- Paina Hartono -
Warna alami pada batik tulis kurang cerah dibanding dengan batik yang menggunakan pewarna khusus kain. Kendati demikian, konsumen batik tulis warna alam ini tak pernah surut, bahkan mereka datang dari Jepang dan Malaysia, berburu batik sampai ke Dusun Kenongo, Desa Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur.
Paina Hartono (44) yang menggeluti usaha batik tulis warna alam sejak tahun 1997 ini pun relatif tak pernah sepi pesanan. Pembeli dari Jepang, misalnya, dalam setahun minimal empat kali memesan batik yang motif dan warnanya berubah-ubah, sesuai dengan selera konsumen di negeri tersebut.
Kalau batik tulis biasanya menonjolkan corak tradisional, maka Paina melahirkan corak batik tanpa tema tertentu atau menunjukkan ciri khas daerah pembuatnya.
”Kalau corak batik hanya tergantung pakem, ya repot. Konsumen batik tulis kan diasumsikan kalangan berduit, permintaannya beragam, motif maupun warnanya,” kata ibu tiga putri ini.
Awalnya apa yang dilakukan Paina mendapat sorotan dari ”pemain” lama karena batik tulis produknya dianggap melenceng dari pakem batik. Hal itu tak membuat perempuan yang pernah menjadi pembatik di perusahaan batik tulis di Sidoarjo itu berhenti. Modal terbatas tetap membuat Paina bisa menghasilkan batik tulis warna alam berciri khas bunga sirih.
Dari dua lembar batik tulis pada tahun 1990-an itu, kini usahanya membukukan omzet puluhan juta rupiah per bulan. Pemesan dan pembeli biasanya langsung datang ke Tulangan karena Paina tak buka toko di tempat lain, kecuali menitipkan sebagian produknya di sebuah toko kerajinan di Surabaya.
”Promosi dari mulut ke mulut tentang batik tulis buatan saya mengundang konsumen baru. Meningkatnya pesanan memaksa saya menjual sepeda motor. Uang Rp 7,8 juta itu saya pakai untuk membeli bahan baku batik pesanan,” ujar pemilik usaha batik tulis halus warna alami ini.
Semakin banyak pesanan membuat Paina bisa melibatkan para perajin yang tinggal di desa sekitarnya. Di antaranya di Desa Patihan, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo, yang terletak sekitar 26 kilometer selatan Surabaya. Desa ini kemudian tumbuh sebagai ”desa batik” baru karena hampir seluruh ibu rumah tangga dan remaja di kampung ini bekerja sebagai pembatik.
Sekarang, jumlah pembatik di Desa Patihan dan Desa Kenongo sekitar 700 orang. Paina bercerita, ketika krisis moneter terjadi dan banyak orang menganggur karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), mereka diajak mengisi waktu dengan membatik.
”Saya ingin orang tahu bahwa kerja membatik itu lebih mengasyikkan daripada kerja di pabrik. Mereka bisa mengerjakannya di rumah, bayarannya pun lumayan. Untuk pembatikan satu lembar kain ukuran empat meter, bisa dapat Rp 50.000,” kata Paina yang kini melibatkan 150 orang perajin.
Namun, Paina tak mengelak adanya anggapan bahwa membatik kurang menguntungkan. ”Sewaktu saya masih membatik ikut orang, saya digaji Rp 40.000 per bulan, tanpa melihat berapa potong batik yang sudah saya selesaikan. Mungkin keadaan seperti ini yang membuat orang jadi enggan kerja membatik,” ujar Paina yang ruang pamer produknya berlokasi di Jalan Raya Kenongo Timur, Tulangan, Sidoarjo.
Eksklusif
Menggeluti usaha batik tulis warna alam, disadari Paina tak bisa berkembang dengan cepat. Pasalnya, tak semua kalangan berminat pada batik tulis warna alam.
”Orang Jawa Timur, misalnya, tidak tertarik batik tulis warna alam karena dinilai kurang ngejreng. Jadi, konsumen batik tulis warna alam justru orang dari luar provinsi, mereka memburu keeksklusifan batik tulis ini,” ujarnya.
Untuk mempertahankan kualitas warna alam pada batik tulis, Paina mengikuti langsung semua proses pembuatan batik, mulai dari melukis motif atau corak, mewarnai, termasuk membatik.
Pewarnaan dia lakukan dengan memanfaatkan berbagai tumbuhan, antara lain pohon mangga (semua bagian bisa dipakai untuk pewarna), mahoni, kembang sepatu dan akar mengkudu.
”Semua tumbuhan itu bisa dipakai untuk pewarnaan dengan cara merebus dan warna batik akan tetap awet,” ujarnya.
Paina pernah memesan gambar corak batik pada orang lain, namun dia ternyata kesulitan mencocokkan warna dengan motif tersebut. Oleh karena itulah, Paina lebih suka menggambar sendiri corak batiknya.
”Kalau saya yang membuat motif, warna pun otomatis muncul sehingga hasilnya memuaskan,” kata Paina yang juga kerap mendapat pesanan batik bermotif logo perusahaan, organisasi, dan partai politik.
Selain menggambar sendiri motif batik, Paina juga menerima pesanan batik tulis dengan motif yang dibawa si pemesan.
”Saya terima motif apa saja, mau motif bunga yang merunduk atau tegak, diberi nama, atau hiasan lain pun bisa,” katanya.
Motif yang fleksibel untuk batik, bagi Paina, justru membuatnya lebih kreatif. ”Saya tidak terikat pakem bahwa motif batik harus begini-begitu. Yang saya pegang, satu desain hanya dipakai maksimal untuk dua kain, memang sangat eksklusif,” katanya. Harga kain batik tulis produknya berkisar dari Rp 250.000 sampai Rp 2 juta per lembar.
Untuk membuat satu kain batik ukuran 250 x 85 sentimeter, dia memerlukan waktu satu minggu sampai sebulan, tergantung pada motif masing-masing kain. Bahkan pada pembuatan batik tulis sutra yang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM), dengan motif relatif rumit, dan warna yang sulit muncul, memerlukan waktu pembuatan sampai tiga bulan.
Sumber : (Agnes Swetta Pandia)
Kompas cetak, Jakarta