Archive for August, 2004

Menyemai Perancang Muda

Monday, August 30th, 2004

DI mana-mana muncul hal yang sama: perancang muda harus berjuang mati-matian agar bisa muncul dan berkembang di dalam bisnis mode. Karena ini adalah bisnis yang menggabungkan kreativitas, kepekaan bisnis, dan modal yang intensif, tidak sedikit perancang muda berbakat yang akhirnya terpaksa mengubur cita-cita mereka.

Di Singapura masalah yang sama juga ada. Bila di Indonesia ada The Catwalk di Kelapa Gading, Jakarta Timur, yang juga ditujukan untuk membantu para perancang memiliki toko sendiri, negeri pulau itu memiliki seorang Allan Koh. Allan yang menggagas ide Singapore Fashion Week-dimulai tahun 1988 dengan nama Fashion Connections (Singapore) dan tahun ini menjadi ketua penyelenggara Singapore Fashion Week 2004 memiliki kegigihan luar biasa dalam mendorong industri mode di sana.

Menyadari bahwa tidak semua perancang muda memiliki modal untuk mengembangkan bisnis-kecuali mereka yang menurut Allan memiliki orangtua kaya-dia berinisiatif membuka gerai bernama Hemisphere yang diisi oleh karya sekitar 20 perancang, mulai dari busana hingga aksesori. Gerai yang berada di lantai tiga toserba OG di Orchard Road itu baru dibuka kembali setelah sebelumnya sempat ditutup.

Menurut Allan, dia berinisiatif membuka Hemisphere karena melihat kenyataan banyak lulusan sekolah mode yang tidak memiliki cukup modal untuk memulai bisnis mereka sendiri. Padahal mereka memiliki bakat yang baik serta serius ingin menjadi perancang busana.

“Setiap tahun 300 orang lulus dari sekolah mode di Singapura, tidak semua memiliki orangtua kaya yang bisa memodali mereka memulai bisnis mode. Lalu, mereka akan ke mana?” kata Allan. Hemisphere menjadi semacam ruang pamer untuk menunjukkan apa yang bisa dilakukan para perancang muda negeri pulau itu.

“Saya mengeluarkan uang dari kantung saya sendiri untuk menyewa lantai. Tempat itu kan diisi bersama-sama oleh beberapa perancang, jadi sewanya menjadi lebih terjangkau. Sejauh ini penjualan berjalan baik, sehingga kami bisa berjalan dengan sistem bagi hasil,” kata Allan.

HEMISPHERE ditata begitu rupa dalam sebuah sudut tersendiri. Begitu kita memasuki gerai itu, segera terasa bahwa apa yang ditawarkan di sana adalah produk mode, bukan sekadar garmen dasar. Baju dan aksesori yang ditawarkan beragam, mulai dari pakaian kerja, pakaian kasual, hingga gaun pesta, untuk perempuan pekerja atau anak muda. Semuanya menggambarkan “tanda tangan” masing-masing perancang.

Para perancang Hemisphere pun disertakan mengikuti SFW 2004-berlangsung dari Jumat (20/8) hingga Minggu (29/8)-pada hari kedua. Dua belas perancang memperlihatkan konsep rancangan mereka melalui masing-masing sekitar 15 busana.

Valerie Siah (28) adalah salah satu perancang yang produknya berlabel “Yong” berada di Hemisphere. Dalam pentas SFW 2004 dia memperlihatkan akar budaya peranakan yang mengalir di dalam darahnya melalui gaun-gaun yang menggunakan batik sebagai aksen. Perancang lulusan sekolah desain LaSalle SAE itu sudah tiga tahun memiliki label dan bergabung dengan Hemisphere sejak dibuka kembali pada Januari 2004.

“Saya yakin pada masa depan mode sehingga saya mengambil karier sebagai perancang,” kata Valerie usai pergelaran. Dia banyak menggunakan batik yang menurut dia didapatnya dari Pekalongan dan sentra batik lainnya di Indonesia. “Keluarga saya adalah peranakan.”

“Singapore Fashion Week menjadi batu loncatan saya untuk melangkah lebih jauh,” kata Valerie. “Saya bercita-cita meluaskan pasar produk saya melampaui Singapura, ke negara-negara lain di kawasan Asia tropis.”

Sumber (NMP) KCM, Jakarta

Batik Indonesia di Vietnam

Friday, August 27th, 2004

Himpunan Pecinta Kain Adat Indonesia menggelar pameran batik di Hanoi, Vietnam, untuk lebih mengenalkan batik kepada masyarakat Vietnam dan warga negara asing lain yang tinggal di Vietnam.

Kepala Bidang Penerangan Sosial Budaya KBRI Hanoi Tangkuman Alexander melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (27/8), menyebutkan, pameran itu menampilkan sekitar 100 jenis kain batik yang berasal dari Solo, Lamongan, Yogyakarta, Ngasem, dan Cirebon.

Dalam kesempatan yang sama, Himpunan Pecinta Kain Adat Indonesia juga memeragakan cara membatik dari berbagai daerah di Indonesia.

Pameran tersebut berlangsung di Lobby Hotel Horison Hanoi pada 16 Agustus lalu. Pameran itu dihadiri oleh sekitar 140 orang yang diundang dan dari kalangan korps diplomatik, pejabat, pengusaha, dan biro perjalanan wisata Vietnam di Hanoi.

Di tempat yang sama pada 20 Agustus lalu digelar pula peragaan busana yang menampilkan berbagai pakaian batik dari PT Danar Hadi. Para pemeraganya adalah model-model Vietnam dari Hanoi Designers Center.

Pameran batik tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Indonesian Food and Cultural Week, yang berlangsung 16-20 Agustus lalu, dalam rangka memperingati ulang tahun ke-59 Kemerdekaan RI di Hanoi.

Selain pameran batik, diadakan pula pameran masakan Indonesia yang menghadirkan juru masak Indonesia Rudy Choirudin. Masakan yang disajikannya antara lain soto, gado-gado, karedok, sate ayam, sate kambing, dan sate lilit.

Sumber : (Ant/Ati) KCM, Hanoi

Pengusaha Batik Cirebon Membutuhkan Asosiasi

Friday, August 20th, 2004

Para pengusaha sentra batik di Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, hingga saat ini belum memiliki asosiasi. Hal itu diperlukan untuk mencegah persaingan tidak sehat, terutama dalam soal harga.

Seorang pengusaha batik Cirebon, Yusrianah Raharjo, mengatakan, Kamis (19/8), kesepakatan dalam menentukan harga sebenarnya sudah dilakukan para pengusaha batik secara lisan.

Walaupun demikian, Yusrianah menganggap kesepakatan semacam itu riskan karena hanya bersifat informal. Ide untuk membuat asosiasi sudah ada di kalangan pengusaha batik, namun sampai sekarang belum ada instansi pemerintah yang dapat memfasilitasinya.

“Saya kira Dinas Koperasi atau Dinas Perindustrian dan Perdagangan cocok untuk menyalurkan aspirasi itu,” ujar Yusrianah.

Jika pembentukan asosiasi hanya dilakukan oleh sekelompok pengusaha batik, Yusrianah khawatir hal itu akan menimbulkan prasangka dari pengusaha lainnya.

Selama ini, menurut Yusrianah, organisasi resmi yang ada hanya Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) Budi Tresna. Namun, organisasi itu tidak memfungsikan perannya sebagai sebuah asosiasi karena hanya berupa koperasi simpan pinjam.

Yusrianah belum dapat memastikan kapan asosiasi tersebut dapat terealisasi.

Bahkan, hingga awal tahun 2005 ia tidak yakin rencana itu akan terwujud. Sebab, pengusaha batik masih akan disibukkan dengan banyaknya pesanan terutama pada saat Lebaran dan Tahun Baru.

Karena tidak terdapat asosiasi, Yusrianah mengaku sulit untuk menentukan jumlah pengusaha batik di Cirebon. Ia hanya dapat memperkirakan jumlah ruang pameran yang ada di Kecamatan Weru sekitar 38 tempat. Sedangkan jumlah perajin batik lebih kurang 320 orang. Seluruh perajin dan ruang pameran itu tersebar di empat desa, yaitu Trusmi Wetan, Trusmi Kulon, Panembahan, dan Desa Kalitengah.

Yusrianah tidak mempersoalkan toko-toko yang menjual batik dengan kualitas tinggi. Akan tetapi, ia mengkhawatirkan toko-toko kecil penjual produk batik murah yang melakukan persaingan tidak sehat.

“Biasanya, toko kecil yang menjual batik rata-rata Rp 200.000 ke bawah suka banting-bantingan harga,” ujarnya.

Pengusaha batik lainnya, Asiwa, menyetujui gagasan untuk membentuk asosiasi. Menurut Asiwa, organisasi yang ada, yaitu GKBI, sudah tidak begitu baik kinerjanya sejak tahun 1980-an.

“Lagi pula, dulu waktu GKBI masih aktif, saya mau jadi anggota dipersulit. Sekarang anggotanya malah sudah banyak yang keluar,” ujar Asiwa.

Sumber : (J15) Kompas Cetak, Bandung

Pemilihan Putra-Putri Batik 2004: Anggun, Etnik, dan Cantik

Wednesday, August 11th, 2004

PUNGKI Paradina melenggang. Sesekali, busana berwarna biru toska yang dikenakannya melambai mengikuti arah geraknya.

Busana yang didesain dengan sentuhan kimono itu menyemburatkan keanggunannya. Sejenak, dia berhenti tepat di tengah catwalk berbentuk huruf T. Kemudian, dia membuat beberapa pose, dan lantas bergerak kembali ke arah kiri. Ia terlihat cantik dalam balutan busana batik pekalongan bermotif flora.

Memang, malam itu Pungki tampil memesona hadirin yang memadati ruangan Gedung Wanita, yang ditata roundtable. Sorot enam lampu halogen yang masing-masing berkekuatan 500-an watt, semakin menegaskan keanggunannya. Tepuk meriah pun tak bisa ditahan, saat dia berputar sekali lagi di sisi kanan catwalk, yang bertutup karpet warna merah maron itu.

Rasanya, tak salah pilihan tiga juri, Hj Kun Mulyono (Jakarta), Hj Sri Yumadi (Malang), dan Hj Kenis (Salatiga) yang menetapkan siswa SMP Kesatrian 2 Semarang itu sebagai juara umum.

Anggun, etnik, dan cantik! Ya, begitulah atmosfer yang melingkupi Pemilihan Putra-Putri Batik 2004 yang digelar Yayasan Argadia di Gedung Wanita, Sabtu (7/8) malam lalu.

Busana Nasional

Tak cuma 172 orang yang menjadi peserta malam itu. Seluruh panitia juga mengenakan busana nasional khas Indonesia. Desain backdrop panggung pun diberi nuansa batik. Label acara ”Pemilihan Putra-Putri Batik Indonesia 2004” ditulis dengan batik bermotif parang warna sogan (coklat). Nuansa batik begitu kental mewarnai Gedung Wanita.

Kesan itu diperkuat oleh ragam hias batik berupa petilan stilasi burung (kukila), tepat pada bagian tengah backdrop. Konon, motif kukila diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah seorang Wali Sanga. Sunan Kalijaga menjadikan motif kukila sebagai sarana menyampaikan ajaran menjaga perkataan. ”Kukila. Quu qilla (dari bahasa Arab -red), jagalah perkataanmu!” ujar Sunan Kalijaga sekian abad lalu terasa menyelusup di rongga-rongga dada, malam itu.

Lomba yang diikuti peserta yang datang dari berbagai daerah di Jateng, sebagian besar peserta berasal dari Semarang. Sebagian yang lain dari Salatiga, Magelang, Rembang, dan Purworejo.

Selain Pungki yang menjadi juara umum, juri menetapkan para pemenang setiap kategori, yakni Novia Adelina (anak-anak), Rosilina Kusumadini (praremaja),

Riza Pahlevi (remaja putra), dan Ny Wulan (ibu-ibu). Pemenang untuk setiap kategori dilengkapi dengan pemenang harapan.

Sumber : (Achiar M Permana-91r) Suara Merdeka