Menyemai Perancang Muda

DI mana-mana muncul hal yang sama: perancang muda harus berjuang mati-matian agar bisa muncul dan berkembang di dalam bisnis mode. Karena ini adalah bisnis yang menggabungkan kreativitas, kepekaan bisnis, dan modal yang intensif, tidak sedikit perancang muda berbakat yang akhirnya terpaksa mengubur cita-cita mereka.

Di Singapura masalah yang sama juga ada. Bila di Indonesia ada The Catwalk di Kelapa Gading, Jakarta Timur, yang juga ditujukan untuk membantu para perancang memiliki toko sendiri, negeri pulau itu memiliki seorang Allan Koh. Allan yang menggagas ide Singapore Fashion Week-dimulai tahun 1988 dengan nama Fashion Connections (Singapore) dan tahun ini menjadi ketua penyelenggara Singapore Fashion Week 2004 memiliki kegigihan luar biasa dalam mendorong industri mode di sana.

Menyadari bahwa tidak semua perancang muda memiliki modal untuk mengembangkan bisnis-kecuali mereka yang menurut Allan memiliki orangtua kaya-dia berinisiatif membuka gerai bernama Hemisphere yang diisi oleh karya sekitar 20 perancang, mulai dari busana hingga aksesori. Gerai yang berada di lantai tiga toserba OG di Orchard Road itu baru dibuka kembali setelah sebelumnya sempat ditutup.

Menurut Allan, dia berinisiatif membuka Hemisphere karena melihat kenyataan banyak lulusan sekolah mode yang tidak memiliki cukup modal untuk memulai bisnis mereka sendiri. Padahal mereka memiliki bakat yang baik serta serius ingin menjadi perancang busana.

“Setiap tahun 300 orang lulus dari sekolah mode di Singapura, tidak semua memiliki orangtua kaya yang bisa memodali mereka memulai bisnis mode. Lalu, mereka akan ke mana?” kata Allan. Hemisphere menjadi semacam ruang pamer untuk menunjukkan apa yang bisa dilakukan para perancang muda negeri pulau itu.

“Saya mengeluarkan uang dari kantung saya sendiri untuk menyewa lantai. Tempat itu kan diisi bersama-sama oleh beberapa perancang, jadi sewanya menjadi lebih terjangkau. Sejauh ini penjualan berjalan baik, sehingga kami bisa berjalan dengan sistem bagi hasil,” kata Allan.

HEMISPHERE ditata begitu rupa dalam sebuah sudut tersendiri. Begitu kita memasuki gerai itu, segera terasa bahwa apa yang ditawarkan di sana adalah produk mode, bukan sekadar garmen dasar. Baju dan aksesori yang ditawarkan beragam, mulai dari pakaian kerja, pakaian kasual, hingga gaun pesta, untuk perempuan pekerja atau anak muda. Semuanya menggambarkan “tanda tangan” masing-masing perancang.

Para perancang Hemisphere pun disertakan mengikuti SFW 2004-berlangsung dari Jumat (20/8) hingga Minggu (29/8)-pada hari kedua. Dua belas perancang memperlihatkan konsep rancangan mereka melalui masing-masing sekitar 15 busana.

Valerie Siah (28) adalah salah satu perancang yang produknya berlabel “Yong” berada di Hemisphere. Dalam pentas SFW 2004 dia memperlihatkan akar budaya peranakan yang mengalir di dalam darahnya melalui gaun-gaun yang menggunakan batik sebagai aksen. Perancang lulusan sekolah desain LaSalle SAE itu sudah tiga tahun memiliki label dan bergabung dengan Hemisphere sejak dibuka kembali pada Januari 2004.

“Saya yakin pada masa depan mode sehingga saya mengambil karier sebagai perancang,” kata Valerie usai pergelaran. Dia banyak menggunakan batik yang menurut dia didapatnya dari Pekalongan dan sentra batik lainnya di Indonesia. “Keluarga saya adalah peranakan.”

“Singapore Fashion Week menjadi batu loncatan saya untuk melangkah lebih jauh,” kata Valerie. “Saya bercita-cita meluaskan pasar produk saya melampaui Singapura, ke negara-negara lain di kawasan Asia tropis.”

Sumber (NMP) KCM, Jakarta

Leave a Reply