Archive for May, 2005

Batik Laweyan Minim Inovasi

Thursday, May 19th, 2005

Laweyan menjadi sentra pembuatan batik di Kota Solo yang berlangsung sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sayangnya hingga kini, meski telah didongkrak dengan pencanangan sebagai “Kampung Batik Laweyan”, perkembangan Laweyan tidak sepesat yang diharapkan. Beberapa penyebabnya adalah minimnya regenerasi dalam dunia batik dan inovasi dalam motif.

Seperti diungkapkan Dosen Universitas Islam Batik Surakarta Ir. Solichul HA Bakri berdasarkan penelitiannya bersama delapan orang lainnya tentang Potensi Industri Perbatikan di Kampung Batik Laweyan. Hasil penelitian ini disampaikan akhir pekan lalu.

Dipaparkan, proses regenerasi di kalangan pembatik mengalami hambatan karena generasi muda enggan meneruskan kegiatan industri perbatikan. Padahal, mereka berasal dari keturunan pengusaha batik.

Mereka lebih suka memilih karier profesional di luar batik, seperti menjadi dokter, pengacara, dosen, artis, atau pengusaha di bidang lain. Selain di kalangan generasi muda yang berasal dari jalur batik, keminiman regenerasi juga terjadi di jalur non-pengusaha batik, terutama bagi mereka yang mengenyam pendidikan lebih tinggi.

Ada beberapa indikasi terja-dinya krisis penerus pelaku batik, antara lain tidak bertam-bahnya jumlah pengusaha batik sejak dua dasawarsa lalu. Hingga kini, hanya ada 22 pengusaha batik di Laweyan. Banyak dari para pengusaha itu yang telah menjalankan usahanya di atas 20 tahun, bah-kan ada yang mencapai 35 tahun.

Berdasarkan data, sebanyak sembilan persen dari keseluruhan pengusaha batik telah mengelola usahanya lebih dari 30 tahun, 41 persen menjalankan usaha selama 20-30 tahun, 45 persen dalam kurun waktu 10-20 tahun, dan 5 persen menjalankan usaha kurang dari 10 tahun.

Sejauh ini, sebagian besar pengusaha batik hanya memperoleh omzet Rp 10 juta-Rp 15 juta per bulan, meski ada juga yang beromzet puluhan miliar per tahunnya. Dari jumlah tenaga kerja, seluruh pengusaha masih tergo-long usaha kecil menengah (UKM) karena inempekerjakan tidak lebih dari 100 orang. o

Kalah bersaing

Menurut pengusaha batik Laweyan yang tergolong sukses, Soelaiman dan Bambang Slamet, banyak pengusaha bangkrut akibat ketiadaan regenerasi, sistem manajemen yang buruk, kurangnya inovasi dan kreativitas produksi sehingga kalah bersaing dengan batik printing (cetak) dan batik sablon.

Sebagai kesimpulan, produk batik yang dihasilkan Laweyan kurang mempunyai diferensiasi dengan produk batik dari daerah lain. Kesamaan motif, bahan, kegunaan, dan pasar antara Laweyan dengan pesaingnya ditambah ketidakmampuan menciptakan tren berbeda me-nyebabkan pengusaha batik Laweyan masuk dalam pasar persaingan sempurna.

Ini berakibat, marjin keuntungan yang dihasilkan mini, hanya sebesar 20 persen, yakni sekitar Rp 3 juta dari rata-rata omzet Rp 15 juta per minggu. Padahal, modal yang digunakan untuk perputaran produksi relatif besar karena mengguna-kan model transaksi konsinyasi dengan turn over rata-rata 14-30 hari. Rendahnya margin profit ini menyebabkan return on investment dan return on equity juga rendah sehingga generasi muda yang mengetahui peluang bisnis lain yang lebih mengun-tungkan berpaling ke bidang lain.

Sumber : (Harian Kompas/EK3/) via GKBI.info

Batik di Atas Organdi

Sunday, May 15th, 2005

Ragam nusantara, seperti batik, tetap luwes di dalam perkembangan mode dengan modifikasi motif dan ditempatkan bukan di atas mori. Mengangkat karakter Indonesia setinggi-tingginya. Demikian keinginan desainer busana Muslim asal Bandung, Iva Latifah, lewat rancangan longdress atau abaya. ”Saya ingin orang Indonesia menyebut baju yang dikenakannya sebagai Indonesia’s dress seperti sudah jamaknya kita menyebut setelan baju kurung dan rok lipat dengan Malaysia’s dress,” katanya.

Iva lantas mengangkat ragam motif nusantara yang kemudian dikontemporerkan agar bisa disesuaikan dengan perkembangan waktu, mode, dan usia. Batik, misalnya. Tak harus tampak ‘berat’ dan kuno melalui modifikasi motif dan penempatannya pada bidang kain. Ia memilih warna-warna cerah guna membalut rancangannya, seperti kuning, biru, hijau, dan putih.

Menggunakan bahan sutera ATBM dan sutera organdi, Iva sengaja memilih material bersifat ringan ini untuk mengakomodir pakem busana Muslim yang harus panjang tertutup. ”Bahan busana yang ringan tampaknya tepat untuk busana Muslim yang harus serba tertutup. Selain itu, kesannya juga lebih mewah dan cantik,” katanya.

Desain yang ditampilkan bersiluet simetris feminin yang rata-rata terdiri dari two pieces berupa rok berpola A line dan blus pendek maupun bermodel semi coat dan kebaya panjang. ”Saya mencoba menampilkan blus lebih pendek sebagai kombinasi busana Muslim yang biasanya panjang,” ujar Iva. Tentu saja sebagai padanannya ia memberikan rok longgar A line untuk menyamarkan bagian belakang tubuh.

Sebagai detail busana dipasang manik-manik, payet, airbrush, dan motif busana yang didapatkan dari proses seperti pembatikan tulis (halus). ”Karakter desain saya memang pada permainan warna dan motif yang dilukis atau dengan proses seperti pembuatan batik tulis,” papar Iva.

Sumber : (rad) RoL

Otong Kartiman, Kesetiaan pada Batik

Saturday, May 14th, 2005

Hari Rabu (11/5) pukul 07.00, di rumah Jalan Ciwahangan Nomor 30, Desa Imbanagara, Kabupaten Ciamis, suasana sedikit lengang. Namun, beberapa wanita masuk ke rumah ini.

KESIBUKAN lebih terasa di dalam rumah. Di ruang berukuran 15 x 15 meter itu, enam wanita menggunting kain batik sepanjang 33,75 meter menjadi 15 potong kain panjang. Di sisi lain, empat wanita mengelim tepi kain itu. Kain-kain itu dilipat, diberi label, dan dikemas dalam plastik oleh wanita-wanita lain.

Produksi kain batik di CV Bintang Pusaka, Rabu lalu, memasuki tahap akhir. Perusahaan yang didirikan H Otong Kartiman ini adalah satu-satunya yang memproduksi batik di Ciamis.

Otong Kartiman mengenal batik sejak kecil. Kedua orangtuanya, H Abdul Mazid dan Hj Unah Siti Khodijah, adalah pembatik. Mereka membuat batik tulis ciamisan dan pendiri Koperasi Rukun Batik.

Tahun 1956 Otong Kartiman terjun ke usaha batik. Seharusnya ia menyelesaikan SMA di Yogyakarta. Namun, ketika orangtuanya sakit, ia melanjutkan usaha batik itu. Produknya masih batik tulis ciamisan.

Batik Ciamis berbeda dengan batik di daerah lain. Coraknya tidak terlalu ramai. Ada yang bermotif daun, ada pula yang bermotif parang rusak. Ciri yang paling dominan adalah pada penggunaan warna. Batik Ciamis hanya menggunakan dua warna, misalnya warna coklat dan hitam dengan dasar putih.

Sekitar tahun 1980 masyarakat lebih menyukai batik cetak yang harganya jauh lebih murah. CV Bintang Pusaka pun mengubah haluan dan membuat batik cetak. Batik tulis yang pembuatannya memakan waktu lama dan berharga mahal ditinggalkan.

Kini semua produknya adalah batik cetak. Produknya tidak hanya batik Ciamis, tetapi juga batik Pekalongan, Solo, Garut, atau Cirebon. Motifnya pun bisa dibuat sesuai pesanan.

Nama perusahaan, Bintang Pusaka, dipilih dengan alasan religius. Bintang mengingatkan Otong untuk menjadi umat yang taat pada lima Rukun Islam.

Usaha ini tidak langsung membesar. Awalnya, Otong harus menawarkan dagangannya ke toko-toko di Bandung, Surabaya, Jakarta, atau Palembang. Sekarang hal itu tak perlu lagi dilakukan. Para pedagang telah mengenal pengusaha batik dan produknya.

Saat ini sekitar 80 karyawan bekerja di pabrik batik ini. Mereka menjalankan proses produksi yang sebagian besar sudah dilakukan dengan mesin.

Pembuatan batik dimulai dengan pemanasan dan pewarnaan kain pada suhu 160 derajat Celsius hingga 180 derajat Celsius. Kain putih dimasukkan ke mesin dan diberi warna dasar. Bila warna dasar yang diinginkan adalah putih, yang dilakukan adalah pemutihan kain.

Kain yang telah diwarnai tersebut dicetak dengan motif sesuai kebutuhan. Cetakannya dibuat dari klise. Pembuatan cetakan ini dilakukan dengan komputer. Kain yang telah bermotif selanjutnya dipanaskan kembali di mesin. Tahap ini untuk membangkitkan warna pada batik dan membuat tinta melekat kuat pada kain.

Setelah itu, kain batik dicuci. Tahap ini dalam bahasa Sunda disebut ngarorod. Kain batik yang telah bersih dikanji dan dipanaskan sampai kering. Tahap akhir adalah pemotongan, pengeliman, pelipatan, pemberian label, dan pengemasan. Kain batik pun siap dipasarkan ke daerah-daerah.

Pemasaran batik biasanya melalui jalur distribusi yang cukup panjang. Dari pabrik, pembeli dari Pasar Baru Bandung, misalnya, mengambil 100 kodi (2.000 potong) kain batik dengan truk. Barang dibawa ke Bandung baru dipasok ke daerah-daerah seperti Tasikmalaya, Garut, dan Cirebon.

Setiap hari produksi perusahaan ini sekitar 250 kodi (5.000 potong) kain batik. Setiap potong kain panjangnya 2,25 meter. Dengan harga jual Rp 15.000 untuk kain batik berbahan poliester dan Rp 30.000 untuk batik katun, omzet Otong berkisar Rp 75 juta-Rp 150 juta per hari.

Dengan batik inilah Otong membesarkan dan menyekolahkan empat putri dan seorang putranya. Kini ia juga mempunyai 17 cucu. Dari kelima anaknya, putranya, H Pepep Ukimulyana, mengikuti jejak ayahnya dan terjun ke usaha batik. Dialah yang sekarang memimpin bagian produksi.

Pria kelahiran Ciamis ini juga aktif di Koperasi Rukun Batik. Kegiatannya ini didukung kemampuan administrasi yang diperoleh dari kursus administrasi selama setahun di Ciamis.

Koperasi itu mewadahi 421 pengusaha batik di Kabupaten Ciamis. Namun sayang, banyak pengusaha batik yang gulung tikar ketika terjadi krisis moneter tahun 1997. Kini, menurut Otong, Koperasi Rukun Batik bergerak di bidang usaha sampingan seperti perkebunan.

Otong menyebut caranya mengelola usaha sebagai manajemen sarungan. Sehari-hari ia tidak berlaku formal dengan karyawannya. Ini yang dinamakannya sebagai gaya sarungan. Sedikitnya sebulan sekali karyawan berkumpul dengan pimpinan untuk evaluasi.

Ia pun menyebutkan kiatnya mempertahankan perusahaan. “Menjaga kualitas dan kuantitas produk itu penting, kualitas bahan juga. Selain itu, harus ada efisiensi pada produksi, juga jumlah karyawan harus sesuai kebutuhan,” katanya.

Penghargaan yang pernah diraih Otong Kartiman di antaranya Asian Executive Man Golden Award tanggal 10 Maret 2005 di Hotel Kartika Chandra, Jakarta.

Sumber : (Nina Susilo) Kompas Cetak

PNS Tampil dengan Batik dan Lurik

Saturday, May 14th, 2005

SEJAK Kamis (12/05) PNS Pemprov Jateng tampil beda dalam pakaian dinas harian. Jika pada hari-hari biasa mengenakan seragam warna keki maupun hijau hansip, sejak itu setiap Kamis mengenakan batik dan lurik. Kebijakan pemakaian batik dan lurik khas Jateng ditetapkan gubernur melalui surat edaran 18 April 2005 No 025/05924 dan surat edaran 21 April 2005. Waktu penggunaan pakaian khusus hari Kamis diujicobakan selama tiga bulan sampai dengan tanggal 11 Agustus 2005.

Sebagai salah satu PNS saya sangat salut dan mendukung adanya kebijaksanaan gubernur yang sangat strategis tersebut, karena pertama; dalam skala internasional terjadi embargo atas produksi tekstil Indonesia sehingga berakibat seperti Texmaco dan lainnya harus gulung tikar, kalaupun masih bertahan dengan kondisi memprihatinkan, hidup segan mati tak mau.

Oleh karenanya perlu diciptakan iklim yang kondusif sehingga pabrik tekstil yang hidupnya Senin-Kamis dapat bertahan dengan pangsa pasar dalam negeri (Jateng). Dalam era globalisasi yang penuh persaingan kita dituntut untuk selalu cinta dan bangga produk dalam negeri walaupun untuk itu kadang harus dibayar dengan nilai rupiah yang lebih mahal dibanding produk yang sama dari luar negeri. Semangat “aku cinta produksi dalam negeri” perlu terus digelorakan. Kebanggaan bangsa.

Kedua; batik dan lurik merupakan hasil budaya bangsa Indonesia yang sudah tidak ada sejak lama dan bertahan hingga sekarang dengan berbagai ragam motif. Kita mengenal motif batik Asmat Irian Papua, Sasirangan di Kalimantan (Selatan), atau batik Cirebonan, batik Solo, Banyumasan maupun batik Pekalongan yang memiliki ciri khas masing-masing.

Dalam dunia lurik melalui tenun kita mengenal juga antara lain tenun Ulos Batak, Sumbawa (NTB), atau tenun Flores dan Kupang (Timor) maupun tenun Teroso (Jepara) yang terkenal karena ATBM (alat tenun bukan mesin)nya. Menggunakan batik dan lurik sebagai upaya untuk melestarikan budaya/uri-uri budaya tradisional bangsa Indonesia pada umumnya dan Jateng khususnya.

Ketiga; seragam pakaian dinas PNS Pemprov Jateng yang berlaku saat ini adalah seragam warna keki (cokelat muda), seragam Hansip dan Korpri. Ketiga seragam tersebut merupakan atribut yang dapat menimbulkan berbagai kesan baik positif maupun negatif.

Pakaian seragam dinas maupun Korpri bagi sesama PNS merupakan atribut jiwa korsa (semangat kebersamaan) sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Di sisi lain penggunaan seragam dinas tersebut juga dapat menimbulkan persepsi lain bagi kalangan tertentu. Seorang PNS yang karena tugasnya berhubungan dengan perusahaan, pada saat menjalankan tugas oleh satpam sudah dipersulit, dianggap akan minta sumbangan atau “macam-macam”.

Lain halnya bila PNS datang ke perusahaan berpakaian “oke” layaknya seorang pengusaha, sambutan satpam, supervisor, manajer, semua welcome.

Contoh lain dengan mempergunakan atribut PNS saat bertemu dengan “kalangan tertentu” sudah ada kesan mereka ragu, tertutup, dan sebagainya. Akibatnya jarang terjadi adanya komunikasi dan dialog interaktif yang transparan apalagi untuk menyampaikan aspirasi.

PNS dianggap “pangreh praja” dengan jubah kebesarannya, lebih-lebih dengan overacting yang sangat atraktif tapi kurang simpati dalam menangani masalah sosial di sekitar kita.

Keempat; industri kerajinan rumah batik dan lurik dalam masa krisis terbukti masih eksis walaupun jatuh-bangun tetapi tidak kolaps. Industri skala kecil dan gurem inilah yang ternyata mampu mengembangkan sayapnya sampai ke berbagai penjuru dunia.

Kelima; bagi masyarakat dan khususnya bagi PNS memakai pakaian batik dan lurik bukan merupakan hal asing. Dalam berbagai peristiwa nonformal kedinasan, lebih-lebih dalam acara resepsi perkawinan dan sebagainya, penggunaan pakaian batik/lurik oleh masyarakat (baca: PNS) mendominasi ruangan. Itu berarti bahwa batik/lurik menjadi favorit kita semua.

Dalam situasi yang masih sulit seperti sekarang ini, rasanya tidak ada PNS yang akan demo menuntut dibelikan pakaian batik dan lurik kepada gubernur. Karena pada umumnya PNS telah memiliki lebih dari satu pakaian batik atau lurik. Namun demikian apabila berdasarkan hasil evaluasi tim batik/lurik bahwa pemakaian batik/lurik sebagai pakaian kerja PNS perlu dilanjutkan (setelah masa uji coba 3 bulan) dan gubernur akan memberi batik/lurik secara gratis, pasti PNS tidak akan menolak. Beberapa hal yang menjadi catatan dan kiranya perlu menjadi renungan dan usulan bahwa, pertama, perlu adanya komitmen yang tinggi untuk bersama-sama meningkatkan produktivitas kerja melalui pemakaian batik/lurik, baik di kalangan PNS, perajin/pengusaha batik/lurik, maupun pihak-pihak yang berkompeten.

Kedua, pelaksanaan evaluasi oleh “Tim Evaluasi Batik/Lurik PNS” kiranya perlu mengkaji dari beberapa aspek sehingga kebijaksanaan gubernur seperti tersebut di atas perlu direspons positif dalam upaya kebanggaan akan produksi dalam negeri, melestarikan budaya daerah khususnya batik dan lurik.

Ketiga, meningkatkan mutu kehidupan pengrajin/pengusaha kecil batik dan lurik sehingga membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan produktivitas tenaga kerja.

Keempat, penggunaan pakaian batik/lurik sebagai pakaian kerja PNS bukan hanya kebijakan yang hanya sesaat saja, sehingga kebijaksanaan tersebut gampang diganti/tidak diperlakukan lagi. Hal ini akan membawa dampak bagi tingkat kepercayaan staf terhadap kebijaksanaan gubernur. Di sisi lain akan dapat mengurangi kredibilitas gubernur.

Kelima, kiranya perlu menyikapi secara arif dan bijaksana bila memungkinkan melalui APBD Jateng dialokaskan anggaran pakaian batik/lurik bagi PNS dengan variasi pilihan alternatif (tidak perlu seragam seperti batik Korpri) dan lebih mendorong para pengrajin/pengusaha kecil batik/lurik meningkatkan kualitas produknya melalui pelatihan-pelatihan maupun bantuan modal usaha/mengupayakan kredit lunak perbankan dengan berbagai kemudahan.

Kinerja seorang PNS memang bukan diukur semata dari penampilan busana kerja yang dikenakannya, akan tetapi busana kerja yang dikenakan akan mempengaruhi kinerja dan reputasi kerja seorang PNS. Selamat berbatik, berlurik, dan tampil menarik. (11)

-Drs Sigit Djoko Sutomo, staf Balai Pengembangan Produktivitas Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jateng.

Sumber : Suara Merdeka

Batik, Sebenarnya Milik Siapa?

Sunday, May 1st, 2005

SELEMBAR kain batik mampu bicara banyak. Ia mewakili sebuah perjalanan masa, membicarakan perpaduan berbagai budaya, juga perjalanan dari sebuah kekuasaan.

Selembar kain batik juga bisa memunculkan busana trendi. Sayangnya, citra yang tertanam hingga saat ini masih berkonotasi negatif. Batik dianggap sebagai kain kuno yang hanya pantas digunakan orang-orang tua. Bahkan ada yang mengonotasikan batik dengan daster atau dalam pandangan lebih baik, kemeja lelaki berumur.

Menghapus citra yang sudah telanjur tertanam ternyata tidak mudah. Meski berbagai pameran dan peragaan busana selalu bertujuan mengenalkan batik pada kalangan muda, kenyataannya yang datang berkunjung atau menonton selalu generasi senior dan ekspatriat. Anak muda yang hadir bisa dihitung dengan jari.

Kenyataan seperti itu kembali terlihat dalam Pameran Kain Batik Koleksi Kartini Muljadi yang diselenggarakan Galeri Hadiprana, Senin pekan lalu. Hadir dalam acara yang akan berlangsung sebulan itu antara lain pengamat dan pecinta batik Asmoro Damais, Baron, Edi Sedyawati, wartawan senior Rosihan Anwar, Mien Uno, Dian M Soedardjo, serta tamu-tamu asing yang meminati koleksi kain langka Indonesia.

Generasi mudanya bisa dihitung dengan jari. Di antaranya dari kalangan desainer muda Didi Budihardjo dan Sebastian Gunawan. Ada juga beberapa perempuan muda dengan usia antara 20-30 tahunan. Mereka datang dan mencoba menjadikan batik sebagai sesuatu yang trendi.

Salah satu di antaranya mengenakan kaus putih pendek dengan celana panjang pipa jins biru warna pudar yang tengah tren. Ia menyampirkan kain batik warna cokelat kuno di bahunya. Wanita lainnya mengenakan sackdress ungu tua. Ia memitakan kain batik di atas tas Louis Vuitton. Begitu cantik dan padu. Dua perempuan ini membuktikan bahwa batik pun pantas digunakan anak muda dengan gaya trendi terkini. Sayang, jumlah yang mau peduli masih sangat sedikit.

Bandingkan dengan pagelaran busana merek terkemuka seperti Mango. Antusias generasi muda sungguh luar biasa. Mereka datang dan berani membeli mahal agar tidak dianggap ketinggalan zaman.

Seorang bintang sinetron dan iklan memberi jawaban jujur. ”Sebenarnya promosi tentang batik sudah cukup. Masalahnya, kadang kalau kita pakai kain batik suka dikatain kuno sama teman-teman. kesannya gak gaul gitu. Jadi gue enggak begitu minat dengan kain batik. Selain itu, gue pikir, kain batik memiliki citra elegan. Sepertinya kurang cocok dibuat dengan gaya yang lebih funky,” tutur Dee Dee yang kini tengah sibuk syuting sinetron dan masih menjadi bintang iklan produk Marina.

Kurang kemasan

Tak kenal maka tak sayang. Begitu kata pengamat mode, pengajar dan pecinta kain Sonny Muchlison saat mengomentari rendahnya minat generasi muda terhadap kain tradisional. Dalam pandangannya, banyak hal memengaruhi sikap tersebut. Di antaranya kurang pengenalan sejak dini dan buruknya kemasan pameran serta peragaan busana yang diilhami kain tradisional.

Dari waktu ke waktu jelasnya, pengenalan budaya di sekolah kian rendah. Penekanannya lebih pada menghafal. Kurikulum sekolah tidak memberi porsi cukup untuk seni dan budaya. ”Jadi, wajar saja bila anak sekarang merasa asing dengan kain tradisional Indonesia,” tuturnya.

Soal promosi kain batik, Sonny melihat sudah cukup gencar. Sayangnya, baru berdengung di kalangan tertentu alias belum menyentuh generasi muda.

Persoalan lain menyangkut kurang menariknya kemasan yang disodorkan dalam pameran maupun peragaan busana. Sering kali beberapa pameran di-display sembarangan sehingga tidak menarik minat anak muda. Publikasi yang ditempuh juga kurang mengena.

Kondisi itu menurut Sonny semakin diperparah dengan kecenderungan media cetak dan televisi yang hanya mengejar sensasional dan rating. Akibatnya, kisi-kisi pendidikan termasuk kesenian tradisional kurang diperkenalkan kepada masyarakat. Kalaupun ada yang mengupas, biasanya sekadar formalitas atau justru ditampilkan secara berat dan kuno sehingga tidak menarik minat kaum muda.

Sebagai seorang pengajar di Institut Kesenian Jakarta, dia juga prihatin saat mengajar tekstil tradisional. Sebagian besar muridnya kurang begitu tertarik apalagi mengenal. ”Yang sekarang getol mempelajari kesenian tradisional dan memburu kain-kain kuno justru orang asing. Siapa sesungguhnya pemilik kebudayaan tradisional Indonesia ini?” katanya prihatin.

Keprihatinannya kian bertambah karena saat ini batik justru banyak diaplikasi merek-merek luar negeri. Misalnya saja Project Shop Blood. Untuk kawasan Asia, merek ini berani mengaplikasikan batik dengan nuansa urban dan funky. Pada 1997, Versace pernah menggunakan batik jamprang untuk koleksi-koleksinya. Antonio Berardiu dan Pierre Cardin juga menjabarkan batik dalam gaya kardigan serta celana sleek yang unik. Terakhir Malaysia malah berani mengklaim batik sebagai budaya khas mereka.

Di Indonesia, lanjut Sonny, sebenarnya sudah ada beberapa desainer yang khusus mengolah batik. Sayang kemasannya masih terlalu berat sehingga kurang menyentuh hati generasi muda. ”Meski demikian, upaya beberapa desainer itu perlu diapresiasi. Hasil karya mereka itu kini lebih diminati orang-orang asing. Obin misalnya, 99% pelanggannya berasal dari Eropa, Jepang, dan Amerika.”

Begitulah gambaran kondisi batik di Indonesia. Perlu strategi dan kerja lebih keras lagi untuk memperkenalkan pada generasi muda. Jangan sampai kain khas ini hilang ditelan zaman atau justru dipatenkan bangsa lain.

Sumber : (Tkh/M-2) Media Indonesia