Laweyan Dicanangkan Jadi Kampung Batik

Untuk melestarikan budaya dan meningkatkan penjualan batik, Wali Kota Solo Slamet Suryanto, Sabtu (25/9), mencanangkan Kampung Laweyan menjadi kampung batik. Di kampung ini para pengunjung dapat melakukan transaksi batik, mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah, dan melihat proses pembuatan batik tradisional secara langsung.

Menurut Slamet, pencanangan kampung batik itu merupakan integrasi pengembangan potensi pariwisata dan industri lokal. Solo yang sudah sejak lama dikenal sebagai penghasil batik perlu mempunyai situs yang memungkinkan bagi turis asing dan pengunjung domestik untuk melihat proses pembuatan dan penjualan batik.

Kepala Dinas Pariwisata Solo Febrie Roekmi Evie mengatakan, pengembangan kampung batik ini akan ditumpukan pada potensi dan kemauan masyarakat, bukan dengan suntikan dana besar dan percepatan dari pemerintah kota.

Pemkot, kata Evie, hanya akan membuat penanda lokasi atau landmark sehingga turis asing dan pengunjung domestik dapat dengan mudah mencapai lokasi tersebut.

Fasilitasi yang akan diberikan pemkot adalah keringanan promosi dan kemudahan kredit. Promosi merupakan langkah awal agar masyarakat mengenal Kampung Batik Laweyan. Setelah itu, pemkot akan menyerahkan pembangunan fasilitas penunjang pariwisata, seperti kafe, homestay, dan ruang pamer, kepada masyarakat.

Menurut pengamatan Kompas, Kampung Batik Laweyan masih diisi oleh rumah-rumah model kuno dengan tembok tinggi dan jalan yang berbentuk lorong-lorong sempit. Di dalam tembok biasanya terdapat beberapa bangunan rumah yang difungsikan sebagai ruang pamer, toko, dan tempat tinggal.

Menurut Badan Pusat Statistik Kota Surakarta, Kampung Laweyan yang luasnya 0,248 kilometer persegi berpenduduk 2.425 jiwa (2002).

Proses pembuatan batik biasanya dikerjakan di bagian belakang rumah. Di tempat pembuatan batik itu selalu tersedia peralatan untuk mencelup kain, menjemur, maupun menggambar motif batik. Semua proses pembatikan dilakukan dengan teknologi tradisional sehingga akan terlihat eksotis bagi yang belum pernah melihatnya.

Tingkatkan produksi
Menurut Haji Nazir Mabruri, pemilik Batik Cahaya Putra, usaha batiknya sudah sering dikunjungi tamu dari Korea, Jerman, dan Belanda. Pencanangan kampung batik itu diharapkan dapat meningkatkan pengunjung ke tokonya dan pada gilirannya meningkatkan jumlah transaksi batik.

Selain untuk kepentingan pariwisata, keberadaan kampung batik itu diharapkan juga dapat meningkatkan jumlah produksi dan transaksi batik sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menurunkan tingkat pengangguran.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Solo Zaenal Mustafa mengatakan, penciptaan kawasan batik itu akan mempunyai efek ganda dari sisi ekonomi dan budaya lokal.

Jika Kampung Batik Laweyan dapat berkembang baik, kata Zaenal, kapasitas produksi dari industri batik di kawasan itu akan tumbuh sekitar sepuluh persen setiap tahun.

Di samping itu, perkembangan Kampung Batik Laweyan juga akan ditunjang dengan masuknya Departemen Purbakala untuk mengonservasi bangunan- bangunan kuno, seperti rumah Kiai Haji Samanhudi, pendiri Sarekat Dagang Islam, Masjid Kiai Anis (putra Kiai Ageng Selo), dan beberapa rumah peninggalan zaman Jepang.

Sumber : (ECA) Kompas Cetak, Solo

Leave a Reply