Selain menikmati batik, wisatawan juga bisa menikmati berbagai peninggalan sejarah di Laweyan. Di antaranya, rumah megah peninggalan saudagar batik. Misalnya, Ndalem Tjokrosumartan yang terletak di Jalan Sidoluhur No 18, Laweyan, yang dibangun tahun 1915. Rumah ini yang paling besar, berdiri di atas tanah 3.000 M2. Ada juga Ndalem Wiryomartanan, yang kini dikelola untuk gedung pertemuan Graha Nikmat Rasa.
Bangunan rumah besar dan pagar tembok tinggi terlihat hampir di sudut kampung Laweyan. Suasana ini tidak saja mengingatkan pada masa kejayaan saudagar batik Laweyan. Namun sekaligus memberikan rasa nyaman di saat menelusuri jalan atau gang di siang hari. Dengan adanya tembok tinggi, maka selalu kita temukan sisi jalan yang teduh karena tidak terkena sengatan sinar Matahari.
Pembuatan tembok-tembok tinggi dan kuat di setiap rumah, ternyata bagian dari strategi para saudagar batik dalam menjalankan bisnisnya. Batik dan kekayaan dijadikan simbol status pemiliknya yang memperoleh sebutan `saudagar’ Laweyan. Secara berlebih-lebihan mereka sengaja memamerkan kekayaan itu dimata masyarakat.
Tapi diluar dugaan orang banyak, tembok-tembok yang tinggi dan kuat melingkari setiap bangunan rumah di Laweyan berfungsi bukan hanya melindungi kekayaan mereka dari orang jahat. Melainkan juga menghindari keterlibatan orang luar mengetahui kepentingan ekonomi perusahaannya.
Drs Sudarmono SU, sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, menuturkan hal itu dalam bukunya `Mbok Mase Pengusaha Batik di Laweyan Solo awal Abad 20’. Karya ini merupakan tesisnya saat menempuh program pascasarjana di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Dipaparkannya, dalam menghadapi persaingan, mereka sangat berhati-hati dalam menjaga alat pembatik `cap’, agar motif-motif patennya tak dicuri oleh pengusaha lain. Ketegangan atau bahkan perpecahan mudah terjadi akibat masalah pinjam meminjam `cap’. Penyerobotan hak paten motif batik dan ada kalanya memperebutkan tenaga-tenaga ahli `cap’.
Para saudagar batik hidup dalam kemandirian yang senantiasa di kelilingi oleh kepentingan uang (harta) dan harga diri (persaingan). Sikap entrepreneur para pengusaha telah mempengaruhi sikap hidup yang ekonomis bagi saudagar-saudagar Laweyan. Sehingga dalam kehidupan mereka yang eksklusif diperoleh kesan sebagai orang yang pelit, hanya mengutamakan kepentingan mereka sendiri.
Namun, dibalik keangkuhan tembok tinggi tersebut ternyata ditemukan adanya kepedulian para saudagar terhadap buruhnya. Apa yang dilihat sampai sekarang adanya perlakuan sangat istimewa majikan dengan tukang cap. Bahkan ada kalanya beberapa di antara mereka diizinkan tinggal serumah bersama majikan.
Kepercayaan penuh yang diberikan majikan kepada tukang cap seringkali tidak terbatas. Sampai pada peminjaman modal untuk mendirikan perusahaan kecil diberikan oleh majikan dengan pengembalian secara cicilan. Sesungguhnya penambahan jumlah perusahaan dalam skala besar, menengah dan kecil di Laweyan tidak dianggap ancaman, melainkan varian tumbuhnya jiwa berwiraswasta yang berkembang secara turun temurun.
Inilah potret pertumbuhan para saudagar baru yang lahir dari lingkungan para pekerja-pekerja buruh karena memperoleh kepercayaan dari majikannya. Drs Sudarmono SU, dalam bukunya menunjukkan perusahaan milik keluarga Kasbili, sebagai contoh yang sangat baik bagi proses tumbuhnya jiwa entrepreneurship yang muncul dari kalangan buruh perusahaan di Laweyan.
Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 Laweyan pun memiliki peran penting dalam perkembangan batik di tanah air. Mula pertamanya, yang berkembang batik tulis, kemudian disusul adanya batik `cap’ sebagai langkah antisipasi bisnis adanya permintaan pasar yang terus bertambah.
Ternyata langkah antisipasi para saudagar Laweyan tersebut pada perkembangan berikut tidak mampu mengimbangi laju modernisasi. Mesin-mesin pabrik tekstil yang mampu melahirkan produk tekstil yang jauh lebih murah dibandingkan batik, akhirnya menjadi penyebab hancurnya kejayaan batik Laweyan.
Situs Sejarah
Walau demikian, keberadaan situs kampung Laweyan kini relatif masih terpelihara. Hal ini bisa dirasakan, jika berjalan-jalan menyusuri jalan dan gang yang ada. Tata letak kampung itu setidaknya masih menunjukkan adanya sisa-sisa yang mengingatkan kepada masa lalu.
Ada masjid kuna Laweyan di seberang Sungai Kabanaran. Masjid ini didirikan pada masa kerajaan Pajang tahun 1546 Masehi. Di belakang masjid terdapat makam Kiai Ageng Anis, putra Kiai Ageng Selo yang menurunkan raja-raja Mataram. Di sebelah barat Masjid, terdapat langgar Ki Beluk, seorang penganut Hindu Jawa yang kemudian memeluk Islam.
Aliran sungai Kabanaran konon merupakan sarana transportasi. Keberadaan Syahbandar Kabanaran di Sebelah Selatan ini juga memunculkan sebutan Laweyan sebagai kampung dagang. Situs bekas pelabuhan di sungai yang menghubungkan ke Bengawan Solo pada masa kerajaan Pajang tahun 1546 itu juga masih meninggalkan bekas.
Dari Laweyan juga lahir tokoh pergerakan nasional, KH Samanhudi pendiri Serikat Dagang Islam (SDI) yang berikutnya menjadi Serikat Islam. Jadi dari kampung tua itu, pengunjung juga menemukan sejarah pergerakan nasional. KH Samanhudi juga di makamkan di sana. Menghargai jasa perjuangannya, Soekarno pada 17 Agustus 1962 menyerahkan sebuah rumah untuknya. Situs Laweyan memang relatif masih lengkap dan mempesona.
Melihat potensi sejarah Laweyan seperti ini, rasanya sayang jika dibiarkan begitu saja. Karena itulah, Ny Nina Akbar Tanjung melalui Yayasan Warna Warni Indonesia mengambil inisiatif untuk kembali menghidupkan kawasan Laweyan menjadi salah satu tujuan wisata budaya dan bisnis di Solo.
Sumber : (q - g) Kedaulatan Rakyat