tidak membuat konsumen kegerahan,” katanya tanpa pretensi mempromosikan produknya.

Menurut Nithi, perlengkapan kamar tidur kini tidak lagi menonjolkan nilai fungsi semata. Selain nyaman ditiduri, piranti yang mengantarkan pemakainya mengembara ke alam mimpi ini juga wajib memenuhi unsur-unsur keindahan untuk mengangkat suasana interior kamar tidur secara keseluruhan. Guna mewujudkan kepentingan itu, pihaknya senantiasa merasa tertantang untuk menciptakan beragam desain batik tulis gres yang lain daripada yang lain.

”Perpaduan yang harmonis antara nilai fungsi dengan nilai-nilai keindahan itu jadi perhatian utama kami setiap kali merencanakan sebuah desain baru. Dengan begitu, batik tulis produksi kami juga sangat layak jika diposisikan sebagai karya seni di luar fungsinya sebagai perlengkapan kamar tidur,” tegasnya.

Nithi melihat ada kecenderungan mulai jenuh dengan perlengkapan kamar tidur yang tampil polos dan sederhana. Realita itulah yang membuat dirinya mencoba peruntungan di bisnis perlengkapan kamar tidur yang kaya motif, warna maupun variasi lainnya. Dan, batik tulis dinilai pantas untuk menjawab kejenuhan konsumen tersebut.

”Saya sengaja memilih batik tulis, bukan batik cetak (stempel), karena batik tulis saya nilai lebih eksklusif, berwibawa dan terkesan mahal. Mengingat proses pengerjaannya secara manual, produk ini tidak akan melimpah sehingga tidak terkesan pasaran,” katanya lagi.

Ditambahkan, bisnis perlengkapan kamar tidur berbahan baku batik tulis di Bali masih jarang yang menekuni sehingga pangsa pasarnya masih terbuka lebar. Dia juga mengaku tidak gentar bersaing dengan kompetitor yang memproduksi perlengkapan kamar tidur dengan teknik batik cetak. Meskipun sepintas terlihat mirip, namun batik tulis dihargai lebih tinggi lantaran nilai artistiknya lebih mencuat.

”Saya juga tidak khawatir desain batik yang saya ciptakan dijiplak dan dimassalkan dalam wujud batik cetak karena setiap saat saya menciptakan desain-desain baru untuk menggantikan desain-desain lama yang sudah dilemparkan ke pasaran,” katanya dan menambahkan, pihaknya mempekerjakan sejumlah desainer yang khusus bertanggung jawab untuk menciptakan desain-desain baru.

Sumber : (w. sumatika) Bali Post