Pameran New Media Art ”F.E.A.R” : Interaksi Seniman Rupa dengan Pemusik dan Perajin Batik
Wednesday, December 22nd, 2004Hidup adalah keberuntungan, bertarunglah dengannya. Hidup adalah keindahan, kagumilah….
Ini merupakan petikan syair dari puisi Bunda Theresa berjudul ”Song of Life”. Puisi itu digubah dalam bentuk musik oleh seniman Fendry Ekel dan ditulis di bawah not balok sebagai motif pada tiap-tiap kanvas. Secara keseluruhan ada sembilan kanvas berukuran sekitar tiga kali empat meter tergantung di ruang pamer Galeri Lontar, Jl. Utan Kayu 68 H, Jakarta.
Pameran tunggal Fendry Ekel berjudul F.E.A.R bukan cuma memamerkan karya lukis. Ekel juga menggandeng kelompok pemusik Suara Minoritas. Maka, jadilah instalasi berupa bentangan sembilan kanvas, masing-masing bertuliskan not balok yang partiturnya khusus, antara lain: vokal, violin, bass, cuk, maracas dan jimbe, juga guitar 1 dan guitar 2.
Dengan mengubah syair jadi notasi lagu dan ditulis pada medium kanvas telah melewati dan mengolaborasikan berbagai bentuk medium. Teks, suara dan visual. Inilah yang sebenarnya ingin disuarakan Ekel pada pembukaan pamerannya, Senin (20/12). Citraan seni rupa yang visual, ditempelkan dengan nada-nada yang jelas berasal dari dunia musik yang audio. Pada kesempatan sama, Suara Minoritas itu juga tampil menemani karya visual Ekel.
Kurator pameran, Asikin Hasan, mengatakan bahwa Ekel memang ingin menggunakan permainan metafor di dalam karyanya itu. Karya instalasi, musik dan kata-kata itu sebenarnya adalah teks, bunyi dan rupa yang ketiganya merupakan bahasa.
Tajuk pameran ini adalah F.E.A.R (Finding Everything and Realising), yang menurut Fendry Ekel terinspirasi dari lagu Ian Brown, seorang pemusik pop Inggris. Ekel, yang berasal dari disiplin seni rupa ini, tampaknya bukan hanya merujuk pada makna ”takut” semata-mata tapi juga bagaimana interaksi dari sesuatu yang tak terduga.
Dalam peristiwa pameran ini, memang memperlihatkan saling menyilang antara bidang seni yang berbeda. Karya Hekel yang berupa gagasan diwujudkan dalam latar medium seni rupa, harus berhadapan selain dengan musik jalanan, penganyam atau perajin batik, atau bisa saja antara karya yang berdialog dengan musik dan not balok (termasuk video-art yang disuguhkan di hadapan karyanya berupa ”tikar berbahan koran”).
Ada juga bentangan ”tikar” yang dibuatnya dari anyaman kertas-kertas surat kabar yang sebelumnya dibuat serupa ukuran lontar. Bentangan tikar berbahan koran dan dilapis plastik di lantai ini, ”ditemani” dengan nyala video yang diisi dengan musik. Pada karya yang berjudul ”Newsmat” (2004) ini, citraan modern berupa tulisan di media massa praktis terkesan silang-menyilang, terkesan disatukan dengan citraan tradisi berupa anyam tikar dalam karya seorang Fendry Ekel.
Antara musik dan tikar itu, menurut Asikin Hasan, bagaimana pun membuat semacam jembatan antarmedium . ”Jembatan ini juga merupakan peluang, yang memungkinkan dia untuk berdialog,” ujar Asikin. Teks berupa visual bahasa yang tertulis di koran-koran itu adalah realitas, sedangkan jalinan itu adalah realitas lain dalam lingkungan sehari-hari si seniman (dalam hal ini Hekel yang tinggal di Yogyakarta).
Dialog dan Negosiasi
Di dalam karyanya, Ekel ingin memperlihatkan adanya negosiasi dengan medium-medium lain yang diajak dan disertakannya untuk berdialog, baik dengan gagasan maupun kondisi yang sedang aktual. Karyanya ini seakan merupakan sebuah pesan bahwa ia tetap harus mampu bersiaga saat berelasi dengan yang baru dan yang asing itu.
Karya Ekel di medium yang berbeda itu, mengisyaratkan, baik metafor maupun realitas, yang terjadi di masyarakat misalnya – selalu ada ruang yang tak pasti yang sebenarnya justru membutuhkan dialog, keaktifan termasuk negosiasi.
Walaupun, sebagai seorang perupa, pesan penjelajahan dengan komunikasi berbagai medium itu terlihat tetap dilakukan untuk mentransformasikan gagasan utamanya yaitu citraan visual karya. Dia berbicara lewat medium utama, yang bisa dinikmati dengan citraan mata.
Sebuah pesan yang terasa hubungannya dengan tema pamerannya di awal 2003. Saat itu, Hekel mengadakan dialog berupa kolaborasi karya dengan seniman berlatar multikultural. Tajuknya waktu itu adalah ”Grid” di Erasmus Huis Jakarta, dengan seniman Indonesia, Tiong, seniman Belanda bermukim di Indonesia Mella Jaarsma dan seniman Suriname bermukim di Belanda Remy Jungerman. Bersama mereka, Hekel tak hanya menghasilkan dialog budaya lewat karya. Tapi juga pengupasan kritis terhadap wacana lewat isu ”pribumi”, ”pascakolonial” dan ”multikultural”.
Sumber : (SH/sihar ramses simatupang) Sinar Harapan, Jakarta
Pelukis batik kaligrafi asal Daerah Istimewa Yogyakarta Amri Yahya meninggal dunia dalam usia 65 tahun di Rumah Sakit Umum dokter Sardjito, Yogyakarta, Ahad (19/12) sekitar pukul 12.00 WIB. Almarhum meninggalkan seorang istri dan empat anak. Rencananya jenazah Amri Yahya dikebumikan di makam keluarga Gampingan Wirobrajan Yogyakarta, hari ini.
Pemerintah memberikan Anugerah Kebudayaan 2004 kepada sejumlah tokoh yang dianggap berjasa mengembangkan, mempertahankan dan mencintai tradisi dan budaya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Selasa (7/12) malam. Acara dibuka dengan pertunjukan pantomim oleh Sena Didi Mime.
Yogyakarta sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan di Pulau Jawa. Karena itu tak asing jika provinsi ini memiliki berbagai jenis barang hasil kreasi tangan-tangan terampil. Di antaranya adalah batik, gerabah, ukiran, hingga lukisan. Berbagai sentra kerajinan ini tersebar di pelosok Yogyakarta yang juga berjuluk Kota Budaya.