Archive for January, 2006

Apresiasi Seni dalam Pekan Budaya Tinghoa Jogja

Monday, January 23rd, 2006

 ========
Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta
Tanggal : 27 - 31 Januari 2006
Tempat : Klenteng Fuk Ling Miao Gondomanan, Hotel Melia Purosani, Akindo dan di sepanjang Jalan Ketandan Wetan - Yogyakata
========

Perayaan Tahun Baru Cina 2557 yang jatuh pada 29 Januari 2006 di Jogja kali ini sedikit berbeda dibanding tahun-tahun lalu. Imlek akan disemarakkan dengan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta yang digelar oleh organisasi masyarakat Tionghoa Jogja bekerjasama dengan Pusat Kajian Makanan Tradisional UGM dan Pemerintah Kota Jogja. Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta akan digelar 27 - 31 Januari 2006 di Klenteng Fuk Ling Miao Gondomanan, Hotel Melia Purosani, Akindo dan di sepanjang Jalan Ketandan Wetan.

Sebanyak 25 kelompok seni akan memeriahkan acara Pekan Budaya Tionghoa ini dengan berbagai macam atraksi dan kesenian tradisional tionghoa. Acara ini merupakan wujud apresiasi terhadap atraksi seni tradisi masyarakat Cina yang saat ini sudah hampir luntur. Selain itu juga sebagai upaya pelaksaan kawasan pedestrian Malioboro dengan mengikutkan kawasan Ketandan dalam lokasi acara.

Agenda acara keseluruhan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta berupa pembukaan, pemeran foto sejarah, lukisan, peragaan busana, pameran dan lomba makanan khas Tionghoa Jogja. Namun tak hanya itu, pengunjung pun dapat menikmati pertunjukan-pertunjukan khas Tionghoa, lomba dan pameran lampion, pameran kebaya dan batik serta ramalan dan Feng Shui. Pembukaan Pekan Budaya Tionghoa akan bertempat di Klenteng Fuk Ling Miao Gondomanan tanggal 27 Januari pukul 16.00 WIB dengan atraksi Liong Samsi Hoo Hap Hwe Perkumpulan Budi Abadi.

Kampus Akindo Ketandan sebagai lokasi kedua perayaan Pekan Budaya Tionghoa Jogja akan diisi dengan pertunjukan wayang Potehi, wushu, cokekan dan ketoprak pembauran. Acara dilanjutkan dengan pesta lampion, stand ramalan, bazaar makanan dan pameran kebaya di kampung Pecinan Ketandan Wetan. Khusus pada tanggal 29 Januari akan diselenggarakan Festival Makanan Tionghoa bertempat di hotel Melia Purosani. Panitia saat ini masih membuka kesempatan bagi masyarakat dan kelompok seni lain yang ingin ikut ambil bagian dalam acara ini. Pengunjung dan peminat Pekan Budaya Tionghoa dapat memperoleh informasi lebih lanjut di Klenteng Fuk Ling Miao jalan Brigjen Katamso Gondomanan.

Sumber : (fit) TrulyJogja

Mantan Kernet Bus yang Pengusaha Batik

Monday, January 23rd, 2006

Kegetiran hidup tak menyurutkan perjuangan Naomi Susilowati Setiono (46) dalam menjalani kesehariannya. Dengan berapi-api, wanita sederhana ini menuturkan kisah hidupnya yang diawali sebagai tukang cuci baju, pemotong batang rokok, kernet bus antarkota, dan akhirnya menjadi pengusaha serta perajin batik lasem.

Semua ini karena kebaikan Tuhan, ujarnya mensyukuri perbaikan hidup yang dialaminya. Meski bukan pengusaha batik nomor wahid di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, perempuan peranakan Tionghoa ini sangat terkenal di dunia perbatikan, khususnya batik lasem.

Hingga tak heran, rekan-rekannya memintanya untuk menjadi ketua cluster batik lasem, yang hingga kini belum diberi nama. Dalam waktu dekat, cluster ini akan dinamai menjadi semacam asosiasi perajin/pengusaha batik lasem.

Jenis batik lasem (atau laseman) yang perkembangannya jauh tertinggal dibanding batik solo dan yogya ini terus digeluti, meski masih menggunakan peralatan tradisional. Naomi yang memimpin Batik Tulis Tradisional Laseman Maranatha di Jalan Karangturi I/I Lasem, Rembang, ini mengerahkan 30 perajin guna mendukung usahanya.

Selain mengemban status single parent, Naomi terkenal aktif sebagai pendeta di gereja setempat. Bahkan, akhir-akhir ini ia disibukkan dengan mengisi seminar maupun pemaparan ke berbagai instansi mengenai seluk-beluk batik lasem.

Ia juga tengah merintis pengaderan perajin batik ke sekolah-sekolah secara gratis. Kalau tidak kami sendiri yang mengader, siapa lagi? Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, ujarnya.

Naomi mengaku pernah melontarkan gagasannya kepada Bupati Rembang Hendarsono (saat itu) untuk menyisipkan cara membatik ke dalam pelajaran muatan lokal. Sayangnya, ide ini tak ditanggapi dan dianggap tidak bisa berhasil.

Akhirnya, ia langsung turun ke sekolah-sekolah untuk menyampaikan gagasannya itu. Kini, ia masih menunggu tanggapan dari sekolah-sekolah. Jika masalah tempat, saya bisa meminjam balai desa, tak perlu keluar uang, ujarnya.

Meski sangat sibuk, produktivitasnya tak berubah. Setiap bulan Naomi dan rekan-rekan pekerja di tempatnya menghasilkan rata-rata 150 potong batik tulis. Batik-batik bermotif akulturasi budaya Cina dan Jawa ini dikirim ke berbagai daerah, seperti Serang (Banten), Medan (Sumut), dan Surabaya (Jatim).

Naomi menjelaskan, usaha batik yang digeluti sejak tahun 1990 ini merupakan limpahan dari orangtua. Namun, ia tidak semata-mata menerima begitu saja.

Pada tahun 1980, lulusan Sekolah Menengah Apoteker Theresiana Semarang ini mendapatkan masalah sehingga dikucilkan dari keluarga yang saat itu terpandang di wilayahnya. Ditolak dari keluarga yang telah mengasuhnya 21 tahun itu mau tak mau harus diterimanya. Ia pun pindah ke Kabupaten Kudus.

Di tempat ini ia menyingsingkan lengan baju dan bekerja sebagai pencuci pakaian. Tergiur penghasilan yang lebih tinggi, ia pindah sebagai buruh pemotong batang rokok di Pabrik Djarum Kudus.

Karena kurang cekatan, ia hanya mendapatkan penghasilan yang sedikit, Rp 375 per hari. Padahal teman-teman dapat memotong rokok berkarung-karung, bisa mendapat uang Rp 2.000-an, ujar lulusan Sekolah Tinggi Theologia Lawang, Jatim, ini.

Ia hengkang dan berpindah sebagai kernet bus Semarang-Lasem. Singkat cerita, orangtuanya memintanya kembali ke Lasem. Itu pun dengan berbagai cemooh. Saya ditempatkan di bawah pembantu. Mau minta air dan makan ke pembantu. Saya juga tidak boleh memasuki rumah besar, ujarnya.

Perlakuan ini ia terima dengan lapang dada. Sedikit demi sedikit ia mempelajari cara pembuatan batik lasem. Mulai dari desain, memegang canting, melapisi kain dengan malam, hingga memberi pewarnaan diperhatikannya dengan saksama.

Hingga suatu hari, tahun 1990, orangtuanya memutuskan tinggal dengan adik-adiknya di Jakarta. Usaha batik tidak ada yang meneruskan. Dari titik inilah Naomi dipercaya untuk melanjutkan usaha batik warisan turun-temurun ini.

Kesempatan ini digunakan Naomi untuk mengubah sistem dan aturan main bagi pekerjanya. Ia memberi kesempatan kepada perajin untuk menunaikan ibadah shalat. Sesuai kewajiban yang ingin mereka jalankan, saya memberikannya. Ini salah satu sistem baru yang saya terapkan, ujarnya yang pernah bercita-cita sebagai arkeolog.

Suasana kerja juga bukan lagi atasan dan bawahan. Ia menganggap perajin adalah rekan usaha yang sama-sama membutuhkan dan menguntungkan. Jika siang hari turun tangan dalam memproses batik, malam hari digunakannya untuk membuat desain.

Hingga kini, ibu dari Priskila Renny (23) dan Gabriel Alvin Prianto (17) ini masih tetap eksis di dunia perbatikan. Perlahan namun pasti, batik lasem mulai menggeliat dan dilirik kembali oleh para pencinta batik, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Sumber : (Ichwan Susanto) Harian Kompas

Agar Warna Tak Cepat Pudar

Sunday, January 22nd, 2006

— Ini mengingat warna alam pada batik tulis tersebut sama sekali tidak menggunakan zat-zat kimia dalam pewarnaan.

— Kain batik tulis yang pewarnaannya menggunakan hasil rebusan dari berbagai tumbuhan, terutama dari bagian kulit pohon, akar dan daun itu memang memerlukan penanganan khusus. Di sini untuk warna hijau pada motif batik, misalnya, digunakan warna hasil rebusan daun mangga, adapun akar mengkudu menghasilkan warna merah muda.

— Untuk merawat kain batik tulis dengan pewarna alami, caranya antara lain:

* Mencuci kain batik dengan menggunakan sampo rambut. Sebelumnya, larutkan dulu sampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru kain batik dicelupkan.

* Anda juga bisa menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang dijual di pasaran.

* Kain batik tulis jangan dicuci dengan menggunakan mesin cuci. Cara mencuci kain batik seperti ini akan membuat warna alami kain batik tak bertahan lama.

* Sebaiknya Anda juga tidak menjemur kain batik tulis berpewarna alami di bawah sinar matahari langsung.

* Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan koran, baru semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain.

* Masih dengan koran menutupi kain, Anda bisa menyetrika kain batik berpewarna alami tersebut. Jangan menyetrika langsung pada kainnya karena ini bisa memengaruhi warna motifnya.

* Anda sebaiknya juga tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik sutera berpewarna alami.

Sumber : (ETA) Kompas cetak, Jakarta

Batik Tulis yang Melenceng dari Pakem

Sunday, January 22nd, 2006

- Paina Hartono -

Warna alami pada batik tulis kurang cerah dibanding dengan batik yang menggunakan pewarna khusus kain. Kendati demikian, konsumen batik tulis warna alam ini tak pernah surut, bahkan mereka datang dari Jepang dan Malaysia, berburu batik sampai ke Dusun Kenongo, Desa Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur.

Paina Hartono (44) yang menggeluti usaha batik tulis warna alam sejak tahun 1997 ini pun relatif tak pernah sepi pesanan. Pembeli dari Jepang, misalnya, dalam setahun minimal empat kali memesan batik yang motif dan warnanya berubah-ubah, sesuai dengan selera konsumen di negeri tersebut.

Kalau batik tulis biasanya menonjolkan corak tradisional, maka Paina melahirkan corak batik tanpa tema tertentu atau menunjukkan ciri khas daerah pembuatnya.

”Kalau corak batik hanya tergantung pakem, ya repot. Konsumen batik tulis kan diasumsikan kalangan berduit, permintaannya beragam, motif maupun warnanya,” kata ibu tiga putri ini.

Awalnya apa yang dilakukan Paina mendapat sorotan dari ”pemain” lama karena batik tulis produknya dianggap melenceng dari pakem batik. Hal itu tak membuat perempuan yang pernah menjadi pembatik di perusahaan batik tulis di Sidoarjo itu berhenti. Modal terbatas tetap membuat Paina bisa menghasilkan batik tulis warna alam berciri khas bunga sirih.

Dari dua lembar batik tulis pada tahun 1990-an itu, kini usahanya membukukan omzet puluhan juta rupiah per bulan. Pemesan dan pembeli biasanya langsung datang ke Tulangan karena Paina tak buka toko di tempat lain, kecuali menitipkan sebagian produknya di sebuah toko kerajinan di Surabaya.

”Promosi dari mulut ke mulut tentang batik tulis buatan saya mengundang konsumen baru. Meningkatnya pesanan memaksa saya menjual sepeda motor. Uang Rp 7,8 juta itu saya pakai untuk membeli bahan baku batik pesanan,” ujar pemilik usaha batik tulis halus warna alami ini.

Semakin banyak pesanan membuat Paina bisa melibatkan para perajin yang tinggal di desa sekitarnya. Di antaranya di Desa Patihan, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo, yang terletak sekitar 26 kilometer selatan Surabaya. Desa ini kemudian tumbuh sebagai ”desa batik” baru karena hampir seluruh ibu rumah tangga dan remaja di kampung ini bekerja sebagai pembatik.

Sekarang, jumlah pembatik di Desa Patihan dan Desa Kenongo sekitar 700 orang. Paina bercerita, ketika krisis moneter terjadi dan banyak orang menganggur karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), mereka diajak mengisi waktu dengan membatik.

”Saya ingin orang tahu bahwa kerja membatik itu lebih mengasyikkan daripada kerja di pabrik. Mereka bisa mengerjakannya di rumah, bayarannya pun lumayan. Untuk pembatikan satu lembar kain ukuran empat meter, bisa dapat Rp 50.000,” kata Paina yang kini melibatkan 150 orang perajin.

Namun, Paina tak mengelak adanya anggapan bahwa membatik kurang menguntungkan. ”Sewaktu saya masih membatik ikut orang, saya digaji Rp 40.000 per bulan, tanpa melihat berapa potong batik yang sudah saya selesaikan. Mungkin keadaan seperti ini yang membuat orang jadi enggan kerja membatik,” ujar Paina yang ruang pamer produknya berlokasi di Jalan Raya Kenongo Timur, Tulangan, Sidoarjo.

Eksklusif

Menggeluti usaha batik tulis warna alam, disadari Paina tak bisa berkembang dengan cepat. Pasalnya, tak semua kalangan berminat pada batik tulis warna alam.

”Orang Jawa Timur, misalnya, tidak tertarik batik tulis warna alam karena dinilai kurang ngejreng. Jadi, konsumen batik tulis warna alam justru orang dari luar provinsi, mereka memburu keeksklusifan batik tulis ini,” ujarnya.

Untuk mempertahankan kualitas warna alam pada batik tulis, Paina mengikuti langsung semua proses pembuatan batik, mulai dari melukis motif atau corak, mewarnai, termasuk membatik.

Pewarnaan dia lakukan dengan memanfaatkan berbagai tumbuhan, antara lain pohon mangga (semua bagian bisa dipakai untuk pewarna), mahoni, kembang sepatu dan akar mengkudu.

”Semua tumbuhan itu bisa dipakai untuk pewarnaan dengan cara merebus dan warna batik akan tetap awet,” ujarnya.

Paina pernah memesan gambar corak batik pada orang lain, namun dia ternyata kesulitan mencocokkan warna dengan motif tersebut. Oleh karena itulah, Paina lebih suka menggambar sendiri corak batiknya.

”Kalau saya yang membuat motif, warna pun otomatis muncul sehingga hasilnya memuaskan,” kata Paina yang juga kerap mendapat pesanan batik bermotif logo perusahaan, organisasi, dan partai politik.

Selain menggambar sendiri motif batik, Paina juga menerima pesanan batik tulis dengan motif yang dibawa si pemesan.

”Saya terima motif apa saja, mau motif bunga yang merunduk atau tegak, diberi nama, atau hiasan lain pun bisa,” katanya.

Motif yang fleksibel untuk batik, bagi Paina, justru membuatnya lebih kreatif. ”Saya tidak terikat pakem bahwa motif batik harus begini-begitu. Yang saya pegang, satu desain hanya dipakai maksimal untuk dua kain, memang sangat eksklusif,” katanya. Harga kain batik tulis produknya berkisar dari Rp 250.000 sampai Rp 2 juta per lembar.

Untuk membuat satu kain batik ukuran 250 x 85 sentimeter, dia memerlukan waktu satu minggu sampai sebulan, tergantung pada motif masing-masing kain. Bahkan pada pembuatan batik tulis sutra yang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM), dengan motif relatif rumit, dan warna yang sulit muncul, memerlukan waktu pembuatan sampai tiga bulan.

Sumber : (Agnes Swetta Pandia)
Kompas cetak, Jakarta

Di Bantul Setiap jumat dan Sabtu; Karyawan Pakai Baju Batik Bantul

Friday, January 20th, 2006

Sejak awal bulan Januari 2006 ini, terlihat para karyawan Kecamatan Pleret setiap hari Jumat dan Sabtu mengenakan baju batik. Menurut Camat Pleret, Sunarto SH pada KR di ruang kerjanya, Selasa (17/1), dikenakannya baju batik setiap Jumat dan Sabtu ini untuk menindaklanjuti SK Bupati Bantul Nomor 164 tahun 2005, tentang pelaksanaan hari kerja di lingkungan Pemkab Bantul.

Para karyawan, menurut Sunarto, merespons positif SK Bupati tersebut, karena batik yang harus dipakai oleh para karyawan harus merupakan batik lokal Bantul. Karena hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kebanggaan dan kecintaan pengguna dan pemakaian produk lokal dalam negeri. Selain itu, dengan memakai kain batik akan dapat meningkatkan identitas maupun jati diri aparatur pemerintah di lingkungan pemerintah Kabupaten Bantul.

“Kita harus merasa bangga mengenakan kain batik produk lokal Bantul. Karena jika bukan kita yang harus handarbeni produk lokal, siapa lagi. Jika dilihat batik yang kita pakai pantas dan menarik, tentunya orang lain yang melihat akan tertarik pula,” ujar Sunarto.

Sementara itu menurut Sunarto, di kecamatan Pleret hingga sekarang ini masih ada produksi batik yaitu Batik Nitik khas Pleret. Diharapkan dengan adanya SK Bupati Bantul ini dapat mengangkat citra Batik Nitik tersebut. Karena sekarang ini, para karyawan banyak yang mengenakan batik khas Pleret ini. “Untuk pemakaian batik ini tidak harus seragam, tetapi yang penting para karyawan memakai batik seminggu 2 kali. Yang lebih penting lagi, mereka harus mengenakan batik produk lokal Bantul. Karena kita harus merasa bangga memakai batik produk lokal Bantul,” ujar Sunarto.

Sumber : (Dod)-o KR, Pleret

16-24 Januari 2006 di Malioboro Mall; Gelar Pameran ‘Investasi & Home Interior’

Thursday, January 19th, 2006

PT Mavindo Pratama kembali menggelar event Investasi & Home Interior, di Atrium Malioboro Mall, 16-24 Januari 2006. Produk unggulan perumahan yang ditampilkan meliputi Jogja Town House, Griya Permata Ceria, Sejahtera Graha Utama, PT Java Marindra Jaya, Ray White, Adigrha Sejahtera, Tri Putra Mulya, Graha Abadi, Wirotomo Persada, SCKU, Giri Pratama, SHM Property, Aryaguna Putra, Salfila Putra Mandiri dan Narendra Mandiri. Sedang produk interior diikuti Crown Furniture, Sumber Baru Furniture, Miracle Tenun, VCO, Nani’s, CV Diravico, Axis Jewellery, Etnik Batik, Gading Craft, Batik Genthong dan Narendra Batik. Untuk menunjang pameran ini juga ditampilkan Bank Buana dan Bank Bukopin sebagai badan pembiayaan.

Public Relation PT Mavindo Pratama, Lourima Retalia S, mengharapkan pameran ini dapat mendatangkan pasar yang sangat potensial dan kondusif untuk pemasaran produk. Pameran ini digelar dengan melihat makin berkembangnya gaya hidup masyarakat Yogya dewasa ini, yang diikuti dengan makin maraknya kebutuhan masyarakat. “Pameran ini dimaksudkan untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat yang kian beraneka-ragam dan memiliki kelasnya tersendiri. Dengan event ini PT Mavindo Pratama mengawali keberuntungan di tahun 2006,” tambahnya.

Sumber : (*-10)-o. KR, Yogyakarta

YBI Memberikan Ketrampilan; Batik Banyumasan Juga Perlu ’Diuri-uri’

Wednesday, January 18th, 2006

Keterampilan membatik maupun gaya batik Banyumasan semakin lama semakin langka karena tergeser perkembangan teknologi industri tekstil. Sedang batik merupakan warisan seni yang adiluhung dan harus dilestarikan. Karena itulah Yayasan Bangun Indonesia (YBI) memberikan keterampilan membatik dengan tangan yang ternyata cukup menarik minat puluhan ibu rumah tangga.

“Pelatihan membatik selama 3 hari atas kerja sama dengan Museum Tekstil Jakarta. Di samping diikuti para perempuan warga sekitar, juga dari PKK Desa Karangsalam, Baturaden, yang langsung dipimpin isteri kepala desanya,” kata Ketua YBI Sumengen Sutomo di sela-sela pelatihan keterampilan membatik yang berlangsung di Griya Baca, Jl Jatisari, Kelurahan Bancarkembar, Purwokerto, baru-baru ini.

Pelatihan batik di samping untuk nguri-uri seni warisan nenek moyang, dimaksud memberi bekal ketrampilan yang bermanfaat untuk menunjang pendapatan keluarga masing-masing. Para peserta yang dibimbing instruktur dari Museum Tekstil Jakarta, Sukrisumini, menerima teori dan praktik menggunakan canthing langsung membatik pada kain. Sebagai latihan peserta dapat membuat sapu tangan, taplak meja dan sejenisnya yang bermotif batik.

“Sapu tangan, taplak meja, kantung bantal, kain dan sejenisnya bermotif batik memiliki nilai jual dan bisa menjadi peluang untuk peningkatan pendapatan keluarga. YBI berusaha memberikan pengetahuan kepada warga masyarakat khususnya bagi mereka yang kurang mampu ekonominya.

Kami mengajak mereka agar mau belajar dan membaca karena kedua faktor tersebut akan meningkatkan SDM,” papar Sumengen Sutomo yang dosen UI Jakarta.

Tentang batik Banyumasan Sumengen S mengaku, sebagai uwong Banyumas melihat perkembangannya menyurut tidak seperti tempo dulu. Dahulu banyak terlihat kaum perempuan yang tekun membatik di rumahnya seperti di Sokaraja dan Banyumas. Hal itu sekarang bisa dikatakan tidak ada karena pesatnya perkembangan teknologi tekstil.

Keterangan yang dihimpun KR, zaman kejayaan batik Banyumasan yang merupakan industri rakyat sekitar 1965 - 1970-an dengan pusatnya di Sokaraja dan Banyumas. Namun kejayaan itu menjadi surut dan batik Banyumasan perkembangannya tidak bisa mendampingi batik Pekalongan, Yogya ataupun Sala. Kini pengusaha batik itu hanya beberapa orang saja dan perkembangannya tidak menggembirakan.

Sumber : (Sgp)-k. KR, Purwokerto

Gagasan DisParSeniBud Kebumen; Sentra Batik Sebagai Objek Wisata

Tuesday, January 17th, 2006

Meningkatnya gairah perajin batik Kebumen dalam memproduksi batik tradisional, akhir-akhir ini, mendorong Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya (Disparsenibud) Kabupaten Kebumen, untuk mencari terobosan agar batik khas Kebumen ini bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas. Salah satu gagasan yang tercetus yakni menjadikan desa sentra kerajinan batik sebagai objek wisata.

“Objek wisata sentra batik itu bertujuan untuk lebih mengenalkan batik Kebumen kepada dunia luar,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Promosi Wisata Disparsenibud Kebumen, Drs Herry Setyanto.

Herry Setyanto yang juga anggota Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kebumen mencermati bahwa motif batik Kebumen memiliki kekayaan motif yang memadai dan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan batik dari daerah lain, sehingga cukup layak untuk dipromosikan secara lebih luas.

Namun mengingat sentra-sentra batik Kebumen berada di sejumlah desa, maka ada kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah sentra batik untuk bisa ditampilkan sebagai objek wisata. “Seumpama, letaknya mudah dijangkau oleh bus pariwisata. Sebab, untuk memasarkan sentra-sentra batik sebagai objek wisata, Disparsenibud harus bekerjasama dengan biro-biro perjalanan yang memiliki paket-paket wisata bagi rombongan wisatawan. Kendaraan yang biasa digunakan oleh biro-biro perjalanan dalam melayani rombongan wisatawan, biasanya bus-bus besar.”

Untuk mencari sentra batik yang memenuhi kriteria itu, Disparsenibud telah melakukan survei ke sejumlah sentra batik. Hasil survei, tak semua sentra batik memenuhi kriteria mudah dijangkau bus pariwisata. Untuk sementara, Disparsenibud menilai desa sentra batik Surotrunan dan Kambangsari di Kecamatan Alian, yang memenuhi kriteria itu. Sedangkan desa lain yang memiliki aktivitas produksi batik yang potensial seperti Seliling, Kecamatan Alian, dan Jemur, Kecamatan Pejagoan, sulit dijangkau oleh bus berukuran besar.

“Kalau letaknya mudah dijangkau, harus ditambah dengan kriteria lain, yaitu para perajin harus mampu berproduksi secara rutin dengan standard mutu yang memadai agar bisa dijual sebagai cinderamata para wisatawan,” ujar Herry.

Kapan sentra batik Kebumen mulai dipasarkan sebagai objek wisata, Herry masih belum bisa memberikan kepastian. Untuk saat ini, diharapkan sentra-sentra batik seperti di Surotrunan dan Kambangsari lebih memfokuskan diri terlebih dahulu untuk meningkatkan produktivitas perajin.

Sumber : (Dwi/Ths)-c. KR, Kebumen

Dugaan Korupsi Peringatan KAA

Tuesday, January 17th, 2006

Berpotensi Rugikan Negara Rp 1,2 Miliar

Setelah mendengar keterangan dari 55 saksi, Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tim Tastipikor), tak lama lagi akan menemukan tersangka dugaan korupsi pada penyelenggaraan peringatan ke-50 Konferensi Asia Afrika (KAA) April 2005 di Bandung. Potensi kerugian negara mencapai sekira Rp 1,2 miliar. Demikian dikemukakan Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Masyhudi Ridwan di Jakarta, Senin (16/1) .

Pada lanjutan pemeriksaan saksi kemarin, Guntur Purnomo (PT Wisata Candi Borobudur) diperiksa jaksa penyidik Dicky Rachmat dan Reda Mantovani, menyangkut pengadaan barang dan suvenir selendang batik.

Sebelumnya, sejumlah saksi telah diperiksa, di antaranya Ridlo Ananda Anwar (Sekretaris Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra), yang dalam kepanitiaan KAA menjadi Wakil Sekretaris I Panitia Nasional. Kemudian Wahyuni Saptantinah (Kabag Seni Budaya Istana Kepresidenan) sebagai seksi pengadaan cendera mata dan Tri Widianto (karyawan PT Sapta Prima) selaku pemasok obat-obatan, Uung Rumnasih (Kabiro Anggaran Setneg) terkait pengadaan jasa katering, dr. Mayangsari (Kanit Kesehatan Setneg) menyangkut pendistribusian obat-obatan, Kepala Biro Umum Sekretariat Negara Taufik S. (Ketua Panitia Pengadaan Barang dan Jasa).

Masyhudi menyatakan, panitia melakukan order pengadaan barang dan jasa sebanyak 48 kontrak dengan total nilai order mencapai Rp 70 miliar.

Dalam penyidikan Tim Tastipikor yang merupakan gabungan penyidik Polri dan Kejaksaan Agung, penyidik hanya memilih delapan sampel yang diduga terjadi tindak pidana korupsi, di antaranya pengadaan suvenir, obat-obatan, dan penyewaan kendaraan.

Telah diaudit

Ketua Panpel Peringatan ke-50 KAA, Nu’man Abdul Hakim membantah adanya dugaan korupsi, sebab penggunaan dana yang mencapai Rp 50 miliar itu, sudah diaudit Bawasda Jabar dan BPK.

Menurutnya, dari sekira Rp 50 miliar dana yang dibiayai APBD Provinsi Jabar, sekretariat panitia hanya memegang Rp 5 miliar dan hanya digunakan sekira Rp 4,5 miliar.

Sebagian besar lainnnya, sudah dibagi kepada setiap divisi yang ditangani oleh dinas, badan, lembaga (dibale) atau satuan kerja pemerintahan daerah (SKPD) di lingkungan Pemprov Jabar.

Dana yang masuk dalam DASK (daftar anggaran satuan kerja) itu masuk dalam program setiap SKPD yang terkait dalam persiapan dan penyelenggaraan peringatan KAA.

Kabiro Desentralisasi, Syamsudin Abas yang juga Wakil Sekretaris Panitia mengatakan, selain dari DASK, kepanitiaan di tingkat dibale juga mendapat bantuan dana dari sekretariat panitia. Mereka mengajukan proposal permohonan bantuan dana.

“Semua itu pun sudah diaudit oleh bawasda. Contohnya, ada yang dikembalikan karena setelah diaudit, ternyata ada pembelian barang yang dinilai terlalu mahal. Dan semua itu sudah diselesaikan,” akunya.

Sumber : (A-84/A-136) *** Pikiran Rakyat