Archive for February, 2006

Rochmad Husen, Kegelisahan Pembatik Solo

Tuesday, February 28th, 2006

Dalam sebuah perbincangan beberapa waktu lalu di sebuah rumah kuno nan cantik (Roemahku) di Laweyan terungkap, pada tahun 1960-an hampir 90 persen warga Laweyan bekerja sebagai pembatik. Namun pada 1990-an, jumlah itu merosot drastis dan menyisakan 27 perusahaan, terdiri industri dan showroom. Desa Laweyan sejak tahun 1500-an sudah terkenal sebagai pusat perdagangan dengan komoditas utama lawe (benang). Produksi batik tulis dan batik cap sejak 15 tahun terakhir tergeser kehadiran batik printing yang mampu berproduksi massal dalam waktu cepat.

Fenomena ini sebenarnya tak hanya terjadi di Laweyan, tapi juga di sentra batik lain di Solo, seperti di Kauman dan Balong. Salah satu saksi dan pelaku “sejarah runtuhnya batik tulis” adalah Rochmad Husen (66). Rochmad bukan pengusaha besar, tetapi ia punya kisah perjuangan panjang untuk menjadi pengusaha batik. Ia mengawali usahanya dari nol. Saat usia sekolah dasar, keterlibatan Rochmad dengan dunia batik diawali dengan membantu ayahnya yang banyak mendapat pesanan membuat motif batik dari para juragan batik. Dari situ, bakatnya terasah untuk membuat motif-motif baru. Hingga kini, ia masih menyimpan ratusan lembar kertas bergambarkan motif batik yang pernah dibuatnya. Sayangnya, sebagian lembar motif itu mulai dimakan ngengat karena lebih sering tersimpan dalam lemari. Rochmad, tamatan SMP mulai terjun sebagai pengusaha tahun 1965 usai menikah dengan Suparmi (64) yang memberinya dua anak. “Saya berpikir, kenapa tidak saya coba membuat batik sendiri,” kata Rochmad yang usai SMP bekerja sebagai anak buah kapal. Karena keterbatasan modal, Rochmad hanya mampu membuat satu lembar batik selama bulan pertama.

Ia bekerja sama dengan sang istri. Ide motif Rochmad dituangkan ke atas kain oleh istri yang semasa remajanya giat belajar membatik meski dengan mencuri-curi agar tak ketahuan orangtuanya. Kain “coret-coretan” itu ia bawa dengan bersepeda ke pembatik di sebuah desa di Plupuh, Sragen. Hasilnya ia pasarkan sendiri ke sebuah toko batik terkenal “Bawah Sawo” di Coyudan, Solo. “Semula ditolak karena mengira saya mencuri. Masak jual batik kok hanya bawa kain selembar.

Tapi setelah saya yakinkan, lama-lama pemilik toko mau membeli kain batik saya,” kenang Rochmad, Jumat (24/2). Sejak itu, usahanya semakin maju. Dari semula hanya mempunyai satu pekerja, pada saat puncak kejayaan batik tahun 1975-1990-an pekerjanya membengkak hingga 40 orang. Kemampuan Rochmad menciptakan motif-motif baru membuatnya hingga kini tak takut bersaing. Baginya kreativitas nomor satu. “Sejak tahu kalau batik tulis bisa menyerap banyak tenaga kerja, saya lebih senang membuat batik tulis,” katanya. Kini banyak pembatik yang dulu dipekerjakan Rochmad, beralih profesi menjadi petani atau perajin kayu karena terpuruknya batik tulis. “Kalau saya sedang main ke sana, mereka tanya, kok Bapak nggak bawa kain untuk saya. Mereka masih ingin membatik, sayang tangan terampil mereka tak termanfaatkan,” katanya. Ia tidak semata-mata menyalahkan kehadiran batik printing, melainkan rendahnya etika pengusaha batik printing yang ia sesalkan. “Batik printing sering diberi cap batik tulis sehingga orang awam yang tidak tahu terkecoh dan membeli batik printing yang mereka pikir batik tulis,” keluhnya.

Rochmad dengan dibantu anak keduanya, Siti Nurohmah, (35) kini banting setir membuat batik dalam bentuk pakaian jadi, seperti daster dan busana muslim. Dengan merek Batik Sekar Melati, ia membuka showroom di Sondakan, Laweyan, sedang pengerjaannya di Kauman. Dengan cara itu, ia masih bertahan di dunia batik yang dicintainya. Batik tulis hampir tak pernah dibuatnya lagi karena jarang ada pesanan. “Saya masih semangat berjuang. Saya optimistis batik kembali jaya. Sayangnya umur saya di atas 60 tahun sudah dimatikan bank, tak bisa cari pinjaman. Padahal sekarang jarang ada orang mau beli kontan kain batik tulis, maunya konsinyasi. Kami kesulitan modal,” katanya. Ia berharap batik tulis meraih kembali kejayaannya sehingga perajin batik yang bangkrut atau alih profesi bisa kembali menggeluti batik yang jadi aset budaya bangsa. Pejabat dapat membantu mengangkat kembali batik dengan cara tak malu-malu menggunakan pakaian atau jas batik tulis. “Orang Afrika percaya diri menggunakan kain tradisionalnya, mengapa pejabat kita tak berani memakai jas batik tulis di forum internasional,” katanya. (sri rejeki)

ROCHMAD HUSEN
* Tempat Tanggal Lahir Solo, 3 Agustus 1939
* Pendidikan Terakhir SMP 5 Solo (kelas 2)
* Usaha Batik Sekar Melati

Sumber : Harian Kompas

Bazar dan Lelang Batik Sukowati 2006 Ajang Expo Produk Unggulan Sragen

Saturday, February 25th, 2006

Sragen merupakan salah satu penghasil batik di wilayah Surakarta. Namun adakalanya pengrajin batik di Sragen mengalami kesulitan dalam memasarkan hasil produksinya.Menurut Ketua Umum Panitia Bazar dan Lelang Batik Sukowati 2006, Musdiman, SE, MM, hal ini mendorong pemerintah Kabupaten Sragen untuk membantu memasarkan batik tersebut. Maka, kata Musdiman, pemkab Sragen menggelar Bazar dan Lelang Batik Sukowati 2006, di jalan Sukowati sekitar Kantor Pemkab Sragen, dan alun-alun Sasana Langen Putra pada tanggal 24-26 Pebruari 2006.

Bazar dan Lelang Batik Sukowati 2006 dibuka secara resmi oleh Menteri Negara Koperasi dan UKM, Surya Darma Ali, pada hari Jumat (24/2) sore. Musdiman menjelaskan, bazar dan lelang batik ini bertujuan untuk memperkenalkan program “Lelang Batik” sebagai salah satu sarana pemasaran batik. Disamping itu juga menyelenggarakan bazar dalam rangka mempromosikan produk-produk unggulan Kabupaten Sragen. Tujuan lain adalah untuk meningkatkan kecintaan generasi penerus pada budaya membatik, dan beri sarana hiburan dan rekreasi bagi masyarakat Sragen dan sekitarnya. Juga menjalin kemitraan antara pengrajin/pengusaha dan masyarakat di wilayah Subosukawonosraten.

Menurut Musdiman, dalam rangkaian bazar dan lelang batik ini, panitia juga akan menggelar seminar nasional bertema “Potensi Batik dalam Meningkatkan Ekonomi Masyarakat” di ruang kaca rumah dinas bupati Sragen, pada hari Sabtu (25/2). Bertindak sebagai key note speaker dalam seminar yang diikuti 125 orang peserta ini adalah Bupati Sragen H Untung Wiyono dan Rektor UKSW Salatiga. Disamping itu, ada pembicara lain dari Yayasan Batik, Perguruan Tinggi, Eksportir, Balai Penelitian, dan Pengrajin yang sukses. Acara ini juga akan dihadiri oleh Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Departemen Perindustrian RI Sakri Widiyanto.
Bazar rencananya diikuti oleh 70% pengrajin batik dari Sragen dan 30% produk unggulan binaan satker. Namun, kata Musdiman, tidak menutup kemungkinan, diikuti juga oleh pengusaha/pengrajin dari luar daerah Sragen.

Selain kegiatan bazar dan lelang berbagai produk batik dari Sragen dan sekitarnya, menurut Musdiman acara ini juga akan dimeriahkan oleh pentas seni, hiburan campur sari. Hari Sabtu malam, di alun-alun akan diadakan launching album “Pendopo Campursari 2” menampilkan bintang tamu Didi Kempot dan Hj. Rina Iriani, Bupati Karanganyar. Diadakan juga lomba melukis motif batik di atas kain panjang. Selain itu, yang tak kalah menariknya, pada kesempatan yang sama, Paguyuban Tosan Aji (Pasanji) Sragen, akan menggelar pameran pusaka tradisional berupa keris, tombak, pedang, dan sebagainya, lengkap dengan pakar yang akan menjelaskan seluk-beluk benda pusaka tersebut.

Sumber : (Bagian Humas) Sragen News Online

Pengusaha Batik Pekalongan Terpuruk

Saturday, February 25th, 2006

Kalangan pengusaha batik di Kota Pekalongan, kini makin terpuruk menyusul naikknya bahan baku dan biaya produksi batik, sementara situasi pangsa pasar terjadi kelesuan.

Sejumlah pengusaha batik di Kota Pekalongan, Sabtu, mengungkapkan, saat ini usaha batik bisa dikatakan memasuki masa sulit dan situasi ini akan makin parah jika pemerintah jadi menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL).

M Khilmi, salah seorang pengusaha batik mengatakan, saat ini sektor industri batik mengalami kelesuan akibat naikknya harga bahan baku dan obat batik yang mencapai 20 persen, dan situasi pasar lagi sepi.

“Rata-rata dalam setiap bulan, kami hanya bisa menjual hasil produksi batik satu kodi saja, padahal sebelum adanya kenaikkan harga BBM, omzet penjualan batik mencapai puluhan kodi,” kata pengusaha yang setiap harinya berdagang di Pasar Grosir Batik Banjarsari itu.

Akibat adanya penurunan penjualan batik di Kota Pekalongan, lanjutnya, kini sebagian besar pedagang dan pengusaha batik menjual produksinya ke luar daerah seperti Kota Yogyakarta, Padang (Sumatra Barat), Solo, dan Jakarta.

“Dalam kondisi seperti sat ini, kami harus pandai mencari peluang untuk menjual barang dagangannya, apabila tidak ingin gulung tikar,” ujarnya.

Rohmatika, salah pengusaha batiik lainnya, mengungkapkan, bahwa saat ini pihaknya tidak berani spekulasi memproduksi batik dalam jumlah yang besar sebab takut merugi.

“Naiknya harga bahan baku, dan biaya produski serta obat batik memang sangat memukul kalangan pengusaha batik sehingga kami menurunkan produski batik,” katanya.

Sekretaris Assosiasi Eksportir, Produsen Kerajinan Tangan Batik dan Tenun BPC Kota Pekalongan, Arif Wicaksono mengakui, akibat adanya kenaikkan harga BBM dan rencana kenaikkan tarif dasar listrik akan memicu terpuruknya pengusaha batik lokal di Kota Pekalongan.

Sumber (*) Antara News

Pembatik Tegal Khawatir tak memiliki Penerus

Thursday, February 23rd, 2006

Sejumlah perajin batik Tegalan di Kota Tegal mengaku khawatir tidak memiliki penerus yang bersedia menjadi pembatik tulis, Rabu (22/2). Saat ini banyak anak muda yang memilih merantau ke Jakarta setelah lulus sekolah, daripada menjadi tenaga pembatik di kampung. Padahal saat ini pesanan batik Tegalan semakin meningkat, seiring semakin dikenalnya jenis batik tersebut di pasaran. Oleh karena itu, mereka berharap ada pelatihan batik Tegalan untuk generasi muda, termasuk di lingkungan anak-anak sekolah.

Sentra batik Tegalan di Kota Tegal terdapat di Kelurahan Kalinyamat, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal. Salah seorang pembatik di Kalinyamat, Korilah, menuturkan, tenaga pembatik yang ada saat ini sekitar 100 orang, dan hampir semuanya ibu rumah tangga.

Rata-rata satu lembar kain batik tulis bisa diselesaikan oleh satu pembatik dalam waktu satu minggu. Dengan demikian, produksi yang dihasilkan pun terbatas. Padahal, pesanan kain batik terus meningkat. Diungkapkan Korilah, dalam sebulan ia bisa mendapatkan pesanan kain batik 30-50 lembar. Kain batik itu dijual Rp 90.000-Rp 200.000 per lembar.

Motif batik Tegalan yang dijual di antaranya kawung, cempaka putih, beras mawur, benang pedhot, mayang jambe, dan grandil. Dengan empat tenaga kerja yang dimiliki, ia masih kesulitan untuk memenuhi pesanan tersebut. Untuk mencari tenaga baru, ia mengalami kesulitan karena tidak banyak anak muda yang bersedia menjadi pembatik. Selain karena lama dan butuh ketelitian, keengganan mereka diperkirakan akibat pekerjaan sebagai pembatik dinilai tidak memiliki gengsi.

Pelarian Pembatik lainnya, Muniroh, mengatakan, profesi pembatik selama ini dijadikan sebagai pelarian. “Saat perempuan menikah dan tidak memiliki pekerjaan, barulah mereka bersedia menjadi tenaga pembatik. Atau pedagang warteg yang gagal di Jakarta, mereka pulang dan bersedia menjadi pembatik,” ujarnya. Oleh karena itu, dengan adanya pelatihan dan pengenalan batik kepada generasi muda, termasuk pelajar, diharapkan mereka akan tergerak untuk ikut menggelutinya. Selain itu, upaya tersebut juga bisa dilakukan melalui pameran- pameran. Dengan pameran yang aktif, batik Tegalan akan semakin dikenal sehingga memiliki nilai gengsi yang tinggi.

Sumber : (WIE) Kompas Cetak, Tegal

Industry Batik Yogyakarta Cenderung Merosot

Wednesday, February 22nd, 2006

Tidak Inovatif, Kalah Bersaing dengan Pekalongan dan Solo

Yogyakarta, Kompas - Kinerja industri batik di Kota Yogyakarta dan sekitarnya saat ini semakin merosot dan kalah bersaing dengan batik Pekalongan, Solo, maupun Cirebon. Bahkan, diperkirakan dari sekitar 1.200 unit usaha batik yang ada di awal 1970-an, saat ini tinggal 15-30 persen, atau maksimal 400 buah saja yang bertahan.

“Apa mau dikata, dewasa ini industri batik di Yogya memang terus saja terpuruk. Banyak yang kolaps, gulung tikar, dan berganti jenis usaha lain. Para pengusaha yang masih bertahan juga bingung mau berbuat apa,” kata H Rusmanto Widigdonarpodo, Ketua Koperasi Batik Persatuan Pengusaha Batik Indonesia (Kobat PPBI) Yogyakarta, di Yogyakarta, Selasa (21/2).

Gejala merosotnya industri batik itu tampaknya juga terjadi di kabupaten lain di DIY. Menurut data Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) DIY, jumlah industri batik tulis di Gunung Kidul tahun 2003-2004, misalnya, berkurang drastis dari 107 menjadi delapan buah saja. Hal itu memengaruhi jumlah tenaga kerja maupun nilai produksi di kabupaten tersebut.

Rusmanto mengungkapkan, dari 116 anggota koperasinya, tercatat hanya tinggal 16 orang saja yang masih bertahan di industri batik. Lebih parah lagi, ia menegaskan bahwa dari 16 orang itu, yang benar-benar masih punya idealisme untuk tetap bertahan dan mengembangkan batik Yogya hanya tinggal lima orang saja. Lainnya sudah berancang-ancang beralih usahanya, mengikuti rekan mereka lainnya. Ada yang mengelola hotel melati, restoran, maupun jadi pedagang.

Pengakuan senada diungkapkan Budi Susanto, pengurus Kobat Tamtama Yogyakarta. Ia mengungkapkan, saat ini lebih dari 70 persen dari 132 anggota koperasinya tidak lagi jadi usahawan batik. “Batik Yogya tidak inovatif, dan melulu hanya pada kain jarit. Pengusaha Yogya merasa kesulitan mengejar kemajuan batik Pekalongan maupun Solo, yang sangat progresif,” kata Budi.

Ny Harni, pemilik Harni Batik Prada & Hand Made, mengaku batik tradisional makin terpuruk karena kalah bersaing dengan batik printing. Namun, di sisi lain, penggemar batik tradisional itu tetap ada, sehingga dirinya tetap mengembangkannya. Menurut Ny Indah Rahayu Indra, dari Rizki Ayu House of Batik, produksi batik corak Yogya tidak bisa sebanyak dulu karena keterbatasan sumber daya manusia, khususnya pembatiknya.

Hal itu patut disayangkan, karena dari sisi konsumen, sebenarnya penggemar batik makin meningkat. Dari sisi desain, pihaknya mulai mengombinasikan batik Yogya dengan motif lain, sehingga tetap diminati.

Batik kayu dan sandal

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Kota Yogya yang juga pengusaha batik, Dyah Suminar, mengimbau para pengusaha batik di Yogya untuk memassalkan pembuatan batik cap sehingga mampu bersaing dengan batik daerah lain. Ia juga minta pengusaha tidak terpatok pada produk tekstil, khususnya jarit, dan berupaya menghasilkan produk batik dengan media lain, misalnya batik kayu, hiasan, dan peralatan rumah tangga. Upaya itu sudah dilakukan oleh beberapa usahawan batik di DIY. Untuk lebih memopulerkan, ia minta pemerintah daerah turut ikut aktif membantu sosialisasi.

Sumber : (BEN) Harian Kompas, Yogya

Indikator “Kompas” : Drastis, Penurunan Jumlah Industri Batik di DIY

Wednesday, February 22nd, 2006

Dalam kurun waktu satu tahun, yaitu antara 2003-2004, jumlah industri kecil dan menengah batik di Provinsi DIY menurun drastis. Jumlah unit usaha batik berkurang hingga separuh, dari semula 228 unit (2003), tinggal tersisa 114 unit setahun berikutnya.

Penyerapan tenaga kerja di lapangan usaha ini pun menyusut lebih dari 21 persen, dari 945 orang (2003) menjadi 742 orang (2004). Pengusaha industri batik pun sangat merugi, karena nilai produksinya merosot hingga 52 persen lebih. Tahun 2004, nilai produksi industri ini tinggal Rp 3,32 miliar. Padahal, setahun sebelumnya mencapai Rp 6,99 miliar.

Penurunan jumlah sentra industri batik terjadi di Kulon Progo dan Bantul. Di setiap kabupaten itu sebelumnya ada tiga sentra batik (2003). Tetapi, tahun 2004 sentra batik yang masih hidup di setiap kabupaten tinggal dua unit. Industri batik di Gunung Kidul paling terpukul, sebab jumlah unit usaha batiknya dalam satu tahun berkurang hingga lebih dari 92 persen (lihat Grafis 1).

Berdasarkan data Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Provinsi DIY, ekspor batik DIY juga berkurang drastis. Antara 2004-2005, volume ekspor batik ke mancanegara menurun hingga 80 persen lebih. Tahun 2004, volumenya mencapai 0,086 juta kilogram (kg). Tetapi, setahun kemudian volume ekspor batik turun hingga tinggal 0,017 juta kg.

Hal serupa terjadi pada nilai ekspor batik, yang merosot hingga 83,85 persen (lihat Grafis 2). Selain masalah perebutan pasar batik dengan pengusaha dari Pekalongan dan Solo, industri batik DIY juga menghadapi kendala internal. Penurunan jumlah industri batik DIY ditengarai merupakan dampak berkembangnya industri pariwisata di provinsi ini. Pengusaha batik banyak yang memilih beralih usaha ke bisnis yang mendukung industri pariwisata, seperti perhotelan dan jasa layanan komunikasi.

Sumber : (Nurul Fatchiati / Litbang Kompas) Harian Kompas

Industri Batik Yogyakarta Cenderung Merosot

Wednesday, February 22nd, 2006

Tidak Inovatif, Kalah Bersaing dengan Pekalongan dan Solo

Yogyakarta, Kompas - Kinerja industri batik di Kota Yogyakarta dan sekitarnya saat ini semakin merosot dan kalah bersaing dengan batik Pekalongan, Solo, maupun Cirebon. Bahkan, diperkirakan dari sekitar 1.200 unit usaha batik yang ada di awal 1970-an, saat ini tinggal 15-30 persen, atau maksimal 400 buah saja yang bertahan.

“Apa mau dikata, dewasa ini industri batik di Yogya memang terus saja terpuruk. Banyak yang kolaps, gulung tikar, dan berganti jenis usaha lain. Para pengusaha yang masih bertahan juga bingung mau berbuat apa,” kata H Rusmanto Widigdonarpodo, Ketua Koperasi Batik Persatuan Pengusaha Batik Indonesia (Kobat PPBI) Yogyakarta, di Yogyakarta, Selasa (21/2).

Gejala merosotnya industri batik itu tampaknya juga terjadi di kabupaten lain di DIY. Menurut data Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) DIY, jumlah industri batik tulis di Gunung Kidul tahun 2003-2004, misalnya, berkurang drastis dari 107 menjadi delapan buah saja. Hal itu memengaruhi jumlah tenaga kerja maupun nilai produksi di kabupaten tersebut.

Rusmanto mengungkapkan, dari 116 anggota koperasinya, tercatat hanya tinggal 16 orang saja yang masih bertahan di industri batik. Lebih parah lagi, ia menegaskan bahwa dari 16 orang itu, yang benar-benar masih punya idealisme untuk tetap bertahan dan mengembangkan batik Yogya hanya tinggal lima orang saja. Lainnya sudah berancang-ancang beralih usahanya, mengikuti rekan mereka lainnya. Ada yang mengelola hotel melati, restoran, maupun jadi pedagang.

Pengakuan senada diungkapkan Budi Susanto, pengurus Kobat Tamtama Yogyakarta. Ia mengungkapkan, saat ini lebih dari 70 persen dari 132 anggota koperasinya tidak lagi jadi usahawan batik. “Batik Yogya tidak inovatif, dan melulu hanya pada kain jarit. Pengusaha Yogya merasa kesulitan mengejar kemajuan batik Pekalongan maupun Solo, yang sangat progresif,” kata Budi.

Ny Harni, pemilik Harni Batik Prada & Hand Made, mengaku batik tradisional makin terpuruk karena kalah bersaing dengan batik printing. Namun, di sisi lain, penggemar batik tradisional itu tetap ada, sehingga dirinya tetap mengembangkannya. Menurut Ny Indah Rahayu Indra, dari Rizki Ayu House of Batik, produksi batik corak Yogya tidak bisa sebanyak dulu karena keterbatasan sumber daya manusia, khususnya pembatiknya.

Hal itu patut disayangkan, karena dari sisi konsumen, sebenarnya penggemar batik makin meningkat. Dari sisi desain, pihaknya mulai mengombinasikan batik Yogya dengan motif lain, sehingga tetap diminati.

Batik kayu dan sandal

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Kota Yogya yang juga pengusaha batik, Dyah Suminar, mengimbau para pengusaha batik di Yogya untuk memassalkan pembuatan batik cap sehingga mampu bersaing dengan batik daerah lain. Ia juga minta pengusaha tidak terpatok pada produk tekstil, khususnya jarit, dan berupaya menghasilkan produk batik dengan media lain, misalnya batik kayu, hiasan, dan peralatan rumah tangga. Upaya itu sudah dilakukan oleh beberapa usahawan batik di DIY. Untuk lebih memopulerkan, ia minta pemerintah daerah turut ikut aktif membantu sosialisasi.

Sumber : (BEN) Kompas Cetak

PUSRI Gelar Pelatihan Batik

Tuesday, February 21st, 2006

Wujud kepedulian kepada masyarakat lingkungan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) mengadakan pelatihan pelatihan batik cap bordir aplikasi payet serta pelatihan komputer bagi warga Kelurahan 1 Ilir, 3 Ilir, Sei Buah, dan Sei Selayur. Pelatihan yang digelar selama satu minggu ini (khusus pelatihan batik cap bordir) dibuka secara resmi oleh Direktur SDM dan Umum Djafarudin Lexy Sonata SE MM.
Turut hadir dalam pembukaan pelatihan, Manajer Kemitraan Usaha Kecil (KUK) dan Bina Wilayah Ir Bambang Subiyanto, Asisten Humas H Yunani dan Ganeral Manager SDM dan Umum Ir Herman Anwar, Camat IT II dan Kalidoni, serta Kepala Disperindag diwakili Ir Nurjana, Kasi Pengelolaan Hasil Hutan.
Djafarudin Lexy mengatakan, setiap tahunnya Pusri dibawa Departemen KUK dan Bina wilayah selalu mengadakan kegiatan yang sifatnya sosial dan pembinaan. Seperti halnya hari ini yakni pelatihan batik cap bordir khusus untuk ibu-ibu dan pelatihan komputer untuk remaja.
’’Pelatihan ini dapat terlaksana terus jika perusahaan kita memperoleh laba. Karena setiap pelatihan dan bidang-bidang lainnya diperoleh dari laba perusahaan. Yang mana besarnya laba yang diambil yakni satu persen dari laba perusahaan setelah dipotong pajak,’’ tuturnya,
Nah, jika perusahan merugi, lanjut Djafarudin maka pembinaan kepada warga tidak akan terwujud. Karena, itu bantu Pusri agar tetapandal dan sukses menjalankan perusahaan, karena Pusri ini milik warga. ’’Kami mohon suport dan restunya, Dengan begitu ke depan kita akan lebih banyak lagi menjalankan kegiatan seperti ini,’’ cetusnya.
Sementara itu, Manajer Kemintraan Usaha Kecil (KUK) dan Bina Wilayah Ir Bambang Subiyanto menjelaskan, pelatihan ini bertujuan agar peserta mampu mengetahui bagaimana cara membatik dan mengoperasikan komputer. Selain itu dengan pelatihan ini mereka dapat bersaing mencari pekerjaan.
”Selain mendapatkan terori mereka juga kita beri pelatihan praktik. Setelah itu per kelurahan dalam hal ini empat kelurahan khusus batik akan diberi peralatan bati cap bordir. Ini dimaksudkan agar mereka bisa mencipatkan lapangan pekerjaan dan menambah income,’’ jelasnya.

Sumber : Mayor Zein (25) Sumatera Ekpres Online

Batik Pajimatan Lestarikan Motif Kuno

Monday, February 20th, 2006

Meski ke-naikan harga BBM menyebabkan naiknya harga beberapa bahan baku batik tulis tradi- sional, perajin batik di Pajimatan, Imogiri, Bantul, tak bisa menaikkan harga jual. Sebab dikhawatirkan justru akan berakibat semakin terpuruk-nya kondisi pemasaran. Sementara pangsa pasar batik tulis tradisional produk Pajimatan selain melayani lokal DIY namun juga pasar Jepang.

Menurut Ny Sarjuni, penerus empu batik Imogiri R Ngt Ny Jogopertiwi, didampingi Waskito (cucu R Ngt Jogopertiwi, sejak naiknya harga BBM harga kain mori dan lilin (malam) juga ikut melambung. “Jika sebelumnya harga kain hanya Rp 23 ribu per lembar, namun saat ini mencapai Rp 27 ribu/lembar. Demikian juga harga lilin yang semula hanya Rp 6.500/kg saat ini naik menjadi Rp 8.250/kg,” kata Waskito.

Sementara harga jual produk batik tulis tetap bertahan pada kisaran Rp 150 ribu/lembar hingga Rp 350 ribu lembar. Harga tersebut ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya motif dan pewarnaan. Sebab untuk menyelesaikan selembar kain batik tulis tradisional de-ngan motif tertentu membutuhkan waktu cukup lama atau bisa mencapai 2 bulan.

Motif kuno yang masih dipertahankan oleh Ny Sarjuni diantaranya babon angrem, mendut, wahyu tumurun, pisang bali, Irian dan sebagainya. Motif tersebut sangat digemari oleh warga Jepang sehingga ketika mereka datang motif-motif kuno akan laku terjual. “Di Jepang, batik dibuat kimono dan di sana memang ada toko khusus yang menjual batik asal Pajimatan,” kata Ny Sarjuni, sambil menambahkan selain kain, batik tulis yang diproduksi Ny Sarjuni adalah bahan untuk blangkon, taplak meja dengan berbagai motif.

Produksi batik tulis tradisional Pajimatan atau yang lebih dikenal sebagai batik Mbak Jogopertiwi, juga menjadi langganan beberapa pejabat. Sedangkan untuk pasaran lokal DIY, lebih banyak dijual di to-ko-toko batik terkenal. Seperti diketahui R Ngt Jogopertiwi pernah memperoleh penghargaan upakarti dari Presiden RI pada tahun 1992 ‘Jasa Pengabdian’ dari departemen Perin-dustrian RI.

Sumber : (Can)-c KR, Bantul