Archive for July, 2004

Pencemaran Limbah Industri Tekstil Semakin Memprihatinkan

Friday, July 30th, 2004

Unit Pengolahan Limbah Industri di PekalonganKota Pekalongan, Jawa Tengah, selama ini dikenal sebagai kota batik. Selain sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai perajin batik, industri besar seperti tekstil juga tumbuh subur di kota tersebut. Dari data yang dihimpun SCTV baru-baru ini, jumlah industri tekstil telah mencapai lebih dari 100 pabrik. Peningkatan itu juga melonjakkan volume limbah yang dikeluarkan dari aktivitas tersebut.

Kondisi pencemaran limbah dari industri tekstil di Pekalongan semakin memprihatinkan. Dari 400 industri tekstil kecil dan besar yang ada, limbah yang dihasilkan mencapai 50 ribu meter kubik per hari dan sebagian besar berasal dari industri rumah tangga. Bahkan, sebagian industri rumahan membuang limbah ke sungai tanpa ada pengolahan terlebih dahulu. Perbuatan tersebut jelas membuat air sungai menjadi kotor dan tercemar.

Menurut Kepala Hubungan Masyarakat Kota Pekalongan Suharto, pihaknya telah membangun sejumlah unit pengolah limbah seperti di Desa Jenggot, Kecamatan Pekalongan Selatan, untuk mengurangi tingkat pencemaran sungai. Pembangunan unit pengolah limbah itu menyedot dana sekitar Rp 1,7 miliar. Pemerintah Kota Pekalongan juga meminta perajin maupun industri tekstil untuk ikut berperan menekan tingkat pencemaran dengan tidak membuang limbah industri ke sungai secara langsung.

Sumber : (TOZ/Sugihartono dan Budi Harto) Liputan6.com, Pekalongan

Nila Puspita, Inovasi Batik Lukis Jadi Andalan

Monday, July 26th, 2004

TERUS berinovasi! Inilah yang terus dilakukan Nila Puspita (24) untuk mengembangkan usaha batik yang telah dirintis orangtuanya sejak tahun 1985. Batik hasil karya Nila bersama kakak dan adiknya memang belum menembus pasar luar negeri.

“Batik buatan kami masih jago kandang, soalnya belum pernah diekspor, dan jualnya paling jauh ya ke Jakarta setelah ikut dua kali pameran,” kata Nila yang ditemui ketika ikut pameran kerajinan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pemain di usaha kerajinan batik, menurut lulusan Manajemen Universitas Brawijaya Malang ini, sudah terlalu banyak. Jadi, kalau tidak terus berinovasi untuk menemukan corak baru, produk batik itu pasti tenggelam.

“Di Malang saja, banyak pengusaha batik tulis. Jadi, kalau hanya membuat batik tulis dengan corak Madura, ya mesti ketinggalan dan enggak laku. Harus membuat corak yang sesuai selera konsumen, artinya tidak menyimpang dari pakem batik,” ujar pemilik rumah batik Antique di Malang, Jawa Timur, ini.

Sekarang, kata anak keempat dari enam bersaudara ini, bukan hanya corak pada batik yang terus berubah sesuai selera konsumen lokal, bahan baku batik pun terus berganti. Bahan baku batik lukis tidak hanya dari sutra China dan lokal, tetapi juga dari katun, serat nanas, dan serat pisang.

Warna pada lukisan pun agak berbeda dengan batik pada umumnya karena lukisan pada batik pun sesuai dengan apa yang diinginkan konsumen dan warna cenderung modern tanpa harus meninggalkan kesan batik tradisional. Dengan bahan sutra yang dibuat dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) dan alat tenun mesin (ATM) untuk produk Tahi Silk dan sutra China yang diolah, bisa menampilkan ciri khas batik Malang kontemporer.

“Batik lukis juga sudah diproduksi di mana-mana sehingga harus putar otak untuk menciptakan produk batik yang beda. Kami mulai membuat batik lukis timbul sehingga berbeda dengan yang lain. Apalagi, lukisan tidak sekadar wajah pemesan, tetapi bisa lukisan peristiwa, misalnya pemberi order dengan anjing, kucing, atau lukisan apa saja,” ujar perempuan lajang yang kini melakukan seleksi calon pembatik di usaha yang dirintis sang ibu, Ny Nurhayati.

USAHA batik lukis, menurut Nila, sangat prospektif, baik di pasar lokal maupun pasar internasional. Dengan mengandalkan empat pelukis dan sedikitnya 15 pembatik usaha batik, pesanan terus meningkat. Rata-rata setiap hari, lima sampai enam lembar sarung bisa selesai dikerjakan pembatik yang membawa pekerjaan ke rumah masing-masing. Untuk sarung, penggarapannya minimal tiga hari, tergantung rumitnya lukisan yang dikerjakan.

Harga batik lukis dari sutra atau katun berupa setelan sarung dan selendang minimal Rp 800.000, sedangkan blus perempuan dengan bahan baku serat pisang atau serat nanas yang kini digandrungi rata-rata dijual dengan harga Rp 650.000. Sementara blus dari serat nanas dan pisang tanpa payet bisa mencapai Rp 550.000.

Kesulitan usaha batik yang dikembangkan Nila bersama sang kakak, Tria (26), serta dua adiknya, Verial (21) dan Anisa (19), adalah pada saat panen tembakau di wilayah Malang. Jumlah pembatik akan terus menyusut karena setiap hari mereka mendapat upah, sementara kalau membatik, upah baru dibayar setelah pekerjaan dikembalikan. Padahal, seperti sekarang, sangat butuh banyak pembatik karena pekerjaan menumpuk.

“Pembatik memilih jadi buruh tani ketimbang membatik saat musim panen tembakau. Jadi, kalau ada order, sering tertunda penggarapannya. Salah satu kiat agar ketergantungan kepada pembatik yang umumnya ibu rumah tangga berkurang, kami ingin cari pembatik muda yang tak terkendala musim,” ujar Nila, yang pada Agustus mendatang berencana mengikuti pameran di Belanda.

Bagi Nila, dengan dukungan tenaga pembatik di usahanya, berapa pun order dari pelanggan bisa dipenuhi. Apalagi usaha kecil menengah (UKM) yang sudah menjadi binaan PT Pertamina Unit Pemasaran V Surabaya ini bukan hanya membuat batik lukis, tetapi juga mengerjakan pakaian seragam, pakaian pengantin, busana muslim, dan berbagai macam pernak-pernik untuk siraman.

Produk batik lukis hasil karya perempuan asal Malang ini memang masih jago kandang, bahkan tak jarang konsumen membayar secara mencicil. Kendati demikian, usaha ini terus berkembang karena order makin meningkat.

“Makin banyak pesanan, berarti harus memutar otak untuk menciptakan corak baru sesuai selera konsumen. Harus terus berinovasi agar tidak cuma jago kandang,” katanya.

Sumber : (Agnes Swetta Pandia) Kompas Cetak

Pemilihan Putra-putri Batik

Friday, July 23rd, 2004

YAYASAN Argadia akan menggelar pemilihan Putra-putri Batik 2004. Ketua H Teddy Johan menjelaskan, lomba diadakan di Gedung Wanita, Jl Sriwijaya memperebutkan piala bergilir Gubernur Jateng. Katagori peserta terdiri anak-anak, remaja dan ibu-ibu. Peserta akan mendapat bimbingan gratis. Pendaftaran di sekretariat Jalan Cinde Raya Dalam No 8, telp 8313626.

Sumber : (B13-73) Suara Merdeka

Surat dari Portugal : Pesona Wayang Golek dan Baju Batik

Thursday, July 1st, 2004

BEBERAPA orang bule itu dengan serius mencermati wayang golek. Mereka menggerak-gerakkan, terkadang disertai tawa cekikikan, sedangkan yang lain membolak-balik baju batik yang tergantung atau mencoba topi yang bisa disulap menjadi kipas.

Wayang golek dan batik? Ya, kerajinan Indonesia itu kini ada di Portugal. Keduanya berjejer rapi di antara barang-barang khas lainnya di lima stan pada pameran Fiera Internacional do Artesanato di Gedung Fiera Internacional de Lisboa, Lisabon, mulai 26 Juni sampai 4 Juli 2004.

Memang, stan yang memajang produk-produk Indonesia tak terlalu mencolok. Keberadaannya kalah wah dibandingkan negara-negara lain dari seluruh penjuru benua. Ukuran masing-masing stan hanya 3 x 3 meter.

Terasa kecil di tengah-tengah ratusan stan yang berjejer rapi sesuai dengan kawasan para peserta berasal. Namun, produk-produk Indonesia yang kali ini dibawa oleh lima perusahaan cukup memikat perhatian publik. Kendati tak semeriah tahun-tahun sebelumnya, pengunjung cukup antusias. Mereka serius memelototi barang-barang tradisional Indonesia yang kental dengan nuansa tradisi dan unik.

”Mereka memang paling suka dengan barang-barang yang benar-benar original, yang betul-betul asli buatan kita,” ungkap Hanna Indah, pemilik PT Hanna Collection yang memamerkan aksesori khas Bali mulai baju bordir, kaus, hingga sandal.

”Sambutannya cukup bagus, khususnya untuk baju bordir. Mereka suka karena di sini kan sedang musim panas jadi cocok dikenakan,” ungkap Hanna, yang mengaku rata-rata per hari bisa menjual dagangannya senilai 1.000 euro (sekitar Rp11 juta).

Lain halnya dengan empat peserta lainnya. Mereka mengaku pameran kali ini kurang membuatnya sreg karena berbarengan dengan Piala Eropa 2004. Pengunjung pun tak terlalu ramai, terlebih pas tim Portugal tampil. ”Lebih sepi. Mereka lebih memilih nonton pertandingan,” papar Iin, pemilik PT Karisma.

Dia lantas membandingkan dengan antusiasme pengunjung saat ikut pameran di Paris, Bordeaux, Nance, dan Den Haag, sebelum ke Lisabon. ”Di sana sangat ramai, apalagi di Den Haag,” imbuhnya, yang diiyakan Ronnie S Tandjung dari PT Padussi Rona Jingga dan Cometa Rooseno (PT Bali Natura).

Toh, Iin yang telah meninggalkan Tanah Air sejak April lalu masih bisa lega karena beberapa dagangannya tetap memikat pengunjung, terutama wayang golek. Barang seni khas Jawa Barat ini dijual 20 sampai 25 euro dan cukup laku.

”Saya senang. Bentuknya lucu, unik, dan sangat tradisional. Saya akan pajang di rumah,” ungkap Jose Rennato Parreira, salah satu pembeli wayang golek.

Sumber : (Jaka Budisantosa/R-2) Media Indonesia