Archive for August, 2005

Batik Tetap Bertahan di Tengah Perubahan

Wednesday, August 31st, 2005

Pengrajin BatikBusana dengan bahan batik sudah menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Variasi bahan baku hingga ornamen yang didesain membuat harga kain batik sangat variatif, tapi terjangkau oleh semua kalangan. Salah satu yang mendedikasikan diri dalam pekerjaan membatik ini adalah Mugi Raharjo. Pria asal Yogyakarta ini telah membatik sejak 1973.

Saat ditemui di Jakarta, baru-baru ini, Mugi menuturkan, mulai membuka pabrik batik sendiri setelah 30 puluh tahun bekerja di sebuah pabrik batik. Pabrik batiknya dibangun di tengah keramaian Ibu Kota, tepatnya di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Usahanya ini dibantu sekitar 30 karyawan.

Mulanya Mugi menjual batik dengan sebuah merek. Namun, untuk memperluas pemasaran, dia mengambil strategi tidak memasang label pada batik produksinya. Siasat ini cukup berhasil. Tidak jarang pabrik-pabrik batik besar yang berada di daerah memintanya ikut mengerjakan produksi mereka. Dari bisnis ini dalam satu bulan Mugi dapat meraup untung sekitar Rp 6 juta.

Di masa silam, motif batik sangat terbatas. Dahulu batik juga dikenal dengan ciri khas warna cokelat. Tapi, seiring perkembangan zaman, motif dan warna batik kini sangat bervariasi. Bahan untuk membuat batik juga sangat beragam hingga kualitas batik juga berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan ini membuat harga batik menjadi beragam.

Batik tulis misalnya, harganya memang cukup tinggi. Ini sepadan dengan cara dan teknik pengerjaannya. Mulai dari menggambar pola, melukis dengan malam atau lilin, pewarnaan hingga pengeringan. Semuanya dikerjakan tanpa mesin. Tak heran, waktu pengerjaan untuk satu helai kain batik tulis memakan waktu satu hingga dua bulan.

Satu batik tulis dari bahan katun dipasang harga Rp 250 ribu hingga Rp 750 ribu. Sedangkan batik tulis sutera harganya bisa mencapai antara Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta. Harga batik akan bertambah jika ditambah prada, sejenis warna keemasan yang akan membuat batik semakin terlihat mewah.

Sumber : (IAN/Nastiti Lestari dan Agus Ginanjar) Liputan6.com, Jakarta

Aplikasi Batik Apik

Sunday, August 28th, 2005

Walaupun hadir hanya sebagai apliksai busana, batik tetap menjadi penarik perhatian dan menambah keindahan dan keanggunan busana.

Batik tak akan lekang oleh masa dan mode. Kendati teknologi tekstil dan keragaman motif semakin menari, batik tetap menjadi pilihan tersendiri. Kehadiran batik pun kian bervariasi. Desainer asal Bandung Ani Medina menyajikan batik sebagai aplikasi yang apik pada busan a Muslim untuk pesta.

Ani menghasilkan rancangan ini berangkat dari konsep ingin mengangkat busana khas Nusantara, yaitu batik, dengan gaya yang lebih istimewa.”Saya ingin membuat busana Muslim berciri Indonesia lewat batik sebagai aplikasi,” katanya. Dengan menggunakan material dari sutra organdi, sutra nanas, dan batik beraksen prada, Ani menghadirkan busana Muslim yang juga berorientasi pada kebaya yang dimodifikasi. ”Meski pun sebenarnya busana Muslim yang saya rancang ini menggunakan bahan tradisional dan kebaya, namun saya tetap ingin menampilkannya sebagai busana yang tetap mengikuti mode masa kini,” papar Ani.

Ani memilih batik bermotif Sogan dengan prada untuk memunculkan kesan mewah pada busana pesta. ”Unsur prada pada batik akan membuat busana kelihatan glamour,” ujar Ani. Rancangan dalam warna pink, oranye, biru, kuning, putih, dan warna lainnya disajikan berupa setelan twopiecis dan threepiecis. Setelan ini terdiri dari rok A line dan blues dari modifikasi kebaya srta celana, blues dan rompi panjang. Semua rancangan ini bersiluet simetris dan feminine.

Aplikasi batik yang diterapkan di sini menggunakan teknih patchwork yang dibingkai dengan bordir. ”Saya sengaja tidak menggunakan detail payet dan manik-manik karena batik yang ada berprada,” terang Ani. Aplikasi batik ini di letakkan Ani pada bidang lebar dan tampak depan busana, seperti dada, rok, dan lengan. Munculnya konsep rancangan ini karena, Ani mengungkapkan karena ia terinspirasi pada keindahan dan keapikan batik yang memiliki karakter tersendiri di antara beragam tekstil yang ada.

Sumber : RoL

Kelurahan Bandung Diproyeksikan Menjadi Sentra Batik Sutra

Friday, August 26th, 2005

TAK kurang dari 20 ibu rumah tangga warga Kelurahan Bandung sibuk di halaman kelurahan, kemarin. Tangan mereka membubuhkan lilin malam pada bentangan kain sutra. Ya, kesibukan ibu-ibu di wilayah sentra batik tegalan itu memang lain dibandingkan dengan hari-hari biasa.

Bahkan, bentangan kain yang mereka manfaatkan untuk bahan batik juga boleh dibilang istimewa. Betapa tidak? Jika batik yang mereka produksi selama ini menggunakan kain, kali ini akan ditingkatkan agar mampu berkompetisi dengan produk daerah lain.

Apa yang kini dirintis ibu-ibu tersebut selaras dengan tekad Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Tatiek Adi Winarso yang akan melakukan terobosan agar batik tegalan bisa menjadi produk andalan.

“Insya Allah, September lusa batik tegalan dengan bahan sutra ini akan diluncurkan,” ujarnya.

Tak pelak, potensi kerajinan di wilayah paling selatan Kota Tegal yang sudah dikenal sebagai sentra batik terus dikembangkan.

Salah satunya dengan mengadakan pelatihan yang diadakan tiga tahap dalam tiga tahun terakhir ini.

Desain

Menurut keterangan Kepala Kelurahan Bandung Ratono, selain membatik dalam pelatihan itu juga diajarkan mendesain.

“Desain batik tegalan dapat dikatakan monoton. Karena itu, perlu peningkatan keterampilan membuat pola atau desain di kalangan perajin,” ungkapnya.

Dia mengutarakan, pihaknya bekerja sama dengan Bagian Perekonomian Pemkot mendatangkan pelatih dari Politeknik Pusmanu Pekalongan yang mempunyai Jurusan Batik. Dalam pelatihan tersebut diajarkan pendesainan, pewarnaan, dan pelorotan (penghilangan lilin malam).

Pemasaran batik sutra dari Kelurahan Bandung, tuturnya, telah mencapai Jakarta dan Bali dengan 90 perajin. Penjualannya baru sebatas melalui media pameran, antara lain di TMII pada Sabtu (21/8) hingga Minggu (22/8) dan di Pekan Raya Pameran Pembangunan (PRPP) Jateng di Semarang mulai Kamis (25/8).

Selama ini, batik yang diproduksi di Kelurahan Bandung berupa batik primis dan katun atau nonsutra. Dengan demikian, perajin di wilayah tersebut belum mahir membatik pada kain sutra. Membatik pada kain sutra mempunyai kesulitan tersendiri. Hal ini disampaikan salah seorang pelatih, Mutadin ST, yang juga dosen sekaligus Kepala Jurusan Teknik Batik di Politeknik Pusmanu.

“Membatik pada kain sutra harus hati-hati karena lilin yang terlalu matang (panas) cenderung akan mblobor ketika dibubuhkan pada kain. Di samping itu, pemilihan zat warna harus tepat,” papar dia.

Sumber : (Siti Kholidah-52j) Suara Merdeka

Kain Batik

Wednesday, August 24th, 2005

Batik memiliki beragam motif. Tak hanya dari dalam negeri, batik ada yang berasal dari mancanegara, seperti Rusia.

Di Indonesia sendiri, motif batik juga bervariasi, diantaranya adalah batik Jogja dan batik SOlo. Walau keduanya menggunakan ukel dan semen-semen, namun sebenarnya kedua batik ini berbeda. Perbedaannya terletak pada warnanya. Batik Jogja berwarna putih dengan corak hitam, sedangkan batik Solo berwarna kuning dengan corak tanpa putih.

Penggunaan kain batik ini pun berbeda-beda. Di Kraton Jogja, terdapat aturan yang pakem mengenai penggunaan kain batik ini. Untuk acara perkawinan, kain batik yang digunakan haruslah bermotif Sidomukti, Sidoluhur, Sidoasih, Taruntum, ataupun Grompol. Sedangkan untuk acara mitoni, kain batik yang boleh dikenakan adalah kain batik bermotif Picis Ceplok Garudo, Parang Mangkoro, atau Gringsing Mangkoro.

Saat ini batik telah menjadi tren baru di tengah masyarakat. Tak hanya sandang yang menggunakan kain batik sebagai bahannya. Sarung bantal, gordyn, dan seprei pun telah ada yang menggunakan kain batik. Ini adalah awal mula yang baik bagi pelestarian seni batik. Awalnya harus mencintai dahulu, kemudian muncul rasa andarbeni (memiliki) dan akhirnya nguri-uri (melestarikan).

Kesadaran ini sudah mulai dan terus digalakkan. Batik Tamanan Kraton pun dibentuk untuk khusus membatik motif Kraton Jogja.

Sumber : (ind) Trulyjogja

Seni Membatik

Wednesday, August 24th, 2005

Walau motif batik sudah menjadi pemandangan yang umum di kota Jogja, namun hanya segelintir orang yang mengetahui bagaimana pembuatan batik ini sendiri. Berdasarkan pembuatannya, batik dibedakan menjadi dua macam, batik cetak dan batik tulis.

Karena batik cetak dibuat dengan mesin pencetak, nilai seninya tak setinggi batik tulis. Kemampuan membuat batik tulis inilah yang belum banyak diketahui orang.

Dalam proses pembuatan batik tulis, dibutuhkan keselarasan seni dan kesabaran pembatik. Urutan pembuatannya diawali dengan menggambar motif batik di atas kain mori atau sutera. Setelah motif tercetak, dilanjutkan dengan klowongan atau ngengreng. Tahap berikutnya adalah isen-isen atau cecek.

Setelah selesai, tahapan selanjutnya adalah nerusi, yaitu kembali membatik pada sisi sebaliknya. Dilanjutkan dengan nembok atau memblok untuk hasil warna putih dan coklat. Kemudian dicelup dengan warna biru.

Setelah kain kering, dilakukan nembok lagi untuk pewarnaan putih dan hitam. Terakhir, dicelup dengan warna coklat soga. Keseluruhan proses ini membutuhkan waktu paling cepat 1,5 bulan untuk satu lembar kain batik.

Sumber : (ind) Trulyjogja

Busana Batik Warnai Sidang Paripurna DPD dengan Presiden

Tuesday, August 23rd, 2005

Selain menghadirkan kelompok musik orkestra pimpinan Addie MS, sidang paripurna Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tampak meriah dengan busana batik beragam corak dan warna yang dikenakan hampir seluruh anggota DPD.

Tentu saja pemandangan ini berbeda dengan sidang-sidang yang biasa digelar di Gedung Nusantara DPR/MPR selama ini yang kerap diwarnai dengan busana jas, baik saat sidang MPR maupun DPR. Apakah anggota DPD sudah janjian tampil beda dengan busana batik?

“Memang sidang kali ini anggota DPD diwajibkan memakai pakaian batik dengan corak bervariasi dan karakter daerah. Dengan pakaian batik, selain nyaman, juga sesuai imbauan presiden untuk menghemat energi,” kata Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita dalam pidato pengantarnya di Gedung Nusantara DPR/MPR, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (23/8/2005). (more…)

Peserta Sidang Paripurna DPD Diwajibkan Kenakan Batik

Sunday, August 21st, 2005

Peserta Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Daerah (DPD) untuk mendengarkan pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang tentang visi dan arah pembangunan serta kebijakan pemerintah dalam mendorong percepatan pembangunan daerah pada Selasa (23/8), diwajibkan menggunakan batik.

“Seluruh undangan, termasuk Presiden, gubernur, walikota, bupati, ketua DPRD, diwajibkan berpakaian nasional, batik,” kata Ketua Panitia Ad Hoc II DPD, Kasmir Tri Putra di Jakarta, Ahad.

Menurut Kasmir, kebijakan tersebut merupakan momentum agar dalam keseharian para pejabat memiliki baju formal yang dapat dibudayakan.

“Tidak perlu pakai jas yang mahal. Di Singapura saja, untuk bekerja sehari-hari cukup menggunakan baju kemeja putih lengan pendak,” kata Senator asal Lampung ini.

Penggunaan baju batik tersebut, kata Kasmir, juga terkait dengan program hemat energi yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Mengenai pidato Presiden pada Sidang Paripurna pertama DPD itu, menurut Kasmir, DPD ingin mendengarkan kebijakan pemerintah dalam pembangunan nasional.

“Kebijakan pembangunan mungkin sudah berjalan, tetapi pemerataannya yang belum. Strategi pengembangan wilayah yang diinginkan pemerintah masih memiliki titik lemah, dan ini yang harus dipecahkan,” ujar Kasmir yang juga Wakil Ketua DPW Muhammadiyah Lampung itu.

Sumber : (ant/pur) RoL, Jakarta

SBY dan Tamu Undangan Wajib Pakai Batik di Paripurna DPD

Friday, August 19th, 2005

Batik lengan panjang. Konstum inilah yang wajib dikenakan seluruh tamu undangan yang akan menghadiri rapat paripurna DPD pada 23 Agustus 2005.

Ketentuan mengenakan pakaian batik dituliskan dalam undangan yang dilayangkan para senator itu.

“Kita nanti dalam acara tanggal 23 Agustus akan menggunakan batik semua karena dalam undangan ditulis menggunakan batik lengan panjang. Jadi ini yang pertama,” kata anggota DPD Sarwono Kusumaatmadja di ruang sidang DPD Nusantara III, DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Jumat (19/8/2005). (more…)

Batik Pasar Beringharjo

Friday, August 19th, 2005

Pasar Beringhardjo YogyakartaKalau kota Solo terkenal dengan Pasar Klewer-nya, Jogja terkenal dengan Pasar Beringharjo. Pasar tradisional yang terletak di jalan Malioboro bagian selatan dan dekat dengan benteng Vredeburg ini merupakan salah satu ciri khas Jogja. Pasar ini sangat luas dan terdiri dari tiga lantai dengan masing-masing lantai dan tempat memiliki pos barang dagangan yang berbeda-beda. Kali ini Anda akan diajak untuk menjelajahinya dan mendapatkan berbagai barang yang Anda cari. Namun terlebih dulu siapkan diri untuk berdesakan dan menawar harga. Anda siap? Ayo…!!!!

Salah satu oleh-oleh yang banyak tersedia di Pasar Beringharjo adalah batik mengingat batik juga menjadi salah satu barang khas Jogja. Kalau dulu batik identik dengan hal-hal yang berbau tradisional sehingga lekat dengan adat Jawa dan orang tua, kini sudah menjadi salah satu tren untuk semua umur.

Koleksi batik di pasar ini cukup lengkap, baik untuk anak-anak, remaja, dan orangtua, semua tersedia dalam berbagai model, termasuk jika anda ingin membeli batik yang seragam untuk keluarga. Berbagai macam batik dapat ditemukan di sini, dari kain batik, jarit (kain batik untuk bawahan berbusana jawa), baju batik untuk resepsi atau acara resmi, daster batik, seprei batik, sampai dengan asesoris rumah dari batik.

Kios-kios yang ada di pasar Beringharjo ini menjual berbagai batik yang dibuat oleh para pengusaha kelas kecil dan menengah sehingga tidak banyak merek terkenal atau merek tertentu, meskipun ada beberapa. Jadi pasar ini tepat buat mereka yang tidak fanatik terhadap satu merek batik tertentu.

Jajaran kios batik ini terletak di bagian depan sayap kiri pasar dan bagian dalam setelah memasuki pintu utama sampai dengan 75 meter ke belakang. Banyak sekali kios-kios yang menjual berbagai hal berbau batik, jadi anda dapat berkunjung dari satu kios ke kios yang lain. Harganya pun sangat beragam, dari yang belasan ribu sampai puluhan ribu bisa ditemukan. Kunci untuk berbelanja di tempat ini adalah kepintaran untuk memilih barang dengan kualitas yang bagus dan kemampuan untuk menawar. Bukan tidak mungkin, barang yang didapatkan kualitasnya tidak terlalu bagus tetapi harganya cukup tinggi.

Terdapat dua pilihan Batik yang dijual di Pasar Beringharjo yaitu batik cetak dan batik tulis. Batik cetak adalah batik yang motifnya dicetak dengan mesin, sedangkan batik tulis motifnya dibuat asli perlahan-lahan dari tangan si pembuat dengan menggunakan bahan malam dan alat yang bernama canting. Untuk membedakannya, perhatikan bagian dalam dan luar kain batik yang akan dibeli. Jika bagian dalam dan luar tidak sama, yaitu bagian luar tercetak jauh lebih jelas, maka itu merupakan batik cetak, tetapi jika bagian dalam dan luar sama, itulah batik tulis. Karena rumitnya pembuatan, harga batik tulis relatif jauh lebih mahal.

Batik di Pasar Beringharjo dapat dibeli dalam jumlah yang besar karena selain wisatawan yang membeli oleh-oleh batik secukupnya, pasar ini merupakan pusat grosir penjual batik eceran di Jogja maupun luar Jogja. Sayangnya, pasar ini hanya buka sampai jam 5 sore.

Satu lagi yang perlu diingat, Pasar Beringharjo, seperti pasar-pasar lainnya adalah tempat umum yang rawan copet. Berhatilah-hatilah dengan barang berharga Anda, siapa tahu, ada copet yang sedang mengawasi. Siapkah Anda berbelanja batik?

Sumber : (titi) Trulyjogja