Archive for December, 2004

Pameran New Media Art ”F.E.A.R” : Interaksi Seniman Rupa dengan Pemusik dan Perajin Batik

Wednesday, December 22nd, 2004

Hidup adalah keberuntungan, bertarunglah dengannya. Hidup adalah keindahan, kagumilah….

Ini merupakan petikan syair dari puisi Bunda Theresa berjudul ”Song of Life”. Puisi itu digubah dalam bentuk musik oleh seniman Fendry Ekel dan ditulis di bawah not balok sebagai motif pada tiap-tiap kanvas. Secara keseluruhan ada sembilan kanvas berukuran sekitar tiga kali empat meter tergantung di ruang pamer Galeri Lontar, Jl. Utan Kayu 68 H, Jakarta.

Pameran tunggal Fendry Ekel berjudul F.E.A.R bukan cuma memamerkan karya lukis. Ekel juga menggandeng kelompok pemusik Suara Minoritas. Maka, jadilah instalasi berupa bentangan sembilan kanvas, masing-masing bertuliskan not balok yang partiturnya khusus, antara lain: vokal, violin, bass, cuk, maracas dan jimbe, juga guitar 1 dan guitar 2.
Dengan mengubah syair jadi notasi lagu dan ditulis pada medium kanvas telah melewati dan mengolaborasikan berbagai bentuk medium. Teks, suara dan visual. Inilah yang sebenarnya ingin disuarakan Ekel pada pembukaan pamerannya, Senin (20/12). Citraan seni rupa yang visual, ditempelkan dengan nada-nada yang jelas berasal dari dunia musik yang audio. Pada kesempatan sama, Suara Minoritas itu juga tampil menemani karya visual Ekel.
Kurator pameran, Asikin Hasan, mengatakan bahwa Ekel memang ingin menggunakan permainan metafor di dalam karyanya itu. Karya instalasi, musik dan kata-kata itu sebenarnya adalah teks, bunyi dan rupa yang ketiganya merupakan bahasa.
Tajuk pameran ini adalah F.E.A.R (Finding Everything and Realising), yang menurut Fendry Ekel terinspirasi dari lagu Ian Brown, seorang pemusik pop Inggris. Ekel, yang berasal dari disiplin seni rupa ini, tampaknya bukan hanya merujuk pada makna ”takut” semata-mata tapi juga bagaimana interaksi dari sesuatu yang tak terduga.
Dalam peristiwa pameran ini, memang memperlihatkan saling menyilang antara bidang seni yang berbeda. Karya Hekel yang berupa gagasan diwujudkan dalam latar medium seni rupa, harus berhadapan selain dengan musik jalanan, penganyam atau perajin batik, atau bisa saja antara karya yang berdialog dengan musik dan not balok (termasuk video-art yang disuguhkan di hadapan karyanya berupa ”tikar berbahan koran”).
Ada juga bentangan ”tikar” yang dibuatnya dari anyaman kertas-kertas surat kabar yang sebelumnya dibuat serupa ukuran lontar. Bentangan tikar berbahan koran dan dilapis plastik di lantai ini, ”ditemani” dengan nyala video yang diisi dengan musik. Pada karya yang berjudul ”Newsmat” (2004) ini, citraan modern berupa tulisan di media massa praktis terkesan silang-menyilang, terkesan disatukan dengan citraan tradisi berupa anyam tikar dalam karya seorang Fendry Ekel.
Antara musik dan tikar itu, menurut Asikin Hasan, bagaimana pun membuat semacam jembatan antarmedium . ”Jembatan ini juga merupakan peluang, yang memungkinkan dia untuk berdialog,” ujar Asikin. Teks berupa visual bahasa yang tertulis di koran-koran itu adalah realitas, sedangkan jalinan itu adalah realitas lain dalam lingkungan sehari-hari si seniman (dalam hal ini Hekel yang tinggal di Yogyakarta).

Dialog dan Negosiasi
Di dalam karyanya, Ekel ingin memperlihatkan adanya negosiasi dengan medium-medium lain yang diajak dan disertakannya untuk berdialog, baik dengan gagasan maupun kondisi yang sedang aktual. Karyanya ini seakan merupakan sebuah pesan bahwa ia tetap harus mampu bersiaga saat berelasi dengan yang baru dan yang asing itu.
Karya Ekel di medium yang berbeda itu, mengisyaratkan, baik metafor maupun realitas, yang terjadi di masyarakat misalnya – selalu ada ruang yang tak pasti yang sebenarnya justru membutuhkan dialog, keaktifan termasuk negosiasi.
Walaupun, sebagai seorang perupa, pesan penjelajahan dengan komunikasi berbagai medium itu terlihat tetap dilakukan untuk mentransformasikan gagasan utamanya yaitu citraan visual karya. Dia berbicara lewat medium utama, yang bisa dinikmati dengan citraan mata.
Sebuah pesan yang terasa hubungannya dengan tema pamerannya di awal 2003. Saat itu, Hekel mengadakan dialog berupa kolaborasi karya dengan seniman berlatar multikultural. Tajuknya waktu itu adalah ”Grid” di Erasmus Huis Jakarta, dengan seniman Indonesia, Tiong, seniman Belanda bermukim di Indonesia Mella Jaarsma dan seniman Suriname bermukim di Belanda Remy Jungerman. Bersama mereka, Hekel tak hanya menghasilkan dialog budaya lewat karya. Tapi juga pengupasan kritis terhadap wacana lewat isu ”pribumi”, ”pascakolonial” dan ”multikultural”.

Sumber : (SH/sihar ramses simatupang) Sinar Harapan, Jakarta

Ribuan Pelayat Lepas Jenazah Amri Yahya

Monday, December 20th, 2004

Ribuan pelayat melepas jenazah almarhum pelukis batik kontemporer Amri Yahya (65) dari rumah duka di Gampingan Nomor 5 Yogyakarta, untuk dimakamkan di pemakaman keluarga di Gampingan, Wirobrajan, yang berjarak beberapa ratus meter dari rumah almarhum, Senin siang.

Sastrawan H Taufik Ismail yang mewakili para seniman dan budayawan dalam sambutannya mengatakan, Amri Yahya adalah pribadi yang sangat peduli adap lingkungan, termasuk lingkungan masyarakatnya.

Almarhum, kata Taufik, adalah pribadi yang tidak pernah lelah ‘belajar’, menimba ilmu, namun juga tidak pernah berhenti memberikan ilmunya kepada orang lain.

Diantara pelayat tampak hadir antara lain Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Prof Dr I Made Bandem dan mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Ichlasul Amal.

Profesor Doktor (HC) H Amri Yahya yang juga dikenal sebagai pelukis kaligrafi, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito Yogyakarta, Minggu (19/12) sekitar pukul 11.30 WIB, karena menderita penyempitan pembuluh darah jantung dan peningkatan kadar gula darah.

Menurut putri almarhum, Emi Palupi Yogananti, ayahnya beberapa hari dirawat di RSUP Dr Sardjito, dan pada Minggu siang meninggal dunia.

Amri Yahya yang kelahiran Palembang 29 September 1939, meninggalkan seorang istri Hj Sud Sri Zuzamti dan empat anak, yaitu Emi Palupi Yogananti, Adwi Prasetya Yogananta, Yunipan Nur Yogananta dan Feriqo Asya Yogananta.

Amri Yahya adalah lulusan Pendidikan Tinggi Seni Rupa Indonesia (PTSRI)-ASRI Yogyakarta tahun 1961, kemudian menjadi dosen di IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang UNY).

Gelar Doktor Honoris Causa (HC) diperolehnya di bidang Evaluasi Pendidikan Seni dari Senat UNY pada 2001, dan pada 2002 Amri Yahya diangkat menjadi Guru Besar di UNY.

Almarhum yang pernah belajar keramik di Belanda selama 1979-1980, juga dikenal sebagai pelukis kaligrafi.

Pada 15 September 2004, galeri sekaligus rumah tinggal Amri Yahya di Gampingan, terbakar. Meski tidak ada korban jiwa manusia dalam musibah itu, namun puluhan lukisan koleksi Amri Yahya hangus terbakar.

Sumber : (Ant/O-1) MIoL, Yogyakarta

Pelukis Amri Yahya Meninggal Dunia

Monday, December 20th, 2004

Pelukis Amri YahyaPelukis batik kaligrafi asal Daerah Istimewa Yogyakarta Amri Yahya meninggal dunia dalam usia 65 tahun di Rumah Sakit Umum dokter Sardjito, Yogyakarta, Ahad (19/12) sekitar pukul 12.00 WIB. Almarhum meninggalkan seorang istri dan empat anak. Rencananya jenazah Amri Yahya dikebumikan di makam keluarga Gampingan Wirobrajan Yogyakarta, hari ini.

Kondisi kesehatan Amri Yahya mulai memburuk sejak galeri seni yang menyimpan sebagian besar karyanya terbakar pada September silam. Diperkirakan kerugian akibat kebakaran mencapai miliaran rupiah. Sebab, semua koleksi galeri yang didirikan pada 1972 ini ludes dilahap api [baca: Galeri Pelukis Amri Yahya Terbakar].

Selama hidup, pria kelahiran Palembang, Sumatra Selatan, 29 September 1939 ini dikenal sebagai pelukis yang mengembangkan seni kaligrafi batik di Tanah Air. Karya-karyanya banyak dimiliki kolektor baik dari dalam maupun luar negeri. Sejumlah pameran lukisan juga pernah digelar almarhum dan mendapat apresiasi luas dari sejumlah kalangan.

Selain itu pria lulusan Pendidikan Tinggi Seni Rupa Indonesia Akademi Seni Rupa Indonesia (PTSRI ASRI) Yogyakarta tahun 1961 ini pernah meraih beberapa penghargaan. Di antaranya penghargaan tertinggi bidang seni lukis dari Akademi Seni Rupa Indonesia pada 1961 dan Anugerah Pagelaran Pan-Pacific Art dari Seoul, Korea Selatan, pada 1988.

Sumber : (JUM/Wiwik Susilo) Liputan6.com, Yogyakarta

Amri Yahya: Darah Saya Itu Batik

Monday, December 20th, 2004

Sedianya Prof. Dr. (HC) Amri Yahya sekeluarga mau pindah rumah di Topadan, Kasihan, Bantul, pada 24 Desember mendatang. Rumah baru ini dibangun karena rumahnya yang merangkap galeri di daerah Gampingan, Yogyakarta, terbakar pada September lalu. Namun rencana tinggal rencana. Amri justru berpulang ke rahmatullah. Ia meninggal Minggu (19/12) pukul 11.30 WIB di Rumah Sakit (RS) Sarjito Yogyakarta.
Senin (20/12) siang ini, jenazah Amri dimakamkan di makam keluarga di daerah Gampingan. Sebelumnya, jenazah almarhum akan disemayamkan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), mengingat beliau menjadi guru besar di universitas tersebut.
Pelukis besar di bidang kaligrafi ini meninggal akibat komplikasi penyakit gula yang diderita setahun yang lalu. Ia mulai dirawat di RS Sarjito sejak 12 Oktober
lalu, bahkan sempat pula dirawat di Rumah Sakit (RS) Elizabeth Singapura selama enam hari.
Penyakit gulanya bertambah parah ketika dirinya mengetahui galerinya terbakar.
“Kala itu kadar gula beliau mencapai 390. Bapak begitu shock galerinya terbakar, karena lukisan-lukisan beliau yang mencapai ratusan buah ikut terbakar,” ungkap Yan Rejeki, menantu Amri Yahya, kepada SH, Minggu (19/12).
Yan mengungkapkan, ketika dievakuasi saat galeri terbakar pada 16 September lalu, kaki kiri bagian tumit Amri terkena goresan kecil. Luka ini tak sembuh, sehingga Amri harus dibawa ke RS Sarjito. Di rumah sakit itu, dokter menganjurkan untuk diamputasi. Pihak keluarga mencoba berobat ke Singapura. Namun, upaya ini gagal, karena dokter di sana juga menganjurkan untuk diamputasi. Sejak saat itu Amri hidup terus-menerus di rumah sakit. “Bapak hanya sempat pulang ke rumah ketika hari lebaran pertama. Itu pun hanya tiga jam saja,” kata Yan.
Amri dikenal sebagai pelukis batik. Ia bahkan sangat mencintai batik. ”Darah saya itu batik, karena saya mencintai batik dengan sepenuh hati. Batik itu ada di seluruh Indonesia, termasuk di Palembang, bukan hanya di Jawa saja,” ungkapnya.
Bahkan dirinya sempat pula merasa gusar ketika batik saat ini justru hak patennya dimiliki oleh Malaysia. ”Padahal dunia luar sudah lama mengetahui dan mengakui bahwa batik adalah milik bangsa Indonesia. Hampir di seluruh wilayah Indonesia mengenal seni batik. Ini merupakan kesalahan kita sendiri, karena kita kurang menghargai apa yang disebut hak paten,” kata Amri Yahya kepada SH beberapa waktu lalu.
Tak hanya itu saja, Amri, kelahiran Palembang, 29 September 1939, juga merasa sedih dengan jarangnya pergelaran batik di Indonesia akhir-akhir ini. Tahun 1972 Amri mendirikan Amri Gallery di Gampingan, Yogyakarta, pada saat Indonesia mempersiapkan diri sebagai tuan rumah Konferensi PATA tahun 1974. Tahun 1979 mendirikan Himpunan Senirupawan Indonesia (HSRI), yang dimaksudkan membawa para senirupawan Indonesia ke forum internasional melalui IAA (International Association of Art) dan Unesco. Karya terakhirnya adalah logo PON September 2004 di Palembang.
Amri lulus Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) tahun 1961 dan IKIP Yogyakarta tahun 1971. Ia sempat memperdalam keramik dinding di Belanda (1979). Sampai sekarang masih tetap mengajar seni rupa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sampai memperoleh gelar doktor (2001) dan profesor (2002).
Amri kini telah tiada. Ia meninggalkan seorang isteri Hj. Sud Sri Zuzamti dan empat orang anak yakni Emi Palupi Yogananti, Adwi Prasetya Yogananta, Yunipan Nur Yogananta dan Feriqo Asya Yogananta. “Sebelum masuk ICU, bapak sempat berpesan agar kami meneruskan cita-cita bapak untuk melestarikan dan menekuni batik,” ujar Yan.

Sumber : (yuk) Sinar Harapan, Yogyakarta

Pelukis Batik Kontemporer Amri Yahya Meninggal Dunia

Sunday, December 19th, 2004

Pelukis Batik Kontemporer Prof. Dr. (HC) H Amri Yahya, 65, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito Yogyakarta, Minggu (19/2) siang karena menderita penyempitan pembuluh darah jantung dan peningkatan kadar gula darah.

Menurut putri almarhum, Emi Palupi Yogananti, ayahnya beberapa hari dirawat di RSUP Dr Sardjito, dan pada Minggu (19/12) siang sekitar pukul 11.30 WIB meninggal dunia. Menurut rencana Amri Yahya kelahiran Palembang 29 September 1939 itu, akan dimakamkan Senin siang di makam keluarga di Gampingan, Yogyakarta.

Sebelumnya, jenazah almarhum disemayamkan di Kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk memberi kesempatan kepada civitas akademika UNY mensholatkan dan memberikan penghormatan terakhir. Almarhum Amri Yahya yang menjadi guru besar UNY, meninggalkan seorang istri Hj Sud Sri Zuzamti dan empat anak.

Sumber : (Ant/Dul) KCM, Yogyakarta

Anugerah Kebudayaan Digelar di TMII

Saturday, December 18th, 2004

Empat Orang Tokoh Mendapatkan Anugrah KebudayaanPemerintah memberikan Anugerah Kebudayaan 2004 kepada sejumlah tokoh yang dianggap berjasa mengembangkan, mempertahankan dan mencintai tradisi dan budaya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Selasa (7/12) malam. Acara dibuka dengan pertunjukan pantomim oleh Sena Didi Mime.

Anugerah diberikan kepada individu yang peduli tradisi seperti Iwan Tirta, Rachmaniar S. Djoemena, Sisi W. Sutrisno, dan Judi Achyadi. Iwan Titra dikenal sebagai ahli batik yang juga banyak menulis tentang batik. Rachmaniar dikenal sebagai kolektor kain tradisional sejak 1958. Sementara Sisi W. Sutrisno berjasa dalam mengembangkan masakan tradisional. Sedangkan Judi Achyadi adalah seorang warga negara Kanada yang bersuamikan diplomat asal Indonesia yang mempopulerkan busana Tanah Air.

Pemberian penghargaan kebudayaan ini juga dihadiri Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik serta Menteri Pemberdayaan Wanita Meutia Hatta. Penghargaan kebudayaan ini diberikan untuk lebih mendorong individu-individu yang peduli terhadap tradisi dan budaya Indonesia.

Sumber : (YYT/Tommy Fadjar dan Taufik Maru) Liputan6.com, Jakarta

Industri Kecil Batik di Solo Resah

Wednesday, December 15th, 2004

Industri kecil dan industri rumah tangga yang memproduksi kain batik di Laweyan, Mutihan, Sondakan, dan Pasar Kliwon Solo bingung menghadapi permintaan pasar yang terus menurun. Naifnya lagi, di tengah kondisi bisnis yang tidak menguntungkan itu, harga bahan baku untuk produksi batik seperti pengunci warna, kain, dan obat pewarna naik sehingga membuat para pelaku resah untuk menutup biaya produksi yang terus meningkat.

Salah satu pelaku industri rumah tangga yang biasa membuat kain batik secara tradisional, Suswanto (49), mengatakan, kondisi ini sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir, terutama setahun belakangan. Dulu dirinya memiliki 25 pekerja, tetapi seiring dengan menurunnya pasar jumlah pekerja pun terus diturunkan.

Bahkan, saat ini Suswanto harus mengerjakan sendiri seluruh pekerjaan membatik dibantu anak dan istrinya. “Ada pesanan saja sudah Alhamdulillah. Satu tahun ini sepi banget,” katanya, saat ditemui di rumahnya yang juga tempat produksi batiknya di Mutihan, Selasa (14/12).

Dulu setiap hari selalu ada pesanan yang dikerjakan. Saat ini dua atau tiga hari baru ada pekerjaan. “Adik saya yang menjualkan batik dulu bisa mengantar pesanan 10-15 kodi setiap harinya. Sekarang dalam satu minggu hanya 2-3 kali saja mengantar pesanan dan itu pun cuma lima kodi,” kata Suswanto, yang telah menjadi perajin batik sejak 18 tahun lalu.

Sebelum ini Suswanto mengaku bisa memperoleh untung bersih hingga Rp 2 juta. “Sekarang tiap minggu hanya dapat pemasukan Rp 150.000, itu pun kotor. Sekarang ini kami cuma bertahan, supaya tetap dapat makan,” katanya.

Suswanto mengaku tidak tahu pasti penyebab turunnya pesanan batik. “Dulu waktu krisis ekonomi malah ramai pesanannya. Sekarang ini harga makanan tidak semahal dulu, tetapi kok enggak ada yang beli,” kata Suswanto.

Masa Lebaran, Natal, dan Tahun Baru disebutnya juga tidak berpengaruh terhadap peningkatan pesanan. “Lebaran yang biasanya ramai, kemarin sepi. Coba lihat di Pasar Klewer, kan sepi. Kalau di sana saja sepi, apalagi di sini,” ujarnya.

Lebaran tahun ini penjualan di Pasar Klewer menurun hingga 75 persen. Kondisi itu juga dikeluhkan oleh para pedagang batik di sana.

Sementara itu, perajin batik lainnya, Giyanti (44), mengatakan, biaya produksi satu meter kain batik mencapai Rp 9.000. “Harga kain per meter Rp 6.500, biaya obat dan lain-lain Rp 2.500. Kami hanya berani jual paling mahal Rp 10.000 per meter. Kalau kemahalan, bakul lari ke tempat lain,” katanya.

Giyanti mengeluhkan naiknya harga bahan baku batik. Obat pengunci warna yang biasanya Rp 425.000 per drum kini naik menjadi Rp 600.000 per drum. “Kain primisima (mori-Red) yang dulu Rp 6.000 per meter, sekarang naik menjadi Rp 6.500,” katanya.

Keluhan serupa diungkapkan Ny Giyarjo (45) yang biasa membuat batik untuk kemudian dijahit menjadi daster. “Dulu sekali antar pesanan bisa sampai 400 potong. Sekarang 200 potong saja belum tentu. Saya cuma ambil untung Rp 750 tiap potongnya,” katanya.

Baik Suswanto, Giyanti, dan Ny Giyarjo mengaku tidak ada perhatian dari pemerintah setempat. “Kalau bisa ada uluran tangan, terutama bantuan pemikiran untuk pemasaran,” kata Giyanti dan Suswanto.

“Bantuan modal saja percuma, kalau tidak dibantu pemecahan. Nanti malah jadi beban utang,” kata Ny Giyarjo.

Sumber : (J10) Kompas Cetak, Solo

Kota Seni dan Budaya nan Memikat

Saturday, December 11th, 2004

Pengrajin BatikYogyakarta sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan di Pulau Jawa. Karena itu tak asing jika provinsi ini memiliki berbagai jenis barang hasil kreasi tangan-tangan terampil. Di antaranya adalah batik, gerabah, ukiran, hingga lukisan. Berbagai sentra kerajinan ini tersebar di pelosok Yogyakarta yang juga berjuluk Kota Budaya.

Batik, misalnya. Para pelancong yang berkunjung ke Yogaykarta dapat dengan mudah memperoleh kain yang menjadi ciri khas Indonesia ini. Tengok saja kawasan Malioboro. Hingga saat ini, ada puluhan toko menjual produk yang digemari warga lokal dan dihargai turis mancanegara itu. Bahkan, beberapa tempat memberikan layanan kursus membatik dengan jenjang mulai satu hari hingga dua bulan.

Salah satu ciri batik adalah gambar atau lebih dikenal dengan sebutan motif yang tradisional. Beberapa di antaranya adalah motif garuda, parang, dan lereng. Namun terkadang motif tersebut dipadukan dengan bentuk yang lebih modern seperti ikan. Pembuatannya sendiri memakan waktu antara dua hingga enam bulan. Barang tekstil ini biasanya dibanderol berbeda-beda tergantung pada kerumitan motif dan jenis bahan.

Selain batik, Yogyakarta juga dikenal dengan produk gerabahnya. Salah satu sentranya adalah Desa Kasongan, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul. Di tempat yang hanya berjarak 20 menit dari Yogyakarta ini, pengunjung bisa memperoleh gerabah dengan harga yang cukup miring. Sepasang patung keramik berukuran kecil bisa dibawa pulang dengan membayar Rp 80 ribu. Kendati demikian, kualitas barang Desa Kasongan bersaing dengan produk gerabah lain. Bahkan, keramik dari daerah ini diekspor ke Australia dan Eropa.

Yogyakarta juga menjadi primadona para peminat seni lukis yang kerap berburu hingga ke pelosok desa. Kanvas-kanvas berisi goresan kuas yang indah bisa dengan mudah ditemukan di Kampung Seni Nitiprayan yang tak jauh dari Kasongan. Kampung ini memiliki nama besar sebagai &quotKawah Candradimuka” bagi para pelukis ternama seperti Made Sukadana dan Entang Triwarsa. Kampung Seni Nitiprayan juga sering digunakan sebagai tempat pergelaran berbagai kegiatan seni seperti teater dan tari.

Saat dikunjungi SCTV, pelukis yang berada di kampung itu adalah Yogi Setiawan. Pria jebolan Institut Seni Indonesia, Yogayakarta, ini memamerkan karyanya di sebuah galeri. Dengan gaya karikatur ia menuangkan pandangannya tentang isu-isu terhangat di Tanah Air atau dunia. Salah satunya adalah lukisan berjudul Rekonsiliasi alias Warok yang menggambarkan tingkah laku para politikus dunia saat ini seperti Presiden Amerika Serikat George Walker Bush dan Saddam Hussein.

Dari ketiga tempat itu, ternyata untuk memperoleh barang seni yang berkualitas tinggi tidak melulu ditukar dengan harga selangit. Dengan berburu ke beberapa pelosok Yogyakarta, peminat batik, gerabah maupun lukisan bisa membeli kesenangannya dengan harga murah.

Sumber : (TOZ/Asti Megasari dan Effendi Kassah) Liputan6.com, Yogyakarta

Dari Motif Kapal Sanggat sampai Durian Pecah…

Thursday, December 9th, 2004

BATIK tidak sekadar selembar tekstil dengan motif dan proses tertentu, tetapi khazanah hasil seni budaya bangsa yang merupakan identitas bangsa Indonesia. Di mata dunia, batik identik dengan Indonesia. Karena itu, dalam penumbuhan, pembinaan, dan pengembangan industri batik tradisional, baik motif maupun industri batiknya sendiri diharapkan dapat dilestarikan.

Berkat batik khas Jambi yang terus melambung-tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional-dan dengan prakarsa Ny Lily Abdurrachman Sayoeti (istri Gubernur Jambi periode 1989-1994 dan 1994-1999), Jambi ditunjuk menjadi tuan rumah Simposium Internasional Tekstil Indonesia, 6-9 November 1996. Melalui berbagai kegiatan pelatihan, Ny Lily berupaya meningkatkan kemampuan para perajin, kualitas, desain, dan motif dengan mendatangkan tenaga profesional, misalnya dari Yogyakarta.

Staf Subdinas Industri Kecil dan Dagang Kecil Jambi, Ida Mariyanti, mengatakan, ciri khas warna batik Jambi adalah merah, kuning, biru, dan hitam. “Batik Jambi yang dibuat dengan menggunakan warna alami (kayu dan tumbuh-tumbuhan) memiliki warna spesifik, tidak cerah, tetapi punya daya tarik kuat,” katanya lagi. Ida Mariyanti adalah tenaga profesional yang telah lebih dari 20 tahun bertugas sebagai penyuluh, pembina, dan pelatih pembatik batik khas Jambi.

Ia menjelaskan, yang membedakan batik Jambi dengan batik Solo, Pekalongan, Yogyakarta, dan Cirebon adalah warna batik khas Jambi yang lebih cerah dan tegas. Namun kini, dalam perkembangannya, warna batik khas Jambi mulai mengikuti selera konsumen (selera pasar) dengan warna-warna lembut, seperti coklat tua, coklat muda, biru tua, dan biru muda.

Dari segi motif, batik Jambi memang lebih khas. Motifnya satu-satu atau biasa disebut ceplokan. Sedangkan motif batik Solo dan Yogyakarta bersambung atau menyatu. Dari segi warna, batik Jambi didominasi warna gelap, merah, hitam, kuning, dan biru.

Dengan makin pesatnya pertumbuhan batik dan makin terbukanya pasar global, untuk melindungi desain motif batik Jambi, Pemerintah Provinsi Jambi bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah Jambi telah mendaftarkan seni batik Jambi pada Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual untuk mendapatkan perlindungan hak cipta.

Agus yang mengajar pembatik di Wisma Batik Seri Tanjung mengakui secara terus-menerus melakukan terobosan dalam pengembangan motif batik Jambi. Seperti yang dikerjakan Saama (32), seorang pembatik asuhannya, membuat kombinasi motif kapal sanggat dengan motif durian pecah.

“Hingga kini sebanyak 19 motif batik Jambi telah mendapatkan hak cipta. Sebanyak 65 jenis motif lainnya sedang dalam pengajuan permohonan hak cipta,” ujar Ida Mariyanti. “Sedikitnya ada 84 motif batik Jambi yang ada kini, lima di antaranya sangat terkenal, yaitu motif kapal sanggat, kuau berhias, durian pecah, merak ngeram, dan tampok manggis.”

Sumber : (NAT) Kompas Cetak