Motif batik bisa berupa potret realitas sosial. Tak kalah indah dan unik.
Bagaimana bila realitas sosial dituangkan di atas selembar kain batik? Coba tengok karya Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Daud Wiryo Hadinagoro. Beberapa karya batik pria bangsawan kelahiran Yogyakarta, 44 tahun silam, itu menampakkan potret kehidupan sosial masyarakat, baik di Tanah Air maupun negeri orang.
Itu disebutnya sebagai batik tematis. Yang tampak paling mengesankan, misalnya, berjudul Biopsikososiospiritual. Bukan hanya indah secara gambar, namun bagi Daud sendiri menimbulkan perasaan sedih dan haru. Batik dengan warna dasar coklat itu merupakan realitas sosial warga Irak pasca invasi Amerika Serikat. Dalam selembar kain, Daud menggambarkan kehidupan masyarakat ‘Negeri 1001 Malam’ itu yang hancur akibat derita perang.
Batiknya menggoreskan pemandangan di medan pertempuran. Mulai dari gambaran para prajurit di atas truk, para pengungsi, tentara yang tengah memanggul senjata, korban-korban di rumah sakit, hingga laras-laras senjata, dan granat. ”Saya buat batik ini ketika rakyat Irak dalam keadaan kesulitan air,” ujar Daud yang mengunjungi Baghdad, memotret kondisi ibukota Irak yang hancur lebur itu, dan rakyatnya menderita.
Realitas sosial lainnya tertuang dalam batik berjudul Duka Aceh Duka Kita. Berkisah tentang derita akibat bencana tsunami yang melanda Serambi Makkah itu. Daud lantas bercerita tentang bom dalam batiknya berjudul Bom Bali. Lalu potret buram generasi muda masa kini yang terjerat narkoba, dituangkannya ke dalam karya berjudul Hancurnya Bilangan Ganjil pada Sebuah Generasi.
Sedangkan tentang kerusakan belantara hutan Indonesia, disajikan dalam Kebakaran Hutan yang Terulang. Dalam batik ini, Daud menggunakan warna pink untuk menggambarkan kobaran api. ”Karena ini dibakar, maka warna apinya pun api buatan (tidak natural). Makanya, kenapa berwarna pink,” ujarnya.
Ironi bahwa Indonesia telah menjadi tong sampah bagi limbah dari negara lain, ikut menggelitik Daud lewat Kiriman Sampah dari Luar. Ia membingkainya dengan aktivitas para pemulung di tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Sementara dalam batik berjudul Mutasi Air Laut, Daud bercerita tentang rusaknya ekosistem air laut.
Eksperimen pewarna
Secara umum, batik-batik karya Daud tergolong unik. Untuk batik bermotif tradisional, ia tak sungkan melakukan eksperimen. Salah satunya adalah batik berjudul Antara Kesepahaman dan Kehampaan. Pewarnanya menggunakan daun seledri.
Penggunaan daun yang biasa menjadi bumbu dapur itu bisa menghasilkan tiga warna sekaligus. Dengan proses yang berbeda, kata Daud, daun seledri bisa menghasilkan warna cokelat, merah, dan hijau. Eksperimen lainnya ia lakukan dengan mewarnai batik menggunakan campuran gula merah dan enau, ada juga yang menggunakan kopi. Bukan hanya bahan tradisional, Daud juga menggunakan bahan pewarna dari limbah industri.
Batiknya yang berjudul Busa Sabun Mandi, pewarnaannya dilakukan dengan dicelupkan ke dalam air limbah dari sebuah industri. ”Ini murni dari air limbah,” ujarnya tentang batik cantiknya yang beraneka warna. Pewarna juga diperoleh dari karat besi dan alumunium. Eksperimen ini ia lakukan bersama Universitas Gajah Mada (UGM). Hasil? Tetap indah dan unik.
Mahal sekali!
Karya Daud selalu diawali riset dan penelitian mendalam. Tak heran kalau proses pembuatan batiknya memakan waktu lama. Misalnya, batik berjudul Malaikat Bali, ia buat dalam waktu 3 tahun karena proses pencarian data yang cukup lama. Lalu batik yang berkisah tentang flu burung, dibuat selama 8 bulan 10 hari.
Untuk menghasilkan batik Di bawah Kapal Nelayan Tuban, Daud pin rela menyelam ke dasar laut dan melihat pola di bawah kapal para nelayan Tuban. ”Pola ini digunakan para nelayan untuk menarik ikan-ikan agar berdatangan,” jelasnya.
Dengan keunikan dan inovasinya, tak heran karya seniman batik yang satu ini terbilang mahal sekali harganya. Untuk sehelai batik indahnya, baru akan dilepas rata-rata dengan tebusan Rp 46 juta. Itupun yang ”fotokopian”-nya ”Bukan hanya karena idenya, tapi harga itu saya buat mahal agar saya tidak dapat menjualnya,” ujar Daud. Ini karena ia ingin memfokuskan sebagian besar batik-batiknya sebagai karya untuk dipamerkan dan bukan dijual. Terakhir, Daud menggelar pameran di Galeri Nasional, Jakarta, pada 9-18 Desember lalu.
Sumber : (uli ) RoL