Archive for January, 2005

Tips Merawat Kain Batik Berbahan Serat

Sunday, January 30th, 2005

Batik merupakan salah satu warisan budaya yang tak ternilai. Kini bahan batik tidak hanya menggunakan kain mori saja, melainkan juga dari katun, serat ulat sutera, serat nanas, dan lainnya. Untuk perawatan batik tulis, khususnya batik tulis dari bahan serat alam, perlu dicermati agar batik tetap awet, tahan lama, warna tidak pudar dan tetap tampak indah.

Menurut pengusaha batik KRT Daud Wiryo Hadinagoro, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
- Pada saat mencuci batik jangan digosok. Jangan pakai deterjen. Kalau batik tidak kotor cukup dicuci dengan air hangat. Sedangkan, kalau kotor, misalnya terkena noda makanan, bisa dihilangkan dengan sabun mandi atau bila kotor sekali, seperti terkena buangan knalpot, noda bisa dihilangkan dengan kulit jeruk dengan mengusapkan sabun atau kulit jeruk pada bagian yang kotor.

- Setelah kotoran hilang, jemur di tempat teduh. Tak perlu memeras kain batik sebelum menjemurnya. Namun, pada saat menjemur, bagian tepi kain agak ditarik pelan-pelan supaya serat yang terlipat kembali seperti semula.

- Sebaiknya hindari penyeterikaan. Kalaupun terlalu kusut, semprotkan air di atas kain kemudian letakkan sebuah alas kain di bagian atas batik itu baru diseterika. Jadi, yang diseterika adalah kain lain yang ditaruh di atas kain batik.

- Disarankan untuk menyimpan batik dalam plastik agar tidak dimakan ngengat. Jangan diberi kapur barus, karena zat padat ini terlalu keras sehingga bisa merusak batik. Sebaiknya, almari tempat menyimpan batik diberi merica yang dibungkus dengan tisu untuk mengusir ngengat. Alternatif lain menggunakan akar wangi yang sebelumnya dicelup dulu ke dalam air panas, kemudian dijemur, lalu dicelup sekali lagi ke dalam air panas dan dijemur. Setelah akar wangi kering, baru digunakan.

Sumber : (nri) RoL

Kain Batik Sidomukti

Saturday, January 29th, 2005

Pada ulang tahunku yang ke tujuh puluh dua, saat musim dingin belum juga pergi, aku menerima bingkisan dari seorang teman lama, yang syukur berusia panjang pula seperti diriku. Sebuah bungkusan kertas kado sederhana berwarna hijau tua berhiaskan kembang-kembang berwarna putih bagaikan untaian melati. Di luar bungkusan menempel sebuah amplop, dilekatkan dengan selotip tipis. Amplop itu lebih dulu aku buka. Isinya sebaris puisi:
Di hari bahagia ini/Kenanglah kami/Yang jauh/Namun tetap terengkuh/Oleh jiwamu/ Kenanglah tanah/ tempat darah tumpah/tempat kita/kan bertemu kembali.
Aku tersenyum. Pasti dia tak pernah berhasil menjadi seorang penyair, namun semangatnya yang menggebu untuk menjadi penyair membuatnya mampu menghafalkan sajak-sajak karya Asrul Sani, seperti ”Surat Dari Ibu” atau seluruh sajak Sitor Situmorang yang terkumpul dalam ”Surat Kertas Hijau”: lonceng gereja bukit Itali. Atau: cherchez la femme, cherchez la femme. Atau: bunga di atas batu/dibakar sepi/mengatas indera/dia menanti/bunga di atas batu/dibakar sepi.
Dia tentu saja tidak setua diriku. Mungkin delapan atau tujuh tahun lebih muda. Namun, karena aku lebih dulu menjadi cerpenis terkenal, maka dia sering datang ke rumah atau bersurat, sebab aku tinggal di Surabaya dan dia di Malang. Banyak yang dia tanyakan sampai kadang aku kewalahan menjawabnya. Dia mencoba menulis cerpen atau puisi namun tetap saja karyanya membuat aku tertawa dalam hati. Tampaknya dia tak pernah putus asa. Dia juga dengan bersemangat mengirimkan lewat pos buku tulis penuh dengan puisi yang ditulis dengan tulisan tangannya yang indah.
”Ini, Mas. Saya serahkan sajak-sajakku, siapa tahu bisa dimuat,” begitu bunyi suratnya, seolah menyala di tanganku.
Dia masih duduk di kelas satu SMA Bagian Sastra. Itu pilihannya sendiri, tidak dipaksa siapa-siapa, padahal dia berasal dari SMP Bagian B dan nilai ujian akhirnya rata-rata delapan seperdelapan, tertinggi di kelas III B/1. Toh dia memaksa masuk SMA Jurusan sastra. Saat dia mendaftarkan diri, loket kosong, dan petugas yang menerimanya setelah memeriksa berkasnya mengatakan:
”Bukan di sini, Dik. Di situ SMA III. ”
”Saya memang melamar ke sini, Mas.”
”Tapi SMA Pasti di situ. Gedungnya memang satu kompleks di sini.”

***
Salju tiba-tiba turun, namun aku tak harus bergegas ke tempat kerja. Tempatku bekerja sekarang adalah ruang kecil yang jendelanya menghadap ke sebuah tanah lapang kecil yang ditumbuhi rerumputan. Dan kali ini rerumputan itu diselimuti salju seluruhnya. Salju yang jatuh ditiup angin, kembali melayang ke udara lalu seolah mencari-cari di sela-sela gedung, tempat untuk menjatuhkan diri ke tanah atau menubruk tembok bangunan di seberang.
Di jendela istriku meletakkan pot bunga dari plastik yang ditumbuhi bunga berwarna merah menyala, tentu kesukaan istriku. Kalau bunga itu sudah layu, maka pot itu harus dibuang dan istriku akan menggantinya dengan pot bunga berwarna kuning kesukaanku.
Musim dingin selalu membawa keindahannya tersendiri. Pertama aku merasakannya justru di negeri Cina, saat ketenteraman hati dan harapan ke masa depan gelap bagai malam-malam musim dingin itu. Aku menggigil sendirian. Teman-teman juga. Seperti diriku, mereka tidak pernah bepergian ke luar negeri, dan berita-berita di radio mewartakan harapan yang putus untuk kembali ke tanah air. Aku tahu bahwa musim dingin akan berganti dengan musim semi, musim harapan dengan bunga-bunga yang mulai kuncup. Hal itu mungkin terjadi di alam lain, tidak di negeri asing ini, negeri asing pertama yang aku injak, bersama-sama rekan wartawan yang semuanya harus menerima kemandegan perjalanan hidup masing-masing. Kapan kami bisa pulang, tak seorang pun yang tahu.
”Sebaiknya kita tidak pulang,” pemimpin rombongan memberi saran. Dia bukan menghibur kami, sebab dia juga tak mampu menghibur dirinya sendiri. Baginya urat nadi kehidupan juga sudah putus, seperti urat nadi kami. Kami benar-benar tak tahu apa yang harus diperbuat.
Kami harus tunduk kepada hukum lokal, dan sering mendapat caci-maki sebab sudah berbuat kesalahan. Tetapi, apakah itu memang salah kami? Kami tidak tahu apa-apa. Ketika kami berangkat, semua baik-baik saja Tidak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Memang, beberapa bulan sebelumnya koran kami mendapat surat edaran, yang menyatakan bahwa kami harus berafiliasi dengan partai atau ormas tertentu. Menurut perasaanku, surat itu biasa saja. Sudah semestinya kami meletakkan diri di mana. Dan tanpa kecurigaan, Pemimpin Perusahaan kami mengirim keputusan rapat yang menyatakan bahwa kami berafiliasi dengan sebuah ormas tertentu. Itulah ujungnya.
***
Sudah lama berlalu. Dari satu negeri ke negeri lain, bertemu dengan teman-teman lain yang semuanya merindukan gudeg Yogya, atau rujak cingur, atau rendang, atau empek-empek Palembang, atau…..
Namun, tetap saja kami terlunta-lunta. Untung aku mendapat pekerjaan mengajar di universitas setelah berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain. Dan istri serta anakku menyusul, hampir sewindu kemudian. Aneh memang, dalam ketiadaan harapan, istriku bertahan hidup, dan justru menyusulku ke negeri orang, bukan memutuskan untuk menikah lagi dan melupakan masa lalu. Masa lalu adalah masa kami berdua, dan itulah kunci ketulusan hati istriku.
***
Kubuka bungkusan kertas hijau itu. Di dalamnya ada selembar kain batik. Kain batik sidomukti. Dan masih ada sebaris puisi:
Mukti di usia senja
Aku tiba-tiba teringat ibu. Ibu pernah bercerita, bahkan ketika aku dilahirkan, ibu meminta nenek membungkusku dalam kain batik sidomukti. Katanya, aku tidur dengan tenang setiap saat, hanya terbangun ketika minta minum serta kencing. Kata ibu:
Lahir mukti
Aku benar-benar dilahirkan mukti. Di Pare, Kediri, bapakku yang guru tak kekurangan apa. Gajinya uang gulden dan ibu pandai mengatur rumah tangga. Sampai Jepang datang ketika aku berusia sembilan tahun lebih dua bulan, hidup kami memang sejahtera. Lalu saudara tua mempropagandakan kemakmuran Asia Timur Raya dan kami mulai tergencet dalam keseharian antara makan dan tidak makan. Banyak yang jatuh sakit dan meninggal, banyak yang dikirim kerja paksa demi membela tanah air.
Ketika zaman susah aku menikah dengan Jeng Retnowulan, kami mengenakan kain batik sidomukti. Ibuku, juga ibu mertuaku mengatakan:
Hidup mukti.
Jangan sampai mengenakan kain batik dengan corak parang rusak, sebab segalanya akan hancur berantakan. Kado yang kami terima cuma gelas minum beberapa biji. Tidak ada kado kain sutera atau cangkir keramik yang bagus. Tapi mertuaku menghidangkan nasi rawon dengan daging pilihan pada resepsi pernikahan yang meriah.
Aku bekerja sebagai guru di sebuah SMA Swasta dan juga sebagai wartawan budaya di sebuah koran yang cukup besar untuk ukuran saat itu, sementara aku juga menulis cerita pendek yang diterbitklan di dalam majalah Sastra. Tapi kehidupan pengarang saat itu sangat memprihatinkan, sebab honor mengarang sangat kecil. Hanya satu koran Berita Minggu yang berani membayar mahal, sampai Rp 500,- satu cerita pendek, padahal gajiku sebagai wartawan tak sampai Rp 2000,-
Toh kami bertahan hidup. Orang lain makan bulgur, kami masih sanggup makan nasi bercampur ketela. Kami masih mampu memelihara kelinci dan istriku kadang memasak sate kelinci.
Hidup mukti.
Sampai berita gembira itu tiba. Aku dan beberapa orang teman wartawan dari seluruh Indonesia akan diberangkatkan ke luar negeri. Istriku mulai mencari hutangan buat membeli kain bahan jas yang akan kukenakan. Kain mohair warna coklat yang tak begitu bermutu, tapi aku harus punya sepasang jas untuk sebuah pertemuan internasional. Dan dengan menenteng kopor seng peninggalan ayahku, aku diantar ke stasiun kereta api menuju Jakarta. Dari Jakarta rombongan akan berangkat bersama.
”Mas, semoga selamat kembali ke rumah.”
”Doakan Jeng Retno.”
Dan itu hanyalah sepotong harapan dan sebisik doa. Kami harus berpisah sewindu lamanya.

***
Salju masih turun, namun musim dingin sebentar lagi berlalu. Tanganku sudah lama terasa ngilu bila musim dingin tiba. Bila musim berganti, bukan harapan baru yang muncul. Sebelas hari lagi anak-anak muda yang penuh rasa cinta merayakan Valentine Day, hari kasih sayang. Adakah kasih sayang ketika teman-temanku menghilang dari peredaran, sebagian konon sudah menjadi korban kemarahan rakyat? Dengan perih Eliot menyitir keyakinan orang Hindu:
”April is the cruellest month…”1
Dan kain sidomukti yang aku terima dititipkan Gede Budasi, anak dari bekas murid temanku yang datang ke negeri ini untuk mengkonsultasikan disertasinya tentang sistem kekerabatan bahasa Sumba, salah satu bagian dari bahasa besar bahasa Austronesia, bidang linguistik historis komparatif. Dosen pembimbingnya di UGM Dr Inyo Fernandes pernah dikirim ke Leiden. Profesor Northofer yang ahli bahasa-bahasa Austronesia itu memang mengajar di Universitas negeri ini.
Di usia baruku nanti, di kedatangan musim semi, apakah siklus sedih akan kumulai? Aku tidak tahu. Dan aku juga tak tahu makna kado istimewa untuk ulang tahunku yang ke tujuh puluh dua ini. Siapakah yang dapat meramalkan kehidupan seseorang? Siapakah yang dapat mengatakan padaku bahwa sudah hampir empat puluh tahun meninggalkan Kediri, meninggalkan tahu yang kurindukan, dan apa yang akan terjadi?
Aku teringat ibu, teringat mertuaku, dan teringat temanku:
Lahir mukti
Hidup mukti
Mati pun mukti.
Benarkah? Salju makin deras menerpa jendela, melayang seolah ingin menyapu dinding dengan kuas raksasanya. Salju telah turun, dan musim semi akan segera tiba. Musim yang paling kejam, yang justru tampak memunculkan bunga-bunga aneka warna, warna-warna semu dari sela-sela tanah yang sebelumnya diselimuti salju. Dan tanganku makin terasa ngilu.
Lahir mukti, hidup mukti, mati mukti
Shantih, shantih, shantih2
Tergetar giring-giring berdenting jauh ke dinding hati: shantih, shantih, shantih. Damai di dunia. Mukti saat mati.***
Singaraja, Dua minggu pertama September 2004

1 Larik pertama puisi panjang The WasteLand karangan TS Eliot
2 Shantih, shantih, shantih= larik terakhir sajak The Waste Land

Sumber : (Sunaryono Basuki Ks) Sinar Harapan

Yani Mencoba Mengibarkan Batik Bandung

Saturday, January 29th, 2005

Batik tak hanya berasal dari Pekalongan, Yogyakarta, atau Solo. Di Jawa Barat, tidak hanya Garut, Cirebon, atau Indramayu yang memiliki ciri tersendiri pada batiknya, Kota Bandung pun mempunyai batik yang khas.< yang batik mempunyai pun Bandung Kota batiknya, pada tersendiri ciri memiliki Indramayu atau Cirebon, Garut, hanya tidak Barat, Jawa Di Solo. Yogyakarta, Pekalongan, dari berasal>

CIRI batik Bandung jauh berbeda dengan yang sudah ada. Motifnya bukan parang, sawat, meru, sido mukti, prabu anom, atau kawung, seperti yang dikenal di Solo dan Yogyakarta. Juga bukan liris seno, naga liman, atau gendongan sunyaragi, seperti yang terdapat pada motif batik Cirebon.

Motif batik Bandung didominasi permainan pola-pola geometris, seperti persegi, lingkaran, dan kotak. Warnanya pun tidak melulu cokelat, hitam, atau warna-warni mencolok, tetapi warna batik Bandung lebih lembut. Beberapa di antaranya juga berciri seperti patchwork atau penjahitan kain-kain perca. Batik Bandung merupakan batik cetak.

Batik Bandung dikembangkan oleh Tri Asayani (24), atau Yani, sejak dua tahun lalu. Sarjana Jurusan Kriya Tekstil Fakultas Senirupa Institut Teknologi Bandung (ITB) ini sudah akrab dengan batik sejak kecil.

Ayahnya seorang dosen di Senirupa ITB dan memiliki studio batik di rumahnya. Selain itu, keluarga Yani berasal dari kota batik, Pekalongan, Jawa Tengah.

Ayah Yani, Hasan, telah mengembangkan batik patchwork sejak tahun 1980-an. Ia memiliki studio kerja dan sebuah ruang pajang di Jalan Muararajeun, lalu pindah ke daerah Cigadung Raya Timur, Bandung. Semua pekerja berasal dari Pekalongan.

Hasan memberi merek batiknya Hasan Bandung’s Batik. Batik Bandung dengan pola patchwork ini lebih banyak diminati orang asing, terutama Jepang. Oleh karena itu, Hasan banyak memproduksi barang-barang cenderamata untuk keperluan interior orang Jepang yang menyukai warna nuansa tanah.

Produk yang banyak dibuat di antaranya alas gelas dan piring, taplak, noren atau penutup pintu, bento atau kain pembungkus wadah penganan, dan hiasan dinding.

Sayang, pada tahun 1998 produksi dan penjualan batik Bandung menurun karena terkena imbas krisis moneter. Banyak orang Jepang meninggalkan Indonesia.

Akibat kebakaran, data-data alamat pelanggan musnah. Sementara studio dipindahkan ke rumah keluarga di Cigadung. Perusahaan batik tersebut harus memulai dari nol lagi.

Yani ikut aktif mengelola batik Bandung, terutama untuk segi desain pada tahun 2002. Saat itu ia mencoba mendesain kain batik yang mudah diproduksi, murah, dan cepat terjual. “Kami mencoba mengikuti kemauan pasar,” kata Yani. Pasar lokal adalah sasarannya.

Berbagai trik segera dilakukan. Tidak seperti ayahnya yang mengembangkan batik Bandung dengan motif patchwork, Yani lebih banyak mengembangkan motif-motif geometris. Khusus untuk motif, Yani sudah meninggalkan motif tradisional sehingga batik yang ia buat lebih terkesan modern.

Untuk menekan biaya produksi, ia juga menggunakan teknik batik dua warna. Batik dua warna lebih sederhana dan cepat cara pengerjaannya. Ia memilih warna, misalnya, biru dan putih atau merah jambu dan putih. Selain itu, ia juga memilih warna-warna lembut untuk batiknya. “Makin muda warnanya, makin murah harga batiknya,” kata Yani yang merasa beruntung karena pada saat mengembangkan batik Bandung, masyarakat sedang menggemari warna-warna lembut. Akibatnya, batik buatannya semakin mudah diterima.

Yani banyak memproduksi sarung, selendang, dan kain. Karena pasarnya lokal, ia harus bisa menekan biaya produksi.

Sumber : (Y09) Kompas Cetak

Festival Tekstil Tradisional di Jakarta

Friday, January 28th, 2005

Kain Batik Gantongan asal MaduraBerbagai produk khas Indonesia dipamerkan dalam Festival Tekstil Tradisional 2005 di Jakarta, baru-baru ini. Berbagai tekstil dari hampir tiap daerah ditampilkan mulai dari bahan, proses pembuatan hingga motif kain. Selain tekstil tradisional, pameran yang berlangsung hingga 8 Februari mendatang ini juga menampilkan aneka asesoris tradisional serta proses melukis batik.

Indonesia memang terkenal dengan kain yang menggunakan bahan-bahan alami serta proses pembuatan yang mengandalkan keterampilan tangan. Tampil dalam pameran itu antara lain kain batik gentongan asal Madura, Jawa Timur. Pembuatan batik gentongan memakan waktu sekitar satu tahun. Ada juga perajin songket yang mempraktikkan cara membuat songket lengkap dengan penjelasan soal makna motif yang terkait dengan budaya setempat. “Misalnya motif kepala belalang pada tenun ikat sintang Dayak ini menggambarkan kebijaksanaan,” kata Zainal, perajin songket.

Sumber : (TNA/Cindy Agustina dan Pris Simon) Liputan6.com, Jakarta

KRT Daud Wiryo Hadinagoro: Batik Tsunami untuk PBB

Tuesday, January 25th, 2005

Tanyakan pada KRT Daud Wiryo Hadinagoro bagaimana perasaanya melihat bencana tsunami di Aceh? Pengusaha batik asal Yogyakarta ini tak sanggup berkata-kata. Ia hanya menuangkan perasaanya dengan membuat batik yang menggambarkan peristiwa mengenaskan itu. ”Saya ini bukan ahli jiwa, saya hanya akan buat batik yang menceritakan musibah itu,” ujar Daud yang karya batiknya pernah dikenakan oleh para pimpinan negara baik dari Indonesia maupun negara lain, seperti Mahathir Muhammad, George Bush, Nelson Mandela, kepada Republika, Senin (24/1).

Pembuatan batik tsunami ini memang sedikit rumit. Butuh waktu dua bulan untuk mengerjakannya. Namun, tekad Daud sangat tinggi untuk membuat batik ini. ”Saya bisa menunjukkan pada dunia, meski orang Aceh dilanda bencana tsunami, tetapi kita tidak mati dan hancur, melainkan masih bisa berkarya,” katanya.

Batik itu rencananya akan diserahkan ke PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Dan satu hal, karya batik itu bukan atas nama pribadi melainkan atas nama rakyat Aceh. Pengusaha batik ini mengaku belum tahu batiknya mau diisi gambar apa. Kain yang berukuran 250 cmX105 cm baru diisi gambar air yang memenuhi hampir seluruh kain. Namun Daud merencanakan batiknya berisi suatu pengharapan dan doa. Karena trauma masyarakat Aceh akibat tsunami ini besar sekali.
(nri) RoLTanyakan pada KRT Daud Wiryo Hadinagoro bagaimana perasaanya melihat bencana tsunami di Aceh? Pengusaha batik asal Yogyakarta ini tak sanggup berkata-kata. Ia hanya menuangkan perasaanya dengan membuat batik yang menggambarkan peristiwa mengenaskan itu. ”Saya ini bukan ahli jiwa, saya hanya akan buat batik yang menceritakan musibah itu,” ujar Daud yang karya batiknya pernah dikenakan oleh para pimpinan negara baik dari Indonesia maupun negara lain, seperti Mahathir Muhammad, George Bush, Nelson Mandela, kepada Republika, Senin (24/1).

Pembuatan batik tsunami ini memang sedikit rumit. Butuh waktu dua bulan untuk mengerjakannya. Namun, tekad Daud sangat tinggi untuk membuat batik ini. ”Saya bisa menunjukkan pada dunia, meski orang Aceh dilanda bencana tsunami, tetapi kita tidak mati dan hancur, melainkan masih bisa berkarya,” katanya.

Batik itu rencananya akan diserahkan ke PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Dan satu hal, karya batik itu bukan atas nama pribadi melainkan atas nama rakyat Aceh. Pengusaha batik ini mengaku belum tahu batiknya mau diisi gambar apa. Kain yang berukuran 250 cmX105 cm baru diisi gambar air yang memenuhi hampir seluruh kain. Namun Daud merencanakan batiknya berisi suatu pengharapan dan doa. Karena trauma masyarakat Aceh akibat tsunami ini besar sekali.

Sumber : (nri) RoL