Archive for June, 2004

200 Motif Batik Yogya Dipatenkan

Friday, June 25th, 2004

Sebanyak 200 motif batik tradisional dari Daerah Istimewa Yogyakarta dipersiapkan untuk dipatenkan sebagai kekayaan leluhur masyarakat Yogyakarta. Pematenan dilakukan mencakup semua hak kekayaan intelektual yang meliputi merek, hak cipta, paten, dan rahasia dagang.

Di luar itu, 700 industri kecil dan menengah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah mendaftarkan merek dagangnya ke Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia sebagai merek yang dilindungi secara hukum.

Pematenan motif batik dan pendaftaran merek industri tersebut untuk melindungi kreativitas dan kekayaan tradisi leluhur bangsa Indonesia dari segala bentuk peniruan, pembajakan, atau penjiplakan yang dilakukan pihak-pihak luar.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Provinsi DIY Ir Syahbenol Hasibuan MBA didampingi Kepala Seksi Bimbingan Sarana Industri Ir Endang Sri Nuryani, Kamis (24/6). Menurut Syahbenol, setelah terlindungi secara hukum, kreativitas industri dan tradisi leluhur itu dapat dikembangkan sebagai sumber ekonomi yang menyejahterakan masyarakat.

Sebanyak 200 motif batik yang telah didata itu tumbuh sejak abad ke-15 Masehi dan diwariskan dari generasi ke generasi sehingga saat ini masih dikembangkan di wilayah DIY, Kabupaten Bantul, Sleman, Gunung Kidul, Kulonprogo, dan Kota Yogyakarta. Beberapa motif tersebut, antara lain motif semen (modifikasi bentuk daun-daunan), ceplok (berbentuk bulat-bulat), geometri, nitik, dan lereng. Motif-motif itu cenderung anonim atau tidak diketahui pasti penciptanya karena telah mentradisi.

Menurut Endang Sri Nuryani, 50 motif merupakan motif dasar batik, selebihnya hasil kombinasi. Hingga kini, berkembang sekitar 400 motif batik khas Yogyakarta. Selain itu masih ada ratusan motif lain yang merupakan kombinasi motif-motif dari daerah lain atau desain-desain modern.

Endang menegaskan, pematenan harus segera dilakukan karena beberapa merek hasil kreativitas masyarakat Yogyakarta telah dipatenkan orang lain. Misalnya, batik motif parang dari Yogyakarta diklaim Malaysia sejak tujuh tahun lalu, merek Dagadu Jogja dipatenkan pengusaha di Tangerang, dan teknologi permentasi tempe dipatenkan di Jepang. “Jika motif batik yang ada tidak segera dilindungi, kemungkinan akan ’dicuri’ dan dipatenkan orang luar. Itu harus diantisipasi dari sekarang,” katanya.

Hanya saja, kesadaran pentingnya perlindungan atas kekayaan intelektual itu belum tumbuh di masyarakat. Masalahnya, masih ada keyakinan bahwa memberikan rahasia industri atau teknologi merupakan tindakan terpuji demi kebaikan sesama.

“Keyakinan itu sudah tidak relevan untuk menghadapi kompetisi perdagangan global yang makin sengit sekarang ini. Secara yuridis seseorang yang memiliki hak paten bisa menuntut siapa pun yang memproduksi karyanya. Pelanggaran hak paten juga berisiko pidana dan perdata dengan tuntutan penjara atau denda ratusan juta rupiah,” papar Endang.

Sebanyak 700 merek industri yang didaftarkan di Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia hanya sekitar satu persen dari 73.000 industri kecil dan menengah di DIY. Dari 700 merek itu, 30 merek didaftarkan melalui Disperindagkop DIY tahun 2001 hingga 2004.

Merek yang terdaftar antara lain, jenang madu sirat di Kulonprogo, batik nakulo sadewo di Sleman, gula semut di Kulonprogo, bakpia 521 Pathuk, dan Jadin Craft Bantul. Setelah terdaftar, merek tersebut otomatis terlindungi secara hukum internasional sehingga tidak boleh ada yang menjiplak.

Sumber : (k07) Kompas Cetak

Bekas Buruh Pabrik Batik Menuntut Uang Pesangon

Thursday, June 24th, 2004

Unjuk Rasa Bekas Buruh PabrikBekas buruh Pabrik Windu Eka Batik 81 menggelar unjuk rasa. Demonstrasi dilangsungkan seiring sidang banding penyelesaian hubungan kerja antara perusahaan dengan bekas karyawan di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta, Rabu (23/6).

Sekitar 150 buruh yang kebanyakan wanita menuntut pesangon. Karena sejak diberhentikan setahun silam, pihak perusahaan belum membayar pesangon mereka. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi sudah mendesak pihak perusahaan segera menuntaskan kewajibannya. Apalagi selama bekerja mereka cuma dibayar Rp 583 ribu per bulan. Gaji itu jauh di bawah standar upah minimun regional yang ditetapkan: Rp 631 ribu per bulan.

Nasib demonstran kini tergantung keputusan sidang banding PTUN Jakarta. Karena itu mereka berharap hakim bersikap adil sesuai hati nurani. Sidang masih akan dilanjutkan Selasa pekan depan dengan agenda mendengar duplik dari para buruh. Selanjutnya sidang diteruskan dengan agenda pembacaan putusan.

Sumber : (ICH/Olivia Rosalia dan Benny Souisa) Liputan6.com, Jakarta

Kreasi Batik

Sunday, June 6th, 2004

Batik menjadi salah satu elemen yang paling populer dalam pergelaran busana di bali Fashion Week V. Kain khas Indonesia ini cukup banyak diusung para desainer. Tentu saja, mereka telah menyulap batik yang berkesan kuno menjadi konsumsi fesyen yang modis dan dinamis.

Maestro batik Iwan Tirta menampilkan motif parang yang diprada kemudian dirancang menjadi sebuah gaun gala yang menawan. Sementara Afif Syakur mengolah batik menjadi sebuah produk seni high fashion. Kali ini ia mencoba mengolah kebaya etnik kontemporer yang artistik dengan kain tenun yang dibatik.

Berbeda dengan para pendahulunya, Afif memiliki kekhasan tersendiri. Selain melakukan terobosan dalam bahan, — menggunakan limbah sutra dan kepompong anval — ia juga mencoba teknik batik di atas tenun ikat.

Chaliet Bambang membawa koleksi batiknya menjadi sebuah kreasi yang seksi, anggun dan elegan. Karyanya didominasi warna hitam dan sogan, sesuai dengan warna asli batik di Solo dan Yogyakarta. Dia mendesain rancangannya di atas kain tenun ATBM dengan bahan sutera seperti yang biasa dipamerkannya di Eropa selama dua tahun terakhir.

Dina Midiani masih setia memanfaatkan kain batik sebagai patchwork yang dibuat dengan gaya kosmopolit. Ia mengembangkan konsep setagen unik di atas busananya yang didominasi perpaduan warna putih dan batik sogan.

Demikian juga dengan koleksi Denny Kho. Ia meracik detail anyaman dan patchwork dari batik yang sangat menarik di atas koleksinya. Ia pun terlihat kreatif dengan gaya zipper bolak-baliknya. Tidak heran bila koleksinya mencuri perhatian buyers Bali untuk market Jepang dan Prancis, khususnya busana wanita.

Sementara itu, Poppy Dharsono menampilkan aneka busana formal yang diberi tema Evening Etnik Ekletik. Ia memadukan bahan batik sebagai detail untuk disandingkan dengan bahan sifon, satin, brokat, dan georgette silk. Tampilan akhirnya sangat feminin meski dipadukan dengan gaya maskulin berbentuk celana panjang kreasinya.

Sumber : (Tkh/M-2) Media Indonesia