Archive for April, 2005

Iwan Irawan Membuat Batik di Gunung

Monday, April 25th, 2005

TANTANGAN bukanlah untuk dihindari, melainkan harus dihadapi. Kebulatan tekad seperti inilah yang dianut oleh Iwan Irawan, pemuda asal Kota Batu, Jawa Timur. Iwan ingin membuktikan bahwa meskipun sekelilingnya tidak mendukung pilihan yang diambilnya, dia tetap menjalankan apa yang diyakini dan nyatanya berhasil.

Membuat batik di daerah pegunungan seperti Kota Batu bukanlah tantangan biasa. Kota beriklim dingin tersebut tentunya kurang mendukung untuk usaha batik. Pasalnya, dalam proses pembuatan batik dibutuhkan proses penjemuran yang tentunya membutuhkan sinar matahari yang cukup banyak. Namun demikian, Iwan tidak langsung menyerah dengan kondisi tersebut.

Awalnya Iwan memang tidak berkarier di bidang seni. Lulus dari Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya tahun 1991, Iwan bekerja sebagai akuntan di kantor akuntan publik di Surabaya. Setelah dua tahun bekerja, dia mendapat tawaran untuk bekerja di Singapura.

“Tawaran tersebut saya terima. Saya bekerja di perusahaan distribusi obat di Singapura sebagai akuntan. Gaji saya waktu itu sebesar 2.500 dollar Singapura per bulannya, lumayan besar,” ujar Iwan.

Ternyata, pekerjaan sebagai akuntan di negeri orang itu membawa tekanan yang cukup berat bagi Iwan. Ia mengalami depresi berat hingga harus berkonsultasi ke psikolog.

“Setelah dua tahun bekerja di sana akhirnya saya putuskan untuk berhenti. Kalau tidak saat itu tahun 1995. Kemudian saya ke Bali untuk bertemu dengan teman saya. Waktu itu saya bingung juga karena tidak punya keterampilan atau ijazah yang mendukung. Akhirnya mau tidak mau, saya kembali menjadi akuntan di sebuah perusahaan garmen,” katanya.

Sebagai akuntan di perusahaan garmen, Iwan sering memerhatikan para pekerja yang membatik. Ia menjadi tertarik untuk belajar. Kemudian dia meminta kepada atasannya untuk dapat belajar membatik.

“Awalnya ditertawakan oleh mereka. Kata mereka, mana mungkin akuntan jadi pembatik. Namun karena saya bisa meyakinkan dia, akhirnya saya diberi masa percobaan selama dua bulan,” katanya.

TIDAK puas hanya belajar di perusahaan tersebut, Iwan akhirnya keluar dan mencoba untuk belajar di Bali. “Saya mencoba belajar dari buku dan bertanya sana-sini. Di Bali saya bekerja sebagai freelance. Saat itu, batik di Bali memang sedang booming. Banyak desainer dari luar negeri yang hunting bahan dan melakukan order besar-besaran untuk fashion show,” katanya

Iwan sempat direkrut untuk membantu para desainer asing tersebut. Dia belajar dan mengetahui bahwa orang asing itu ternyata sangat menyukai segala sesuatu yang berbau etnik dari Indonesia.

“Saat itu yang diburu-buru kebetulan batik. Jadi saya menemani para desainer asing tersebut untuk berburu batik ke Yogyakarta dan Pekalongan. Yang mereka cari adalah etnik asli atau yang benar-benar hand made. Dari situ saya baru tahu betapa sulitnya membuat batik asli yang merupakan karya manual. Tidak heran jika harganya mahal,” kata Iwan.

Setelah mengalami proses pembelajaran yang cukup panjang dari kota ke kota, serta mengenal banyak desainer luar, Iwan kemudian berpikir, mengapa orang asing begitu peduli dengan budaya Indonesia, sementara dia sendiri kurang memberikan perhatian.

“Dengan pemikiran itu, saya mencoba membangkitkan kembali budaya batik tulis yang benar-benar dari daerah saya. Kendalanya, Kota Batu tidak punya tradisi batik. Kondisi alamnya juga tidak terlalu mendukung. Namun, saya tidak menyerah. Saya kembali belajar di Yogyakarta, Solo, Pekalongan, juga dari buku-buku. Saya mencoba membuat desain dan teknik pembuatan yang memang benar-benar cocok dengan iklim di kota saya,” kata Iwan.

Bukan hanya itu, dari keluarga, Iwan tidak mendapat restu untuk menjadi seniman. “Keluarga saya latar belakangnya militer. Saya lebih banyak dibentuk dalam hal kedisiplinan. Jiwa seni yang saya miliki agak tertutup dengan karakter militer tersebut,” katanya.

NAMUN, berbagai tantangan dan hambatan tersebut tidak mengurungkan niat Iwan untuk membuka usaha batik. Dia mulai membuka usaha batik di Batu dan diberikan nama Olive Batik.

“Nama ini saya ambil dari nama toko batik teman saya di Switzerland. Namanya Toko Olive. Olive ini merupakan bunga pohon zaitun yang punya manfaat sangat banyak. Kelak saya bertekad, batik tidak hanya sekadar menjadi pakaian saja melainkan juga bisa memberi manfaat lain,” katanya.

Awalnya, Iwan masih menggunakan tenaga pembatik dari Solo dan Madura. Sebab, belum ada orang Batu yang bisa membatik. Setelah beberapa lama, Iwan mulai mengajari masyarakat Batu. “Jadi saya bisa transfer teknologi secara terus-menerus. Dengan demikian, selain manfaat ekonomi untuk masyarakat Batu, ada juga unsur pelestarian budaya membatik,” katanya.

Iwan mengembangkan motif bunga untuk menjadi tipikal batik dari Batu. Untuk warna, Iwan menggunakan hampir semua warna. “Batik saya ini memang bisa digunakan oleh semua umur, namun kebanyakan memang untuk dipakai orang muda. Selain karena motifnya yang bunga-bunga, warna-warna cerah yang kebanyakan saya pakai memang lebih cocok untuk orang muda” katanya

Pertemanan yang dibina Iwan dengan banyak desainer asing juga membawa keuntungan. Sejak awal usahanya Iwan sudah banyak mendapat order untuk dikirim ke Amerika, Belanda, Inggris, dan Singapura. “Order dari berbagai negara itu sampai sekarang masih saya terima. Batik saya cukup mendapat sambutan di sana,” ujarnya.

Omzet penjualan batik ke luar negeri bisa mencapai jutaan sekali order. Sementara untuk penjualan dari dalam negeri omzet per bulan sekitar Rp 30 jutaan. Batik yang dijual dengan harga antara Rp 100.000 hingga jutaan rupiah itu saat ini telah merekrut 45 pekerja.

Sejauh ini Iwan belum merasa puas dengan apa yang sudah dicapainya. Dia ingin batik dari “gunung” tersebut tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

Sumber : (Tiur Santi Oktavia) Kompas Cetak

Besar, Potensi Pembatik Pekalongan

Saturday, April 23rd, 2005

Potensi pembatik dari Kota/Kabupaten Pekalongan sangat besar. Sayang, mereka sebagian besar hanya melalui pembelajaran autodidak.

“Jika pekerja itu mendapatkan pembelajaran secara sistematis dan rutin, ada harapan kualitas dan produktivitas mereka bisa ditingkatkan,” ungkap Direktur Politeknik Batik (Polbat) Pusmanu Kota Pekalongan Drs Sony Hikmalul MSi.

Hal itu dia kemukakan saat memberikan pengarahan pada pelatihan pembatikan teknik produksi dan desain batik yang diikuti 16 pekerja di kampusnya, kemarin. Pelatihan itu merupakan program Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jateng dalam rangka pengembangan sumber daya manusia (SDM) pembatik di Pekalongan.

Tingkatkan SDM

Menurut penuturan Sony, di Jateng program peningkatan SDM itu ada empat daerah dan disesuaikan dengan komoditas unggulan daerah masing-masing. Dalam hal ini, Pekalongan perlu meningkatkan SDM pembatik, khususnya untuk perusahaan-perusahaan kecil dan industri rumah tangga.

Untuk peningkatan SDM bagi perusahaan kecil dan industri rumah tangga, lanjut dia, tidak mungkin akan dilakukan pengusaha. “Siapa lagi yang menyelenggarakan kalau bukan pemerintah. Pengusaha kecil boleh dikatakan hampir tak pernah ada yang mendidik pekerja secara sistematis,” ujarnya.

Di Kota Pekalongan, tutur dia, kini tercatat 1.719 pengusaha/perajin batik yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Pekalongan Barat, Pekalongan Timur, dan Pekalongan Selatan.

Dari sektor industri dan perdagangan mampu terserap 17.438 pekerja atau 75% dari 24.755 total pekerja di Kota Pekalongan. Dari jumlah itu, sebagian besar dari sektor perbatikan.

Dengan potensi pembatik yang begitu besar ternyata mendorong perusahaan-perusahaan dari luar Kota Pekalongan mengambil pekerja dari Pekalongan untuk dipekerjakan di perusahaannya. Mereka antara lain dipekerjakan di Yogyakarta, Solo, Bali, Jakarta, dan bahkan pernah Malaysia.

Dengan kurang adanya pembelajaran kepada pekerja secara rutin, sampai sekarang banyak dari mereka yang belum memahami tentang kerja dan meningkatkan keterampilan kerja.

Maksud peningkatan pemahaman kerja itu, ujar Sony, adalah menyangkut semangat kerja yang belum maksimal. Misalnya, seorang pekerja yang karena ada keperluan sedikit saja dengan tetangga, lantas tidak masuk kerja.

Padahal, tindakannya itu dapat mengakibatkan kekacauan dan penurunan produksi di perusahaan.

Sumber : (A15-74j) Suara Merdeka, Pekalongan

Ibu Negara Peserta KAA Disuguhi Pergelaran Budaya

Friday, April 22nd, 2005

KTT Asia Afrika IIIstri-istri kepala negara peserta Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KAA II) disuguhi pergelaran budaya tradisional Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Jumat (22/4). Pergelaran ini selain untuk mengikat persahabatan juga bertujuan untuk meningkatkan kerja sama dalam bidang seni dan budaya [baca: Yudhoyono Berharap Masalah Kemiskinan Menjadi Bahasan Penting ].

Acara yang dipimpin Ibu Negara Ani Yudhoyono ini dibuka dengan Tari Rampai atau yang dikenal dengan Tari Saman. Tarian asal Nanggroe Aceh Darussalam ini memukau para istri kepala negara. Para tamu juga disuguhi tarian dari Bali dan Papua.

Budaya Indonesia yang juga ditampilkan adalah kain batik. Karya tradisional anak bangsa ini ditampilkan lewat peragaan busana yang melibatkan perancang ternama seperti Ramli, Afif Syakur dan Adjie Notonegoro. Perancang ini mempunyai ciri khas masing-masing. Ramli dikenal dengan batik bordirnya, Afif Syakur batik tenun dan Adjie mengusung batik songket.

Sumber : (YYT/Ali Rojihi dan Teguh Dwihartono) Liputan6.com, Jakarta

Eksplorasi Seni Membatik dalam Tarian

Thursday, April 21st, 2005

Membatik, adalah seni tradisi asli Indonesia yang telah dimiliki bangsa ini sejak ribuan tahun lalu, dan bagaimana jika proses membatik itu dituangkan dalam bentuk tarian kontemporer?

Itulah yang coba dieksplorasi oleh seniman tari, Putut Budi Santosa, alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dalam pagelaran tari kontemporer The Plengkung Gading, Story Gading, Story of Batik Makers di Gedung Kesenian Jakarta.

“Ide awal dari tarian ini adalah karena sejak kecil saya hidup di lingkungan pembuat batik apalagi ibu saya juga seorang pembatik. Kekaguman saya pada proses membatik, terutama pembuatan batik tulis itu merupakan awal pagelaran tari kontemporer ini,” kata Putut.

Sedangkan Plengkung Gading diambil dari nama salah satu daerah di Yogyakarta yang merupakan salah satu pusat perajin batik.

Tarian berdurasi sekitar 45 menit tersebut dibuka oleh seorang perempuan berkostum celana panjang merah dengan atasan putih sambil membawa kain putih polos yang akan dijadikan batik.

Dua orang perempuan pun terlihat berlari-lari, seolah sedang menggambar motif di atas kain putih yang telah terbentang di atas panggung itu. Sesekali mereka melompat-lompat sesuai dengan iringan musik yang makin rancak.

Kemudian disusul lima orang lelaki bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana panjang model sarung masuk dengan membawa alat dari bambu yang biasanya digunakan pembatik untuk menaruh kain saat mereka membatik.

Mereka pun menari dengan menggunakan alat yang mereka bawa. Terkadang kelima orang tersebut menghentak-hentakkan bambu yang mereka bawa.

Pagelaran itu pun berlanjut dengan tarian yang menggambarkan proses pembuatan batik dengan gerakan-gerakan dinamis, namun diselingi juga dengan gerakan lambat sesuai dengan iringan musik.

Dalam pertunjukan tari itu, Putut memang sengaja tidak memasukkan musik Jawa, justru aliran musik klasik seperti Verpsers of the Blessed Virgin Marien-Vesper dan Concerto No 9: Audio Ceolum.

“Saya memang berniat menggabungkan unsur tradisional Jawa dengan unsur modern,” kata lelaki kelahiran kota gudeg itu. (*)

Sumber : LKBN Antara

Iwan Tirta, Emban Seni Kriya Indonesia

Monday, April 18th, 2005

TUJUH puluh tahun bukan usia sedikit. Banyak orang pada usia ini merasa telah selesai melakukan tugas di dunia sehingga sisa umur adalah untuk menikmati hasil kerja selama ini.

NAMUN, Iwan Tirta pada usia yang hari ini memasuki 70 tahun merasa begitu cepat waktu berlalu, sementara masih panjang deretan pekerjaan yang ingin dia lakukan. “Banyak hal yang harus dilakukan kalau ingin bertahan dan bahkan berkembang. Saya masih punya banyak ide untuk mengembangkan batik, perak, porselen, dan perhiasan, tetapi waktu kok rasanya singkat sekali,” kata Iwan di rumahnya yang kental dengan suasana Indonesia.

Di teras samping rumahnya terpampang dua galaran yang padanya tersampir dua kain batik yang masih dalam proses pembuatan motif dengan menggunakan malam. “Saya masih terus membatik, tetapi malam hari. Lebih enak karena sepi. Saya akan terus membatik sampai tanganku buyutan,” kata Iwan diiringi tawanya yang khas. Buyutan adalah istilah umum untuk tangan yang bergetar karena usia lanjut.

Batik memang dunia Iwan Tirta sampai kini meskipun pendidikan formalnya adalah School of Oriental and African Studies di London University dan master of laws dari Yale University, Amerika Serikat, serta mendapat fellowship dari Yayasan Adlai Stevenson di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Perkenalannya dengan batik berawal dari ketika dia bersekolah di Amerika Serikat dan mendapat banyak pertanyaan tentang budaya Indonesia.

Namun, sebetulnya perkenalan Nusjirwan Tirtaamidjaja, nama asli Iwan Tirta, pada budaya Jawa berawal lebih jauh lagi, yaitu dari pendidikan masa kecilnya. Iwan sebetulnya berdarah campuran Purwakarta, Jawa Barat, dari ayahnya Mr Moh Husein Tirtaamidjaja, anggota Mahkamah Agung RI (1950-1958), dan Sumatera Barat dari ibunya yang berasal dari Lintau. Iwan yang lahir di Blora, Jawa Tengah, belajar mengenai budaya Jawa ketika orangtuanya menjelma menjadi priayi Jawa saat ditugaskan di Jawa Tengah.

Ketertarikan secara khusus kepada batik lahir ketika atas dana hibah dari Dana John D Rockefeller III Iwan mendapat kesempatan mempelajari tarian keraton Kesunanan Surakarta. Di sanalah Iwan memutuskan mendalami batik dan bertekad mendokumentasi serta melestarikan batik. Kemudian lahirlah bukunya yang pertama, Batik, Patterns and Motifs pada tahun 1966.

SUMBANGAN Iwan paling nyata adalah ketika dia berhasil mentransformasi batik dari selembar kain batik yang secara tradisional digunakan dengan dililitkan di tubuh menjadi gaun indah yang tidak kalah dengan gemerlap dari Barat. Kepraktisan berbusana cara Barat perlahan tetapi pasti memang telah menggerus cara berbusana tradisional perempuan Jawa, dan Iwan berhasil memadukan keindahan batik dengan kepraktisan pakaian ala Barat.

Kepekaan seni dan pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan dari Timur dan Barat membuat Iwan mampu membawa batik menjadi busana yang diterima bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Kecenderungannya pada bidang keilmuan membuat Iwan melihat batik secara rasional dan dia melahirkan buku berikutnya, Batik, A Play of Light and Shades (1996).

Ketertarikannya kepada budaya Jawa dan sebenarnya juga budaya Nusantara lainnya serta kedekatannya dengan kalangan keraton Jawa membawa pengelanaan Iwan kepada seni kriya lain. Perak adalah penjelajahan berikut Iwan. Motif modang, misalnya, dijadikan ragam hias pada tutup tempat perhiasan, sementara seperangkat tempat sirih peraknya menghiasi lobi Hotel Dharmawangsa di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pengetahuannya yang luas dan mendalam mengenai batik membuat Iwan tidak lagi dalam tataran teori ketika berbicara mengenai motif batik yang dapat muncul dalam bentuk apa saja. Itu dibuktikannya ketika mendesain perangkat makan porselen yang menggunakan motif batik. Energi kreatifnya juga tersalur dengan merancang perhiasan yang inspirasinya dari perhiasan keraton.

“KUNCINYA adalah pendidikan dan riset. Kita sangat kurang dalam dua hal itu,” kata Iwan yang selalu berkemeja batik dalam setiap acara, tetapi siap pula mengenakan celana pendek denim dengan kaus ketat ketika di rumah dan siap membatik. Pandangan ini secara konsisten dikukuhinya sejak mulai berkenalan intens dengan batik pada tahun 1960-an.

Dalam hal riset, Iwan melakukannya sejak bertahun lalu. Dia terus mendokumentasikan motif batik tua, termasuk milik Puri Mangkunegaran, Solo, ke dalam data digital dan ke atas kertas dengan bantuan pengusaha Rachmat Gobel. Data tersebut menjadi pegangannya dalam mengembangkan motif baru yang terus dia kembangkan sesuai selera zaman dengan tetap mempertahankan ciri khasnya, yaitu antara lain warna yang cerah dan motif berukuran besar.

Pekan lalu dia diminta Ibu Negara Ny Ani Yudhoyono untuk ikut menyumbangkan pemikiran dalam pengembangan batik sebagai ikon nasional. Bicara mengenai hal itu Iwan kembali prihatin pada kondisi pendidikan, riset, dan kemampuan promosi Indonesia sebagai negeri batik. “Sekarang Malaysia ke mana-mana mengaku batik sebagai milik mereka. Itu karena kita tidak punya kemampuan public relations,” kata penerima Anugerah Kebudayaan 2004 kategori individu peduli tradisi ini.

Dengan fasih Iwan menjelaskan di mana kekuatan batik Jawa yang menjadi dasar batik nasional yang tidak bakal bisa ditiru negara lain. Pertama adalah adanya teknik yang pasti, yaitu penggunaan malam dan canting; kedua, adanya pakem berupa ragam hias dengan dasar geometris nongeometris; ketiga, jalinan erat dengan budaya lain; dan ketidakterikatan dengan satu agama tertentu.

“Itu semua kekuatan batik Indonesia yang tidak dipunyai bangsa lain, tetapi untuk mengeluarkan potensi ini perlu pendidikan dan riset,” kata Iwan kukuh.

Keyakinan itu dan tugas baru yang disandangnya membuat Iwan bertekad akan mengabdikan hidupnya sebagai emban seni kriya Indonesia. “Tugas emban itu ya mengasuh, mendampingi, untuk semua, tidak hanya batik Iwan Tirta,” tuturnya.

Senin ini Iwan akan memperingati 70 tahun usianya dan malam ini rencananya dia akan mengadakan syukuran bersama teman-temannya. “Saya tidak melahirkan batik, tetapi saya akan terus mengasuh dan memelihara yang ada. Seperti tugas emban.”

Sumber : (Ninuk M Pambudy) Kompas Cetak

Sejarah Batik Indonesia

Monday, April 18th, 2005

Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.

Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur.

Jaman Majapahit
Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, pat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli.

Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Diluar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-XIX ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya.

Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia kesatu yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya dipasar Porong Sidoarjo, Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan kecil usahanya. Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan.

Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Yang dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu tempat pembatikan didesa Majan dan Simo. Desa ini juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro tahun 1825.

Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahait namun perkembangan batik mulai menyebar sejak pesat didaerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata, pada jaman kerajaan di daerah ini. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipenagruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.

Didalam berkecamuknya clash antara tentara kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan pangeran Diponegoro maka sebagian dari pasukan-pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri kearah timur dan sampai sekarang bernama Majan. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan ini desa Majan berstatus desa Merdikan (Daerah Istimewa), dan kepala desanya seorang kiyai yang statusnya Uirun-temurun.Pembuatan batik Majan ini merupakan naluri (peninggalan) dari seni membuat batik zaman perang Diponegoro itu.

Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Sebagai batik setra sejak dahulu kala terkenal juga didaerah desa Sembung, yang para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Sala yang datang di Tulungagung pada akhir abad ke-XIX. Hanya sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan dari Sala yang menetap didaerah Sembung. Selain dari tempat-tempat tesebut juga terdapat daerah pembatikan di Trenggalek dan juga ada beberapa di Kediri, tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan babarannya batik tulis.

Jaman Penyebaran Islam
Riwayat pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya adalah di Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam di daerah ini. Riwayat Batik. Disebutkan masalah seni batik didaerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam dan kerajaan-kerajaan dahulu. Konon, di daerah Batoro Katong, ada seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang namanya Raden Katong adik dari Raden Patah. Batoro Katong inilah yang membawa agama Islam ke Ponorogo dan petilasan yang ada sekarang ialah sebuah mesjid didaerah Patihan Wetan.

Perkembangan selanjutanya, di Ponorogo, di daerah Tegalsari ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Pesantren Tegalsari ini selain mengajarkan agama Islam juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu perang dan kesusasteraan. Seorang murid yang terkenal dari Tegalsari dibidang sastra ialah Raden Ronggowarsito. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo.

Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan kraton. Oleh karena putri keraton Solo menjadi istri Kyai Hasan Basri maka dibawalah ke Tegalsari dan diikuti oleh pengiring-pengiringnya. disamping itu banyak pula keluarga kraton Solo belajar dipesantren ini. Peristiwa inilah yang membawa seni bafik keluar dari kraton menuju ke Ponorogo. Pemuda-pemudi yang dididik di Tegalsari ini kalau sudah keluar, dalam masyarakat akan menyumbangkan dharma batiknya dalam bidang-bidang kepamongan dan agama.

Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Waktu itu obat-obat yang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan antara lain; pohon tom, mengkudu, kayu tinggi. Sedangkan bahan kainputihnyajugamemakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih import bam dikenal di Indonesia kira-kira akhir abad ke-19.

Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas. Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia petama sampai pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal seluruh Indonesia.

Batik Solo dan Yogyakarta
Dari kerjaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta sekitamya abad 17,18 dan 19, batik kemudian berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Awalnya batik hanya sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian. Namun perkembangan selanjutnya, pleh masyarakat batik dikembangkan menjadi komoditi perdagamgan.

Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”.

Sedangkan Asal-usul pembatikan didaerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan raj any a Panembahan Senopati. Daerah pembatikan pertama ialah didesa Plered. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu. Dari sini pembatikan meluas pada trap pertama pada keluarga kraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombonasi batik dan lurik. Oleh karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga kraton dan ditiru oleh rakyat dan akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok kraton.

Akibat dari peperangan waktu zaman dahulu baik antara keluarga raja-raja maupun antara penjajahan Belanda dahulu, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap didaerah-daerah baru antara lain ke Banyumas, Pekalongan, dan kedaerah Timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainy a. Meluasny a daerah pembatikan ini sampai kedaerah-daerah itu menurut perkembangan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimulai abad ke-18. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru itu.

Perang Pangeran Diponegoro melawan Belanda, mendesak sang pangeran dan keluarganya serta para pengikutnya harus meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikut pangeran Diponegoro mengembangkan batik.

Ke Timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Selain itu juga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkem-bang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon.

Perkembangan Batik di Kota-kota lain
Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegero setelah selesa-inya peperangan tahun 1830, mereka kebanyakan menet-ap didaerah Banyumas. Pengikutnya yang terkenal waktu itu ialah Najendra dan dialah mengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewama dipakai pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah kesemuan kuning.

Lama kelamaan pembatikan menjalar pada rakyat Sokaraja dan pada akhir abad ke-XIX berhubungan langsung dengan pembatik didaerah Solo dan Ponorogo. Daerah pembatikan di Banyumas sudah dikenal sejak dahulu dengan motif dan wama khususnya dan sekarang dinamakan batik Banyumas. Setelah perang dunia kesatu pembatikan mulai pula dikerjakan oleh Cina disamping mereka dagang bahan batik. .

Sama halnya dengan pembatikan di Pekalongan. Para pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di daerah ini kemudian mengembangkan usaha batik di sekitara daerah pantai ini, yaitu selain di daerah Pekalongan sendiri, batik tumbuh pesat di Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo. Adanya pembatikan di daerah-daerah ini hampir bersamaan dengan pembatikan daerah-daerah lainnya yaitu sekitar abad ke-XIX. Perkembangan pembatikan didaerah-daerah luar selain dari Yogyakarta dan Solo erat hubungannya dengan perkembangan sejarah kerajaan Yogya dan Solo.

Meluasnya pembatikan keluar dari kraton setelah berakhirnya perang Diponegoro dan banyaknya keluarga kraton yang pindah kedaerah-daerah luar Yogya dan Solo karena tidak mau kejasama dengan pemerintah kolonial. Keluarga kraton itu membawa pengikut-pengikutnya kedaerah baru itu dan ditempat itu kerajinan batik terus dilanjutkan dan kemudian menjadi pekerjaan untuk pencaharian.

Corak batik di daerah baru ini disesuaikan pula dengan keadaan daerah sekitarnya. Pekalongan khususnya dilihat dari proses dan designya banyak dipengaruhi oleh batik dari Demak. Sampai awal abad ke-XX proses pembatikan yang dikenal ialah batik tulis dengan bahan morinya buatan dalam negeri dan juga sebagian import. Setelah perang dunia kesatu baru dikenal pembikinan batik cap dan pemakaian obat-obat luar negeri buatan Jerman dan Inggris.

Pada awal abad ke-20 pertama kali dikenal di Pekajangan ialah pertenunan yang menghasilkan stagen dan benangnya dipintal sendiri secara sederhana. Beberapa tahun belakangan baru dikenal pembatikan yang dikerjakan oleh orang-orang yang bekerja disektor pertenunan ini. Pertumbuhan dan perkembangan pembatikan lebih pesat dari pertenunan stagen dan pernah buruh-buruh pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto lari ke perusahaan-perusahaan batik, karena upahnya lebih tinggi dari pabrik gula.

Sedang pembatikan dikenal di Tegal akhir abad ke-XIX dan bahwa yang dipakai waktu itu buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan: pace/mengkudu, nila, soga kayu dan kainnya tenunan sendiri. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik, dan kemudian meningkat menjadi warna merah-biru. Pasaran batik Tegal waktu itu sudah keluar daerah antara lain Jawa Barat dibawa sendiri oleh pengusaha-pengusaha secara jalan kaki dan mereka inilah menurut sejarah yang mengembangkan batik di Tasik dan Ciamis disamping pendatang-pendatang lainnya dari kota-kota batik Jawa Tengah.

Pada awal abad ke-XX sudah dikenal mori import dan obat-obat import baru dikenal sesudah perang dunia kesatu. Pengusaha-pengusaha batik di Tegal kebanyakan lemah dalam permodalan dan bahan baku didapat dari Pekalongan dan dengan kredit dan batiknya dijual pada Cina yang memberikan kredit bahan baku tersebut. Waktu krisis ekonomi pembatik-pembatik Tegal ikut lesu dan baru giat kembali sekitar tahun 1934 sampai permulaan perang dunia kedua. Waktu Jepang masuk kegiatan pembatikan mati lagi.

Demikian pila sejarah pembatikan di Purworejo bersamaan adanya dengan pembatikan di Kebumen yaitu berasal dari Yogyakarta sekitar abad ke-XI. Pekembangan kerajinan batik di Purworejo dibandingkan dengan di Kebumen lebih cepat di Kebumen. Produksinya sama pula dengan Yogya dan daerah Banyumas lainnya.

Sedangkan di daerah Bayat, Kecamatan Tembayat Kebumen-Klaten yang letaknya lebih kurang 21 Km sebelah Timur kota Klaten. Daerah Bayat ini adalah desa yang terletak dikaki gunung tetapi tanahnya gersang dan minus. Daerah ini termasuk lingkungan Karesidenan Surakarta dan Kabupaten Klaten dan riwayat pembatikan disini sudah pasti erat hubungannya dengan sejarah kerajaan kraton Surakarta masa dahulu. Desa Bayat ini sekarang ada pertilasan yang dapat dikunjungi oleh penduduknya dalam waktu-waktu tertentu yaitu “makam Sunan Bayat” di atas gunung Jabarkat. Jadi pembatikan didesa Bayat ini sudah ada sejak zaman kerjaan dahulu. Pengusaha-pengusaha batik di Bayat tadinya kebanyakan dari kerajinan dan buruh batik di Solo.

Sementara pembatikan di Kebumen dikenal sekitar awal abad ke-XIX yang dibawa oleh pendatang-pendatang dari Yogya dalam rangka dakwah Islam antara lain yang dikenal ialah: PenghuluNusjaf. Beliau inilah yang mengembangkan batik di Kebumen dan tempat pertama menetap ialah sebelah Timur Kali Lukolo sekarang dan juga ada peninggalan masjid atas usaha beliau. Proses batik pertama di Kebumen dinamakan teng-abang atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas/Solo. Sekitar awal abad ke-XX untuk membuat polanya dipergunakan kunir yang capnya terbuat dari kayu. Motif-motif Kebumen ialah: pohon-pohon, burung-burungan. Bahan-bahan lainnya yang dipergunakan ialah pohon pace, kemudu dan nila tom.

Pemakaian obat-obat import di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920 yang diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia yang akhimya meninggalkan bahan-bahan bikinan sendiri, karena menghemat waktu. Pemakaian cap dari tembaga dikenal sekitar tahun 1930 yang dibawa oleh Purnomo dari Yogyakarta. Daerah pembatikan di Kebumen ialah didesa: Watugarut, Tanurekso yang banyak dan ada beberapa desa lainnya.

Dilihat dengan peninggalan-peninggalan yang ada sekarang dan cerita-cerita yang turun-temurun dari terdahulu, maka diperkirakan didaerah Tasikmalaya batik dikenal sejak zaman “Tarumanagara” dimana peninggalan yang ada sekarang ialah banyaknya pohon tarum didapat disana yang berguna un-tuk pembuatan batik waktu itu. Desa peninggalan yang sekarang masih ada pembatikan dikerja-kan ialah: Wurug terkenal dengan batik kerajinannya, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya dan Tasikmalaya kota.

Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah desa Sukapura, Indihiang yang terletak dipinggir kota Tasikmalaya sekarang. Kira-kira akhir abad ke-XVII dan awal abad ke-XVIII akibat dari peperangan antara kerajaan di Jawa Tengah, maka banyak dari penduduk daerah: Tegal, Pekalongan, Ba-nyumas dan Kudus yang merantau kedaerah Barat dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya. Sebagian besar dari mereka ini adalah pengusaha-pengusaha batik daerahnya dan menuju kearah Barat sambil berdagang batik. Dengan datangnya penduduk baru ini, dikenallah selanjutnya pembutan baik memakai soga yang asalnya dari Jawa Tengah. Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah campuran dari batik-batik asal Pekalongan, Tegal, Banyumas, Kudus yang beraneka pola dan warna.

Pembatikan dikenal di Ciamis sekitar abad ke-XIX setelah selesainya peperangan Diponegoro, dimana pengikut-pengikut Diponegoro banyak yang meninggalkan Yogyakarta, menuju ke selatan. Sebagian ada yang menetap didaerah Banyumas dan sebagian ada yang meneruskan perjalanan ke selatan dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya sekarang. Mereka ini merantau dengan keluargany a dan ditempat baru menetap menjadi penduduk dan melanjutkan tata cara hidup dan pekerjaannya. Sebagian dari mereka ada yang ahli dalam pembatikan sebagai pekerjaan kerajinan rumah tangga bagi kaum wanita. Lama kelamaan pekerjaan ini bisa berkembang pada penduduk sekitarnya akibat adanya pergaulan sehari-hari atau hubungan keluarga. Bahan-bahan yang dipakai untuk kainnya hasil tenunan sendiri dan bahan catnya dibuat dari pohon seperti: mengkudu, pohon tom, dan sebagainya.

Motif batik hasil Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh daerah sendiri terutama motif dan warna Garutan. Sampai awal-awal abad ke-XX pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Sedang di daerah Cirebon batik ada kaintannya dengan kerajaan yang ada di aerah ini, yaitu Kanoman, Kasepuahn dan Keprabonan. Sumber utama batik Cirebon, kasusnya sama seperti yang di Yogyakarta dan Solo. Batik muncul lingkungan kraton, dan dibawa keluar oleh abdi dalem yang bertempat tinggal di luar kraton. Raja-raja jaman dulu senang dengan lukisan-lukisan dan sebelum dikenal benang katun, lukisan itu ditempatkan pada daun lontar. Hal itu terjadi sekitar abad ke-XIII. Ini ada kaitannya dengan corak-corak batik di atas tenunan. Ciri khas batik Cirebonan sebagaian besar bermotifkan gambar yang lambang hutan dan margasatwa. Sedangkan adanya motif laut karena dipengaruhioleh alam pemikiran Cina, dimana kesultanan Cirebon dahulu pernah menyunting putri Cina. Sementra batik Cirebonan yang bergambar garuda karena dipengaruhi oleh motif batik Yogya dan Solo.

+Pembatikan di Jakarta
Pembatikan di Jakarta dikenal dan berkembangnya bersamaan dengan daerah-daerah pembatikan lainnya yaitu kira-kira akhir abad ke-XIX. Pembatikan ini dibawa oleh pendatang-pendatang dari Jawa Tengah dan mereka bertempat tinggal kebanyakan didaerah-daerah pembatikan. Daerah pembatikan yang dikenal di Jakarta tersebar didekat Tanah Abang yaitu: Karet, Bendungan Ilir dan Udik, Kebayoran Lama, dan daerah Mampang Prapatan serta Tebet.

Jakarta sejak zaman sebelum perang dunia kesatu telah menjadi pusat perdagangan antar daerah Indonesia dengan pelabuhannya Pasar Ikan sekarang. Setelah perang dunia kesatu selesai, dimana proses pembatikan cap mulai dikenal, produksi batik meningkat dan pedagang-pedagang batik mencari daerah pemasaran baru. Daerah pasaran untuk tekstil dan batik di Jakarta yang terkenal ialah: Tanah Abang, Jatinegara dan Jakarta Kota, yang terbesar ialah Pasar Tanah Abang sejak dari dahulu sampai sekarang. Batik-batik produksi daerah Solo, Yogya, Banyumas, Ponorogo, Tulungagung, Pekalongan, Tasikmalaya, Ciamis dan Cirebon serta lain-lain daerah, bertemu di Pasar Tanah Abang dan dari sini baru dikirim kedaerah-daerah diluar Jawa. Pedagang-pedagang batik yang banyak ialah bangsa Cina dan Arab, bangsa Indonesia sedikit dan kecil.

Oleh karena pusat pemasaran batik sebagian besar di Jakarta khususnya Tanah Abang, dan juga bahan-bahan baku batik diperdagangkan ditempat yang sama, maka timbul pemikiran dari pedagang-pedagang batik itu untuk membuka perusahaan batik di Jakarta dan tempatnya ialah berdekatan dengan Tanah Abang. Pengusaha-pengusaha batik yang muncul sesudah perang dunia kesatu, terdiri dari bangsa cina, dan buruh-buruh batiknya didatangkan dari daerah-daerah pembatikan Pekalongan, Yogya, Solo dan lain-lain. Selain dari buruh batik luar Jakarta itu, maka diambil pula tenaga-tenaga setempat disekitar daerah pembatikan sebagai pembantunya. Berikutnya, melihat perkembangan pembatikan ini membawa lapangan kerja baru, maka penduduk asli daerah tersebut juga membuka perusahaan-perusahaan batik. Motif dan proses batik Jakarta sesuai dengan asal buruhnya didatangkan yaitu: Pekalongan, Yogya, Solo dan Banyumas.

Bahan-bahan baku batik yang dipergunakan ialah hasil tenunan sendiri dan obat-obatnya hasil ramuan sendiri dari bahan-bahan kayu mengkudu, pace, kunyit dan sebagainya. Batik Jakarta sebelum perang terkenal dengan batik kasarnya warnanya sama dengan batik Banyumas. Sebelum perang dunia kesatu bahan-bahan baku cambric sudah dikenal dan pemasaran hasil produksinya di Pasar Tanah Abang dan daerah sekitar Jakarta.

Pembatikan di Luar Jawa
Dari Jakarta, yang menjadi tujuan pedagang-pedagang di luar Jawa, maka batik kemudian berkembang di seluruh penjuru kota-kota besar di Indonesia yang ada di luar Jawa, daerah Sumatera Barat misalnya, khususnya daerah Padang, adalah daerah yang jauh dari pusat pembatikan dikota-kota Jawa, tetapi pembatikan bisa berkembang didaerah ini.

Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sejak zaman sebelum perang dunia kesatu, terutama batik-batik produksi Pekalongan (saaingnya) dan Solo serta Yogya. Di Sumatera Barat yang berkembang terlebih dahulu adalah industri tenun tangan yang terkenal “tenun Silungkang” dan “tenun plekat”. Pembatikan mulai berkembang di Padang setelah pendudukan Jepang, dimana sejak putusnya hubungan antara Sumatera dengan Jawa waktu pendudukan Jepang, maka persediaan-persediaan batik yang ada pada pedagang-pedagang batik sudah habis dan konsumen perlu batik untuk pakaian sehari-hari mereka. Ditambah lagi setelah kemerdekaan Indonesia, dimana hubungan antara kedua pulau bertambah sukar, akibat blokade-blokade Belanda, maka pedagang-pedagang batik yang biasa hubungan dengan pulau Jawa mencari jalan untuk membuat batik sendiri.

Dengan hasil karya sendiri dan penelitian yang seksama, dari batik-batik yang dibuat di Jawa, maka ditirulah pembuatan pola-polanya dan ditrapkan pada kayu sebagai alat cap. Obat-obat batik yang dipakai juga hasil buatan sendiri yaitu dari tumbuh-tumbuhan seperti mengkudu, kunyit, gambir, damar dan sebagainya. Bahan kain putihnya diambilkan dari kain putih bekas dan hasil tenun tangan. Perusahaan batik pertama muncul yaitu daerah Sampan Kabupaten Padang Pariaman tahun 1946 antara lain: Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, Sutan Sjamsudin dan di Payakumbuh tahun 1948 Sdr. Waslim (asal Pekalongan) dan Sutan Razab. Setelah daerah Padang serta kota-kota lainnya menjadi daerah pendudukan tahun 1949, banyak pedagang-pedagang batik membuka perusahaan-perusahaan/bengkel batik dengan bahannya didapat dari Singapore melalui pelabuhan Padang dan Pakanbaru. Tetapi pedagang-pedagang batik ini setelah ada hubungan terbuka dengan pulau Jawa, kembali berdagang dan perusahaanny a mati.

Warna dari batik Padang kebanyakan hitam, kuning dan merah ungu serta polanya Banyumasan, Indramajunan, Solo dan Yogya. Sekarang batik produksi Padang lebih maju lagi tetapi tetap masih jauh dari produksi-produksi dipulau Jawa ini. Alat untuk cap sekarang telah dibuat dari tembaga dan produksinya kebanyakan sarung.

Sumber : [Dikutip dari buku 20 Tahun GKBI] via GKBI.info

Film : Kisah Anne dari Yogya

Sunday, April 17th, 2005

Kisah Anne dari YogyaArmanda Prasetyo Annebelle Yuwantoro, gadis Jawa blasteran Belanda. Membatik lebih membuatnya merasa hidup ketimbang menangisi cacian yang dialamatkan padanya. Anne tetap setiap pada pilihannya: membuat batik terbaik, meski kenyataannya, ia tak sanggup menahan pedih membayangkan Satrio yang dicintainya menikah dengan perempuan lain. Beginilah Anne yang berusaha tegar dalam lensa Bobby Sandy, sutradara Anne van Jogja.

Derita hidup Anne dalam film Anne van Jogja bisa ditonton di sejumlah bioskop di Jakarta dan Yogyakarta sejak Kamis, 14 April silam. Film yang dibintangi Rachel Maryam (Anne) itu berlatar budaya Jawa pada tahun 60-an. Cerita film ini diangkat dari pemenang lomba penulisan skenario film cerita yang diselenggarakan Kantor Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun silam. &quotJudul aslinya Canting, tentang batik. Tapi karena ada sinetron yang sama, diubah,” kata Bobby Sandy di studio SCTV, Ahad (17/4) pagi.

Anne harus menanggung akibat yang dilakukan ayahnya, Raden Prasetyo Yuwantoro karena menikahi Marie Vokstaal yang berdarah Belanda. Anne tak mengenal kakek-neneknya yang tak mengakui keturunan Prasetyo. Mereka hidup mengucilkan diri dengan mengelola perkebunan. Suatu saat, Prasetyo meninggal dalam sebuah kecelakaan. Tak lama kemudian, Marie Vokstaal pun mangkat karena depresi akibat tekanan keluarga. Sejak saat itu, Anne hidup sebatang kara hanya ditemani pembantu setianya, Mbok Nem. Keterampilan Anne membatik membuatnya sukses membuka perusahaan batik bernama Anne van Jogja.

Pemain film Anne van Jogja hampir seluruhnya diambil dari Yogyakarta dan Solo. Bobby sengaja melakukan ini untuk menjaga dialek Jawa yang belum tentu bisa dilakukan oleh artis Ibu Kota. &quotKalau bukan dari film, mereka berasal dari kesenian tradisional,” ungkap sutradara film Selamat Tinggal Jeanette.

Kendati masih mempunyai sejumlah kekurangan, kehadiran Anne van Jogja bisa diacungi jempol. Kehadiran film produksi Jatayu Cakrawala ini menjadi alternatif tontonan yang sedikit berbeda di sela-sela gencarnya film-film remaja seperti Virgin, Arisan!, atau Buruan Cium Gue.

Sumber : (YAN/Tim Liputan 6 SCTV) Liputan6.com, Jakarta

KCMI akan Gelar Seni Tari dan Pameran Batik untuk Aceh

Sunday, April 17th, 2005

Seniman muda yang tergabung dalam Kelompok Citra Muda Indonesia (KCMI) akan menggelar seni tari dan pameran batik di Gedung Kesenian Jakarta pada Selasa (19/4), demi meringankan penderitaan rakyat Aceh dan Sumatera.

Siaran pers KCMI diterima ANTARA, Sabtu, mengatakan musibah gempa dan gelombang tsunami di propinsi Nanggroe Aceh Darusalam dan sebagai wilayah Sumatera Utara telah meninggalkan duka mendalam, baik bagi keluarga korban maupun masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Mengambil tema “The Plengkung Gading and Batik Exhibition”, KCMI bakal menampilkan tari tradisional, kontemporer dan modern serta pameran batik yang sebagian hasilnya disumbangkan untuk para korban bencana.

Pemilihan batik sebagai tema pertunjukan merupakan terobosan dalam memberi inovasi baru pada pementasan kesenian, khususnya tari.

Batik, seperti ditulis KCMI dalam siaran persnya, adalah produk budaya yang memiliki nilai seni sangat tinggi dan menjadi ikon busana nasional. Banyak sekali motif dan warna batik yang telah berkembang, baik yang dibuat secara tradisional (batik tulis) maupun menggunakan teknologi modern (batik cap), seperti yang terdapat di pabrik Plengkung Gading di kota Yogyakarta.

Pabrik batik itulah yang menjadi sumber inspirasi bagi koreografer Putut Budi Santosa untuk membuat satu karya tari modern dengan sentuhan pop dan tradisional, tentang proses pembuatan batik hingga penggunaannya sehari-hari.

“The Plengkung Gading and Batik Exhibition” memperlihatkan kombinasi antara seni tari dan pembuatan batik tradisional, yang selanjutnya akan dilelang. Tarian lain yang akan ditampilkan antara lain “The Spirit of Shiva”, “Tari Saman” oleh siswa International School of Bogor, di samping juga penampilan Paduan Suara Akademi Sekretaris Interstudy-GSM.(*)

Sumber : LKBN Antara

Pekalongan, Kota BTT – Batik, Tenun, dan Tauto!

Friday, April 15th, 2005

Penjual BungaPekalongan adalah sebuah kota kecil di pesisir Utara Jawa Tengah. Kota ini terletak sekitar 360 km dari Jakarta ke arah Semarang. Ayah saya berasal dari Pekalongan, sehingga waktu kecil saya sering sekali bolak–balik kesana, sampai saya merasa bosan. Tetapi, setelah menjadi pemerhati (waduh istilahnya) kuliner, saya jadi betah disana. Pekalongan memang dikenal `hanya` sebagai kota Batik, tapi seiring dengan perkembangan jaman, saya mengusulkan agar Pekalongan kini diberi julukan kota BTT – Batik, Tenun dan Tauto!

Pekalongan memang sejak dahulu terkenal sebagai sentra industri batik tradisional yang bermutu tinggi. Apalagi batik tulis sutranya, benar–benar top of the line!. Varian motifnya juga banyak dan kreatif! Jika Anda ingin berburu batik, saya punya kabar baik buat Anda: kalau sebelumnya harus berburu dari rumah ke rumah, sekarang di Pekalongan sudah ada pusat grosir batik yang sangat bagus, yaitu di Setono, sebelah Timur kota ke arah Semarang. Terletak di kiri jalan, Pasar Grosir Setono ini merupakan terobosan karena bisa menghadirkan penghasil batik kualitas tinggi seperti Huza, Putri Diana, Ghofar, dan lain–lain. Untuk yang terbiasa dengan harga Jakarta, jangan kaget! Harga disini sangat,sangat murah. Kemeja tangan pendek batik modern berharga sekitar Rp30 – 40K saja, sementara batik sutra cap dibandrol Rp 150K. Asesoris seperti tempat HP dan dompet dijual antara Rp 5 – 20K. Model dan motifnya cukup up to date – Gak bakalan nyangka deh kalo harganya dibawah Rp 50K!

Selain batik, produk yang semakin nge–trend di Pekalongan adalah produk tenun tradisional atau ATBM. Produk tenun ini bermacam–macam, ada yang dari serat alam kasar seperti eceng gondok atau alang–alang, ada juga dari benang biasa yang ditenun bersama akar wangi sehingga wanginya khas. Range produknya luas sekali, mulai dari sarung bantal, placemat, taplak, sampai korden. Semuanya didesain dengan cantik! Sulit disangka bahwa dari kota kecil seperti Pekalongan bisa lahir motif–motif yang modern dan tidak `kampungan`. Salah satu toko tenun yang terkenal adalah Ridaka, walaupun masih banyak tempat lainnya yang juga menargetkan pasar ekspor. Lagi–lagi,harganya sangat murah – tempat sampah dari jalinan eceng gondok setinggi 50 cm dan lebar 75 cm hanya dibandrol Rp 100K!

Penjual Gemblong
Penjual GembongYang terakhir, tauto, sebenarnya merepresentasikan potensi kuliner kota Pekalongan. Pak Bondan rasanya pernah membahas tentang kuliner Pekalongan di kolom Jalansutra. Tauto adalah soto khas Pekalongan. Kuahnya dibuat dengan tauco, warnanya coklat kemerahan dan agak pedas. Biasanya dilengkapi daging sapi dan soun (rice vermicelli).Cara menghidangkannya: soun dan rajangan daun bawang diletakkan didalam mangkuk, baru disiram dengan kuah panas dan dagingnya. Maknyussss….! Apalagi kali ini tautonya bikinan sendiri. Tapi kalau ingin makan tauto di kedai, yang terkenal adalah warung kecil didepan gedung PPIP. Jorok, panas, tapi nikmat! Selain tauto, Pekalongan juga terkenal memiliki gule dan sate kambing yang enak. Untuk dua jenis makanan ini, silahkan bertandang ke alun–alun. Persis di seberang Masjid Agung, di depan bank (lupa bank apa), ada kios sate kambing ,Kaliri`. Satenya besar–besar dan yang khas adalah gulenya – lain dengan gule kambing Jakarta, karena lebih banyak rempah yang digunakan. Untuk yang belum biasa, rasanya mirip jamu,tapi menurut saya justru aroma yang ,rich` ini yang spesial dari gule Kaliri. Walaupun pas kesana dagingnya sudah habis dan cuma kebagian kuah gulenya, tapi pas dimakan dengan sate dan nasi ngepul masih mak nyussssssss rasanya! Yang selalu saya cari juga di Pekalongan adalah sarapan pagi jajanpasar. Sayangnya, berhubung Tahun Baru Imlek, Nyah Siju, salah satu produsen jajan pasar Pekalongan tidak berjualan. Akibatnya, walaupun saya ke pasar, kue–kue seperti carabikang, ketan biru, dan lain–lain lenyap dari pasaran. Memang suatu hal yang cukup unik bahwa budaya Tiong Hoa begitu berpengaruh terhadap produksi makanan tradisional. Inilah pembauran sesungguhnya, yang tidak `dibaur–baurkan`!

Sriping
SripingWalaupun gagal mencari jajan pasar, Pasar Sorogenen yang saya kunjungi masih menyimpan banyak objek menarik. Ada penjual gemblong, sejenis kue dari tepung beras yang dimakan dengan gula merah, rasanya manis mirip klepon. Tak ketinggalan juga sriping di kios ikan, sejenis kerang yang rasanya gurih dan enak kalau digoreng. Ada juga seorang ibu yang menjual biji mirip jengkol – yang ternyata bernama biji gayam, dimakan dengan parutan kelapa sebagai snack sesudah dikukus. Rasanya katanya mirip ,buah kopi anjing` – tanaman yang konon sekarang sudah punah. Last but not least, adalah mbok penjual bunga dengan keranjang bambunya yang besar. Tampahnya sangat cantik dipenuhi melati, kenanga, dan mawar. Kami singgah kesana membeli bunga untuk nyekar di makam kakek dan nenek saya. Saya pulang dengan janji untuk kembali – mencari ketan biru!

Sumber : Harry Nazaruddin, KCM