Archive for March, 2006

Batik Parang Dipatenkan Malaysia

Friday, March 31st, 2006

Kepala SMKN 3 Kasihan (SMSR) Drs Haris Wahyudi mengatakan, batik motif Parang dari Yogyakarta telah diklaim dan telah dipatenkan Malaysia sejak 7 tahun lalu. “Jika motif batik yang ada tidak segera dilindungi, kemungkinan akan diambil dan dipatenkan orang luar. Untuk itu perlu segera ada uluran tangan dari Pemprop DIY dan Pemkab Bantul, agar kekayaan intelektual di Yogya dan Bantul khususnya batik, tidak berpindah tangan ke pihak lain melalui hak paten,”, demikian Haris Wahyudi para workshop batik Bantulan, Rabu (29/3) dalam rangka HUT 43 SMKN 3 Kasihan (SMSR) di gedung serbaguna sekolah itu yang diselenggarakan Dharma Wanita SMKN 3 Kasihan.

Dikemukakan, Bantul yang kaya akan sentra kerajinan batik, perlu menata kembali. Tidak hanya produk motif khas Bantul seperti khas Nitik Pleret, Wijirejo Pandak atau Giriloyo Imogiri, tetapi juga buat motif lain dan motif baru yang dihasilkan. Guna melindungi kreativitas dan kekayaan tradisi luhur bangsa dari peniruan, pembajakan, atau penjiplakan yang dilakukan pihak-pihak luar, seluruh motif batik lebih kurang 125 motif yang tumbuh sejak abad ke 15 Masehi, perlu segera dipatenkan ke Direktorat Perlindungan Hak Paten. “Motif-motif produk kita antara lain motif semen (modifikasi bentuk daun-daunan), ceplok (berbentuk bulat-bulat), geometri, nitik dan lereng. Motif-motif itu cenderung anonim atau tidak diketahui pasti penciptanya, tetapi telah mentradisi yang banyak digunakan dalam karya batik tulis,” jelas Kepala SMKN 3 Kasihan itu.

Bupati Bantul mengeluarkan edaran, bahwa PNS setiap Jumat dan Sabtu mengenakan baju batik. “Seyogyanya batik yang dikenakan produk lokal/batik Bantul untuk mendorong pelestarian dan perkembangan batik khas Bantul,”, saran Ketua Dekranas Kabupaten Bantul, Ny Hj Ida Idham Samawi yang membuka workshop batik Bantulan yang diikuti 90 peserta dari PKK, Dharma Wanita, dan guru ketrampilan. Ketua Dekranas Bantul itu mengatakan, dampak surat edaran bupati, telah menaikkan omzet penjualan batik Bantul sampai 30 %.

Sumber : (Sh)-a >Kedaulatan Rakyat, Kasihan

Pameran Kerajinan Lokal Diminati Pengunjung

Monday, March 27th, 2006

Ratusan gerai yang menyajikan pameran kerajinan lokal dari 33 provinsi di Tanah Air ternyata banyak diminati pengunjung. Manik-manik, baju adat Dayak hingga batik motif modern sampai klasik ada di sini.

Sebuah pameran hasil kerajinan lokal dari 33 provinsi di Tanah Air digelar di Jakarta, belum lama ini. Ratusan gerai tampak menyajikan produk-produk unggulan yang mampu menarik minat banyak pengunjung. Para pengunjung juga membeli barang-barang kerajinan yang mutunya tak kalah dengan hasil industri. Pameran bertujuan memacu gairah industri lokal dan menggalakkan kecintaan pada produksi dalam negeri.

Berbagai macam produk ditawarkan. Gerai dari Lamongan, Jawa Timur, menawarkan beragam jenis perlengkapan wanita, mulai dari tas, sandal hingga sepatu. Semua kerajinan ini terbuat dari bahan alami seperti lidi, bambu, rotan, eceng gondok sampai tempurung kelapa. Harganya berkisar antara Rp 45 ribu hingga Rp 100 ribu. Meski sederhana, barang-barang semacam ini banyak dicari.

Pameran ini juga menjual manik-manik dan baju adat Dayak. Aksesoris adat Papua seperti koteka dan tutup kepala dari bulu burung kasuari juga bisa didapat di sini. Berbagai jenis batik dan kain tenun bermotif klasik serta modern juga ditawarkan dengan harga bervariasi antara Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah. Ada pula perlengkapan rumah tangga dan furnitur dari bahan kerang dan batu terakota.

Sumber : (MAK/Widiyaningsih dan Muhammad Iqbal) Liputan 6

Lembaga Keuangan Mikro Berpeluang: Pemasaran Batik Terpuruk

Monday, March 27th, 2006

Mencermati potensi-potensi usaha mikro, kecil, dan menengah, peluang pengembangan lembaga keuangan di Jawa Tengah sangat besar. Kondisi ini perlu diperkuat dengan menangkap peluang pemasaran hasil UMKM di pasar domestik maupun mancanegara.

Optimisme itu diungkapkan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Suryadharma Ali, ketika membuka rapat anggota tahunan (RAT) Koperasi Simpan Pinjam (Kospin) “Jasa” di Pekalongan, Sabtu (25/3). Wakil Gubernur Jateng Ali Mufiz turut menghadiri RAT kospin terbesar di Indonesia tersebut.

Di hadapan sekitar 3.000 anggota yang kospin itu, Suryadharma mengatakan dirinya merasa tidak cocok untuk mengarahkan Kospin “Jasa” sebagai koperasi terbesar di Indonesia. Apalagi, koperasi ini sudah mampu membukukan aset pada tahun buku 2005 sebesar Rp 915 miliar yang hampir setara dengan kekuatan perbankan.

Dia menjelaskan, Kementerian Koperasi dan UKM terus mendorong lembaga-lembaga keuangan mikro untuk membantu pelaku usaha melalui Program Pembinaan Produktif Koperasi Usaha Mikro (P3KUM). Salah satunya dilakukan dengan menyalurkan kredit modal kerja.

Jika melihat potensi-potensi perajin di Jateng, persoalan utama UKM adalah minimnya modal kerja. Karena itu, Suryadharma menilai, Provinsi Jateng yang memiliki 654 kecamatan seharusnya dapat mengembangkan lembaga keuangan mikro di setiap kecamatan. Salah satu caranya adalah melalui semacam koperasi simpan pinjam. “Yang pasti, ada jalan terbuka untuk mengembangkan usaha kecil-kecilan,” kata Suryadharma.

Wagub Jateng Ali Mufiz menyatakan, koperasi sebagai soko guru UKM di Indonesia dipandang mampu menyalurkan kredit kepada masyarakat. Keberadaan koperasi hanya dapat berhasil jika ada dukungan masyarakat. Pengelolaan koperasi yang berjalan tanpa korupsi dari para pengurus dan seluruh anggotanya juga tidak kalah pentingnya. Terpuruk

Dalam kunjungan kerjanya, Menteri Koperasi dan UKM sempat mengunjungi beberapa sentra perajin batik dan kain tenun di Pekalongan dan Pemalang. Umumnya, perajin batik memproduksi batik printing.

Hawie, seorang perajin batik Nulaba di Pekalongan, mengatakan, pascaledakan bom kedua di Bali, pemasaran batik di Bali anjlok drastis. Pemasaran tinggal sekitar 10 persen dari total produksi. Kondisi serupa juga terjadi untuk pasar ekspor.

Selama ini, kata Hawie, kapasitas produksinya bisa mencapai 30.000 meter per bulan. Dalam satu hari, seorang perajin batik mampu menghasilkan sekitar 50 meter untuk produk pakaian jadi.

Menurut Suryadharma, prospek tekstil Indonesia tidak terlalu terpuruk, khususnya bagi UKM yang berani mengembangkan corak dan motif khas lokal. Misalnya, produk batik. Di Jakarta sering kali diadakan pameran-pameran kerajinan, termasuk batik. Respons dari konsumen sungguh luar biasa.

Sumber : (OSA) Harian Kompas, Pekalongan

Presiden Minta Kepala Daerah Bantu Perajin

Thursday, March 23rd, 2006

Selama Ini Mereka Terbentur Permodalan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta para gubernur, bupati, dan wali kota membantu para perajin, terutama dalam masalah permodalan. Sebab, selama ini sulitnya perajin nasional berkembang, lantaran terbentur masalah tersebut. Selain itu, para perajin juga diminta mengunakan rumusan SMTP yakni seni, modal, teknologi, dan pasar, sehingga produk dari sentra kerajinan bisa bersaing di pasar domestik maupun internasional.

Demikian disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ketika membuka acara gelar produk kerajinan Indonesia yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Rabu (22/3). Selain presiden, hadir dalam acara itu Pembina Dekranas Ny. Ani Bambang Yudhoyono, Ketua Dekranas Pusat Ny. Mufidah Jusuf Kalla, sejumlah menteri, dan para ketua Dekranas daerah di antaranya Ketua Dekranasda Jabar Ny. Hj. Rinania Danny Setiawan.

Presiden mengakui, potensi sentra kerajinan cukup besar dengan dibuktikan jumlah tenaga kerja yang diserap mencapai 2,5 juta jiwa. “Jika dikembangkan terus sentra kerajinan, akan bisa menyerap tenaga kerja baru dalam jumlah banyak dan jelas ini menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan,” ujar presiden.

Presiden juga mengingatkan dalam era perdagangan bebas, tidak bisa dicegah masuknya produk lain ke Indonesia. Kemudian, jangan gamang dan canggung menghadapi kondisi seperti itu. Sebaliknya, bagaimana produk dalam negeri bisa menang dalam merebut pasar, baik pasar nasional maupun internasional.

Dalam meningkatkan potensi sentra kerajinan, presiden juga meminta para gubernur, wali kota, dan bupati agar memunculkan potensi unggulan, bila perlu di setiap kecamatan memiliki produk kerajinan yang diunggulkan.

Sehingga, nantinya produk kerajinan betul-betul dicari para wisatawan. Bukan sebaliknya, produk kerajinan yang mencari wisatawan. “Kerajinan kita kaya dengan nilai seni yang beraneka ragam. Hal itu juga harus dilindungi terutama dalam masalah hak atas kekayaan intelektual (Haki). Jangan sampai produk kerajinan kita diakui negara lain,” pesan presiden.

Terdepan

Sementara, Ketua Dekranasda Jabar Ny. Hj. Rinania Danny Setiawan pada kesempatan itu mengatakan, turut aktifnya dalam kegiatan pameran gelar produk kerajinan Indonesia, sebagai bentuk upaya nyata dalam memperkenalkan dan mempromosikan berbagai produk kerajinan dari Jabar. “Berbagai produk unggulan di sejumlah daerah kita tampilkan, sehingga nantinya produk kerajinan Jawa Barat bisa terdepan dan semakin terkenal, bukan saja di pasar nasional tapi juga internasional,” jelasnya.

Ny. Rinania mengakui, produk kerajinan yang tersebar di 25 kab./kota telah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perekonomian Jawa Barat, karena selain menyerap tenaga kerja juga menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat. Untuk itu, telah menjadi tekad Dekranasda untuk terus mendorong berkembang dan majunya berbagai sentra kerajinan.

Dalam acara gelar produk kerajinan nasional, Presiden Susilo menyempatkan diri melihat berbagai produk kerajinan dari sejumlah daerah. Bahkan, presiden menerima cenderamata khusus dari Ketua Dekranasda Jabar, Ny. Rinania yakni berupa pisau kardin produk unggulan kota Bandung dan batik komar. Cenderamata itu juga diberikan kepada Ny. Ani Bambang Yudhoyono dan Ny. Mufidah Jusuf Kalla.

Sumber : (A-134/A-83)*** Pikiran Rakyat, Jakarta

Cap Batik, yang Banyak Diburu

Wednesday, March 22nd, 2006

CAP batik kini telah menjadi barang antik. Banyak diburu untuk berbagai keperluan. Sebagai koleksi, atau digunakan untuk daun meja serta angin-angin ventilasi rumah kayu. Pemburunya bukan hanya orang Indonesia. Tetapi juga orang asing yang berani beli mahal. Hadi Wiyono, pembuat cap batik warga Prawirotaman Yogyakarta mengungkapkan seorang kolektor dari Jerman pernah memborong 1.000 buah cap milik sebuah perusahaan batik di Yogyakarta yang sudah tidak berproduksi lagi. “Saya yang diminta membersihkan cap-cap itu, kemudian mengepaknya dan dikirim dengan kontainer ke Jerman,” tuturnya.

Wahyudi K, pedagang barang-barang antik di Pasar Triwindu Solo mengatakan, akhir tahun 2005 lalu seorang warga Australia membeli puluhan cap batik miliknya seharga Rp 15 juta. Cap-cap tersebut digunakan untuk hiasan dinding, angin-angin ventilasi, serta bagian dari daun meja. Menurut Wahyudi yang ditemui di rumahnya, Mangkubumen Wetan Jalan Teratai I/19 Solo belum lama ini, cap batik kini menjadi barang langka dan antik. Nilainya terletak pada motif berikut detilnya. Cap yang bermotif batik tradisional serta njlimet detilnya, berharga mahal. Pernyataan yang sama dikemukakan Hadi Wiyono, yang sampai hari ini masih sering mendapat pesanan cap batik untuk keperluan hiasan dinding. “Sekarang semakin sulit mencarinya, karena batik sudah diproduksi secara printing,” kata Wahyudi, yang juga menyediakan beragam barang antik lainnya seperti gramaphone.

Sumber : (No)-o >Pikiran Rakyat

Eksistensi Batik Pajimatan Terancam; Generasi Muda Tak Berminat Membatik

Wednesday, March 22nd, 2006

Meski hasil produksi batik tulis dari Pajimatan, Imogiri Bantul terkenal hingga ke mancanegara, namun para perajin yang masih bertahan mengkhawatirkan juga eksistensinya bakal terancam. Pasalnya, saat ini para generasi muda yang diharapkan meneruskan ketrampilan membatik warisan leluhur itu banyak yang tidak berminat sebagai pembatik.

Menurut Ny Sarjuni, penerus dari empu batik Imogiri R Ngt Jogopertiwi, meski ada generasi muda yang ikut ambyur melestarikan batik namun sangat kecil. Bahkan ia juga mengaku belum tahu siapa yang akan meneruskan usaha produksi batik yang telah dilakukan secara turun-temurun ini. “Kalau sekadar bisa membatik hampir semua anak-anak saya bisa, tapi untuk meneruskan usaha ini tak hanya cukup bisa membatik saja. Harus punya niat dan hasrat kuat untuk nguri-uri budaya Jawa yang adiluhung ini,” katanya.

Ny Sarjuni menganggap usaha ini sebenarnya cukup prospektif. Sebab hingga saat ini pemasarannya cukup lancar dan banyak digemari oleh penduduk Jepang. Namun kendalanya, pasca kenaikan harga BBM biaya produksi ikut naik sementara ia tak bisa menaikkan harga jualnya, karena pemasaran dalam negeri belum kentara.

Diakui harga beberapa bahan baku batik tulis tradisional saat ini mengalami kenaikan yang cukup lumayan. “Kain mori dan lilin (malam) saat ini naik cukup tinggi. Jika sebelumnya harga kain hanya Rp 23 ribu per lembar, saat ini telah mencapai Rp 27 ribu/lembar sedangkan harga malam yang semula hanya Rp 6.500/Kg berubah menjadi Rp 8.250/Kg,” kata Waskito. Padahal harga jual produk batik tulis tetap bertahan pada kisaran Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu/lembar.

Harga jual tergantung beberapa faktor, di antaranya motif, pewarnaan dan mutunya. Sebab untuk menyelesaikan selembar kain batik tulis tradisional dengan motif tertentu membutuhkan waktu cukup lama atau bisa mencapai 2 bulan.

Sumber : (Can)-b >Pikiran Rakyat, Imogiri

Kunjungan Presiden Singapura; Kagumi Koleksi Pusaka Kraton Yogya

Wednesday, March 22nd, 2006

Benda-benda koleksi Museum Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Kraton Yogyakarta, cukup menarik perhatian Presiden Singapura SR Nathan, saat melakukan kunjungan kenegaraan di Yogyakarta, Selasa (21/3) malam. Nathan didampingi Raja Kraton Yogyakarta yang juga Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyaksikan berbagai koleksi Museum HB IX tersebut secara menyeluruh. Satu demi satu koleksi yang ada di museum tersebut diamatinya. Sesekali Sultan pun menjelaskan benda-benda bersejarah tersebut kepada tamunya.

SR Nathan yang didampingi isterinya tiba di Kraton Yogyakarta sekitar pukul 18.30 dengan pengawalan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Kendati demikian, pengamanan tersebut tidak terlalu ketat. Nathan yang didampingi sejumlah pejabat Singapura tiba di Kraton disambut Sultan HB X dan GKR Hemas, serta jajaran Muspida DIY. Tampak pula dalam kunjungan ini Menteri Komunikasi dan Informasi Kabinet Indonesia Bersatu Sofyan Djalil.

Begitu tiba, rombongan Presiden Singapura langsung menuju Museum HB IX. Sementara Ibu Kepala Negara Singapura dengan diantar GKR Hemas mengunjungi Museum Batik Kraton Yogyakarta, yang terletak berseberangan dengan Museum HB IX. Istri presiden itu pun tampak terkesima dengan aneka koleksi batik dan peralatan membatik yang disimpan di museum tersebut.

Setelah cukup puas menyaksikan koleksi kedua museum itu, rombongan menuju Gedhong Jene untuk beramah-tamah sebentar dan foto bersama. Selanjutnya, rombongan menuju Bangsal Prabayeksa tempat menyimpan pusaka-pusaka Kraton.

Kemudian di Tratag Bangsal Kencana, Presiden Singapura yang duduk berdampingan dengan Sultan HB X menyaksikan tarian Golek Menak Rengganis Widaninggar.

Sebuah tarian karya Sri Sultan HB IX yang seringkali dipersembahkan untuk tamu-tamu penting Kraton. Sementara jamuan santap malam dilakukan di Bangsal Manis, yang terletak di sebelah Selatan Bangsal Kencana. Sekitar pukul 21.00, pertemuan itu pun usai.

Menurut Sultan HB X, tidak ada pembicaraan khusus dalam pertemuan malam itu. “Ya hanya pertemuan biasa, tidak ada yang dibicarakan secara khusus. Kami hanya makan malam saja kok,” kata Sultan.

Kendati demikian, Sultan HB X menyatakan terimakasihnya kepada Presiden Singapura, yang telah berkunjung ke Yogyakarta selama melakukan lawatan di Indonesia. “Semoga kehadiran beliau di Indonesia termasuk di Yogyakarta, bisa membangun persahabatan yang lebih baik dan lebih maju. Saya juga berharap kunjungannya ke Yogyakarta ini bisa membawa suatu harapan bagi kedua belah pihak. Karena Yogyakarta merupakan pusat kebudayaan, saya juga berharap setelah mengunjungi Yogya, Candi Borobudur dan lainnya bisa membawa kesan cukup mendalam,” ucap Sultan.

Sumber : (San)-n Pikiran Rakyat, Yogyakarta

Makna Pelanggan Rewel bagi Anita: Melayani Para Pelanggan dengan Hati

Monday, March 20th, 2006

Pembeli adalah raja! Prinsip ini masih berlaku bagi A Anita Kusumawati dalam mengembangkan bisnis kerajinan tangan berupa kain dan kayu batik berbagai corak dan model serta fungsi. Ia pun rela mengganti produk baru ketika konsumen meminta bantuannya untuk memperbaiki barang yang pecah.
< di berbintang hotel sebuah tunggal pameran menggelar saat ditemui yang Anita kata barang dengan ganti saya Jepang, orang mayoritas konsumen menyenangkan demi Namun, kembali. utuh dibuat terjatuh karena berkeping-keping pecah sudah batik bercorak kayu mangkok mungkin, tidak baru,”>

Dari segi bisnis, cara tersebut pasti rugi besar, tetapi Anita justru mendapat hasil ganda. Pasalnya, konsumen yang dilayani secara baik secara sukarela justru mempromosikan produk kerajinan tangan kepada rekan dan keluarga di negaranya.

Menurut perempuan lajang ini, servis kepada pembeli kerajinan buatannya tidak hanya itu. Ia pun siap membantu pelanggan mengepak barang kerajinan ketika mereka hendak pindah rumah, baik di dalam maupun luar negeri.

”Saya kemas sendiri berbagai barang kerajinan milik pelanggan seaman mungkin. Dengan harapan, setibanya di negara tujuan, kondisinya tetap utuh karena kerajinan merupakan barang berharga bagi konsumen asing. Ini bentuk lain pelayanan purnajual bagi konsumen,” kata Anita yang mengekspor sendiri produknya ke Malaysia, Jepang, dan negara di Eropa.

Apalagi dengan memberikan pelayanan ekstra, para konsumen sukarela menjadi media promosi gratis. Intinya bisnis kerajinan tangan dituntut kesabaran karena konsumen rewel terutama pembeli asing dari Jepang.

Mereka tidak hanya memerhatikan corak, tetapi sampai ke detail proses membatik di kayu. ”Ada cacat sedikit saja, mereka pasti protes. Sikap kritis pembeli dari Jepang menempa saya untuk lebih teliti dan berusaha meningkatkan kualitas,” ujar Anita yang memiliki lima pegawai tetap.

Bekerja dengan hati

Menurut Anita, ia mulai tertarik merintis usaha kerajinan tangan berupa kain batik tulis dengan warna alam, dan membatik kayu pada tahun 1997. Kendati sibuk membuat skripsi, dia tetap menyempatkan diri berkreasi membuat lukisan untuk corak kain batik. Kain batik hasil karyanya pun selalu diminati meski coraknya melenceng dari pakem batik sesungguhnya.

Corak batik tulis yang dibuat Anita pun tidak berafiliasi ke daerah atau budaya tertentu. ”Apa yang ada di benak langsung dituangkan dalam bentuk corak kain batik,” tutur anak kedua dari empat bersaudara ini.

Dalam perjalanannya, dia pun sering diundang menggelar pameran tunggal di beberapa hotel berbintang di Surabaya. Padahal, promosi barang yang dibuat hanya dari mulut ke mulut saja.

Setiap kali menggelar pameran, Anita dipastikan mendapat kritik dan saran dari pengunjung. Apalagi hampir pada setiap pameran hadir pembeli baru, yang diajak pelanggan lama. Konsumen baru biasanya khusus datang dari Jepang dan datang ke pameran untuk memborong barang-barang kerajinannya.

Kendati demikian, pengalaman pahit pernah menimpa dirinya ketika menggelar pameran di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta tahun 2003. Hampir tiga hari hasil karya Anita yang dipajang paling belakang tidak dilirik pengunjung.

Namun, pada hari keempat, saat seorang pengunjung asal Jepang melintas di depan stannya, contoh barang sebanyak 20 kotak besar yang diangkut dari Sidoarjo laris manis. Pembeli tersebut langsung mengajak beberapa rekannya dari Jepang meninjau stan Anita yang fasih berbahasa Jepang itu.

Bahkan, berkat jasa konsumennya pula, Anita telah mengikuti pelatihan soal kualitas dan pemasaran barang di Osaka, Jepang, yang digelar oleh Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA). Faktor ini salah satu yang memotivasi perempuan kelahiran Lumajang, Jawa Timur, itu untuk terus berinovasi.

Dia pun lebih fokus menggarap kerajinan kayu batik yang diawali dengan pembuatan hiasan, seperti burung hantu, kendati membatik kain dengan corak sesuai dengan pesanan pembeli masih dilakukan. Corak batik cenderung bernuansa Jepang karena sesuai order konsumen di negeri sakura itu. Pembeli dari Jepang pun terus memberikan buku atau majalah berisi corak bahkan model serta barang terbuat dari kayu batik.

Tiga jenis kayu, yakni kayu wadang, puso, dan gembili, dipakai untuk bahan baku kerajinan tangan. Ketiga jenis kayu tersebut berpori-pori kecil dan tidak bergetah serta berwarna kuning. Getah harus dihindari karena produk kayu batik dipakai oleh konsumen di Jepang sebagai alat makan, seperti sendok, mangkok, piring, sumpit, dan alat minum.

Bahan baku kayu diperoleh dari pedagang di beberapa daerah di Jawa Timur. Tak jarang ketika order meningkat, dana ratusan juta rupiah harus siap untuk beli kayu. Bahan baku harus selalu siap karena order dari pembeli asing sering datang mendadak dan harus segera selesai.

Pengerjaan satu produk kayu batik hingga siap dipasarkan harus melalui 15 tahap. ”Proses kayu batik lebih berat dan rumit ketimbang kain batik tulis,” kata Anita yang telah membuat sekitar 500 jenis barang kerajinan tangan, baik kain maupun kayu batik, dengan ribuan desain.

Di tengah kesibukan mengembangkan usaha kerajinan tangan, tahun 1998 Anita mengikuti seleksi bersama 400 calon peserta kursus gratis bahasa Jepang. Meski tanpa tujuan jelas, Anita berhasil lulus ujian dan ikut kursus di Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya. Kefasihan berbahasa Jepang semakin membuka peluang bagi pemilik Kusuma Art & Collection, Sepanjang, Sidoarjo, itu untuk memasarkan karyanya.

Untuk mempertahankan kualitas barang, terutama produk kayu batik, Anita menggunakan pelapis atau coating yang diimpor dari Jepang. ”Keunggulan produk saya pada pelapis yang membuat barang tetap bagus dan mengilap meski dicuci,” ujar pelaku usaha kecil menengah yang belum tertarik memanfaatkan tambahan modal dari perbankan itu.

Intinya, Anita bekerja dengan hati nurani dan tidak mengedepankan bisnis semata. Ia pun rela mencari inspirasi ke berbagai kota di Indonesia, terutama Bali.

Sumber : (Agnes Swetta Pandia) Harian Kompas

Banyak Museum di Yogya Merana; Biaya Operasional Tak Sebanding Pemasukan

Monday, March 20th, 2006

Dari dulu sampai sekarang, persoalan museum nyaris sama: sepi pengunjung, biaya operasional tidak mencukupi. Akibatnya, banyak di antaranya yang tak terawat, bahkan terancam rusak. Pengelola museum harus membuat terobosan untuk menyelamatkan aset budaya yang sangat berharga ini. Mestinya, pemerintah daerah juga ikut bertanggungjawab dalam upaya penyelamatan tersebut.

LIHATLAH Museum Jogja Kembali (Monjali). Pada hari biasa, suasana museum sangat sepi. Hanya ada beberapa tukang kebun plus karyawan yang bertugas. Padahal, menurut Kaur Humas dan Pemasaran Monjali, Gunadi, museum milik Yayasan Monjali ini dikelola tanpa dana subsidi dari manapun. Hanya penjualan karcis masuk saja yang menjadi penopang gaji karyawan dan biaya pemeliharaan museum. “Sejak Januari 2006 kami menaikkan harga karcis dari Rp 4 ribu menjadi Rp 5 ribu per orang. Hal ini terpaksa dilakukan, sebab kondisi keuangan tidak ballance,” ujarnya.

Dikatakan, untuk pengeluaran biaya operasional dibutuhkan sekitar Rp 80 juta/bulan. Jauh lebih tinggi dari pemasukan tiket masuk yang tak sampai Rp 50 juta/bulan. Pemasukan tersebut 60 persen untuk menggaji 51 orang karyawan, membayar listrik, biaya pemeliharaan dan setoran pajak pendapatan bulanan ke Pemkab Sleman sebesar 5 persen dari pemasukan.

“Biaya listriknya saja rata-rata Rp 25 juta/bulan. Dua tahun ini kami bahkan belum membersihkan dinding luar museum. Memang sudah tampak kotor, tapi belum ada dana untuk mengerjakannya. Bangunan kerucut itu tingginya 31,8 meter dan kemiringannya sekitar 30 derajat, cleaning service kami tak sanggup membersihkannya. Sehingga biasanya kami bekerja sama dengan mahasiswa pecinta alam (Mapala),” kata Gunadi.

Menyewakan Ruang

Kepala Badan Pengelola Monjali, RH Suryono mengakui, bentuk bangunan Monjali menyulitkan sirkulasi udara dan juga cahaya dari luar. Akibatnya, biaya operasional AC dan lampu di bangunan tiga lantai tersebut menjadi tinggi. “Bahkan biaya pemakaian AC kalau dibandingkan lift yang ada di sini, jauh lebih besar,” katanya.

Bangunan Monjali memang berbeda dengan museum kebanyakan. Berbentuk kerucut warna kuning, dibangun di atas tanah seluas 49.920 m2 di wilayah Dusun Jongkang Desa Sariharjo Kecamatan Ngaglik, Sleman. Dalam museum itu tersimpan gambar, diorama, foto dan benda-benda semasa Ibukota RI di Yogyakarta direbut kembali oleh pejuang dari tangan penjajah Belanda.

Upaya menggenjot jumlah pengunjung dicoba bermacam cara, di antaranya memberi diskon 10 persen untuk pengunjung rombongan lebih 30 orang. Untuk rombongan TK, difabel dan yatim piatu, diskon 50 persen. Turis asing tiketnya Rp 7.500/orang.

Badan Pengelola Monjali pun menyewakan ruang serba guna dan halaman museum antara lain untuk resepsi pernikahan, wisuda. Ini dilakukan untuk mengejar besarnya kebutuhan biaya operasional setiap bulannya. Halaman Plaza Monjali dan halaman tengah disewakan pula untuk berbagai acara.

Pihak Monjali juga menggandeng JJ Adventure untuk mengelola Taman Ria Anak-anak di samping depan sebelah timur gedung museum. Sedangkan halaman belakang gedung setiap Rabu dan Jumat sore digunakan gratis untuk latihan penggemar kicau burung.

Sedangkan untuk promosi ke luar daerah seperti ke Propinsi Banten, Jawa Barat dan Jawa Timur, pihak Monjali ikut serta dalam kegiatan Travel Dialog yang difasilitasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sleman.

Sayangnya, Monjali tak tercatat pada paket wisata internasional. Sehingga Gunadi pun memanfaatkan kesempatan melakukan publikasi dari mulut ke mulut, ketika ada turis asing yang datang berkunjung. Selama tiga tahun ini jumlah turis asing yang mampir ke Monjali hanya 703 orang. “Tapi saya bangga, setiap musim libur sekolah masih ada pelajar dari Jawa, Kalimantan yang mau datang ke sini untuk belajar sejarah,” aku RH Suryono.

Berjalan Lambat

Berdasarkan data yang terpampang di kantor Monjali, jumlah pengunjung Monjali berturut-turut dari tahun 2003 sebanyak 262.088 orang/ tahun, tahun 2004 sebanyak 263.955 orang/tahun dan tahun 2005 sebanyak 271.078 orang/tahun. Artinya selama tiga tahun terjadi peningkatan pengunjung berjalan lambat.

“Pada masa sebelum 1998 silam, jumlah pengunjung pernah mencapai 600 ribuan orang/ tahun. Saya ingat sewaktu karcisnya hanya seharga Rp 250/orang, satu hari bisa mendapat pemasukan sampai Rp 15 juta. Dibandingkan sekarang yang harga karcisnya Rp 5.000/orang, nggak sampai sebesar itu,” ujar Gunadi.

Imbas image politik saat runtuhnya rezim Orde Baru pun sempat menerpa eksistensi Monjali di mata masyarakat. Rakyat, khususnya mahasiswa, melihat museum yang diresmikan Presiden Soeharto 6 Juli 1989 itu sebagai ajang pengkultusan sosok Soeharto, yang pada masa itu menjadi presiden. Bahkan ada yang salah sangka, dikiranya museum itu termasuk milik keluarga Cendana.

Akibatnya, jumlah pengunjung pun merosot tajam, apalagi saat itu juga terjadi krisis ekonomi. Pada tahun 1998, jumlah pengunjung anjlok menjadi 290.464 orang/tahun. Setelah pihak pengelola bekerja keras meluruskan anggapan yang keliru itu, jumlah pengunjung pun naik menjadi 304.307 orang/tahun pada tahun 1999 dan 401.440 orang/tahun pada tahun 2000. Namun pada tahun 2002 sampai 2005, jumlah pengunjung turun lagi pada angka rata-rata 250 ribu orang/tahun.

“Monjali tetap layak menjadi wisata pendidikan sejarah, sebab hal-hal yang ditampilkan bukan menonjolkan atau mengkultuskan seorang tokoh. Namun mendokumentasikan masa-masa tujuh bulan di era 1948-1949, ketika Ibukota RI di Yogyakarta yang diduduki musuh berhasil direbut kembali pada 29 Juni 1949. Peran tokoh-tokoh pejuang seperti Jenderal Soedirman, Sri Sultan HB IX dan Soeharto memang ada didalamnya,” tegas Gunadi.

Tiket Gratis

Belum maksimalnya jumlah pengunjung juga dialami Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman Sasmitaloka. Padahal, untuk menarik minat masyarakat berkunjung ke museum sengaja tiket digratiskan. Kalaupun ada pengunjung yang memberi imbalan pada pemandu itu sifatnya sukarela, tidak ada unsur paksaan.

“Tapi meski tidak dikenakan tarif, jumlah pengunjung belum bisa maksimal. Hal itu bisa dilihat dari jumlah pengunjung setiap bulannya hanya berkisar 500 orang,” kata Ketua Museum Panglima Besar Jendral Sudirman Sasmitaloka, Letkol CAJ Noordiharto.

Untuk mengatasi persoalan itu, selain mengoptimalkan sosialisasi ke sekolah-sekolah, pihak pengelola juga menjalin kerja sama dengan beberapa museum di Yogya. “Tapi adanya kecenderungan masyarakat untuk mengunjungi bangunan yang megah dan modern daripada berkunjung ke museum menjadikan upaya tersebut tidak bisa maksimal. Untuk itu kami mengimbau pada pihak-pihak yang terkait termasuk pemerintah agar lebih memperhatikan keberadaan museum,” katanya.

Dalam sebulan, pemasukan di museum itu berkisar antara Rp 150 ribu- Rp 300 ribu. Karena dana tersebut tidak menutup biaya pemeliharaan, biasanya digunakan untuk membeli peralatan kebersihan dan perbaikan ringan. Sedangkan untuk biaya perawatan dan pemeliharaan museum berasal dari Dinas Pembinaan Mental TNI Angkatan Darat.

Penurunan jumlah pengunjung merupakan persoalan serius yang sering dihadapi pengelola museum. Begitupun dialami Museum Sasana Wiratama Tegalrejo. Menurut Sosro Budiharjo selaku pengelola, dari tahun ke tahun jumlah pengunjung selalu menurun. Tahun 2004 jumlah pengunjung 2.424 orang. Tapi pada tahun 2005 jumlahnya turun menjadi 2.283 orang. Sedangkan untuk tahun 2006 dari Januari- Februari jumlahnya mencapai 430 orang.

Fenomena tersebut memotivasi pihak pengelola untuk meningkatkan sosialisasi pada masyarakat dan mengintensifkan kegiatan di museum. “Terbatasnya jumlah pengunjung dan SDM profesional sering menjadi persoalan yang cukup serius bagi kami. Untuk mengatasi persoalan itu, sesuai anjuran Korem 072 Pamungkas, tiket masuk digratiskan. Dengan begitu kami berharap animo masyarakat untuk berkunjung bisa meningkat,” katanya

Menurutnya pendapatan yang tidak menentu menjadikan pihak pengelola museum harus mencari pendapatan lain seperti menyewakan pendapa museum untuk keperluan resepsi pernikahan dan rapat. Di samping itu museum Sasana Wiratama juga mendapatkan subsidi dari Korem 072 Pamungkas. Sehingga untuk biaya perawatan tidak terlalu masalah.

Kurang Terpelihara

Berbeda dengan Museum Perjuangan Yogyakarta di Jl Kolonel Soegiono. Museum yang menyajikan koleksi benda-benda bersejarah pada masa pra dan pasca kemerdekaan itu, selain pengunjungnya tidak banyak juga terkesan kurang terpelihara. Hal itu bisa dilihat dari lantai yang rusak dan beberapa dinding yang catnya sudah mulai mengelupas.

Budiono, Koordinator Museum Perjuangan Yogyakarta menjelaskan, meski sudah melakukan promosi ke berbagai daerah dan menggratiskan tiket masuk, tapi hasilnya belum maksimal. Bahkan jumlah pengunjung setiap bulannya hanya berkisar 150-400 orang.

Untuk mengatasi persoalan itu, pihak Museum Perjuangan mengadakan program dengan koordinator Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Adanya koordinasi tersebut diharapkan jumlah pengunjung bisa bertambah. “Karena pengunjung dibebaskan dari biaya tiket masuk secara otomatis pendapatan yang diperoleh tidak menentu. Memang ada beberapa pengunjung yang memberikan sumbangan sukarela. Tapi jumlahnya tidak bisa menutup biaya pemeliharaan. Jadi untuk biaya pemeliharaan biasanya kami memperoleh subsidi dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata,” kata Budiono yang dibenarkan Koordinator Sub Penyajian dan Kerjasama Museum Benteng Vredeburg, Gunawan Haji.

Pengunjung Fluktuatif

Museum Wayang Kekayon di Jalan Raya Yogya-Wonosari Km 7 No 277 Yogyakarta, menyimpan 5.464 buah wayang dari 25 jenis wayang di dunia. Museum milik Yayasan Kekayon yang dikelola keluarga Prof Dr dr KRT Soejono Prawirohusodo (alm) ini, diresmikan dan dibuka untuk umum oleh Sri Paduka Paku Alam VIII Januari 1991.

“Akan tetapi wayang yang ada merupakan koleksi Prof Suyono sejak beliau kecil hingga akhir hayatnya,” kata Mulyono (63) yang setiap hari menjaga Museum Kekayon seluas 1,1 hektar bersama 4 tenaga lainnya.

“Kebanyakan yang datang ke sini murid sekolah yang studi tour atau orang-orang yang sedang memiliki interest khusus pada wayang,” kata Mulyono. Tapi tiap hari belum tentu ada pengunjung. Padahal harga tiket yang ditetapkan cukup terjangkau Rp 2 ribu untuk pelajar/mahasiswa, Rp 3 ribu untuk umum dan Rp 5 ribu untuk wisatawan manca.

Pengunjung memang fluktuatif. Pada musim libur, kata Mulyono, sehari bisa menerima empat rombongan bus. Namun sepi pada hari-hari biasa. “Rata-rata pengunjung 10 orang perhari pada tahun 2005,” katanya. Oleh karena itu, sulit membayangkan bagaimana biaya operasional untuk perawatan wayang yang sangat rawan terhadap suhu udara, kawasan museum dan honor tenaga.

Tujuan utama didirikannya museum wayang untuk tetap melestarikan wayang sebagai salah satu kebudayaan bangsa Indonesia terutama kepada generasi muda, namun dalam buku tamu banyak dikunjungi pula orang manca negara. Komentar yang ditulis, hampir semua berharap ada peningkatan pemeliharaan pada benda koleksi. Antara lain,” …museum wayang sangat jarang ada, hendaknya museum ini dipikirkan pengelolaannya standar internasional, mengingat benda koleksi di sini amat luar biasa…”.

Renovasi Bangunan

Mencoba merenovasi bangunan agar lebih representatif untuk dikunjungi dan terus menjalin networking dengan pihak luar. Inilah yang dilakukan keluarga Hadi Nugroho pemilik dan pengelola Museum Batik dan Sulam Yogyakarta di Jl Dr Sutomo 13 A Yogyakarta.

Museum batik yang resmi didirikan tahun 1979 tersebut, berusaha melestarikan salah satu seni budaya kita dalam hal tradisi berbusana. “Setidaknya dengan memberi gambaran kepada generasi sekarang dan yang akan datang tentang seni batik yang memiliki nilai estetika tinggi,” kata Dewi Hadi Nugroho (75).

Saat ini Meseum Batik (dan Sulam) memiliki 1219 koleksi terdiri dari 500 kain, 562 cap batik, 124 canting dan 35 piranti membatik lainnya. Batik yang dikolesi ada dua jenis, yakni batik Yogya-Solo dan Pesisiran. Sedang untuk sulam, museum ini memiliki 117 sulaman tangan karya Dewi Hadi Nugroho dengan metode sulam acak. “Museum sulam ini merupakan satu-satunya di Indonesia,” kata Dewi. Dua sulaman, pernah masuk ke Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai sulaman terlebar dan terpanjang di Indonesia.

Menurut Bejo Haryono, Kurator Museum Batik Yogyakarta ini, sejak direnovasi (atas biaya sendiri) jumlah pengunjung mengalami kenaikan. Dari 214 pengunjung di tahun 2003, menjadi 510 (2004) dan 728 (2005). “Kami juga terus melakukan promosi melalui biro perjalanan, pameran, seminar, dan lain lain,” kata Bejo. Museum Batik dan Sulam yang buka setiap hari selain hari Minggu dan hari besar itu, menarik tiket Rp 10 ribu untuk domestik dan Rp 15 ribu untuk orang manca negara.

Merawat museum memang tidak mudah. Ini juga diakui oleh Kepala Museum Dirgantara TNI AU Yogyakarta, Letkol Joko Purnomo. Selain soal biaya, juga membutuhkan ketelatenan. “Untuk biaya perawatan ini memang membutuhkan dana yang sangat besar. Apalagi museum berada pada lokasi yang luas, dengan koleksi pesawat terbang sangat banyak,” kata Joko.

Banyaknya pesawat yang dipajang, memang membutuhkan areal yang luas. Saat ini luas lahan museum 760 meter persegi dengan koleksi 42 pesawat. Semua pesawat yang ada tersebut, harus dapat terawat dengan baik dan dalam kondisi yang enak dipandang bagi pengunjung.

Karena itu, setiap 2 tahun sekali, pesawat dilakukan pengecatan dan juga pembersihan. Sehingga meski pesawat yang dipamerkan adalah buatan zaman dulu, tetapi penampilan di museum tetap bagus.

Kurang Minat

Bagaimana minat pelajar dan masyarakat untuk berkunjung ke museum? Indira Putri Nagari, siswi kelas XI IPA 4 SMA Negeri 3 Yogyakarta mengaku, tidak tertarik berkunjung ke museum. Sebab, dari tahun ke tahun, sarana yang ada di museum tidak pernah ada perubahan.

“Meski jumlah museum di Yogyakarta cukup banyak, saya tidak pernah tertarik untuk pergi ke sana. Bahkan sampai saya duduk di bangku SMA, baru 2 kali datang ke museum. Sebab selain kurang terawat, fasilitas yang ada tidak pernah berubah jadi terkesan membosankan. Untuk itu selain dilengkapi dengan taman bermain akan lebih bijaksana jika berbagai perlombaan untuk pelajar diselenggarakan di museum. Jika hal itu terwujud animo pelajar untuk berkunjung ke museum diharapkan bisa meningkat,” tandasnya.

Begitupun dikemukakan Yati (50), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kecamatan Gamping. Terbatasnya sarana hiburan yang ada di museum membuatnya enggan untuk berkunjung ke sana. Di samping itu kurangnya sosialisasi dari pihak-pihak yang terkait menjadikan masyarakat mengalami kesulitan untuk mengetahui jumlah museum di Yogyakarta.

“Saya sering merasa prihatin jika melihat beberapa museum yang kurang terawat. Meski pihak pengelola museum sudah berusaha untuk menggratiskan pengunjung tapi hal itu tetap kurang efektif. Sebab yang dibutuhkan masyarakat tidak hanya harga murah. Tapi juga hiburan yang sifatnya mendidik dan bisa meningkatkan rasa nasionalisme,” kata ibu 2 putra yang mengaku sudah 3 kali berkunjung ke museum.

Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Yogyakarta, Drs Timbul Mulyono menambahkan, selain pengelolaan yang profesional, materi (koleksi) yang ada di museum perlu menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Untuk mewujudkan hal itu pihak-pihak yang terkait perlu membuat museum pusat seperti yang ada di Taman Mini. Dengan adanya museum pusat tersebut, masyarakat diharapkan bisa mengenal seluruh museum yang ada di Yogya.

“Walaupun tidak dipungut biaya, tapi jika materi yang disampaikan tidak menarik akan sia-sia. Untuk itu selain dijadikan sumber pembelajaran, guru perlu membiasakan peserta didik untuk mengunjungi museum di Yogyakarta,” papar Timbul yang mengaku lebih dari 7 kali berkunjung ke museum.

Sumber : (q- e) Pikiran Rakyat, Yogyakarta