Dari dulu sampai sekarang, persoalan museum nyaris sama: sepi pengunjung, biaya operasional tidak mencukupi. Akibatnya, banyak di antaranya yang tak terawat, bahkan terancam rusak. Pengelola museum harus membuat terobosan untuk menyelamatkan aset budaya yang sangat berharga ini. Mestinya, pemerintah daerah juga ikut bertanggungjawab dalam upaya penyelamatan tersebut.
LIHATLAH Museum Jogja Kembali (Monjali). Pada hari biasa, suasana museum sangat sepi. Hanya ada beberapa tukang kebun plus karyawan yang bertugas. Padahal, menurut Kaur Humas dan Pemasaran Monjali, Gunadi, museum milik Yayasan Monjali ini dikelola tanpa dana subsidi dari manapun. Hanya penjualan karcis masuk saja yang menjadi penopang gaji karyawan dan biaya pemeliharaan museum. “Sejak Januari 2006 kami menaikkan harga karcis dari Rp 4 ribu menjadi Rp 5 ribu per orang. Hal ini terpaksa dilakukan, sebab kondisi keuangan tidak ballance,” ujarnya.
Dikatakan, untuk pengeluaran biaya operasional dibutuhkan sekitar Rp 80 juta/bulan. Jauh lebih tinggi dari pemasukan tiket masuk yang tak sampai Rp 50 juta/bulan. Pemasukan tersebut 60 persen untuk menggaji 51 orang karyawan, membayar listrik, biaya pemeliharaan dan setoran pajak pendapatan bulanan ke Pemkab Sleman sebesar 5 persen dari pemasukan.
“Biaya listriknya saja rata-rata Rp 25 juta/bulan. Dua tahun ini kami bahkan belum membersihkan dinding luar museum. Memang sudah tampak kotor, tapi belum ada dana untuk mengerjakannya. Bangunan kerucut itu tingginya 31,8 meter dan kemiringannya sekitar 30 derajat, cleaning service kami tak sanggup membersihkannya. Sehingga biasanya kami bekerja sama dengan mahasiswa pecinta alam (Mapala),” kata Gunadi.
Menyewakan Ruang
Kepala Badan Pengelola Monjali, RH Suryono mengakui, bentuk bangunan Monjali menyulitkan sirkulasi udara dan juga cahaya dari luar. Akibatnya, biaya operasional AC dan lampu di bangunan tiga lantai tersebut menjadi tinggi. “Bahkan biaya pemakaian AC kalau dibandingkan lift yang ada di sini, jauh lebih besar,” katanya.
Bangunan Monjali memang berbeda dengan museum kebanyakan. Berbentuk kerucut warna kuning, dibangun di atas tanah seluas 49.920 m2 di wilayah Dusun Jongkang Desa Sariharjo Kecamatan Ngaglik, Sleman. Dalam museum itu tersimpan gambar, diorama, foto dan benda-benda semasa Ibukota RI di Yogyakarta direbut kembali oleh pejuang dari tangan penjajah Belanda.
Upaya menggenjot jumlah pengunjung dicoba bermacam cara, di antaranya memberi diskon 10 persen untuk pengunjung rombongan lebih 30 orang. Untuk rombongan TK, difabel dan yatim piatu, diskon 50 persen. Turis asing tiketnya Rp 7.500/orang.
Badan Pengelola Monjali pun menyewakan ruang serba guna dan halaman museum antara lain untuk resepsi pernikahan, wisuda. Ini dilakukan untuk mengejar besarnya kebutuhan biaya operasional setiap bulannya. Halaman Plaza Monjali dan halaman tengah disewakan pula untuk berbagai acara.
Pihak Monjali juga menggandeng JJ Adventure untuk mengelola Taman Ria Anak-anak di samping depan sebelah timur gedung museum. Sedangkan halaman belakang gedung setiap Rabu dan Jumat sore digunakan gratis untuk latihan penggemar kicau burung.
Sedangkan untuk promosi ke luar daerah seperti ke Propinsi Banten, Jawa Barat dan Jawa Timur, pihak Monjali ikut serta dalam kegiatan Travel Dialog yang difasilitasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sleman.
Sayangnya, Monjali tak tercatat pada paket wisata internasional. Sehingga Gunadi pun memanfaatkan kesempatan melakukan publikasi dari mulut ke mulut, ketika ada turis asing yang datang berkunjung. Selama tiga tahun ini jumlah turis asing yang mampir ke Monjali hanya 703 orang. “Tapi saya bangga, setiap musim libur sekolah masih ada pelajar dari Jawa, Kalimantan yang mau datang ke sini untuk belajar sejarah,” aku RH Suryono.
Berjalan Lambat
Berdasarkan data yang terpampang di kantor Monjali, jumlah pengunjung Monjali berturut-turut dari tahun 2003 sebanyak 262.088 orang/ tahun, tahun 2004 sebanyak 263.955 orang/tahun dan tahun 2005 sebanyak 271.078 orang/tahun. Artinya selama tiga tahun terjadi peningkatan pengunjung berjalan lambat.
“Pada masa sebelum 1998 silam, jumlah pengunjung pernah mencapai 600 ribuan orang/ tahun. Saya ingat sewaktu karcisnya hanya seharga Rp 250/orang, satu hari bisa mendapat pemasukan sampai Rp 15 juta. Dibandingkan sekarang yang harga karcisnya Rp 5.000/orang, nggak sampai sebesar itu,” ujar Gunadi.
Imbas image politik saat runtuhnya rezim Orde Baru pun sempat menerpa eksistensi Monjali di mata masyarakat. Rakyat, khususnya mahasiswa, melihat museum yang diresmikan Presiden Soeharto 6 Juli 1989 itu sebagai ajang pengkultusan sosok Soeharto, yang pada masa itu menjadi presiden. Bahkan ada yang salah sangka, dikiranya museum itu termasuk milik keluarga Cendana.
Akibatnya, jumlah pengunjung pun merosot tajam, apalagi saat itu juga terjadi krisis ekonomi. Pada tahun 1998, jumlah pengunjung anjlok menjadi 290.464 orang/tahun. Setelah pihak pengelola bekerja keras meluruskan anggapan yang keliru itu, jumlah pengunjung pun naik menjadi 304.307 orang/tahun pada tahun 1999 dan 401.440 orang/tahun pada tahun 2000. Namun pada tahun 2002 sampai 2005, jumlah pengunjung turun lagi pada angka rata-rata 250 ribu orang/tahun.
“Monjali tetap layak menjadi wisata pendidikan sejarah, sebab hal-hal yang ditampilkan bukan menonjolkan atau mengkultuskan seorang tokoh. Namun mendokumentasikan masa-masa tujuh bulan di era 1948-1949, ketika Ibukota RI di Yogyakarta yang diduduki musuh berhasil direbut kembali pada 29 Juni 1949. Peran tokoh-tokoh pejuang seperti Jenderal Soedirman, Sri Sultan HB IX dan Soeharto memang ada didalamnya,” tegas Gunadi.
Tiket Gratis
Belum maksimalnya jumlah pengunjung juga dialami Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman Sasmitaloka. Padahal, untuk menarik minat masyarakat berkunjung ke museum sengaja tiket digratiskan. Kalaupun ada pengunjung yang memberi imbalan pada pemandu itu sifatnya sukarela, tidak ada unsur paksaan.
“Tapi meski tidak dikenakan tarif, jumlah pengunjung belum bisa maksimal. Hal itu bisa dilihat dari jumlah pengunjung setiap bulannya hanya berkisar 500 orang,” kata Ketua Museum Panglima Besar Jendral Sudirman Sasmitaloka, Letkol CAJ Noordiharto.
Untuk mengatasi persoalan itu, selain mengoptimalkan sosialisasi ke sekolah-sekolah, pihak pengelola juga menjalin kerja sama dengan beberapa museum di Yogya. “Tapi adanya kecenderungan masyarakat untuk mengunjungi bangunan yang megah dan modern daripada berkunjung ke museum menjadikan upaya tersebut tidak bisa maksimal. Untuk itu kami mengimbau pada pihak-pihak yang terkait termasuk pemerintah agar lebih memperhatikan keberadaan museum,” katanya.
Dalam sebulan, pemasukan di museum itu berkisar antara Rp 150 ribu- Rp 300 ribu. Karena dana tersebut tidak menutup biaya pemeliharaan, biasanya digunakan untuk membeli peralatan kebersihan dan perbaikan ringan. Sedangkan untuk biaya perawatan dan pemeliharaan museum berasal dari Dinas Pembinaan Mental TNI Angkatan Darat.
Penurunan jumlah pengunjung merupakan persoalan serius yang sering dihadapi pengelola museum. Begitupun dialami Museum Sasana Wiratama Tegalrejo. Menurut Sosro Budiharjo selaku pengelola, dari tahun ke tahun jumlah pengunjung selalu menurun. Tahun 2004 jumlah pengunjung 2.424 orang. Tapi pada tahun 2005 jumlahnya turun menjadi 2.283 orang. Sedangkan untuk tahun 2006 dari Januari- Februari jumlahnya mencapai 430 orang.
Fenomena tersebut memotivasi pihak pengelola untuk meningkatkan sosialisasi pada masyarakat dan mengintensifkan kegiatan di museum. “Terbatasnya jumlah pengunjung dan SDM profesional sering menjadi persoalan yang cukup serius bagi kami. Untuk mengatasi persoalan itu, sesuai anjuran Korem 072 Pamungkas, tiket masuk digratiskan. Dengan begitu kami berharap animo masyarakat untuk berkunjung bisa meningkat,” katanya
Menurutnya pendapatan yang tidak menentu menjadikan pihak pengelola museum harus mencari pendapatan lain seperti menyewakan pendapa museum untuk keperluan resepsi pernikahan dan rapat. Di samping itu museum Sasana Wiratama juga mendapatkan subsidi dari Korem 072 Pamungkas. Sehingga untuk biaya perawatan tidak terlalu masalah.
Kurang Terpelihara
Berbeda dengan Museum Perjuangan Yogyakarta di Jl Kolonel Soegiono. Museum yang menyajikan koleksi benda-benda bersejarah pada masa pra dan pasca kemerdekaan itu, selain pengunjungnya tidak banyak juga terkesan kurang terpelihara. Hal itu bisa dilihat dari lantai yang rusak dan beberapa dinding yang catnya sudah mulai mengelupas.
Budiono, Koordinator Museum Perjuangan Yogyakarta menjelaskan, meski sudah melakukan promosi ke berbagai daerah dan menggratiskan tiket masuk, tapi hasilnya belum maksimal. Bahkan jumlah pengunjung setiap bulannya hanya berkisar 150-400 orang.
Untuk mengatasi persoalan itu, pihak Museum Perjuangan mengadakan program dengan koordinator Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Adanya koordinasi tersebut diharapkan jumlah pengunjung bisa bertambah. “Karena pengunjung dibebaskan dari biaya tiket masuk secara otomatis pendapatan yang diperoleh tidak menentu. Memang ada beberapa pengunjung yang memberikan sumbangan sukarela. Tapi jumlahnya tidak bisa menutup biaya pemeliharaan. Jadi untuk biaya pemeliharaan biasanya kami memperoleh subsidi dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata,” kata Budiono yang dibenarkan Koordinator Sub Penyajian dan Kerjasama Museum Benteng Vredeburg, Gunawan Haji.
Pengunjung Fluktuatif
Museum Wayang Kekayon di Jalan Raya Yogya-Wonosari Km 7 No 277 Yogyakarta, menyimpan 5.464 buah wayang dari 25 jenis wayang di dunia. Museum milik Yayasan Kekayon yang dikelola keluarga Prof Dr dr KRT Soejono Prawirohusodo (alm) ini, diresmikan dan dibuka untuk umum oleh Sri Paduka Paku Alam VIII Januari 1991.
“Akan tetapi wayang yang ada merupakan koleksi Prof Suyono sejak beliau kecil hingga akhir hayatnya,” kata Mulyono (63) yang setiap hari menjaga Museum Kekayon seluas 1,1 hektar bersama 4 tenaga lainnya.
“Kebanyakan yang datang ke sini murid sekolah yang studi tour atau orang-orang yang sedang memiliki interest khusus pada wayang,” kata Mulyono. Tapi tiap hari belum tentu ada pengunjung. Padahal harga tiket yang ditetapkan cukup terjangkau Rp 2 ribu untuk pelajar/mahasiswa, Rp 3 ribu untuk umum dan Rp 5 ribu untuk wisatawan manca.
Pengunjung memang fluktuatif. Pada musim libur, kata Mulyono, sehari bisa menerima empat rombongan bus. Namun sepi pada hari-hari biasa. “Rata-rata pengunjung 10 orang perhari pada tahun 2005,” katanya. Oleh karena itu, sulit membayangkan bagaimana biaya operasional untuk perawatan wayang yang sangat rawan terhadap suhu udara, kawasan museum dan honor tenaga.
Tujuan utama didirikannya museum wayang untuk tetap melestarikan wayang sebagai salah satu kebudayaan bangsa Indonesia terutama kepada generasi muda, namun dalam buku tamu banyak dikunjungi pula orang manca negara. Komentar yang ditulis, hampir semua berharap ada peningkatan pemeliharaan pada benda koleksi. Antara lain,” …museum wayang sangat jarang ada, hendaknya museum ini dipikirkan pengelolaannya standar internasional, mengingat benda koleksi di sini amat luar biasa…”.
Renovasi Bangunan
Mencoba merenovasi bangunan agar lebih representatif untuk dikunjungi dan terus menjalin networking dengan pihak luar. Inilah yang dilakukan keluarga Hadi Nugroho pemilik dan pengelola Museum Batik dan Sulam Yogyakarta di Jl Dr Sutomo 13 A Yogyakarta.
Museum batik yang resmi didirikan tahun 1979 tersebut, berusaha melestarikan salah satu seni budaya kita dalam hal tradisi berbusana. “Setidaknya dengan memberi gambaran kepada generasi sekarang dan yang akan datang tentang seni batik yang memiliki nilai estetika tinggi,” kata Dewi Hadi Nugroho (75).
Saat ini Meseum Batik (dan Sulam) memiliki 1219 koleksi terdiri dari 500 kain, 562 cap batik, 124 canting dan 35 piranti membatik lainnya. Batik yang dikolesi ada dua jenis, yakni batik Yogya-Solo dan Pesisiran. Sedang untuk sulam, museum ini memiliki 117 sulaman tangan karya Dewi Hadi Nugroho dengan metode sulam acak. “Museum sulam ini merupakan satu-satunya di Indonesia,” kata Dewi. Dua sulaman, pernah masuk ke Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai sulaman terlebar dan terpanjang di Indonesia.
Menurut Bejo Haryono, Kurator Museum Batik Yogyakarta ini, sejak direnovasi (atas biaya sendiri) jumlah pengunjung mengalami kenaikan. Dari 214 pengunjung di tahun 2003, menjadi 510 (2004) dan 728 (2005). “Kami juga terus melakukan promosi melalui biro perjalanan, pameran, seminar, dan lain lain,” kata Bejo. Museum Batik dan Sulam yang buka setiap hari selain hari Minggu dan hari besar itu, menarik tiket Rp 10 ribu untuk domestik dan Rp 15 ribu untuk orang manca negara.
Merawat museum memang tidak mudah. Ini juga diakui oleh Kepala Museum Dirgantara TNI AU Yogyakarta, Letkol Joko Purnomo. Selain soal biaya, juga membutuhkan ketelatenan. “Untuk biaya perawatan ini memang membutuhkan dana yang sangat besar. Apalagi museum berada pada lokasi yang luas, dengan koleksi pesawat terbang sangat banyak,” kata Joko.
Banyaknya pesawat yang dipajang, memang membutuhkan areal yang luas. Saat ini luas lahan museum 760 meter persegi dengan koleksi 42 pesawat. Semua pesawat yang ada tersebut, harus dapat terawat dengan baik dan dalam kondisi yang enak dipandang bagi pengunjung.
Karena itu, setiap 2 tahun sekali, pesawat dilakukan pengecatan dan juga pembersihan. Sehingga meski pesawat yang dipamerkan adalah buatan zaman dulu, tetapi penampilan di museum tetap bagus.
Kurang Minat
Bagaimana minat pelajar dan masyarakat untuk berkunjung ke museum? Indira Putri Nagari, siswi kelas XI IPA 4 SMA Negeri 3 Yogyakarta mengaku, tidak tertarik berkunjung ke museum. Sebab, dari tahun ke tahun, sarana yang ada di museum tidak pernah ada perubahan.
“Meski jumlah museum di Yogyakarta cukup banyak, saya tidak pernah tertarik untuk pergi ke sana. Bahkan sampai saya duduk di bangku SMA, baru 2 kali datang ke museum. Sebab selain kurang terawat, fasilitas yang ada tidak pernah berubah jadi terkesan membosankan. Untuk itu selain dilengkapi dengan taman bermain akan lebih bijaksana jika berbagai perlombaan untuk pelajar diselenggarakan di museum. Jika hal itu terwujud animo pelajar untuk berkunjung ke museum diharapkan bisa meningkat,” tandasnya.
Begitupun dikemukakan Yati (50), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kecamatan Gamping. Terbatasnya sarana hiburan yang ada di museum membuatnya enggan untuk berkunjung ke sana. Di samping itu kurangnya sosialisasi dari pihak-pihak yang terkait menjadikan masyarakat mengalami kesulitan untuk mengetahui jumlah museum di Yogyakarta.
“Saya sering merasa prihatin jika melihat beberapa museum yang kurang terawat. Meski pihak pengelola museum sudah berusaha untuk menggratiskan pengunjung tapi hal itu tetap kurang efektif. Sebab yang dibutuhkan masyarakat tidak hanya harga murah. Tapi juga hiburan yang sifatnya mendidik dan bisa meningkatkan rasa nasionalisme,” kata ibu 2 putra yang mengaku sudah 3 kali berkunjung ke museum.
Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Yogyakarta, Drs Timbul Mulyono menambahkan, selain pengelolaan yang profesional, materi (koleksi) yang ada di museum perlu menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Untuk mewujudkan hal itu pihak-pihak yang terkait perlu membuat museum pusat seperti yang ada di Taman Mini. Dengan adanya museum pusat tersebut, masyarakat diharapkan bisa mengenal seluruh museum yang ada di Yogya.
“Walaupun tidak dipungut biaya, tapi jika materi yang disampaikan tidak menarik akan sia-sia. Untuk itu selain dijadikan sumber pembelajaran, guru perlu membiasakan peserta didik untuk mengunjungi museum di Yogyakarta,” papar Timbul yang mengaku lebih dari 7 kali berkunjung ke museum.
Sumber : (q- e) Pikiran Rakyat, Yogyakarta