Archive for June, 2006

Ada ‘Kesebelasan Dunia’ dalam Batik Yogya

Thursday, June 29th, 2006

DUNIA batik, adalah dunia dinamis kehidupan manusia. Motif-motif batik yang selalu mengandung simbol dan makna, ternyata tidak mandeg. Pesona batik tidak akan hilang dan tetap disuka orang-orang muda, selama motifnya mengikuti selera konsumen.

Sekalipun kadang menimbulkan pro-kontra, toh batik dengan motif ‘kontemporer’ pun tetap bermunculan. Jika di Pekalongan muncul batik sutra motif Piala Dunia, di Yogya pun muncul juga.

”Hanya kami tidak menorehkan batik motif Piala Dunia di kain sutra. Yang kami buat adalah sprei, bed-cover, korden,” sebut Vera Ghozali, pemilik Batik Tulis Kontemporer ‘Tawon Gung’, saat ditemui Rabu (28/6) pagi di Kawasan Pogung. (more…)

Setaman, Surganya Batik dan Kerajinan

Wednesday, June 28th, 2006

SetamanSaat Anda berkunjung ke kota Jogja, tentunya tak akan melewatkan Malioboro yang sudah menjadi ikon kota budaya ini. Malioboro memang menawarkan banyak hal, mulai dari mall yang menjadi lambang modernitas sampai dengan pedagang kaki lima yang menyajikan berbagai makanan khas dan kerajinan tradisional. Sehingga tidak mengherankan bila ada yang menyebutnya sebagai surganya belanja.

Jika Anda ingin lebih mengenal kebudayaan Jogja, datanglah ke Keraton yang terbuka untuk umum. Di tempat ini Anda bisa mendapatkan banyak pengetahuan mengenai awal berdirinya kota budaya ini hingga peninggalan-peninggalan dan tokoh-tokohnya. Lokasinya sangat mudah dijangkau, bila Anda telah berada di Mallioboro ambilah jalan lurus menuju Alun-alun Utara. Perjalanan dapat dinikmati dengan naik becak atau andong bahkan berjalan kaki saja.

Setelah menikmati suguhan di Keraton, sangat disayangkan bila langkah kaki Anda tidak diarahkan menuju pasar Ngasem yang berdempetan dengan Taman Sari. Tempat ini tidak jauh dari Keraton, bahkan Anda dapat mencapainya hanya dengan melangkahkan kaki ke aras barat sedikit dan berbelok ke selatan. (more…)

Batik Pulihkan Korban Gempa; Omzet Mencapai Rp 10 Juta

Wednesday, June 28th, 2006

Jemari itu dengan gemulai menorehkan canting ke kain putih yang terhampar di kayu penyangga. Canting kembali dicelupkan ke dalam cairan malam yang terus mengepul dalam wajan di atas kompor kecil. Dengan tiupan ringan, jemari kembali memainkan alat membatik itu dan mengisi pola yang terpampang dalam kain dengan cairan malam kental. Beberapa saat kemudian, mulai nampak pola batik yang indah. Disela-sela kegiatan, terdengar cengkrama akrab antarpembatik yang makin menghangat.

Uniknya, proses pembuatan kain batik dilakukan oleh ibu-ibu korban gempa yang berada di Girirejo, Pajimatan Imogiri Bantul (200 meter barat makam raja-raja Mataram), salah satu daerah terparah akibat gempa. Membatik ini merupakan salah satu kegiatan dalam program ‘Revitalisasi Batik di Imogiri’ yang diselenggarakan oleh Jogja Heritage bersama Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad, Yayasan Losari, Mayasari Indonesia, LPM Institut Pertanian Yogyakarta dan beberapa donatur sejak Rabu (7/6) lalu. Program yang dijangkakan dalam waktu setahun ini mengajak para pembatik ke depan agar bisa mandiri. (more…)

Perajin Pekalongan akan Bangun Kampung Batik

Tuesday, June 27th, 2006

Kalangan perajin di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, akan membangun kampung batik di kawasan Kemplong dan Kepatihan, Kecamatan Wiradesa sebagai salah satu tempat pembelajaran batik.

Pengurus Paguyuban Pecinta Batik Pekalongan, H Failasuf di Pekalongan, Selasa mengatakan, rencana pembangunan kampung batik ini sudah lama digagas dan kini mulai disosialisasikan ke masyarakat.

“Kami berharap gagasan pendirian kampung batik ini akan mendapatkan tanggapan positif masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pendirian kampung batik batik ini didukung sekitar 50 pengusaha batik yang ada di kawasan Kemplong dan Kepatihan. Kampung batik ini diharapkan dapat mendorong pengembangan batik. (more…)

Spirit Kreatif pada Kebaya Batik Klasik

Sunday, June 25th, 2006

JOGJA Bangkit! Inilah yang tengah menjadi jargon pada hari-hari terakhir ini - sehubungan dengan recovery segala unsur kehidupan - setelah Yogyakarta diluluhlantakkan gempa tektonik 5,9 SR sebulan silam. Tak hanya bidang infrastruktur, tapi juga spirit. Terutama spirit untuk kembali produktif dan kreatif. Dan, dunia fashion seolah tak pernah kehilangan spirit dan energi untuk berinovasi.

“Cukup sudah kita menangis kena musibah bencana gempa. Marilah kita kembali mencari jatidiri untuk kembali eksis dalam kehidupan ini,” kata Indah Widiarti, Manajer Batik Margaria (BM), Yogyakarta. Indah bersama tim sudah mampu kembali berkreasi dengan spesifikasinya selama ini, yakni batik yang dipresentasikan ke dalam aneka kebaya klasik . Untuk kreasi terbarunya ini, dia memberi nama Classy Kebaya Batik.
(more…)

Ketrampilan Perajin Batik Kebumen Ditingkatkan

Wednesday, June 21st, 2006

Sebanyak 40 perajin batik yang tersebar di sejumlah desa di Kabupaten Kebumen akan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Diperindagkop) Kabupaten Kebumen.

Selain mendapatkan bimbingan peningkatan ketrampilan dari para instruktur dari Balai Besar Batik dan Kerajinan Yogyakarta, para peserta juga akan mendapatkan ‘bonus’ studi banding ke Kota Batik Pekalongan.

Kepala Diperindagkop Kebumen Dirman Supardi SH, mengungkapkan pelatihan bagi para perajin batik itu akan dilaksanakan selama 3 hari, 28 sampai 30 Juni 2006. Selanjutnya, pada 1 Juli 2006, peserta diajak mengunjungi industri batik di Kota Pekalongan. (more…)

Batik Semarangan Mulai Bangkit

Wednesday, June 21st, 2006

Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Kota Semarang dan Pemkot Semarang, berupaya menghidupkan kembali kerajinan dan budaya Batik Semarangan yang kini telah lenyap seiring perkembangan zaman.

Upaya yang dilakukan kini, menurut Ketua Dekranas Kota Semarang yang juga istri Walikota Semarang, Ny Shinto Sukawi ST adalah dengan menghidupkan kembali Kampung Batik yang berada di wilayah Kelurahan Rejomulyo Semarang Timur sebagai sentra perajin batik.

Sikap Dekranas yang didukung Pemkot Semarang mulai diwujudkan pada Senin (12/6) lalu dengan mencari calon perajin yang akan didik menguasai kemampuan membatik. Senin (19/6) kemarin sedikitnya 20 calon perajin batik mulai dilatih oleh para pakar dan praktisi batik dari perusahaan batik Bokor Kencono dan Dewi Punjung di Balai Serba Guna Kampung Batik, Kelurahan Rejomulyo. (more…)

Batik World Cup Pekalongan, Laris Manis

Saturday, June 17th, 2006

BATIK asal Pekalongan yang pernah berjaya, dan juga pernah merosot tajam adanya krismon yang pernah melanda negeri ini. Nampaknya kini mulai bangkit kembali. Momen pesta Piala Dunia yang kini sedang berlangsung, ternyata memunculkan inspirasi para seniman batik di Kota Pekalongan. Momen itu dimanfaatkan mengekspresikan kecintaan mereka terhadap sepak bola, sekaligus mengais rezeki dari penjualan batik-batik motif world cup.

Tersebutlah nama Haris Riadi, seorang seniman batik jebolan ASRI, yang memanfaatkan momen tersebut. Dengan ketrampilannya menorehkan canting batik motif, para pemain sepak bola sedang beraksi dipadu dengan ornamen lainnya. Ternyata apa yang dilakukannya itu mendapat tempat di pasaran. Bahkan tanpa diduga, order pesanan terus berdatangan. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Bayangkan, berapa keuntungan yang diraihnya itu. (more…)

Batik Piala Dunia Made In Harris

Friday, June 16th, 2006

Batik Motif Bola
Seorang perajin batik asal Pekalongan, Jateng, membuat kain batik bermotif bola lengkap dengan gambar pemainnya. Selama berlangsungnya Piala Dunia, lebih dari 20 lembar batiknya laku terjual

Banyak cara dilakukan untuk mengekspresikan kegembiraan atas digelarnya Piala Dunia 2006 di Jerman. Di Pekalongan, Jawa Tengah misalnya, seorang perajin batik bernama Harris Riadi membuat kain bermotif bola, lengkap dengan gambar sejumlah pemainnya. Kebetulan pula, pembatik asal Desa Pekajangan, Kedungwuni ini adalah seorang penggemar sepakbola.

Pengerjaan batik tulis bermotif bola sudah dikerjakan Harris sebulan sebelum Piala Dunia 2006 digelar. Peraih juara Lomba Cipta Desain Batik 2001 ini mampu menyelesaikan setiap helai batik dalam satu pekan. Harris menawarkan batiknya dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 2 juta. Selama berlangsungnya Piala Dunia, sudah lebih dari 20 lembar batik Harris laku terjual. Para pembeli umumnya pecinta bola yang datang dari Jakarta, Bandung, Jawa Barat dan Semarang, Jateng.

Sumber : (ADO/Budi Harto) Liputan 6, Pekalongan