Pasar Tiban Batik Imogiri; Pengganti Sementara Museum yang Roboh
Jogja Heritage Society (JHS) dengan Paguyuban Pecinta Batik Indonesia ‘Sekar Jagad’, Yayasan Losari, Mayasari Indonesia, dan LPM Institut Pertanian (Intan) Yogya masih menggelar Pasar Tiban Batik. Di halaman rumah Sarjono di Dusun Pajimatan Desa Girirejo yang semula untuk warung lesehan, saat ini digunakan untuk lokasi pasar tiban tersebut.
“Kami senang warung lesehan ini digunakan untuk pasar tiban batik, agar Imogiri segera bangkit setelah musibah gempa. Sebab kalau terlalu lama tidak ada kegiatan membatik, ciri khas Imogiri sebagai pusat batik ‘Bantulan’ akan semakin tenggelam dan lenyap,” ujar Sarjono yang mendapat mandat dari penyelenggara pasar tiban batik, Ir Dra Larasati Suliantoro Sulaiman.
Menurut Larasati Suliantoro, kegiatan ini merupakan salah satu program ‘Bangkitkan Kembali Pusaka Rakyat Jogja’, pelestarian pusaka secara terpadu tangiable dan intangiable serta pemulihan ekonomi lokal berdasarkan aset yang ada. Setiap hari puluhan pembatik Imogiri mengerjakan kerajinan batik di Pasar Tiban ini. Mereka mendapat upah Rp 5 ribu dari rencana Rp 10 ribu setiap hari.
Program dalam jangka waktu satu tahun ini dimaksudkan untuk menampung perajin batik yang pada keseharian membatik di Museum Batik Ciptowening Imogiri. Museum tersebut kini rusak berat. Untuk membangun kembali museum ini tentunya memerlukan waktu yang lama, apalagi belum jelas dananya dari mana.
Lokasi ini sekaligus sebagai tempat penjualan hasil kerajinan batik yang diproduksi sekitar 50 pembatik Imogiri. Bagi pengunjung disediakan harga yang sangat murah dari Rp 55 ribu sampai ratusan ribu rupiah, tergantung dari bahan dan kerumitan waktu pengerjaan batik. Di pasar tiban ini pengunjung juga bisa latihan membatik dan digelar workshop melibatkan pembatik berpengalaman warga setempat.
Pasar Tiban Batik Imogiri buka setiap hari agar para pembatik di wilayah ini tidak kehilangan matapencaharian. Batik tulis ‘Bantulan’ merupakan salah satu potensi besar yang dihasilkan. Hampir seluruh masyarakat kecamatan ini bisa membuat batik, seluruhnya mencapai sekitar 900 perajin batik tulis yang digeluti sejak nenek moyangnya.
Kejayaan batik tulis Imogiri telah mengalami kemunduran bila dibandingkan 20 tahun yang lalu. Masyarakat menjadikan kegiatan ini sebagai kerja sampingan karena sudah tidak memberikan hasil yang bisa diandalkan untuk penghidupan sehari-hari. Saat ini hanya beberapa orang yang aktif. Lebih-lebih sekarang Imogiri luluh lantak diterjang gempa, pembatik semakin terpuruk.
July 8th, 2006 at 8:28 pm
Ayo bangkit ! Dengan selalu berdoa dan kerja keras dan selalu kreatif Insya ALLAH bisa jaya kembali.
http://www.grosirpekalongan.com
August 11th, 2006 at 9:15 am
Serambi Pembatikan 4 yang diselenggarakan di Wukirsari, Imogiri mendapat respon yang sangat positif dari warga pembatik. Ditengah kesulitan akibat gempa, mereka tetap bisa berkarya dan mendapatkan upah yang bisa untuk menambah pendapatan mereka.
Tapi saking semangatnya mereka, dalam 2-4 hari, harus siap menyediakan bahan baru untuk dikerjakan.
Saat ini ada sktr 120 pembatik, yang aktif di serambi pembatikan sekitar 80 sekitar.
November 7th, 2007 at 10:26 pm
Undangan Pembukaan Pameran Tunggal Mozes Edytomo “Playing With Animal”
Sabtu, 24 Nov 2007, jam 19.30 wib. Di Karta Pustaka Yogyakarta Jl. Bintaran Tengah 16 Yogyakarta.