Rochmad Husen, Kegelisahan Pembatik Solo
Tuesday, February 28th, 2006Dalam sebuah perbincangan beberapa waktu lalu di sebuah rumah kuno nan cantik (Roemahku) di Laweyan terungkap, pada tahun 1960-an hampir 90 persen warga Laweyan bekerja sebagai pembatik. Namun pada 1990-an, jumlah itu merosot drastis dan menyisakan 27 perusahaan, terdiri industri dan showroom. Desa Laweyan sejak tahun 1500-an sudah terkenal sebagai pusat perdagangan dengan komoditas utama lawe (benang). Produksi batik tulis dan batik cap sejak 15 tahun terakhir tergeser kehadiran batik printing yang mampu berproduksi massal dalam waktu cepat.
Fenomena ini sebenarnya tak hanya terjadi di Laweyan, tapi juga di sentra batik lain di Solo, seperti di Kauman dan Balong. Salah satu saksi dan pelaku “sejarah runtuhnya batik tulis” adalah Rochmad Husen (66). Rochmad bukan pengusaha besar, tetapi ia punya kisah perjuangan panjang untuk menjadi pengusaha batik. Ia mengawali usahanya dari nol. Saat usia sekolah dasar, keterlibatan Rochmad dengan dunia batik diawali dengan membantu ayahnya yang banyak mendapat pesanan membuat motif batik dari para juragan batik. Dari situ, bakatnya terasah untuk membuat motif-motif baru. Hingga kini, ia masih menyimpan ratusan lembar kertas bergambarkan motif batik yang pernah dibuatnya. Sayangnya, sebagian lembar motif itu mulai dimakan ngengat karena lebih sering tersimpan dalam lemari. Rochmad, tamatan SMP mulai terjun sebagai pengusaha tahun 1965 usai menikah dengan Suparmi (64) yang memberinya dua anak. “Saya berpikir, kenapa tidak saya coba membuat batik sendiri,” kata Rochmad yang usai SMP bekerja sebagai anak buah kapal. Karena keterbatasan modal, Rochmad hanya mampu membuat satu lembar batik selama bulan pertama.
Ia bekerja sama dengan sang istri. Ide motif Rochmad dituangkan ke atas kain oleh istri yang semasa remajanya giat belajar membatik meski dengan mencuri-curi agar tak ketahuan orangtuanya. Kain “coret-coretan” itu ia bawa dengan bersepeda ke pembatik di sebuah desa di Plupuh, Sragen. Hasilnya ia pasarkan sendiri ke sebuah toko batik terkenal “Bawah Sawo” di Coyudan, Solo. “Semula ditolak karena mengira saya mencuri. Masak jual batik kok hanya bawa kain selembar.
Tapi setelah saya yakinkan, lama-lama pemilik toko mau membeli kain batik saya,” kenang Rochmad, Jumat (24/2). Sejak itu, usahanya semakin maju. Dari semula hanya mempunyai satu pekerja, pada saat puncak kejayaan batik tahun 1975-1990-an pekerjanya membengkak hingga 40 orang. Kemampuan Rochmad menciptakan motif-motif baru membuatnya hingga kini tak takut bersaing. Baginya kreativitas nomor satu. “Sejak tahu kalau batik tulis bisa menyerap banyak tenaga kerja, saya lebih senang membuat batik tulis,” katanya. Kini banyak pembatik yang dulu dipekerjakan Rochmad, beralih profesi menjadi petani atau perajin kayu karena terpuruknya batik tulis. “Kalau saya sedang main ke sana, mereka tanya, kok Bapak nggak bawa kain untuk saya. Mereka masih ingin membatik, sayang tangan terampil mereka tak termanfaatkan,” katanya. Ia tidak semata-mata menyalahkan kehadiran batik printing, melainkan rendahnya etika pengusaha batik printing yang ia sesalkan. “Batik printing sering diberi cap batik tulis sehingga orang awam yang tidak tahu terkecoh dan membeli batik printing yang mereka pikir batik tulis,” keluhnya.
Rochmad dengan dibantu anak keduanya, Siti Nurohmah, (35) kini banting setir membuat batik dalam bentuk pakaian jadi, seperti daster dan busana muslim. Dengan merek Batik Sekar Melati, ia membuka showroom di Sondakan, Laweyan, sedang pengerjaannya di Kauman. Dengan cara itu, ia masih bertahan di dunia batik yang dicintainya. Batik tulis hampir tak pernah dibuatnya lagi karena jarang ada pesanan. “Saya masih semangat berjuang. Saya optimistis batik kembali jaya. Sayangnya umur saya di atas 60 tahun sudah dimatikan bank, tak bisa cari pinjaman. Padahal sekarang jarang ada orang mau beli kontan kain batik tulis, maunya konsinyasi. Kami kesulitan modal,” katanya. Ia berharap batik tulis meraih kembali kejayaannya sehingga perajin batik yang bangkrut atau alih profesi bisa kembali menggeluti batik yang jadi aset budaya bangsa. Pejabat dapat membantu mengangkat kembali batik dengan cara tak malu-malu menggunakan pakaian atau jas batik tulis. “Orang Afrika percaya diri menggunakan kain tradisionalnya, mengapa pejabat kita tak berani memakai jas batik tulis di forum internasional,” katanya. (sri rejeki)
ROCHMAD HUSEN
* Tempat Tanggal Lahir Solo, 3 Agustus 1939
* Pendidikan Terakhir SMP 5 Solo (kelas 2)
* Usaha Batik Sekar Melati
Sumber : Harian Kompas