Surat dari Portugal : Pesona Wayang Golek dan Baju Batik

BEBERAPA orang bule itu dengan serius mencermati wayang golek. Mereka menggerak-gerakkan, terkadang disertai tawa cekikikan, sedangkan yang lain membolak-balik baju batik yang tergantung atau mencoba topi yang bisa disulap menjadi kipas.

Wayang golek dan batik? Ya, kerajinan Indonesia itu kini ada di Portugal. Keduanya berjejer rapi di antara barang-barang khas lainnya di lima stan pada pameran Fiera Internacional do Artesanato di Gedung Fiera Internacional de Lisboa, Lisabon, mulai 26 Juni sampai 4 Juli 2004.

Memang, stan yang memajang produk-produk Indonesia tak terlalu mencolok. Keberadaannya kalah wah dibandingkan negara-negara lain dari seluruh penjuru benua. Ukuran masing-masing stan hanya 3 x 3 meter.

Terasa kecil di tengah-tengah ratusan stan yang berjejer rapi sesuai dengan kawasan para peserta berasal. Namun, produk-produk Indonesia yang kali ini dibawa oleh lima perusahaan cukup memikat perhatian publik. Kendati tak semeriah tahun-tahun sebelumnya, pengunjung cukup antusias. Mereka serius memelototi barang-barang tradisional Indonesia yang kental dengan nuansa tradisi dan unik.

”Mereka memang paling suka dengan barang-barang yang benar-benar original, yang betul-betul asli buatan kita,” ungkap Hanna Indah, pemilik PT Hanna Collection yang memamerkan aksesori khas Bali mulai baju bordir, kaus, hingga sandal.

”Sambutannya cukup bagus, khususnya untuk baju bordir. Mereka suka karena di sini kan sedang musim panas jadi cocok dikenakan,” ungkap Hanna, yang mengaku rata-rata per hari bisa menjual dagangannya senilai 1.000 euro (sekitar Rp11 juta).

Lain halnya dengan empat peserta lainnya. Mereka mengaku pameran kali ini kurang membuatnya sreg karena berbarengan dengan Piala Eropa 2004. Pengunjung pun tak terlalu ramai, terlebih pas tim Portugal tampil. ”Lebih sepi. Mereka lebih memilih nonton pertandingan,” papar Iin, pemilik PT Karisma.

Dia lantas membandingkan dengan antusiasme pengunjung saat ikut pameran di Paris, Bordeaux, Nance, dan Den Haag, sebelum ke Lisabon. ”Di sana sangat ramai, apalagi di Den Haag,” imbuhnya, yang diiyakan Ronnie S Tandjung dari PT Padussi Rona Jingga dan Cometa Rooseno (PT Bali Natura).

Toh, Iin yang telah meninggalkan Tanah Air sejak April lalu masih bisa lega karena beberapa dagangannya tetap memikat pengunjung, terutama wayang golek. Barang seni khas Jawa Barat ini dijual 20 sampai 25 euro dan cukup laku.

”Saya senang. Bentuknya lucu, unik, dan sangat tradisional. Saya akan pajang di rumah,” ungkap Jose Rennato Parreira, salah satu pembeli wayang golek.

Sumber : (Jaka Budisantosa/R-2) Media Indonesia

Leave a Reply