Archive for May, 2006

Sentra Industri Rakyat Rusak

Wednesday, May 31st, 2006

1.800 Petani Bawang di Kabupaten Bantul Terancam Gagal Tanam

Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Daerah Istimewa Yogyakarta mengidentifikasi sejumlah sentra industri rakyat DIY rusak parah. Kerusakan paling parah dialami oleh pusat kerajinan gerabah di Kasongan, Pundong, Manding, Kotagede. Seluruhnya dinyatakan rugi total.

Sementara itu sentra industri batik kayu di Krebet sama sekali tidak terkena kerusakan akibat gempa sehingga tetap bisa beroperasi seperti biasa.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi DIY Syahbenol Hasibuan mengusulkan agar pemulihan usaha kecil di Bantul dilakukan melalui pinjaman jangka panjang tanpa bunga untuk modal usaha mereka. Tanpa bantuan pemerintah, mereka hampir tidak bisa kembali membangun usaha kecil kerajinan yang sudah hancur itu.

Menurut Syahbenol, jika tidak segera tertolong, jumlah warga miskin dan menganggur akan semakin besar, karena sektor industri kerajinan itu umumnya menyerap tenaga kerja. Meski demikian, belum ada angka pasti mengenai jumlah dana yang dibutuhkan untuk pemulihan usaha kecil di Bantul tersebut. Untuk Kasongan, diperkirakan maksimal Rp 100 juta untuk rehab satu rumah dan Rp 100 juta untuk modal usaha pembuatan gerabah.

Selain Kasongan, delapan usaha pembuatan makanan geplak di Palbapang juga terhenti akibat bencana gempa. Puluhan industri rumah tangga kerajinan kulit di Manding juga terkena dampak bencana, meski tidak rusak total. “Mesin-mesinnya masih ada, tetapi industri di sini belum bisa beroperasi karena sebagian terkena runtuhan bangunan, dan para pekerja trauma karena sering terjadi gempa-gempa kecil,” kata Emi, pengelola industri kulit.

Akibat buruk lainnya dari gempa tersebut adalah sekitar 1.800 petani bawang merah di lima kecamatan di Kabupaten Bantul, DIY, terancam gagal tanam karena tidak mempunyai modal tanam, setelah harta benda mereka terenggut bencana itu. Secara bersamaan, ribuan perajin di sejumlah industri rakyat di Bantul yang hancur, sulit bangkit lagi tanpa bantuan pemerintah.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Edy Suharyanto menyatakan, sentra pertanian bawang merah ada di Kecamatan Pundong, Imogiri, Kretek, Sanden, dan Srandakan, dengan luas lahan mencapai 850 hektar. Pundong dan Imogiri termasuk paling parah terkena dampak bencana gempa. “Awal masa tanam bawang merah dimulai pertengahan Juni mendatang,” kata Edy.

Sumber : (BEN/RIS) Harian Kompas, Bantul

Pesona Metamorfosis Batik

Sunday, May 28th, 2006

Di tangan para desainer, batik-batik itu tampil menawan.

Nama Komarudin Kudiya boleh jadi mulai terdengar ketika dia memecahkan rekor dengan membuat kain batik terpanjang. Komar, panggilan pria ini, adalah orang yang setia dengan cara mengolah batik sehingga tampil beda. Komar menyajikan batiknya dengan motif-motif unik seperti bentuk geometris yang berasal dari desain-desain islami dan motif bernuansa arab. ”Motif-motif ini juga bisa disesuaikan dengan teknik batik yang dikerjakan,” kata pemilik Rumah Batik Komar ini.

Ketika akhirnya Komar bertemu dengan para perancang busana Muslim, batik-batiknya pun hadir menawan dengan beraneka cutting, aplikasi, dan paduan kain.

Ketika berlangsung pergelaran busana di Butik Mumtaaz, Jakarta, belum lama ini, batik-batik Komar tampil indah lewat karya para desainer seperti Boyonz Ilyas, Kusuma Putri, dan Toera Imara.

Tentu saja, masing-masing desainer mencuatkan ciri khas tersendiri. Seperti Kusuma Putri yang menyedot perhatian dengan kebaya tunik berwarna terang yang berpadu dengan kain thai silk dan bordir di atasnya. Sedangkan Toera Imara mencuat dengan busana berwarna ungu dan kuning kunyit yang lengkap dengan aplikasi. Inilah metamorfosis selembar batik.

Sumber : (neh) Republika Online

Margaria Luncurkan Classy Kebaya Batik

Friday, May 26th, 2006

Persaingan Bisnis Makin Kompetitif

Sebagai akibat ketidakseimbangan antara kenaikan biaya ritel dan menurunnya daya beli masyarakat, ritel batik dan bisnis batik menunjukkan aktivitas yang stagnan. “Tren negatif ini dibaca oleh para pelaku usaha sektor ritel, termasuk pelaku bisnis batik,” kata Manajer Margaria Batik, Indah Widiarti kepada KR, Kamis (25/5).

Menurutnya, iklim bisnis batik sekarang ini semakin kompetitif, sehingga pelaku usa-ha pun harus melakukan berbagai terobosan untuk membidik pasar. Saat ini batik bukanlah barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh kalangan tertentu, namun sudah memasyarakat di semua lapis-an. Batik mudah dijumpai di mana-mana, mulai dari pasar tradisional, kawasan pertokoan hingga mall.

Mengantisipasi hal itu, Margaria Batik yang terdiri atas Butik Batik dan Wisma batik Margaria belum lama ini meluncurkan koleksi batik terbarunya yang bertajuk Classy Kebaya Batik. Koleksi ini sesuai dengan konsep butik yang sangat menjaga eksklusivitas produk. Classy Batik ini sengaja dibuat terbatas untuk setiap desainnya (limited edition) dengan bidikan pasar menengah ke atas. Koleksi ini tersedia dalam 5 model yang masing-masing merupakan modifikasi kreatif terbaru dari Butik Batik Margaria.

“Peluncuran koleksi terbaru ini merupakan upaya kami untuk tetap konsisten di dalam jalur bisnis batik yang saat ini iklimnya semakin kompetitif. Promo ini sekaligus sebagai konsekuensi penciptaan brand image Margaria Batik sebagai gerai batik terdepan di Yogya,” jelas Indah.

Ditambahkan, eksistensi dan optimisme Margaria Batik yang beralamatkan di Jl A Yani 65-69 Yogya selama ini tetap terjaga, sebab senantiasa bisa memenuhi tuntutan pasar melalui inovasi batiknya. Dengan demikian produk Margaria selama ini telah mendapat tempat di kalangan konsumen batik. Selain batik, produk lain yang juga memiliki pasar cukup tinggi adalah bahan kemeja sutra, sarung selendang sutra, bahan sarimbit dan bahan meteran untuk seragam.

Sumber : (M-5)-g Kedaulatan Rakyat, Yogya

Batik Tulis Tasik Kehilangan Generasi Penerus

Monday, May 22nd, 2006

Sayaka Sasaki, perempuan asal Jepang ini, tidak mampu lagi membendung keinginannya, untuk meperlajari batik tulis tradisional khas Tasikmalaya. Begitu ada kesempatan, ia terbang dari Jepang ke Indonesia lalu ke Tasikmalaya. Selama dua minggu, ia belajar bikin batik tulis kepada perajin batik tulis H. Dudung, daerah Cipedes, Kota Tasikmalaya.

Sayaka adalah satu dari sekian banyak orang asing yang tertarik dengan seni batik tradisional Tasikmalaya. “Selain Sayaka, ada juga dari Belanda, Swiss, dan Selandia Baru yang mempelajari batik tulis khas Tasikmalaya ini,” kata Dudung, ketika ditemui di kediamannya.

Namun ironisnya, ketika orang luar ramai-ramai belajar membuat batik tulis, justru di daerah Tasikmalaya sendiri, yang tertarik ke batik tulis hampir tak ada. Terutama, dari kalangan mudanya. Situasi ini, yang membuat para perajin batik, seperti Dudung, merasa gelisah. Ia khawatir, batik khas daerah ini, punah karena tak ada tenaga pembatik. “Tenaga pembatik yang ada, atau mereka yang biasa membuat batik tulis, saat ini sebagian besar atau 90 persen usianya sudah di atas 50 tahun. Kalau mereka pergi, jelas tak ada lagi generasi yang membuat batik,” katanya.

Dudung juga baru kehilangan pembatiknya, Ny. Icih dan Enok. Mereka ini adalah pembatik yang telah lanjut usia. Tapi, penerusnya tidak ada lagi yang muncul.

Diakui juga oleh perajin batik Ecin Kuraisin, asal Sukaraja, Tasikmalaya. Mereka yang menekuni jadi pembatik, di daerahnya satu persatu pergi atau berhenti, karena sudah usia lanjut. Ia sendiri khawatir batik tulis khas Tasikmalaya, tinggal kenangan.

Di daerah Kota Tasikmalaya, sendiri sentra batik tulis yang sekarang tersisa, yaitu Kota Tasikmalaya berada di daerah Cipedes, Kec. Cipedes, lalu Ciroyom, Kelurahan Nagarasari, Kec. Cipedes. Sedangkan lainnya, di Sukaraja, masuk ke Kabupaten Tasikmalaya.

Sekarang ini, keluhan kekurangan tenaga pembatik, tidak saja terjadi di Cipedes dan Sukaraja, tapi sama juga dilontarkan oleh para pengrajin batik di daerah Ciroyom. Sudah lebih sepuluh tahun terakhir ini, jumlah pembatik tulis tradisional menyusut tajam di Ciroyom. Ada yang memang meninggal dunia, atau berhenti karena sudah tua. Sementara, dari mereka yang muda yang ditunggu-tunggu untuk menjadi tonggak penerus, tak juga datang.

“Memang seperti di tempat saya ada yang muncul dari yang muda. Tapi, jumlahnya hanya satu atau dua orang. Jumlahnya, tidak seimbang dengan yang meninggal atau berhenti,” kata H. Cacu Darsu, pengrajin batik tradisional Ciroyom.

Diakui oleh Dudung yang menjadi penerus Batik Esah, keengganan generasi muda menekuni batik, karena rumit serta harus punya rasa seni tinggi. Selain itu, mungkin karena generasi sekarang lebih suka masuk ke kantoran dengan gaji besar.

Sebenarnya ada juga pelajar yang mempelajari batik, namun jumlahnya kecil. Selain itu, begitu ke luar dari sekolah, mereka tetap saja mencari kerjaan di tempat lain.

Rendahnya generasi muda Tasik yang mau menekuni batik tulis tradisional, membuat kegundahan para pe ngrajin batik di Kota Santri Tasikmalaya. Apalagi sejalan dengan itu, jumlah mereka yang menekuni usaha batik tradisional, semakin hari terus berkurang.

Data di Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kota Tasikmalaya, di masa kejayaan batik, antara tahun 60-an hingga awal 80-an, tak kurang ada 450 pengrajin batik. Dari perajin sebanyak itu, mampu menyerap ribuan tenaga kerja.

Pemasarannya, tidak hanya di daerah Tasikmalaya, tapi juga sampai ke Sumatra, Kalimantan, Sulawesi hingga lainnya. Jumlah batik yang dipasarkan, cukup banyak.

Seperti Batik Esah, setiap minggunya puluhan kodi (satu kodi 20 lembar) batik yang dijual. Batiknya, kebanyakan samping dan sarung. Sedangkan di Ciroyom ada ribuan perajin batik, dengan kapasitas produksi cukup besar. Perajin batik Hj. Enok Sukaesih asal Ciroyom, waktu masa kejayaannya, bisa jual batik dalam jumlah sangat besar puluhan kodi dalam seminggunya.

Namun perjalanan waktu, usaha batik tradisional satu per satu gukung tikar. Hingga sekarang ini, yang tersisa pengusaha batik tradisional di Kota Tasikmalaya, diperkirakan 34 orang. Semua itu, tentu saja berdampak pada makin berkurangnya produksi batik tradisional atau yang lebih dikenal dengan batik tulis.

Apalagi kini sudah banyak usaha batik yang produksinya, ke printing atau cap. Bagi pengusaha pada produksi batik printing dan cap tak lepas dari masalah tenaga kerja, pasar dan daya beli masyarakat. Untuk bikin 1.000 potong batik printing hanya butuh waktu satu hari dengan tenaga kerja 20 orang. Sedangkan dengan batik tulis, untuk satu potong saja, rata-rata membutuhkan waktu lebih daari seminggu.

Diakui oleh Enok Sukaesih maupun Dudung, proses membuat batik tulis memakan waktu yang agak lama. Biasanya, prosesnya diawali mulai dari menggambar, lalu gambar itu dimasukkan ke kain jenis primisira. Istilah pembataik setelah membuat gambar, lalu bikin pola, selanjutnya memberi malam pada gambar memakai canting, diwarnai menggunakan kuas, ditembok atau warna yang sudah dioles, ditutup lilin untuk mencegah terkena warna lain, lalu dicelup (memberi warna dasar), hingga pelepasan malam memakai air mendidih (rorod).

“Sedikit rumit, dengan memakan waktu paling cepat seminggu. Tapi, ada juga yang sampai tiga bulan. Semakin tinggi tingkat kerumitannya, maka semakin mahal harga batiknya,” ujar Enok.

Harga batik tulis ini, dijual ke pasar rata-rata mulai dari Rp 200 ribu, hingga Rp 1,5 jt.

Sebagian besar, di daerah ini pembatik yang menjual sendiri atau hanya menunggu pembeli datang. Paling banter pasaran akan bagus saat musim pernikahan. Pada saat itu mereka biasanya mengerjakan pesanan batik, baik untuk digunakan pengantin maupun keluarga pengantin, para penjemput tamu sampai panitia.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya, Tantang Rustandi didampingi Kepala Bidang Perdagangan Gungun, mengemukakan, ada beberapa hal yang menyebabkan usaha batik mengalami kemorosotan. Pertama, karena perkembangan mode dan industri tekstil yang pesat, yang akhirnya banyak menyisihkan kain batik. Seperti, bisa dilihat sudah jarang orang menggunakan samping batik dalam kegiatan sehari-hari.

Faktor lain, karena semakin berkurangnya pembatik itu sendiri. Lalu, kenaikan harga produksi atau bahan baku batik, sedangkan pemasaran yang semakin sulit.

Lalu, masalah lain yaitu kurangnya inovasi dari perajin sendiri. Sehingga, terjadi monoton yang akhirnya, pasar mengalami kejenuhan dan promosi yang kurang.

Kini, dinas tengah berusaha untuk membangkitkan kembali usaha batik. Di antaranya, lewat program proyek pendanaan kompetiti (PPK) yang diterima Kota Tasikmalaya, dari Jabar.

Dari PPK ini, dikembangkan pelatihan masala desain produk, serta pengembangan motif batik. Lalu, pelatihan pemasaran dan cara ekspor. Dengan pelatihan ini, diharapkan inovasi dari perajin muncul, serta bisa mengikuti perkembangan atau selera pasar.

Untuk promosi, kini Pemkot Tasikmalaya, membuka rumah Tasik, yang digunakan untuk pemasaran bersama produk kerajinan Kota Tasikmalaya. Di dalamnya, yaitu sebagai berisi batik khas Tasikmalaya. Sehingga, dengan adanya Imah Tasik, yang akan mencari batik khas Tasikmalaya, tidak sulit mencari. “Lokasinya di Kawalu, Tasikmalaya. Nanti dilengkapi dengan jaringan internet untuk promosinya,” tambah Gungun.

Pengusaha batik tradisional Tasikmalaya, tidak ingin pamor batiknya merosot. Dalam hal ini, mereka seperti kata Dudung atau Cacu, pemerintah bisa membantu memasarkan secara langsung. Caranya, sebaiknya pemkot buat seragam pegawainya dari batik khas daerah ini. Cara itu, bukan hanya untuk menyerap pemasaran batik, tapi ikut mempromosikan.

Begitu juga seragam sekolah yang pakai batik, selama ini sering gunakan batik cirebonan atau pekalongan. Kini, minta untuk gunakan batik asli. Mereka siap untuk membuatnya.

Tentu semua tidak ingin batik tasikan yang bercirikan warna dasar merah, kuning, ungu, biru, hijau dan soga, hilang. Untuk itu,butuh komitmen bersama agar seni daerah ini, bisa hidup serta tumbuh hingga menjadi fondasi ekonomi masyarakatnya, sebagaimana dalam tiga dekade ke belakang.

Sumber : (undang sudrajat/”PR”)*** Pikiran Rakyat

Untuk Membiayai Sekolah Anak: Membatik Hingga Larut Malam

Sunday, May 21st, 2006

Jika anda melintas di Jl Patangpuluhan Wirobrajan Yogyakarta, ada pemandangan yang cukup menarik di sisi selatan jalan. Seorang ibu tengah tekun membatik, sambil menunggui dagangan bensin ecerannya. Asap dari anglo tempat pemanasan malam, terkadang menyembul di sela kios bensinnya. Sumiyatun, ibu 4 anak itu, membatik untuk menambah penghasilan keluarga, terutama untuk biaya pendidikan anak-anaknya yang dirasa makin mahal.

“Ini kerja borongan mbak, ya kalau dihitung sehari dapat Rp 5 ribu,” kata Ny Atun menjawab pertanyaan KR. Saat dilihat begitu banyak gulungan kain di bawah kakinya, Ny Atun menjelaskan, kalau lembaran ini ya dihargai sekitar Rp 1.000.

Biaya pendidikan anak yang dirasa tinggi, membuat Ny Atun harus bekerja ekstra keras. Bahkan, bila perlu hingga larut malam terus membatik. Anak-anaknya, tidak ada yang telaten membantu ibunya membatik. “Kadang-kadang tak terasa saya membatik sampai di atas jam sebelas malam,” tambahnya.

Saat dijumpai KR, menjelang magrib, Ny Atun masih membatik dengan bantuan lampu penerangan yang dipasang di pinggir kios bensinnya.

Sang suami bekerja menarik becak, menurut Sumiyati penghasilannya menurun karena sudah kalah bersaing dengan bus kota.

Begitu juga, bila penjualan bensinnya sepi, terkadang hanya bisa terjual sekitar 20 liter. “Lha sekarang ini kan saingan juga banyak, penjual bensin eceran rasanya hampir ada di setiap tepi jalan,” tambahnya.

Beban keluarganya makin berat, karena anak ragilnya yang kembar dampit ada yang tidak bisa tumbuh kembang dengan normal, sehingga perlu perhatian khusus pula.

Semangat Ny Atun patut diacungi jempol, apalagi kerja kerasnya juga untuk membiayai anaknya yang kini menempuh pendidikan D3 di universitas ternama. Apalagi, biaya kuliah saat ini relatif tidak sedikit.

“Kami ingin juga mengembangkan usaha, namun terbatas pada modal. Kalau saja ada yang bersedia menolong, karena untuk utang ke bank kan harus ada jaminan.

Terpaksa kami utang pada perseorangan,” katanya. Ny Atun menjelaskan, dirinya tidak mendapat dana kompensasi BBM namun terkadang mendapat jatah Raskin.

Sumber : (Fia)-k Kedaulatan Rakyat

Batik Semarangan yang Terlupa

Thursday, May 18th, 2006

Ragam motif batik di Jawa Tengah selama ini lebih didominasi Solo dan Pekalongan, dua kutub yang masing-masing mewakili kultur pedalaman dan pesisir. Namun, sebenarnya kekayaan Jateng akan ragam motif batik tidak terbatas di dua wilayah itu. Hampir semua wilayah di provinsi ini memiliki motif khas.

Sayang, kekhasan motif batik di luar Solo dan Pekalongan jarang atau mungkin tidak pernah terangkat ke permukaan. Beberapa di antaranya kini nyaris tinggal legenda, salah satunya batik semarangan. Pada abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-19, batik semarangan pernah mencapai zaman kejayaan karena dipakai semua kalangan, bangsawan maupun rakyat jelata.

Namun, konon kejayaan itu berakhir menyusul meletusnya Gunung Ungaran akhir abad ke-19. Setelah itu batik semarangan tak banyak lagi dipakai sebagai busana khas. “Lama-kelamaan orang Semarang pun menjadi lupa motif batik Semarang (semarangan),” kata Zhilla Maya, perajin batik semarangan.

Menurut Zhilla, motif batik semarangan mulai disibak lagi tahun 1980-an. Salah satu motifnya adalah sarung kepala pasung. Motif ini didominasi warna cokelat dan hitam dengan ornamen lebih mengarah bentuk tumbuhan. Dominasi warna cokelat dan gelap menampilkan kesan agung. Uniknya, motif batik semarangan justru diketahui dari hasil repro Los Angeles Country of Art, yang menampakkan motif sarung kepala pasung yang pernah dibuat tahun 1910.

Akibat keterpurukan cukup lama itu, batik semarangan hingga kini masih jarang diketahui masyarakat, bahkan warga Semarang sendiri. Ditambah tidak banyak pengusaha atau perajin batik yang mengembangkan jenis batik ini.

Zhilla adalah satu dari segelintir pencinta batik asal Semarang yang peduli dengan kelangsungan batik Semarang. Bersama sejumlah kawannya, Zhilla mengembangkan pembuatan batik semarangan.

Batik semarangan buatan Zhilla mengacu pada unsur alam, sebagaimana cara pembatik tempo dulu mengerjakan batik jenis ini. Unsur alam ini terutama ditekankan pada bahan pewarnanya yang hampir semuanya berasal dari alam. Misalnya untuk warna kuning dan hijau, Zhilla menggunakan buah jelawe.

Sumber : (HAN) Harian Kompas

Batik, Hippies dan Bakso

Tuesday, May 16th, 2006

Dear Zev,

Hari Senin biasanya merupakan hari yang tidak disukai oleh kebanyakkan orang, sampai-sampai lagunya pun” tell me why I don’t like monday..” Tapi kalau saya kebalikannya, saya sangat suka dengan hari Senin, karena setiap hari senin “toko kelontong” saya tutup ! Jadi bisa santai sejenak sambil seperti biasa ngopi di depan kolom Koki yang semakin “aduhai”…

Saat ini saya lagi dalam periode”kewalahan” ngumpulin artikel-artikel untuk mewujudkan buku kedua tentang kebudayaan tradisional suku pedalaman di Pulau Kalimantan ditambah lagi pekerjaan baru dari salah satu instansi kebudayaan di Swiss untuk mengkatalogisasi objek ritual dari salah satu pulau di Indonesia, jadi sekarang situasi saya seperti tenggelam ditumpukkan kertas-kertas dan buku-buku, rumah sayapun menjadi seperti kapal pecah keberatan kertas…

Mumpung lagi seru “ngebutin” artikel budaya Indonesia, -walaupun juga nggak nyambung sama artikel yang sedang saya “geluti” saat ini- saya ingin menambah informasi tentang artikel hari ini di Koki senin 8 Mai 2006, “Afrika, Batik dan juru bicara, -Edwin ST di Stockholm”.

Soal Batik selalu menjadi “masalah klasik” dalam kehidupan saya sebagai seorang Indonesia di Eropa, dari Paris, Zurich sampai Milan, kepopuleran Batik lebih ditemukan dalam Batik Afrika daripada Batik Jawa. Pada saat era tahun 1980 an dimana lukisan Batik dari Bali dan Jogja mem -booming-, kerancuan akan batik Indonesia dan batik Afrika di Eropa pun mengental.

Saat musim panas saya selalu mengenakan kebaya komplit dengan sarung jawa, dan selalu ada saja yang menanyakan kain yang saya kenakan. Jadi saat saya sedang menerangkan kain batik Jawa ke pengunjung, pasti ada saja yang bilang “oh batik, iya saya tahu, dari Afrika toh?” Masih mending dia nggak bilang kalau kata itu juga dari Afrika. Kebanyakkan yang tahu dan respek bahwa kain batik itu dari tanah Jawa adalah orang-orang Belanda dan Jerman yang sudah berumur diatas 40 tahun. Bahkan ada yang bisa mengenali kalau kain tersebut mempunyai motif “truntum”, “kawung”, “sawit”, dll.

Batik itu sendiri merupakan kesenian yang temasuk dalam kategori antik. Sudah dari sejak jaman baheula, 2000 tahun yang lalu, manusia menemukan teknik membatik. Berbagai catatan dan teori tentang asal usul batik dikemukakan, dari ditemukannya kain batik di daratan Afrika (Mesir) pada tahun 500 sampai dengan salah satu catatan yang menyatakan bahwa teknik batik berasal dari daratan Cina dimana pada periode Dinasti Qin, 221-207 BC, masyarakat cina sudah memiliki kain berlukis dengan teknik
batik yang bernama atau .

Nun jauh dari Mesir dan Cina, batik pun berkembang ke pelosok sudut hingga mencapai puncaknya di pulau Jawa, Indonesia. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta. Jadi kesenian batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Sebutan batik pun datang dari orang Jawa yakni , yang maknanya menggambar, yaitu menitik, jadi batik merupakan gambaran indah yang terbuat dari titik-titik dengan menitik menggunakan canting. Yang mana kini nama sudah mengglobalisasi ke seluruh bahasa.

Pakaian batik dahulu di pulau Jawa adalah kain resmi dari kalangan ningrat/bangsawan. Dimana para petani perempuan menenun kain, istri-istri para ningrat/bangsawan Jawa mengerjakan batik. Mereka mempunyai waktu luang, kesabaran, dan memiliki tangan lembut yang dibutuhkan dalam pengerjaan batik. Dari Solo dan Yogyakarta, dengan arus perdagangan dan pelayaran, batik merambah ke pesisir selatan sampai ke peisir utara hingga ke Pulau Sumatra dan Malaysia. Setelah batik meluas dan berkembang di Indonesia, maka batik pun mulai “melongok” ke benua Eropa. Seorang kapten Inggris, John Saris menulis tentang saat pertama kali kain batik Jawa “bertandang” ke benua Eropa pada tahun 1613 dengan “Woven Cargoes”-Eighth Voyage of the English East India Company, in 1611, The First Voyage of the English to Japan, Toyo Bunka, Tokyo, 1941.

Jadi batik sudah memasuki Eropa sebelum tahun 1960, sebelum masa lahir. Akhir tahun 1950 dan awal tahun 1960 merupakan era dimana kata sediri merupakan derivasi dari yang digunakan pada masa - sekumpulan orang/pemuda-pemudi yang anti materialistik-, yang akhirnya menyimpang menjadi sekumpulan orang-orang yang menganut paham kebebasan tanpa batas dan “terbang” dengan obat-obatan dan minuman keras. Kata sendiri dipopulerkan oleh kolumnis Herb Caen, San Francisco Chronicle dan pada tahun 1966 Gubernur Ronald Reagan menggambarkan bahwa seorang hippie adalah orang yang berpakaian seperti Tarzan, mempunyai rambut awut-awutan seperti Jane dan bau seperti cheetah! Nah “orang yang berpakaian seperti Tarzan” ini -kata Reagan loh!- menyumbangkan distribusi yang cukup besar dalam dunia pertekstilan dan mode. Style yang dipopulerkan pada era “flower power” adalah celana panjang dibawah perut dengan potongan melebar di kaki, kemeja “kampung”-maksudnya tambal-tambalan-, tunik berbordir, rok khas “ala petani perempuan ” buatan esainerJessie McClintock Gunne, sandal desainer Anne Kalso, jaket model Moghul dan Nehru, dan sarung batik dan jumputan - Dr. Gary Moss, Hippie Culture Memorabilia, Journal Feature Article May 2002-

Kok bisa sampai ada batik dan jumputan? Ya karena para ini jalannya tidak hanya di Eropa dan Amerika saja, mereka melancong sampai Asia, mungkin juga sampai Bali, tetapi menurut pendapat saya pribadi bukanlah Bali yang mengenalkan batik ke mereka saat itu. Pada era tahun 1960 an, daerah Goa, di India Selatan sangatlah terkenal sebagai tempat hang out para hippie” di Asia, dimana sarung Batik dengan motif Magic mushrooms, circle, dan sarung teknik jumputan menjamur menjadi “trade mark seragam” bagi para hippies. Tak heran jika teman dari Edwin mengatakan bahwa Batik sama dengan Hippies, karena yang diketahui bukanlah Batik dengan motif , ataupun , tetapi sarung yang berwarna-warni yang menggunakan lilin dalam teknik pewarnaan, seperti teknik batik. Mudah-mudahan Edwin tidak bosan menerangkan tentang Batik dan Indonesia ke teman-teman dan lingkungannya. Saya bangga dengan anda yang mau menjadi juru bicara tentang Indonesia.

Memajukan Indonesia tidak hanya pulang ke Indonesia bawa uang atau sumbangan secara materi tetapi dengan nama baik dan keharuman bangsa akan “mengundang” kembali kepercayaan investor asing untuk invest di Indonesia yang mana bisa menambah lapangan pekerjaan buat rakyat Indonesia. Oh iya untuk tambahan bukan cuma kata yang ngetop di seluruh bahasa, ngomong-ngomong soal makanan, ngetop loh! Kita bisa menemukan dengan tulisan bahasa Indonesia -walaupun rasanya tidak sama dengan nasi goreng tek-tek si abang di Indonesia- di Supermarket (nasi goreng kemasan)sampai menu di salah satu klinik di Luzern, begitu juga dengan dan . Satu lagi mengenai kata , saya pernah ditanya apa benar kata asli dari Indonesia, saya menjawab kalau asal muasal bakso saya tidak tahu karena banyak negara-negara yang mempunyai bakso (meatball) dalam masakannya, seperti Albani ’Qofte të fërguara’, Brazil, ’almondegas’, Denmark ’frikadeller’, German ’Frikadellen’ (sebelah utara) atau ’Buletten’ (sebelah timur) atau ’Fleischpflanzerl atau Fleischküchle’ (sebelah selatan), Yunani ’keftedes’, Bulgari ’kyufte’, Italy ’polpette’, Norwegia ’kjøttkaker’, Swedia ’köttbullar’, Netherlands ’gehaktbal’, Turki ’köfte’, Romania ’chiftele dan pârjoale’.

Tapi saya tahu kalau kata asli dari Indonesia karena pada jaman dulunya entah tahun berapa merupakan singkatan dari soto yang ada dagingnya, dimana si abang bakso yang saat memanggul dagangannya yang berat harus teriak berulang-ulang yang akhirnya menjadi dan sekarang dikenal dengan BAKSO. Tok, tok, tok,bunyi ketukan kayu si abang bakso yang berteriak” so, bakso”, aduh enaknya makan bakso malam-malam begini, sayang tidak ada abang bakso yang lewat disini, aduh ngilernya aku jadi sama bakso. Zev, kamu kalau makan bakso, ingat-ingat aku ya, yang lagi mengkhayal dan menghitung waktu untuk pulang ke Indonesia lalu makan bakso tok tok yang lewat depan rumah! Para pembaca & penulis Koki, kangen nggak sama bakso…?

Sumber : (Arita-Swis) KCM, Kolom Kita

Yogyakarta, Daerah Batik yang Dijajah Produk Luar

Tuesday, May 16th, 2006

Para pedagang di kawasan Malioboro dan Pasar Beringharjo menjadi salah satu saksi bahwa batik Yogya belum bisa menjadi “raja” di wilayah sendiri. Mereka mengaku enggan menjual batik Yogya karena motifnya yang terlalu berorientasi pada pakem-pakem tradisional dengan corak atau desain yang kurang memenuhi selera pasar. Bahkan, cenderung terasa monoton, hingga berkesan tak memberi ruang bagi dinamika motif. Oleh Boni Dwi

Pada kenyataannya, berbicara tentang produk batik maka juga harus berbicara tentang prospek pasarnya. Apabila ingin tetap bertahan, tampaknya para produsen batik Yogyakarta perlu berupaya keras agar bisa keluar dari citra tadi.

Namun demikian, menurut Budi Suhendar (34), salah seorang pedagang batik di Pasar Beringharjo, Senin (15/5), hal itu bukan berarti ada keharusan menghilangkan citra tradisional batik Yogya. Sebagian konsumen masih tetap ada yang fanatik dengan nuansa tradisional. “Hanya saja, desainnya jangan monoton. Selama ini, produk batik Yogya selalu terbatas pada jarit, selendang, dan batik prada.

Beda dengan batik Pekalongan dan Solo, yang bisa membuat desain kaus santai, hem santai, celana pendek santai. Coba buat desain seperti itu, dengan motif atau corak tradisional, saya jamin pasti laku,” kata Budi yang sudah 20 tahun menjadi penjual batik itu. Kalangan muda Dari kalangan produsen dan toko batik di Yogya sendiri, kesadaran untuk mengembangkan desain batik terutama dilatarbelakangi perubahan gaya hidup manusia modern dibandingkan masa sebelumnya, khususnya di kalangan kaum muda.

Dengan kata lain, tujuan yang ingin diraih adalah jangan sampai batik kehilangan pamor, generasi penerus, dan dilupakan. “Batik tidak sekadar kain sarung, jarit, atau selendang, tetapi juga baju kerja dan baju santai bagi seluruh kalangan. Jangan sampai batik hilang pamor di negeri produsen batik sendiri,” ujar Sodikin, Direktur Batik Pertiwi. Indah Widiarti, Manager Batik Margaria Grup, mengatakan pengembangan desain itu digarap secara serius di tengah optimisme bahwa batik tetap akan digemari oleh sejumlah kalangan di masyarakat dari waktu ke waktu. Sebab, menurut dia, batik sebagai sesuatu yang unik tetapi asli, malah akan dicari orang.

Namun, keduanya menyadari tidak mudah melepaskan anggapan bahwa batik itu berkaitan dengan sesuatu yang formal, resmi, dan berkaitan denga pakem-pakem tertentu, demi memperoleh orisinalitas sebuah produk batik. Apalagi, kondisi semacam itu sudah berlangsung dalam kurun waktu yang relatif lama, berpuluh-puluh tahun. Untuk itu, mereka harus melakukan kompromi antara pakem dengan selera pasar.

Kompromi “Kompromi itu mencakup warna, motif, model, serta material yang digunakan. Semuanya digabung menjadi satu konsep khusus mode batik untuk kaum muda,” kata Indah. Sesuai segmen yang dibidik Margaria, yakni kelas menengah-atas, kata Indah, maka warna yang dipilih biasanya adalah warna-warna lembut dengan motif tabur, seperti bunga-bunga kecil, yang lebih menonjol. Material yang dipilih pun lebih banyak berbahan katun maupun paris.

Sodikin dari Pertiwi Grup juga mengaku fokus pada penciptaan desain- desain yang lebih menarik bagi kaum muda, misalnya desain produk batik yang asimetris. Desain batik asimetris itu merupakan desain relatif baru yang lain dari pakem selama ini, di mana batik selalu simetris. Sejak sekitar lima tahun terakhir, pergerakan pasar batik di Yogyakarta justru didominasi oleh batik asal Pekalongan dan Solo. Muncul sebuah anekdot yang cukup ironis dari salah satu pedagang di Pasar Beringharjo, bahwa batik Yogya belum bisa menjadi raja di wilayah sendiri. “Kesannya, Yogya itu sedang terjajah oleh batik luar Yogya. Ini kan lucu.

Padahal, Yogya juga terkenal dengan produk batiknya,” ujar Harni, produsen dan pedagang batik di wilayah Ngasem. Seretnya perkembangan batik Yogya, salah satunya disebabkan kurang inovatifnya para produsen dalam menampilkan desain dan motif. Mungkin, perlu ada semacam “pemberontakan” terhadap pakem yang selama ini telanjur dianggap mapan. Entah apa pun bentuknya, yang jelas itu berawal dari keinginan bahwa batik Yogyakarta tidak boleh tenggelam ditelan zaman…

Sumber : (Pramudyanto dan Benny Dwi Koestanto) Harian Kompas

GKBI Luncurkan Tiga Situs Baru bagi UKM

Monday, May 15th, 2006

Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) meluncurkan tiga situs baru bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) agar produk ekspor mereka bisa lebih kompetitif dengan biaya lebih murah.

“Dengan ketiga situs baru dari GKBI, biaya usaha dan operasional UKM akan jauh lebih hemat dan bisa turun antara 30% hingga 50%,” kata Presdir GKBI Noorbasha Djunaid kepada pers saat meluncurkan tiga situs baru di Jakarta, Senin (15/5).

Ketiga situs GKBI itu, Web-Hosting Gratis @ 75MB bagi UKM yang ingin memiliki situs sendiri untuk business presence. Kedua portal E-Commerce agar dapat langsung melakukan transaksi secara on line dan realtime. Ketiga tersedia Forum interaktif bagi UKM untuk dapat berinteraktif dan berkolaborasi dalam berbagai topik yang dapat memajukan UKM. (more…)