Aryo Wisanggeni G dan Brigitta Isworo L
”Penjelajahan” di Kota Pekalongan, siang tanggal 3 November lalu, merupakan pengalaman tersendiri. Rekan satu tim yang merayakan Lebaran hanya bisa bersilaturahmi dan saling memaafkan dengan rekan satu tim lainnya di Tim Lintas Timur-Barat Kompas.
Kami ketika itu berempat, berlima dengan pengemudi kami, Pak Hartono, yang setia mendampingi sejak dari Jawa Timur. Lebaran tanpa ketupat karena perjalanan kami serba singkat dan cepat. Kota Pekalongan siang itu begitu sunyi. Setelah menelusuri ke beberapa tempat dan tidak bertemu narasumber karena mereka sedang berlebaran, tim memutuskan untuk ke Desa Jrebeng Kembang, Kecamatan Karang Dadap, Kabupaten Kajen.
Masuk menyusuri jalan desa sekitar empat kilometer, kami mendatangi sebuah rumah yang ramai oleh suasana silaturahmi. Anak-anak kecil berlarian, orang dewasa duduk berbincang dengan berbagai penganan tersaji di meja. ”Minal aidin walfaizin…,” rekan kami membuka salam. Kami sungguh beruntung karena pasangan Pak Ramelan-Ibu Temu Patonah dengan tangan terbuka menyambut kami. Perbincangan pun mengalir lancar. Dan, Ibu Patonah seakan menumpahkan deritanya kepada kami tanpa nada mengeluh.
Rumah itu amat sederhana dengan perabot kursi dan meja seadanya yang tampak sudah bertahun-tahun tidak diganti. ”Wah sekarang kami menganggur. Malah banyak yang sudah pindah usaha ke konveksi. Kalau dulu, kami ibaratnya sampai ke cucu, semua membatik,” tutur Patonah membuka kisah.
Delapan tahun lalu, desa tersebut bisa dikatakan sebagai sentra pembatik. Dari rumahnya sendiri, Patonah bisa memproduksi 10 kain batik. Di dukuhnya, ada sekitar 25 keluarga, 20 di antaranya adalah keluarga pembatik. ”Pembatik ibaratnya bisa ditemukan di setiap rumah,” tutur Patonah mengenang. Siang itu dia membalut diri dengan kebaya sederhana bernuansa biru yang sudah kusam warnanya.
Selain memproduksi sendiri, Patonah juga mengumpulkan hasil batikan tetangganya.
”Tahun 1980 sampai 1985 batik sampai bertumpuk-tumpuk di sini. Sebulan bisa menjual antara lima kodi (100 lembar kain—Red) sampai 10 kodi,” tutur Patonah. Rincian ongkos produksi, yaitu kain mori Rp 11.500 per ukuran kain, bahan mbabar (proses celup warna sampai selesai—Red) Rp 5.000, dan upah membatik Rp 10.000. Lalu, kain batik jadi dijual Rp 29.000-Rp 29.500 per potong. Dia mengambil untung rata-rata Rp 3.000 per potong. ”Hanya cukup untuk makan,” katanya.
”Akhir 1990-an, semua bangkrut. Dulu ibaratnya semua rumah membatik. Akibat krismon, bisa dikatakan tinggal sekitar empat rumah yang masih membatik,” kata Patonah. Sebagian keluarga banting setir ke usaha konveksi bahan jins, sebagian mencoba eksis dengan tetap menjadi pembatik bagi pengusaha batik bermodal besar.
”Harga mori menjadi Rp 15.000 per potong, ongkos membatikkan Rp 15.000, dan bahan mbabar Rp 6.000. Jadi biaya produksi naik menjadi Rp 36.000. Sementara, kami hanya bisa menjual seharga Rp 30.000 paling tinggi. Ya… selalu tekor. Sementara harga kain batik sablon hanya Rp 15.000 dengan hasil mirip dengan batik tulis. Jadi, batik tulis kasar mati semua. Saya saja pakai batik sablon,” ujarnya getir sambil menunjuk kain batik yang sudah pudar warnanya yang dikenakannya. Kini batik tulis yang dijual hanya yang batikannya halus sehingga harganya pun mencapai ratusan ribu rupiah.
Karena tidak punya modal cukup, Patonah hanya bisa menjadi penjual nasi dengan modal beras lima sampai enam kilogram per hari. ”Tidak bisa lagi usaha batik karena tidak tahu cara mewarna batik sablon. Kami tidak tahu caranya,” ujar Patonah mengakui kekurangannya. Sementara itu, Jaenuri tetangganya yang semula juga memproduksi batik tulis dengan lima pembatik, kini mengerjakan konveksi bahan jins.
Menurut penuturan Kepala Desa Jrebeng Kembang, Suroto, dari sekitar 200 pembatik yang dulu ada di desanya, kini hampir semuanya telah meninggalkan pekerjaan membatik. Kini di wilayahnya telah tumbuh sekitar 50 usaha konveksi.
Tidak semua pembatik menjadi penganggur. Para pembatik yang karyanya halus, seperti Nokimah, kini menjadi pembatik buruh di pengusaha batik tulis. Mereka umumnya dibayar borongan sekitar Rp 150.000 untuk motif batik yang sederhana dan mudah dikerjakan, dan dibayar sampai sekitar Rp 300.000 untuk motif batik yang sulit.
”Yang mudah, sekitar dua minggu selesai. Yang motifnya sulit bisa sampai sebulan,” tutur Nokimah yang tinggal selisih tiga rumah dari Patonah. Dia kini membatik untuk pengusaha di Pekajangan yang memiliki sekitar 50 pembatik. Menurut dia, pendapatannya sekarang lebih besar daripada dia membuat sendiri batik tulis kasar. Mereka yang tidak bisa membatik halus kini menjadi buruh di pabrik batik sablon.
Pedagang batik
Keterpurukan kampung batik bukan hanya terjadi di desa, seperti di Kecamatan Karang Dadap. Beberapa kampung batik di kawasan kota Pekalongan, Kampung Pesindon misalnya, dulu dikenal sebagai kampung pembatik. Akan tetapi, saat ini Kampung Pesindon atau Kauman telah menjelma menjadi kampung pedagang batik.
MB Nur Hidayat, pemilik galeri Batik Seni Asti, menuturkan, batik sudah berkembang menjadi dagangan yang harus memerhatikan selera pasar. ”Pedaganglah yang mampu mengenali barang apa yang sedang laris di pasaran, di Yogyakarta dan Solo. Jadi, pembatik kini bekerja untuk pedagang,” ungkap Hidayat yang menjajakan batiknya hingga Yogyakarta dan Solo.
”Dari situ saya mengetahui perkembangan pasar. Begitu ada tren baru, saya mengantisipasinya, meminta pembatik membuat batik yang sesuai permintaan pasar,” katanya. Di tangan para pedagang itulah konsep dan desain baru batik Pekalongan berkembang.
Dengan modifikasi motif, batik tulis mendapatkan tempat di pasar, yaitu sebagai karya seni sehingga yang mendapat tempat adalah batik tulis halus. ”Batik sablon kasar juga mengembangkan motif dengan cepat. Itu barangkali sebabnya batik tulis kasar sulit mencari tempat di pasar karena kalah efisien dibandingkan batik sablon,” kata Hidayat yang menjual berbagai jenis kualitas batik. ”Toko saya seperti toko swalayan. Batik seharga Rp 20.000 ada, batik Rp 2 juta juga ada,” ujarnya menerangkan.
”Terus terang, saya lebih senang menjual batik seni. Batik seni tidak sensitif terhadap perubahan harga bahan baku dan biaya produksi. Nilai jualnya jauh di atas ongkos produksi,” ujarnya. Dia yakin, sebagai karya seni, batik tulis tidak akan ditinggalkan orang. ”Konsumen batik seni adalah orang yang menghargai batik sehingga mereka mau mengeluarkan lebih banyak uang. Sebagian dari mereka malah memburu batik-batik halus ini,” ujarnya menambahkan.
Untuk batik tulis, Hidayat memilih menjual batik sutra yang harganya Rp 1 juta-Rp 2 juta. ”Saya juga berjualan batik mori halus, tetapi jumlahnya sedikit. Saat ini pembuat batik halus mori sedikit. Hanya yang garapannya sangat halus bertahan di cerukan pasar batik seni. Batik kelas itu membutuhkan waktu pembuatan lama, bisa pesan setengah tahun baru jadi,” kata Hidayat.
Apa yang dikatakan Hidayat tidak salah. Di penggal jalan raya Kedungwuni terdapat papan Art Batik. Dari sanalah roda perusahaan batik tulis mori halus Oey Soe Tjoen digerakkan oleh Widianti Widjaja, generasi ketiga Batik Oey Soe Tjoen yang mulai berdiri sejak tahun 1920.
Produksi Oey Soe Tjoen bisa dikatakan adikarya batik yang pembuatannya memakan waktu setengah tahun hingga dua tahun. ”Satu motif ini dikerjakan oleh lebih dari satu pembatik. Ada yang khusus membuat cecek (titik-titik halus—Red), ada yang khusus membuat gambar dasarnya, dan lainnya lagi. Setidaknya satu kain melibatkan antara sepuluh hingga 15 pembatik dengan spesialisasinya. Masing-masing kami pilih yang terbaik,” ujar Widianti.
Maka, tidak mengherankan jika batik berlabel Oey Soe Tjoen ini menjadi karya eksklusif yang hanya dibeli oleh kalangan tertentu—para pejabat dan konglomerat—termasuk orang asing, kebanyakan dari Jepang. Motif batiknya pun khas, karena motif tersebut merupakan warisan dari sang kakek dan nenek. ”Ada sekitar 100 motif batik ciptaan kakek dan nenek yang masih kami pertahankan,” ujarnya.
Sementara kemandekan Patonah dan Ruki’ah membuat mereka hanya menjadi penonton dan pemeran pembantu dalam gemerlap bisnis batik Pekalongan, Hidayat dan Widianti pun terus berkibar. Hidayat dengan kepiawaiannya berakrobat di tengah tren pasar, sementara Widianti berkutat dengan keeksklusifannya dan ketahanannya mengembangkan batik halus.
Itulah gambaran peta kondisi batik Pekalongan yang namanya telah begitu dikenal luas di seluruh Nusantara. Pembatik seperti Patonah dan warga Desa Jrebeng Kembang lainnya kini tersingkir….
Sumber : (WHY/NUT) Kompas Cetak