Archive for October, 2004

Kain Tradisional Masih Banyak Peminatnya

Saturday, October 23rd, 2004

Banyaknya jumlah pengunjung pada gerai yang memamerkan dan menjual beraneka macam kain tradisional daerah pada pameran “Pesona Artistik Busana dan Kerajinan Nusantara” menunjukkan bahwa kain tersebut tetap memikat hati para peminatnya.

“Peminatnya cukup banyak terutama ibu-ibu dan remaja puteri. Mereka sering memesan kain tenun dari sini,” kata Aji (33), seorang peserta pameran di gerai “Gaya” yang menjual kain tenun Sukabumi.

Hal senada juga diungkapkan oleh peserta pameran lain yang juga menjual kain tenun, Lilis (23).

Beberapa pembeli mengatakan bahwa mereka menyukai kain tradisional karena selain indah dan unik kain-kain tradisional tersebut juga nyaman dipakai.

“Kalau yang seperti ini sangat nyaman di pakai,” kata Aya, seorang pengunjung pameran sambil memilih beberapa kain tenun.

Berbagai alasan tersebut membuat sejumlah pembeli rela membayar dengan harga yang cukup mahal untuk setiap potong kain yang mereka beli.

Harga kain tenun Sukabumi yang terbuat dari sutera alam berukuran panjang 2,5 meter setiap potongnya menurut Aji berkisar antara Rp200 ribu sampai Rp1,7 juta.

“Besarnya harga disesuaikan dengan tingkat kesulitan dalam pembuatan, semakin sulit semakin mahal,” kata Aji.

Harga berbagai kain tradisional lain yang dijual dalam pameran itu juga berada pada kisaran harga yang tidak jauh berbeda.

Kain-kain batik dengan motif klasik dari Surakarta dan Pekalongan di sebuah gerai dijual dengan harga rata-rata Rp1 juta setiap potong.

“Kain-kain jenis ini sudah langka dan sulit didapat sehingga harga jualnya juga tinggi,” kata pemilik gerai, Ny. Thomas.

Selain kain tenun dan batik dalam acara itu juga dipamerkan berbagai hasil kerajinan yang lain seperti perhiasan, aksesoris, busana muslim, furnitur dan aneka makanan tradisional dari berbagai daerah seperti Lampung, Padang dan Palembang.

Pameran yang diselenggarakan oleh Dekranas bekerja sama dengan Yayasan Sekar Saji Nusantara (YSSN) itu dimulai tanggal 22 Oktober dan akan ditutup pada 25 Oktober 2004.

Sumber : (Ant/jy) KCM, Jakarta

Batik Tanjung Bumi, Batik Madura nan Eksotik

Saturday, October 23rd, 2004

Sektor usaha kecil dan menengah (UKM), kini sedang menjadi primadona pemerintah daerah. Salah satu daerah yang subur dengan UKM adalah Madura. “Pulau Garam” itu membanggakan produksi batik dan jamu sebagai usaha rakyat yang berhasil go international.
Ketika SH meninjau ke daerah tersebut beberapa waktu lalu, kedua jenis komoditas ini menjadi bagian cerita menarik sepanjang perjalanan. Sejarah mencatat kesuksesan para pengrajin batik dan jamu di sana. Yang membuatnya menjadi seperti itu, barangkali karena kedua komoditas itu menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakatnya sendiri.
Industri jamu berkembang karena khasiatnya. Apalagi yang tak terbantahkan, mitos seputar kehebatan jamu madura yang jika dikumpulkan bisa menjadi kumpulan cerita folklor. Tapi produk yang satu ini akan dibahas pada kesempatan lain.
Industri kecil yang menjadi kebanggaan daerah ini memang batik. Bagi Madura, batik bukan hanya sehelai kain, namun telah menjadi ikon budaya dan sering menjadi objek penelitian banyak institusi. Di berbagai buku batik terbitan luar negeri, batik Madura menjadi perhatian khusus. Motif dan warna yang tertuang di dalam kain panjang itu, merefleksikan karakter masyarakatnya. Khususnya batik buatan Tanjung Bumi di Kabupaten Bangkalan.
Tak heran jika H Affandi, pemilik industri kecil batik tulis “Annis” di Tanjung Bumi, Bangkalan, tak repot-repot untuk menjual hasil produksinya. Menurutnya, para pembeli datang dari berbagai kota di luar Madura, terutama pada hari libur. Begitu juga peminat batik dari mancanegara sering mampir ke tempatnya untuk berbelanja. Walau lokasinya bukan di jalan utama, para pembeli tak kesulitan. Sebab, daerah Tanjung Bumi sejak dulu sudah terkenal sebagai sentra industri kecil batik dan menjadi objek tujuan wisata sekaligus.
Ketika sanggar batik Affandi didatangi rombongan wartawan dari Jakarta, dia tampak senang. Apalagi dua stasiun televisi swasta merekam kegiatan usahanya. Batik yang tersimpan di lemari dipamerkan sembari dijelaskan satu persatu nama dan motifnya. Istrinya dengan bahasa Indonesia logat Madura, cukup sibuk melayani pertanyaan para wartawan. “Batik saya diborong ya,” ujarnya berharap.
Di sini batik termurah dijual Rp 30 ribu dan termahal Rp 250 ribu. Yang membuat mahal, menurutnya, tergantung bahan kainnya. Kalau terbuat dari sutera, jelas mahal. Tapi yang membuat dia heran, turis asing lebih menyukai batik murah yang bahannya katun (kasar) ketimbang yang terbuat dari sutera. Malah turis lokal lebih menyukai batik sutera yang halus.

Ketuk Pintu
Jangan membayangkan jika mampir ke Tanjung Bumi akan mendapatkan pemandangan seperti Pekalongan (Jawa Tengah), di mana terdapat banyak show room batik. Di sini harus ketuk pintu rumah dulu. Sebab kebanyakan pengrajin tak memasang nama sanggarnya. Tapi yang memudahkan untuk mencari di mana tempat pembuatan batik, dari aroma lilin. Jika baunya tajam, di belakang rumah itu sedang ada kegiatan produksi.
Apa yang terjadi rumah Affandi, sama sekali tak ada bau lilin menyengat. Tapi oleh panitia, para wartawan diarahkan ke sana. Ternyata selidik punya selidik, sanggar batik “Annis” layaknya inti. Sedangkan rumah-rumah di sekitarnya sebagai plasmanya. Tak heran di bagian belakang sanggar, yang merupakan rumah-rumah penduduk aroma lilin begitu menyengat. Di sini tampak para ibu sedang membatik membatik. Sementara para kaum lelaki sedang “di dapur” memasak (merendam) kain untuk menghilangkan lilin atau memberi warna.
Di Tanjung Bumi, menurut penjelasan staf Dinas Pariwisata setempat, orang seperti Affandi cukup banyakdi sini. Mereka bekerja sama dengan masyarakat di sekitarnya. Inti menyediakan modal kain berikut perangkat penunjang (bahan pewarna), alat membatik dan sebagainya. Sementara masyarakat (plasma) menyetor (batik) pada juragannya (inti). Model kerja sama seperti itu, menurut staf tadi, tidak kaku seperti itu. Ada juga pengrajin yang memiliki modal untuk membuat batik, namun hasilnya disetorkan ke pedagang atau dijual sendiri ke pembeli yang kebanyakan turis.
Sumarni, ibu dua anak, yang sedang asyik membatik di lantai rumahnya, mengaku, batik yang sudah jadi tidak harus disetorkan ke pedagang. Kalau ada pembeli yang datang dan cocok dengan motif dan harga maka akan dijual. Menyetor ke pedagang atau menjual langsung, sama-sama untung. Diakuinya, dirinya memang memiliki ikatan emosional dengan pedagang batik yang ketika dia sedang mengalami kesulitan keuangan, pasti dibantu.
Menurutnya, untuk menyelesaikan batik tulis waktunya tergantung tingkat kesulitan motif. Bila bentuk yang harus ditulis kecil dan rumit, prosesnya bisa dua bulan.
Persoalan bahan baku menjadi penting mengingat selama ini para pengrajin batik mendapatkannya dari luar Madura. Ke depan akan lebih ideal lagi jika kebutuhan bahan baku itu bisa dipenuhi dari Madura sendiri. Para pengrajin batik di Kabupaten Bangkalan, sebenarnya bukan hanya di Tanjung Bumi, tapi terdapat juga yang tersebar Modung, Blegah, Socah dan Kokop.

Sumber : (SH/gatot irawan) Sinar Harapan, Jakarta

Hak Cipta 215 Motif Batik Sudah Didaftar

Thursday, October 7th, 2004

Hak cipta 215 motif batik yang tidak jelas asal-usulnya kini sudah didaftar ke Departemen Kehakiman dan HAM oleh Pemerintah Kota Surakarta. Sebagian besar dari motif-motif kain batik itu berasal dari Keraton Kasunanan Surakarta, kata Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Surakarta Zaenal Mustafa, di Solo, Rabu (6/10).

Terang Zaenal, kain batik dengan motif-motif itu biasanya digunakan oleh penari Bedhaya Ketawang atau pada malam midodareni dalam upacara pernikahan di keraton tersebut.

Di Indonesia sampai sekarang ada 6.000 motif, seperti kawung, sidoluhur, dan parang rusak. Sebagian besarnya belum dipatenkan.

Zaenal mengatakan pula, tak jadi masalah kalau motif-motif itu ditiru. Yang penting, hak ciptanya diselamatkan lebih dulu, sebelum dipatenkan oleh pihak-pihak lain.

“Selama ini banyak motif batik itu yang dipatenkan oleh perseorangan dan bahkan oleh orang luar negeri. Padahal, corak-corak batik itu buatan bangsa kita,” ujarnya.

Sumber (Ant/Ati) KCM, Solo

Inventarisasi Motif Batik

Tuesday, October 5th, 2004

Hari Selasa (5/10) ini Wali Kota Pekalongan Samsudiat akan membuka acara “Inventarisasi Motif Batik Pekalongan”, yang akan berlangsung di Hotel Istana, Pekalongan. Menurut Kabag Humas Suharto BBA, acara yang diselenggarakan Deperindag itu sebagai upaya untuk mengetahui berbagai motif batik yang dibuat masyarakat Kota Batik.

Sumber : (A15-74) Suara Merdeka, Pekalongan