Archive for September, 2004

Malik Fajar Buka Pameran Batik

Wednesday, September 29th, 2004

Menko Kesra Ad Interim A. Malik Fadjar mewakili Presiden Megawati Soekarnoputri, Rabu, di Pura Mangkunegaran membuka Solo Internasional Batik Exhibition.

Melalui pameran seni budaya ini diharapkan bisa menjadi alat perekat dan pendingin bangsa Indonesia setelah hampir delapan bulan digoncang rely-rely panjang dalam Pemilu, kata Menko Kesra Ad Interim A.Malik Fadjar.

“Mungkin dalam batin ada yang bertentangan satu sama lain waktu itu, kegitan di tempat ini untuk melepaskan semuanya, sesuai dengan yang ada dalam budaya kita tercermin dalam lukisan batik yang penuh filosofi hidup itu,” paparnya.

Sesuai perkembangan teknologi, memang semuanya harus bisa berkembang maju, tetapi hendaknya harus berpijak pada nilai-nilai tradisi budaya bangsa yang telah ada.

“Silakan mereka-mereka itu mau sampai ke bulan dan ada perubahan demokrasi yang sedemikian pesat, tetapi semuanya itu hendaknya tetap berpijak pada tradisi,” katanya.

Walikota Surakarta Slamet Suryanto mengatakan, melalui pameran batik ini diharapkan bisa menggugah kembali kepada masyarakat dan para perajin untuk mencintai dan mengembangkan budaya sendiri seperti dahulu.

Digelar pameran tingkat nasional ini membuktikan bahwa Kota Solo aman seperti halnya kota-kota lainnya di Indonesia dan pantas untuk dikunjungi baik itu wisatawan manca negara maun dalam negeri.

Pameran batik yang berlangsung tanggal 29 September hingga 3 Oktober 2004 itu diikuti 102 stand, mereka datang dari berbagai penjuru tanah air.

Hadir dalam acara tersebut KGPAA Mangkunegoro IX, Paku Buwono (PB) XIII (KGPH Tedjowulan), mantan Menteri Pariwisata Joop Ave dan para tamu undangan lainnya.

Sumber : (Ant/jy) KCM, Solo

Laweyan Dicanangkan Jadi Kampung Batik

Monday, September 27th, 2004

Untuk melestarikan budaya dan meningkatkan penjualan batik, Wali Kota Solo Slamet Suryanto, Sabtu (25/9), mencanangkan Kampung Laweyan menjadi kampung batik. Di kampung ini para pengunjung dapat melakukan transaksi batik, mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah, dan melihat proses pembuatan batik tradisional secara langsung.

Menurut Slamet, pencanangan kampung batik itu merupakan integrasi pengembangan potensi pariwisata dan industri lokal. Solo yang sudah sejak lama dikenal sebagai penghasil batik perlu mempunyai situs yang memungkinkan bagi turis asing dan pengunjung domestik untuk melihat proses pembuatan dan penjualan batik.

Kepala Dinas Pariwisata Solo Febrie Roekmi Evie mengatakan, pengembangan kampung batik ini akan ditumpukan pada potensi dan kemauan masyarakat, bukan dengan suntikan dana besar dan percepatan dari pemerintah kota.

Pemkot, kata Evie, hanya akan membuat penanda lokasi atau landmark sehingga turis asing dan pengunjung domestik dapat dengan mudah mencapai lokasi tersebut.

Fasilitasi yang akan diberikan pemkot adalah keringanan promosi dan kemudahan kredit. Promosi merupakan langkah awal agar masyarakat mengenal Kampung Batik Laweyan. Setelah itu, pemkot akan menyerahkan pembangunan fasilitas penunjang pariwisata, seperti kafe, homestay, dan ruang pamer, kepada masyarakat.

Menurut pengamatan Kompas, Kampung Batik Laweyan masih diisi oleh rumah-rumah model kuno dengan tembok tinggi dan jalan yang berbentuk lorong-lorong sempit. Di dalam tembok biasanya terdapat beberapa bangunan rumah yang difungsikan sebagai ruang pamer, toko, dan tempat tinggal.

Menurut Badan Pusat Statistik Kota Surakarta, Kampung Laweyan yang luasnya 0,248 kilometer persegi berpenduduk 2.425 jiwa (2002).

Proses pembuatan batik biasanya dikerjakan di bagian belakang rumah. Di tempat pembuatan batik itu selalu tersedia peralatan untuk mencelup kain, menjemur, maupun menggambar motif batik. Semua proses pembatikan dilakukan dengan teknologi tradisional sehingga akan terlihat eksotis bagi yang belum pernah melihatnya.

Tingkatkan produksi
Menurut Haji Nazir Mabruri, pemilik Batik Cahaya Putra, usaha batiknya sudah sering dikunjungi tamu dari Korea, Jerman, dan Belanda. Pencanangan kampung batik itu diharapkan dapat meningkatkan pengunjung ke tokonya dan pada gilirannya meningkatkan jumlah transaksi batik.

Selain untuk kepentingan pariwisata, keberadaan kampung batik itu diharapkan juga dapat meningkatkan jumlah produksi dan transaksi batik sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menurunkan tingkat pengangguran.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Solo Zaenal Mustafa mengatakan, penciptaan kawasan batik itu akan mempunyai efek ganda dari sisi ekonomi dan budaya lokal.

Jika Kampung Batik Laweyan dapat berkembang baik, kata Zaenal, kapasitas produksi dari industri batik di kawasan itu akan tumbuh sekitar sepuluh persen setiap tahun.

Di samping itu, perkembangan Kampung Batik Laweyan juga akan ditunjang dengan masuknya Departemen Purbakala untuk mengonservasi bangunan- bangunan kuno, seperti rumah Kiai Haji Samanhudi, pendiri Sarekat Dagang Islam, Masjid Kiai Anis (putra Kiai Ageng Selo), dan beberapa rumah peninggalan zaman Jepang.

Sumber : (ECA) Kompas Cetak, Solo

Minat Terhadap Batik Tulis Menurun

Saturday, September 18th, 2004

Pengrajin BatikPerkembangan seni membatik dari tahun ke tahun terus meningkat. Hal ini bisa dilihat dari makin beragamnya motif-motif baru batik yang bermunculan. Kendati demikian, Ketua Yayasan Batik Indonesia Pusat Yustin Ginanjar Kartasasmita, melihat ada indikasi penurunan minat generasi muda untuk menekuni seni membatik khususnya batik tulis. Demikian diungkapkan Yustin saat mengunjungi perajin batik tulis di Cirebon, Jawa Barat, baru-baru ini.

Yustin menambahkan, penurunan konsumen batik bisa dipahami. Pasalnya generasi muda saat ini lebih tertarik pada busana dari bahan katun atau jin. Hal ini secara tidak langsung mengurangi jumlah konsumen batik itu sendiri. Padahal untuk membuat selembar batik tulis diperlukan waktu yang relatif lama dan biaya yang cukup mahal.

Perlu diketahui, penghasil batik tulis Indonesia, salah satunya adalah Desa Trusmi, Kecamatan Weru, Cirebon. Profesi perajin batik tulis merupakan mata pencaharian sebagian besar masyarakat di Trusmi. Motif batik tulis perajin sangat bervariatif di antaranya motif pesisiran dan keratonan. Namun, keterbatasan modal menjadi kendala besar untuk mengembangkan usaha yang berbasis pada budaya itu [baca: Pengusaha Batik Cirebon Terbentur Modal].

Yustin juga menuturkan perkembangan batik di Indonesia juga menghadapi persoalan penjiplakan motif asli oleh negara lain. Namun untuk menghadapi persoalan ini bukanlah hal yang mudah. Soalnya, untuk mematenkan sebuah motif batik cukup sulit, karena karya cipta yang dihasilkan oleh seseorang tidak akan memiliki kesamaan meskipun dilatarbelakangi dengan motif yang sama.

Sumber : (JUM/Ridwan Pamungkas) Liputan6.com, Cirebon

Tokyo Sambut Hangat Pameran Batik dan Perhiasan Indonesia

Friday, September 17th, 2004

Pameran dan penjualan batik karya perajin-perajin batik Bambang Priyanto dan Komaruddin Kudiya, perancang-perancang busana Stephanus Hamy dan Nita Azhar serta perhiasan perak karya Runi Palar yang dilangsungkan di Tokyo, Jepang, dipadati pengunjung.

Pameran dan penjualan pada 11 September lalu itu telah direncanakan cukup lama oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo dengan maksud mempromosikan produk ekspor nonmigas, terutama produk kerajinan tradisional asli Indonesia.

Menurut Mutoharul Djanan, Konselor pada KBRI Tokyo dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (16/9), meskipun ada aksi peledakan bom di (depan Kedutaan Besar Australia) Jakarta, kegiatan tersebut tetap dilangsungkan untuk tidak merugikan para seniman dan perancang busana yang telah beberapa hari menyiapkan karya mereka. Kegiatan itu juga diharapkan bisa memberi nuansa sejuk bagi citra Indonesia di Jepang.

Dalam pameran dan penjualan yang diadakan di kediaman Duta Besar RI itu ditampilkan batik tradisional dari Madura karya Bambang Priyanto dan batik tradisional dari Jawa Barat karya Komaruddin Kudiya. Selain itu, Stephanus Hammy dan Nita Azhar turut meramaikan pameran tersebut dengan busana-busana cantik karya mereka.

Sementara itu, seorang pembatik Kraton Yogyakarta, Suradjiyem, mempertunjukkan keahliannya dalam membatik di hadapan para pengunjung.

Antusiasme para pengunjung, kata Djanan, terlihat dari larisnya barang-barang pameran dibeli oleh mereka, walaupun dijual dengan harga mahal untuk ukuran kantong orang Indonesia.

Kemeja-kemeja batik karya Komaruddin tidak satu pun tersisa. Bahkan, ada pengunjung yang menyempatkan diri untuk mengambil uang tunai lalu kembali ke tempat pameran setelah terpesona melihat keindahan batik sutra seharga 72.000 yen (sekitar enam juta rupiah).

Dalam pameran yang menarik warga Jepang dan warga asing yang berada di Tokyo itu, di bagian kerajinan mutiara dan perak, perajin perak terkemuka Runi Palar menggelar karyanya.

Mutiara Indonesia, lanjut Djanan, mampu memenuhi selera konsumen Jepang. Mereka menilai, mutiara yang sebagian besar diambil dari kepulauan Nusa Tenggara tersebut memiliki kemilau yang sangat indah.

Perhiasan yang dipamerkan dan juga dijual itu antara lain berupa kalung mutiara yang harganya sangat tinggi, mencapai hampir lima juta yen (Rp 400 juta), terang Djanan.

Di samping dapat menikmati kerajinan tradisional asli Indonesia, para pengunjung juga disuguhi beraneka makanan ringan asli Indonesia secara cuma-cuma.

Sumber : (Ant/Ati) KCM, Jakarta

SIBEX Pamerkan Kain Batik Terpanjang di Dunia

Friday, September 17th, 2004

Batik sebagai hasil karya kebudayaan akan dikembangkan di tingkat dunia. Upaya itu, antara lain dilakukan lewat Solo International Batik Exibition (Sibex) yang akan digelar di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran Solo, 29 September - 3 Oktober 2004.

“Kegiatan itu digagas Wali Kota Surakarta, setelah melihat acara Gelar Batik Nusantara 2003 di Jakarta,” kata Ria Kumara Indah dari PT Rante Java Expo selaku event organizer (EO), kemarin.

Berbagai jenis batik dan kain tradisional dari daerah akan dipamerkan; seperti batik dari Aceh, Bengkulu, Banjarmasin, Jambi, Lasem, Pekalongan, Yogyakarta dan Solo. Pameran juga dimeriahkan dengan sajian peragaan busana serbabatik serta workshop.

“Kami mengundang sejumlah pembatik tradisional yang sudah tua-tua untuk memeragakan kebolehannya. Dalam acara itu, kami bekerja sama dengan Yayasan Batik Indonesia dan Balai Batik Yogyakarta.”

Ria menyatakan, keberadaan batik di berbagai daerah mengalami kelesuan. Upaya yang dilakukan berbagai kalangan, termasuk pemerintah untuk memasyarakatkan kembali pemakaian kain batik, belum memberikan iklim segar.

Generasi

Di beberapa daerah, bahkan sudah mulai tidak ada generasi pembatik yang meneruskan usaha tersebut.

“Seperti di Lasem, ada seorang pembatik yang mempunyai koleksi banyak; namun perajin itu tidak mempunyai generasi penerus yang bisa melestarikan koleksinya. Saya mencoba menghubungi Yayasan Batik Indonesia untuk memberi solusi agar koleksi itu tidak punah dan bisa dilestarikan,” tambahnya.

Kegiatan Sibex itu, juga menggerakkan perancang batik terkenal Ramli untuk memberikan dukungan.

Perancang itu akan tampil dengan karya-karya terbarunya dalam pameran. Pada kesempatan itu, akan diberikan penghargaan kepada sejumlah perajin dan pembatik yang masih bertahan sampai sekarang.

Diharapkan, Sibex bisa menjadi agenda tahunan dalam melestarikan batik dan aktivitas di lingkungannya.

Rencana pameran itu mendapat sambutan dari berbagai kalangan, termasuk sejumlah perajin dan perusahaan batik dari berbagai kota.

Pengusaha dan pembatik dari Pekalongan, Yogyakarta, Aceh, dan lainnya, sudah siap memamerkan produknya.

“Ada acara menarik selama Sibex, yaitu membatik sepanjang 2002 meter selama tiga jam. Selain itu, juga dipamerkan kain batik terpanjang tanpa sambungan, 400 meter dengan 400 motif. Saat ini karya itu sudah selesai 200 meter, dan nantinya diharapkan masuk guiness book of record,” katanya.

Sumber : (sri-17a) Suara Merdeka, Mangkunegaran

Peluncuran Keterampilan Seni Batik

Friday, September 17th, 2004

KARENA didorong keinginan melestarikan seni batik, yang menjadi ciri khas Kota Solo, SMAN 5 Surakarta mengadakan peluncuran keterampilan seni batik, sebagai salah satu mata pelajaran keterampilan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi).

Dalam acara yang digelar di aula SMA 5, Kamis kemarin itu, Kepala Sekolah Hj Endang Sri Kusuma Ningsih mengatakan sudah banyak orang asing yang mempelajari seni batik hingga mendetail. Sayangnya sedikit siswa yang justru tertarik belajar soal itu. “Kami khawatir, anak-anak sekolah makin enggan dan tidak mengenal batik,” kata dia.

Istri Wali Kota, Ny Endang Slamet Suryanto yang membuka acara itu menyatakan, dengan program tersebut diharapkan akan makin mengenalkan batik kepada generasi muda. “Ini sekaligus bekal bagi anak didik yang lulus,” kata dia.

Sumber : (an-17a) Suara Merdeka

Galeri Pelukis Amri Yahya Terbakar

Thursday, September 16th, 2004

Galeri Amri Yahya TerbakarGaleri milik Amri Yahya, pelukis kaligrafi batik terkenal Indonesia terbakar. Si jago merah mengamuk di galeri yang berada di kawasan Gampingan, Yogyakarta, Rabu (15/9). Saat kebakaran, Amri Yahya yang tengah sakit sedang berada di kamarnya. Diperkirakan kerugian akibat kebakaran mencapai miliaran rupiah. Sebab, semua koleksi galeri yang didirikan pada 1972 ini ludes dilahap api.

Api pertama kali terlihat dari bagian belakang bangunan dan terus membesar hingga menghanguskan seluruh bagian bangunan. Api cepat menyebar karena galeri itu terbuat dari bahan kayu dan menyimpan koleksi seni berupa lukisan dan batik yang mudah terbakar. Dua unit mobil pemadam kebakaran terlambat tiba di lokasi sehingga gagal menyelamatkan koleksi pelukis yang kondang dengan kaligrafi batik ini. Polisi masih menyelidiki penyebab kebakaran.

Sekadar informasi, Prof. Dr. H. Amri Yahya adalah pelukis batik yang juga pendidik. Ribuan karya seni lukis batik maupun cat air sudah dipamerkan di dalam dan luar negeri sejak 1957. Pelukis kelahiran Sukaraja (Palembang), 29 September 1939 ini telah menetap di Yogyakarta selama 45 tahun lebih.

Kebakaran juga terjadi di Kota Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Sebanyak 34 bangunan pertokoan dan perkantoran hangus. Api diduga berasal dari sebuah warung yang berada di tepi Sungai Mentayah.

Petugas Pemadam Kebakaran Kota Sampit tidak mampu berbuat banyak. Sebab, tiga unit mobil pemadam rusak. Tidak ada ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta.

Sumber : (TNA/Tim Liputan 6 SCTV) Liputan6.com, Yogyakarta

Batik Indonesia Sulit Dipatenkan, Banyak Dijiplak

Wednesday, September 15th, 2004

Kekayaan intelektual bangsa Indonesia berupa motif-motif batik tradisional, yang ribuan macamnya, belakangan ini banyak dijiplak atau ditiru oleh para perajin dari negara-negara lain demi kepetingan ekonomi.

Pihak Yayasan Batik Indonesia (YBI) Pusat menengarai adanya kondisi itu. Namun, Ketua YBI Pusat, Yustin Ginandjar Kartasasmita, yang ditemui para wartawan di Sentra Batik Trusmi, Cirebon, Rabu (15/9), mengatakan bahwa pihaknya mengalami kesulitan dalam mengupayakan proteksi dengan mematenkan motif-motif batik milik berbagai daerah di Indonesia itu.

Kata Yustin lagi, kesulitan itu timbul karena batik yang satu tidak sama dengan batik yang lain, meskipun berlatar motif yang sama. Maklum, setiap perajin memiliki goresan atau sapuan yang berbeda dalam membuat batik.

“Batik dan motif batik di dalamnya sulit dipatenkan, meskipun terjadi banyak penjiplakan terhadap motif itu,” ujar Yustin usai meninjau gelaran batik terpanjang di dunia milik perajin batik H Komaruddin Kudiya di Trusmi.

Diakuinya, selama ini motif batik khas Indonesia diambil lalu dimodifikasi oleh para perajin batik dari luar negeri seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, India, dan Afrika. “Hanya saja, kalau dilihat secara seksama dari segi pengerjaannya, batik-batik itu belum tentu memiliki kesamaan,” tambahnya.

Menurut Yustin, dari segi motif, sepintas bisa saja terlihat batik-batik itu memiliki kesamaan. Namun, dari sisi pengerjaan, tidak mudah diperoleh kesamaan, karena batik-batik tersebut tidak dikerjakan secara massal atau pabrikan. “Dalam proses pembuatannya dibutuhkan keahlian tersendiri, sehingga untuk satu motif saja belum tentu akan jadi sama,” sambungnya.

Menurut pemantauan Yustin, di Indonesia baru Kabupaten Indramayu yang mematenkan motif-motif batik khasnya.

Ia juga mengungkapkan adanya indikasi penurunan dalam produksi batik. Hal itu disebabkan oleh kurangnya peminat, terutama dari kalangan remaja yang lebih memilih busana dari katun dan denim.

Walaupun demikian, katanya, YBI terus berupaya untuk menarik minat masyarakat Indonesia dengan memproduksi batik dengan motif-motif yang disukai oleh kalangan remaja.

Sementara itu, perajin batik H Komaruddin Kudiya mengakui, banyak penjiplakan motif batik oleh para perajin dari negara-negara tetangga. Sehubungan dengan itu, menurut Komaruddin, mematenkan motif-motif batik merupakan hal yang harus segera dilakukan.

Ia berpendapat pula, usaha untuk mematenkan motif-motif batik merupakan keseriusan pemerintah daerah dalam rangka memberi proteksi bagi karya cipta masyarakat, khususnya para perajin batik lokal.

Selain itu, pematenan merupakan bentuk proteksi untuk kekayaan dan ciri khas daerah. “Contohnya, motif mega mendung merupakan motif khas Kabupaten Cirebon. Bila tidak dipatenkan, tidak tertutup kemungkinan motif tersebut akan dijiplak oleh perajin dari luar Cirebon,” ujarnya.

Komaruddin juga menerangkan, langkah untuk menggelar batik sepanjang 400 meter dengan berbagai motif dari Nusantara ditujukan untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa Indonesia kaya akan tradisi, khususnya tradisi membatik.

Sumber : (Ant/Ati) KCM, Cirebon

BBKB Menggelar Produk Kolaborasi Jepang-Indonesia

Wednesday, September 15th, 2004

Hasil Kolaborasi Seniman Jepang-Indonesia dipamerkan di Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta, Kamis 16 September 2004.

Dalam rangka mendukung kegiatan kerjasama Jepang-Indonesia Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta mengadakan kolaborasi dengan Jepang. Kegiatan ini telah dirintis tahun 2003 dengan kegiatan, pertama, Pengembangan Motif Batik untuk Obi dan Kimono, kedua, Kunjungan BBKB ke Tokamaci, Jepang untuk melihat workshop dan mempelajari teknik pewarnaan, ketiga, kunjungan Jepang ke Indonesia untuk pengembangan desain kerajinan dari tektil, keempat, penerapan kolaborasi desain motif batik untuk Obi dan Kimono di BBKB Yogyakarta, kelima, Pameran produk di Jepang. Hasil Kolaborasi ini akan mewarnai Hari Ulang tahun ke 20 “Jogja-Kyoto Sister City” tahun 2005 dalam suatu Pameran yang menampilkan : 1. Batik tradisional dan kontemporer (Bambang Sumardiyono-Mashimo seniman batik Yuzen, Kyoto dengan brand “Royal Batik” rintisan PT. Yarsilk. 2. Batik Natural Indigo antara Batik Indonesia dan Jepang (BBKB Yogyakarta dan Jepan Blue Kyoto/Asosiasi AIKIBO). 3. Tenun Rewoven dan Double Ikat (Alex/Lenan dan Miyabi Ori Co. Ltd.-Nakanishi Hidenori). 4. Kertas Seni (BBKB dan Hoso-President of Hoso Co. Ltd/Perusahaan Whole Seller Craft & Tekstil). 5. Asesoris kelengkapan kimono-Jepang berupa “Obidome” dari kayu, kerang dan perak. Pameran ini merupakan langkah awal kolaborasi semua jenis kerajinan, baik berupa asesoris perak, anyaman, produk kayu dan lain sebagainya.

Sumber : (heri) Pemda DIY