Archive for July, 2005

Sri Siswanti Susilo: Kreasi Aplikasi Kain Katun dan Batik

Sunday, July 31st, 2005

Hanya butuh sedikit kreasi, maka sebuah produk akan terlihat berbeda walau dibuat dari bahan yang sama. Dengan sentuhan ide-ide kreatif, Sri Siswanti Susilo membuat mukena katun menjadi berbeda dari umumnya. Ia melakukan teknik mix and match guna menghasilkan produk yang istimewa. Kain katun putih diberinya aplikasi batik, tenun, dan blacu dengan berbagai warna.

Proses kreatif Siswanti tidak hanya menghasilkan, mukena tapi juga produk lainnya seperti bedcover, sajadah, taplak meja, tas, gordin, dan suvenir lain. ”Aplikasi kain-kain itu dibentuk dengan berbagai motif dengan desain menarik, seperti bunga, dan dibordir pinggirannya,” paparnya. Hampir tiap produknya menggunakan tiga materi kain, yakni katun, batik dan blacu yang saling bergantian menjadi bahan utama dan aplikasi dengan beragam motif menarik. Siswanti juga bereksperimen dengan aplikasi patchwork bermotif lukisan dan bunga dengan permainan komposisi warna-warna terang yang konfrontatif. Alhasil, terciptalah bentuk-bentuk pop art yang seru dari bahan katun, batik, dan blacu.

Memang, ketiga kain itu menjadi inspirasi tersendiri bagi Siswanti untuk menyalurkan hobi yang dilakoninya sejak remaja ini. Dari hobi ini ia kemudian memulai usaha handicraft pada 1996 dengan merk Pernak-Pernik Nanita. Rumahnya yang asri di kawasan Sawangan, Depok, dijadikan workshop sekaligus showroom. Terlihat hampir di setiap ruang rumahnya terdapat hasil karya sentuhan tangan Siswanti, seperti mukena, sajadah, taplak meja, gordin, tas, sprei, bedcover, dan aneka suvenir.

Hobi menjahit
”Awalnya saya senang dengan pernak-pernik. Lalu lebih mengkhususkan pada kain katun, batik dan blacu. Pokoknya yang bernuansa tradisional,” ujar ibu tiga anak ini. Siswanti menuturkan, semuanya ini diawali dari kesenangannya menjahit sejak remaja. Ia sempat mengikuti kursus menjahit sewaktu tinggal di Surabaya. Pada tahun 1976 sempat membuka usaha menjahit baju, tetapi tak berlangsung lama. ”Saya merasa tidak santai karena selalu diburu waktu,” katanya.

Tahun 1994 Siswanti melihat seorang temannya mempunyai usaha aplikasi. Ia merasa tertarik, tetapi waktu itu belum mempunyai niat untuk mengikuti buka usaha yang sama karena waktunya masih tersita untuk mengurus anak. Namun, karena memiliki naluri bisnis ia pun tergerak untuk membeli karya temannya dan menjualnya kembali.

Lama kelamaan Siswanti berpikir untuk ikut mendalami keterampilan aplikasi ini dan membuka usaha sendiri. Setelah itu ia pun mulai menerima order suvenir berupa tas-tas kecil atau hantaran yang dihias dengan kreasinya. Usaha ini dikembangkan Siswanti dengan memanfaatkan sekaligus memberdayakan anak-anak putus sekolah yang ada di sekitar lingkungan rumahnya. ”Saya mempelajari aplikasi dan kemudian mengajarkannya pada anak-anak putus sekolah itu,” ungkapnya.

Dipilihnya katun, batik dan blacu sebagai media kreasinya, papar Siswanti, karena ketiga bahan tersebut sangat mudah didapat dan harganya pun murah. ”Sedangkan katun motifnya banyak dan lucu-lucu. Semua bahan tersebut bisa ditemukan di Pasar Cipadu-Cipulir, Pasar Tanah Abang dan Pasar Jatinegara,” katanya. Untuk mendapatkan ide membuat pernak-pernik, Siswanti memperolehnya dari pesona alam. ”Dalam berkreasi saya tidak pernah menyontek karya siapa pun,” ujarnya.

Untuk mengawali usahanya ini Siswanti mengaku hanya modal dengkul. Adapun modal yang ada ia kumpulkan dari sisa uang belanja setiap bulan. ”Saat itu terkumpul sekitar Rp 1,5 juta,” ungkapnya. Untungnya saat itu ada pesanan untuk acara perkawinan. Dari keuntungan itulah ia memutarnya untuk modal selanjutnya.

”Saya tidak mau meminjam uang dari bank, takut tidak bisa bayarnya. Biar kecil yang penting usaha saya lancar. Oleh karena itu kalau ada orang yang memesan seharga Rp 1 juta, saya pasti minta uang muka dahulu,” kata Siswanti yang menganggap usaha ini hanya sekedar mencari kesibukan dan mengisi waktu luang sebagai ibu rumah tangga.”Anak-anak saya sekarang sudah besar-besar jadi saya punya banyak waktu luang. Suami saya senang melihat saya selalu ada dirumah dan punya kesibukan,” terangnya. Bahkan, suami dan ketiga anaknya tak jarang ikut memasarkan hasil karya Siswanti.

Dalam menjalankan usaha ini Siswanti berprinsip tidak ngoyo agar rumahtangga pun tetap dapat ‘dipegangnya’. Untuk menunjang usaha aplikasi ini awalnya ia hanya memiliki satu mesin jahit dan mengerjakan sendiri semua produk yang ada. Kini Siswanti memiliki satu mesin bordir, satu mesin obras, dan dua mesin jahit dengan jumlah karyawan sebanyak tiga orang. Dengan itu Siswanti mampu menerima pesanan tas hingga 400 buah.

”Kalau pun ada stok barang, tidak pernah lebih dari 20 buah dalam satu bulan,” ujarnya. Omzet usaha bergantung pada banyaknya pesanan. ”Kadang Rp 5 juta per bulan, kadang bisa mencapai Rp 10 juta per bulan,” ungkap. Ia menyebutkan, jumlah pesanan membengkak saat menjelang hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Selain itu, pesanan juga datang dari para keluarga yang menyelenggarakan pesta pernikahan atau ulang tahun. Harga produk yang ditawarkan bervariasi dari yang termurah untuk sarung HP Rp 30 ribu sampai yang termahal untuk bedcover Rp 400 ribu. Sedangkan, produk unggulannya mukena dijual seharga Rp 200 ribu.

Siswanti memaparkan, ia sangat mengandalkan pemasaran produknya ini dari mulut ke mulut selain mengikuti pameran-pameran. ”Setiap bulannya ada saja yang memesan, baik untuk acara ulang tahun atau pernikahan. Saya memang mengerjakan produk-produk ini tergantung dari pesanan,” ujar Siswanti yang tidak jarang pula jika ada waktu luang, mengajarkan ilmu aplikasi yang dimilikinya kepada rekan-rekan di Dharma Wanita tempat suaminya bekerja di Departemen Pekerjaan Umum. ”Ilmu akan lebih bermanfaat bila kita mengamalkannya,” tutur wanita sempat mengenyam pendidikan selama tiga semester di IKIP Solo ini.

Sumber : (ruz) RoL

1000 Pembatik Pekalongan Siap Pecahkan Rekor Dunia

Wednesday, July 20th, 2005

Sukses menggelar Festival Batik Pekalongan (FBP)tahun 2003 dengan memperoleh beberapa penghargaan dari MuseumRekor Indonesia (Muri), tahun ini FBP akan kembali digelarSeptember mendatang.

Kali ini berkancah internasional dan telah mendapatkan rekomendasi dari Guiness Book Record untuk dicatat sebagai event terlangka kelas dunia. Pernyataan itu disampaikan Rabu(20/7) siang kemarin oleh Ketua Panitia FBP, H Romi Oktabirawa, didampingi dua sekretarisnya Fery dan Fathoni kepada pers. Menurutnya, festival yang digelar untuk kali keduanya itu bertemakan dari Pekalongan membatik dunia.

Tema itu cukup beralasan karena acara yang didukung penuh oleh Pemkot dan Pemkab Pekalongan , Paguyuban Pecinta Batik Pekalongan (PPBP), dan Unika Sogijapranata Semarang tersebut, juga mendapatkan dukungan sponsor ship dari Pemerintah Belanda yang akan mengirimkan dua ahli batik ke Pekalongan saat dilangsungkan festival.

Selain itu, pihak Guiness Book Record telah menyetujui mencatat event terlangka festival batik yakni batik on the road yang akan menggelar 1000 meter kain dan dibatik oleh 1000 pembatik Pekalongan. “Ini untuk menunjukkan kepada kalangan masyarakat nasional dan dunia internasional terhadap popularitas batik Pekalalongan,” kata Romi.

Selama ini batik Pekalongan popularitasnya telah mendunia,
namun untuk popularitas Pekalongan sebagai kota pemroduksi batik tidak seindah batiknya. “Bahkan 70 persen batik Pekalongan dinikmati oleh masyarakat nasional dan dunia Internasional,” tandasnya.

Persiapan festival kemarin sudah mulai bergema di Kota dan Kabupaten Pekalongan, dan pekan ini panitia akan membuka soft opening FBI dengan membagikan 1000 kain kepada 1000 pembatik (buruh batik) untuk dibatik secara apik. 50 batik terbaik akan diikutsertakan dalam festival, pembatiknya juga akan mendapatkan penghargaan.

Sumber : (Agus Wijonarko) RoL, Pekalongan

Anak Jalanan Dilatih Membatik

Tuesday, July 19th, 2005

PRODUKSI batik Pekalongan yang telah dikenal ke luar daerah ataupun mancanegara ternyata belum sepenuhnya diimbangi dengan regenerasi yang baik.

Hal itu dapat dilihat di sejumlah tempat usaha batik, jarang dijumpai kaum muda ikut terlibat dalam proses produksi.

Jika kondisi itu tidak segera dicarikan solusinya, dikhawatirkan beberapa tahun mendatang produksi batik Pekalongan akan surut.

Karena itu, Kantor Kesejahteraan Sosial (Kesos) bersama Politeknik Batik (Polbat) bekerja sama melakukan pembinaan generasi penerus batik. Kegiatan itu sekaligus untuk memberikan bekal pada masyarakat tidak mampu.

Sedikitnya, 10 anak jalanan selama delapan hari mendapat pelatihan membuat batik, mulai dari pembuatan desain manual ataupun komputer, pencetakan, dan penyablonan.

Setelah lulus pelatihan, mereka diharapkan mampu mandiri dan mengembangkan keterampilan praktis yang didapatnya tersebut. Dengan demikian, mereka bisa menciptakan lapangan kerja sendiri dan untuk orang lain.

Tak tanggung-tanggung, mereka dilatih oleh para pengajar yang sebagian besar merupakan pengusaha batik sukses dan menekuni bidang usaha itu selama puluhan tahun.

Materi yang diberikan pun tidak sekadar ala kadarnya. Materi meliputi teori, praktik, dan magang.

Dengan demikian, meski mereka rata-rata tamatan SD-SMP, dalam beberapa hari mereka sudah mampu membuat batik.

Ketua Tim Penggerak PKK Ny Basyir Ahmad ketika mengunjungi tempat pelatihan di kampus Polbat Jalan Sudirman mengungkapkan, dengan adanya pembinaan tersebut diharapkan akan tercipta sumber daya manusia yang mampu menciptakan desain-desain baru dalam dunia perbatikan.

Karena itu, dia mengimbau kepada para peserta pelatihan untuk mengikuti secara serius, telaten, dan menyerap semua yang diperoleh. Hal ini sangat perlu untuk dilakukan agar kreativitas semakin berkembang.

“Yang jelas, jangan cepat putus asa. Kalau mau belajar dan terus berusaha ya pasti bisa,” pesannya di depan para peserta pelatihan.

Kepala Kantor Pelayanan Kesejahteraan Sosial Totok Prawoto S Sos mengemukakan, selama satu tahun ini pihaknya telah memberi bekal keterampilan terhadap puluhan anak jalanan.

Mereka mengikuti pelatihan sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan masing-masing.

Perinciannya 10 anak ikut pelatihan menjahit, 10 anak ikut pelatihan montir, 10 anak ikut pelatihan sablon, 10 anak ikut pelatihan pembuatan kue, dan 5 anak ikut pelatihan menyetir.

“Harapannya, 75% dari mereka seusai mengikuti pelatihan akan mandiri. Namun, 50% saja tercapai itu sudah bagus,” ujarnya.

Menurut pandangannya, dengan langkah tersebut secara langsung ikut nguri-uri batik dan meningkatkan sumber daya manusia demi regenerasi selanjutnya.

“Sebab, jika tidak ada upaya pembinaan dari sekarang dikhawatirkan batik akan semakin ditinggalkan. Dan imbasnya, ciri khas Pekalongan sebagai penghasil batik semakin memudar,” tandasnya.

Sumber : (Wawan Hudiyanto-52j) Suara Merdeka

Usaha Batik Berjalan Tertatih

Monday, July 18th, 2005

Pengrajin BatikKenaikan harga bahan bakar minyak memukul telak sektor industri tekstil, termasuk batik. Ini diakui Yuli Supriyanti, pengusaha batik asal Banyumas, Jawa Tengah, baru-baru ini. Menurut dia, omzetnya turun hingga Rp 5 juta per bulan. Kendati demikian, Yuli mewakili perajin batik lain, tak akan menyerah. Mereka berupaya bertahan dari berbagai krisis dengan menyiasati produk yang hendak dijual.

Menurut Yuli, mempertahankan batik tradisi nenek moyang tidak mudah. Apalagi di tengah harga bahan baku yang mahal dan persaingan cukup ketat. Sebelum terjadi krisis bahan bakar, usaha batik Yuli beromzet Rp 10 juta. Ini terjadi karena daya beli masyarakat yang lebih rendah pascakenaikan harga bahan bakar, terutama minyak.

Sebagai pewaris tradisi batik khas Banyumas, Yuli bersama sejumlah perajin lain menyiasati dengan mengubah jenis produk. Semula, batik Banyumasan hanya membuat batik tulis biasa berupa kain panjang. Kini, mereka memproduksi dalam bentuk kemeja dan celana dengan harga antara Rp 40 ribu hingga ratusan ribu rupiah per potong. Berbeda dengan produk serupa dari Yogyakarta atau Solo, batik Banyumasan memiliki ciri khusus di antaranya dalam bentuk motif dan corak warna.

Sumber : (YAN/Mardiyanto dan Herry Susanto) Liputan6.com, Banyumas

Presiden SBY Siap Berbatik Ria

Wednesday, July 13th, 2005

Borong Batik Keris

Presiden SBY tak main-main dengan gerakan hemat energi yang dicanangkannya. Presiden kini bersiap untuk sering-sering berkemeja batik lengan pendek. Sepuluh lembar kemeja sudah disiapkan untuk SBY, lima di antaranya masih baru.

Setumpuk kemeja hemat energi itu –cocok dikenakan di ruangan yang AC-nya tidak terlalu dingin– tampak dibawa oleh staf Istana Kepresidenen bernama Uci. Kepada wartawan, Uci menjelaskan baju-baju yang dibawanya itu milik Presiden SBY.

“Ini batiknya bapak. Yang ini (di tangan kiri) dari laundry, yang ini (di tangan kanan) baru. Bapak sendiri yang memilih,” kata Uci ketika dipergoki wartawan di lingkungan Istana Kepresidenan, Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (13/7/2005) sekitar pukul 15.00 WIB. (more…)

Perikanan dan Pembatikan Serap 50.000 Pekerja

Wednesday, July 13th, 2005

Wali Kota Pekalongan HM Basyir Ahmad mengatakan, sebagian besar penduduk Kota Pekalongan bermata pencaharian di sektor perikanan dan industri pembatikan.

”Kedua sektor itu mampu menyerap lebih dari 50.000 pekerja sehingga kedua sektor tersebut merupakan salah satu penopang sistem perekonomian di Kota Batik,” kata Wali Kota, ketika menerima kunjungan Komisi IV DPR RI yang dipimpin Drs H Haryono SH di ruang sekretariat, kemarin.

Ikut mendampingi Wali Kota, Ketua Komisi B Slamet Imron SH, Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Kelautan dokter hewan Widagdo, dan Kepala Divre Bulog Wilayah Pekalongan Bambang Napitupulu serta delegasi dari dinas dan instansi terkait.

Kunjungan DPR itu dilakukan dalam masa reses untuk mencari masukan dari daerah-daerah. Karena itu, komisi yang membidangi kelautan, pertanian, dan kehutanan tersebut langsung datang ke Pekalongan untuk meninjau perikanan di TPI dan Pelabuhan Pekalongan.

Menurut Basyir, perincian pekerja itu, sekitar 25.000 orang bekerja di bagian pembuatan gereh, pengalengan ikan, tenaga bongkar muat, pelelangan, pencarian ikan serta bakul ikan.

Dia juga mengatakan, sarana mereka cukup baik karena memiliki dua tempat pelelangan ikan yang mampu menampung 40 kapal untuk bongkar muat. ”Keunggulan TPI Pekalongan, semua transaksi dilakukan dengan tunai pada hari itu juga,” katanya.

Rp 182 Miliar

Mengenai produksinya, pada 2004 mencapai 58.000 ton dengan nilai Rp 182 miliar. Diharapkan tahun ini produksinya meningkat sehingga akan makin meningkatkan perekonomian sektor perikanan.

Adapun sektor pembatikan seperti tekstil, garment, tekstil alat tenun bukan mesin (ATBM), dan berbagai kerajinan lainnya diusahakan oleh masyarakat yang tersebar di seluruh Kota Pekalongan. ”Semuanya berbasis home industry,” katanya.

Untuk pemasaran, Kota Pekalongan memiliki tiga sentra di wilayah Kecamatan Pekalongan Timur.

Untuk menciptakan citra merek Pekalongan sebagai Kota Batik, keberadaan sentra batik itu mendapat pembinaan dan fasilitas dari Pemkot. Dengan demikian, diharapkan Kota Pekalongan akan memiliki citra bahwa Pekalongan identik dengan batik dan produksi batik yang baik adalah dari Pekalongan.

Mengenai jumlah produksi batik, pada 2004 mencapai 467.000 kodi dengan nilai Rp 2,9 juta dolar AS. Jumlah itu selain untuk kebutuhan lokal, juga dipasarkan di semua kota di seluruh Indonesia, bahkan diekspor.

Dengan berkembangnya sektor perikanan dan pembatikan, Wali Kota berharap kelak Kota Pekalongan tumbuh menjadi kota perdagangan, jasa, dan industri yang berwawasan lingkungan.

Ketua rombongan Komisi IV DPR RI Haryono dalam kesempatan itu mengatakan, sebagaimana perkembangan kota lain, Kota Pekalongan diharapkan memprioritaskan pembangunan hutan kota untuk pelindung kota. Jika itu tidak dilakukan, lingkungan kota menjadi kurang nyaman.

Sumber : (A15-17n) Suara Merdeka, Pekalongan

Lomba Rancang Busana Batik Salem

Wednesday, July 13th, 2005

Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK Kabupaten Brebes, 2 Agustus mendatang akan menyelenggarakan lomba rancang busana tahun 2005. Syarat busana muslim pesta untuk pria dan wanita dewasa dengan bahan dasar 70% batik Salem dan lainnya bordir serta payet. Untuk pemenang disediakan hadiah total Rp 9 juta. Peserta yang berminat dapat mendaftarkan diri 7-28 Juli di Sekretariat Dekranasda Jl Songosari Panotoyudo No 1, telp 0283-3319314.

Sumber : (wh-19n) Suara Merdeka, Brebes

SBY Ajak Masyarakat Lebih Sering Mengenakan Batik

Tuesday, July 12th, 2005

Presiden SBY kembali menyampaikan ajakan pada masyarakat. SBY mengajak masyarakat lebih sering mengenakan pakaian yang mencerminkan kekayaan adat dan budaya bangsa pada acara penting pemerintahan atau sosial. Contohnya, baju batik.

“Memang ada sesekali mengenakan jas seperti dalam upacara kenegaraan dan konferensi internasional,” kata Presiden SBY dalam pidato puncak peringatan hari koperasi ke-58 di Gedung Sate, Bandung, Senin (12/7/2005).

Dalam acara ini SBY mengenakan kemeja lengan panjang warna putih bermotif garis-garis warna perak dari serat rami. Kemeja ini merupakan hasil produksi koperasi Pondok Pesantren Darussalam, Garut, Jawa Barat. Ny Ani Yudhoyono juga mengenakan busana muslim bermotif serupa. (more…)

Rozak, sejak Kecil Menjemur Batik

Tuesday, July 12th, 2005

MENJADI buruh menjemur batik sudah ditekuni Rozak (29) sejak kecil. Warga Kelurahan Kradenan, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, itu mengaku batik telah menyatu dengan hidupnya.

“Meski hanya sebagai buruh jemur kain batik dengan penghasilan kecil, saya bangga. Karena saya ikut nguri-uri kelestarian batik pekalongan. Apalagi batik pekalongan mendunia, dikenal di luar negeri,” ujarnya.

Bekerja sebagai buruh batik bukan berarti tanpa tantangan. Tak jarang, dia harus berpacu dengan waktu. Jika terik matahari tiba-tiba berganti mendung dan disusul hujan, dia harus segera mengumpulkan ratusan potong kain yang telah dijemur di lapangan Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan.

Musim Penghujan

“Pekerjaan terberat sebagai buruh menjemur kain adalah saat musim penghujan. Kain sudah dijemur dan siap disablon, tiba-tiba kehujanan. Terpaksa menunggu matahari bersinar lagi, atau tertunda hingga esok harinya.”

Rozak mengaku terbiasa dengan gatal-gatal yang menyerang kulitnya. Biasanya, gatal itu akibat bahan kimia untuk membatik. “Kulit saya terbiasa terkena bahan batik. Ya memang gatal, tetapi kalau terus-menerus digaruk bisa lecet-lecet dan luka. Untuk menghindari lecet-lecet atau bahkan luka, saya jarang menggaruk kulit yang gatal. Paling saya usap dengan telapak tangan,” ungkapnya.

Bersama dua temannya, Rozak tiap hari harus bersabar menunggu order dari sang majikan datang kepada mereka. Semula dia enggan menjelaskan berapa pendapatannya setiap hari. Namun ketika didesak, bekas kernet angkutan kota itu mengaku bisa membawa pulang Rp 20.000/hari.

“Kalau tidak ada order dari majikan atau langganan, ya terpaksa pulang dengan tangan hampa. Namanya saja usaha tidak menentu. Terkadang juga sepi order.”

Sumber : (Wawan Hudiyanto-50s) Suara Merdeka