Pemilihan Putra-Putri Batik 2004: Anggun, Etnik, dan Cantik
PUNGKI Paradina melenggang. Sesekali, busana berwarna biru toska yang dikenakannya melambai mengikuti arah geraknya.
Busana yang didesain dengan sentuhan kimono itu menyemburatkan keanggunannya. Sejenak, dia berhenti tepat di tengah catwalk berbentuk huruf T. Kemudian, dia membuat beberapa pose, dan lantas bergerak kembali ke arah kiri. Ia terlihat cantik dalam balutan busana batik pekalongan bermotif flora.
Memang, malam itu Pungki tampil memesona hadirin yang memadati ruangan Gedung Wanita, yang ditata roundtable. Sorot enam lampu halogen yang masing-masing berkekuatan 500-an watt, semakin menegaskan keanggunannya. Tepuk meriah pun tak bisa ditahan, saat dia berputar sekali lagi di sisi kanan catwalk, yang bertutup karpet warna merah maron itu.
Rasanya, tak salah pilihan tiga juri, Hj Kun Mulyono (Jakarta), Hj Sri Yumadi (Malang), dan Hj Kenis (Salatiga) yang menetapkan siswa SMP Kesatrian 2 Semarang itu sebagai juara umum.
Anggun, etnik, dan cantik! Ya, begitulah atmosfer yang melingkupi Pemilihan Putra-Putri Batik 2004 yang digelar Yayasan Argadia di Gedung Wanita, Sabtu (7/8) malam lalu.
Busana Nasional
Tak cuma 172 orang yang menjadi peserta malam itu. Seluruh panitia juga mengenakan busana nasional khas Indonesia. Desain backdrop panggung pun diberi nuansa batik. Label acara ”Pemilihan Putra-Putri Batik Indonesia 2004” ditulis dengan batik bermotif parang warna sogan (coklat). Nuansa batik begitu kental mewarnai Gedung Wanita.
Kesan itu diperkuat oleh ragam hias batik berupa petilan stilasi burung (kukila), tepat pada bagian tengah backdrop. Konon, motif kukila diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah seorang Wali Sanga. Sunan Kalijaga menjadikan motif kukila sebagai sarana menyampaikan ajaran menjaga perkataan. ”Kukila. Quu qilla (dari bahasa Arab -red), jagalah perkataanmu!” ujar Sunan Kalijaga sekian abad lalu terasa menyelusup di rongga-rongga dada, malam itu.
Lomba yang diikuti peserta yang datang dari berbagai daerah di Jateng, sebagian besar peserta berasal dari Semarang. Sebagian yang lain dari Salatiga, Magelang, Rembang, dan Purworejo.
Selain Pungki yang menjadi juara umum, juri menetapkan para pemenang setiap kategori, yakni Novia Adelina (anak-anak), Rosilina Kusumadini (praremaja),
Riza Pahlevi (remaja putra), dan Ny Wulan (ibu-ibu). Pemenang untuk setiap kategori dilengkapi dengan pemenang harapan.
Sumber : (Achiar M Permana-91r) Suara Merdeka