Batik Laweyan Minim Inovasi
Thursday, May 19th, 2005Laweyan menjadi sentra pembuatan batik di Kota Solo yang berlangsung sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sayangnya hingga kini, meski telah didongkrak dengan pencanangan sebagai “Kampung Batik Laweyan”, perkembangan Laweyan tidak sepesat yang diharapkan. Beberapa penyebabnya adalah minimnya regenerasi dalam dunia batik dan inovasi dalam motif.
Seperti diungkapkan Dosen Universitas Islam Batik Surakarta Ir. Solichul HA Bakri berdasarkan penelitiannya bersama delapan orang lainnya tentang Potensi Industri Perbatikan di Kampung Batik Laweyan. Hasil penelitian ini disampaikan akhir pekan lalu.
Dipaparkan, proses regenerasi di kalangan pembatik mengalami hambatan karena generasi muda enggan meneruskan kegiatan industri perbatikan. Padahal, mereka berasal dari keturunan pengusaha batik.
Mereka lebih suka memilih karier profesional di luar batik, seperti menjadi dokter, pengacara, dosen, artis, atau pengusaha di bidang lain. Selain di kalangan generasi muda yang berasal dari jalur batik, keminiman regenerasi juga terjadi di jalur non-pengusaha batik, terutama bagi mereka yang mengenyam pendidikan lebih tinggi.
Ada beberapa indikasi terja-dinya krisis penerus pelaku batik, antara lain tidak bertam-bahnya jumlah pengusaha batik sejak dua dasawarsa lalu. Hingga kini, hanya ada 22 pengusaha batik di Laweyan. Banyak dari para pengusaha itu yang telah menjalankan usahanya di atas 20 tahun, bah-kan ada yang mencapai 35 tahun.
Berdasarkan data, sebanyak sembilan persen dari keseluruhan pengusaha batik telah mengelola usahanya lebih dari 30 tahun, 41 persen menjalankan usaha selama 20-30 tahun, 45 persen dalam kurun waktu 10-20 tahun, dan 5 persen menjalankan usaha kurang dari 10 tahun.
Sejauh ini, sebagian besar pengusaha batik hanya memperoleh omzet Rp 10 juta-Rp 15 juta per bulan, meski ada juga yang beromzet puluhan miliar per tahunnya. Dari jumlah tenaga kerja, seluruh pengusaha masih tergo-long usaha kecil menengah (UKM) karena inempekerjakan tidak lebih dari 100 orang. o
Kalah bersaing
Menurut pengusaha batik Laweyan yang tergolong sukses, Soelaiman dan Bambang Slamet, banyak pengusaha bangkrut akibat ketiadaan regenerasi, sistem manajemen yang buruk, kurangnya inovasi dan kreativitas produksi sehingga kalah bersaing dengan batik printing (cetak) dan batik sablon.
Sebagai kesimpulan, produk batik yang dihasilkan Laweyan kurang mempunyai diferensiasi dengan produk batik dari daerah lain. Kesamaan motif, bahan, kegunaan, dan pasar antara Laweyan dengan pesaingnya ditambah ketidakmampuan menciptakan tren berbeda me-nyebabkan pengusaha batik Laweyan masuk dalam pasar persaingan sempurna.
Ini berakibat, marjin keuntungan yang dihasilkan mini, hanya sebesar 20 persen, yakni sekitar Rp 3 juta dari rata-rata omzet Rp 15 juta per minggu. Padahal, modal yang digunakan untuk perputaran produksi relatif besar karena mengguna-kan model transaksi konsinyasi dengan turn over rata-rata 14-30 hari. Rendahnya margin profit ini menyebabkan return on investment dan return on equity juga rendah sehingga generasi muda yang mengetahui peluang bisnis lain yang lebih mengun-tungkan berpaling ke bidang lain.
Sumber : (Harian Kompas/EK3/) via GKBI.info