Archive for June, 2005

Batik Madura nan Menawan

Sunday, June 26th, 2005

Pembatik MaduraTernyata, Pulau Madura tak hanya tersohor dengan karapan sapi dan garamnya. Wilayah yang termasuk Provinsi Jawa Timur ini juga terkenal sebagai penghasil batik. Bahkan, produk batiknya memiliki ragam warna dan motif yang tidak kalah dengan produksi daerah lain. Maklum, batik Madura menggunakan pewarna alami sehingga warnanya cukup mencolok.

Namun, tak perlu repot-repot ke Pulau Madura. Keunggulan produk batik Madura itu dapat dilihat di Museum Tekstil di Jalan K.S. Tubun Nomor 4, Jakarta Barat. Salah satu contohnya kain batik buatan tahun 1930. Kain panjang yang biasa digunakan pada acara khitanan ini merupakan salah satu kain kuno yang ditampilkan dalam Pameran Batik Madura di Museum Tekstil, belum lama berselang.

Kendati sudah berumur 75 tahun, warna dari kain itu justru kian menonjol. Pewarnaan kain Madura yang menggunakan bahan alami dari tumbuh-tumbuhan, seperti kayu jambal, kulit buah jelawe, akar mengkudu, yang membuat kain ini semakin menarik untuk dilihat. Kain-kain itu dibuat melalui proses pembatikan dengan tangan dalam rentang waktu antara delapan bulan hingga satu tahun.

Selain warna yang mencolok, seperti kuning, merah atau hijau, batik Madura juga memiliki perbendaharaan motif yang beragam. Misalnya, pucuk tombak, belah ketupat, dan rajut. Bahkan, ada sejumlah motif mengangkat aneka flora dan fauna yang ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madura.

Sumber : (ANS/Cindy Agustina dan Amar Sujarwadi) Liputan6.com, Jakarta

HUT Yogyakarta Gelar “All About Batik 2005″

Saturday, June 25th, 2005

Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Kota Yogyakarta dalam rangka menyambut HUT ke 249 Kota Yogyakarta akan menggelar pameran kerajinan batik yang bertajuk ’All About Batik 2005’ di hall pameran Mal Malioboro Yogyakarta 1 - 3 Juli 2005 mendatang.

Ketua Dekranas Kota Yogyakarta Dyah Suminar Herry Zudianto kepada wartawan, Sabtu mengatakan tujuan digelar pameran ini adalah untuk mengangkat seni, budaya dan kerajinan batik Yogyakarta agar lebih dikenal masyarakat luas serta memberikan wadah bagi perajin untuk mempromosikan dan memasarkan produknya.

“Batik sebagai salah satu aset penting dan berharga bagi Kota Yogyakarta saat ini ternyata sudah banyak mengalami perkembangan, baik dari wujud, desain sampai dengan kegunaannya,” katanya.

Menurut dia, dahulu batik hanya berupa produk kain untuk digunakan pada acara adat tertentu sehingga keberadaan batik sempat terpuruk karena kurang peminat dan sangat terbatas penggunaannya. “Seiring perkembangan zaman, batik telah mengalami perubahan, hal ini tak lepas dari tangan terampil para perancang baik busana maupun kriya,” ujar dia.

Guna memenuhi selera pasar, batik dapat berubah wujud menjadi apa saja seperti produk fasion untuk segala kalangan dan usia hingga alat display dan interior menjadi lebih unik dan menarik dengan tambahan sentuhan corak batik.

“Kenyataan tersebut merupakan peluang bagi para perajin untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan kembali mengangkat citra batik Yogyakarta,” sambung dia.

Sedangkan pameran ’All About Batik 2005’ sendiri meliputi kegiatan pameran produk kerajinan batik, demo membatik serta ’fashion show’ yang akan diikuti lebih dari 15 peserta, baik dari kalangan perajin, pengusaha maupun perkumpulan batik.

“Harapan kami dengan digelarnya pameran ’All About Batik 2005’ ini batik Yogyakarta dapat terus eksis di tengah membanjirnya produk batik dari luar Yogyakarta serta memberikan pengetahuan kepada masyrakat mengenai filosofi dari ragam dan corak batik Yogyakarta dan penggunaannya,” katanya.

Sumber : (Ant/jy) KCM, Yogyakarta

Pengrajin batik minta pemprov Banten dukung pemasaran

Thursday, June 23rd, 2005

Pengrajin batik khas Banten, Uke Kurniawan, mengaku sangat mengharapkan Pemprov Banten membantu memperluas pasar batik Banten, terutama ke kabupaten dan kota. Permintaan itu terkait pemasaran batik Banten yang disosialisasikan secara resmi pada tahun 2002 itu tidak berkembang secara luas di Banten akibat minimnya promosi dari pemerintah daerah.

Uke menilai Pemprov Banten setengah hati memberikan dukungan kepada pengrajin batik, padahal sebelumnya sangat antusias atas motif-motif batik yang dieksplorasi Uke dari benda-benda bersejarah yang ditemukan dari situs Kesultanan Banten itu.

“Kami heran, pemprov kok belum pernah merespons permohonan kami. Kami juga merasa pemprov semakin jauh dari komitmen awal yang akan mendukung sepenuhnya pengembangan industri batik khas Banten ini,” kata Uke kepada Bisnis kemarin ketika ditemui di Pusat Industri Batik Banten di Jalan Bayangkara, Kel./Kec. Cipocok Jaya, Kabupaten Serang, Banten.

Uke berharap Gubernur Banten segera mengeluarkan rekomendasi kepada kabupaten/kota supaya membudayakan penggunaan batik batin satu hari dalam seminggu hari kerja. Sebab pemerintah kabupaten/kota bersikukuh tidak akan membudayakan batik banten apabila surat persetujuan dari Gubernur Banten belum dikeluarkan. “Padahal menteri sudah meminta langsung kepada pemprov waktu peresmian tahun 2001,” katanya.

Saat itu, jelas Uke, dalam sambutannya Menperindagkop Rini Ms Suwandi meminta kepada Pemprov Banten dalam hal ini Disperindagkop Banten untuk mendukung secara penuh permodalan dan pemasaran batik khas Banten yang telah terdaftar di Dirjen HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) Depkeh HAM. Kata Uke, sejumlah arkeolog nasional menilai motif-motif batik banten ini terbagus di Indonesia.

Karena hal itu, Pusat Industri Batik Banten itu selalu dikunjungi arkelog yang tengah melakukan riset serta para pengrajin batik dari beberapa wilayah di Indoensia yang sengaja dikirim oleh pemerintah daerahnya. Bahkan satu bulan yang lalu pabrik batik Uke yang sekaligus showroom ini disesaki sekitar 80 orang mahasiswa dari Indonesia dan mancanegara yang tengah mempelajari motif-motif batik banten sekaligus belajar cara membatik dan teknik memilih bahan yang bagus.

Sumber : (Bisnis/Ade A. Hajari /23/06/2005) via GKBI.info

Pameran Kerajinan Indonesia di Jepang

Saturday, June 18th, 2005

Pameran KerajinanPendekatan sejarah dan budaya dapat membantu memasarkan produk kerajinan yang dihasilkan oleh pengusaha usaha kecil dan menengah Indonesia ke luar negeri. Hal ini ditampilkan dalam pameran kerajinan Indonesia Handicraft Gallery 2005 di Harajuku, Tokyo, Jepang, baru-baru ini. Pameran diikuti 40 pengusaha kecil dan menampilkan produk-produk dengan nuansa budaya Indonesia dari berbagai daerah.

Dalam pameran yang berlangsung selama tiga hari hingga hari Ahad mendatang, panitia menonjolkan kekayaan sejarah dan budaya Indonesia. Termasuk dengan menampilkan berbagai benda dari zaman prasejarah hingga era Majapahit. Sementara peninggalan dari zaman Kerajaan Islam di Indonesia seperti surat berhuruf Arab gundul dari Kerajaan Samudra Pasai dipamerkan dalam gerai tersendiri.

Selain itu, para pengunjung juga dapat menikmati karya Iwan Tirta, perancang busana yang lebih aktif menampilkan seni batik tulis pada setiap hasil rancangan. Batik tulis termasuk produk yang cukup menarik perhatian pengunjung. Menurut Iwan masing-masing batik tulis dikerjakan dalam waktu sekitar tiga bulan.

Menurut Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia Mohamad Suleman Hidayat, panitia sengaja menggunakan pendekatan budaya. Sebab, budaya Indonesia sudah lama dikenal masyarakat Jepang. Hidayat optimistis pameran ini dapat menarik minat investor untuk ikut mengembangkan usaha kecil dan menengah Indonesia yang bergerak di sektor kerajinan. Di masa datang, Kadin juga akan terus menyertakan UKM untuk memasarkan produk kerajinannya di pasar internasional. Pameran ini diselenggarakan oleh Kadin bekerja sama dengan Departemen Perdagangan, Kedutaan Besar RI di Jepang, Organisasi Perdagangan Luar Negeri Jepang, serta Asosiasi Pengusaha Jepang (Keidanren).

Sumber : (ZIZ/Donny Kurniawan dan Rudy Utomo) Liputan6.com, Harajuku

Batik Tradisional Masih Tetap Diminati

Monday, June 6th, 2005

Batik tradisional masih tetap diminati dan tidak akan punah dan terus berkembang. Hal itu disebabkan oleh selalu tampilnya corak atau desain baru hampir setiap saat sesuai dengan perkembangan mode. Bahkan batik mampu menjadi saingan busana lain.

”Batik tidak membosankan, karena kreasi dan coraknya selalu baru,” kata H Wisnu Subroto, pengusaha home industri batik Kartikamas di Cemani, Grogol, Sukoharjo, saat peresmian galerinya, Sabtu malam (4/6).

Wisnu yang malam itu didampingi Nasrul Kotto –mantan pemain Arseto Solo yang bertindak sebagai manajer marketing– mengatakan, kehadiran butiknya di Kampung Pinang, Cemani, merupakan tuntutan masyarakat khususnya pelanggan yang tiap hari datang ke rumah untuk mencari kain batik. Kondisi pasar klewer Solo sudah tidak nyaman, lokasinya berdesakan dan kurang bebas untuk memilih corak.

”Agar pelanggan bisa leluasa dan bebas, kita buka butik dengan luas 9 m X 16 meter,” kata Wisnu. Berbagai corak modern dan parang dimodifikasi dengan kembang, mode Wonogiren juga sudah dimodifikasi sesuai selera serta kebaya.

Menurut Nasrul Kotto, produksi batik Kartikamas lengkap untuk pria dan wanita. Khusus untuk busana muslim wanita (Abaya) yang kainnya berasal dari bahan santung dikembangkan dengan mode cap colek yaitu antara batik tulis dan cap, sehingga harganya relatif murah yakni hanya Rp 32.500 dan itu pun nasih mendapat diskon 20%.

Diakui Nasrul Kotto, persaingan pasaran batik di Solo cukup ketat, tetapi dia yakin bahwa harga yang dipatok mulai Rp 15.000-Rp 1,5 juta bisa bersaing dengan harga di pasar Klewer.

Sumber : (P44-51h) Suara Merdeka, Sukoharjo

Putri Sakura Pecinta Batik

Sunday, June 5th, 2005

Eiko Adnan KusumaTempat itu bukan museum batik, meski beragam kain batik memenuhinya. Tempat itu sengaja ditata Eiko Adnan Kusuma dengan batik berbagai warna dan motif plus ukiran dan benda kerajinan tangan lainnya khas nusantara. Wanita keturunan Jepang ini memang mengoleksi karya seni tenun tradisional Indonesia.

Ditemui SCTV di rumahnya di Jakarta, baru-baru ini, Eiko mengaku memiliki ribuan kain khas nusantara. Dia mengaku pertama kali mengenal batik saat mendapat kiriman keramik yang terbungkus kain batik, puluhan tahun silam. Saat itu, dia masih tinggal di Jepang. Warga Negeri Sakura ini heran, kain seindah itu hanya berfungsi sebagai pembungkus keramik.

Setelah ditelusuri, Eiko menemukan setiap provinsi di Indonesia ternyata mempunyai keragaman kain tenun dengan bahan, motif, dan warna yang berbeda. Hal ini membuat Eiko semakin tertarik dan membeli kain-kain yang bercorak indah tersebut.

Salah satu kain favorit Eiko adalah batik Jawa Hokokai. Batik kaya motif ini mulai dibuat para pengrajin di daerah pesisir sejak masa pendudukan Jepang (1942-1945). Keistimewaan batik ini terletak pada kualitas pembuatannya yang menampakkan detil yang rumit dengan hiasan yang menutupi seluruh bahan kain. Pada batik ini, motif yang paling sering ditampilkan adalah kupu-kupu dan kuncup bunga sakura dengan latar belakang corak Jawa tradisional, seperti parang, kawung, dan sidomukti. Semuanya dikerjakan dengan sentuhan sangat halus.

Setiap kain batik Jawa Hokokai memiliki dua bagian dengan motif dan warna yang berbeda yang biasa disebut pagi sore. Biasanya, warna muda dipakai pada pagi hari dan warna yang lebih tua atau gelap dipakai pada sore atau malam hari.

Eiko mengaku tidak pernah memakai kain koleksinya. Menurut dia, hanya wanita Indonesia yang paling pantas menggunakan kain itu. &quotSaya pengen pakai, tapi kasihan kainnya,” kata perempuan yang sudah beruban ini.

Perempuan berusia 82 tahun ini sangat menjaga kain koleksinya. Agar kualitas kain tetap bagus, dia menggunakan kertas khusus pembungkus kimono. Kemudian diletakkan di dalam lemari khusus. Wanita yang telah menikah dengan pria Indonesia ini mengaku khawatir dengan masa depan koleksi-koleksinya. Dia juga masih ragu untuk menitipkan barang koleksinya ke museum.

Eiko juga menulis beberapa buku yang berisi beragam koleksi yang dimiliki dan secara khusus diterbitkan di Jepang. Hal ini dia lakukan untuk lebih mensosialisasikan kekayaan Indonesia sambil berharap batik dapat lestari sepanjang masa. Perempuan ini berharap, generasi penerus dapat mengembangkan kain tradisional menjadi bagian dari seni budaya Indonesia dengan maksimal.

Sumber : (DNP/Tim Liputan 6 SCTV) Liputan6.com, Jakarta

Mengenal dari Dekat Kulit dan Batik Garut

Saturday, June 4th, 2005

Pengrajin BatikKabupaten Garut tak hanya terkenal memiliki dodol yang rasanya khas. Kota yang terletak di selatan Jawa Barat ini juga memiliki sentra industri kulit dan batik. Datang saja ke Sukaregang, Kecamatan Garut Kota. Di sana berbagai macam produk kulit, seperti jaket, sarung tangan, sepatu, topi, dompet, dan ikat pinggang bisa didapatkan.

Harga sepotong jaket tergantung dari jenis kulit. Lebih mahal jika terbuat dari kulit domba. Harga jaket dari kulit domba yang lembut bisa mencapai Rp 600 ribu per potong. Sedangkan harga jaket berbahan dasar kulit sapi dan kambing yang kasar dapat mencapai Rp 400 ribu. Industri ini juga menerima pesanan baik individual maupun partai. “Bawa model sendiri, empat tiga hari jadi,” kata salah seorang pemilik usaha kulit yang memasarkan produknya ke Jakarta, Bandung, dan Jawa Timur.

Sementara sentra batik di Garut salah satunya berpusat di Jalan Papandayan. Kelebihan “batik Garutan” karena masih memakai sistem tradisional. “Kita masih pakai pengetelan secara alami dengan menggunakan air merang dan minyak kacang,” kata seorang ibu pemilik industri rumahan batik Garutan.

Batik Garutan juga memiliki motif tersendiri. Motif limar, misalnya. Dari limar saja bisa dikembangkan menjadi beragam motif. Sedangkan pemilihan warna cenderung cerah. “Cerah tapi tak begitu jreng karena kita daerah pegunungan, lain kalau daerah pesisir,” ujar perajin yang sama.

Harga batik Garutan sangat tergantung jenis bahan dan tingkat kesulitan membuatnya. Harga tertinggi bisa mencapai jutaan rupiah. Sepotong bahan jadi saja bisa seharga Rp 3,5 juta.

Sumber : (AWD/Asti Megasari dan Effendi Kassah) Liputan6.com, Garut