Archive for February, 2005

Nasib Batik Pekalongan: Mencari Pasar Alternatif untuk Bisa Terus Hidup

Saturday, February 26th, 2005

Batik adalah satu dari sekian banyak produk yang sudah turun temurun menjadi trade mark Kota Pekalongan, selain Solo dan Yogyakarta. Saat ini, menurut data Dinas Koperasi dan UKM Kota Pekalongan, 43.000 warga kota itu bekerja di sektor industri batik.
Karena menggantungkan hidupnya di sektor ini, tak heran jika para pengusaha di sana sangat terpukul ketika Pasar Tanah Abang Blok A terbakar beberapa waktu lalu dan Bali diguncang bom. Pasalnya, di dua tempat itu, merupakan pasar utama produk para perajin, di samping Surabaya, Medan, dan Bandung.
Menurut Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Pekalongan, Ny. Candra Herawati, yang ditemui SH, Minggu (20/2) lalu, di Pasar Sunan Giri Rawamangun, Jaktim, akibat dua peristiwa itu, pendapatan para perajin batik mengalami penurunan hingga 40 persen.
“Ketika Pasar Tanah Abang Blok A terbakar, dan kasus Bom Bali, sektor industri batik di Pekalongan sangat terpuruk hingga kurang lebih 40 persen. Berawal dari dua kasus itulah, akhirnya kami menyepakati untuk mencari pasar alternatif, dalam upaya untuk memperjuangkan kelangsungan batik yang menjadi ciri khas Kota Pekalongan,” paparnya.
Faturohman, warga Jalan Toba 37, Kota Pekalongan, adalah satu dari sekian ribu pengusaha batik yang merasa terimbas dengan dua peristiwa besar itu. Meski, tidak sampai bangkrut, namun kala itu, dia harus memutar otak untuk menafkahi seratus perajin yang setiap harinya bekerja di perusahaan batik miliknya. Bagi Faturohman, membuat batik adalah jalan hidupnya, di samping aktivitasnya di dunia politik. Saat ini dia tercatat sebagai anggota DPRD Kota Pekalongan dari Fraksi Karya Amanat Keadilan.
Ketika ditemui SH, di sela-sela peresmian Pasar Sunan Giri Rawamangun sebagai bursa batik Pekalongan, Minggu (20/2) lalu, pemilik usaha batik dengan merk Nulaba ini, mengaku bisa membatik karena warisan leluhur. “Saya ini berasal dari keluarga pembuat batik,” ujarnya.

Mencari Terobosan
Sejak dua peristiwa besar itu, para pengusaha batik di Pekalongan, termasuk Faturohman selalu berusaha mencari terobosan baru, dengan menyewa stan atau kios di pasar tradisional dan modern di kota besar seperti Surabaya, Medan, dan Bandung, di samping Bali dan Jakarta sebagai pasar utama.
“Diresmikannya Pasar Sunan Giri Rawamangun lantai I sebagai bursa batik Pekalongan merupakan salah satu bentuk kerja sama antara Dinas Koperasi dan UKM, para pengusaha dan PD Pasar Jaya berharap bisnis batik Pekalongan bisa pulih dari keterpurukan,” kata Faturohman, yang selama ini menyuplai para pedagang grosir di Pasar Tanah Abang dan Jatinegara.
Ketika ditanya soal permodalan, menurut Faturohman, sekarang ini para pengusaha di sana termasuk dirinya tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan kredit dari bank.
Pada tahun 1975, ketika baru dipercaya untuk menjalankan bisnis ini, modal yang diberikan orangtuanya saat itu kurang dari satu juta rupiah. Kendati demikian, kala itu bank sudah percaya pada perusahaan yang dijalankan dan memberi kredit lunak sebesar Rp 2 juta.
Berbekal modal awal dan uang kredit dari bank itulah, Faturohman akhirnya mampu mengembangkan diri menjadi satu dari sekitar ribu sektor industri batik Pekalongan yang cukup didengar dan dikenal oleh konsumen dan para pedagang grosir di pasar-pasar yang ada di Tanah Air, utamanya Tanah Abang, Jatinegara Mester, dan ITC Cempaka Mas serta pasar-pasar lainnya di kota besar. Sekarang ini juga sudah mulai diekspor ke Amerika, Eropa, Afrika, dan Asia.
“Sekarang ini, industri batik yang saya kelola mendapat kucuran kredit dari bank sebesar Rp 100 juta. Jujur saja, kalau sekarang bank berlomba-lomba memberi kredit tidak seperti dulu, asal jelas peruntukannya,” jelas Faturohman.
Soal perputaran modal dan keuntungan yang didapat setiap bulannya, kata Faturohman, sekarang ini sudah mencapai sekitar Rp 400 jutaan. Dari jumlah itu, setelah dipotong berbagai macam kebutuhan termasuk membayar tenaga kerja dan sewa kios di pasar yang ada di lima kota, keuntungan bersih setiap bulannya tinggal Rp 35 juta hingga Rp 40 juta.
Ketika disinggung soal motif dan corak, Faturohman mengatakan perajin batik sekarang ini harus selalu kreatif dan berinovasi, bila ingin bisnisnya tetap berjalan. Mengingat, semua itu adalah tuntutan pasar yang mau tidak mau harus diikuti, jika tidak ingin berhenti di tengah jalan.

Sumber : (SH/satoto) target=”_Blank” rel=”nofollow”Sinar Harapan, Jakarta

Manisnya Batik Lama Produksi Zensha

Thursday, February 24th, 2005

LAZIMNYA, orang mungkin akan enggan memakai batik yang sudah lama. Apalagi jika warnanya kusam dan kainnya juga telah lusuh. Batik yang kondisinya sudah demikian biasanya akan lebih banyak dikesampingkan. Paling tidak akan jarang terpakai.

Namun anehnya, di arena pameran Mangkunegaran Ekspo 2005 kali ini, ada produk pakaian yang bahannya justru dari kain batik lama. Menariknya lagi, selain berumur tua, motifnya pun sudah terlihat agak samar karena kusamnya warna dan lusuhnya kain.

Begitulah memang, trademark dari produk-produk pakaian yang dihasilkan Zensha Batik. Penghasil pakaian batik berskala industri rumah tangga yang juga memiliki galeri di Jalan Popda 29 Kelurahan Nusukan, RT 9 RW 7, Kecamatan Banjarsari, Solo tersebut, selama ini memang terkenal dengan jenis busana seperti itu.

“Tidak hanya baju, tetapi jenis pakaian lain dengan menggunakan bahan kain batik lama juga kami produksi. Seperti celana dan rompi. Hanya kebanyakan yang kami buat memang untuk yang jenis-jenis baju,” ujar Indriyanti, pemilik, kemarin.

Untuk Turis

Aneh mungkin bagi yang belum mengerti benar tentang pemasarannya. Namun keanehan itu rasanya akan segera terkikis dan mungkin menjadi maklum jika sudah tahu jawaban mengapa jenis kain seperti itu masih dimanfaatkan untuk membuat pakaian.

“Jangan dikira kain seperti ini akan tidak laku. Justru seperti yang kami alami selama ini, batik dengan bahan lama cukup digemari para turis asing. Khususnya turis yang agak mengerti dengan sejarah batik, seperti turis Jepang dan Belanda,” tandasnya.

Karena itu, jangan heran jika daerah pemasaran dari produk tersebut tidak hanya terbatas di Kota Solo dan sekitarnya. Namun telah merambah ke kota lain, bahkan ke luar pulau. Seperti Bali, Batam, Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

“Daerah pemasaran kami mayoritas lebih banyak ke tempat-tempat memiliki potensi wisata. Karena memang di tempat-tempat seperti itu kami lebih mudah memasarkannya,” tutur dia.

Lantas bagaimana dengan pengadaan bahan, mengingat kain lama itu berjumlah tak sebanyak produk baru? Menurut dia, selain dengan cara berkeliling mencari bahannya, selama ini banyak pedagang kain lama yang mendatangi sendiri.

“Dengan demikian, hingga saat ini kami masih belum kesulitan untuk bahannya. Apalagi produk yang kami hasilkan, lebih banyak untuk memenuhi pesanan.”

Sumber : (Wisnu Kisawa-17s) Suara Merdeka

Bahan Baku Naik, Batik Trusmi Merana

Thursday, February 24th, 2005

HARGA bahan baku pembuatan batik sudah naik hingga 20 persen, dipicu rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang bergulir sejak akhir tahun lalu. Dengan demikian, para produsen batik Trusmi di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, pun terpaksa mengurangi margin daripada menaikkan harga, sehingga konsumen tetap melirik batik trusmi.

“Kenaikan harga bahan baku batik, seperti kain, lilin (malam), dan zat pewarna, melonjak seiring naiknya harga BBM, padahal kenaikan harga terjadi pada pertamax bukan premium atau solar. Kami sebenarnya mengkhawatirkan kenaikan harga lebih tinggi lagi saat dua jenis BBM tersebut naik,” kata perajin batik, Muludi, yang bekerja pada Batik Komar.

Menurut Muludi, kini harga lilin Rp 8.000 per kilogram, sementara zat pewarna berkisar Rp 200.000 sampai Rp 1,2 juta per kilogram. Zat pewarna 250 gram hanya dapat digunakan mewarnai satu stel pakaian batik dengan selendang.

Sementara pemilik Batik Hafiya, Heru, mengatakan dalam tiga bulan terakhir terjadi pula kenaikan harga kain. Bila sebelumnya, harga kain Rp 20.000 per meter, saat ini mencapai Rp 25.000 - Rp 30.000 tiap meter.

“Bahan baku kain, didatangkan dari China, terutama bahan sutra. Kenaikan harga dipicu pengetatan proses perpajakan oleh pemerintahan,” kata Heru.

Dalam pemantauan, harga batik cap di sentra batik Trusmi antara Rp 75.000 - Rp 200.000 tiap potong baju atau kain. Sementara per potong kain batik berbahan sutra berukuran 2,4 meter x 1,1 meter, berharga Rp 700.00 - Rp 2 juta.

“Berbeda dengan sentra batik lain, sentra batik trusmi tidak terlalu dikenal sebagaimana batik Pekalongan, Solo, maupun Yogyakarta. Sehingga, kami harus menarik minat konsumen, salah satunya mempertahankan harga,” kata Muludi.

Dua corak utama batik Trusmi, yakni corak Kratonan dan corak Megamendung pun kini tidak terlalu diminati. Konsumen biasanya membeli corak tersebut untuk koleksi maupun souvenir. Selebihnya, corak kontemporer lebih disukai.

“Kami terpaksa mengalah pada keinginan konsumen. Sehingga, pergantian desain tiap tiga bulan dan pergantian komposisi warna tiap enam bulan,” kata Muludi. Dikatakan, pekerja batik Trusmi terlatih pula mengerjakan batik Pekalongan, maupun sentra batik lain.

Walau demikian, penurunan omzet pada awal tahun 2005 ini tidak dapat dihindari. Menurut Heru, ini karena konsumen telah membeli pada saat hari raya dan akhir tahun lalu. Di lain sisi, stok batik pun masih banyak.

Dalam seminggu, Muludi yang mempekerjakan 85 perajin batik, dapat menghasilkan tidak kurang 200 potong batik cap dan tujuh stel sarung serta selendang batik tulis. Para pekerja beraktivitas sejak pukul 08.00 hingga 16.00, dengan upah pekerja perempuan Rp 10.000 per hari dan pekerja pria Rp 25.000 per hari.

Sumber : (ryo) Kompas Cetak

Pasar Sunan Giri, Rawamangun, Jadi Pusat Batik Pekalongan

Monday, February 21st, 2005

Apabila Anda penggemar batik dan ingin membelinya dengan harga di bawah grosir, tidak perlu harus ke Pasar Klewer, Solo, Pasar Bringharjo, Yogyakarta, atau Pasar Setono, Pekalongan, tetapi cukup datang ke Pasar Sunan Giri, di Jalan Sunan Giri, Rawamangun, Jakarta Timur (Jaktim). Sejak Minggu (20/2), pasar berlantai dua yang dibangun tahun 1978 itu, diresmikan sebagai bursa batik khusus Pekalongan.
Segala macam jenis batik, mulai yang cap hingga tulis bahkan tenun serta produk tekstil lainnya yang berasal dari Pekalongan, bisa didapatkan di pasar ini, khususnya di lantai I. Selain itu, di bursa batik ini, konsumen bisa membelinya per potong atau dalam jumlah banyak (kelipatan 3).
Data dari PD Pasar Jaya menunjukkan terhitung sejak diresmikan, pedagang batik yang sudah menempati kiosnya berjumlah kurang lebih 52 orang. Mereka rata-rata adalah para produsen batik di Pekalongan yang selama ini mensuplai batik ke Pasar Tanah Abang, Pasar Jatinegara dan ITC Cempaka Mas.
Faturohman, salah seorang produsen batik yang ditemui SH, di Pasar Sunan Giri saat peresmian bursa batik menyatakan berani memberikan harga di bawah grosir karena selama berdagang di Jakarta mendapat kemudahan dan hak pakai kios yang lumayan murah dari PD Pasar Jaya. Setiap meternya Rp 5,5 juta.
”Karena dapat kemudahan dan hak pakai kios lumayan murah itu, kami akhirnya berani memberikan harga batik jauh di bawah grosir. Kami jamin lebih murah dibandingkan pasar batik yang ada. Salah satu contohnya, adalah batik tulis dari kain sutera kami hanya menjualnya antara Rp 200.000 hingga Rp 225.000, coba cari ke toko-toko lainnya, saya jamin harganya bisa dua hingga tiga kali lipat,” kata Faturohman.

Pasar Khusus

Ide menjadikan Pasar Sunan Giri menjadi bursa batik Pekalongan menurut Wakil Manager Humas PD Pasar Jaya, Nurman Adhi, tak lain karena BUMD milik Pemda DKI itu ingin menciptakan pasar yang menjual produk-produk khusus seperti batik. Salah satu pasar yang ditawarkan kala itu adalah Pasar Sunan Giri.
Selain itu, pasar khusus diharapkan dapat menjadi salah satu tempat kunjungan wisata bagi turis manca negara atau pun lokal yang kebetulan berada di Jakarta. Untuk mewujudkan ide tersebut, lanjut Nurman, beberapa staf pasar dikirim ke Pekalongan untuk bertemu langsung dengan para pengusaha batik dan pembina mereka, yakni Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Pekalongan.
Setelah melakukan beberapa kali pertemuan, para pengusaha di Pekalongan yang dijembatani oleh Dinas Koperasi dan UKM langsung menyatakan setuju memasarkan produknya di Jakarta, bekerja sama dengan PD Pasar Jaya.
Menurut Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Pekalongan, Ny. Candra Herawati, tawaran PD Pasar Jaya itu merupakan jawaban dari impian para pengusaha batik Pekalongan yang selama ini berusaha mencari pasar alternatif untuk menggantikan Pasar Tanah Abang Blok A yang terbakar beberapa waktu lalu dan Pasar-pasar di Bali.
”Ketika Pasar Tanah Abang Blok A terbakar, dan kasus Bom Bali, sektor industri batik di Pekalongan sangat terpuruk hingga kurang lebih 40 persen. Berawal dari dua kasus itulah, akhirnya kami menyepakati mencari pasar alternatif. Di Jakarta, selain di Pasar Sunan Giri, produsen batik sudah lebih dulu memasarkan produknya di lantai III ITC Cempaka Mas,” ujar Ny. Candra Herawati, saat mengikuti peresmian Pasar Sunan Giri menjadi bursa batik, Minggu (20/2).

Target
Sekarang ini, baru 52 produsen batik yang membuka gerainya di Pasar Sunan Giri. Diharapkan, langkah ini kata Candra Herawati, akan memancing para produsen batik Pekalongan lainnya apabila ingin mengembangkan sayapnya dan tidak berkutat hanya di daerah asal.
”Saya sadar nantinya para pengusaha akan mengalami kesulitan di Ibu Kota, namun dengan kesulitan itu, saya percaya para pengusaha akan menjadikannya sebagai jembatan untuk maju dan melangkah ke pasar global. Jika ingin maju, ya harus pernah mengalami kesulitan dan belajar dari kesulitan itu, tetapi jika tidak, ya akan tetap menjadi jago kandang dan batik Pekalongan tidak akan dikenal dunia luar,” katanya.
Dijelaskan, selama satu tahun terakhir, omzet pedagang batik yang memasarkan produknya di lantai III Blok D ITC Cempaka Mas antara Rp 500 juta hingga Rp 700 juta. Tetapi, ketika ditanya nantinya para pedagang di Pasar Sunan Giri akan beromzet berapa? Kepala Dinas Koperasi dan UKM itu tidak tahu pasti. Hanya saja, Faturohman, yang juga anggota DPRD Kota Pekalongan dari Fraksi Karya Amanat Keadilan ini mengaku paling tidak target awalnya sekitar Rp 20 juta per bulan.
Tinggal sekarang akankah pasar khusus semacam itu bisa bertahan lama di Jakarta? Jawabnya kita tunggu saja. Namun usaha itu memang patut dihargai, karena dengan adanya pasar yang khusus menjual produk tertentu memang layak ada dan harusnya sudah mulai disosialisasikan.

Sumber : (SH/satoto budi) Sinar Harapan, Jakarta

Batik, Sejarahnya dan Jati Diri Kita

Sunday, February 20th, 2005

Judul buku: Batik: Design, Style & History
Penulis: Fiona G Kerlogue
Penerbit: Thames & Hudson, London, 2004
Tebal: 192 halaman

TAMPAKNYA kain-kain batik bersejarah dari Indonesia yang selama ini dikumpulkan-atau mungkin lebih tepatnya ’diselamatkan’-oleh Rudolf Smend, pencinta dan kolektor batik berkebangsaan Jerman selama kurun waktu seperempat abad, tengah menjadi fokus dunia perbatikan dunia. Ini dibuktikan dengan munculnya sekaligus dua buku baru, yang meskipun menaruh perhatian pada titik-titik bahasan berlainan, sama-sama mengikutsertakan ulasan mengenai batik-batik koleksinya itu.

BILA dalam buku Batik: From the Courts of Java and Sumatra, Rudolf G Smend Collection (Periplus 2004) penerbitnya lebih memfokuskan bahasan pada seni batik dari keraton di Jawa dan Sumatera pada masa keemasannya seraya menempatkan arti dan peran batik dalam tatanan sosial, budaya, dan politik kurun waktu tahun 1880-1930, dalam buku ini aspek historis dan elemen simbolisme batik masa silam sampai masa kini (kontemporer), disuguhkan dalam konteks lebih luas, meliputi pelbagai aspek dari dinamika perjalanan sejarah batik.

Fiona Kerlogue, penulisnya, adalah doktor spesialisasi batik lulusan University of Hull Inggris yang selama ini telah dikenal luas sudah menelurkan tulisan beragam mengenai serba-serbi batik, utamanya batik Madura dan Jambi. Di antara tulisannya yang dikenal adalah Scattered Flowers:Batik From Jambi Sumatra (1996) dan Drawn in Wax: 200 Years of Batik Art from Indonesia in the Tropen Museum Collection (2001).

Diwariskan generasi pendahulu kita sebagai ekspresi tradisi keahlian dan kehalusan kekayaan budaya penuh simbol keluhuran, tekstil tua bersejarah di mana batik termasuk di dalamnya, sesungguhnya telah memainkan peran penting dalam perjalanan sejarah kita. Dalam buku Sari to Sarong: Five Hundred Years of Indian and Indonesian textile Exchange (2003), Robyn Maxwell telah meyakinkan kita bahwa dengan menelaah perdagangan dan penggunaan kain tradisional kita dapat menyingkap makna penggunaan tekstil asli Indonesia dalam merekonstruksikan hubungan sosial budaya yang terjalin antarkomunitas masyarakat di Tanah Air maupun hubungan mereka dengan dunia luar.

Berdasarkan pada referensi yang begitu luas dan bervariasi, mengacu tidak saja pada hasil pemikiran ahli batik internasional namun juga suara-suara pemerhati batik asli Indonesia, representasi sejarah perjalanan batik yang dibahas dalam buku ini terasa cukup seimbang. Dengan cerdik ulasannya mengenai batik Indonesia itu diejawantahkan dalam tujuh subjudul tematis, yakni “asal-usul batik”, ‘aspek tradisi kedaerahan batik’, ‘motif dan arti batik’, ‘pengaruh modern terhadap batik’, ‘batik sebagai kostum’ dan ‘batik sebagai seni’. Dilengkapi serangkaian foto batik yang dikerjakan Fulvio Zanettini, buku mengenai keindahan, keluhuran, dan arti penting batik bagi jati diri kita ini pun hadir begitu meyakinkan.

KERLOGUE secara umum menunjukkan, perkembangan batik sebagai kostum dan karya seni di Indonesia memang demikian dinamis. Dilengkapi ilustrasi berjumlah tak kurang dari 204 buah, buku ini diawali dengan diskusi mengenai rekaman pertama asal-usul batik, hubungannya dengan dunia luar, dan jenis-jenis material yang selama ini digunakan. Dipengaruhi pelbagai unsur asli dan luar, pada masa jayanya batik berperan sebagai alat dan simbolisme yang memperkuat supremasi aristokrasi keraton Jawa dan Sumatera, seperti ditunjukkan pada desain, motif, warna, gaya penggunaan maupun jenis-jenis batik yang selama ini dihasilkan (hal 135-165).

Dalam perkembangannya, lewat kantong-kantong produsen batik di Jawa maupun Sumatra batik semakin kokoh perannya sebagai saksi budaya penting ketika aktivitas kolonialisme dan dominasi modernisasi Barat mulai kuat hadir dalam panggung sejarah Indonesia. Revolusi seni yang terjadi terutama sejak tahun 1960-an di Indonesia telah memberi dorongan bagi seni lukis batik untuk kian berkembang (hal 168).

Akibat proses globalisasi dunia, seniman batik Indonesia tidak lagi terpaku pada inspirasi lokal semata, namun juga dipengaruhi secara kuat oleh seni Barat yang bagi penulisnya memperlihatkan konteks kelenturan batik dari masa ke masa.

Kini, adalah pemandangan umum di Indonesia mulai dari Aceh hingga Papua akan luas dan meratanya penggunaan batik di Nusantara. Di mana saja dan di kesempatan apa pun, baik formal maupun informal, batik menjelma menjadi ikon ungkapan kebanggaan nasional yang penting, satu dari elemen kuat ekspresi nasionalisme Indonesia yang merata, dikenakan pria-wanita, tua-muda, mulai dari orang biasa hingga presiden.

Batik dikenakan tidak saja ketika wanita bekerja di sawah, namun juga hadir di rumah-rumah, dalam resepsi dan upacara adat, muncul di tingkat bawah maupun elite, bahkan di tingkat kenegaraan. Lebih dari itu, kita juga menyaksikan batik semakin menjadi ekspresi seni yang tidak lagi anonimus, berfungsi tidak saja sebagai kostum semata-mata, namun juga sebagai dekorasi, barang seni, bahkan suvenir wisata wajib yang populer.

Bagi sejarawan sosial dan budaya, khususnya yang tertarik menggunakan tekstil (batik) sebagai kategori bagi pemahaman baru sejarah Indonesia, mungkin salah satu pujian terhadap buku ini haruslah diberikan terhadap usaha penerbit menyertakan foto-foto tua bernilai sejarah tinggi yang dipinjam dari koleksi milik Leo Haks. Mengingat koleksi foto langka berwarna kekuningan tersebut konon belum pernah dipublikasikan sebelumnya, kehadirannya sebagai ilustrasi penggunaan batik sesuai dengan zaman dan konteksnya itu benar-benar telah menawarkan visualisasi solid atas detail dan nuansa masyarakat kita, terutama era kolonialisme prakemerdekaan.

Foto-foto tersebut tidak saja memperlihatkan penggunaan batik yang luas di pelbagai strata sosial, namun juga menyuarakan simfoni kompleksitas kehidupan dimensional yang pernah terjadi di balik keraton, desa, pengadilan, pasar dan kehidupan sehari-hari lainnya; menyangkut orang Indonesia, Eurasia, komunitas Tionghoa, Arab, dan seterusnya. Gambaran visual seperti itu mungkin tidak akan dapat diperoleh bila sejarawan hanya mengandalkan sumber kesejarahan tertulis/arsip-arsip semata.

Pendeknya, buku ini tak ubahnya jendela yang mengantarkan pandangan kita ke masa lalu dan kontemporer yang lebih ilustratif. Dan perpaduan antara komposisi ulasan, imaji, dan desain simbolisme batik yang ditampilkan di buku ini agaknya memberi gambaran lebih komprehensif mengenai tidak saja perjalanan batik itu sendiri, namun juga hubungan paralelnya dengan konteks perjalanan sejarah budaya Indonesia.

TAK dapat dipungkiri kita memang patut berbangga hati telah menyumbangkan konsep “batik” sebagai terminologi dalam khazanah tekstil dunia yang kini penggunaannya begitu menyebar, membentang mulai dari Afrika hingga China.

Namun, agaknya juga ironis bahwa sebagai pewaris seni budaya batik buku sejenis yang setara nilainya yang dihasilkan orang Indonesia sendiri, lebih-lebih disuguhkan dengan dorongan penuh kecintaan dan apresiasi tinggi seperti dalam buku ini, begitu sedikit. Sesungguhnya di luar koleksi batik yang tersimpan di museum-museum ataupun perorangan asing, seperti koleksi Smend yang sedang dibahas ini, sejumlah kain batik bernilai sejarah yang pernah dimiliki keluarga-keluarga terpandang atau pemilik dinasti batik masa silam masih banyak yang belum sempat berpindah tangan, bahkan masih dirawat dengan baik oleh ahli warisnya, baik perseorangan maupun keluarga-keluarga.

Bila kain-kain tersebut mulai bisa diinventarisasi dan dipublikasikan, apalagi bila disiapkan oleh dan dari perspektif orang Indonesia sendiri, tentu akan lebih memperkaya seri penerbitan tekstil bersejarah Indonesia yang berguna dalam upaya mengungkapkan secara lebih mendasar aspek historis, kekokohan, keluhuran, dan arti signifikan batik sebagai bukti eksistensi jati diri bangsa.

Bagaimanapun buku ini jelas telah menginsyafkan kita bahwa berkat kecintaan dan obsesi yang berlebihan seorang kolektor ataupun pemerhati batik asing, usaha memperkenalkan batik dan menghargainya sebagai bentuk ekspresi local genious bangsa kita di dunia internasional kiranya terpenuhi. Tak pelak lagi, buku ini akan menjadi karya otoritarif terbaru mengenai dunia batik kita dan makna berharga yang ada di baliknya.

Akhirnya, mengingat buku ini juga dilengkapi dengan glosari maupun daftar indeks yang lengkap dari tempat-tempat di mana koleksi batik berharga disimpan dan dilestarikan di seluruh dunia (hal 184), tidaklah berlebihan bila menganggap buku ini tidak saja patut diperhitungkan, namun juga mesti dipertimbangkan untuk dikoleksi oleh baik pencinta awam batik maupun pemerhati serius atas aspek batik Indonesia.

Iskandar P Nugraha Mengajar di Department of Indonesian Studies, University of New South Wales, Sydney, Australia

Sumber : Kompas Cetak

Batik Prada yang Digemari Hingga Mancanegara

Saturday, February 12th, 2005

Batik PradaBatik tak hanya digemari orang Indonesia. Sejak lama, salah satu kain tradisional Nusantara ini memiliki banyak penggemar di berbagai negara. Bahkan, kabarnya mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela juga menjadi salah satu pencinta batik. Banyaknya penggemar batik menginspirasikan Alwi dan Salwaa Shihab untuk mendirikan usaha kerajinan batik prada di Kelurahan Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan, Depok, Jawa Barat. Pasangan asal Palembang, Sumatra Selatan ini sengaja menekuni usaha kerajinan daerahnya karena belum terlalu banyak pesaingnya.

Alwi dan Salwaa memulai usaha batik prada sekitar sepuluh tahun silam. Pada 1995, suami istri ini mengembangkan usaha dengan merekrut tiga karyawan. Tak disangka, prospek usaha kerajinan batik prada berkembang cukup baik seiring dengan permintaan yang meningkat secara signifikan. Hal ini mendorong Alwi Shihab mulai mempekerjakan ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumah untuk membantu.

Setiap pagi, rumah pendiri Koperasi Teratai Emas itu dipenuhi para perajin. Mereka mengambil jatah batik untuk dibuat prada. Setiap orang mendapat jatah dua hingga tiga potong kain panjang. “Sekarang alhamdullilah perajin saya sudah 160 orang,” kata Alwi. Perajin Alwi dibayar Rp 60.000 dan Rp 100.000 per minggu. Sedangkan karyawan tetap ada 12 orang dan digaji Rp 600 ribu dan Rp 800 ribu per bulan.

Pembuatan batik prada cukup sederhana. Pertama, kain batik yang bermotif diberi lem sesuai dengan motif yang ingin ditonjolkan. Setelah selesai dilem, kain dijemur di bawah terik matahari. Kegiatan ini dilakukan para perajin rumah masing-masing. Tahap selanjutnya menyapukan glitter berwarna emas atau perak pada motif batik yang telah diberi lem sehingga menempel membentuk desain yang berkilauan. Marwati, salah satu perajin batik prada mengaku bahagia pekerjaan yang dilakoninya menghasilkan rupiah yang cukup lumayan. “Ada koperasi bisa juga kita kesusahan, kita bisa minjem,” Maryati menambahkan.

Selain rutin menyuplai ke pusat grosir Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Alwi menerima pesanan dari Thailand dan Vietnam. “Pemasaran sudah ke mancanegara tapi tidak langsung, melalui broker-broker di antaranya dari Pasar Tanah Abang,” ungkap lelaki berperawakan sedang ini. Agar produknya lebih dikenal di Vietnam, baru-baru ini, Alwi mengikuti pameran di Ho Chi Minh dan Hanoi dengan biaya pemerintah daerah setempat.

Sejauh ini, Alwi dan Salwaa memproduksi 20 kodi batik per minggu. Namun, pada saat permintaan meningkat, mereka berusaha keras untuk memenuhi pesanan. Tak jarang di saat itu mereka kerap menemui kendala. “Glitter perak di toko bahan kimia per kilogram sekarang sangat tinggi,” kata Salwaa. Bahkan, wanita berjilbab ini menambahkan, pernah glitter habis di pasaran.

Baik Alwi maupun Salwaa mengaku keuntungannya selama ini sangat tipis. Kendati demikian mereka bahagia karena bisa ikut berperan meningkatkan perekonomian warga setempat. Lurah Sawangan Baru Suhari mengaku cukup bangga sekali dengan usaha yang digeluti pasangan tersebut. “Dengan adanya usaha semacam ini mengurangi para pengangguran, terutama ibu-ibu rumah tangga, ketimbang dia ngerumpi, dia punya penghasilan dan punya kreativitas, ” kata Suhari.

Sebagai warga binaan Departemen Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Kota Depok, pasangan suami istri ini mengharumkan nama lingkungan tempat tinggalnya. Meski produknya telah menembus pasar ekspor, mereka tetap berusaha untuk bisa lebih inovatif.

BATIK PRADA
ALWI SHAHAB
Jalan Abdul Wahad Nomor 5
Rukun Tetangga 02 Rukun Warga 03
Sawangan, Depok, Jawa Barat
Telepon: (0251) 612213

Sumber: (DNP/Tim Usaha Anda) Liputan6.com, Depok

Uniba Siap Buka D-3 Desain Batik

Monday, February 7th, 2005

MESKI ada sinyalemen masyarakat yang memandang bahwa pembukaan program-program studi baru oleh kalangan perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, sebagai langkah untuk menggelembungkan pundi-pundi atau memperpanjang napas mereka, setidaknya hal itu tidak berlaku bagi Universitas Islam Batik (Uniba) Surakarta.

Karena, bagi Uniba, yang kini sedang menjajaki peluang membuka program studi diploma III untuk jurusan desain batik ini, pembukaan sebuah program studi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan secara mendasar. Lantas apa saja pertimbangan-pertimbangan itu?

Rektor Uniba Mardjani Danuprawiro saat ditemui Media di ruang kerjanya belum lama ini bertutur panjang lebar mengenai hal itu.

Menurut Mardjani, salah satu hal yang menjadi dasar pertimbangan Uniba untuk membuka D-3 desain batik ini adalah bahwa batik merupakan salah satu dari warisan luhur bangsa yang harus dilestarikan, khususnya di Kota Solo. Sebab, Solo sebagai kota budaya, dan Uniba sebagai bagian dari masyarakat Solo, menurut Mardjani juga berkeinginan untuk ambil bagian dalam upaya pelestarian budaya adiluhung itu. Selain dilestarikan, dikembangkan, tentunya budaya itu agar tetap eksis harus pula dikembangkan.

Selain alasan tersebut di atas, alasan lain dari rencana pembukaan program studi desain batik di Uniba adalah terkait persoalan pemberdayaan ekonomi rakyat dan peluang pasar kerja bagi para lulusannya. Karena, batik sendiri, menurut Mardjani, hingga saat ini masih cukup diminati masyarakat. Dan industri batik sendiri, sejak lama dikenal sebagai industri yang dapat menyerap tenaga kerja mandiri dalam jumlah cukup besar, khususnya industri batik tulis.

“Pada era ‘50-an hingga ‘70-an, di daerah Laweyan, Pasar Kliwon, dan Kauman, masih banyak perajin batik tulis ini. Dan alangkah baiknya kalau pekerjaan itu digeluti kembali,” ujarnya.

Dengan tumbuhnya kembali industri batik tulis di Kota Solo itu nantinya, apalagi saat ini di Kota Solo sendiri tengah digarap satu tempat wisata baru bernama Kampung Batik, juga di Sragen, maka ini tentu merupakan peluang tersendiri bagi para desainer batik. Karena, mereka yang memiliki keahlian itu bisa membuat pola-pola batik dan menjalin kerja sama dengan kalangan industri. “Ini tentu tujuannya bukan untuk jadi buruh batik, tapi menjadi pengusaha mandiri. Meski untuk itu tentu memerlukan proses yang cukup lama.”

Tapi, paling tidak, lanjut Mardjani, sejak awal mereka yang akan menekuni bidang desain batik ini telah memiliki wawasan jangka panjang terlebih dahulu.

Mengenai persiapan pembukaan program studi baru tersebut, sebagian besar persiapan, seperti perekrutan pakar-pakar batik yang nantinya akan menjadi tenaga dosen, perpustakaan, kurikulum, dan prasarana lain termasuk gedung perkuliahan sudah siap. Hanya saja, menurut Mardjani, saat ini pihaknya masih melakukan penelitian lebih lanjut, meliputi pendataan aspek ekonomi dan budaya.

Aspek ekonomi meliputi pendataan pasar, jumlah perajin, modal, dan sebagainya. Sedang aspek budaya terkait pendataan mengenai rasa memiliki budaya batik ini pada masyarakat. Sementara penelitian memang harus dilakukan perguruan tinggi sebelum membuka satu program studi baru.

“Dan dari hasil seminar yang kita adakan belum lama ini, terkait rencana membuka program studi desain batik, kita mendapatkan satu kesimpulan yang cukup bagus. Yakni, perlu dibentuknya satu pusat informasi batik, dan disetujui di Uniba. Ini akan saling mendukung dengan D-3 desain batik yang akan kita buka,” jelas Mardjani mantap.

Tapi, ada satu lagi yang masih menjadi kendala, yaitu masalah perizinan. Karena, sesuai ketentuan Dirjen Dikti setiap program studi harus ada jaminan referensi bank. Untuk D-3 sebesar Rp1,5 miliar. Hal ini menurut Mardjani cukup memberatkan bagi Uniba.

Disinggung apakah pembukaan program studi ini hanya untuk memperpanjang napas saja, Mardjani langsung menyangkal hal itu. Karena, menurutnya, untuk membuka program-program studi baru seperti yang akan dilakukan Uniba dengan desain batik ini, sudah sesuai dengan ketentuan dari Dinas Pendidikan Tinggi, bahwa setiap universitas harus memiliki sepuluh program studi. Sementara Uniba sendiri hingga saat ini baru memiliki empat program studi, yakni hukum, ekonomi akuntansi, ekonomi manajemen, dan budi daya pertanian. Artinya, program studi desain batik ini baru merupakan program studi kelima yang dimiliki Uniba.

“Tapi hal itu tentu tergantung dari perguruan tinggi yang bersangkutan. Karena, program studi yang dimaksudkan adalah yang betul-betul diperlukan masyarakat. Seperti program studi desain batik ini, misalnya. Karena, untuk melestarikan sekaligus meningkatkan kualitasnya tentu tidak bisa dilakukan tanpa ilmu,” jelasnya.

Sementara itu, terkait perlu tidaknya pembatasan pembukaan program-program studi baru oleh perguruan tinggi, menurut Mardjani, hal itu sebaiknya dikembalikan lagi kepada masyarakat. Karena, sepanjang program studi itu dibutuhkan masyarakat, tentu hal itu bisa dilakukan. Maka, lanjut Mardjani, mengapa setiap akan membuka program studi diperlukan satu penelitian terlebih dahulu. Ini untuk mengetahui tingkat kebutuhan masyarakat, sekaligus mengukur relevansinya dengan peluang di pasar kerja.

“Jadi, menurut saya alamiah saja, dan kembalikan pada masyarakat. Meskipun tentunya pembukaan program studi baru itu tidak dapat sembarangan dilakukan. Karena, harus pula mempertimbangkan jangka waktu, sampai kapan kebutuhan masyarakat akan hal itu. Kalau sudah jenuh, tentu kalau tidak dimerger ya dilikuidasi. Tapi, hal seperti itu jarang sekali terjadi,” tegas Mardjani mengakhiri perbincangan.

Sumber : (FR/S-3) Media Indonesia

Batik Peranakan, Batik Warisan Kolonial

Saturday, February 5th, 2005

Batik PeranakanBelanda dan Cina punya tempat dalam dunia batik di Indonesia. Batik peranakan biasa dipakai sebagai istilah untuk batik yang mendapat pengaruh dari Belanda dan Cina yang pada akhirnya ikut menambah keragaman mode khas Nusantara. Dahulu, batik peranakan dibuat wanita pengusaha Indo-Eropa dan Cina di berbagai daerah di Provinsi Jawa Tengah, seperti Pekalongan, Solo, Kedungwuni, dan Kudus. Selain batik peranakan, ada juga kebaya nyonya. Kini keduanya menjadi salah satu trend fashion yang sedang naik daun di kawasan Asia.

Batik peranakan umumnya berwarna dasar lembut, seperti merah jambu, krem, biru atau hijau dengan motif ragam hias flora fauna yang ada di lingkungan masyarakat, seperti burung, rusa, hingga tanaman keladi.

Batik ini dianggap berseni tinggi dengan bahan dasar katun dan umumnya bermotif sangat halus. Bahkan, batik Belanda buatan wanita Indo-Belanda, Eliza van Zuylen dan Carolina von Franquemont, menjadi batik yang paling laris dan terkenal pada awal abad ke-19. Batik Belanda mempunyai motif khas buket bunga seperti tulip atau krisan.

Sementara kebaya nyonya atau lebih dikenal kebaya encim terbuat dari bahan katun Paris yang sangat halus dan dipenuhi sulaman. Motif dalam sulaman pun hampir mirip dengan batik peranakan, yaitu bunga dan binatang. Kebaya ini dinamai kebaya nyonya karena masa itu, kebaya ini hanya dipakai kaum bangsawan dan golongan kaya di kota-kota besar seperti Batavia (kini Jakarta), Semarang di Jawa Tengah dan Surabaya, Jawa Timur.

Sumber : (MAK/Lily Siregar dan Taufik Maru) Liputan6.com, Jakarta