Archive for April, 2006

Berkembang, Industri Rumahan Kain Batik

Saturday, April 29th, 2006

KAIN-KAIN berserakan, menumpuk dan nyaris tak sedap dipandang mata. Tetapi, begitulah pemandangan sehari-hari di rumah Ny Sumarsih (66) yang sejak 25 tahun lalu membuka industri rumahan dari kain batik. “Saya mendatangkan kain-kain ini dari Bandung,” tuturnya kepada KR di rumahnya Desa Kasrepan, Karang Wungu, Kecamatan Karang Dowo, Klaten, belum lama ini.

Siang itu sedang tidak banyak aktivitas, sebab hari Minggu. Mesin-mesin jahit dibiarkan menganggur. Jika hari masuk kerja sudah mulai, biasanya ada sekitar 16 tenaga yang menghidupkan rumahnya sejak pagi. Selain itu, ada pula pekerjanya yang mengerjakan jahitan di rumahnya masing-masing. “Mereka dalam satu bulan bisa menjahit sekitar 200 potong,” cerita Ny Sumarsih. Upah yang diberikan pada mereka untuk ongkos menjahit, per stelnya Rp 750.

Kain-kain yang berserakan itu, dalam waktu sekejap bisa disulap jadi baju muslim, daster atau piyama. Harga jualnya dari Rp 7.750 sampai Rp 26.000. Tetapi, baju-baju buatannya ini tidak dijual di Solo.

“Tidak akan laku, karena itu saya kirim ke luar Jawa,” katanya menjelaskan. Sumatera, Batam, Toli-toli, Manokwari, adalah sebagian daerah yang biasa menampung kreasi batik dari rumah Ny Sumarsih ini.

Selain manyulap kain jadi baju, sisa-sisa kain itu dimanfaatkan untuk membuat keset. “Tetapi, ada juga yang membeli kain-kain sisa untuk bahan bakar pembuatan tahu,” katanya. Selama ini ia bekerja dibantu anak-anaknya. Ibu lima anak itu cukup bahagia walau hanya berkreasi dari kain-kain batik yang berwarna-warni.

Sumber : (Arwan)-c. Kedaulatan Rakyat

Wike Ayu Lizti : Raih Hits Supermodel Batik 2006

Tuesday, April 25th, 2006

Tak kalah dengan para model lainnya, gadis belia Wike Ayu Lestari, juga berhasil memboyong predikat menggembirakan, yaitu Juara Hits Model Indonesia pada Pemilihan Supermodel Busana Batik 2006 di Hotel Kartika Candra Jakarta 16 April lalu.

Gadis kelahiran Pagar Alam 12 Oktober 1994 ini, sebelumnya tak menyangka bisa merebut juara Hits, sebab pesertanya selain dari beberapa daerah lain, juga banyak didominasi Palembang.
‘’Saya bercita-cita ingin jadi Model terkenal,’’ ujar siswi kelas 6 SD Muhammadiyah I Pagar Alam ini singkat.. Kegiatan model bagi putri pasangan Yulizar Nurmansyah SE dan Widyawati SE ini, selain hobi juga dapat menambah pengalaman, terutama penguasaan diri diatas panggung.

Menurut Wike, pengalaman terjun di dunia model diawalinya ketika dia mengikuti kegiatan Model di Pagar Alam, yaitu dimulai dengan keberhasilannya merebut Juara Mascot pada Pemilihan Top Model di Gedung Kesenian Pagar Alam 26 Maret lalu. Dari ajang inilah, gadis yang hobi shoping ini mendapat kepercayaan mengikuti kegiatan model di Jakarta bersama sejumlah model lainnya dari Palembang.
Dengan semangat yang tinggi serta didukung kedua ortu dan teman-temannya, Wike pun akhirnya berhasil merebut Juara Hits Supermodel Busana Batik 2006.di Jakarta

Sumber : (*) Sumatera Ekspres

Beragam Baju Batik Koleksi “Bona”

Sunday, April 23rd, 2006

Batik Bona Trend batik semakin berkembang akhir-akhir ini. Jika dulu masyarakat mengenal batik hanya pada kain dan kemeja pria, saat ini banyak wanita dan anak-anak yang juga gemar mengenakannya. Beberapa daerah seperti Jogjakarta, Solo, dan Pekalongan terkenal sebagai penghasil batik. Jika batik Jogjakarta dan Solo dikenal memiliki pakem dan aturan tertentu dalam pemakaiannya, batik Pekalongan cenderung lebih bebas. Kebebasan ini salah satunya nampak dari hasil batikan yang memiliki ragam corak dan warna yang cukup banyak.

“Satu hal yang turut mempengaruhi kebebasan batik pekalongan adalah lokasinya yang berada di sekitar pesisir”, ungkap Vita, putra ke-dua Any Rakhmaningsih sang pemilik Bona Batik. Tidak mengherankan bila akhirnya muncul aneka motif batik dari berbagai hewan, tumbuhan, maupun unsur alam dengan warna-warna cerah. Batik-batik itu semakin terlihat indah dengan aneka model baju yang sedang trend di kalangan masyarakat. Untuk mendapatkan berbagai koleksi tersebut Anda dapat berkunjung ke Batik Bona yang beralamat di Jl. Gejayan Soropadan No. 35 Jogja. Disana Anda akan menemukan beraneka macam baju mulai dari baju untuk anak-anak, remaja, wanita dan pria, serta daster santai untuk ibu-ibu yang tentunya sangat cocok untuk dijadikan oleh-oleh bagi teman atau sanak keluarga. (more…)

Batik Kasual Adopsi ‘Chinese Look’

Sunday, April 23rd, 2006

Batik adalah motif yang tak akan selesai dieksplorasi. Bahkan seolah membentangkan samodra inovasi yang menantang para kreator maupun desainer dan seniman batik. Oleh karena itu motif batik terus bertambah luas dan beragam. Motif lintas etnik — adopsi dari gaya busana bangsa Cina, misalnya, — menjadikan batik terus berkembang baik dalam motif maupun warna.

“Dengan memberi keleluasaan berkreasi, kami bahkan berani membuat new arrival yakni parade kreasi batik terbaru dan eksklusif setahun minimal dua kali, yakni di tengah dan akhir tahun,” kata Diana Harijadi, Managing Directur rumah batik Danar Hadi yang berpusat di Solo (Jawa Tengah) namun juga eksis di kota-kota besar di Indonesia. Selain mengembangkan batik tulis klasik, Danar Hadi juga memiliki komitmen khusus pada pengembangan batik sebagai kerajinan rakyat — sekaligus budaya yang memiliki falsafah hidup bangsa. Sehingga tidak mengherankan bila sampai saat ini Danar Hadi tetap disebut-sebut sebagai rumah batik dengan koleksi motif baru. Juga pioner memberi alternatif pemakaian batik untuk gaun dan busana kasual.

Belum lama ini Danar Hadi di Jl Malioboro Yogyakarta menyelenggarakan fashion show khusus new arrival untuk paruh tahun 2006 ini. Fashion show terdiri dari tujuh sekuen, masing-masing sekuen mengekpose delapan busana. Sehingga masyarakat menyaksikan sekitar 56 kreasi batik terbaru. “Kami mewadahi inspirasi gaya chinese look terutama dalam hal warna. Sedang motif, kami tetap mengacu pada motif klasik meski kadang kombinasi dengan Pesisiran,” kata Diana pula.

Batik yang hadir dalam fashion show ini sangat atraktif untuk tampil busana kasual, setengah resmi dan resmi. Alternatif blus batik untuk dipadan dengan jeans, misalnya, seolah memberi alternatif bagi kaum remaja (muda) untuk tetap mengenakan batik tanpa kehilangan nuansa dinamika muda yang biasanya dicitrakan oleh jeans.

Alternatif blus-blus yang aksi juga hem batik kasual untuk laki-laki muda bisa kita lihat sebagai kreasi yang membawa prospek cerah bagi batik baik sebagai seni, kerajinan maupun industri.

Model blus banyak mengadopsi gaya Rafles — yakni memakai aksen-aksen rimpel pada leher dan ujung lengan — hadir dalam warna cerah ala busana Cina, seperti merah, biru, pink. Padanan celana panjang dan rok, menjadi alternatif. Motif dari batik Cina, dihadirkan pula dalam ujud gaun rimpel empat susun yang bisa dipadan dengan blus kutung pendek atau kaus pendek yang dinamis. Empat rimpel susun ini menjadi makin atraktif bila berani menggunakan motif ‘tabrak - sambung’ dengan kombinasi warna yang menarik. Remaja perempuan bisa mengenakan gaun batik rimpel ini untuk kesempatan santai.

Diana Harijadi mengatakan tekstil yang kini sedang disukai adalah katun, sutra, sifon dan voal. Untuk aksen, bordir dan payet yang makin menunjukkan nuansa Cina. Bordir setengah lingkaran pada dada, mempermanis blus batik.

Untuk busana formal, yakni kain batik panjang dipadan dengan kebaya-kebaya bordir model Cina — paruh tahun ini kita bisa mengenakan batik-batik berwarna cerah bahkan warna socking yang dipadan dengan kebaya ala ‘Nyonyah’ dalam warna kontras. Selembar kain batik dalam warna kuning kutilang, dipadu dengan kebaya encim warna putih dengan bordir warna-warni di setiap tepian kebaya. Kain sarung batik berwarna ungu terong, dipadan dengan ungu (violet) gradasi lebih terang. “Artinya sarung batik pun bisa dikenakan oleh kaum perempuan, sehingga menjadi lebih praktis,” kata Diana.

Sedang untuk hem, Danar Hadi memberi pilihan hem-hem kasual dengan motif geometris yang eksklusif. Aksen cutting serong untuk hem, membuat tampilan menjadi aksi dan maskulin. “Kami banyak berkonsetrasi hem lengan pendek, agar makin disukai para remaja laki-laki,” kata Diana. Pilihan warna yang ceria memungkinkan hem ini dipadan dengan jeans dan dikenakan untuk busana sehari-hari.

Dalam sesi fashion show tersebut, seolah mengingatkan kembali gaun-gaun feminin-klasik yang nampak kembali disukai kaum perempuan. “Ya, perputaran mode memang membawa kembali busana-busana feminin dan klasik,” kata Diana pula.

Sumbe : (Ela)-b. Kedaulatan Rakyat

Mengagumi Kekhasan Sentra Industri Rakyat; Goresan Canting di Kampung Batik Laweyan

Sunday, April 23rd, 2006

PEREMPUAN di salah satu rumah besar di kampung Laweyan, Solo ini tengah duduk penuh konsentrasi. Tangan kirinya memegang kain mori putih yang disampirkan di gantungan. Sedang tangan satunya menggoreskan canting yang berisi ‘malam’ panas, membentuk motif batik yang sudah diarsir di kain itu.

Di sudut lainnya, masih di ruang yang sama, ada buruh laki-laki yang membatik dengan cap. Pemandangan pembuatan batik tradisional semacam itu jarang ditemukan. Umumnya orang mengenal dan mengenakan batik, tanpa tahu bagaimana proses membuatnya. Apalagi mengetahui kampung Laweyan yang dikenal sebagai cikal bakal lahirnya batik tulis dan cap.

Pusat industri batik ini telah ada sejak zaman kerajaan Pajang (1568-1586 M), lebih tua dari Kota Solo. Disebut Laweyan, karena kampung itu dulu penuh lawe (kapas) yang dipintal menjadi mori sebagai bahan dasar batik. Konon waktu itu di sebelah selatan tempat ini banyak ditanam kapas maupun bahan dasar batik yang lain. Seperti cemani, jenis tumbuhan yang dapat memberikan warna hitam pada kain. (more…)

Strategi di Balik Tembok Tinggi

Sunday, April 23rd, 2006

Selain menikmati batik, wisatawan juga bisa menikmati berbagai peninggalan sejarah di Laweyan. Di antaranya, rumah megah peninggalan saudagar batik. Misalnya, Ndalem Tjokrosumartan yang terletak di Jalan Sidoluhur No 18, Laweyan, yang dibangun tahun 1915. Rumah ini yang paling besar, berdiri di atas tanah 3.000 M2. Ada juga Ndalem Wiryomartanan, yang kini dikelola untuk gedung pertemuan Graha Nikmat Rasa.

Bangunan rumah besar dan pagar tembok tinggi terlihat hampir di sudut kampung Laweyan. Suasana ini tidak saja mengingatkan pada masa kejayaan saudagar batik Laweyan. Namun sekaligus memberikan rasa nyaman di saat menelusuri jalan atau gang di siang hari. Dengan adanya tembok tinggi, maka selalu kita temukan sisi jalan yang teduh karena tidak terkena sengatan sinar Matahari.

Pembuatan tembok-tembok tinggi dan kuat di setiap rumah, ternyata bagian dari strategi para saudagar batik dalam menjalankan bisnisnya. Batik dan kekayaan dijadikan simbol status pemiliknya yang memperoleh sebutan `saudagar’ Laweyan. Secara berlebih-lebihan mereka sengaja memamerkan kekayaan itu dimata masyarakat.

Tapi diluar dugaan orang banyak, tembok-tembok yang tinggi dan kuat melingkari setiap bangunan rumah di Laweyan berfungsi bukan hanya melindungi kekayaan mereka dari orang jahat. Melainkan juga menghindari keterlibatan orang luar mengetahui kepentingan ekonomi perusahaannya.

Drs Sudarmono SU, sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, menuturkan hal itu dalam bukunya `Mbok Mase Pengusaha Batik di Laweyan Solo awal Abad 20’. Karya ini merupakan tesisnya saat menempuh program pascasarjana di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Dipaparkannya, dalam menghadapi persaingan, mereka sangat berhati-hati dalam menjaga alat pembatik `cap’, agar motif-motif patennya tak dicuri oleh pengusaha lain. Ketegangan atau bahkan perpecahan mudah terjadi akibat masalah pinjam meminjam `cap’. Penyerobotan hak paten motif batik dan ada kalanya memperebutkan tenaga-tenaga ahli `cap’.

Para saudagar batik hidup dalam kemandirian yang senantiasa di kelilingi oleh kepentingan uang (harta) dan harga diri (persaingan). Sikap entrepreneur para pengusaha telah mempengaruhi sikap hidup yang ekonomis bagi saudagar-saudagar Laweyan. Sehingga dalam kehidupan mereka yang eksklusif diperoleh kesan sebagai orang yang pelit, hanya mengutamakan kepentingan mereka sendiri.

Namun, dibalik keangkuhan tembok tinggi tersebut ternyata ditemukan adanya kepedulian para saudagar terhadap buruhnya. Apa yang dilihat sampai sekarang adanya perlakuan sangat istimewa majikan dengan tukang cap. Bahkan ada kalanya beberapa di antara mereka diizinkan tinggal serumah bersama majikan.

Kepercayaan penuh yang diberikan majikan kepada tukang cap seringkali tidak terbatas. Sampai pada peminjaman modal untuk mendirikan perusahaan kecil diberikan oleh majikan dengan pengembalian secara cicilan. Sesungguhnya penambahan jumlah perusahaan dalam skala besar, menengah dan kecil di Laweyan tidak dianggap ancaman, melainkan varian tumbuhnya jiwa berwiraswasta yang berkembang secara turun temurun.

Inilah potret pertumbuhan para saudagar baru yang lahir dari lingkungan para pekerja-pekerja buruh karena memperoleh kepercayaan dari majikannya. Drs Sudarmono SU, dalam bukunya menunjukkan perusahaan milik keluarga Kasbili, sebagai contoh yang sangat baik bagi proses tumbuhnya jiwa entrepreneurship yang muncul dari kalangan buruh perusahaan di Laweyan.

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 Laweyan pun memiliki peran penting dalam perkembangan batik di tanah air. Mula pertamanya, yang berkembang batik tulis, kemudian disusul adanya batik `cap’ sebagai langkah antisipasi bisnis adanya permintaan pasar yang terus bertambah.

Ternyata langkah antisipasi para saudagar Laweyan tersebut pada perkembangan berikut tidak mampu mengimbangi laju modernisasi. Mesin-mesin pabrik tekstil yang mampu melahirkan produk tekstil yang jauh lebih murah dibandingkan batik, akhirnya menjadi penyebab hancurnya kejayaan batik Laweyan.

Situs Sejarah

Walau demikian, keberadaan situs kampung Laweyan kini relatif masih terpelihara. Hal ini bisa dirasakan, jika berjalan-jalan menyusuri jalan dan gang yang ada. Tata letak kampung itu setidaknya masih menunjukkan adanya sisa-sisa yang mengingatkan kepada masa lalu.

Ada masjid kuna Laweyan di seberang Sungai Kabanaran. Masjid ini didirikan pada masa kerajaan Pajang tahun 1546 Masehi. Di belakang masjid terdapat makam Kiai Ageng Anis, putra Kiai Ageng Selo yang menurunkan raja-raja Mataram. Di sebelah barat Masjid, terdapat langgar Ki Beluk, seorang penganut Hindu Jawa yang kemudian memeluk Islam.

Aliran sungai Kabanaran konon merupakan sarana transportasi. Keberadaan Syahbandar Kabanaran di Sebelah Selatan ini juga memunculkan sebutan Laweyan sebagai kampung dagang. Situs bekas pelabuhan di sungai yang menghubungkan ke Bengawan Solo pada masa kerajaan Pajang tahun 1546 itu juga masih meninggalkan bekas.

Dari Laweyan juga lahir tokoh pergerakan nasional, KH Samanhudi pendiri Serikat Dagang Islam (SDI) yang berikutnya menjadi Serikat Islam. Jadi dari kampung tua itu, pengunjung juga menemukan sejarah pergerakan nasional. KH Samanhudi juga di makamkan di sana. Menghargai jasa perjuangannya, Soekarno pada 17 Agustus 1962 menyerahkan sebuah rumah untuknya. Situs Laweyan memang relatif masih lengkap dan mempesona.

Melihat potensi sejarah Laweyan seperti ini, rasanya sayang jika dibiarkan begitu saja. Karena itulah, Ny Nina Akbar Tanjung melalui Yayasan Warna Warni Indonesia mengambil inisiatif untuk kembali menghidupkan kawasan Laweyan menjadi salah satu tujuan wisata budaya dan bisnis di Solo.

Sumber : (q - g) Kedaulatan Rakyat

20-22 April di Museum Nasional; Pameran dan Bursa Batik

Wednesday, April 19th, 2006

Pengusaha batik dan kolektor batik dari berbagai daerah akan menggelar bursa penjualan, pameran dan fashion show pada 20-22 April 2006 di Galery Museum Nasional Jakarta. Kegiatan ini da-lam rangka menyambut Hari Kartini dan menurut rencana akan dihadiri para tamu asing yang tergabung dalam asosiasi para duta besar dan asosiasi wanita internasional di Jakarta. Diharapkan kehadiran mereka bisa membawa batik ke negara masing-masing untuk dipromosikan sehingga bisnis batik Indonesia dapat meningkat di luar negeri.

Menurut Ketua Panitia Penyelenggara, Kuntari Sapta Nirwanda, kegiatan Pameran Kreativitas Perempuan Indonesia dan Kain yang akan dibuka oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta Swasono, selain ada bursa (penjualan) batik, pameran dan fashion show juga akan digelar talk show dengan tema Pembuatan dan Perjalanan Kain di Indonesia. Untuk kegiatan pameran akan digelar batik-batik dari 20 kolektor dari berbagai daerah serta batik kuno milik Ibu Hartini (istri Presiden Soekarno) dan milik Rahmi Hatta (istri Mohammad Hatta) yang dikoleksi Museum Nasional. “Semua batik yang dipamerkan adalah batik kuno dan langka. Setiap kolektor nantinya akan memamerkan sekitar sepuluh sampai 15 koleksi batiknya,” ujar Kuntari Sapta. Sedangkan kegiatan fashion show, menurut Kuntari, akan memamerkan batik kolektor ternama dari Yogyakarta yaitu Afif Syakur. “Kami juga mengundang kolektor batik dari masyarakat Cina,” katanya.

Sumber : (Cdr)-k Kedaulatan Rakyat

Jadikan Batik Bagian dari Pariwisata

Monday, April 17th, 2006

MEMBATIK bagi generasi muda atau remaja memiliki nilai tersendiri. Terbukti, gema pesona batik makin meluas sampai mancanegara. Tak cuma kalangan dewasa dan tua saja yang menyukai batik, khususnya batik Yogya. Kalangan remaja pun mulai mengenal karya batik. Hal ini dialami sendiri oleh Chaliet Bambang, desainer batik, yang belum lama ini kembali mengikuti pameran dan demo membatik di beberapa negara di Eropa, seperti di Jerman, Hongaria, dan Swedia.

Dalam event pameran bernuansa pariwisata di tiga negara tersebut, Chaliet yang didampingi suaminya, Bambang, bersama delegasi Java Pavillion, yang didukung Pemkab Sleman, sukses menggelar pameran dan demo membatik. Bahkan, stand Java Pavillion mendapat perhatian khusus, di antaranya karena banyak pengunjung tertarik pada demo membatik yang diperagakan Chaliet dan suaminya. “Tak cuma berhenti dan melihat. Banyak pengunjung yang menanyakan cara dan proses membatik, serta macam-macam dan jenis batik. Bahkan, beberapa pengunjung pun tampak asyik dan menikmati ketika kami beri kesempatan untuk praktik membatik,” kata Chaliet, kepada KR.

Beberapa remaja, juga tertarik praktik membatik dan cukup lama mencoba membatik, dengan bimbingan Chaliet. Dengan mengenal batik, lanjut Chaliet, makin banyak orang asing, khususnya publik dari berbagai negara yang datang pada event Internationale Tourismus Borse/ITB Berlin yang digelar rutin setiap Maret, maupun pameran di Hongaria dan pasar wisata Skandinavia di Gotteborg, Swedia, akan makin mengenal Indonesia dan juga Yogya sebagai destinasi wisata.

Sehingga, menurut Chaliet, batik tetap menjadi salah satu ikon Yogya khususnya dan Indonesia pada umumnya untuk dikedepankan. “Jadikan batik sebagai bagian dari pariwisata,” tegasnya.

Dari pengalaman selama empat kali mengikuti event ITB Berlin dan pasar wisata di Swedia, Chaliet merasakan makin banyak pelaku pariwisata yang memandang batik sebagai salah satu komoditi dan unggulan pendukung pariwisata. Untuk itulah, lanjut Chaliet, pihaknya punya komitmen untuk tetap menampilkan batik, dengan berbagai inovasinya ke berbagai negara. “Bahkan, inovasi terbaru berupa batik tiga dimensi juga muncul dari masukan setelah mengikuti pasar wisata internasional tersebut dan kami tampilkan dalam ITB Berlin tahun 2006 ini,” tambahnya.

Sumber : (Rsv)-g. Kedaulatan Rakyat

Pertukaran Pelajar SMAN 8 ke Korsel; Membuat Proyek Unggulan Batik

Tuesday, April 11th, 2006

SEKITAR 18 siswa, 4 pembimbing dan Kepala SMA Negeri 8 Yogyakarta Drs H Abu Suwardi, 11 April 2006 bertolak ke Bandara Ngurah Rai Bali dan seterusnya melanjutkan perjalanan ke Korea Selatan. Keberangkatan para siswa ini dalam rangkaian pertukaran pelajar ke Geumo Middle di Gumi Korea Selatan dan akan berada di sana sampai 25 April mendatang.

Sebelumnya para siswa dan pembimbing ke Redaksi SKH Kedaulatan Rakyat untuk menimba ilmu proses pembuatan koran atau majalah. Berikutnya pamitan dengan Walikota Yogyakarta yang diterima Wawali Pemkot Yogyakarta Syukri Fadhilo SH dan Sabtu (8/4) pamitan Gubernur DIY yang diterima oleh Assek III Dr Ir Sunyoto MSc di Kompleks Kepatihan.

Dalam pertukaran pelajar di Geumo Middle School di Gumi Korsel tersebut, menurut Kepala SMAN 8 Drs H Abu Suwardi dan pembimbing Nurdin Soemantri, para siswa akan membuat tiga proyek. Di antaranya pembuatan film dokumenter budaya dan kehidupan di Korea Selatan, membuat majalah berbahasa Inggris dan unggulan pembuatan kerajinan batik.

Dalam silaturahmi yang dipandu Kabid Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Propinsi DIY M Sudaryanto tersebut, Dr Sunyoto mengapresiasi rencana keberangkatan para siswa SMAN 8 Yogyakarta yang akan melakukan pertukaran pelajar di Korea Selatan. “Bawalah diri kalian baik-baik di sana dan pelajari budaya dan teknologi yang ada di sana,” ujar Dr Sunyoto.

Para siswa ini merupakan anak-anak terpilih, sehingga mendapat kesempatan untuk ke Korea Selatan, sekali melangkah ke luar negeri maka langkah berikutnya akan sangat ringan. Sekarang ke luar negeri gampang, berbeda dengan kondisi dulu yang rasanya mustahil bisa ke luar negeri. Dari 18 siswa tersebut ternyata sudah ada 4 siswa yang pernah ke luar negeri.

Pesan Dr Sunyoto, pelajarilah kebudayaan Korea Selatan dan harus berbaik-baik dengan situasi yang ada.

Sumber : (Asp)-k. Kedaulatan rakyat