Bursa Batik ‘Sekar Jagad’, Batik Yang Mulai Ditinggalkan
Sunday, October 30th, 2005
Hari Sabtu (29/10) merupakan hari terakhir Bursa Batik yang diadakan oleh Paguyuban Pecinta Batik ‘Sekar Jagad’, Jogja. Acara yang diadakan di Jl. Kemetiran Kidul No.60 ini telah berlangsung selama 6 hari berturut-turut. Pada hari terakhir dari acara ini, ruangan yang disediakan sebagai tempat dipajangnya batik-batik tersebut terlihat sangat lengang. Acara yang diadakan dengan maksud dapat melestarikan batik ini terlihat tidak sampai ke tujuan. Hal ini terlihat dari data dalam buku penerima tamu yang hanya berjumlah 17 pengunjung selama acara tersebut berlangsung.
Acara ini didukung tidak hanya dari para pembatik dari kota Yogyakarta saja, namun juga dari berbagai daerah lain seperti Banyumas, Sokaraja dan Cirebon. Selain para pembatiknya yang bervariatif, batik yang diperjualbelikan di sini pun sangat bervariatif. Baik dari segi bentuk maupun motifnya sangat bervariasi. Di acara ini, diperjualkan lebih dari 50 kain batik dengan harga yang bervariasi.
Dilihat dari materi acara yang ditawarkan, sebenarnya acara ini memiliki muatan budaya yang kuat yaitu ingin menunjukkan eksistensi batik dan menumbuhkan rasa kecintaan terhadap produk lokal (batik) tersebut di masyarakat, khususnya generasi muda. Namun lokasi acara yang menjorok ke dalam menimbulkan perasaan tidak nyaman untuk dimasuki karena terkesan bukan wilayah yang bebas untuk dimasuki sembarang orang. Selain itu, acara ini terkesan kurang terpublikasi dengan baik di kalangan masyarakat umum. Hal ini terbukti dari daftar pengunjung yang rata-rata dari pihak Kraton saja.
Pengadaan acara yang sebenarnya sarat dengan muatan budaya seperti ini seharusnya mendapat apresiasi yang lebih baik dari warga Jogja itu sendiri. Namun tampaknya kurang menyentuh minat orang awam. Apakah batik sebagai salah satu bentuk kebudayaan yang masih banyak berkembang di kota Jogja ini mulai ditinggalkan oleh peminat-peminatnya? Atau sedikitnya pengunjung hanyalah karena lokasi dan kurangnya publikasi? Embel-embel yang selalu menyertai kota Yogya yang berbunyi bahwa Jogja merupakan kota seni dan budaya sepertinya mulai hilang, tergantikan dengan masuknya kebudayaan-kebudayaan baru yang mewarnai kehidupan kota Yogyakarta hari ini.
Sumber : (dito) Trulyjogja.com
Cinta batik telah menerbangkan Ishida Kana dari negeri asalnya Jepang ke Indonesia. Buat Kana, batik tak sekedar hobi tapi juga bisnis. Malah berkat usaha perempuan ini, batik makin dikenal di Negeri Sakura.
Perjalanan saya kali ini menuju ke sebuah rumah yang teduh nan nyaman yang berada di daerah jalan Kaliurang, tepatnya Jln. Pandega Marta 37A, Pogung. Nama toko yang saya tuju adalah Apip’s Batik, cukup pendek dan mudah untuk diingat. Apip’s batik adalah salah satu toko kerajinan batik yang ada di Jogja. Tentu saja ada yang membedakannya dengan kerajinan batik yang lain, so come on, let’s check it out!