Archive for September, 2005

Batik Kayu Sengon Menembus Pasar Mancanegara

Wednesday, September 28th, 2005

Pengrajin BatikKayu SengonDari berbagai macam kayu, kayu sengon adalah yang paling jarang digunakan untuk bahan bangunan. Padahal jumlah kayu ini cukup banyak. Soalnya, kayu sengon memiliki kelemahan, sangat lunak dan mudah patah sehingga harganya pun sangat murah. Namun, bagi sejumlah warga di Desa Krebet, Bantul, Yogyakarta, kelemahan kayu ini malah memacu kreativitas. Mereka memanfaatkan kayu sengon untuk barang kerajinan bernilai seni tinggi. Inilah batik kayu! Bahkan inovasi ini membuat warga terangkat hidupnya. Kini daerah ini menjadi sentra kerajinan batik kayu.

Munculnya kerajinan batik kayu ini menyusul matinya puluhan industri kain batik di kawasan itu karena makin mahalnya harga bahan baku. Setelah tak mampu lagi membeli bahan kain, warga memanfaatkan sisa-sisa cat dan zat pewarna batik untuk membatik di atas kayu sengon.

Agar menarik, kayu yang tak terpakai dan banyak dibuang itu dibentuk dulu menjadi patung, topeng atau lemari kecil. Selain mudah dibentuk, kayu sengon juga mudah diberi warna karena menyerap air dan tahan berbagai jenis cuaca. Meski berawal dari coba-coba, karya ini ternyata cukup inovatif. Produk kerajinan yang dihasilkan warga Krebet ini mampu menembus pasar hingga ke luar negeri.

Anton, satu dari 70 perajin batik kayu, tiap bulan mampu mengekspor produknya tiga hingga lima kontainer ke Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa. Harga jual tiap produk antara Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu. Dengan harga relatif murah untuk produk yang diekspor, Anton mampu meraup keuntungan puluhan juta rupiah per bulan.

Kini, sekitar 70 perajin di Desa Krebet sudah mulai melupakan kerajinan batik yang mahal bahan bakunya. Mereka tinggal mengolah kayu sengon yang selama ini dianggap kayu tak bernilai. Di banding kain, membatik pada media kayu juga lebih mudah dan tak perlu menggunakan aturan baku dalam dunia batik.

Sumber : (MAK/Wiwik Susilo) Liputan6.com, Yogyakarta

Kancing Tempurung Kelapa Bernilai Seni Tinggi

Monday, September 26th, 2005

Pengrajin Tempurung KelapaTempurung kelapa biasanya hanya dibuang sebagai limbah. Akan tetapi di tangan perajin asal Desa Nitikan, Umbulharjo, Yogyakarta, tempurung kelapa bisa disulap menjadi kancing baju yang bernilai seni tinggi. Yang paling menggembirakan, kancing baju buatan mereka laku keras di pasaran. Selain unik dan murah, kancing buatan warga Nitikan juga awet dibanding kancing baju plastik produksi pabrik.

Warga Nitikan biasanya membeli tempurung kelapa yang sudah tak terpakai Rp 500 per butir. Muarifin, salah seorang perajin tempurung kelapa, saat ditemui SCTV belum lama ini mengatakan, satu tempurung biasanya bisa menghasilkan delapan sampai 10 kancing baju ukuran besar dan 15 hingga 20 biji untuk ukuran kecil.

Menurut Muarifin, proses pembuatan kancing tempurung tak begitu sulit. Alat yang dibutuhkan juga sederhana. Dibantu tiga tenaga kerja, Muarifin mengaku, bisa menghabiskan tak kurang dari lima hingga tujuh karung tempurung setiap hari.

Mulanya tempurung dicetak dalam bentuk bulatan kecil. Setelah itu serat-serat kelapa yang ada di tempurung dibersihkan. Kemudian tempurung digosok agar lebih halus dan tinggal diberi lubang untuk memasukkan benang-benang dan siap dipasarkan. Satu kancing biasanya dijual antara Rp 300 sampai Rp 500.

Muarifin mengaku, dalam sebulan bisa mengantongi tak kurang dari Rp 20 juta dari hasil penjualan kancing baju kreasinya. Menurut dia, selama ini, konsumen terbanyak adalah para perajin batik atau baju tenun dari Yogyakarta, Solo dan Pekalongan.

Sumber : (ICH/Wiwiek Susilo) Liputan6.com, Yogyakarta

Dari Pekalongan dengan Batik

Sunday, September 18th, 2005

Kendati punya keunggulan, batik pekalongan justru ‘tak terdengar’.

Warna-warna cerah dan motif beragam. Dengan keduanya, batik Pekalongan bergerak cepat. Berbeda dengan batik Solo dan Yogya, batik Pekalongan terlihat lebih dinamis lantaran permainan motif yang lebih bebas. Kebebasan itu terasa ketika hadir motif batik untuk kalangan penggemar otomotif. Ada kain batik Volkswagen, Jeep, atau batik yang dibuat khusus untuk klub otomotif lainnya.

Rusdiyanto, pemilik Gama Collection, mencipta motif kipas asmara. Di atas kain mori halus, motif indah yang berpadu dengan warna cerah itu terlihat pas untuk pakaian santai para remaja.

Tak hanya motif, batik-batik Pekalongan juga unjuk gigi lewat keberanian bermain warna. Para penggemar batik menyebut warna batik pekalongan ngejreng. Tanpa warna yang berani, boleh dibilang batik pekalongan bakal kehilangan rohnya. ”Sebagai batik yang berkembang di luar lingkup istana (Solo dan Yogya), warna yang dibuat oleh perajin cenderung terang,” ujar Usman, pengusaha batik asal Buaran, Pekalongan.

Karena warna ‘berani’ itu juga, batik pekalongan mendapat ‘berkah’. Mereka bisa lebih berkembang di dunia mode.

Ini juga yang terlihat saat Festival Batik Pekalongan yang berlangsung 15-18 September di kota pesisir utara Jawa Tengah ini. Aneka busana Muslim, kerudung, pakaian santai dan resmi tampil mengikuti tren. Tentu saja tetap dengan batik. ”Kita selalu mengikuti selera pasar dalam membuat gaun Muslim dengan bahan dasar batik,” kata Romi Oktabirawa, ketua panitia Festival Batik Pekalongan.

Industri tekstil di Pekalongan sendiri cukup unik. Ternyata, batik bukan monopoli Kota Pekalongan. Warga di Kabupaten Pekalongan juga ikut menggeluti batik dan mereka terbagi di beberapa sentra. Sentra utama di kabupaten adalah Pekajangan, Kecamatan Kedungwuni, Tirto, dan Buaran. Sedangkan di Kota Pekalongan, sentra batik berada di daerah Medono, Setono, Pabean, dan Pasirsari.

Geliat batik pekalongan kini tidak hanya di dalam negeri. Mereka siap bergerak hingga ke mancanegara. Setidaknya ini terlihat dari banyaknya permintaan batik dari luar negeri. Pebisnis Amerika, Belanda, dan negara-negara di Eropa sudah lama berhubungan dengan pengusaha batik pekalongan.

Salah satu daya tarik asing terhadap batik pekalongan adalah lantaran perajin lebih terbuka dalam menerima pesanan. Misalnya saja, permintaan motif batik yang langka dapat saja dipenuhi.

Belum lagi media kain yang bisa bermacam-macam. Tidak hanya pada bahan katun, tetapi juga pada bahan kaos. Batik pada bahan baku kaos terlihat unik dan menjadi incaran buyer di Eropa, khususnya Belanda. Bahan baku sutra juga menjadi andalan batik Pekalongan untuk bersaing di luar negeri. Motif jlamprang, sekarjagat, atau motif khas lainnya, menjadi berkelas ketika dituangkan dalam bahan baku sutra.

Dengan keindahan itu dan kualitas baik, tidak aneh bila akhirnya harga batik sutra pekalongan melambung hingga mencapai jutaan rupiah. Sayangnya, kini perajin batik pekalongan tengah gundah. Perekonomian dalam negeri yang tidak stabil membuat mereka sering tertimpa masalah. Soal harga bahan baku kain atau bahan pewarna yang tiba-tiba melonjak cukup membuat mereka resah.

Meski begitu, mereka agaknya tidak hilang gairah untuk terus berkarya membuat batik-batik indah dan berkualitas. Paling tidak, semua inilah yang tampak dari Festival Batik Pekalongan.

Minim Promosi

Iwan Tirta. Namanya boleh dibilang berirama dengan kain-kain batik. Karyanya sempat dipakai para kepala negara ketika mengikuti sidang APEC 1994. Ratu Sirikit dari Thailand juga pernah mengenakan kain batik hasil rancangan pria bernama lengkap Nusjirwan Tirtaamidjaja ini.

Kecintaannya pada batik membuat Iwan akrab dengan aneka batik Tanah Air. Salah satunya adalah batik pekalongan. Iwan berkisah, batik untuk gaun sang ratu itu juga dari Pekalongan dengan bahan baku sutra.

Dipilihnya batik Pekalongan adalah karena corak warnanya yang terang. Batik pekalongan dianggap unik lantaran warna-warnanya itu. Untuk mereka yang berkulit terang, batik pekalongan lebih pas dikenakan. Di kalangan perancang busana, batik corak terang selalu menjadi incaran.

Sayangnya, ketika sebuah gaun batik muncul, malah nama batik yogya atau solo yang mencuat. ”Pokoknya rugi, Pekalongan tidak disebut-sebut,” kata pria kelahiran Blora pada 18 April 1935 ini.

Perajin Pekalongan juga, kata Iwan, terlalu asyik memproduksi tanpa berkomunikasi dengan masyarakat konsumen. Hal ini menjadikan batik Pekalongan justru tidak dikenal walau sebenarnya dipakai orang.

Usaha berpromosi pun minim dilakukan. ”Sangat dimaklumi jika perancang besar yang memakai batik pekalongan tidak menyebutnya sebagai batik produk Pekalongan karena memang tidak tahu,” kata Iwan.

Karena itulah Iwan menganggap ajang Festival Batik Pekalongan sangat penting untuk lebih memopulerkan batik khas Pekalongan.

Sumber : (aja) RoL, Pekalongan

Lirikan Menggoda Seprai Batik Sedjati

Saturday, September 17th, 2005

Batik SedjatiBelakangan ini usaha pembuatan seprai maupun perlengkapan tidur lain di Ibu Kota makin menjamur. Namun bahan yang masih jarang digunakan adalah batik katun. Sedjati, salah seorang yang terjun ke bisnis ini, lalu berinisiatif menggunakan batik buat seluruh produknya. Menurut ibu dua putra ini, menggunakan batik karena cinta batik. Apalagi banyak teman-temannya yang menggunakan sutra. “Jadi saya ambil kesempatan di situ,” ujar wanita ini.

Awalnya Sedjati hanya memproduksi bed cover. Dia terjun menggeluti bisnis ini pada 1999 dengan bermodal keahlian menjahit yang dimiliki sejak kecil. Perempuan ini menyatakan, usahanya berkembang karena permintaan pelanggan. “Jadi setelah mereka membeli bed cover dan lain-lain. Coba dong bikin misalnya taplak, gorden, seputar interiorlah, kemudian berkembang ke busana,” terang dia.

Wanita ini lalu melebarkan sayap membuat beragam item berbahan dasar batik. Kini selain taplak, gorden, sarung bantal dan guling, dia juga memproduksi sarung bantal sofa, hiasan dinding, mukena, sajadah, wadah tisu, kemeja, maupun beragam busana wanita atau pria. Yang menarik, meski pengerjaan produk cukup memakan waktu, tapi harga yang ditawarkan sangat terjangkau dan disukai semua kalangan. “Tidak hanya dari golongan yang punya tapi yang sedang-sedang pun udah suka,” ujar dia.

Sekarang wanita ini mengaku gembira karena upaya melestarikan batik melalui produknya cukup berhasil. Padahal semula pemasaran produk Sedjati hanya dari mulut ke mulut. Menurutnya, kesadaran masyarakat khususnya generasi muda untuk menggunakan batik kini bertambah tinggi. “Dan itu saya sediakan harga yang terjangkau untuk kalangan muda,” ucap Sedjati.

Saat ini tarif yang dipatok untuk seprai batik berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 700 ribu. Harga ini tergantung tingkat kesulitan desain dan mutu bahan batik. Untuk kemeja pria sekitar Rp 200 ribu. Ini sama dengan harga satu set mukena dan sajadah. Sedangkan untuk harga wadah tisu, tas, dan taplak cukup bervariasi dari Rp 7.000 hingga Rp 700 ribu.

Kini berkat keuletan dan tekad pantang menyerah, bisnis Sedjati yang dibantu empat karyawan tetap dan empat penjahit plasma ini terbukti mampu menghasilkan laba yang cukup besar. Dengan tetap menjaga kebijakan harga dan menomorsatukan mutu, produk wanita yang tetap cantik di usia kepala lima ini banyak dicari. Terutama usai pameran yang rajin diikuti. Dia memang tak mau mengecewakan pelanggan.

SEDJATI
Jalan Lebak Bulus II Dalam 9 Rt. 06/04
Cilandak Barat Jakarta 12430
Telp/fax : (021) 7664289
HP : 0811-181977

SUmber : (MAK/Tim Usaha Anda) Liputan6.com, Jakarta

Minyak Langka, Produksi Batik Menurun

Saturday, September 17th, 2005

Karena akhir-akhir ini sulit memperoleh minyak tanah, produksi sejumlah perajin batik di Kelurahan Bandung Kecamatan Tegal Selatan Kota Tegal menurun.

Sebelumnya, sebagai kegiatan sambilan di sela-sela pekerjaan rumah, warga bisa menyelesaikan selembar kain dalam satu minggu. Namun sekarang, pekerjaan itu diselesaikan lebih dari satu minggu.

Lurah Bandung Ratono kemarin mengatakan, produksi 150 perajin batik di wilayahnya menurun karena minyak sulit didapat.

Kesulitan itu dirasakan sejak tiga bulan yang lalu. Bahkan, satu bulan terakhir ini bisa dikategorikan sangat parah. ” Warga berupaya mencari minyak hingga ke wilayah Debong Kulon, Debong Lor, dan Tunon.”

Minyak tanah sangat penting ketika membatik. Sebab, para perajin butuh barang tersebut untuk mencairkan lilin malam dan untuk mencelup warna. Dalam sehari, setiap perajin memerlukan satu liter.

Meskipun kebutuhan rumah tangga warga cukup besar, jatah minyak tanah yang didapat dari pangkalan maupun pengecer minyak terbatas.

Seorang perajin di wilayah itu, Ratun (53) mengeluh kesulitan tersebut. “Saya harus menitipkan jerigen ke pengecer minyak di wilayah lain untuk mendapatkannya. Saya sudah tua, namun ingin berkarya dengan terus membatik, ya sudah, saya jalani saja,” ujar dia.

Biasanya dia bisa menghasilkan satu lembar kain batik dalam seminggu. Namun karena sulit memperoleh minyak tanah, satu lembar kain baru dia selesaikan dalam waktu sepuluh hari. Otomatis, ini mengurangi pendapatannya sebagai perajin.

Keluhan senada dikatakan Umi (41). Dia mengaku kesulitan menyisakan minyak tanah untuk keperluan membatik. Sebab, keperluan memasak di rumah cukup besar dan tidak bisa dipenuhi dari minyak yang dia dapatkan. Terpaksa, dia membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan batiknya.

“Biasanya, saya menyelesaikan satu lembar kain batik dengan ukuran panjang empat meter, dalam waktu enam hari. Namun karena minyak sulit, pengerjaannya sampai sepuluh hari,” ujar dia.

Lurah Bandung, Ratono berharap kelangkaan minyak segera diatasi. Sebab, dia khawatir kerajinan batik yang selama ini dinilai ikut menopang kebutuhan rumah tangga warga akan goyah karena kelangkaan minyak terus berlangsung.

Padahal, wilayah Bandung dan sekitarnya, baru pada bulan kemarin merintis batik sutera yang bisa meningkatkan pendapatan warga.

Sumber : (lei-52m) Suara Merdeka, Tegal

Imbas Merosotnya Rupiah: Pedagang Batik Naikkan Harga 10 %

Saturday, September 17th, 2005

Merosotnya nilai tukar rupiah yang terjadi beberapa waktu lalu berimbas terhadap para pedagang kain batik di Grosir Setono. Sebab, harga bahan baku tekstil dan obat batik juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Akibatnya, karena tidak mau menanggung kerugian akhirnya mereka menaikkan harga jual dagangannya sekitar 10 persen.

Hal tersebut dikatakan Direktur Pasar Grosir Setono Kota Pekalongan, Hasanudin, di ruang kerjanya, Jumat (16/9). Dia menjelaskan, kenaikan harga produk batik yang dilakukan para pedagang di tempatnya ini bisa dimakluminya. Masalahnya, produk batik yang dijual di tempatnya kebanyakan menggunakan bahan dasar kain santung yang harganya juga ikut mengalami kenaikan.

Dia menuturkan, sebelum terjadi lonjakan kurs dolar, para pembuat batik di Kota Pekalongan membeli bahan dasar kain santung sepanjang satu yard hanya dengan harga Rp 4 ribu. Kini, setelah mengalami kenaikan mereka harus membeli kain tersebut dengan harga Rp 4.300 per yard. “Yang paling menonjol mengalami kenaikan adalah harga kain sutra, awalnya hanya Rp 19 ribu per yard, sekarang ini menjadi Rp 27 ribu,” tandas dia.

Untung saja saat mengambil kain mereka mendapatkan kebijakan dari perusahaan kain batik untuk tidak mengambil secara langsung alias dibayar di belakang. Masalahnya, kalau dibayar di muka, kemungkinan mereka tidak akan mampu. Kebanyakan setiap dua bulan sekali mereka melakukan pembayaran dan pada saat membayar mereka memberi tambahan uang sebesar Rp 300 per yard.

Selanjutnya dia menambahkan, hal lain yang membuat para pedagang batik menjadi agak terguncang yakni dengan

adanya kenaikan harga obat batik. Menurut hasanudin, kenaikan bahan dasar dan obat ini tentu saja membuat para produsen akan mengimbangi dengan menaikan harga jual produksi batiknya. Hal ini dilakukan agar tidak mengalami kerugian, namun demikian kenaikan tersebut dilakukan tidak terlalu tinggi mengingat kemampuan beli masyarakat.

Minyak Tanah

Ketika disinggung mengenaik rencana pemerintah akan menaikkan harga BBM, salah satu diantaranya minyak tanah, dia mengatakan hal itu akan semakin membuat para pedagang batik di Grosir Setono menjadi risau. Betapa tidak, dengan adanya rencana tersebut, mau tidak mau mereka akan kembali menaikan harga jualnya. Jika hal itu sampai terjadi, dikhawatirkan para pembeli yang datang ke tempatnya menjadi sedikit lantaran harganya semakin melonjak.

Menyikapi kondisi seperti ini, Hasanudin berharap agar pemerintah bisa secepatnya memberikan solusi terbaik. Misalnya, menciptakan ide bagaimana masyarakat di Kota Pekalongan khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya bisa mempunyai daya beli yang tinggi terhadap batik.

“Kalau hal ini sudah dilakukan, kemungkinan kekhawatiran para pedagang tidak akan terjadi dan mereka pun bisa berniaga dengan baik,” tandas dia.

Sumber : (H4-50 ) Suara Merdeka, Pekalongan

Pasar (Batik) Dunia Maya

Saturday, September 17th, 2005

FESTIVAL Batik 2005 yang digelar Pencinta Batik Pekalongan dinilai beberapa pihak cukup strategis. Namun itu hanya akan menjadi kegiatan tentatif jika tidak diimbangi dengan terobosan lainnya.

Dalam upaya melestarikan budaya luhur bangsa itu, pasar batik menurut General Manager PT Telkom Kandatel Pekalongan Didik Sukasdi sudah saatnya di perbaharui dengan mengajak seluruh komponen masyarakat.

“Melestarikan batik sebagai budaya adalah kewajiban seluruh komponen bangsa,” tandasnya.

Karena itu, para perajin atau pengusaha batik harus meningkatkan komunikasi dan kerja sama.

Perajin juga harus berani membuat berbagai terobosan, baik di bidang pemasaran maupun strategi komunikasi dengan seluruh elemen masyarakat. Pada bidang pemasaran misalnya, masih banyak yang harus diperbaiki karena sebagian besar perajin batik masih menggunakan pola konvensional. Salah satunya, kelengkapan data base corak dan identitas perajin batik pekalongan masih jauh dari sempurna.

Padahal, masih banyak konsumen yang belum mengetahui corak maupun proses pembuatan batik.

Dunia maya

Perkembangan teknologi yang sedemikian pesat juga belum dimanfaatkan secara optimal untuk memasarkan batik. Jika perajin mau memanfaatkan teknologi internet, akan terbuka pasar yang luar bisa.

Batik pekalongan, kata Didik, adalah yang paling dikenal dan banyak menguasai pasar batik di dalam negeri. Sebab selain corak beragam, warnanya lebih berani dibandingkan batik lainnya. “Setahu saya, di luar jawa, batik pekalongan lebih disenangi. Jadi tak ada alasan untuk takut membuat terobosan dalam melestarikan dan menguasai pasar,” tegasnya.

Sumber : (Muhammad Burhan-52m). Suara Merdeka

Batik Mengalami Titik Terang di Jepang

Thursday, September 15th, 2005

Kepeloporan GKR. Hemas akan Sutera Liar, Atakas dan Criculla, mendapatkan respon positif masyarakat Jepang. Hasil Kolaborasi Seniman Indonesia dan Jepang diperlihatkan dan Penghargaan diserahkan di Kraton Kilen, Rabu 15 September 2004.

Masyarakat Perbatikan dan Persuteraan, GKR. Pembayun, President of PT. Yarsilk, Bambang Sumardiyono, Batik nakula Sadewa, Alex Iskandar, Tusmatex dan Simon Lenan, Lenan Pearl of Silk Rabu 15 September 2004, bertemu Ryoichi Nakanishi, Executive Director of The Japan Blue Association, Kazuhito Yano, President of Yano Co. Ltd., Hidemori Nakanishi, President of Miyabi Or Co. Ltd and Masato Kuroda, Board of Trustees, International Society for wild silkmoths untuk bekerjasama lebih intens dalam pemasaran Batik dan Sutera Liar di Jepang. PT. Yarsilk adalah perusahaan yang bergerak dibidang pemintalan benang sutera liar telah merintis kegiatannya sekitar 10 tahun silam, melalui pengembangan produk Sutera Liar Atakas dan Criculla yang telah dipelopori oleh GKR. Hemas dan beberapa pendiri lainnya. PT. Yarsilk bekerjasama dengan Jepang untuk mengembangkan Produk Sutera Liar yang dalam perkembangannya melibatkan para seniman Jepang untuk pengembangan dan inovasi produk terutama Sutera Atakas dan Criculla. Hal ini memiliki dampak produk-produk Indoensia lebih mudah diterima masyarakat Jepang. Hasil ini terlihat dari Pameran atas kerjasama PT.Yarsilk dan Balai Batik di Jepang dan bahkan Kedutaan Besar Indonesia di Jepang sempat menggelar Fashion Show dan deminstrasi produk-produk Indonesia. Duta Besar Indonesia dan balai batik mengundang PT.Yarsilk mengadakan Pameran di Wisma Indonesia - Tokyo. Pameran ini menampilkan produk-produk hasil kolaborasi antara Bali batik, PT.Yarsilk dan Seniman Jepang. Kegiatan Pameran dilanjutkan oleh balai batik dan PT. Yarsilk serta Japan Blue Association di Tokyo. Pameran ini menyertakan 12 seniman Indonesia agar dapat mencari model kolaborasi dengan seniman Jepang sesuai dengan bidang seni yang ditekuninya, antara lain seni batik, wayang, tenun ikat, songket, sutera dan lain sebagainya yang dilanjutkan dengan kunjungan balasan seniman Jepang ke Indoensia.

Sumber : (heri). Pemda DIY

Kelak, Batik pun Dikenakan untuk Disko

Tuesday, September 13th, 2005

Apa terobosan terbaru yang ingin dilakukan Afif Syakur terhadap batik? “Batik untuk ke diskotek pun bisa,” katanya menjawab pertanyaan wartawan yang menghadiri fashion show 72 karyanya di Hotel Gren Melia, Jakarta, akhir bulan lalu. Itu hanya istilah Afif untuk mengungkapkan bahwa batik pun dapat dibuat menjadi berbagai jenis busana, tidak hanya kain yang cuma digunakan pada upacara-upacara adat.

Perajin batik asal Yogyakarta ini ingin mengubah persepsi masyarakat tentang batik. “Buatlah batik menjadi sesuatu yang bagus dan memiliki arti,” ujarnya. “Saya yakin, kalau perajin (batik) bisa mengikuti alur (tren), kemajuan batik bisa dicapai. Bukan hanya akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tapi juga go international,” katanya melanjutkan.
Bagi Afif, batik merupakan karya seni yang memiliki jiwa. Setiap batik memiliki cerita yang diungkapkan pengrajinnya. Terbukti, batik mengandung cerita sejarah bangsa Indonesia dalam beberapa periode. Hal tersebut juga terungkap pula dalam beberapa karya Afif yang dikategorikan dalam beberapa jenis.
Kategori pertama, batik kraton diperagakan dengan paduan narasi teatrikal dan tembang tradisional. Batik kraton memiliki ragam hias berupa simbol-simbol berlatarbelakang budaya Jawa-Hindu. Setiap patron memiliki makna yang mengungkapkan kedudukan sosial si pemakainya. Pada umumnya, batik kraton berupa motif-motif yang bermakna dan motif larangan dengan warna-warna sogan, indigo (biru), hitam, dan putih.
Batik yang dikenakan masyarakat di luar keraton berbeda pula. Batik yang disebut dengan sudagaran ini dibuat oleh para pengusaha secara profesional yang dikembangkan dari batik kraton agar dapat dipakai rakyat biasa. Untuk batik Jogja dan Solo, misalnya, telah diberi coletan (warna pesisir).
Ketika bangsa Belanda masuk ke Indonesia, batik pun mengalami perkembangan. Pada umumnya, batik bergaya Belanda berupa kain sarung, mungkin agar pemakaiannya lebih mudah. Batik bergaya Belanda biasanya memiliki ragam hias buketan yang biasanya terdiri dari flora di negeri Belanda seperti bunga krisan, buah anggur, dan rangkaian bunga gaya Eropa.
Para pendatang China pun membawa pengaruh pada batik-batik tradisional. Para pengusaha China peranakan membuat batik sendiri dengan memasukkan unsur-unsur China, seperti ragam hias berupa simbol-simbol kebudayaan China, naga, burung hong banji, kilin, serta lukisan dongeng. Warna yang digunakan lebih condong pada warna-warna porselen.
Lebih jauh Afif mengangkat batik di era modern dengan membuat batik cosmo modern. Seperti apakah batik ini? “Warnanya sudah mengikuti tren,” kata Afif.
Menurut Afif tren batik tahun mendatang adalah dengan warna-warna kusam. “Tren 2006 menggabungkan warna-warna terang dengan warna-warna alam. Finishing-nya dengan warna-warna alam sehingga menghasilkan warna kusam,” katanya.
Sebanyak 15 batik cosmo modern yang ditampilkan Afif pada malam itu diambil dari batik-batik pesisir. “Batik pesisir bebas, memberikan pendekatan pada batik modern,” kata Afif. Bukan hanya motif yang bebas, cara pemakaian batik ini pun tidak mengikuti pakem tertentu. Afif memberikan banyak alternatif cara pemakaiannya. “Cara pemakaiannya sesukanya. Orang yang nggak suka bentuk kain bisa dibentuk modern misalnya dililit-lilit, dikombinasikan dengan bahan lain, atau ditumpuk,” ujarnya.
Afif memang mengatakan batik pun bisa ke disko hanya sebagai ungkapan. Tapi kalau batik bisa sebebas itu, bisa jadi suatu saat batik benar-benar ke disko. Siapa tahu?

Sumber : (Mila Novita) Sinar Harapan, Jakarta