Archive for November, 2005

Kewajiban Pakai Seragam Batik - Kasak-kusuk Mencari Keuntungan

Tuesday, November 29th, 2005

Rencana pengadaan 19 ribu pakaian batik bagi pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen harus melibatkan perajin lokal. Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) juga harus menjembatani sehingga tidak ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari rencana pengadaan pakaian batik yang dianggarkan Pemerintah Kabupaten Kebumen sebesar Rp 1,9 miliar.

“Kami dengar sudah ada pihak-pihak yang berusaha ikut bermain dalam rencana pengadaan pakaian batik. Karena itu Disperindagkop harus bisa mengantisipasi sehingga perajin tidak dirugikan,” ungkap Ir Joko Sutrisno Ketua Dewan Koperasi Daerah (Dekopinda) Kabupaten Kebumen, kemarin.

Antisipasi terhadap pihak luar yang akan mengambil keuntungan, bisa juga dengan melibatkan koperasi. Di Kabupaten Kebumen menurut Joko, ada 350 lebih koperasi. Namun yang aktif hanya 80 persen.

Memakai baju batik bagi pegawai di lingkungan Pemkab Kebumen, sudah dimulai Oktober lalu. Pakaian batik dikenakan setiap hari Kamis. Kebijakan mengenakan pakaian batik, dituangkan dalam surat edaran bupati yang menindaklanjuti surat edaran Gubernur Jawa Tengah tanggal 2 Agustus 2005 Nomor 025/11517 perihal penggunaan produk tenun tradisional atau batik khas daerah.

Hal itu dimaksudkan untuk melestarikan produk batik khas Jawa Tengah khususnya batik khas Kebumen. Sementara ini, karena belum ada seragam batik, pegawai di lingkungan Pemkab Kebumen masih dibebaskan mengenakan pakaian batik yang dimiliki.

Sumber : (Suk)-g. KR, Kebumen

Kebangkitan Kampung Batik Laweyan

Monday, November 28th, 2005

*Wahyu Haryo PS

Perjalanan sejarah memperlihatkan, eksistensi Kampung Batik Laweyan berkali-kali digerus oleh kekuatan luar yang tidak menghendaki kekuatan ekonomi yang digalang kaum perempuan Mbok Mase ini terus bertengger.

Cerita rakyat dan stereotyping dalam bentuk hukuman lawe dan perempuan Bahu (baca: bau) Laweyan yang mendatangkan bencana bagi suaminya, pernah diembuskan pihak keraton untuk melawan dominasi Mbok Mase. Akibatnya, penghuni Kampung Batik Laweyan serasa dikucilkan dari lingkungan sekitarnya.

Belum lagi posisi tawar ekonomi Kampung Batik Laweyan juga pernah dimanfaatkan untuk kepentingan dukungan politik semasa kabinet parlementer. Kekuatan kongsi dagang di sana juga pernah diadu domba dengan kekuatan kongsi dagang China, yang dirancang oleh Belanda.

Terakhir, kejayaan Kampung Batik Laweyan benar-benar tidak bisa dipertahankan saat kapitalisasi industri batik semasa pemerintahan Orde Baru. Pemodal asing dan kroni Orde Baru masuk ke wilayah di sekitar Laweyan di Sukoharjo dengan teknologi printing yang jauh lebih efisien, cepat, berproduksi secara massal, dan murah.

Teknologi ini jelas bukan tandingan batik tulis dan cap yang ada di Laweyan. Seketika, batik printing dari pemilik modal besar mampu menguasai pasar batik di mana-mana. Batik Laweyan kalah bersaing sehingga kejayaan batik Laweyan tinggal nama.

Suatu kali saya kirim batik ke Surabaya, kok ditolak terus. Lalu saya ajak suami saya ke Pasar Turi di Surabaya. Di sana saya sampai tidak bisa ngomong. Di mana-mana batik berjubel sampai gudangnya luber. Pedagang di sana mengatakan mendapat pasokan dari Jakarta, tak harus membayar dulu seperti kalau membeli dari kami. Mereka digelontor batik ratusan kodi tanpa harus bayar. Gudang mereka sampai tidak muat. Melihat itu kaki saya lemas. Saya menangis. Ke mana lagi kami harus menjual produk kami, ujar Mulyani (69) dengan suara tersendat dan matanya pun basah.

Maka, pada akhir tahun 1994 pabriknya tutup, dengan korban sekitar 100 karyawan yang harus menganggur mendadak. Mulyani bisa jadi salah satu potret Mbok Mase, di mana dia menjanda dari usia 39 tahun dan harus membesarkan tiga putranya sendirian. Kini ketiga putranya sudah selesai pendidikan tinggi dan mapan secara ekonomi.

Menurut dia, produsen batik di Jakarta dengan batik printing-nya mampu memproduksi ratusan kodi sehari, sementara batik cap Laweyan hanya 20 kodi-30 kodi sehari. Bahkan batik tulis memiliki waktu proses sebulan hingga empat bulan.

Kenyataan ini membuat orientasi orang Laweyan terhadap anak-anaknya berubah. Mulyani, yang merupakan generasi ketiga salah satu kerajaan batik di Laweyan milik Haryono, menuturkan, semasa kejayaan batik Laweyan, anak-anak mereka dididik untuk mengelola kerajaan batik milik keluarga.

Kami dididik di dalam kungkungan tembok-tembok tinggi Laweyan, tuturnya. Nyaris semua rumah di Kampung Laweyan memang berdinding tinggi dengan gaya bangunan art deco. Bagi mereka, sekolah tidak perlu harus sampai ke jenjang yang tinggi, cukup bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Mbok Mase Laweyan zaman dulu sudah mendidik putrinya untuk berdagang dan membuat batik sejak kelas IV SD. Ketika putri mereka sudah lulus SMP, langsung dinikahkan dan diberi usaha sendiri. Saat usaha batik kalah bersaing dengan produksi printing, maka orang Laweyan beralih usaha ke bidang yang lain dan pendidikan setinggi mungkin bagi anak mereka menjadi penting, katanya.

Pada masa itu hingga tahun 2000, generasi muda Laweyan jarang yang tetap melanjutkan usaha batik milik keluarganya. Generasi muda ini memilih menempuh studi hingga jenjang yang tinggi dan bekerja di perusahaan-perusahaan swasta.

Sarjana memang bukan jaminan untuk hidup, tetapi hanya sarana untuk hidup. Selepas lulus sarjana, anak muda Laweyan disuruh kerja di luar kota. Jadi, sukses anak generasi muda Laweyan saat ini bukan karena menjalankan usaha batik, tetapi karena bekerja atau usaha lainnya, kata Mulyani.

Memori kejayaan Kampung Batik Laweyan di masa lampau membuat generasi muda di Laweyan ingin membangkitkan kembali kenangan akan kejayaan itu. Salah satu generasi penerus pembatik, Dr Nanik Perditi, mengawali upaya menghidupkan kembali Kampung Batik Laweyan.

Gayung bersambut, ide ini didukung Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Secara terpisah, Kepala Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kota Solo Febria Roekmi Evy menyatakan, produk unggulan batik di Laweyan nantinya akan menjadi salah satu ikon yang mendukung upaya menjadikan Solo sebagai kota wisata belanja.

Sejak dicanangkan, kehidupan industri batik di sana mulai menggeliat lagi. Sebelumnya, tempat itu seperti tidur dalam hal produksi batik. Jadi, sebenarnya kami hanya menghidupkan apa yang telah ada. Sebagai fokus awal, kami akan mengarahkan wisata belanja ini pada produsen batik, ujar Evy.

Menurut dia, Solo yang dulunya sebagai produsen terbesar produk batik dapat meraih kejayaannya kembali seiring dengan didorongnya kota itu sebagai kota wisata belanja. Ia mencontohkan Kota Pekalongan yang awalnya kurang berkembang, namun lambat laun kota itu akhirnya bisa berubah menjadi produsen batik terbesar.

Kalau saat ini wisatawan yang membeli batik di gerai batik yang dibuka penduduk Laweyan masih sedikit, maka mereka harus bisa bertahan untuk beberapa tahun ke depan. Jika ternyata mereka merasa merugi dan justru menutup gerai batik tersebut, maka upaya mengembalikan kejayaan Kampung Batik Laweyan sebagai sentra batik di Solo menjadi semakin jauh dari harapan, katanya.

Melintasi Kampung Batik Laweyan saat ini, bisa disaksikan beberapa usaha batik yang mulai tumbuh dan berkembang di sana. Hampir di setiap gang kecil sudah bisa dijumpai lagi gerai batik. Patung perempuan pembatik yang tersisa di beberapa sudut gang memberi semacam landmark nuansa kampung batik. Hal ini ditambah adanya gerbang Kampung Batik Laweyan yang pembangunannya difasilitasi Pemkot Solo.

Sejarawan Universitas Negeri Sebelas Maret, Soedarmono, menilai, pengembangan Kampung Batik Laweyan saat ini belum menyentuh sisi substansial dari sejarah industri batik yang pernah berkembang di sana.

Pengembangan Kampung Batik Laweyan baru sebatas mencoba menggairahkan perdagangan batik di sana untuk menunjang dan memajukan pariwisata di Solo, belum dikembangkan sebagai sebuah warisan yang utuh.

Sumber : (isw/row/nut) Kompas Cetak

Mbok Mase Menentukan Segalanya

Monday, November 28th, 2005

*Aryo Wisanggeni Genthong

Pemberontakan laskar China yang berhasil membunuh komandan garnizun Belanda di Kartasura, Van Velzen, pada 10 Juni 1741 berkembang menjadi awal kehancuran Kraton Kartasura Hadiningrat.

Laskar China yang marah melihat inkonsistensi Paku Buwana II melawan Belanda menjarah Kraton Kartasura, sehingga Paku Buwana II harus melarikan diri ke sebuah goa di tepi Sungai Laweyan, Solo.

Paku Buwana II meminta bantuan pinjaman puluhan kuda dari para saudagar batik Laweyan dalam pengasingannya. Tetapi, permintaan itu ditolak mentah-mentah para saudagar batik Laweyan. Bagaimana mungkin para saudagar pribumi Jawa membangkang terhadap pewaris takhta Mataram itu?

Peneliti sejarah dari Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta Soedarmono di suatu malam awal November lalu di Solo (baca: Surakarta) bertutur kepada Tim Lintas Timur-Barat Kompas hingga lewat tengah malam.

Penjelasannya sederhana, karena yang berkuasa di Laweyan adalah kaum perempuan. Kaum perempuan Laweyan benci dengan gaya hidup priayi istana yang berfoya-foya, gila hormat, dan berpoligami. Bagi mereka, tidak ada gunanya menolong seorang raja. Sejak lama mereka telah resisten, katanya

Menurut Soedarmono, di Laweyan, perempuan berkuasa dan kekuasaan itu dijadikan alat untuk melawan berbagai bentuk penindasan terhadap perempuan, termasuk poligami yang acap kali dilakukan kaum priayi istana.

Komunitas pedagang Laweyan berangkat dari ibu rumah tangga Laweyan yang membatik di sela-sela menjalankan pekerjaan domestik mereka. Pekerjaan membatik itu amat halus dan rumit sehingga lelaki tidak memiliki tempat dalam dalam pekerjaan ini. Sambilan membatik ini lalu berkembang menjadi usaha perdagangan, dan menjadi sumber utama penghasilan keluarga, kata Soedarmono.

Peran sang ibu
Dalam tesisnya, Munculnya Kelompok Pengusaha Batik di Laweyan pada Awal Abad XX, dituliskan ibu rumah tangga memegang kekuasaan utama atas jalannya perdagangan batik Laweyan. Sang ibu mengurus keuangan, menentukan jumlah produksi, dan mendistribusikan batik itu ke tangan konsumen.

Sang suami sebagai kepala rumah tangga hanya memegang peranan 25 persen dari proses produksi batik itu. Status kekuasaan perempuan itu mewujud dalam sebutan Mbok Mase, sementara lelaki selaku kepala rumah tangga di posisi kedua dengan sebutan Mas Nganten.

Perempuan menentukan segalanya. Seorang Mbok Mase menentukan perjodohan anaknya. Lamaran Mas Nganten hanya formalitas karena telah ditentukan oleh Mbok Mase. Menantu laki-laki akan tinggal seterusnya di rumah Mbok Mase. Jika tiba waktunya, istrinya akan menjadi Mbok Mase generasi berikutnya, dan ia menjadi Mas Nganten. Mertuanya tetap tinggal serumah, menjadi Mbok Mase Sepuh dan Mas Nganten Sepuh, tambahnya.

Seorang Mas Nganten boleh melakukan apa saja yang diinginkannya, selama tidak berpoligami, tidak berfoya-foya, dan tidak menyakiti hati Mbok Mase. Jika seorang Mas Nganten mencederai kepercayaan Mbok Mase, sang Mas Nganten diceraikan dan kehilangan tempat dalam struktur sosial Laweyan. Perempuan Laweyan berupaya mempertahankan kekuasaan itu secara turun-temurun, tutur Soedarmono.

Menjadi bakul
Menurutnya, para Mbok Mase sadar bahwa kekayaan harta yang bersumber dari produksi batik merupakan benteng bagi perempuan Laweyan untuk terhindar dari penindasan laki-laki.

Dalam menikahkan Mas Rara, Mbok Mase berpegang pada asas banda ora keliya , harta tidak jatuh ke tangan orang lain. Mas Rara harus menikah dengan anak Mbok Mase lain, atau setidaknya menikah dengan anak pedagang besar, katanya. Mbok Mase mempersiapkan Mas Rara untuk menjadi Mbok Mase berikutnya, dan dipersiapkan sejak usia enam tahun.

Salah seorang mantan pengusaha batik Laweyan dari keturunan keluarga Reksodimedjo, Mulyani (69), menuturkan sejak kelas IV Sekolah Rakyat dirinya telah diajak ibunya mengurus dagangan batik di Pasar Klewer dan Pasar Nonongan, Solo.

Saat pulang sekolah saya berpapasan dengan ibu di jalan, bisa langsung disuruh naik ke becak. Tas sekolah saya langsung dititipkan ke tetangga. Istilahnya, bangun tidur menjadi bakul, dari mulai bangun tidur langsung menjadi pedagang. Tidak ada istirahatnya, selalu kerja keras, kata Mulyani.

Di masanya, anak gadis biasanya tinggal dalam rumah bertembok tinggi. Seolah, kami hanya dididik untuk kerja, katanya. Mas Rara, seperti Mulyani, ditempa menjadi pribadi mandiri. Sejak kecil, ayah mengajarkan, kami anak perempuan harus malu jika hanya menadahkan tangan ke suami, ujarnya.

Berbeda dengan keluarga Laweyan lainnya, Mulyani dikirim ayahnya ke sekolah. Salah satu adiknya kini menjadi doktor di bidang arkeologi dan mengajar di jurusan Arsitektur di Universitas Tarumanegara, yaitu Dr Nanik Perditi. Dia juga menjabat sebagai Direktur Centre for Architecture and Conservation.

Gara-gara bersekolah tinggi, Mulyani menjadi rasanan (bahan perbincangan) tetangganya. Setelah lulus SMA tahun 1957, saya berniat sekolah di Universitas Gadjah Mada, tetapi gagal karena ayah sakit keras, lanjutnya. Karena saya belum juga menikah, ibu sampai malu. Tahun 1959 saya menikah, tambahnya. Ia menjadi Mbok Mase terakhir. Pabrik batik keluarganya tutup akhir tahun 1994 karena dia lelah dan tidak bisa mengikuti tren mode batik bukan sebagai kain. Batik Laweyan ketika itu berkembang menjadi produk seprai, baju, daster, dan sebagainya. Keturunan keluarga Laweyan yang masih bertahan yang bisa kita lihat sekarang di antaranya adalah Danar Hadi.

Mbok Mase juga memotori industrialisasi batik, pergeseran batik tulis ke batik cap pada awal abad XX, dan selanjutnya ke batik printing pada tahun 1970-an. Produksi batik bergeser dari pekerjaan rumahan menjadi kegiatan pertukangan.

Dengan modernisasi itu, batik Laweyan mencapai puncak kejayaan. Laporan De Kat Angelino tahun 1930 menunjukkan, sebuah perusahaan batik besar di Laweyan bisa memproduksi 60.400 potong batik per tahun.

Dalam satu tahun, penghasilan bersih juragan batik Laweyan bisa mencapai 60.400 gulden. Itu jauh di atas penghasilan seorang priayi keraton, kata Soedarmono.

Kemakmuran para Mbok Mase tergambar dari peninggalan bangunan tua di Laweyan, di mana rumah para Mbok Mase Laweyan tidak ubahnya dengan istana, dengan tembok tingginya. Model bangunan Laweyan bernapas art deco, model bangunan paling modern ketika itu.

Pada tahun 1987, Soedarmono masih menemukan rumah milik Tjokrokarno, sebuah rumah dengan luas tanah 3.000 meter persegi. Rumah itu memiliki bekas kandang kuda yang cukup untuk lima ekor kuda, berikut garasi mobil untuk beberapa mobil Fiat, ujar Soedarmono.

Hingga kini sisa-sisa kejayaan pedagang Laweyan dan batik Laweyan masih terlihat di Jalan Dr Rajiman yang di kanan kirinya berjajar loji-loji (bangunan rumah tembok) berarsitektur art deco milik para saudagar batik Laweyan. Salah satunya adalah penginapan Roemahkoe.

Kebijakan pemerintah membuka kompetisi antara batik cap dengan batik printing telah mematikan komunitas Laweyan.

Alat cap para saudagar batik yang dulu begitu berharga hingga menjadi obyek curian di antara sesama juragan batik kini seolah tak bernilai lagi. Banyak cap dijual di pasar loak sebagai barang antik, sebagian teronggok di gudang di Laweyan. Kini Laweyan ibarat gadis yang kehilangan semangat dan napas hidupnya. Adalah Wali Kota Solo Slamet Suryanto pada 25 September 2004 yang ingin membangkitkan lagi napas Mbok Mase di Kampung Laweyan dengan menjadikannya Kampung Batik. Akankah napas Mbok Mase itu bangkit lagi?

Sumber : (isw/why/nut) Kompas Cetak

Prospek Pemasaran kian Cerah - Sukses Demo “Batik Yogya” di Kyoto

Friday, November 25th, 2005

 GEMA batik Yogya di Jepang, sungguh membanggakan. Ini tampak ketika berbagai macam produk digelar dalam pameran dan didukung demo membatik oleh perajin batik terkenal asal Yogya, Bambang Sumar-diyono, pimpinan Batik ?Nakula Sadewa?, bersama Surajiyem, di gedung Nishijin Textile Center, Kyoto, pada 10-23 November 2005. Pameran yang digelar me-nandai kunjungan kerja Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono-X dan rombongan ke Kyoto, memperingati 20 tahun kerja sama Sister Province DIY-Kyoto Perfecture tersebut mendapat sambutan hangat dari pu-blik, buyers dan wisatawan yang berkunjung ke gedung pameran tersebut. ?Makin banyak publik Jepang khususnya dan wisatawan mancanegara yang apresiatif pada karya batik Yogya,? kata Bambang Sumardiyono, kepada KR, di sela-sela demo membatik di Kyoto tersebut.

Selama pameran tersebut, banyak pengunjung yang menanyakan proses pembuatan batik, dan prospek pemasarannya. Tak sedikit yang ikut mencoba membatik, dan Bambang pun memajang berbagai produk batik dengan macam-macam corak.

Menurutnya, batik merambah Jepang memalui berbagai cara, salah satunya terobosan memasarkan batik melalui desain-desain khususnya yang dipasang untuk kimono. Hal ini dilakukan mela-lui kerja sama sinergis antara perusahaan di Jepang dengan Yarsilk, pimpinan GKR Pembayun. Bambang Sumardiyono yang mendukung Yarsilk mengedepankan motif-motif batik khas Yogya untuk kemudian dikolaborasikan dengan tekstil di Jepang, yang ternyata mendapat sambutan hangat dari publik Jepang, khususnya di Kyoto yang memiliki kemiripan dengan Yogya, sebagai kota bersejarah dan bernuansa budaya. Menurut Bambang, ketika membuka pameran kolaborasi batik dengan Japan Blue di arena pameran tersebut, GKR Pembayun yang didampingi suaminya, KPH Wironegoro menyatakan bahwa kerja sama sinergis ini akan terus dikembangkan, mengingat pasar di Jepang sangat prospektif.

Kerja sama lain juga dikembangkan adalah deng-an perusahaan kimono Urai, dimana batik Yogya juga ditampilkan melalui kerja sama yang dirintis oleh GRAy Nurmagupita. Dalam hal ini, perusahaan yang berlokasi di Kyoto tersebut mengirimkan bahan kainnya ke Yogya dan kemudian GRAy Nurmagupita memberikan kepercayaan kepada Bambang Sumardiyono untuk membatiknya.

Setelah dibatik, sesuai dengan permintaan yang mengacu pada ukuran bahan kain kimono, kain tersebut dikirim kembali ke Urai untuk selanjutnya diproses akhir disana. ?Setelah jadi, langsung dipasarkan dan ternyata kimono motif batik sangat disukai masyarakat Jepang,? tambahnya.

Sumber : (Ronny SV)-o KR, Yogyakarta

Pesona Batik Tulis: Ketika Nilai Etnis, Tradisi, dan Modern Berpadu

Thursday, November 24th, 2005

Apa yang terlintas di benak anda jika menyebut batik tulis? Boleh jadi, imajinasi anda akan langsung mengembara kepada lembaran kain tradisional Jawa dan Bali yang lumrah dikenakan ibu-ibu berusia lanjut sebagai ‘’seragam” kebesaran harian. Khususnya, kain penutup tubuh dari bagian pinggang hingga ke mata kaki. Bagi perempuan etnis Jawa dan Bali, batik tulis menciptakan nuansa rasa tersendiri. Di samping sudah melegenda, motif-motif kain tempo doeloe yang eksistensinya belum tergoyahkan sampai saat ini menyimpan banyak makna historis.

Namun, di era kekinian ini, fungsi batik tidak lagi hanya sebatas piranti pembungkus tubuh perempuan bagian bawah yang lumrah disebut kamben. Dalam dunia fashion, batik mulai dipergunakan sebagai bahan baku rancangan sejumlah desainer papan atas untuk mencitrakan kesan klasik, anggun sekaligus berwibawa. Ragam motifnya pun tidak lagi berkutat pada hal-hal yang berbau etnis-tradisional nan saklek. Tetapi, sudah pasti mendapatkan sentuhan-sentuhan modern sehingga pesona batik sanggup membius penikmat fashion mancanegara.

Batik kini tidak lagi hanya berkutat di tanah leluhurnya sendiri. Namun, hasil perpaduan harmonis antara nilai-nilai etnis-tradisional dengan modern itu pun menjelma jadi karya seni tingkat tinggi yang mampu memuaskan selera masyarakat internasional.

Barangkali, kesuksesan batik — terutama batik tulis –menerobos ketatnya persaingan industri fashion tingkat dunia itu yang mengilhami Desak Putu Nithi (50) menyandarkan sumber penghidupan keluarganya dari batik. Di bawah ”bendera” Nithi’s Collection yang ber-home base di Banjar Tebesaya, Desa Peliatan, Ubud, istri Dewa Nyoman Rai ini intensif menggeluti bisnis batik tulis.

Semula, ibu dua orang putra dan seorang putri ini hanya memproduksi batik tulis untuk bahan baku pakaian (garmen). Namun perkembangan selanjutnya, ibu yang masih terlihat enerjik di usianya yang memasuki separo baya ini memberanikan diri melebarkan sayap bisnisnya ke industri aksesori dan pelengkap interior rumah seperti bedcover, sarung bantal, gorden, taplak meja, pembungkus sandaran dan dudukan kursi/sofa hingga wall hanging (hiasan dinding-red).

Bahkan, saat ini pihaknya mendapat order dari mitra bisnisnya di luar negeri untuk menggarap piranti penutup sekaligus penghias pilar dan langit-langit rumah serta penutup lampu hias dalam jumlah besar. Tentu saja, semua piranti itu menggunakan batik tulis sebagai bahan baku utama.

”Pesona kain batik tulis ini bukan hanya pantas dijadikan bahan baku fashion semata. Kalau kita mau berkreasi dan berinovasi, fungsi batik tulis bisa dikembangkan terus. Ragam motifnya yang bervariasi dan indah-indah juga bisa dijadikan benda pajangan ataupun beragam jenis penghias interior rumah,” kata Desak Putu Nithi ketika mengantarkan Bali Post mengelilingi art shop-nya di kawasan Desa Peliatan, Ubud, belum lama ini.

Perlengkapan Kamar Tidur
Dari beragam produk batik tulis yang diproduksinya, Desak Nithi yang menggeluti bisnis batik tulis sejak dekade 1970-an ini mengaku memberikan porsi perhatian lebih kepada perlengkapan kamar tidur seperti bedcover (sprei), sarung bantal, gorden dan wall hanging. Guna melengkapi kenyamanan tidur konsumennya, pihaknya juga memproduksi piyama batik dengan motif senada dengan perlengkapan kamar tidur lainnya.

Ke depan, Nithi juga terobsesi merancang amature (rumah lampu-red) lampu tidur dengan material dominan batik tulis. ”Saya memang sangat concern menciptakan perlengkapan kamar tidur berbahan baku batik tulis ini. Terus terang, perlengkapan kamar tidur ini memang jadi andalan home industry kami,” ujarnya.

Dia memberikan garansi bahwa seluruh produk batik tulis yang diciptakannya sangat nyaman dipakai. Masalahnya, seluruh bahan bakunya menggunakan kain katun, linen dan sutra pilihan. Produk bedcover, misalnya, dijamin tidak kusut sehabis ditiduri karena sistem penjahitannya dibuat secermat dan seteliti mungkin.

”Penggunaan bahan yang serba pilihan ini juga menjadikan perlengkapan kamar tidur yang kami produksi tidak membuat konsumen kegerahan,” katanya tanpa pretensi mempromosikan produknya.

Menurut Nithi, perlengkapan kamar tidur kini tidak lagi menonjolkan nilai fungsi semata. Selain nyaman ditiduri, piranti yang mengantarkan pemakainya mengembara ke alam mimpi ini juga wajib memenuhi unsur-unsur keindahan untuk mengangkat suasana interior kamar tidur secara keseluruhan. Guna mewujudkan kepentingan itu, pihaknya senantiasa merasa tertantang untuk menciptakan beragam desain batik tulis gres yang lain daripada yang lain.

”Perpaduan yang harmonis antara nilai fungsi dengan nilai-nilai keindahan itu jadi perhatian utama kami setiap kali merencanakan sebuah desain baru. Dengan begitu, batik tulis produksi kami juga sangat layak jika diposisikan sebagai karya seni di luar fungsinya sebagai perlengkapan kamar tidur,” tegasnya.

Nithi melihat ada kecenderungan mulai jenuh dengan perlengkapan kamar tidur yang tampil polos dan sederhana. Realita itulah yang membuat dirinya mencoba peruntungan di bisnis perlengkapan kamar tidur yang kaya motif, warna maupun variasi lainnya. Dan, batik tulis dinilai pantas untuk menjawab kejenuhan konsumen tersebut.

”Saya sengaja memilih batik tulis, bukan batik cetak (stempel), karena batik tulis saya nilai lebih eksklusif, berwibawa dan terkesan mahal. Mengingat proses pengerjaannya secara manual, produk ini tidak akan melimpah sehingga tidak terkesan pasaran,” katanya lagi.

Ditambahkan, bisnis perlengkapan kamar tidur berbahan baku batik tulis di Bali masih jarang yang menekuni sehingga pangsa pasarnya masih terbuka lebar. Dia juga mengaku tidak gentar bersaing dengan kompetitor yang memproduksi perlengkapan kamar tidur dengan teknik batik cetak. Meskipun sepintas terlihat mirip, namun batik tulis dihargai lebih tinggi lantaran nilai artistiknya lebih mencuat.

”Saya juga tidak khawatir desain batik yang saya ciptakan dijiplak dan dimassalkan dalam wujud batik cetak karena setiap saat saya menciptakan desain-desain baru untuk menggantikan desain-desain lama yang sudah dilemparkan ke pasaran,” katanya dan menambahkan, pihaknya mempekerjakan sejumlah desainer yang khusus bertanggung jawab untuk menciptakan desain-desain baru.

Sumber : (w. sumatika) Bali Post

Grup Band Corridors Bermusik Sambil Promosikan Batik

Wednesday, November 23rd, 2005

Kalau ada band rock yang dalam penampilannya berusaha memromosikan batik sebagai busana nasional, salah satunya adalah Corridors.

Band rock yang digawangi Bima W.P (Gitar), Harry Purnama (Vokal), Juan S.C. Lapod, Ivan V. Santoso (Gitar Rhythm) serta Adi Permana (drum), itu punya kebiasaan mengenakan celana batik dengan desain tentara (ARMY), yang dipadukan dengan kaos atau kemeja hitam saat tampil di panggung.

“Ini ciri khas Corridors. Kami tidak ingin sekadar bermusik, tetapi juga ingin memberi sesuatu yang berarti untuk bangsa ini,” ujar Harry kepada wartawan saat meluncurkan album debutnya yang berjudul “Hidupku” di Jakarta, Rabu.

Album itu sendiri dilepas dibawah bendera Indie Label alias diproduksi sendiri oleh Harry dan kawan-kawan.

“Yah, perusahaan rekaman tidak ada yang mau, kita produksi sendiri,” kata Harry.

Menurut dia, langkah itu disepakati kelompoknya karena mereka memang sudah bertekad untuk terjun ke bursa musik nasional, meski tahu tantangan yang dihadapi cukup berat.

Dibantu Iwan Xaverius (Edane) dan Bebi Romeo, Corridors di album perdananya mengandalkan lagu “Cintaku”, satu nomor slow rock yang mereka harap bisa mencetak hits. Lagu itu juga dibuatkan video klipnya untuk kepentingan promosi, digarap oleh sutradara Upie Guava dang melibatkan model cantik Inka Novarita.

“Konsep bermusik kami rock, tapi dengan nada-nada harmonis dan tidak ekstrim. Musik yang kami mainkan cenderung halus dan mudah dipahami namun tetap dijalur rock yang didominasi lengkingan sound gitar,” kata Harry.

Terbentuk tahun 2001, band ini berawal dari keisengan sejumlah pelajar yang kerap nongkrong di koridor sekolahan sambil main gitar. Namun dari kegiatan itu mereka kemudian bisa membuat lagu dari puisi-puisi karya Harry.

Dari sekadar band sekolahan, Corridor kemudian mengikuti berbagai macam festival musik antarsekolah dan mulai mengisi berbagai acara pertunjukan musik. Band ini pun mulai dikenal luas setelah mengikuti acara pemecahan rekor MURI dalam pentas 60 band selama 600 menit nonstop, yang digelar bulan Agustus lalu di Taman Mini Indonesia Indah.

Setelah pengalaman pentas dari panggung ke panggung dan juga memiliki stok lagu cukup banyak, lima sekawan itu pun membuat demo kaset dan menawarkannya kepada berbagai perusahaan rekaman, namun tidak mendapat tanggapan.

“Ya, karena tekad sudah bulat, kami pun sepakat memroduksi album sendiri dan titip edar ke perusahaan rekaman,” demikian Harry.

Sumber : >LKBN Antara

Indonesia Ikut Pameran Batik Dunia di Malaysia

Wednesday, November 23rd, 2005

Tahun 2005 adalah tahun bagi perajin batik. Tahun ini banyak peristiwa besar yang telah dan akan dilakukan perajin batik di seluruh Indonesia. Menurut Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian Sakri Widianto, Senin (21/11), peristiwa besar batik tahun ini dimulai dengan dibuatnya batik terpanjang oleh perajin batik Komar, Agustus lalu. Tanggal 8-11 Desember, Indonesia akan mengikuti Pameran Batik Dunia di Kuala Lumpur, Malaysia.

Sumber : (d01) Harian Kompas

2-11 Desember 2005 Di Jakarta - Gelar Seni Budaya Yogya Dipadu Gelar Investasi

Wednesday, November 23rd, 2005

Pemprop DIY kembali menyelenggarakan Gelar Seni Budaya Yogyakarta VI 2005 yang dipadukan dengan Gelar Investasi di Jakarta, 2-11 Desember mendatang. Acara ini tidak hanya sebagai temu usaha dan pelestarian budaya, namun juga sebagai sumberdaya yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih luas, tidak hanya lokal namun juga internasional.

“Gelar Seni Budaya Yogyakarta VI 2005 dan Gelar Investasi ini diadakan sekaligus untuk memperingati Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat yang ke-249. Di mana di dalamnya mengandung kegiatan promosi, informasi, pelestarian, dan pengembangan budaya,” papar Kepala Kantor Perwakilan Daerah Propinsi DIY di Jakarta Drs Prijo Mustiko, Senin (21/11) di Yogyakarta.

Dijelaskan, kegiatan selama 10 hari tersebut akan diselenggarakan di Artha Gading Mall, World Trade Center (WTC), Kompleks Sasono Langen Budaya TMII, serta di Anjungan Yogyakarta TMII.

Ny Dian S Prijo Mustiko sebagai salahseorang panitia penyelenggara menambahkan, rangkaian kegiatan Gelar Seni Budaya Yogyakarta dan Gelar Investasi itu meliputi Gelar Kesenian Daerah, Gelar Temu Wicara, Gelar Batik Yogyakarta, Gelar Seni Rupa dan Bursa Lukisan, Gelar Investasi Daerah, Gelar Pameran Wisata, Gelar Pameran Pendidikan, Gelar Seni Kerajinan, Bazar Makanan Daerah dan Seni Lukis, serta Gelar Kesenian dan Peragaan Busana Batik.

Menurut Prijo Mustiko, di antara popularitas budaya Nusantara, budaya daerah yang beraneka ragam juga akan memperkaya khasanah budaya yang senantiasa berkembang. Fenomena urbanisasi, modernisasi, dan reformasi, telah membawa pergeseran-pergeseran dalam sistem nilai di dalam masyarakat. “Untuk melindungi nilai-nilai adiluhung ini, perlu upaya sungguh-sungguh dalam melestarikan dan mengembangkannya. Kepedulian masyarakat, sangatlah menentukan keberhasilan upaya pelestarian dan pengembangan ini,” tandasnya.

Karena itu, lanjut Dian maupun Prijo, salah satu upaya pelestarian dan pengembangan budaya seperti Gelar Seni Budaya Yogyakarta ini, hendaknya terus dilakukan sehingga dapat menggugah kepedulian masyarakat dalam menjaga pusaka budaya yang merupakan aset bangsa yang berharga. Pusaka budaya ini tidak hanya berharga secara immaterial saja, tetapi juga mempunyai nilai jual di tingkat nasional dan internasional.

“Melalui Gelar Seni Budaya Yogyakarta seperti Gelar Kesenian Daerah, Gelar Pameran Seni Rupa dan bersamaan itu pula dilaksanakan Gelar Investasi, maka kita dapat memromosikan pariwisata, produk industri kerajinan unggulan, pendidikan, maupun potensi investasi,” kata Prijo.

Dengan demikian, di samping melestarikan budaya, sekaligus memajukan perekonomian daerah sebagai jawaban dari tantangan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah sejak diberlakukannya otonomi daerah yang akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Direncanakan, pihak panitia akan mengundang sejumlah tamu undangan, antara lain paguyuan-paguyuban masyarakat DIY di Jakarta, pejabat-pejabat di DIY, asosiasi perajin di DIY, duta besar negara-negara sahabat, lembaga internasional di Jakarta, pengusaha nasional dan internasional, serta masyara-kat luas di Jakarta.

Sumber : (San/Ret)-g KR, Yogyakarta

Ratusan Perajin Batik Kayu Hentikan Produksi

Tuesday, November 22nd, 2005

Ratusan perajin di berbagai wilayah Yogyakarta terpaksa menghentikan sementara produksi akibat naiknya biaya produksi pasca kenaikan harga BBM. Sementara perajin yang masih bertahan mengalami penurunan produksi 30-40.

Tugiyo, 35, pemilik sanggar kayu batik Joko Tingkir dari Krebet, Batul, Yogyakarta, mengungkapkan ia sudah menghentikan usaha produksi sejak tiga minggu lalu karena sepinya permintaan. Lebih dari 80 produksinya merupakan produk ekspor yang dikirim via Bali. “Sejak Bom Bali II permintaan pengiriman sepi. Akibatnya saya hanya bisa mengerjakan sisa order yang belum selesai,” kata Tugiyo, Selasa (22/11).

Sebelum kasus bom Bali II, katanya, setiap pekan ia mampu menghasilkan satu kontainer batik kayu ekpor dengan keuntungan bersih Rp4-5 juta. Namun kondisi saat ini benar-benar memprihatinkan.

“Dari 300 lebih perajin di sini sebagian besar terpaksa mengurangi pegawainya karena produk tidak laku dan mengentikan produksi. Saya bingung, mau saya apakan 15 tenaga kerja saya?” tambah Tugiyo.

Sementara itu, Riyadi, 42, perajin batik kayu asal Pajangan, Bantul, menambahkan, keuntungan yang diperoleh perajin juga mengalami penurunan sampai 40 karena naiknya biaya produksi sejak kenaikan harga BBM. Sebelum kenaikan harga BBM dari omset Rp30 juta/tahun, ia mampu meraup keuntungan 10. Namun saat ini keuntungan menurun karena harga kayu mengalami kenaikan.

Riyadi mengungkapkan, kayu sengon sebagai bahan baku batik kayu naik menjadi Rp600.000 - Rp800.000/m3 dari harga sebelumnya Rp400.000 - Rp500.000/m3.Bahan lain seperti kayu klepu juga naik menjadi Rp700.000 - Rp900.000/m3 dari harga sebelumnya Rp600.000 - Rp700.000/m3.

Tati, 24, karyawan sanggar Batik Peni menambahkan, kenaikan bahan baku itu tidak diimbangi dengan kanaikan penjualan, sebab daya beli masyarakat sedang rendah. “Tanpa dinaikkan harganya, konsumen sudah rendah daya belinya. Kalau kita menaikkan harga jual, konsumen bisa-bisa lari,” kata Tati.

Kondisi yang sama juga dialami lebih dari 60 perajin kulit di Manding Bantul. Mahalnya bahan baku dan biaya transportasi membuat lebih dari 20 perajin menghentikan usaha Sementara mereka yang masih bertahan mengalami penurunan keuntungan.
“Dulu setiap bulan omset saya bisa Rp40 juta dengan keuntungan rata-rata 10-20 persen. Sekarang bisa bertahan saya sudah untung, karena pengiriman barang sepi dan biaya produksi mahal,” kata July, pemilik kerajinan kulit Garda di Manding..

Saat ini di Yogyakarta terdapat ribuan perajin aneka macama suvenir yang tersebar di berbagai wilayah seperti perajin bambu di Mlati, Sleman, Gerabah Kasongan, dan Pundong (keduanya di Kabupaten Bantul), 100 lebih perajin perak di Kotagede Yogyakarta, Batik. Secara umum para perajin itu mengalami penurunan keuntungan dan sebagian lagi yang bermodal kecil terpaksa menghentikan usahanya sambil menunggu situasi kondusif.

Sumber : (Amirudin Zuhri/OL-1) MIoL, Yogyakarta