Semangat Tak Pantang Menyerah Fatiyah

Batik karya kelembutan tangan Fatiyah sampai diminati pasar mancanegara. Berbagai penghargaan telah diterima termasuk penghargaan Upakarti tahun 1993 atas keberhasilannya mendalami industri kerajinan batik.

angan mudah menyerah. Itulah moto hidup yang dipegang erat Fatiyah Abdul Kadir. Wanita kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah ini sukses mengarungi hidup yang penuh tantangan. Keuletan Fatiyah mendalami usaha batik berbuah manis. Hasil karya kelembutan tangan Fatiyah sampai diminati pasar mancanegara.

Semua kesuksesan yang diraih ibu empat anak dengan delapan cucu ini tidak datang begitu saja. Berbagai halangan dan sempat berbuah kegagalan telah dirasakan. Namun berkat keuletan dan kerja keras, kegagalan menjadi keberhasilan. Buah manis tak hanya dirasakan istri Ahmad Umar ini. Warga setempat juga ikut mengenyamnya karena dipekerjakan olehnya.

Awalnya batik yang dihasilkannya kurang mendapat respon dari pembeli. Namun dia tak menyerah. Pelan namun pasti, usahanya mulai dikenal dan berkembang pesat. Wanita yang mulai berbisnis batik sejak tahun 70-an ini mengaku terinspirasi dari wisatawan asing. “Saya terinspirasi beberapa orang asing yang datang Pekalongan,” kata dia.

Nama Fatiyah menjadi terkenal di Kota Batik itu. Namun belum lama mengeyam hasil, usahanya kembali lesu seiring dengan adanya berbagai gejolak keamanan dan krisis di dalam negeri. “Sekarang 60 [karyawan]. Padahal sebelumnya sampai 400 [karyawan],” kata wanita berkaca mata ini. Beruntung, kerajinan tangah Fatiyah tetap diminati pembeli dari mancanegara. Sebanyak 20 persen dari produksinya diekspor ke Amerika Serikat.

Dalam menjalankan usahanya, Fatiyah memperhatikan kualitas produk-produknya. Dia beranggapan kualitas berarti kepercayaan. Karenanya dia rajin mengawasi pekerjaan anak-anak buahnya. Tak jarang jika ada yang salah, dia langsung memberikan contoh yang seharusnya. Dia tak segan-segan memberi ilmu baru kepada para karyawannya.

Anak pertama dari 11 bersaudara ini mengakui keberhasilan yang sudah diraihnya juga tak lepas dari dukungan teman-teman seprofesinya yang tergabung dalam koperasi. Menurut dia, pelaku usaha kecil menengah tidak bisa maju tanpa ada bantuan dari koperasi.

Puluhan penghargaan adalah bukti lain dari kesuksesannya. Salah satunya adalah Anugerah Upakarti pada 1993 yang diberikan langsung oleh mantan Presiden Soeharto. Selain batik, kehadiran anak dan cucu membuat Fatiyah tetap bersemangat menjalani aktivitas walaupun usianya kini sudah tidak muda lagi.

Sumber : (JUM/Budiharto) Liputan 6

Leave a Reply