Archive for March, 2005

Batik Sukaraja Hampir Punah

Thursday, March 31st, 2005

Kerajinan kain batik tulis halus Sukaraja yang berpusat di Kampung Pasar Kolot, Desa Sukapura, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, terancam punah. Ini terjadi akibat kurangnya tenaga pembatik sejak tahun 2000.

“Saat ini perajin batik tulis yang tersisa hanyalah mereka yang peduli untuk melestarikan, dan mereka ini sudah berusia lebih dari 40 tahun. Kami kesusahan untuk meregenerasi pebatik tulis,” kata Ecin Kuraisin (57), seorang pebatik tulis di Tasikmalaya, Rabu (30/3). Ecin merupakan pebatik yang telah menggeluti batik tulis Sukaraja secara turun-temurun sejak tahun 1974.

Menurut Ecin, sebelumnya ia mampu menghasilkan batik tulis yang murah seharga Rp 25.000 per potong sebanyak 10 kodi sebulan. Tetapi, karena kekurangan tenaga pembatik, Ecin hanya mampu menghasilkan sekitar dua kodi per bulan.

Pekerja yang pernah dimiliki Ecin sebanyak 20 orang. Sekarang ini Ecin hanya memiliki lima orang pebatik saja. Hal tersebut juga dialami beberapa pebatik di Kampung Pasar Kolot tersebut.

Uun Kurniasih (48) mengeluhkan para remaja di sekitarnya memilih membordir daripada membatik.

“Mungkin mereka tidak mau membatik karena membuat tangan dan baju kotor. Sedangkan kalau membordir, tangan dan baju bersih,” kata Uun. Sedangkan soal upah, membatik lebih murah. Mereka mendapatkan upah Rp 4.000 per potong, sementara membordir mendapat sekitar Rp 15.000.

Saat ini, para pebatik yang masih tersisa hanya mengandalkan pesanan. Itu pun, menurut Ecin dan Uun, pesanan yang tidak bisa dalam partai besar. “Tidak ada tenaganya,” kata Uun yang menghasilkan kain batik tulis halus sekitar enam potong per minggu.

Selama ini hasil kerajinan batik tulis hanya dipasarkan per orangan ke pasar-pasar di sekitar Sukaraja, seperti Pasar Cibalong. Mereka belum sanggup membangun ruang pamer khusus batik tulis Sukaraja. “Itu masih cita-cita kami untuk melestarikan batik tulis Sukaraja,” ujar Ecin.

Selain mengeluhkan soal kekurangan tenaga, mereka tidak mampu lagi mencegah penjiplakan karya batik oleh pengusaha batik printing (cap). Apalagi, persaingan antara batik tulis dan cap semakin ketat. Menurut Ecin dan Uun, kain-kain batik cap sering mencontoh karya-karya mereka.

Sumber : (AYS) Kompas Cetak, Tasikmalaya

Batik Tulis Garut Disukai Konsumen Mancanegara

Sunday, March 27th, 2005

Pengrajin BatikKabupaten Garut, Jawa Barat, tidak hanya dikenal karena dombanya, jeruk, jaket kulit atau penganan dodol tetapi juga populer karena batik tulisnya. Bahkan batik garut yang berkembang sejak 1979 banyak dipesan konsumen mancanegara seperti Belanda, Jepang dan Cina.

Baru-baru ini, SCTV, bertandang ke sentra perajin batik milik Uba Sri Husaodah. Menurut Uba, awalnya batik diproduksi hanya untuk memenuhi pesanan. Namun, dalam perkembangannya batik tulis diproduksi secara besar-besaran.

Menurut Uba, batik garut mempunyai ciri khas motif berwarna cerah dan penuh pada sisi lain. Ciri khas ini yang membedakan dengan batik sejenis dari Jawa Tengah. Untuk mengerjakan selembar batik sutra, diperlukan waktu sekitar satu bulan. Sedangkan untuk batik katun perlu waktu dua bulan.

Masih menurut Uba, produk batik garut juga tidak hanya berupa kain untuk wanita tetapi juga berupa turunan produk tekstil lainnya seperti kemeja pria, taplak meja hingga bed cover. Setelah dimodifikasi, harga batik garut dijual dengan harga Rp 70 ribu hingga Rp 7 juta.

Sumber : (YYT/Wendy Surya) Liputan6.com, Garut

Workshop Batik Lustrum VII PSTK

Monday, March 21st, 2005

Rangkaian kegiatan Lustrum VII PSTK (Paguyuban Seni Tari dan Karawitan Jawa) ITB ditutup hari ini, Minggu 19 Maret 2006, dengan berakhirnya kegiatan workshop batik yang diadakan dalam dua hari, 18-19 Maret 2006. Workshop hari kedua dimulai pagi tadi (19/3) di selasar Aula Barat. Sejumlah 60 peserta dari berbagai kalangan dan usia mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh PSTK ITB tersebut.

Dalam workshop tersebut, para peserta langsung dapat mempraktikkan materi yang diberikan kepada mereka tentang mengenal motif batik, membatik, mewarnai batik, batik cap, dll. Gina Manda, mahasiswa Seni Rupa ITB angkatan 2003 mengatakan bahwa motivasinya mengikuti workshop ini adalah karena workshop semacam ini menarik cukup jarang diselenggarakan. “Untuk belajar hal seperti membatik ini, kalo gak ada acara kayak gini, ya kita mesti pergi ke Yogya. Kalo pun ada studio yang nawarin materi nge-batik kayak gini biasanya mahal,” ungkapnya. Lain lagi alasan Endah, 35 tahun, seorang ibu rumah tangga yang juga mengikuti workshop batik PSTK ini. Ia mengungkapkan bahwa saat ini ia sedang berkehendak memulai sebuah home industry. “Saya ingin memulai bisnis kecil-kecilan. Saya ingin membuat kerudung yang bermotifkan batik. Jadi saya manfaatkan acara semacam ini untuk melatih skill saya.”

Tidak mudah
Gina mengaku ternyata membuat batik itu pekerjaan yang tidak mudah. ”Udah dua hari hasilnya baru segini, padahal ini baru kain 40×40 cm. Tadi gua liat yang kain batik ukuran 2m, itu diselesein sama panitia dalam waktu dua bulan. Pantesan aja batik mahal, ngebuatnya aja susah.”

Handayana, Ketua Panitia Lustrum VII PSTK, mengatakan bahwa tujuan diadakannya workshop batik tersebut sebenarnya adalah untuk meningkatkan minat dan apresiasi masyarakat secara umumnya, dan civitas ITB pada khususnya, terhadap kesenian Jawa. Diakuinya minat masyarakat terhadap kesenian Jawa dari tahun ke tahun semakin menurun. Padahal budaya Jawa mengandung nilai-nilai luhur, dan tingkat kesulitan keseniannya (batik, karawitan, dll.) cukup tinggi.

Workshop batik bukanlah satu-satunya kegiatan yang diselenggarakan dalam rangkaian Lustrum VII PSTK. Menurut Handayana, daya tarik Lustrum VII PSTK selain workshop tersebut adalah Lomba Karawitan yang memperebutkan Piala Bergilir Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk kategori terampil, serta Piala Bergilir Dirjen Pariwisata dan Perfilman untuk kategori pemula.

PSTK adalah salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) ITB. PSTK mengkhususkan dirinya dalam menampung kreativitas dan minat mahasiswa di bidang kesenian Jawa, utamanya seni tari dan karawitan Jawa. PSTK berdiri pada tanggal 7 Maret 1971, maka bulan Maret ini PSTK genap berusia 35 tahun, oleh sebab itu pada bulan Maret 2006 ini PSTK menggelar peringatan Lustrum VII-nya.

Sumber : (astriddita / krisna) ITB

Uke Kurniawan, Memopulerkan Batik Banten

Monday, March 21st, 2005

NAMA batik Banten rasanya masih asing di telinga. Namun, pembudidayaannya saat ini sedang menggeliat. Adalah Surat Keputusan Gubernur Banten pada Oktober 2003 tentang pembentukan panitia peneliti batik Banten yang memicu batik ini untuk dibudidayakan.

Uke Kurniawan, sebagai wakil ketua dari panitia penelitian batik Banten menuturkan, dimulai sejak adanya SK Gubernur Banten tadi telah dilakukan pengkajian motif. Pada dasarnya pengkajian itu telah dilakukan sejak tahun 2002. Hasil dari pengkajian motif tersebut kemudian dipresentasikan di depan para arkeolog nasional, budayawan, dan pemerintah Banten pada September 2004.

“Sumber daya arkeologi yang memiliki seni hias Banten belum banyak terungkap. Hal ini yang menjadi bahan pemikiran bersama. Di antara sumber daya arkeologi yang telah terungkap secara sistematik antara lain pada Artefak Terwengkal, hasil penggalian Pusat Penelitian Arkeologi Universitas Indonesia tahun 1976,” kata Uke.

Transformasi motif dari Terwengkal ke suatu kain batik Banten merupakan upaya-upaya menghidupkan kembali seni hias Banten yang telah hilang sejak abad ke-17.

Penyelamatan dan pelestarian potensi kekayaan intelektual masyarakat Banten yang telah hidup ratusan tahun itu telah diwujudkan ke dalam berbagai wahana, baik pada seni hias ornamental bangunan maupun pada seni hias kain yaitu batik.

Rekonstruksi seni hias yang dimunculkan melalui wahana keramik, gelasir, dan nongelasir telah diwujudkan oleh Yayasan Baluwarti pada tahun 1994. Tahun 2002 telah dimunculkan melalui ornamental bangunan- bangunan di kawasan Banten lama. Pada tahun 2004 seni hias Banten telah dimunculkan melalui wahana kain batik oleh PT Uthana Group yang Direktur Utamanya adalah Uke.

“Ragam hias lokal genius yang berkesinambungan dari masa prasejarah hingga ke masa Islam adalah ragam hias berbentuk tumpal atau pucuk rebung, yang berubah interpretasi pemaknaannya. Pada masa Islam diisi dengan makna Mukernas yang artinya perukunan,” kata Uke.

Setelah dibentuk panitia penelitian pada Oktober 2003, mulai dilakukan studi banding ke Pekalongan dan Solo. Hal ini terutama untuk melihat desain dan warna yang digunakan pada batik kedua daerah tersebut. “Setelah studi banding tersebut, kita mulai membuat contoh batik yang akan di produksi. Pada bulan Januari, produk batik tersebut kita patenkan di HAKI Tangerang,” jelas Uke.

Satu minggu setelah dipatenkan, Uke menerima undangan untuk mengikuti pertemuan para arkeologi dari 52 negara. Pertemuan dilangsungkan di Malaysia akhir Januari 2005. “Dari Indonesia kita membawa hasil kajian mengenai batik Banten dan memperoleh predikat terbaik. Hingga motif datulaya mendapat tanda tangan dari Menteri Dalam Negeri Malaysia,” kata Uke.

Menurut Uke, berdasarkan penelitian mereka sebetulnya ditemukan 75 ragam hias fragmen kreweng Banten yang berbentuk tumpal dan belah ketupat sebagai motif batik. Namun, pada tahap sekarang dari 75 ragam itu hanya 12 motif yang akan diproduksi, yaitu datulaya, pamaranggen, pasulaman, kapurban, pancaniti, mandalikan, pasepen, surasowan, kawangsan, srimanganti, sabakingking, dan pejantren.

Menurut Uke, dari Malaysia, pengkajian terhadap motif batik Banten terus dilakukan. “Batik Banten malah menjadi konsultan di beberapa daerah. Kami melakukan pameran di Singapura, Bandung, Bali, dan Palembang. Keunikan dari motif batik Banten ini, misalnya seperti di Bali motif mandalikan digunakan secara sakral untuk upacara sakral agama Hindu. Nah, dari keajaiban ini kita terus meneliti dan memproduksi batik Banten,” papar Uke.

>small 2small 0< yang menjadi ciri khas utama batik Banten adalah motif datulaya. Motif ini memiliki dasar belah ketupat berbentuk bunga dan lingkaran dalam figura sulur-sulur daun. Warna yang digunakan, motif dasar berwarna biru, variasi motif pada figura sulur-sulur daun berwarna abu-abu, pada dasar kain berwarna kuning. "Nama datulaya ini diambil dari tempat tinggal pangeran. Datu itu artinya pangeran, laya artinya tempat tinggal," jelas Uke.

Uke memulai usahanya di tahun 2004 dengan modal Rp 100 juta. "Kemudian PT Uthana mendapat dana pendampingan dari PT Jamsostek (Persero) sekitar Rp 100 juta serta dari PT Krakatau Steel Rp 200 juta," kata Uke.

Awalnya Uke hanya memiliki puluhan karyawan. Sekarang berjumlah ratusan. "Awalnya memang masyarakat kurang antusias, tapi seiring perkembangannya, masyarakat mulai tertarik untuk belajar membuat batik banten," katanya.

Setiap bulan Uke memproduksi sekitar 600 kodi batik, baik yang dicap, printing, maupun tulis. "Untuk batik tulis memakan waktu yang cukup lama. Dalam waktu dua minggu hanya dapat diproduksi satu batik. Tenaga yang mengerjakan hanya 10 orang," katanya.

Harga batik Banten tersebut berkisar Rp 75.000 hingga jutaan rupiah. Omzet per bulan sekitar Rp 100 juta. "Meski usaha ini masih seumur jagung, namun kami sudah mengekspor ke Malaysia, Finlandia, serta Korea," kata Uke.

Uke menceritakan, usahanya untuk membudayakan batik Banten tidak hanya sampai di situ. Pada 22 Desember 2004 saat dilangsungkan konvensi batik se-Indonesia Uke mengajukan saran kepada Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja untuk mengimbau instansi di setiap daerah agar menggunakan batik produknya sekali dalam seminggu.

Pada 31 Januari 2005 dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 34/M/I/ 2005 mengenai imbauan penggunaan produk tenun tradisional, batik khas daerah.

"Dengan imbauan tersebut, semangat para pengrajin batik bangkit. Maka budaya Indonesia dapat terus bertahan dan berkesinambungan," kata Uke.

Menurut Uke, tantangan ke depan adalah memproduksi bahan baku dari Banten sendiri. Sampai kini bahan baku masih diambil dari Solo dan Pekalongan. Dia juga berharap usahanya ini bisa jadi badan usaha milik daerah. "Kan namanya batik Banten bukan batik Uke atau batik Uthana," ujarnya.

Membuat batik Banten dikenal di dalam dan luar negeri adalah mimpi Uke. "Selama ini suvenir dari Banten hanya golok. Kesannya terlalu kasar. Dengan batik Banten saya harap masyarakat Banten bisa dikenal sebagai masyarakat yang lembut dan berbudaya tinggi," tandasnya. Semoga mimpi Pak Uke Bisa tercapai....

Sumber : (Tiur Santi Oktavia) Kompas Cetak

Batik Tabir, Batik Baru Bumi Lancang Kuning

Saturday, March 19th, 2005

Batik oleh masyarakat dunia dikenal sebagai salah satu seni grafis yang dimiliki dan berkembang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Motif dan warna yang tertuang dalam selembar kain yang hasilnya disebut batik itu pun sangat beragam, tergantung budaya masing-masing daerah yang mengembangkannya.

Sekitar 1990, Riau memiliki Batik Selerang, sebagai batik khas dari provisnsi yang namanya berasal dari kata Rio yang berarti sungai tersebut, namun kini keberadaannya mulai menghilang.

“Batik telah lama menjadi ciri khas Indonesia, di beberapa daerah seperti Solo, Yogya, Pekalongan, Cirebon bahkan Papua memiliki kain batik khas mereka. Maka dari itu, kami tidak ingin kalah dari daerah lain dan mencoba membuat batik baru yang memiliki ciri khas Riau,” kata Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Riau, Septina Primawati.

Batik baru khas Riau tersebut kemudian diberi nama “Batik Tabir”, sesuai dengan motif yang tergambar, yaitu pola yang memanjang dari atas ke bawah dengan pola tekat yang mengandung kesan keagungan.

Selain motif, hal yang juga membedakan Batik Tabir dari batik lain yang ada di Indonesia adalah pemilihan warna.

Warna yang biasa digunakan dalam Batik Tabir ialah warna-warna yang lebih terang dan cerah, seperti merah, kuning atau hijau, berbeda dengan batik dari daerah Solo atau Yogya yang sebagian besar berwarna coklat dan cenderung gelap.

“Masyarakat Riau lebih senang dengan warna-warna yang `ngejreng`, sehingga motif batiknya pun lebih banyak menggunakan warna-warna yang menjadi kesukaan mereka,” ujar Septina yang juga merupakan istri Gubernur Riau, Rusli Zainal itu.

Motif yang paling banyak diambil sebagai desain batik pun berupa motif bunga yang banyak ditemui di Riau seperti bunga Bintang, Sosou, Cempaka dan Kenduduk.

Menurut Septina, keunggulan lain yang ditawarkan Batik Tabir tersebut ialah keeksklusifan desainnya.

“Untuk satu motif batik, kami hanya memproduksi satu atau dalam jumlah yang terbatas, hanya dibedakan oleh warna saja,” katanya.

Kain sutera Cina dipilih sebagai bahan dasar pembuatan Batik Tabir tersebut, sehingga harga yang ditawarkan pun cukup mahal, sekitar Rp180.000 untuk setiap meternya.

“Kami lebih memilih sutera Cina dengan motif timbul, sehingga ketika batik ini ditimpa cahaya akan memunculkan efek yang berbeda bila dibanding dengan motif sutera polos,” kata Rio, salah satu staf Dekranasda.

Menurut dia, pengerjaan satu helai kain batik dengan panjang 2,5-4 meter itu membutuhkan waktu sekitar lima hari, mulai dari proses menggambar motif hingga pengeringan.

“Proses pembuatan Batik Tabir sebenarnya tidak jauh berbeda dengan proses pembuatan batik tulis di Jawa, bahan pewarnanya pun bisa dikatakan sama, namun pada saat pewarnaan kami harus lebih berhati-hati untuk membedakan bagian sutera depan dan belakang supaya tidak terbalik,” katanya.

Namun, ia mengatakan pihaknya belum berniat untuk memproduksi batik tabir dengan bahan dasar lain, seperti kain katun atau jenis kain lain.

“Kami memilih sutera karena kami pernah mencoba menggunakan kain belacu, tetapi lilin yang digunakan sering kali menggumpal atau jika tidak, canting yang digunakan seringkali tersangkut di kain sehingga menjadikannya berserabut dan hasilnya pun tidak bagus,” katanya.

Menurut dia, hal tersebut disebabkan kondisi kain belacu kasar dan berbeda dengan sutera yang halus.

Meskipun harga yang ditawarkan cukup mahal, namun menurut dia, masyarakat Riau cukup antusias untuk memiliki batik baru itu.

Hak paten

Salah satu perlindungan terhadap Batik Tabir yang diusahakan menjadi ciri khas Riau tersebut ialah dengan mendapatkan hak paten motifnya.

“Kami berupaya, agar Batik Tabir ini memperoleh hak paten, sehingga batik ini benar-benar menjadi milik masyarakat Riau,” kata Septina.

Septina juga optimistis, Batik Tabir akan memperoleh tempat di hati masyarakat Riau.

“Kami telah mengusulkan ke Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Riau serta instansi pemerintah agar anak-anak sekolah atau pegawai di instansi itu dapat mengenakan seragam bermotif Batik Tabir setidaknya sehari dalam satu minggu,” ujar Septina.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Riau, Emrizal Pakis mengatakan, Batik Tabir perlu ditumbuhkembangkan untuk menjaga eksistensi batik di Riau.

Sepertinya banyak sekali harapan terhadap batik baru Bumi Lancang Kuning untuk menjadi batik khas Riau yang diminati masyarakat.

Sumber : LKBN Antara

Batik Pekalongan Butuh Kebijakan Integratif

Wednesday, March 16th, 2005

Batik Pekalongan membutuhkan penanganan dan kebijakan yang terintegrasi untuk mempertahankan dan mengembangkan industri tersebut serta mempertahankan Pekalongan sebagai salah satu kota batik di Indonesia.

“Kapasitas industri Batik Pekalongan harus ditingkatkan,” kata mantan Direktur Eksekutif Kadin Indonesia Iman Sucipto Umar, di Jakarta, Rabu, yang memprakarsai seminar batik di Pekalongan pada 18-19 Maret 2005.

Dikatakannya, industri Batik Pekalongan memerlukan penanganan dan kebijakan yang melibatkan seluruh pihak-pihak terkait mulai dari pemerintah, pengusaha, kadin, tenaga profesional, ahli budaya, lembaga pendidikan, dan lapisan masyarakat terkait lainnya.

Iman yang juga warga keturunan penduduk Pekalongan mengatakan dengan penanganan dan kebijakan yang terintegrasi itulah maka kinerja dan kapasitas industri batik di daerah tersebut bisa ditingkatkan antara lain yang mencakup kemampuan dan keahlian sumber daya manusia, teknologi, jaminan mutu produk, permodalan, manajemen dan pemasaran.

“Sebagai budaya bangsa, Batik Pekalongan perlu dikembangkan secara berkesinambungan sesuai dengan karakter masyarakat setempat tanpa kehilangan budaya bangsa,” katanya.

Dijelaskannya, Batik Pekalongan dikenal sejak 1800an, namun baru menjadi kegiatan perdagangan sejak 1850 dan sejak itu masyarakat Pekalongan mencari nafkah dengan membuat dan menjual batik. Batik Pekalongan sendiri memiliki motif sendiri yang bisa dikenali.

Untuk memformulasi penanganan dan kebijakan yang diperlukan guna mempertahankan dan meningkatkan industri Batik Pekalongan, Iman memprakarsai seminar bertema “Jejak Telusur dan Pengembangan Batik Pekalongan.” (*)

Sumber : LKBN Antara

Canthing: Budaya Cina di City of Tolerance

Sunday, March 13th, 2005

Kawasan Ketandan Wetan di Kelurahan Ngupasan, Gondomanan, Jogja, adalah tempat yang tepat jika ingin melihat eksotisme bangunan rumah khas Cina. Di dalamnya, kita akan menemukan Chiongsam, lontong cap gomeh dan alat musik sinchang di samping lurik, permainan dakon dan sayur lodeh.

Sudah 250 tahun etnis Cina menginjakkan kakinya di kota budaya ini. Dimulai ketika pedagang Cina dengan kain sutera yang dijajakan di daerah kota dan menjadi cikal bakal bermukimnya orang Cina, hingga keterlibatannya dalam mengembangkan perekonomian. Meleburnya interaksi antara warga masyarakat, orang Cina dan pengaruh keraton membentuk masyarakat Cina-Jogja. Mereka adalah warga keturunan Cina yang telah hidup dengan tradisi Jawa dan Cina secara bersamaan. Tidak mengherankan jika banyak makanan khas Cina yang sudah sangat akrab bagi orang Jawa, seperti cap cay, fuyung hay, siomay, dan bakpao. Bakpia bahkan sudah begitu identik dan menjadi oleh-oleh khas Jogja.

Masakan Cina memiliki citarasa yang khas, cara membuat yang tidak terlalu repot, cara penyajiannya yang higienis sehingga mudah digemari. Filipus Mardiyono, seorang chef di pesta perak Restoran memodifikasi masakan Cina dengan penyajian bumbu yang khas. “Untuk masakan Cina, ada bumbu-bumbu tertentu yang ditambahkan seperti bawang putih, minyak wijen dan ang ciu, itu gunanya untuk memberi rasa gurih dan mengharumkan makanan.” Ujar pemenang juara I Lomba Masakan Cina dalam Pekan Budaya Cina di Jogja, Januari silam.

Begitu pula dengan alat musik tradisional Cina yang menjadi warisan para leluhur. Memainkan alat musik tradisional Cina tak sesederhana yang dibayangkan. Seperti halnya gamelan Jawa, alat musik tradisional Cina membutuhkan keterampilan khusus dalam memainkannya. Ada alat musik yang menyerupai biola yang dinamakan O Hu dan Sinchang. Ada pula yang berbentuk seperti gitar dinamakan ku’chen, ta’ruan, chong ruan dan shio’ruan dengan tingkat keharmonisan nada yang berbeda. H. Much. Lahhendra, seorang pelukis dan kolektor alat musik tradisional Cina mengatakan, “Semua alat musik dimainkan tidak hanya pada pertunjukan imlek saja tetapi pertunjukan menyambut tamu-tamu.” jelasnya. Alat musik tradisional Cina yang popular di kalangan masyarakat adalah sim bal, yang biasanya digunakan pada saat pertunjukan barong sai atau pada saat upacara kematian. Alat musik ini mengingatkan kita bila ada pertunjukan drum band.

Busana Cina juga mengalami akulturasi kebudayaan. Model batik encim, pakaian chiongsam dan juga aksesori dari selendang menjadi ciri khas busana Tioghoa. Batik yang dikenakan oleh masyarakat cina peranakan di Jogja merupakan hasil asimilasi dari batik pesisir yang biasanya di temukan di daerah Pekalongan. Batik hasil rancangan Afif Syakur, misalnya, banyak menggunakan motif liong, bunga seruni dan sakura. “Saya memberi tema rancangan batik saya Jalan Sutera ke Jogja karena mengingatkan kembali datangnya pedagang Cina ke Jogja. Batik ini dipakai oleh orang-orang Cina yang ada di Indonesia, makanya saya beri nama busana peranakan. Selain itu saya juga ingin, ketika mereka mengenakan busana ini, mereka seolah bernostalgia mengulang kembali budaya yang ada di negeri mereka ,” ujarnya ketika ditemui Kabare di sela acara Fashion show penutupan PBT di Hotel Melia Purosani.

Berbagai hasil asimilasi kebudayaan Cina menjadi salah satu kebanggaan bagi Kota Jogja sendiri. Kota yang sudah kaya khasanah budaya masih memiliki perpaduan budaya Cina, yang tentu saja menarik pendatang lain untuk melakukan kunjungan ke Jogja.

Dalam penutupan Pekan Budaya Cina yang berlangsung 27-31 Januari 2006, Herry Zudianto, Walikota Jogja mengajak kepada segenap masyarakat Jogja untuk menjadikan kota yang bertoleransi. Hal ini merupakan komitmen pemerintah Kota Jogja untuk menghilangkan sekat. Menerima asimilasi kebudayaan Tioghoa yang sudah melekat di Jogja. “Dalam Pekan Budaya Cina ini kita akan menjadikan Jogja sebagai ‘City of Tolerance’ dan bertepatan dengan 250 tahun hari jadi Kota Jogja pada 7 Oktober mendatang. Mari kita jadikan Kota Jogja yang penuh dengan toleransi antarmasyarakat Jogja dan Cina,” ucapnya menutup acara yang baru pertama kalinya diadakan di Jogja ini.

Sumber : (Theresia Andayani; Foto : Rere & Budi Prast) Jogja.com